Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Perilaku Seksual Remaja: Studi Literatur The Effect of Reproductive Health Education on Adolescent Sexual Behavior: Literature Study Winda Dian Pratiwi | 2 Agus Sudaryanto* 1 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhamadiyah Surakarta, e-mail: j210200159@student. 2 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhamadiyah Surakarta, e-mail: agus_sudaryanto@ums. *Corresponding Author: agus_sudaryanto@ums. ARTICLE INFO Article Received: December, 2023 Article Accepted: January, 2024 ABSTRAK Latar belakang: Remaja adalah kelompok umur yang sedang dalam tahap perkembangan secara fisik, psikologis dan mental yang menjadikan remaja menjadi pribadi yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi sehingga remaja cenderung melakukan hal-hal berisiko salah satunya perilaku seksual pranikah. Salah satu faktor yang melatarbelakangi remaja menjadi terjerat perilaku seksual yang berisiko adalah kurangnya pengetahuan remaja yang dapat ditangani salah satu intervensi yaitu pendidikan kesehatan Tujuan: Untuk melihat pengaruh dari pendidikan kesehatan reproduksi pada perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja Metode: Peneliti menggunakan metode studi literatur yaitu dengan cara mengambil artikel melalui database online seperti Google Scholar. PubMed, dan Taylor and Francis Online dan seleksi artikel berdasarkan PRISMA sehingga didapatkan 4 artikel yang digunakan dalam studi ini dengan batasan waktu publikasi 7 tahun mulai dari tahun 2017 hingga 2023 Hasil: Hasil uji univariat dan bivariat dari 4 artikel menunjukkan terdapat pengaruh pada pemberian pendidikan kesehatan tentang reproduksi terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja Implikasi: Pendidikan kesehatan reproduksi dengan metode apapun terbukti berpengaruh dalam menurunkan perilaku seksual yang berisiko oleh remaja Kata Kunci: Perilaku Seksual Remaja. Pendidikan Kesehatan Reproduksi ISSN (Prin. : 2088-6098 ISSN (Onlin. : 2550-0538 Website: https://jurnal. E-mail: jkmmalang@gmail. DOI: https://doi. org/10. 36916/jkm ABSTRACT Background: Teenagers are an age group that is in a stage of development both physically, mentally and psychologically which makes teenagers individuals who have a high sense of curiosity so teenagers tend to do risky things, one of which is premarital sexual behavior. One of the factors behind teenagers becoming entangled in risky sexual behavior is a lack of knowledge among teenagers, which can be overcome by one of the interventions, namely health education Purpose: To see the effect of reproductive health education on sexual behavior carried out by adolescents Methods: The researcher uses a literature study method, namely by taking articles through online databases such as Science Direct. Google Scholar, and Taylor and Francis Online and selecting articles based on PRISMA so that 4 articles are used in this study with a publication time limit of 7 years starting from 2017 to 2023 Result: The results of univariate and bivariate tests from 4 articles show that there is an effect on the provision of reproductive health education on sexual behavior carried out by adolescents Implication: Reproductive health education using any method has been proven to have an effect in reducing risky sexual behavior by teenagers Keywords: Reproductive Health Education. Adolescent Sexual Behaviour LATAR BELAKANG Remaja dikenal dengan kata adolescere dalam Bahasa Latin dan adolescence dalam Bahasa Inggris yang memiliki arti tumbuh menuju kematangan/kedewasaan dimana kematangan tidak berarti hanya kematangan fisik, namun juga kematangan diri secara psikologi Copyright A The Author. 2024 | Page 20 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. dan sosial (Rima & Istri Dalem, 2. Masa remaja bisa dikatakan sebagai masa perubahan seseorang dari masa anak-anak menuju dewasa dimana menurut Permenkes No. 