Rekayasa Hijau: Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan ISSN . : 2579-4264 | DOI: https://doi. org/10. 26760/jrh. V8i2. Volume 8 | Nomor 2 Juli 2024 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang Putri Rahayu1. Yulisa Fitrianingsih1. Aini Sulastri1 Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura Kota Pontianak. Indonesia Email: putrirahayupr599@gmail. Received 4 Apil 2024 | Revised 10 April 2024 | Accepted 20 April 2024 ABSTRAK Sampah padat di Kota Pontianak menunjukkan bahwa 70% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali untuk kerajinan dan kompos. TPST Edelweiss yang beroperasi di Kecamatan Pontianak Selatan menerima sampah organiknya dari Pasar Pagi sebanyak A 1000 Kg/hari yang tidak hanya sampah sayur saja melainkan ada sampah buah dan sampah jeroan. Sampah jeroan mudah busuk dan menimbulkan bau tidak sedap. Sedangkan sampah bonggol pisang banyak ditemukan dan jarang dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Maka dari itu dilakukan penelitian yang memanfaatkan sampah jeroan ikan dan bonggol pisang dalam pembuatan kompos sebagai solusi masalah persampahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh penggunaan aktivator EM4, variasi aktivator MOL jeroan ikan, variasi MOL bonggol pisang, dan kualitas kompos yang dihasilkan berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 261 Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode pengomposan open windrow dan dilakukan secara duplo pada setiap variasi penggunaan aktivatornya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan urutan hasil pengomposan yang paling baik adalah pada variasi aktivator EM4 MOL Jeroan Ikan dengan kadar NPK 7,89, kemudian EM4 Bonggol Pisang dengan kadar NPK 7,33, kemudian Em4 dengan kadar NPK 7,19 dan terakhir kontrol dengan kadar NPK 7,16. Apabila dibandingkan dengan baku mutu menurut Keputusan Menteri Nomor 261 Tahun 2019 hampir semua parameter sudah memenuhi persyaratan. Namun, beberapa lainnya seperti Kelembapan dan tekstur kompos masih berada dibawah nilai baku mutu. Kata kunci: EM4. Mol Bonggol Pisang. Mol Jeroan Ikan. Kompos ABSTRACT Solid waste in Pontianak City shows that 70% is organic waste, and it is estimated that 78% of this waste can be reused for crafts and compost. The Edelweiss TPST, which operates in South Pontianak District, receives A 1,000 kg of organic waste from the Morning Market, which is not only vegetable waste, but also fruit and offal waste. Offal waste rots easily and gives off an unpleasant odor, while banana weevil waste is common and is rarely reused by the community. Therefore, research was carried out using fish offal waste and banana weevils in composting as a solution to the waste problem. The purpose of this study was to analyze the effect of using EM4 activators, variations in fish offal MOL activators, variations in banana weevils MOL, and the quality of the compost produced based on Ministerial Decree No. 261 of 2019. This study used the open windrow composting method and was carried out in duplicate for each variation of use. the activator. Based on research that has been done, the best sequence of composting results is the variation of activator EM4 MOL Fish Offal with an NPK level of 7. 89, then EM4 Banana Weevil with an NPK level of 7. 33, then Em4 with an NPK level of 7. 19 and finally control with NPK levels of 7. When compared with the quality standards according to Ministerial Decree Number 261 of 2019, almost all parameters have met the However, some others, such as humidity and compost texture, are still below the quality Keywords: Cost. Maintenance. Operational System. Re-design, and Settling Tank. Keywords: EM4. MOL Banana Weevil. MOL Fish Innards. Compost Rekayasa Hijau Ae 119 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang PENDAHULUAN Sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan. Menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2021 mengenai sampah padat di Pontianak menunjukkan bahwa 70% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali untuk kerajinan dan kompos (Outerbridge, 1991 dalam Sulistyorini, 2. Kompos adalah hasil penguraian bahan-bahan organik yang dapat dipercepat oleh mikroba maupun biota tanah Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa agar hasil pengomposan dapat berjalan lebih Teknologi pengomposan ini dinilai penting untuk mengatasi permasalahan limbah padat terutama di kota-kota besar (Herlina, 2. Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitasnya akan menyebabkan peningkatan timbulan sampah dan akan mengakibatkan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin berkurang. Kota Pontianak telah melakukan upaya pengelolaan sampah terpadu melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Edelweiss yang beroperasi di Kecamatan Pontianak Selatan. TPST Edelweis ini menerima sampah dari Pasar Pagi . rganik dan anorgani. sebanyak A 1000 Kg/hari. Pupuk kompos yang dapat dihasilkan dalam satu bulan A 1500 Kg/bulan. Pembuatan kompos di TPST Edelweiss selama 40-50 hari (TPST Edelweiss, 2. Sampah pasar pagi tidak hanya sampah sayur saja melainkan ada sampah buah dan sampah jeroan. Sampah jeroan merupakan sampah yang mudah busuk dan menimbulkan bau tidak sedap yang dapat mengganggu indra penciuman. Sampah dari bonggol pisang sangat jarang pula dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Maka dari itu berdasarkan uraian diatas diperlukan penelitian yang memanfaatkan sampah jeroan ikan dan bonggol pisang dalam pembuatan kompos sebagai solusi masalah persampahan. Penelitian ini memanfaatkan sampah jeroan ikan dan bonggol pisang sebagai activator Mikro Organisme Lokal (MOL) dalam pembuatan kompos. Sehingga penelitian ini akan menggunakan EM4. MOL bonggol pisang, dan MOL jeroan ikan sebagai aktivator dengan menggunakan metode pengomposan open windrow sama dengan metode yang dilakukan di TPST Edelweiss. