PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926: DINAMIKA SOSIOKEAGAMAAN DI PONDOK PESANTREN NUHIYAH PAMBUSUANG MiAoraj Universitas Islam Malang. Indonesia mirajftk@gmail. ABSTRACT This study aims to examine the implementation of Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926 values in multicultural education at Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang. West Sulawesi. Amid the growing phenomena of religious intolerance and exclusivism. NU-affiliated pesantren hold a strategic position in fostering moderate Islamic values that align with the dynamics of a pluralistic society. Employing a qualitative approach with a phenomenological design, this study collected data through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that the core values of Khittah NU 1926 tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , and amar maAoruf nahi munkar . thical activis. have been systematically internalized through the pesantrenAos curriculum, teaching methods, social interactions, and religious-social These values are not merely taught as normative doctrines but are embodied in the studentsAo daily contextual and practical experiences. The study concludes that an educational model grounded in Khittah NU fosters inclusive, reflective, and resilient student character capable of responding to the challenges of pluralism, social transformation, and the demands of a civil global society. Keywords: Khittah NU 1926. Pesantren. Multicultural Education MiAoraj ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada bagaimana nilai-nilai Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926 diaktualisasikan dalam praktik pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang. Sulawesi Barat. Di tengah meningkatnya gejala intoleransi dan eksklusivisme keagamaan, pesantren yang berafiliasi dengan NU memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai Islam moderat yang selaras dengan dinamika masyarakat majemuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, serta teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai utama Khittah NU 1926 tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , dan amar maAoruf nahi munkar . ktivisme eti. telah terinternalisasi secara sistematis melalui kurikulum, metode pengajaran, pola relasi sosial, serta aktivitas sosial-keagamaan pesantren. Nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan secara normatif, tetapi juga dihidupkan dalam pengalaman dan praksis harian para santri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model pendidikan berbasis Khittah NU mampu membentuk karakter santri yang inklusif, reflektif, dan resilien dalam merespons tantangan pluralitas, perubahan sosial, dan kebutuhan masyarakat global yang berkeadaban. Kata kunci: Khittah NU 1926. Pesantren. Pendidikan Multikultural PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keragaman etnis, agama, budaya, dan bahasa yang sangat kompleks. 1 Keragaman ini membentuk lanskap sosial yang multikultural sekaligus menantang, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam konteks Indonesia, di mana multikulturalisme merupakan realitas sosial yang kompleks, pendidikan ini berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan pemahaman serta penghargaan terhadap keragaman budaya. Lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, memainkan peran sentral dalam membentuk konstruksi sosial umat Islam yang moderat dan Salsabila Dwi Cahyaningrum et al. AoAmar MaAoruf Nahi Munkar: Sebuah Kajian OntologisAo. CENDEKIA PENDIDIKAN 2, no. December 2. : 54, accessed doi:10. Karta Jayadi. Amirullah Abduh, and Muhammad Basri. AoA Meta-Analysis of Multicultural Education Paradigm in IndonesiaAo. Heliyon 8, no. 1 (January 2. : e08828, accessed doi:10. 1016/j. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . terbuka terhadap keragaman. 3 Peran ini menjadi semakin krusial dengan dinamika sosial-politik kontemporer yang ditandai oleh meningkatnya wacana identitas eksklusif dan gejala intoleransi keagamaan. Sebagai institusi Islam tertua di Indonesia. Pesantren memiliki kapasitas unik untuk merawat nilai-nilai lokal sekaligus menanamkan prinsip-prinsip universal Islam yang rahmatan lil Aoalamin. Lebih jauh, potensi pesantren sebagai agen penyemaian nilai-nilai toleransi mendapat dukungan dari sejumlah studi. Pesantren sebagai agen pendidikan tradisional memiliki potensi besar dalam menyemai nilai-nilai toleransi lintas etnis dan mazhab. Hal ini diperkuat oleh temuan Suprapno yang menyoroti pentingnya adaptasi kurikulum pesantren untuk merespons tantangan multikulturalisme melalui integrasi tradisi Islam dan nilai-nilai 5 Secara khusus, pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), dengan kerangka Ahlussunnah wal Jamaah-nya, memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam pendidikan multikultural yang berbasis pada kearifan lokal. 6 Nilai-nilai dalam Khittah NU 1926 secara fundamental sejalan dengan esensi pendidikan multikultural yang menghargai perbedaan, mengedepankan dialog, dan menanamkan sikap adil dalam relasi sosial. Namun demikian, meskipun nilai-nilai dalam Khittah NU 1926 secara fundamental sejalan dengan esensi pendidikan multikultural, implementasinya dalam pendidikan pesantren masih belum optimal. Realitas menunjukkan bahwa banyak warga dan institusi pesantren belum benar-benar memahami dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini juga terjadi di wilayahSumarto Sumarto and Emmi Kholilah Harahap. AoMengembangkan Moderasi Pendidikan Islam Melalui Peran Pengelolaan Pondok PesantrenAo. RiAoayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan 4, no. July 2. : 21, accessed doi:10. 32332/riayah. Khasanuri I and Fariz Alnizar. AoPondasi Peradaban Pondok PesantrenAo. The International Journal of Pegon : Islam Nusantara Civilization 11, no. November 2. : 29Ae48, accessed doi:10. 51925/inc. Suprapno Suprapno et al. AoAnalisis Pengembangan Kurikulum Kepesantrenan Dengan Penguatan Wawasan Rasionalisme Kebangsaan. Moderasi Beragama Dan Berparadigma MultikulturalAo. FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan Dan Manajemen Islam 12, no. July 2. , accessed doi:10. 32806/jf. Julhadi Julhadi and Nurasiah Ahmad. AoOrganisasi Sosial Keagamaan Dan Pendidikan Islam (Nahdatul Ulam. Ao. MauAoizhah 11, no. February 2. , accessed doi:10. 55936/mauizhah. