Jurnal Rekayasa Hijau ISSN: 2550-1070 No. 3 | Vol. November 2018 Karakterisasi Protein Alga Coklat dan Merah dari Perairan Pulau Pari Sebagai Zat Antioksidan Elvi Kustiyah1. Bungaran Saing 2. Avira Afriyanti 3. Ibnu Susanto Joyosemito4 1,2,3 Program Studi Teknik Kimia. Fakultas Teknik. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Program Studi Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Email: elvikustiyah@gmailcom ABSTRAK Kandungan dalam alga meliputi polisakarida, mineral, protein, lemak, vitamin, polifenol dan senyawa bioaktif yang bisa memberikan manfaat terhadap sumber makanan, vitamin maupun pharmasi. Investigasi karakter Alga Coklat dan Alga Merah yang diperoleh dari perairan pulau pari kepulauan seribu wilayah Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan zat yang mampu menjadi alternatif sumber anti oksidan . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi maserasi dengan pelarut Phosfat Buffer Saline (PBS) sedangkan Uji kadar protein alga menggunakan metode Lowry dan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode 1,1-Diphenyl-2-Pycrylhydrazy(DPPH). Hasil penelitian menunjukkan kadar protein yang tertinggi diperoleh pada sampel alga merah, sedangkan nilai kadar protein paling rendah terdapat pada alga cokelat . Nilai aktivitas antioksidan yang paling baik yaitu pada sampel yang berasal dari alga merah dengan nilai IC50 sebesar 3,5421 mg/ml. Kata Kunci: Alga, protein, antioksidan. ABSTRACT An alga contains polysaccharides, minerals, proteins, fats, vitamins, polyphenols and bioactive compounds that can provide benefits for food, vitamin and pharmaceutical sources. Characteristic investigations of Brown Algae and Red Algae from the Pari Island waters. Thousand Islands. Indonesia, were carried out to obtain substances that could be an alternative source of antioxidants. The maceration extraction method using Phosphate Buffered Saline (PBS) as solvent was used in this study. Protein content in algae was investigated by Lowry method and the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method was used to investigate the antioxidant activity of algae The results showed that the highest protein content was found in Red Algae and the lowest is in Brown Algae. The best value of antioxidant activity was found in Red Algae with the IC50 value of 3. 5421 mg/ml. Keywords: Algae, protein, antioxidants. Jurnal Rekayasa Hijau - 247 Elvi Kustiyah. Bungaran Saing. Avira Afriyanti. Ibnu Susanto Joyosemito PENDAHULUAN Antioksidan adalah salah satu parameter penting untuk memantau kesehatan tubuh manusia, yaitu dengan cara mengendalikan reaktivitas yang tinggi dari radikal bebas. Akibat buruk dari radikal bebas ini adalah mampu mempengaruhi membran dan inti sel sehingga mampu merusak dirinya sendiri. (Ito et al. , 2. Adapun sel yang sering diserang radikal bebas adalah sel lemak, sel protein dan sel asam Salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan radikal bebas adalah zat antioksidan(Amarowicz. Pegg. Rahimi-Moghaddam. Barl, & Weil, 2. Zat antioksidan banyak ditemukan di makanan yang mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, selenium, beta karoten, lutein dan lignan. Antioksidant biasanya terkandung pada buah-buahan, sayursayuran, bawang-bawangan juga bisa didaptkan dari biota laut. Penelitian telah banyak dilakukan untuk menginvestigasi aktivitas anti oksidan di timun laut, bintang laut, selada laut bahkan juga rumput laut atau kelompok algae. (Dang. Bowyer. Van Altena, & Scarlett, 2. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan alga di Indonesia merupakan terbesar dibandingkan dengan negara lain. Namun, pemanfaatan alga di bidang industri dan kesehatan masih belum optimal. Ironisnya, di Indonesia, makroalga . umput lau. hanya dibiarkan sebagai sampah lautan, mengapung, hanyut terbawa arus, ataupun terdampar di pinggir pantai. Padahal alga berpotensi ekonomis sebagai bahan baku dalam industri dan kesehatan dibalik peran alga yang bertugas menjaga kestabilan ekosistem laut dan tempat hidup serta tempat berlindung bagi biota laut lain(Dang et al. , 2. Makroalga merupakan tumbuhan laut yang secara morfologis tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daun secara jelas. Seluruh tubuh rumput laut hanya menyerupai batang yang disebut Klasifikasi rumput laut berdasarkan kandungan pigmen terdiri dari 4 kelas, yaitu rumput laut hijau (Chlorophyt. , rumput laut merah (Rhodophyt. , rumput laut coklat (Phaeophyt. dan rumput laut pirang (Chrysophyt. (Wang. Xiao. Wang. Zhou, & Tang, 2. Dalam rumput laut mengandung polisakarida, mineral, protein, lipid dan lemak, vitamin, polifenol dan senyawa bioaktif. Alga mempunyai beragam potensi bioaktivitas antara lain sebagai obat dan suplemen, antioksidan, antiobesitas . , antidiabetes, antibakteri, antiinflamasi, dan antikanker (Suparmi & Sahri. Protein merupakan makromolekul dalam sel yang mempunyai berat molekul besar yang sangat (Liu. Jin. Lin. Jones, & Chen, 2. Struktur protein terdiri dari polipeptida yang mempunyai rantai panjang, dan tersusun atas banyak asam amino. Protein memiliki peranan penting dalam semua proses biologi. Peran dan aktivitas protein antara lain: katalis enzimatik, transport dan penyimpanan, koordinasi gerak, penunjang mekanis dan protein imun. Pada rumput laut jenis coklat, protein yang terkandung di dalamnya berkisar 5-15% dari berat kering, sedangkan pada rumput laut hijau dan merah berkisar 10-30% dari berat kering (Suparmi & Sahri, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuantitas kadar protein yang terdapat dalam alga coklat dan Alga Merah serta potensinya sebagai zat antioksidan yang diambil dari pantai di Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan serangkaian tahapan pengerjaan, dimulai dari pengambilan sampel, ekstraksi protein, uji kadar protein alga , dan uji aktivitas antioksidan. Jurnal Rekayasa Hijau - 248 Karakterisasi protein alga coklat dan merah dari perairan pulau pari sebagai zat antioksidan METODE PENELITIAN 1 Bahan Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alga coklat dan Alga Merah yang berasal dari Perairan Pantai Pulau Pari Kepulauan Seribu. Sedangkan bahan-bahan pendukung yang digunakan antara lain: Phosphat Buffer Saline (PBS) . ,02 M . pH 7,0 . 0,85% NaC. Bovine Serum Albumin(BSA), akuades. Lowry A . ollin clocalteus (Larutan asam phosphotungstat-phosphomolybda. dengan akuades 1:. Lowry B (Na2CO3 2%. NaOH 0,1 N. CuSO4. 5H2O 1%. Natrium kalium tartrat 2%). HCl 1 M, diphenylpicrylhydrazyl(DPPH), methanol, dan quarsetin 2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: plastic clip, spektrofotometer UV-Vis Hitachi U2000, neraca analitik, ice dryer. Sentrifugen Universal 320R, magnetik stirrer, refrigerator, pisau, blender, cawan kaca, stopwatch, kantong dialisis, saringan/kain kasa, gelas kimia, labu ukur, tabung reaksi, erlenmeyer dan pipet tetes 3 Metode penelitian 1 Sampling Alga Alga yang sudah didaptakan dari perairan kepulauan seribu kemudian dicuci dengan air tawar untuk menghilangkan kotoran dan organisme yang menempel, kemudian alga dimasukkan kedalam kantong sampel dan diberi label. Kantong sampel dimasukkan ke dalam cool box yang berisi es untuk menjaga kesegarannya dan terhindar dari matahari secara langsung. 2 Ekstraksi Protein Metode yang digunakan untuk mengekstraksi alga adalah metode maserasi dengan mengunakan pelarut Phosfat Buffer Saline (PBS). Sampel dari dalam cold storage dikeringkan dan dipotong kecilkecil dan dihaluskan, diambil sebanyak 10 gram dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Sampel direndam dalam larutan Phosphat buffer saline (PBS) 60 ml dan diaduk. Kemudian sampel dimasukkan ke dalam botol dan disimpan ke dalam refrigerator selama 24 jam pada temperatur 4oC. Campuran sampel kemudian disaring dengan menggunakan kain kasa untuk mendapatkan filtrat. Filtrat yang diperoleh disentrifus dengan kecepatan 1000 rpm selama 15 menit pada temperatur 4 oC. Supernatan hasil sentrifus ditambahkan larutan PBS sampai volume menjadi 100 ml kemudian disimpan kembali ke dalam refrigerator. 