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan alternatif di TPST Edelweiss untuk mempercepat waktu pengomposan. METODOLOGI 1 Lokasi dan Waktu Penelitian 1 Lokasi penelitian dibagi menjadi tiga yaitu : Lokasi Pengambilan Sampah Lokasi pengambilan sampah ini di TPST Edelweiss Kota Pontianak di Jalan Purnama II. Kelurahan Pontianak Selatan. Kota Pontianak. Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi Pembuatan Kompos Penelitian ini dilakukan di Workshop Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik. Universitas Tanjungpura yang merupakan tempat pembuatan kompos. Lokasi Pengujian Kompos Pengujian kompos dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura. 2 Waktu Penelitian Waktu penelitian ini akan dilakukan selama 30 hari. Rekayasa Hijau Ae 120 Rahayu, dkk. 2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin pencacah, bak pengomposan, soil meter, blender, paku, gergaji, talang air, jerigen, botol air mineral 1500ml, dan ember. Bahan yang digunakan adalah sampah organik dari pasar seperti, papan kayu, jeroan ikan, bonggol pisang, sampah pasar pagi. EM4, air galon, gula pasir, gula merah. 3 Analisis Data Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu open windrow yaitu proses pembuatan kompos dengan cara ditumpuk, lubang untuk aerasi, dan pengadukan secara berkala. Adapun sampah organiknya dari Pasar Pagi sebanyak A 1000 Kg/hari, antara lain sampah buah . onggol pisan. dan sampah jeroan ikan. Variasi yang digunakan yaitu EM4 MOL bonggol pisang. EM4 jeroan ikan. Analisis yang dilakukan pada kompos untuk menggambarkan kualitas fisik yaitu berupa warna, bau, dan tekstur. Pengamatan parameter suhu, pH dan kelembaban dibuat grafik dan dibandingkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 216 Tahun 2019 Tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik. Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah. 4 Prosedur Penelitian Bak Pengomposan Bak pengomposan berbentuk balok yang terdiri dari panjang 1 m, lebar 0,6 m dan tinggi 0,6 m (Sekarsari,2. Jumlah bak yang digunakan 8 bak. Gambar 1 Denah Bak Kompos Rekayasa Hijau Ae 121 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang Gambar 2 Bak Kompos Potongan Persiapan Larutan EM4 Larutan EM4 sebanyak 30ml ditambahkan gula merah sebanyak 30gr. Kemudian larutan EM4 tersebut diencerkan dengan air hingga volume 1500ml. setelah itu disimpan selam 24 jam (Khoerudin,2. Pembuatan Larutan Mikroorganisme Lokal (MOL) Jeroan Ikan Pembuatan larutan MOL jeroan ikan berupa isi perut dan insang ikan di blender sebanyak 1kg berat basah sampai halus. Lalu jeroan yang sudah halus dimasukkan kedalam botol air mineral 1,5L kemudian ditambahkan air galon. selanjutnya larutkan 5 sendok makan gula pasir kedalam air sebanyak 125ml aduk hingga larut sempurna. Tambakan larutan gula tersebut . kedalam botol yang berisi jeroan ikan. Kemudian tambahkan air galon hingga terisi A dari kapasita botol Kocok botol tersebut hingga jeroan ikan dan air bercampur. Diamkan selama 8 hari MOL tersebut sudah bisa digunakan ditandai dengan bau asli jeroan sudah berkurang (Raden dan Fadli. Pembuatan Larutan Mikroorganisme Lokal (MOL) bonggol pisang Pembuatan larutan MOL bonggol pisang 2kg bonggol pisang yang sudah dihaluskan dicampur dengan 100gr gula merah yang sudah dicairkan dengan 10ml air galon . ebagai pengura. dan 2 liter air cucian beras, aduk hingga rata dan gula larut. Campuran tersebut dimasukkan kedalam jerigen dan ditutup, kemudian didiamkan selama 10 hari (Zairinayati, 2. Pembuatan Kompos Proses pengomposan dilakukan dengan menggunakan 2 bak yang terdiri dari 4 reaktor di setiap Reaktor pertama dan kedua merupakan pengomposan tanpa aktivator (K. Reaktor Ketiga dan Keempat menggunakan EM4. Reaktor Kelima dan Keenam merupakan pengomposan menggunakan activator EM4 dan MOL jeoran ikan 1:1. Reaktor Ketujuh dan Kedelapan merupakan pengomposan menggunakan activator EM4 dan MOL bonggol pisang 1:2. Sampah dari Pasar Pagi dipilah, lalu dicacah menggunakan mesin pencacah. Sampah yang sudah dicacah dimasukkan kesetiap baknya 20kg. Penggunaan sampah 20kg didasarkan oleh sampah organik yang telah dihasilkan dan telah dipisahkan anorganiknya. Setelah itu sampah organiknya dicacah oleh TPST Edelweis dan didapatkan sebesar 160kg, kemudian hasilnya dibagi untuk delapan Rekayasa Hijau Ae 122 Rahayu, dkk. reaktor sehingga didapatkan 20kg setiap reaktornya. Adapun pembagian pembuatan kompos tersebut, yaitu : K1 (Kontrol Pengulangan . tanpa EM4. K2 (Kontrol Pengulangan . tanpa EM4. K3 (EM. = EM4 1,2L K4 (EM. = EM4 1,2L K5 (EM4 dan MOL jeroan ikan 1:1 pengulangan . = 1,2L larutan EM4 1,2L MOL jeroan ikan 20kg Sampah Pasar Pagi. K6 (EM4 dan MOL jeroan ikan 1:1 pengulangan . = 1,2L larutan EM4 1,2L MOL jeroan ikan 20kg Sampah Pasar Pagi. K7 (EM4 dan MOL bonggol pisang 1:1 pengulangan . = 1,2L larutan EM4 1,2L MOL bonggol pisang 20kg Sampah Pasar Pagi. K8 (EM4 dan MOL bonggol pisang 1:1 pengulangan . = 1,2L larutan EM4 1,2L MOL bonggol pisang 20kg Sampah Pasar Pagi. Pengomposn berlangsung selama 30 hari yang merupakan waktu optimal pengomposan berdasarkan (Subandriyo, 2. Penggunaan 1,2 L EM4 merupakan dosis yang tepat untuk mempercepat waktu pembuatan kompos sampah organik (Tribowo,dkk 2. Proses pengomposan selama 30 hari ini dilakukan pengadukan, mengukur suhu, pH, dan kelembaban setiap hari. Pengukuran menggunakan KEPMEN No. 261 tahun 2019. Pengadukan dilakukan setiap hari dengan cara membolak Ae balikkan sampah kemudian menyusun kembali keposisi awal. Pengadukan dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan memasukkan udara segar kedalam tumpukan bahan kompos serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil (Sekarsari. Pengukuran parameter C/N rasio, nitrogen, karbon dan kelembaban dilakukan diawal proses pengomposan sedangkan parameter yang diukur diakhir pengomposan C/N rasio, nitrogen, karbon, kelembaban, fosfor. NPK, dan fisik kompos. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Uji Awal Kompos Hasil pembuatan kompos akan diuji dan dicari kualitas kompos yang terbaik menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261 tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik. Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah. Pengujian awal dilakukan dalam pengomposan ini untuk mengetahui kondisi awal kompos pada saat pengomposan dilakukan. Berikut hasil uji awal kompos. Tabel 1 Hasil Uji Awal Kompos Perlakuan No. Parameter Satuan Suhu Kelembaban Kontrol EM4 EM4 Mol Bonggol Pisang EM4 Mol Jeroan Ikan 83,44 85,02 4,65 82,86 4,75 86,69 Kadar Nitrogen (N- Tota. 2,63 2,88 3,21 3,37 Kadar Karbon (C-Organi. 47,93 47,83 47,91 47,53 C/N Rasio 18,22 16,61 14,93 14,10 Rekayasa Hijau Ae 123 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang Parameter suhu tertinggi terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan dan suhu terendah terdapat pada perlakuan kontrol. Hal ini dapat dikarenakan beberapa faktor, seperti bentuk gundukan, pengadukan, maupun aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik pada kompos. Menurut Nindi . Panas dihasilkan oleh aktivitas mikroorganisme, semakin efektif penguraian yang dilakukan mikroorganisme, maka peningkatan suhu juga akan meningkat. Menurut penelitian Ngapiyatun . , aktivator MOL Jeroan Ikan lebih baik dalam menguraikan bahan organik dibandingkan aktivator lainnya, sehingga dekomposisi bahan organik lebih efektif jika dilakukan dalam rentang waktu yang bersamaan dengan aktivator lainnya. Selain itu. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos yang sesuai dengan kriteria. Pada penelitian ini, penumpukkan kompos dilakukan secara manual serta dilakukan pengadukan secara berkala, sehingga perbedaan penumpukkan kompos masih rentan terjadi. Parameter pH berkisar antara 4,65 Ae 4,9. Nilai ini merupakan angka normal untuk uji awal. Menurut Nindi . , proses pengomposan akan menyebabkan perubahan bahan organik dan pH kompos itu Pada proses awal, sejumlah mikroorganisme akan mengubah bahan organik menjadi asam-asam organic seperti formic dan sebagainya, sehingga derajat keasaman akan selalu menurun. Kemudian pada proses selanjutnya akan meningkat secara bertahap. Parameter kelembababan pada awal pengomposan yang tertinggi EM4 MOL jeroan ikan 86,69% dan yang terendah EM4 MOL Bonggol pisang. Hal ini dikarenakan aktivator yang dicampur terhadap sampah dalam proses pengomposan MOL Jeroan ikan berbentuk cairan yang terdiri dari jeroan dan insang yang mengandung kadar air yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Maghirah . MOL jeroan ikan mengandung kadar air yang tinggi. EM4 MOL bonggol pisang memiliki kadar air yang paling rendah dikarenakan MOL bonggol pisang tidak mengandung air yang tinggi. Kadar N total pada uji awal kompos yang tertinggi terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan dan ynag terendah terdapat pada perlakuan kontrol. Hal ini dikarenakan Kandungan Nitrogen pada EM4 MOL jeroan ikan lebih tinggi karena mengandung nitrogen yang tinggi hal ini didukung oleh Safitri,dkk . Jeroan ikan memiliki nutrient nitrogen yang tinggi. Kadar C-organik pada uji awal kompos yang tertinggi terdapat perlakuan kontrol dan yang terendah terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Saitri,dkk . bahwa mol jeroan ikan mengandung Corganik yang tinggi hal ini bisa terjadi karena faktor eksternal seperti jenis tanah , curah hujan, suhu, masukan bahan organik pada proses C/N rasio pada uji awal kompos yang tertinggi terdapat perlakuan kontrol dan yang terendah terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan. Hal ini dikarenakan kadar C-organik pada perlakuan kontrol lebih tinggi daripada EM4 MOL jeroan ikan sehingga rasio C/N kontrol lebih tinggi. Rekayasa Hijau Ae 124 Rahayu, dkk. 2 Analisis Kualitas Kompos yang dihasilkan Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261 Tahun 2019 Tabel 2 Kualitas Fisik dan Kimia Kompos Berdasarkan Persyaratan Teknis Mutu Kompos Perlakuan Parameter Satuan Suhu Kelembaban Fisik Kompos (Warna. Bau, dan Tekstu. Kadar Nitrogen (N- Tota. Kadar Fosfor (P) Kadar Kalium (K) Hara Makro (N P2 O5 K 2 O) Kadar Karbon (COrgani. C/N Rasio Persyaratan Teknis Mutu Kompos KEPMEN Pertanian No. Tahun 2019 Memenuhi Memenuhi Memenuhi EM4 Mol Bonggol Pisang EM4 Mol Jeroan Ikan 71,86 Berwarn a coklat n berbau tanah dan r kasar 67,06 61,87 Berwarna coklat berbau tanah dan bertekstur kasar Berwarna dan bertekstur Berwarna tanah, berbau tanah dan bertekstur halus seperti tanah 3,09 3,03 2,91 3,17 1,54 2,53 2,66 1,78 2,64 2,12 7,19 7,33 Memenuhi 37,54 38,47 36,44 39,18 Memenuhi 12,21 12,72 12,55 12,36 Memenuhi Kontrol EM4 60,25 Berwarna berbau tanah dan bertekstur 1 Pengukuran suhu Suhu memiliki peran penting yang akan memengaruhi laju pengomposan, karena suhu berpengaruh terhadap aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan. Suhu