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj wilayah seperti Kabupaten Polewali Mandar, yang masyarakatnya secara historis memiliki familiar dengan budaya dan tradisi organisasi Nahdlatul Ulama. Di daerah tersebut, masih dijumpai adanya sikap eksklusif dan resistensi terhadap pandangan atau praktik yang berbeda. 7 Fenomena ini jelas bertentangan dengan semangat rahmatan lil Aoalamin yang semestinya menjadi fondasi utama dari pendidikan pesantren berbasis nilai-nilai NU. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya eksplorasi konseptual dan praktikal mengenai cara integrasi nilai-nilai Khittah NU 1926 secara eksplisit ke dalam pendidikan pesantren. Meskipun khittah NU 1926 telah menjadi objek kajian dalam penelitian akademik. Sayangnya, kajian akademik yang ada selama ini lebih banyak menitikberatkan pada aspek 89 Kemudian lebih banyak mengkaji pada aspek politik Khittah NU, seperti posisi ideologis NU dalam dinamika kenegaraan. 101112 Akibatnya aspek-aspek lain dari Khittah NU 1926 terutama dalam ranah aspek edukatif dan pedagogis belum memperoleh perhatian yang memadai dalam diskursus ilmiah. Padahal, nilai-nilai seperti tawassuth, tasamuh, tawazun, dan itidal dalam Khittah NU 1926 sangat sejalan dengan prinsip-prinsip keberagaman, dialog antarbudaya, dan keadilan sosial. Prinsip-prinsip ini dapat dijadikan pijakan utama dalam merancang sistem pendidikan Islam yang kontekstual dan berkarakter, khususnya di tengah menguatnya intoleransi, radikalisme, dan segregasi identitas keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan tersebut secara substantif dan praksis. Sabara. AoSulawesi Pemahaman Moderasi Beragama Guru Pendidikan Agama Islam Di SMA / SMK / MA Di Kabupaten Polewali Mandar . Sulawesi BaratAo, 2023. Jamal MaAomur Asmani. KH. MA. Sahal Mahfudh: Sang Penegak Khittah NU (Yogyakarta: DIVA Press, 2. Ikmal Fawaid. AoDinamika Nu Pasca Kemerdekaan Menuju Ditetapkannya Khittah Nu Sebagai Keputusan Muktamar Situbondo 1945-1984Ao. El Tarikh 3, no. : 74Ae95. Hermanto Harun et al. AoThe Cipete Vs Situbondo Feud ( 1983-1984 ): Study of Khittah NU Return and Its Impact on PBNU Political Policy Nahdlatul Ulama Ao s Journey to Khittah Went through Phenomenal Events . K . H . Idham Chalid Led the TanfidziyyAh PBNU for 28 Years , from 1956 Ao 10, no. : 141Ae66, accessed doi:10. 24952/fitrah. Moh. Mahbub. NU Tulang Punggung Negara. Strategi NU Pasca-Khittah Dalam Membangun Relasi Sosial. Politik. Dan Keagamaan (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2. Sumarta. AoNU Antara Politik Praktis Dan KhittahAo. Khulasah : Islamic Studies Journal 4, no. : 1Ae13. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . Dalam menghadapi polarisasi sosial akibat globalisasi, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun narasi pendidikan inklusif berbasis nilainilai religius dan kebudayaan lokal. Nilai-nilai Khittah NU 1926 yang menjunjung moderasi, toleransi dan keadilan sejatinya merupakan sumber daya kultural yang belum optimal dimanfaatkan dalam sistem pendidikan Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengkaji Khittah NU 1926 secara normatif sebagai dokumen ideologis, melainkan juga untuk membangun konstruksi konseptual dan temuan empiris mengenai bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan secara sistemik dalam pendidikan multikultural di lingkungan pesantren. Melalui pendekatan ini, diharapkan akan lahir suatu model pendidikan Islam yang tidak hanya berakar pada khazanah tradisi keislaman lokal, saraya mampu menjawab kebutuhan zaman dengan pendekatan yang inklusif, kontekstual, dan transformatif. Model pendidikan multikultural berbasis nilai-nilai Khittah NU 1926 dalam studi ini berpijak pada asumsi bahwa nilai-nilai Islam tradisional seperti tawasuth, tasamuh, tawazun, dan amar maAoruf nahi munkar tidak hanya bersifat normatif-teologis. Lebih dari itu nilai-nilai ini memiliki daya transformasi yang dapat dikonstruksi sebagai prinsip epistemologis dan pedagogis dalam pendidikan Islam. Keempat nilai utama Khittah NU 1926 dalam kerangka ini tidak berjalan secara terpisah, melainkan membentuk satu sistem nilai yang saling menguatkan dan mendorong terbentuknya pendidikan yang kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Nilai-nilai ini menjadi dasar pembentukan model pendidikan Islam yang mampu menjembatani antara khazanah keislaman klasik dan tantangan masyarakat global yang majemuk. METODE Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif untuk memahami secara mendalam implementasi khittah NU 1926 melalui praktik pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengkaji realitas sosial sebagaimana dipahami oleh pelaku pendidikan dalam keseharian mereka. 13 Pemilihan lokasi tersebut tidak dilakukan secara Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif. Dan R&D (Bandung: Alfabeta. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj acak, melainkan berdasarkan pertimbangan karakteristik pesantren yang secara konsisten mengembangkan nilai-nilai Ahl al-Sunnah wa al-JamaAoah serta memiliki kontribusi nyata dalam memperkuat nilai kebangsaan di tengah masyarakat lokal. Untuk menggali secara lebih dalam pengalaman para subjek penelitian, digunakan pendekatan fenomenologi yang fokus pada penafsiran makna dari pengalaman langsung para pimpinan pondok, pengasuh pesantren, santri, dan tokoh masyarakat yang terlibat. 14 Responden dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria partisipan yang memiliki informasi mendalam, dan diperluas menggunakan teknik snowball sampling guna memperoleh informan tambahan yang relevan. Dalam proses pengumpulan data, peneliti mengandalkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi sebagai sumber utama. Ketiga teknik tersebut dipilih karena saling melengkapi dan memberikan ruang bagi peneliti untuk menangkap dinamika sosial secara utuh. Wawancara yang dilakukan secara tidak terstruktur guna memberikan keleluasaan bagi informan dalam menyampaikan pandangan serta pengalamannya secara Seluruh data yang terkumpul dianalisis secara interaktif yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses reduksi dilakukan untuk menyaring dan mengklasifikasikan data sesuai fokus penelitian, sementara penyajian data disusun dalam bentuk narasi deskriptif. Adapun kesimpulan diperoleh melalui pendekatan induktif dan didukung oleh triangulasi sumber, metode, dan waktu guna memastikan validitas temuan. Untuk menjaga kredibilitas data, peneliti terlibat secara langsung di lapangan dan melakukan validasi dengan membandingkan berbagai sumber informasi yang relevan. penelitian berisi metode yang dipilih atau digunakan dalam penelitian. KAJIAN TEORI/PUSTAKA Khittah NU 1926 dan Pendidikan Konseptualiasi Multikultural Secara etimologis, khittah berarti langkah atau koredor, sedangkan secara terminologis dimaknai sebagai panduan normatif dalam membangun Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2. John W. Creswell. Penelitian Kualitatif & Desain Riset: Memilih Diantara Lima Pendekatan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Michael Huberman Matthew B. Miles. Analisis Data Kualitatif ((Jakarta: Universitas Indonesia, 1. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . cara pandang, orientasi nilai, dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Ahl al-Sunnah wa al-JamaAoah. dalam konteks sosial-keagamaan masyarakat Indonesia. Khittah NU 1926 menjadi dasar gerak organisasi yang berakar pada nilai-nilai keagamaan dan sosial yang telah berkembang melalui pengalaman historis NU. 17 Gagasan untuk kembali merujuk pada Khittah 1926 kembali mengemuka pada tahun 1971 sebagai respons atas dinamika politik dan keagamaan yang berkembang saat itu. Gagasan ini kemudian mendapatkan momentum melalui Muktamar ke-26 di Semarang dan Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983. Puncaknya. Muktamar NU 1984 di Situbondo menetapkan kembalinya NU sebagai gerakan sosial Keputusan tersebut dikodifikasikan dalam sembilan poin Khittah NU, yang mencakup empat fokus utama pendidikan, dakwah, kesejahteraan sosial, dan ekonomi keumatan . Dalam konteks kontemporer, ajaran Ahl al-Sunnah wa al-JamaAoah diinterpretasikan secara terbuka dan relevan dengan perkembangan zaman melalui empat prinsip utama yang menjadi pijakan sosial-keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), yaitu: tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , dan amar maAoruf nahi munkar . engajak pada kebaikan dan mencegah kemungkara. Keempat nilai ini tertuang dalam butir keempat Khittah NU 1926 dan mencerminkan sikap sosial NU dalam kehidupan masyarakat majemuk. Tawasuth menekankan posisi tengah antara dua kutub ekstrem, yang melahirkan sikap iAotidal . dalam bersikap dan mengambil keputusan. Tasamuh menunjukkan penghargaan terhadap perbedaan pandangan, khususnya dalam isu furuAoiyyah dan kebudayaan. Tawazun mengajarkan keseimbangan dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, serta antara masa lalu dan masa depan. Sedangkan amar maAoruf nahi munkar merupakan tanggung jawab moral untuk membangun masyarakat yang Forum Kajian Ke NU-An. Khittah Dan Khidmah Nahdlatul Ulama (Pati: MajmaAo Buhuts An Nahdliyah, 2. Kacung Marijan. Quo Vadis Nu : Setelah Kembali Ke Khittah 1926 / Kacung Marijan (Jakarta: Erlangga, 1. PBNU. Nahdlatul Ulama: Kembali Ke Khittah 1926 (Bandung: Risalah Bandung, 1. Mardan Umar et al. AoTransforming of Moderate Character Education in Islamic Educational InstitutionsAo. Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam 7, no. March 2. : 171Ae88, accessed doi:10. 31538/nzh. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj adil dan berkeadaban. Pendidikan Multikultural Pendidikan merupakan proses untuk membekali individu agar hidup selaras dalam masyarakat serta melestarikan nilai budaya dan sosial. 22Dalam konteks multikultural. James A. Banks menyatakan bahwa pendidikan multikultural merupakan pendekatan yang menghargai keberagaman latar belakang peserta didik termasuk etnis, agama, gender, status sosial ekonomi, dan disabilitas dengan tujuan menciptakan keadilan dan kesetaraan dalam pembelajaran melalui integrasi konten, pengurangan prasangka, dan lingkungan sekolah yang inklusif. Menurut Syamsul MaAoarif, pendidikan multikultural berpijak pada dua konsep utama pluralitas dan kulturalitas, yang mengarahkan pada pandangan inklusif lintas identitas. Paradigma ini lahir dari kesadaran akan ketidakadilan struktural dan budaya, serta mendorong integrasi studi etnis ke dalam kurikulum guna memberdayakan kelompok termarjinalkan. 24 Tujuan utamanya adalah menumbuhkan sikap inklusif dan menolak stereotip, egosentrisme, serta eksklusivisme. Pendidikan multikultural menegaskan bahwa manusia hidup dalam jejaring sosial yang majemuk, dan pemahaman atas keragaman budaya merupakan bagian penting dari pembentukan jati diri peserta didik. John W. Berry menegaskan bahwa pendidikan multikultural harus berlandaskan prinsip-prinsip yang mencerminkan keberagaman secara nyata dalam proses pembelajaran. Materi ajar perlu disusun dengan keterbukaan budaya, mencerminkan latar belakang peserta didik yang beragam serta memberi ruang bagi pandangan yang berbeda. Selain itu, pembelajaran Dadan Rusmana. Heri Gunawan, and Dwi Martiningsih. AoInstilling Moderation: Transforming Religious Education in Madrasah AliyahAo. Jurnal Ilmiah Peuradeun 13, no. January 2. 77, accessed doi:10. 26811/peuradeun. Lester Donald Crow and Alice Crow. Educational Psychology (California: American Book Company, 1. J A Banks. Cultural Diversity and Education: Foundations. Curriculum, and Teaching (London: Routledge, 2. , accessed https://books. id/books?id=FvlCzwEACAAJ. Syamsul Maarif. Pendidikan Pluralisme Di Indonesia (Yogyakarta. : lagung Pustaka, 2. Amal Mohammed Ali Al-Mannai. Hala Essa Al Marzooq, and Wafa Jawad Al-Arrayed. AoIncorporating Multicultural Education in the Classroom: Benefits for Global CitizenshipAo. International Journal of Educational Research 1, no. February 2. : 08Ae13, accessed doi:10. 62951/ijer. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . harus memuat unsur perbedaan dan kesamaan antarkelompok budaya, relevan dengan konteks sosial dan kultural peserta didik, serta disesuaikan dengan perkembangan zaman. Proses belajar yang efektif juga harus berbasis pada pengalaman konkret peserta didik dan menggunakan pendekatan interaktif yang mendorong keterlibatan aktif, dialog terbuka, serta saling berbagi dalam lingkungan yang inklusif dan egaliter. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini ada empat poin utama yang menjadi temuan terkait prinsip khittah NU 1926 dengan pendidikan multikultural sebagai berikut: Tawasuth (Modera. Nilai tawasuth atau sikap moderat merupakan salah satu nilai utama dalam Khittah NU 1926 yang menekankan posisi tengah dalam beragama menghindari kecenderungan ekstrem baik ke kanan maupun ke kiri. Dalam ranah pendidikan multikultural, nilai ini tidak hanya bersifat normatif, melainkan berfungsi sebagai basis epistemologis yang menopang cara berpikir inklusif terhadap keragaman cara pandang, mazhab, dan tradisi dalam Islam. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Al-Qardhawi yang menjelaskan bahwa wasathiyah dalam Islam adalah jalan tengah yang adil, tidak memberatkan, dan tidak memaksakan. 28 Dalam konteks pendidikan multikultural Lestari & SaAoadah menekankan pentingnya pemahaman saling menghormati dan menghargai perbedaan sebagai inti dari interaksi sosial yang harmonis. Implementasi nilai tawasuth di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang tidak berhenti pada tingkat konseptual, melainkan telah ditransformasikan secara konkret ke dalam sistem pendidikan yang dijalankan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam, prinsip tawasuth diinternalisasi melalui tiga pilar utama. John W. Berry et al. AoCross-Cultural PsychologyAo. The ECPH Encyclopedia of Psychology, 2025, 355Ae57, accessed doi:10. 1007/978-981-97-7874-4_12. Mujamil Qamar. NU Liberal Ao : Dari Tradisionalisme Ahlussunnah Ke Universalisme IslamAo (Bandung: Mizan, 2. Yusuf Al-Qardhawi. Fi Fiqhil Aulawiyyat, 2nd ed. (Kairo: Maktabah Wahbah, 1. Tri Diyah Lestari and Nurus SaAoadah. AoPendidikan Multikultural Solusi Atas Konflik Sosial: Indikasi Intoleran Dalam KeberagamanAo. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis 6, no. December 2. : 140, accessed doi:10. 17977/um021v6i2p140-154. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj Santri diperkenalkan pada empat mazhab utama dalam Islam (Hanafi. Maliki. SyafiAoi, dan Hanbal. secara komparatif. Strategi ini bukan hanya bertujuan untuk menambah wawasan keilmuan, melainkan juga menanamkan kesadaran akan pluralitas pendapat dalam Islam, sehingga membentuk sikap keberagamaan yang reflektif dan toleran. Melalui pemahaman yang luas terhadap berbagai mazhab, santri diarahkan untuk memilih dan mengikuti salah satu mazhab secara proporsional, tanpa merendahkan, menyalahkan, atau menjelek-jelekkan mazhab Sikap ini tercermin dalam praktik sehari-hari, misalnya saat mengikuti salat subuh berjamaah. Ketika imam tidak membaca qunut sebuah praktik yang lazim dalam mazhab SyafiAoi santri tetap mengikuti imam dengan khusyuk dan penuh keikhlasan. Hal ini menunjukkan tumbuhnya sikap saling menghargai dalam perbedaan dan pengamalan keberagamaan yang inklusif di lingkungan pesantren. Metode diskusi dan halaqah menjadi sarana pedagogis utama yang menekankan pentingnya adab al-ikhtilaf . tika dalam perbedaa. Melalui forum ini, santri dilatih untuk berdialog secara terbuka, mendengarkan dengan saksama, dan menghargai pandangan yang Selain itu, santri dibiasakan untuk menyaring berbagai ide dan pendapat dengan cermat sebelum menerimanya, sehingga tercipta sikap selektif yang matang dalam berinteraksi dengan wacana keagamaan maupun sosial. Komposisi pengajar yang berasal dari latar belakang organisasi yang beragam, termasuk dari luar Nahdlatul Ulama, turut menciptakan ruang belajar yang terbuka dan dinamis. Keberagaman ini tidak hanya diterima, tetapi diposisikan sebagai kekuatan dalam memperkaya perspektif santri dan memperkuat atmosfer toleransi di lingkungan pesantren. Temuan ini menguatkan teori transformative learning yang mencerminkan tahapan pembelajaran yang mendorong santri untuk merefleksikan asumsi dasar keberagamaannya, berdialog dengan keragaman perspektif, dan membentuk pemahaman baru yang lebih inklusif serta terarah pada perubahan sikap. 30 Dalam hal ini, nilai tawasuth menjadi lebih dari sekadar strategi dakwah melainkan berfungsi sebagai perangkat kognitif dan afektif yang membentuk pola pikir santri secara menyeluruh. Selain itu, dalam Jack Mezirow. AoTransformative Learning in ActionAo. Realizing Autonomy, no. : 5Ae12, accessed doi:10. 1057/9780230358485. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . kerangka pedagogi multikultural, tawasuth menjalankan fungsi ganda sebagai integrasi konten keagamaan yang mendorong apresiasi terhadap pluralitas mazhab dan sebagai pendekatan pedagogis yang menumbuhkan keadilan dalam pengajaran serta ruang dialog yang aman. Pedagogi multikultural, pada dasarnya, bertujuan menciptakan lingkungan pembelajaran yang menghargai keragaman budaya dan keyakinan, serta membuka peluang bagi interaksi antarmazhab secara konstruktif. Dalam ruang seperti inilah, nilai tawasuth berperan sebagai jembatan memfasilitasi pemahaman lintas perbedaan, membentuk empati, dan mencegah tumbuhnya sikap eksklusif atau ekstrem. 31 Proses ini mendorong terciptanya suasana belajar yang inklusif, di mana setiap santri merasa dihargai, didengar, dan diberdayakan untuk berpikir secara moderat dalam kehidupan keagamaannya. Namun demikian, implementasi tawasuth di pesantren ini juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah kecenderungan simbolisme, di mana sebagian santri masih memahami nilai ini sebatas jargon tanpa menginternalisasikannya sebagai gaya hidup. Selain itu, ketergantungan pada figur Kyai sebagai motor utama moderasi menyebabkan keberlanjutan nilai ini rentan apabila terjadi pergantian 34 Tak kalah penting, keterbatasan sistem evaluasi juga menjadi kendala dalam mengukur keberhasilan internalisasi nilai tawasuth secara objektif dan sistematis. Dkk Rohmatul Faizah. AoThe Role of Universities in Guarding Moderation and Nationality: The Role of The UPN AuVeteranAy Jawa Timur Academic Community in Caring for Religious Moderation and NationalismAo, in Nusantara Science and Technology Proceedings (Galaxy Science, 2. , accessed doi:10. 11594/nstp. Alwi Hasan. Mispani Mispani, and Siti Roudhotul Jannah. AoImplementation of Multicultural Education in an Effort to Develop the Tasamuh Attitude of Santri at Islamic Boarding Schools in Central Lampung RegencyAo. International Journal on Advanced Science. Education, and Religion 5, no. August 2. : 88Ae103, accessed doi:10. 33648/ijoaser. Rohmadi. Duski Ibrahim, and Munir. AoModel of Internalization of Religious Moderation ValuesAU in Salafiyah Boarding SchoolsAo. Al-Hayat: Journal of Islamic Education 8, no. September 2. : 950Ae65, accessed doi:10. 