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak, remaja adalah sekelompok orang dengan rentang usia 10 sampai dengan 18 tahun. Di Indonesia, pada tahun 2021 jumlah anak remaja dari umur 1018 tahun berjumlah 44,3 juta jiwa yang setara dengan 16,4% dari total populasi di Indonesia (BPS Indonesia, 2. Melihat dari persentase yang cukup besar, tentunya remaja sebagai calon penerus bangsa harus dibekali untuk menjadi sosok yang sehat secara fisik, rohani, spiritual dan mentalnya. Di dalam kehidupan, masa remaja juga menjadi masa-masa yang penting karena remaja mengalami perubahan dalam perasaan dan kebingungan pikiran. Pada masa ini pula remaja mempunyai rasa keingintahuan yang besar, suka sekali tantangan juga seringkali mempunyai keberanian untuk mengambil tindakan beresiko tanpa didahului pemikiran yang matang (Senja. Widiastuti, & Istioningsih, 2. Pada masa remaja ini juga, seseorang dalam tahap mencari gaya hidup yang sesuai dan bagi sebagian besar remaja pencarian pola hidup ini dilakukan melalui metode coba-coba yang seringkali terjadi kesalahan dan menimbulkan kekhawatiran bagi lingkungan masyarakat dan orang tuanya (Sumara. Humaedi, & Santoso, 2. Kondisi inilah yang membuat remaja menjadi rawan terjerat dalam masalah sosial dan kesehatan remaja apabila tidak dibekali dengan informasi dan pengetahuan yang tepat dan sesuai. Perilaku-perilaku yang banyak dilakukan yaitu kekerasan, malnutrisi, obesitas, merokok, penyalahgunaan napza dan alkohol hingga perilaku seksual pranikah (Nurdianti. Marlina, & Sumarni, 2. Perilaku seksual yang berisiko seringkali diartikan sebagai tingkah laku tentang seksualitas yang berisiko bagi kesehatan individu akibat ditularkannya penyakit melalui hubungan atau kegiatan seksual seperti sifilis, gonore, hepatitis, dan AIDS. Perilaku seksual berisiko tidak hanya dilakukan oleh manusia dewasa, tetapi juga oleh remaja. Persentase anak remaja yang melakukan perilaku seks yang berisiko seringkali mengalami eskalasi setiap tahunnya. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, terjadi eskalasi pada tingkat remaja yang melakukan hubungan seks sebesar 5,6% dibandingkan pada SDKI 2007. KPAI tahun 2013 juga meneliti perilaku seksual remaja SMP dan SMA dalam 17 kota besar di Indonesia dan menemukan sebesar 97% remaja menyatakan pernah terpapar pornografi dan 93,7% remaja perempuan pernah berhubungan seksual di luar nikah dan sebanyak 21,26% pernah melakukan aborsi. (Ungsianik & Yuliati, 2. Berdasarkan juga pada SDKI 2017, pengalaman seks pertama remaja dimulai di rentang usia 15 sampai 17 tahun dimana sebesar 84% anak remaja laki-laki juga 80% remaja Copyright A The Author. 2024 | Page 21 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. perempuan mengaku sedang atau pernah berpacaran. Perilaku ketika berpacaran remaja pun bervariasi dan cenderung mengarah pada kontak seksual, contohnya aktivitas berpegangan tangan sebesar 64% pada anak perempuan dan 75% pada anak lelaki, perilaku berpelukan sebanyak 17% pada anak perempuan dan anak lelaki 33%, lalu sebanyak 30% melakukan ciuman bibir pada perempuan dan 50% pada remaja lelaki, sebesar 22% remaja laki-laki cenderung melakukan perilaku meraba/diraba dan 5% terjadi pada perempuan. Sebanyak 8% remaja lelaki dan 2% remaja perempuan mengatakan telah melakukan hubungan seksual dengan alasan saling mencintai sebanyak 47%, dan 30% karena penasaran, dan paling sedikit 3% remaja perempuan dan lelaki mengatakan dipengaruhi dan dipaksa oleh teman. Hanya 27% laki-laki yang mengaku menggunakan kondom saat berhubungan seksual sementara pada Perempuan sebanyak 49%. Diantara remaja laki-laki dan Perempuan, sekitar 12% perempuan mengatakan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, dan sekitar 7% remaja lelaki mengatakan memiliki pasangan dengan kehamilan tidak diinginkan. Kemudian, sekitar 