yang semakin tinggi menyebabkan konsumsi oksigen yang semakin banyak pula, serta proses dekomposisi yang semakin cepat (Djuarnani, dkk. , 2. Perubahan suhu pada proses pengomposan dapat dilihat pada grafik dibawah ini Rekayasa Hijau Ae 125 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang (AC) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 EM4 EMB EMJ Persyaratan Teknis Mutu Kompos Persyaratan Teknis Mutu Kompos Perlakuan Hari Ke- Gambar 3 Pengukuran Suhu Berdasarkan grafik diatas, pada bak kontrol suhu mengalami fluktuasi pada hari ke-1 hingga hari ke-3. Pada hari ke-1 hingga hari ke-2, suhu mengalami penurunan dari 53A C menjadi 46,5A C. Kemudian pada hari ke-3 suhu meningkat kembali menjadi 50,5A C. Fluktuasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroorganisme yang mendegradasi bahan organik dalam proses pengomposan yang meningkat dan Fluktuasi ini juga dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu pada lingkungan. Selanjutnya dari hari ke-3 hingga hari ke-30 pengomposan, suhu terus mengalami penurunan dari 50,5A C hingga menjadi 28,5A C pada akhir pengomposan. Penurunan suhu dapat terjadi karena berkurangnya aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasi bahan organik dan menandakan kematangan kompos. Kompos dikatakan matang jika suhu pada kompos sudah sama dengan suhu air tanah yaitu antara 28A C - 30A C (Salim dan Sriharti, 2. Pada bak EM4. EM4 Bonggol Pisang, dan EM4 Jeroan Ikan, suhu mengalami penurunan dari hari ke-1 hingga hari ke-30. Pada bak EM4, hari ke-1 hingga hari ke-11, suhu berkisar antara 53,5A C hingga 45,5A C. Pada fase ini, mikroorganisme sangat aktif dalam proses dekomposisi. 2 Pengukuran pH Pengukuran pH dilakukan setiap hari selama 30 hari penelitian menggunakan alat soil meter. Nilai pH akan memengaruhi mikroorganisme yang terdapat dalam proses pengomposan. Menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik. Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah, nilai pH kompos yang ideal berkisar antara 4 Ae 9. Peningkatan dan penurunan pH akan menjadi penanda terjadinya aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasi sampah. Kenaikan pH dapat terjadi saat proses pengomposan dapat menghasilkan 126rganic dan gas nitrogen sehingga aktivitas bakteri meningkat dan menyebabkan pH naik. Penurunan pH dapat terjadi perombakan bakteri yang menghasilkan asam dan pemecahan bahan berkarbon menjadi asam 126rganic (Dewilda, 2. Perubahan pH rata-rata pada tiap perlakuan dapat dilihat pada grafik dibawah ini Rekayasa Hijau Ae 126 Rahayu, dkk. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 EMB Persyaratan Teknis Mutu Kompos EM4 EMJ Persyaratan Teknis Mutu Kompos Perlakuan Hari Ke- Gambar 4 Pengukuran pH Pada pengukuran awal penelitian, nilai pH pada bak kontrol 4,9. Nilai pH pada bak EM4 4,85. Nilai pH pada bak EM4 MOL bonggol pisang 4,65. Sedangkan nilai pH pada bak EM4 MOL Jeroan Ikan 4,75. Pada setiap reaktor mengalami fluktuasi. Nilai pH mengalami fluktuasi selama proses Hal ini karena adanya aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan organik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suwatanti dan Widiyaningrum . pola perubahan pH kompos berawal dari pH agak asam karena terbentuknya asam-asam organik sederhana kemudian pH meningkat pada inkubasi lebih lanjut akibat terurainya bahan organik dan terjadi pelepasan ammonia, peningkatan dan penurunan pH menandakan adanya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik. Dapat dilihat pada grafik di atas bahwa sekitar waktu akhir pengomposan memiliki nilai pH rata rata yang asam mendekati netral. Nilai pH netral terdapat pada perlakuan EM4 dan pH asam mendekati netral terdapat pada perlakuan kontrol dan EM4 MOL jeroan ikan. Nilai pH akan memengaruhi unsur nitrogen yang dihasilkan, pH yang cenderung asam akan menghasilkan nitrogen dalam jumlah yang banyak, selain itu pH yang asam juga dapat mematikan nimfa . elur serangg. atau organisme pathogen lainnya. 3 Pengukuran Kelembaban Kompos Pengukuran kelembaban kompos dilakukan diawal dan diakhir pada proses pengomposan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui Kelembaban yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai Kelembaban ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Kelembaban kompos yang tinggi akan menyebabkan jumlah udara akan berkurang, akibatnya aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan organik kompos akan menurun. Kelembaban yang tinggi akan menutupi rongga udara di dalam tumpukan, sehingga membatasi kadar oksigen dalam tumpukan, sehingga aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan kompos akan terhambat Dewilda, 2. Hal inilah yang merupakan faktor yang membuat kompos pada penelitian ini belum matang. Perubahan kadar air pada awal dan akhir pengomposan dilihat pada tabel berikut Tabel 3 Pengukuran Kelembaban Rekayasa Hijau Ae 127 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang Kontrol EM4 EM4 Mol Bonggol Pisang EM4 Mol Jeroan Ikan Baku Mutu KEPMEN No. Tahun Perlakuan Hari 83,44% 85,02% 82,86% 86,69% Uji awal 60,25% 71,80% 67,06% 61,87% Tidak Kelembaban kompos berdasarkan baku mutu KEPMEN No. 261 Tahun 2019 adalah sebesar 10-25% dan kelembaban akhir kompos pada penelitian ini yaitu berkisar 60. 25%-71. 