35723/ajie. Mustari Bosra and Umiarso Umiarso. AoImplementation Of Religious Moderation Education For Santri At The Miftahul Ulum Suren Islamic Boarding School Kalisat Jember East JavaAo. AlQalam 27, no. July 2. : 95, accessed doi:10. 31969/alq. Bambang Triyono and Elis Mediawati. AoTransformasi Nilai-Nilai Islam Melalui Pendidikan Pesantren : Implementasi Dalam Pembentukan Karakter SantriAo. Journal of International Multidisciplinary Research 1, no. November 2. : 147Ae58, accessed doi:10. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj Meskipun dalam implementasinya dihadapkan pada sejumlah tantangan, pendekatan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang menunjukkan bahwa nilai tawasuth dapat dikontekstualisasikan secara efektif ke dalam sistem pendidikan Islam berbasis pesantren. Melalui pemaduan antara pengenalan pluralitas mazhab, metode pengajaran yang dialogis, dan interaksi sosial yang inklusif, pesantren ini telah membuktikan bahwa nilainilai moderasi Islam dapat dihidupkan secara nyata dalam kehidupan seharihari santri. Hal ini menjadikan model pendidikan yang dikembangkan relevan secara lokal, sekaligus berpotensi untuk direplikasi oleh pesantren lain dalam rangka membangun budaya keberagamaan yang lebih terbuka, toleran, dan reflektif. Secara keseluruhan, nilai tawasuth dalam bingkai Khittah NU 1926 telah diimplementasikan secara menyeluruh di lingkungan Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang. Kurikulum yang inklusif, metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif, serta lingkungan sosial yang terbuka terhadap keberagaman menjadikan pesantren ini sebagai ruang belajar yang mengajarkan ilmu sekaligus menanamkan etika perbedaan. Santri dibentuk menjadi pribadi yang inklusif, kritis, dan adaptif mampu berdiri teguh pada prinsip keislaman tanpa kehilangan kelenturan dalam merespons keragaman dan dinamika zaman. Dengan pendekatan yang menggabungkan pengalaman langsung, keteladanan figur kyai, serta interaksi lintas identitas, nilai moderasi Islam tidak lagi sekadar menjadi wacana normatif, tetapi telah bertransformasi menjadi praktik hidup yang membumi dan kontekstual. Tasamuh . Nilai tasamuh atau toleransi merupakan elemen krusial dalam membangun fondasi keberagamaan yang damai, inklusif, dan berbasis pada penghargaan terhadap perbedaan. Dalam konteks Khittah NU 1926, tasamuh dipahami bukan sekadar sebagai sikap pasif menerima perbedaan, melainkan sebagai prinsip aktif yang mewujud dalam interaksi sosial, dialog antarmazhab, dan penghormatan terhadap realitas sosial-keagamaan yang 36 Toleransi dalam Islam bukanlah bentuk kompromi terhadap Tejo Waskito. AoGenealogi Revolusi Paradigma Pemikiran Keislaman Nahdlatul UlamaAo. AlAAoraf : Jurnal Pemikiran Islam Dan Filsafat 15, no. December 2. : 201, accessed doi:10. 22515/ajpif. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . kebenaran, tetapi pengakuan terhadap hak orang lain untuk berbeda. Dalam kerangka pendidikan multikultural, tasamuh menjadi prasyarat utama terbentuknya masyarakat majemuk yang adil dan harmonis 38. Di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang, nilai tasamuh bukan hanya sekadar diajarkan secara konseptual, namun juga dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari warga pesantren. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa nilai ini diinternalisasi melalui sejumlah pendekatan strategis yang menyentuh aspek pembelajaran, pola asuh, dan budaya Pembentukan habitus sosial berbasis etika inklusif menjadi elemen penting dalam mendorong sikap toleran antarwarga Pesantren Nuhiyah Pambusuang. Santri dari berbagai latar belakang baik dari NU. Muhammadiyah, maupun Wahdah Islamiyah dapat hidup berdampingan secara damai tanpa dominasi ideologis dari satu kelompok tertentu. Interaksi yang dibangun sehari-hari mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman. Pembinaan nilai toleransi dalam program pembelajaran di Pesantren Nuhiyah Pambusuang dilakukan melalui kajian kitab-kitab . iterasi Kitab-kitab yang dipelajari bukan hanya berorientasi syariah, akan tetapi memadukan dengan kitab-kitab yang bernuansa sufistik. Kitab-kitab yang bernuansa sufistik tersebut pada dasarnya menanamkan tentang cinta, penghargaan terhadap sesama, dan menghargai perbedaan. Kitab-kitab ini membahas secara mendalam prinsip-prinsip etika dalam pergaulan, termasuk pentingnya bersikap baik kepada sesama, menghormati pemeluk agama lain, serta menjunjung tinggi sopan santun terhadap guru, orang tua, dan sesama teman. Melalui proses pembelajaran ini, santri dibimbing untuk menginternalisasi ajaran tentang kebaikan universal, khususnya dalam interaksi antarmanusia . ablun minanna. Sehingga nilai toleransi dipahami secara teoritis dan terefleksi dalam perilaku sehari-hari. Pendekatan literasi kitab diperkuat melalui literasi ketokohan, yaitu strategi pendidikan yang memperkenalkan santri kepada figur-figur Moh. Quraish Shihab. AoTafsir Al-Mishbah Volume 15Ao (Jakarta: Lentera Hati, 2. Muhammad Fahmi. Masdar Hilmy, and Senata Adi Prasetia. AoOrganic Tolerance and Harmony in the Pesantren Bali Bina InsaniAo. Ulumuna 26, no. January 2. : 500Ae524, accessed doi:10. 20414/ujis. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj otoritatif dalam tradisi Islam yang kredibel secara keilmuan dan relevan secara kultural. Pendekatan ini berfungsi tidak hanya untuk memperkuat otoritas keilmuan, tetapi juga membekali santri dengan kemampuan menyeleksi pemikiran keagamaan di tengah maraknya informasi digital yang seringkali tidak terverifikasi. Literasi ketokohan semacam ini memperkuat literasi kitab klasik, sekaligus menjadi filter terhadap penyebaran pandangan keagamaan yang ekstrem. Temuan ini mengafirmasi bahwa toleransi yang diajarkan di Pesantren Nuhiyah tidak hanya bersifat teologis, tetapi telah menjelma menjadi habitus sosial yang hidup dalam keseharian santri dan komunitas pesantren. Toleransi tersebut tidak semata sebagai norma normatif, melainkan telah membentuk kesadaran kolektif yang mengakar dalam interaksi sosial, sebagaimana dijelaskan dalam teori recognition bahwa penghargaan terhadap identitas lain merupakan bentuk keadilan dan menjadi prasyarat etis dalam masyarakat 39 Praktik tasamuh ini juga mencerminkan prinsip overlapping consensus sebagaimana dikemukakan John Rawls, yaitu kesepakatan atas nilai-nilai dasar bersama tanpa harus menanggalkan identitas keyakinan masing-masing. Dalam praktip Pesantren Nuhiyah, prinsip tersebut terimplementasi melalui kebijakan terbuka yang mengakomodasi keberagaman afiliasi mazhab dan latar belakang sosial, tanpa kehilangan jati diri ke-NU-annya. Oleh karena itu, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai ruang religius, sekaligus arena sosial tempat nilai-nilai Islam tradisional berdialog dengan prinsipprinsip multikulturalisme global, menunjukkan kapasitas adaptif yang tinggi dalam menjawab tantangan zaman sekaligus meneguhkan pesantren sebagai model pendidikan Islam yang inklusif dan transformatif. 