3 Uji Kadar Protein Total Kadar protein pada tiap fraksi ditentukan oleh metode Lowry menggunakan larutan standar Bovine Serum Albumin (BSA). Pertama, masukkan ke dalam tabung reaksi : 0. 0,1 . 0,2 . 0,4 . dan 1 ml larutan protein standar (BSA), tambahkan air sampai volume total masing-masing 4 ml. Kemudian tambahkan 5,5 ml larutan Lowry B ke dalam masing-masing tabung, kocok, biarkan selama 10-15 menit. Setelah itu, tambahkan 0,5 ml larutan Lowry A, kocok hingga merata dengan cepat sesudah penambahan, biarkan selama A 30 menit sampai warna biru terbentuk. Lalu ukur absorbansinya pada panjang gelombang 650 nm. Kemudian buat kurva protein standart. Hitung kadar tiap sampel dengan menggunakan persamaan yang didapat dari kurva protein standart. Jurnal Rekayasa Hijau - 249 Elvi Kustiyah. Bungaran Saing. Avira Afriyanti. Ibnu Susanto Joyosemito 4 Uji Aktivitas Antioksidan Uji kadar antioksidan menggunakan metode (DPPH). Sampel protein sebanyak 5ml dimasukan ke dalam cawan kaca dan dikeringkan dalam drying oven pada suhu 50AC selama 24 jam. Sampel kering yang didapat ditimbang kemudian dilarutkan dengan 1 ml PBS . Larutan sampel tadi dimasukkan ke tabung reaksi dengan pengulangan 2 kali . sebanyak 4 ml . ml sampel 3 ml metano. Blanko yang digunakan yaitu quarsetin. Kemudian tambahkan 1 ml larutan DPPH 1 mM sehingga konsentrasi larutan DPPH menjadi 0,2 mM. Sampel kemudian diinkubasi pada suhu ruang dan tempat yang gelap selama 30 menit. Setelah 30 menit, sampel diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum 517 nm. Pengukuran absorbansi kosong juga dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Ekstraksi protein Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metode maserasi, yaitu metode ekstraksi dengan cara merendam sampel dalam pelarut dengan atau tanpa pengadukan. Prinsip ekstraksi metode ini adalah pelarut akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang mengandung komponen bioaktif. Proses perpindahan komponen bioakif dari dalam bahan ke pelarut terjadi secara difusi. Proses difusi merupakan perubahan secara spontan dari fase yang memiliki konsentrasi lebih tinggi menuju konsentrasi lebih rendah. Proses ini akan terus berlangsung selama komponen bahan padat yang dipisahkan menyebar diantara kedua fase. Proses difusi akan berakhir jika kedua fase berada dalam kesetimbangan, yaitu apabila seluruh zat sudah terlarut dan konsentrasi larutan yang terbentuk menjadi seragam. Pelarut yang digunakan adalah PBS pH 7,54. PBS sering digunakan dalam percobaan biologi untuk mempertahankan osmolaritas sel karena adanya ion garam (Na dan Cl-) yang mempertahankan pH. 2 Uji Kadar Protein Total Uji kadar protein total pada sampel alga coklat dan alga merah ditentukan menggunakan metode Lowry. Hasil pengujiannya menggunakan spektrofotometer balok ganda Hitachi U-2000 berukuran UV pada 650 nm dapat dilihat pada gambar 1 untuk kurva standard: Gambar 1. untuk kurva standard pengukuran absorbasi alga merah dan alga coklat Selanjutnya kurva standar ini digunakan untuk mendefiniskan kadar protein dalam sample Jurnal Rekayasa Hijau - 250 Karakterisasi protein alga coklat dan merah dari perairan pulau pari sebagai zat antioksidan Kode sampel S24 Tabel 1. Kadar Protein Makroalga Sampel alga % Kadar protein mg/10g Rhodophyta 2,568A0,441 Rhodophyta 5,115A0,126 Phaeophyta 4,856A3,725 Phaeophyta 2,078A0,505 Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar protein dalam alga sekitar 2-5%. Kadar protein yang paling tinggi yaitu pada sampel S24 dengan kandungan sebesar 5,115A0,126% yang berasal dari alga merah. Sedangkan nilai kadar protein paling rendah terdapat pada sampel S9 sebesar 2,078A0,505% yang berasal dari alga cokelat. Temuan ini menunjukan bahwa makro alga Rhodophyta memiliki nilai protein yang lebih tinggi, dibandingkan dengan Phaeophyta. 