80% dalam hal ini kelembaban kompos belum sesuai dengan baku mutu dikarenakan faktor cuaca pada saat proses pengomposan cuaca hujan dan lingkungan reaktor kurang terkena matahari yang menyebabkan kelembaban kompos ini belum memenuhi dengan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN 261 No. 261 Tahun 2019. Menurut maghfirah . kadar air merupakan kunci penting dalam proses dekomposisi karena hal tersebut terjadi jika kandungan air pada kompos terlalu rendah atau kadar air terlalu tinggi akan mengurangi efisiensi dalam pengomposan. Hal ini diperkuat oleh Chan . jika kadar air yang lebih 50%maka akan menyebabkan berkurangnya volume udara,menghasilkan bau , yan di sebabkan dalam proses pengomposan aerob dan terlambatnya dkomposisi jika kadar air dibawah 50% aktivitas mikroba akan mengalami penurunan. Menurut Yuliarti . didalam Lende, dkk . bahwa kelembaban 40%-60% adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba, sehingga sangat baik untuk proses pengomposan 4 Pengukuran C-Organik C-organik pada kompos dengan semua perlakuan diuji pada awal dan akhir pengomposan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kadar C-organik yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai C-organik ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Tabel 4 Hasil Uji C-organik Rata-Rata Perlakuan EM4 Mol EM4 Mol EM4 Bonggol Jeroan Ikan Pisang Baku Mutu KEPMEN No. 261 Tahun 2019 Hari 47,93% 47,83% 47,91% 47,53% Uji Awal 37,54% 38,47% 36,44% 39,18% Memenuhi Kontrol Kadar C-organik dari seluruh perlakuan memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019. C-organik tertinggi terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan 39,18% dan yang terendah pada perlakuan EM4 MOL bonggol pisang 36,44% dilihat pada Tabel 4. 5 Hasil Uji Corganik Rata-Rata. C-organik pada akhir pengomposan mengalami penurunan. Hal ini didukung oleh Kurnia . hasil tersebut terjadi karena selama proses pengomposan karbon digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan sebagai sumber energi. Kandungan unsur karbon pada kompos dipengaruhi oleh mikroorganisme pada kompos, hal ini sesuai dengan Sari . menyatakan nilai karbon organik tergantung pada kondisi mikroorganisme pada kompos, karena keberadaan mikroorganisme pada kompos akan merombak susunan rantai panjang polisakarida menjadi sakarida berantai pendek yang dapat diserap oleh tanaman lebih cepat. Rekayasa Hijau Ae 128 Rahayu, dkk. Kandungan C-organik yang tinggi dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil produksi dari tanaman karena tanaman mampu menyerap unsur hara yang tinggi untuk proses pertumbuhan yang optimal dan kandungan C-organik dapat meningkatkan tekstur tanah yang nantinya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman (Dewilda, 2. 5 Pengukuran Nitrogen Total Nitrogen Total pada kompos dengan semua perlakuan diuji pada awal dan akhir pengomposan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kadar nitrogen total yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai nitrogen total ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Hasil uji parameter Nitrogen rata-rata dapat dilihat pada Tabel 5 Hasil Uji Parameter Nitrogen Rata-Rata Perlakuan No. Hari Kontrol EM4 EM4 Mol Pisang Bonggol EM4 Mol Jeroan Ikan 2,63% 2,88% 3,21% 3,37% 2,89% 3,3% 2,91% 3,17% Kandungan nitrogen mengalami kenaikan dihasil akhir pengomposan pada perlakuan kontrol dan EM4. Pada perlakuan kontrol hasil uji awal 2,63% menjadi 2,89% dan pada perlakuan EM4 dari 2,88% menjadi 3,3%. Peningkatan N total pada Akhir pengomposan dikarenakan proses dekomposisi bahan kompos oleh mikroorganisme fermentatif. mengubah ammonia menjadi nitrit. Pada perlakuan EM4 MOL bonggol pisang dan EM4 MOL jeroan ikan mengalami penurunan. Hasil uji awal EM4 MOL jeroan ikan 3,37% mengalami penurunan menjadi 3,17% dan EM4 MOL bonggol pisang 3,21% menjadi 2,91%. Penurunan N total pada hasil akhir pengomposan menurut Maghfirah . dikarenakan mikroorganisme yang terdapat dalam proses dekomposisi yang memanfaatkan nitrogen yang ada didalam bahan sebagai sumber makanan dan nutrisi. 6 Pengukuran C/N Rasio C/N pada pengomposan ini dilakukan uji pada awal dan akhir pengomposan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui rasio C/N yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai rasio C/N ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Hasil uji yang didapatkan nilai C/N mengalami penurunan disetiap perlakuan. Nilai C/N rata-rata pada bak Kontrol mengalami penurunan dari 18,22 menjadi 12,21. Rata-rata pada bak EM4 mengalami penurunan dari 16,61 menjadi 12,72. Rata-rata bak EM4 Mol Bonggol Pisang mengalami penurunan dari 14,93 menjadi 12,55. Rata-rata pada bak EM4 Mol Jeroan Ikan mengalami penurunan dari 14,10 menjadi 12,63. Dilihat pada Tabel 4. 6 Hasil Uji Parameter C/N Rata-Rata Tabel 6 Hasil Uji Parameter C/N Rata-Rata Perlakuan No. Hari Kontrol EM4 EM4 Mol Pisang 18,22 16,61 14,93 14,10% 12,21 12,72 12,55 12,36 Rekayasa Hijau Ae 129 Bonggol EM4 Mol Jeroan Ikan Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang Prinsip pengomposan adalah untuk menurunkan rasio C/N bahan organic hingga sama dengan rasio C/N tanah (<. (Dewi ,2. Nilai rasio C/N yang tinggi atau kadar karbon lebih tinggi dari nitrogen akan menyebabkan kurangnya aktivitas mikroorganisme dan pengomposan akan berlangsung lebih lama sedangkan nilai rasio yang rendah atau kadar nitrogen lebih tinggi dari kadar karbon maka pengomposan akan berlangsung lebih cepat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faridah, dkk . bahwa rasio C/N mempengaruhi kinerja bakteri, dimana unsur karbon (C) sebagai sumber energi didalam proses metabolisme bagi mikroorganisme dan unsur nitrogen (N) digunakan untuk sintesis protein atau pembentukan sel protoplasma. Kompos yang memiliki nilai rasio C/N yang tinggi tidak layak digunakan pada tanaman karena akan terjadi persaingan antara mikroorganisme dan tanaman dalam memperebutkan unsur hara yang terkandung dari kompos, oleh karena itu diperlukan waktu yang lebih lama agar rasio C/N kompos sesuai dengan standar mutu kompos. 