41 Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang menekankan bahwa pesantren berbasis NU cenderung mengembangkan toleransi melalui habituasi sosial Charles Taylor. No TitleMulticulturalism: Examining The Politics of Recognition (New Jersey: Princeton University Press, 1. Dennis F. Thompson. AoJohn Rawls. Political LiberalismAo, in The Oxford Handbook of Classics in Contemporary Political Theory (Oxford University Press, 2. , accessed doi:10. oxfordhb/9780198717133. Muhammad Edy Thoyib et al. AoReligious Tolerance among Indonesian Islamic University Students: The Pesantren ConnectionAo. Journal of Al-Tamaddun 19, no. December 2. 239Ae50, accessed doi:10. 22452/JAT. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . dan keteladanan moral, bukan sekadar instruksi kognitif. Namun demikian, sejumlah tantangan tetap muncul dalam menginternalisasikan nilai tasamuh secara menyeluruh. Di antaranya adalah bias afiliasi yang masih muncul dalam interaksi sosial tertentu, di mana preferensi terhadap kelompok asal kadang memengaruhi pola komunikasi. Selain itu, kesadaran normatif santri terhadap toleransi belum sepenuhnya menjadi kesadaran praksis, terutama dalam tindakan spontan sehari-hari. Kelemahan lainnya adalah minimnya dokumentasi dan evaluasi sistematik atas kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, sehingga berpotensi kehilangan peluang untuk penguatan program. Kendati demikian, kekuatan utama dari pendekatan tasamuh di pesantren ini terletak pada keberaniannya untuk menjadikan perbedaan sebagai sumber belajar dan kekuatan kolektif, bukan sebagai sumber pertentangan. Prinsip toleransi yang dihidupkan di Pesantren Nuhiyah menjadi bukti bahwa pesantren tradisional pun dapat bertransformasi menjadi ruang sosial yang menyuburkan inklusi, kohesi, dan empati lintas batas identitas. Tawazun (Keseimbanga. Nilai tawazun atau keseimbangan merupakan landasan penting dalam Khittah NU 1926 yang menekankan perlunya harmonisasi antara aspek agama dan dunia, tradisi dan modernitas, spiritualitas dan rasionalitas. Dalam praktik pendidikan Islam, nilai ini mencerminkan pendekatan integral terhadap kehidupan dan ilmu pengetahuan untuk membentuk pribadi Muslim yang utuh. 46 Dengan demikian, tawazun dalam konteks Badarussyamsi. Ermawati, and Abdul Latif. AoCultivation of Ethical Tolerance as a Moderate Islamic Education Paradigm at Islamic Boarding Schools in IndonesiaAo, 2021, accessed doi:10. 2991/assehr. MunAoim Sirry et al. AoTeachersAo Perspectives on Tolerance Education in Indonesian High SchoolsAo. British Journal of Religious Education 46, no. October 2. : 505Ae19, accessed doi:10. 1080/01416200. Sri Suyanta. Saifuddin Saifuddin, and Syamsul Bahri. AoTolerance Development Model for Students of Dayah Salafiyah in AcehAo. Jurnal Ilmiah Peuradeun 12, no. May 2. : 809, accessed doi:10. 26811/peuradeun. Kusuma Anggara. Erna Yuliandari, and Moh Muchtarom. AoPenguatan Nilai Toleransi Mahasiswa Melalui Kegiatan Modul Nusantara Program Pertukaran Mahasiswa MerdekaAo. Journal of Civic Education 6, no. May 2. : 21Ae27, accessed doi:10. 24036/jce. Mustafa Tekke et al. AoMuslim Religious Openness and IlmAo. Archive for the Psychology of Religion 37, no. December 2. : 295Ae320, accessed doi:10. 1163/15736121-12341313. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj pesantren berfungsi sebagai nilai normatif, sekaligus prinsip praktis yang menjembatani antara realitas lokal dan tantangan global. Di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang, nilai tawazun telah dioperasionalkan melalui kombinasi antara struktur kurikulum, pendekatan budaya, serta pola kepemimpinan yang kontekstual. Observasi dan wawancara menunjukkan bahwa prinsip keseimbangan ini hadir secara nyata dalam kehidupan pesantren. Melalui integrasi kurikulum klasik dan kontemporer, pesantren ini menyatukan kajian kitab-kitab kuning . afaqquh fi al-di. dengan pelajaran ilmu umum dan keterampilan hidup seperti teknologi informasi, kewirausahaan, dan ilmu sosial. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pondasi keagamaan santri, tetapi juga mempersiapkan mereka secara adaptif menghadapi dinamika zaman. Menurut penelitian Hamami dan Nuryana, hal ini penting agar santri tidak hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga memiliki keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial dalam pendidikan. Nilai tawazun tampak jelas dalam penerimaan dan pelestarian budaya lokal, terutama dalam tradisi Mandar seperti Sayyang Pattuqduq. Tradisi ini tidak ditolak, tetapi dimaknai ulang sebagai bagian dari syiar Islam dan ekspresi syukur kolektif. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren bersikap selektif dan kritis terhadap budaya, sehingga tidak terjebak dalam purifikasi budaya yang rigid, namun juga tidak larut dalam sinkretisme yang tidak proporsional. Pendekatan ini relevan dengan gagasan Islam Nusantara yang memandang budaya lokal sebagai AuoksigenAy bagi keberagamaan, yaitu unsur vital yang memungkinkan Islam bernafas dalam sosial masyarakat. Melalui prinsip al-Aourf al-shalih tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam disaring, dihormati, dan dijadikan medium dakwah, sehingga Islam mampu berdialog secara positif dengan budaya sekitar. Pendekatan ini melahirkan corak keberagamaan yang moderat, kontekstual, dan berakar dalam realitas Tasman Hamami and Zalik Nuryana. AoA HolisticAeIntegrative Approach of the Muhammadiyah Education System in IndonesiaAo. HTS Teologiese Studies / Theological Studies 78, no. December 2. , accessed doi:10. 4102/hts. Mujamil Qomar. AoIslam Nusantara: An Approach To Practice IslamAo. Epistemy: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 14, no. June 2. , accessed doi:10. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . Keteladanan kepemimpinan Kyai menjadi salah satu elemen penting dalam internalisasi nilai tawazun. Kyai Bisri, sebagai figur sentral, menunjukkan keseimbangan dalam berpikir dan bertindak teguh dalam prinsip namun fleksibel dalam strategi. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya menjadi Muslim yang mutawassit . , mutawazin . , dan muAotasib . , tanpa kehilangan daya lentur untuk berdialog dengan realitas kontemporer. Analisis teoritis terhadap temuan ini menunjukkan bahwa prinsip tawazun dapat dipahami sebagai penerapan nyata dari pendekatan maqasid al-shariah, terutama dalam dimensi tahqiq al-masalih . ewujudkan kemaslahata. yang mempertimbangkan keseimbangan antara dimensi lahir dan batin, individu dan komunitas, serta masa kini dan masa depan. 49 Dalam konteks pedagogi multikultural, pendekatan ini juga mencerminkan prinsip responsive multicultural education yang berupaya membangun koneksi antara identitas lokal dan tuntutan global. Namun, seperti halnya nilai-nilai lain, implementasi tawazun juga menghadapi tantangan. Secara struktural, integrasi ilmu umum masih terbatas oleh kurangnya sumber daya manusia dan sarana yang memadai. Dalam praktik, terdapat kecenderungan beberapa guru dan santri untuk lebih menekankan salah satu aspek . radisi atau modernita. secara ekstrem. Selain itu, ketergantungan pada figur Kyai sebagai poros utama nilai keseimbangan membuat internalisasi nilai ini belum sepenuhnya terinstitusionalisasi. Kendati demikian, kekuatan utama dari penerapan tawazun di pesantren ini adalah kemampuannya untuk menghadirkan pendidikan Islam yang relevan, kontekstual, dan membumi. Santri dilatih untuk menjadi pribadi yang paham teks keagamaan dan tangguh dalam merespons isu-isu sosial, budaya, serta teknologi yang terus berkembang. Amar maAoruf nahi munkar Nilai amar maAoruf nahi munkar merupakan prinsip moral Islam yang menekankan kewajiban kolektif untuk mengajak pada kebaikan dan Mohammad Hashim Kamali. Maqasid Al-Shariah Made Simple (International Institute of Islamic Thought, 2. , accessed doi:10. 2307/j. J A Banks and C. Banks. Multicultural Education: Issues and Perspectives (New York: Wiley, 2. , accessed https://books. id/books?id=ceGyDwAAQBAJ. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj mencegah kemungkaran. 51 Dalam Khittah NU 1926, nilai ini ditafsirkan secara kontekstual sebagai bentuk tanggung jawab sosial umat Islam untuk menegakkan nilai-nilai etis dalam kehidupan publik dengan cara yang bijaksana, damai, dan berorientasi pada kemaslahatan. 52 QS. Ali Imran:104 menjadi landasan spiritual dari nilai ini, yang menekankan bahwa sebaikbaik umat adalah mereka yang menyeru kepada kebajikan secara hikmah. Dalam kerangka pendidikan multikultural, amar maAoruf nahi munkar tidak dimaknai secara represif, melainkan sebagai bentuk partisipasi etis yang mendukung kohesi sosial. Di Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang, nilai ini telah diterjemahkan menjadi strategi pendidikan dan praksis sosial yang menjadikan santri sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Berdasarkan observasi dan wawancara, penerapan nilai ini tampak dalam tiga aspek utama. Melalui program pengabdian masyarakat dan dakwah kultural, para santri didorong untuk terlibat langsung dalam kehidupan sosial Kegiatan seperti gotong royong, ceramah kepada santri di kampung halaman mereka masing-masing setiap bulan ramadan. Pesantren menanamkan kesadaran bahwa berdakwah bukan hanya menyampaikan ajaran agama secara verbal, melainkan menyentuh kehidupan nyata dengan sikap solutif dan empatik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pesantren memiliki pendekatan yang terpadu ketika menerapkan kurikulum pengabdian masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan lokal dan kebermanfaatan Melalui kurikulum dan pelatihan kader dakwah. Materi ajar dan pelatihan difokuskan pada pengembangan kemampuan santri dalam menyampaikan pesan Islam dengan retorika yang bijaksana, berbasis data, dan relevan dengan kondisi sosial. Kurikulum akhlak dan fikih sosial Ibnu MasAoud. The Miracle of Amar MaAoruf Nahi Mungkar (Yogyakarta: Laksana, 2. Badarussyamsi Badarussyamsi. Mohammad Ridwan, and Nur Aiman. AoAmar MaAoRuf Nahi Munkar: Sebuah Kajian OntologisAo. TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin 19, no. August 2. : 270Ae96, accessed doi:10. 30631/tjd. Chusnul Azhar and Cahyo Budiyantoro. AoPengembangan Manajemen Kurikulum Pendidikan Kader Di Pondok Pesantren Asy-SyifaAo Muhammadiyah BantulAo. Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat, 21 March 2021, accessed doi:10. 18196/ppm. Muh Barid Nizarudin Wajdi. AoPesantren and The Pesantren Law In The Era of Globalisation and Industrial Revolution 4. 0: Opportunities. Challenges, and StrategiesAo. Inovasi-Jurnal Diklat Keagamaan 18, no. June 2. : 13Ae25, accessed doi:10. 52048/inovasi. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . disusun untuk memperkuat kemampuan santri dalam membedakan antara prinsip dan strategi dakwah, antara prinsip amar maAoruf dan realitas sosial yang menuntut kearifan lokal. Penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum yang matang, termasuk pelatihan pengembangan kemampuan berbicara di depan umum, sangat penting bagi efektivitas dakwah yang dilaksanakan oleh santri, sehingga mereka dapat menyampaikan pesan Islam dengan bijaksana dan adaptif terhadap konteks sosial yang beragam. Keteladanan dari para Kyai dan guru menjadi kunci dalam proses internalisasi nilai ini. Kyai Bisri, dalam setiap ceramahnya, menegaskan bahwa amar maAoruf nahi munkar bukan ajakan untuk memusuhi, tetapi panggilan untuk membimbing dengan kasih dan kejelasan moral. Pendekatan ini menekankan pentingnya hikmah dan mauAoizhah hasanah serta menolak pendekatan koersif dalam berdakwah. Dalam tinjauan ontologis, praktik ini menciptakan suatu bentuk dakwah yang berfokus pada aspek normatif dan melibatkan dimensi etis dalam interaksi sosial. Praktik amar maAoruf nahi munkar di pesantren Nuhiyah menunjukkan pendekatan yang menjauh dari konfrontasi koersif dan lebih menekankan etika sosial yang inklusif serta kontekstual. Menurut Ramadan dakwah dalam masyarakat plural harus berlandaskan hikmah, partisipasi sosial, dan penghormatan terhadap keragaman, sehingga dakwah yang efektif adalah yang membangun kesadaran bersama melalui keterlibatan aktif, bukan pemaksaan moral atau dominasi wacana. 