3 Uji Aktivitas Antioksidan Pengukuran aktivitas antioksidan yaitu dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri. Metode pengujian DPPH merupakan metode yang telah lama digunakan untuk penetapan aktivitas Hasil uji aktivitas antioksidan dinyatakan dalam % aktivitas antioksidan yang ditunjukkan pada Tabel 2. Sampel S24 Tabel 2. Uji antioksidan activity dengan metode DPPH % Aktivitas Antioksidan Jenis Alga 1 ml 2 ml Rhodophyta Rhodophyta Phaeophyta Phaeophyta 21,8759 3,5164 20,8765 1,9840 25,4886 27,7909 30,2932 20,8765 5 ml 37,2297 62,8294 35,4975 58,3136 Dari data pada Tabel 2 di atas, diperoleh persamaan regresi yang digunakan untuk menghitung nilai IC50. IC50 merupakan parameter konsentrasi yang ekuivalen memberikan 50% efek aktivitas Persamaan regresi diperoleh dari hubungan antara konsentrasi sampel dan persentase penghambat aktivitas radikal bebas. Nilai IC50 diperoleh dengan memasukkan Y=50 sehingga nilai konsentrasi sampel . dapat dihitung. Quarsetin digunakan sebagai kontrol yang telah menghambat 50 % radikal bebas. Tabel 3 berikut merupakan data nilai hasil uji aktivitas antioksidan dari masingmasing makroalga. Tabel 3. Hasil Uji Antioksidan pada Masing- Masing Sampel Makro Alga IC50 Sampel Jenis Alga %Aktivitas Antioksidan . g/m. Rhodophyta 36,5783A0,0124 8,324254 S24 Rhodophyta 59,2723A0,0679 3,542056 Phaeophyta 35,09402A0,0048 23,065401 Phaeophyta 60,90465A0,0494 4,34048 Dari Tabel 3 diatas, terlihat bahwa sampel S24 (Rhodophyt. memiliki aktivitas antioksidan yang paling baik dengan nilai IC50 sebesar 3,5421 mg/ml, dan paling buruk yaitu sampel S5 (Phaeophyt. memiliki nilai IC50 sebesar 23,0654 mg/ml. Semakin rendah nilai IC50, maka akan semakin baik aktivitas antioksidan dari sampel yang telah di uji (Ito et al. , 2. Jurnal Rekayasa Hijau - 251 Elvi Kustiyah. Bungaran Saing. Avira Afriyanti. Ibnu Susanto Joyosemito Secara statistik metode ANOVA, terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan pada kadar rata-rata protein dari masing-masing sampel. Namun terdapat perbedaan yang signifikan pada aktivitas antioksidan dari masing masing sampel. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5 Tabel 4. Analisa anova pada kadar protein total Sampel S24 Rata-rata kadar protein Beda absolut LSD =BNt Significan 2,5675 2,547 4,028 2,5675 2,2888 4,028 2,5675 0,4898 4,028 5,1146 2,547 4,028 5,1146 0,2583 4,028 5,1146 3,0369 4,028 4,8563 4,8563 4,8563 2,0777 2,0777 2,0777 2,2888 0,2583 2,7786 0,4898 3,0369 2,7786 4,028 4,028 4,028 4,028 4,028 4,028 Tabel 5. Analisa anova pada %aktivitas antioksidan Rata-rata % aktivitas Sampel Beda absolut LSD =BNt 36,578323 22,694 0,471158 36,578323 1,4843 0,471158 36,57832 24,326 0,471158 59,272283 22,694 0,471158 S24 59,272283 24,178 0,471158 59,272283 1,6323 0,471158 35,094018 1,4843 0,471158 35,094018 24,178 0,471158 35,094018 25,810 0,471158 60,904649 24,326 0,471158 60,904649 1,6323 0,471158 60,904649 25,810 0,471158 Ket : Sign= Significant LSD = least signficance different. BNt = beda nyata terkecil. TS = tidak signifikan. S = signifikan Sign KESIMPULAN Kesimpulan pada penelitian ini, dibandingkan alga cokelat (Phaeophyt. kadar protein alga merah lebih tinggi yaitu sebesar 5,115A0. 126% sedangkan kadar protein yang berasal dari alga cokelat hanya sebesar 2,078A0. Nilai aktivitas antioksidan yang lebih baik adalah alga merah . yaitu dengan nilai IC50 sebesar 3,5421 mg/ml, sedangkan alga cokelat memiliki aktivitas antioksidan yang kurang baik dengan nilai IC50 sebesar 23,0654 mg/ml. Jurnal Rekayasa Hijau - 252 Karakterisasi protein alga coklat dan merah dari perairan pulau pari sebagai zat antioksidan DAFTAR PUSTAKA