7 Pengukuran fosfor (P) Fosfor pada kompos dengan semua perlakuan diuji pada hari akhir pengomposan atau hari ke-30 Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kadar fosfor yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai fosfor ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Hasil dari uji Parameter fosfor rata-rata dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 7 Hasil Uji Parameter Fosfor Rata-rata No. Perlakuan Fosfor Kontrol 1,54% EM4 1,5% EM4 Mol Bonggol Pisang 1,78% EM4 Mol Jeroan Ikan 2,12% Nilai kadar fosfor rata-rata pada semua perlakuan telah sesuai dengan baku mutu KEPMEN No. Tahun 2019 yaitu dengan kadar N P K minimal 2 kompos dengan semua perlakuan memenuhi baku Fosfor yang mudah larut akan digunakan mikroorganisme untuk pertumbuhannya sehingga nilai kadar fosfor rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aziz . bahwa sebagian besar fosfor yang mudah larut diambil oleh mikroorganisme tanah untuk pertumbuhan, kadar fosfor yang dihasilkan dalam kompos yaitu dalam bentuk senyawa P2O5 (Difosfat Pentaoksid. 8 Pengukuran Kalium (K) Kalium pada kompos ini dilakukan pengujian dengan semua perlakuan diakhir pengomposan. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kadar kalium yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai nitrogen total ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Hasil dari pengujian kalium pada semua perlakuan rata-rata dilihat pada Tabel 4. Tabel 8 Hasil Uji Parameter Kalium Rata-Rata No. Perlakuan Kalium Kontrol EM4 2,53% 2,66% EM4 Mol Bonggol Pisang 2,64% EM4 Mol Jeroan Ikan 2,6% Rekayasa Hijau Ae 130 Rahayu, dkk. Berdasarkan diatas Nilai kadar kalium rata-rata tertinggi EM4 2,66% dan yang terendah pada perlakuan kontrol 2,53%. Kompos pada semua perlakuan telah memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 yaitu dengan kadar jumlah N P K minimal 2%. Kadar kalium yang tinggi pada kompos disebabkan oleh optimalnya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik hal ini sesuai dengan pernyataan Maharani . bahwa kalium digunakan mikroorganisme dalam bahan substrat sebagai katalisator, kehadiran bakteri dengan segala aktivitasnya sangat berpengaruh terhadap peningkatan kadar kalium. Tingginya kadar kalium pada perlakuan EM4 dikarenakan rasio C/N pada perlakuan EM4 ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol yang artinya proses pengomposan pada perlakuan EM4 cepat dibandingkan dengan perlakuan kontrol, kemudian perlakuan EM4 memiliki suhu puncak yang lebih tinggi daripada perlakuan kontrol yang artinya perombakan bahan organik pada perlakuan EM4 lebih aktif dibandingkan dengan perlakuan kontrol sehingga menghasilkan nilai kalium kompos yang lebih baik daripada perlakuan kontrol. Perlakuan EM4 juga memiliki nilai pH netral dibandingkan dengan perlakuan yang lain dan memiliki kelembaban yang paling baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain sehingga proses dekomposisi bahan kompos berjalan lebih baik dan menghasilkan nilai kalium yang paling tinggi. 9 Pengukuran Kadar NPK Kadar NPK dalam kompos sangat penting untuk proses pertumbuhan pada tanaman. Unsur hara nitrogen yang terkandung dalam kompos memiliki kegunaan bagi tanaman yaitu, membuat daun lebih banyak mengandung butir hijau daun. Unsur fosfor berguna untuk menguatkan batang dan membunuh jamur pada kulit tanaman. Unsur kalium berguna untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, dapat menambah kandungan protein tanaman. Hasil NPK pada kompos yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 9 Hasil uji NPK No. Perlakuan NPK Kontrol EM4 EM4 Mol Bonggol Pisang EM4 Mol Jeroan Ikan 12,21% 12,72% 1,54% 1,5% 2,53% 2,66% 7,16% 7,19% 12,55% 1,78% 2,64% 7,33% 12,36% 2,12% 2,6% 7,89% Persyaratan Teknis Mutu Kompos KEPMEN Pertanian No. Tahun 2019 Memenuhi Hasil NPK dari yang tertinggi hingga kerendah terdapat pada variasi EM4 Mol Jeroan ikan dengan kadar 7,89%. EM4 Mol bonggol Pisang dengan kadar 7,33%. EM4 dengan kadar 7,19%, dan kontrol dengan kadar 7,16. Jeroan ikan memiliki kandungan hara yang lebih tinggi. Menurut Adinigsih dan Sitorus . MOL dari bahan baku ikan memiliki kualitas yang lebih baik daripada jenis pupuk organik lain seperti pupuk kompos, pupuk kandang, dan pupuk hijau. 3 Analisis Pengaruh Aktivator EM4 Terhadap Pupuk yang Dihasilkan Pengaruh aktivator EM4 terhadap pupuk yang dihasilkan dilakukan setiap parameternya untuk mengetahui kompos pada perlakuan yang mana yang paling efektif untuk digunakan. Berikut parameter yang dianalisis: 1 Suhu Suhu dalam proses pengomposan memiliki peran penting dalam laju pengomposan. Semakin tingginya temperatur maka semakin banyak konsumsi oksigen dan semakin cepat proses dekomposisi, sehingga Rekayasa Hijau Ae 131 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang hal ini ada hubungan langsung antar peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Temperatur yang berkisar antara 30- 60AC menampilkan kegiatan pengomposan yang kilat. Temperatur yang lebih tinggi dari 60AC hendak menewaskan sebagian mikroba serta cuma mikroba thermofilik saja yang hendak senantiasa bertahan hidup. Temperatur yang besar juga hendak mematikan mikroba-mikroba patogen tumbuhan serta benih-benih gulma (Dewilda, 2. Proses pengomposan disetiap perlakuan mengalami fluktuasi. Pengomposan rata-rata setiap perlakuan di hari ke-30 Kontrol sebesar 28,5. EM4 sebesar 29,5. EM4 Mol bonggol pisang sebesar 29,5 dan EM4 Mol jeroan ikan 29. Hal ini menunjukkan bahwa disetiap perlakuan memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 29-31, kecuali pada bak kontrol yang memiliki nilai 28,5. Hal ini dikarenakan proses penumpukkan yang kurang tinggi sehingga membuat panas didalam tidak tertahan lama dan faktor cuaca dan suhu lingkungan juga memengaruhi suhu pada kompos. Parameter suhu ini yang memiliki nilai yang memenuhi baku mutu terdapat pada perlakuan EM4. EM4 Mol bonggol pisang, dan EM4 Mol jeroan 2 pH pH pada pengomposan memiliki peran penting Proses pengomposan bisa terjalin pada kisaran pH yang pH yang optimum buat proses pengomposan berkisar antara 6,5 hingga 7,5. pH kontrol berada pada rentang 4. 