56 Dengan mengadopsi pendekatan komprehensif yang teoritis dan praktis dalam proses dakwah serta interaksi sosial, pesantren ini berhasil membentuk santri yang menguasai aspek keagamaan sekaligus mampu berkontribusi secara nyata dalam kehidupan Hal ini mengambarkan pentingnya adaptasi nilai-nilai Islam dalam tindakan sehari-hari sebagai bentuk aktualisasi dakwah yang responsif Yusuf Hartawan and Zahrah Nabila Azka. AoPeningkatan Kapasitas Kemampuan Dakwah Santri/ Santriwati Melalui Kegiatan Public Speaking Di Pesantren Darul Quran Cimalaka Kabupaten SumedangAo. Jurnal Pengabdian Dharma Laksana 5, no. January 2. : 399, accessed doi:10. 32493/j. Abdul Badie Hidayatul Insani and Wido Supraha. AoKurikulum Pelatihan Dakwah Dalam Membentuk Dai Yang Hikmah Di Sma Boarding SchoolAo. Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam 16, no. May 2. : 67Ae78, accessed doi:10. 32832/tawazun. Badarussyamsi. Ridwan, and Aiman. AoAmar MaAoRuf Nahi Munkar: Sebuah Kajian OntologisAo. Tariq Ramadan. Western Muslims and the Future of Islam (Oxford University Press, 2. , accessed doi:10. 1093/acprof:oso/9780195183566. Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj terhadap dinamika sosial dan budaya, sehingga pesantren Nuhiyah tampil sebagai contoh implementasi dakwah Islam yang berorientasi pada etika publik dan dialog antarbudaya. Namun, terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi nilai ini. Pertama, masih ada kecenderungan sebagian santri terutama yang baru untuk memahami nilai ini secara formalistik dan reaktif, tanpa mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas. 58 Kedua, minimnya evaluasi sistematis atas dampak kegiatan sosial santri menyulitkan pesantren dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. 59 Ketiga, potensi dakwah digital sebagai sarana amar maAoruf nahi munkar belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal media digital sangat potensial menjangkau generasi muda dan masyarakat luas. Kendati demikian, kekuatan utama dari pendekatan amar maAoruf nahi munkar di Pesantren Nuhiyah terletak pada konsistensinya untuk menyelaraskan nilai ini dengan pendekatan edukatif dan kultural. Pesantren telah berhasil merumuskan amar maAoruf nahi munkar bukan sebagai gerakan verbalistik atau konfrontatif, tetapi sebagai praksis sosial yang inklusif, santun, dan membumi. Berdasarkan temuan-temuan lapangan yang telah dipaparkan, dapat dirumuskan suatu model konseptual pendidikan multikultural berbasis Khittah NU 1926 yang merepresentasikan integrasi antara nilai, praksis, dan tujuan transformasional. Empat nilai utama tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , dan amar maAoruf nahi munkar . ktivisme eti. tidak berjalan secara parsial, melainkan terjalin secara sinergis dalam keseluruhan sistem pendidikan pesantren. Model ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Khittah NU berfungsi sebagai pondasi filosofis dan etis, yang kemudian dioperasionalisasikan Mutiara Nurul Rahmadiani. AoImplementasi Program Ekopesantren Di Pondok Pesantren Madinatunnajah. CilimusAo. Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer 8, no. December 2. , accessed doi:10. 47313/jkik. Sulton et al. AoOpportunities for Political DaAowah in Muhammadiyah Associations in RegionAo, 2023, 994Ae97, accessed doi:10. 2991/978-2-494069-49-7_166. Karim Syeikh. AoNilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Tawassul Di Pondok Pesantren Kec Binuang Kab Polewali MandarAo. Al-Idarah: Jurnal Manajemen Dan Administrasi Islam 2, 2 . February 2. : 1, accessed doi:10. 22373/al-idarah. Muh. Aswad et al. AoPenanaman Pemahaman Literasi Dakwah Di Era Milenial Melalui Digital Pada Mahasiswa Kpi Universitas Muslim IndonesiaAo. Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi IPTEKS 2, no. August 2. : 1141Ae48, accessed doi:10. 59407/jpki2. An-Nuha Vol. No. 1 Juli 2025 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KHITTAH NU 1926 . melalui struktur pendidikan di lingkungan pesantren, baik dalam bentuk kurikulum, metode pembelajaran, keteladanan kyai, maupun budaya sosial-santri. Integrasi ini menciptakan pola pembelajaran yang inklusif dan kontekstual, sekaligus mengarahkan santri menjadi agen transformasi sosial yang mampu merespons tantangan pluralitas dan disrupsi zaman dengan prinsip Islam moderat yang membumi. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Khittah Nahdlatul Ulama 1926 dapat menjadi dasar filosofis dan praktis dalam mengembangkan model pendidikan multikultural berbasis pesantren yang kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Dengan menekankan prinsip-prinsip tawasuth . , tasamuh . , tawazun . , dan amar maAoruf nahi munkar, penelitian ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi keislaman klasik, tetapi juga sebagai agen strategis dalam membentuk generasi Muslim yang tangguh dan terbuka terhadap realitas sosial yang plural dan kompleks. Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai moderasi Islam dapat diinternalisasi dalam berbagai aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, pola hubungan sosial, gaya kepemimpinan, hingga keterlibatan santri dalam kehidupan masyarakat. Hasil lapangan memperlihatkan bahwa proses pembentukan sikap keberagamaan yang moderat di kalangan santri berlangsung secara bertahap dan dinamis. Proses ini melibatkan pengajaran yang menghargai keragaman mazhab, metode pembelajaran yang dialogis, keteladanan dari para kyai, serta interaksi sosial yang inklusif di lingkungan pesantren. Jika dirumuskan secara konseptual, proses tersebut mencerminkan model pendidikan Islam berbasis Khittah NU yang menyatukan tiga unsur utama: transformasi isi ajar, pendekatan yang integratif, dan penerapan yang sesuai dengan konteks. Penelitian ini juga memberikan kontribusi teoritis dalam studi pendidikan Islam dengan menawarkan konsep bagaimana prinsip-prinsip klasik keagamaan, seperti Khittah NU, dapat dikembangkan menjadi landasan pedagogis yang selaras dengan nilai pluralisme, etika sosial, dan kewargaan Dalam konteks ini, pesantren tidak hanya mentransmisikan ajaran, tetapi membentuk nalar kritis dan kepekaan sosial santri, sekaligus menawarkan arah baru bagi konstruksi Islam Nusantara yang memadukan Vol. No. 1 Juli 2025 An-Nuha MiAoraj antara nilai tradisional dan semangat zaman. DAFTAR PUSTAKA