23% remaja perempuan dan remaja lelaki sebesar 19% mengatakan kenal dengan seseorang teman yang melakukan aborsi dan 1% diantara para remaja mempengaruhi dan menemani teman untuk menggugurkan kandungan. (Siregar. Apriliani. Hasanah, dkk, 2. Sangat banyak fakta yang mengatakan bahwa mayoritas remaja tidak tau akan dampak dari perilaku seks yang mereka lakukan. Perilaku remaja yang menurut perkembangannya secara biologis telah mulai matang dan secara alami telah bersiap untuk bereproduksi, tentu hal ini berdampak terhadap dua hal, yaitu ada atau tidaknya sarana penyaluran yang sesuai dan Ketidaktahuan dapat menjadi salah satu sebab dari potensi penyimpangan penyaluran dorongan biologis remaja. Pengetahuan juga memiliki keeratan dengan pendidikan, terdapat pengharapan apabila seseorang memiliki pendidikan yang tinggi maka seseorang itu juga memiliki pengetahuan yang semakin tinggi. Yang mana harus digaris bawahi, bahwa seseorang berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah juga. Terdapat dua aspek pada pengetahuan tentang sebuah objek yaitu positif dan negatif. Kedua aspek tersebut yang nantinya akan menentukan bagaimana seseorang bersikap, dimana banyaknya aspek positif yang dimiliki, maka akan memunculkan sikap yang juga positif kepada objek tertentu (Fatim & Suwanti, 2. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa perilaku seksual yang dilakukan remaja adalah hal alamiah yang terjadi sesuai dengan perkembangan biologis remaja. Hal ini berkaitan erat dengan pengetahuannya tentang perilaku seksual itu Oleh karena itu, perlu diberikan informasi yang tepat dan sesuai sehingga remaja dapat mengatur dan memutuskan perilaku seksual yang beresiko bagi dirinya dan sekitar. Copyright A The Author. 2024 | Page 22 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. METODE Penelitian ini merupakan tinjauan literatur, dimana peneliti sebelumnya melakukan pencarian literatur melalui database online untuk selanjutnya dilakukan proses review dengan menggunakan diagram PRISMA untuk mengidentifikasi artikelartikel yang relevan dengan judul penelitian yang akan diulas hingga mencapai hasil sesuai yang Data untuk penelitian melalui pencarian pada database online seperti Sciencedirect. PubMed. Google scholar, dan Taylor and Francis Online. Pada proses penyortiran artikel, peneliti juga menggunakan metode AuBoolean SearchingAy dengan penambahan kata AND. OR, atau NOT dalam memperluas jangkauan pencarian dan mempermudah dalam identifikasi jurnal penelitian yang relevan dengan kriteria inklusi yaitu terbit dalam rentang waktu 7 tahun terakhir mulai tahun 2017 hingga 2023, memuat kedua kata kunci yang telah ditentukan, terdapat intervensi pendidikan kesehatan tentang reproduksi dalam metode apapun, memiliki perbandingan hasil pre dan post intervensi HASIL Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan tentang reproduksi pada perilaku seksual oleh remaja. Dan setelah penyaringan menggunakan PRISMA dan metode AuBoolean SearchingAy yang juga menyesuaikan dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, maka didapatkan artikel yang akan direview sebanyak 2 artikel nasional dan 2 artikel internasional Tabel 1. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Perilaku Seksual Remaja No. Penulis Sri Helmi Hayati. Rahma Widyana. Santi Esterlita Judul, lokasi dan total sampel Yogyakarta. Indonesia. Total sampel 34 orang remaja dalam 2 Copyright A The Author. 