9 Ae 6. pH EM4 berada pada rentang 4. 8 Ae 7. pH EM4 MOL bonggol pisang berada pada rentang 4. 75 - 7. pH EM4 MOL jeroan ikan berada pada rentang 4,75 Ae 6. Nilai pH rata-rata di setiap perlakuan mengalami fluktuasi. Nilai pH mengalami fluktuasi selama proses pengomposan. Hal ini karena adanya aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan organic. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suwatanti dan Widiyaningrum . pola perubahan pH kompos berawal dari pH agak asam karena terbentuknya asam-asam organik sederhana kemudian pH meningkat pada inkubasi lebih lanjut akibat terurainya bahan organik dan terjadi pelepasan ammonia, peningkatan dan penurunan pH menandakan adanya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik. Proses pengomposan sendiri hendak menimbulkan pergantian pada bahan organik serta pH bahan itu Selaku contoh, proses pelepasan asam, secara temporer ataupun lokal, hendak menimbulkan penyusutan pH . , sebaliknya penciptaan amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen hendak tingkatkan pH pada fase-fase dini pengomposan. Kompos yang dihasilkan setiap perlakuan memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 yaitu direntang 4-9. Menurut (Muhede,2. pH kompos yang telah matang umumnya mendekati netral. diantara setiap perlakuan yang netral pada perlakuan EM4 yaitu 7. Sedangkan untuk perlakuan kontrol 6,8. EM4 MOL bonggol pisang 7,1, dan MOL Jeroan ikan 6,8. 3 Kelembaban Kelembaban memegang peranan yang sangat berarti dalam proses metabolisme mikroba serta secara tidak langsung mempengaruhi pada suplay oksigen. Mikroorganisme bisa menggunakan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40- 60% merupakan kisaran optimum buat metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di dasar 40%, kegiatan mikroba hendak hadapi penyusutan serta hendak lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara menurun, dampaknya kegiatan mikroba akan menyusut dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang memunculkan bau tidak nikmat. Rekayasa Hijau Ae 132 Rahayu, dkk. Kelembaban rata-rata pada setiap perlakuan mrmiliki nilai akhir. Kontrol sebesar 60,25%. EM4 sebesar 80%. EM4 MOL bonggol pisang sebesar 67. 06%, dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 61. Hasil uji akhir yang dilakukan menunjukkan bahwa kelembaban masih tinggi diatas 60%. Kelembaban pada kompos tidak memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 10%-25%. Hal ini dikarenakan factor cuaca pada proses pengomposan sering terjadi turunnya hujan yang menyebabkan suhu diluar reaktor atau suhu lingkungan lebih rendah dari suhu reaktor. Hal ini menyebabkan penguapan atau embun didalam reaktor sehingga menyebabakan kelembaban akan mengalami kenaikan. 4 C-Organik C-organik berperan penting untuk menentukan kematangan dan kelayakan kompos. C-organik rata-rata pada pengomposan hari ke-30 kontrol sebesar 37. EM4 sebesar 38. EM4 MOL bonggol pisang 44, dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 39. Nilai rata-rata C-organik berdasarkan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 C-organik minimal 15. Hal ini menyatakan bahwa C-organik rata-rata setiap perlakuan memenuhi baku mutu. Kadar C-organik tertinggi EM4 jeroan ikan dan kadar C-organik terendah pada perlakuan EM4 MOL bonggol pisang. Kadar C-organik rata-rata yang paling baik terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan. Kandungan C-organik yang tinggi dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil produksi dari tanaman karena tanaman mampu menyerap unsur hara yang tinggi untuk proses pertumbuhan yang optimal dan kandungan C-organik dapat meningkatkan tekstur tanah yang nantinya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. 5 N Total N total berperan penting untuk menentukan kematangan dan kelayakan kompos. N total rata-rata pada pengomposan hari ke-30 kontrol sebesar 2. EM4 sebesar 3,3 EM4 Mol bonngol pisang sebsar 2. dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 3. Nilai rata-rata N total berdasarkan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 N P K minimal 2. Hal ini menyatakan pada seitiap perlakuan N total rata-rata memenuhi baku mutu. Kadar N total tertinggi EM4 dan kadar C-organik terendah pada perlakuan Kontrol. Kadar N total rata-rata yang paling baik terdapat pada perlakuan EM4. Kompos yang baik harus mengandung unsur nitrogen yang sesuai dengan baku mutu karena nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan Purnomo, dkk . bahwa nitrogen yang pada umumnya sangat diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman atau pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar, yang hijau akan berubah menjadi kuning, pertumbuhan tanaman terhambat yang akan berpengaruh pada pembuahan yang tidak 6 Rasio C/N Rasio C/N yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai rasio C/N ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Rasio C/N pada pengomposan hari ke-30 kontrol sebesar 12. Em4 sebesar 72. EM4 MOL bonggol pisang sebesar 12. 55, dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 12. Nilai rata-rata rasio C/N total berdasarkan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 N P K minimal O 2. Hal ini menyatakan pada setiap perlakuan rasio C/N rata-rata memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik. Kadar rasio C/N rata-rata tertinggi EM4 dan kadar C-organik terendah pada perlakuan Kontrol. Kadar rasio C/N rata-rata yang paling baik terdapat pada perlakuan EM4. Nilai rasio C/N merupakan nilai perbandingan antara banyaknya kandungan unsur karbon (C) terhadap banyaknya kandungan unsur nitrogen (N) yang juga salah satu aspek penting dalam kompos karena dapat mengetahui aktivitas dari mikroorganisme dalam merombak bahan organik. Nilai rasio Rekayasa Hijau Ae 133 Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. Mol Jeroan Ikan, dan Mol Bonggol Pisang C/N yang tinggi atau kadar karbon lebih tinggi dari nitrogen akan menyebabkan kurangnya aktivitas mikroorganisme dan pengomposan akan berlangsung lebih lama sedangkan nilai rasio yang rendah atau kadar nitrogen lebih tinggi dari kadar karbon maka pengomposan akan berlangsung lebih cepat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Faridah, dkk . bahwa rasio C/N mempengaruhi kinerja bakteri, dimana unsur karbon (C) sebagai sumber energi didalam proses metabolisme bagi mikroorganisme dan unsur nitrogen (N) digunakan untuk sintesis protein atau pembentukan sel protoplasma. 7 Fosfor Fosfor yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai Fosfor ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Fosfor pada pengomposan hari ke-30 kontrol sebesar 1. 54 EM4 sebesar 1. EM4 MOL bonngol pisang sebesar 1. 78, dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 2. Nilai rata-rata Fosfor total berdasarkan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 N P K Hal ini menyatakan pada setiap perlakuan Fosfor rata-rata memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik. Kadar Fosfor rata-rata tertinggi EM4 MOL jeroan ikan dan kadar fosfor terendah pada perlakuan EM4. Kadar Fosfor rata-rata yang paling baik terdapat pada perlakuan EM4 MOL jeroan ikan. Fosfor merupakan unsur hara yang berperan bagi pertumbuhan tanaman. Fungsi dari fosfor pada tanaman yaitu untuk merangsang pertumbuhan akar, benih dan tanaman muda, selain itu fosfor juga berfungsi untuk mempercepat pematangan biji dan buah. Kekurangan fosfor pada tanaman dapat menyebabkan daun yang berubah menjadi tua dan akan menjadi kuning, selain itu buah yang dihasilkan lebih kecil. 8 Kalium Kalium yang terkandung didalam kompos yang dimana nilai kalium ini menentukan kematangan dan kelayakan kompos. Kalium rata-rata pada pengomposan hari ke-30 kontrol sebesar 2. 53 EM4 sebesar 66. EM4 MOL bonggol pisang sebesar 2. 64, dan EM4 MOL jeroan ikan sebesar 2. Nilai kalium rata-rata berdasarkan persyaratan teknis mutu pupuk organik KEPMEN No. 261 Tahun 2019 N P K Hal ini menyatakan pada setiap perlakuan kalium rata-rata memenuhi persyaratan teknis mutu pupuk organik. Kadar kalium rata-rata tertinggi EM4 dan Kalium rata-rata terendah pada perlakuan kontrol. Kalium merupakan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman sehingga kandungan kalium pada kompos harus sesuai dengan baku mutu. Kandungan kalium yang rendah atau tidak sesuai dengan baku mutu menyebabkan tanaman akan kekurangan unsur hara kalium. Tanaman yang kekurangan unsur hara kalium akan mengakibatkan daun tanaman tersebut tampak mengkerut atau keriting, timbul bercak-bercak merah kecoklatan, ujung dan tepi daun akan menjadi kuning. Unsur hara kalium berfungsi membantu meningkatkan daya tahan terhadap penyakit tanaman dan serangan hama serta memperbaiki ukuran dan kualitas buah pada masa generatif. Kadar kalium yang rendah dapat ditingkatkan dengan penambahan kulit dan batang pisang pada proses pengomposan sebagai bahan baku kompos yang kaya unsur kalium. Hal ini didukung oleh Sulistyorini . bahwa pengkayaan unsur kalium dapat menggunakan kulit dan batang pisang yang mengandung 34%-42% kalium. KESIMPULAN Berdasarkan Hasil Penelitian Pembuatan Kompos dari Limbah Pasar Pagi menggunakan Kombinasi Aktivator EM4. MOL Jeroan Ikan, dan Bonggol Pisang didapatkan hasil sebagai berikut: Pengaruh penggunaan aktivator EM4 berpengaruh terhadap perlakuan EM4 . EM4 MOL Jeroan Ikan dan EM4 MOL Bonggol Pisang terhadap proses pengomposan yang telah dilakukan jika dinilai Rekayasa Hijau Ae 134 Rahayu, dkk. berdasarkan parameter unsur hara makro, yakni N,P,K, maka urutan hasil pengomposan yang paling baik adalah pada variasi aktivator EM4 MOL Jeroan Ikan, kemudian EM4 Bonggol Pisang dan terakhir aktivator EM4 dan Kontrol. Kualitas kompos yang dihasilkan dibandingkan dengan Persyaratan teknis minimal mutu pupuk organik menurut Keputusan Menteri Nomor 261 Tahun 2019 hampir semua parameter sudah memenuhi persyaratan antara lain suhu, pH, warna dan bau kompos, unsur hara makro, serta C/N dan C-organik. Namun, beberapa lainnya seperti Kelembaban dan tekstur kompos masih berada dibawah nilai persyaratan teknis mutu pupuk organik. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain cuaca yang menyebabkan suhu lingkungan disekitar kompos lebih rendah dari suhu kompos, sehingga proses penguapan tidak dapat dilakukan dengan baik. UCAPAN TERIMA KASIH