2024 Desain dan Sampling Penelitian kuantitatif dengan desain pretest dan posttest dengan kelompok kontrol dan teknik sampling yaitu purposive sampling Intervensi Pemberian Pendidikan Kesehatan Kesehatan Reproduksi Hasil Mean pretest 3. Uji Mann-Whitney Test: Pretest Z = 0. (P > 0. Posttest Z = -3. < 0. Uji Wilcoxon Rank Test: | Page 23 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Purnamasari . Hairuddin K. Rosita Passe. Jumrah Sekolah Menengah Pertama di Makassar. Indonesia. Total sampel 30 orang Dolores RamyrezVillalobos. Eric Alejandro MonterubioFlores. Tonatiuh Tomys GonzalezVazquez, dkk . Morelos. Mexico. Total sampel 1. Hanne Keyser Hegdahl. Patrick Musonda. Joar Svanemyr, dkk . Pedesaan Zambia. Total sampel 4. Penelitian kuantitatif dengan desain pretest dan posttest tanpa kelompok kontrol dan Teknik sampling yaitu purposive sampling Desain penelitian pre-eksperimen tipe intact-group comparison. Teknik pengambilan sampel random sampling Pemberian Pendidikan Kesehatan Kesehatan Reproduksi Desain penelitian pre-eksperimen tipe intact-group comparison. Teknik pengambilan sampel purposive sampling Pemberian pada salah satu kelompok seksual dan Pengajaran CSE pada guru yang CSE pada murid di . Z = -3. 219 p=0. 001<0. Mean Post-test KE 1. 18 KK 2. Post 1bulan mean 0. Posttest Pengetahuan pada KE mean =28. 41 pada KK 14. Uji Wilcoxon Rank Test: Pretest = Mean 14. SD 1,163 Posttest = Mean 17,87. SD 0,819 P = 0. 000 < 0. Terdapat peningkatan pengetahuan remaja tentang perilaku seksual Pengetahuan guru meningkat dari 5. 1 dari 10 poin Rata-rata waktu inisiasi seksual Kelompok Intervensi 14. 1 tahun pada Kelompok Pembanding 13. 1 tahun, p < 0. 83,3% partisipan kelompok intervensi menggunakan kontrasepsi pada kegiatan seksual terakhirnya sedangkan pada kelompok pembanding hanya sekitar 58,3%. Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi komprehensif mampu menurunkan perilaku seksual berisiko Terjadi penurunan proporsi remaja yang aktif secara seksual pada kelompok economic support Terjadi peningkatan penggunaan kontrasepsi oleh remaja pada kelompok kombinasi Penurunan tingkat aktivitas seksual remaja keseluruhan sebanyak 16% Penurunan proporsi remaja yang melakukan aktivitas seksual tanpa kontrasepsi sebanyak 35% Peningkatan proporsi remaja yang menggunakan kontrasepsi modern sebanyak 26% PEMBAHASAN Setelah menganalisis beberapa artikel jurnal penelitian yang diperoleh melalui beberapa sumber dan referensi yang telah dikaji, maka didapatkan hasil yaitu adanya pengaruh dari pendidikan/penyuluhan kesehatan reproduksi pada perilaku seksual yang dilakukan remaja. Perihal ini dibuktikan dalam penelitian yang dianalisis bahwa pemberian pendidikan/penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja terbukti meningkatkan tingkat pengetahuan remaja dan menurunkan perilaku seksual berisiko salah satunya seperti hubungan seksual di luar Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Hayati. Widyana, & Purnamasari, 2. pada 34 remaja dengan kelompok usia 13-15 tahun di Yogyakarta membuktikan adanya perbedaan tingkat perilaku seksual pada kelompok eksperimen (KE) dan juga kelompok kontrol (KK) pada sebelum dan sesudah pendidikan reproduksi dengan hasil mean 1. 18 pada KE dan 2. 71 pada KK. Hasil uji Wilcoxon Rank Test juga memperoleh perubahan tingkat perilaku sebelum dan sesudah diberikan pendidikan atau penyuluhan kesehatan dengan nilai p = 0. 001 < 0. Pada Copyright A The Author. 2024 | Page 24 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. pengukuran tingkat pengetahuan pun kelompok eksperimen (KE) juga mendapat nilai mean yang lebih baik . ean=28. dibandingkan KK dengan mean=14. Sehingga disimpulkan bahwa pemberian pendidikan atau penyuluhan kesehatan reproduksi berpengaruh pada perilaku seksual oleh remaja yang didapat dari hasil wawancara dengan peserta subjek, setelah diberikan pendidikan reproduksi. Mayoritas subjek mengatakan ada perubahan sesudah mengikuti kelas pendidikan kesehatan dimana subjek mulai menyadari akan dampak dari perilaku seksual dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan, beberapa juga berusaha mengurangi jarak serta intensitas pertemuan bersama kekasihnya, dan berani bersikap asertif juga menolak jika diajak berbuat negatif. Pada penelitian yang kedua, yang dilakukan oleh (Hairuddin. Passe, & Jumrah, 2. pada 30 remaja di makassar diberikan intervensi berupa penyuluhan atau pendidikan kesehatan reproduksi dan mendapatkan peningkatan pada nilai hasil antara sebelum dan setelah diberikan intervensi dengan nilai mean sebelum 14,40 kemudian nilai mean sesudah 17,87 dan nilai p 000 setelah diolah menggunakan uji Wilcoxon Rank Test. Pada artikel penelitian ini, tingkat pengetahuan remaja tentang perilaku seksual menjadi fokus utama karena pengetahuan bisa merupakan sumber dari perilaku seksual yang remaja lakukan dan hal ini juga sesuai dengan pendapat yang pernah dinyatakan oleh Notoatmodjo yaitu perilaku pada remaja dimulai dengan domain kognitif yang kemudian akan terstimulus menimbulkan respon dalam bentuk sikap hingga tindakan terhadap stimulus tersebut yang berupa perilaku. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh (Ramyrez-Villalobos et al. , 2. menjelaskan bahwa guru perlu diberikan pelatihan pendidikan kesehatan seksual yang komprehensif (CSE) untuk menguatkan pendidikan kesehatan seksual di sekolah dan mampu menyampaikan informasi kepada siswanya dengan baik. Setelah diberikan pelatihan CSE, hasil menunjukan bahwa dari 89 guru yang menjalani training CSE dan 84% . berpartisipasi dalam pengukuran, didapatkan peningkatan hasil pengetahuan dari 5. 1 menjadi 6. 1 dari total 10 poin. Kemudian sekitar 2% dari partisipan remaja pada kelompok intervensi mengatakan rata-rata waktu inisiasi seksual mereka rata-rata pada usia 14. 1 tahun sedangkan pada kelompok pembanding ratarata pada usia 13. 1 tahun. Perbedaan ini signifikan secara statistic . <0,. Didapatkan hasil juga sekitar 83,3% partisipan pada kelompok intervensi menggunakan kontrasepsi pada kegiatan seksual terakhirnya sedangkan pada kelompok pembanding hanya sekitar 58,3%. Hal ini jelas menunjukan adanya perubahan perilaku seksual berisiko pada remaja yang diberikan CSE oleh guru dan tidak, hal ini juga memperlambat waktu inisiasi seksual pada remaja. Copyright A The Author. 2024 | Page 25 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Pada artikel terakhir, dilakukan oleh (Hegdahl et al. , 2. di Zambia, dilakukan pada 3 kelompok eksperimen . elompok economic support, kelompok kombinasi, dan kelompok Penelitian ini mendapatkan hasil proporsi remaja dalam kelompok economic support yang sebelumnya dilaporkan aktif secara seksual menurun dibandingkan kelompok kontrol. Proporsi penggunaan kontrasepsi pada remaja kelompok kombinasi menjadi lebih tinggi dibandingkan kedua kelompok lainnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa tambahan Comprehensive Sexual Education memiliki keuntungan dalam tingkat aktivitas seksual secara keseluruhan . % penuruna. , penurunan sekitar 35% pada proporsi remaja yang dilaporkan melakukan aktivitas seksual tanpa kontrasepsi dan juga peningkatan 26% pada proporsi remaja yang menggunakan modern kontrasepsi dibandingkan di dalam kelompok economic support itu Sehingga bisa disimpulkan bahwa pemberian support ekonomi dapat membantu dalam penurunan aktivitas seksual berisiko di kalangan remaja dan penambahan CSE meningkatkan pengetahuan dan penggunaan kontrasepsi modern di kalangan remaja yang secara seksual aktif dan lebih jauh menekan tingkat aktivitas seks yang berisiko KESIMPULAN Dari 4 artikel yang sebelumnya telah dibahas, keempatnya menyatakan adanya perubahan yang lebih baik mengenai perilaku seksual remaja yang berisiko ketika sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Walaupun terdapat perbedaan metode pemberian pendidikan kesehatan di setiap artikel, tetapi keempatnya tetap menunjukan peningkatan pengetahuan dan penurunan tingkat perilaku seksual yang berisiko yang dilakukan oleh remaja. Sehingga bisa peneliti simpulkan bahwa terdapat pengaruh dari pemberian pendidikan kesehatan reproduksi pada perilaku seksual berisiko yang dilakukan remaja DAFTAR PUSTAKA