Jl. Beringin Entrop. Kota Jayapura, papua Vol. No. September 2024, pp. e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598. DOI : https://doi. org/10. 55049/cnd. Pemberdayaan Ekonomi dan Keuangan di Kampung Otakwa Kabupaten Mimika John Agustinus*. Verdi Payung Tappi**. Margo Saptowinarko Prasetyo***. Ratna Mufidah**. Bucek Ulpupy**** dan Irma Sakinah Syam**** *Dosen Program Studi Magister Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura **Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ***Dosen Program Studi Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura ****Staff Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura Alamat Email : johnagustinus@stie-portnumbay. ARTICLE INFO Riwayat Artikel: Diterima 1 September 2024 Disetujui 30 September 2024 Keywords: Ekonomi. Keuangan. Kampung Otakwa. ABSTRAK Abstract : This community service aims to provide understanding and increase insight related to financial literacy education, and how a family can manage their finances better, especially for fishermen's families in Otakwa Village. Mimika Timur Jauh District. Mimika Regency. The method used in implementing this PKM activity is carried out in several steps involving a field survey method in the form of Problem Identification which is carried out as an initial step to formulate what will be used as material for designing the system and training materials in this community service activity. Conducting a field survey in Otakwa Village as the place where the activity is carried out, then conducting training, socialization and discussions with the Village Community to identify related problems, important findings or community service results, and conclusions. From this PKM activity, it can be concluded The Otakwa Village Community, most of whom work as fishermen, do not yet understand the importance of Family Financial Management, this is caused by several things, namely cultural influences, the influence of low levels of education and their distance from banking facilities. It is important to carry out socialization of financial management education for fishermen's families so that the Otakwa village community understands financial management better by having savings in managing family finances. Abstrak : Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan terkait dengan edukasi literasi keuangan, dan bagaimana suatu keluarga dapat mengelola keuangannya dengan lebih baik, khususnya untuk keluarga nelayan di Kampung Otakwa. Distrik Mimika Timur Jauh. Kabupaten Mimika. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini dilakukan dalam beberapa langkah yang melibatkan metode survei lapangan berupa Identifikasi masalah yang dilakukan sebagai langkah awal untuk merumuskan apa saja yang akan dijadikan bahan untuk perancangan sistem dan materi pelatihan dalam kegiatan pengabdian ini. Melakukan survei lapangan di Kampung Otakwa sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan, kemudian melakukan pelatihan, sosialisasi dan diskusi dengan Masyarakat Kampung untuk mengidentifikasi permasalahan terkait, temuan penting atau hasil pengabdian, dan kesimpulan. Dari kegiatan PkM ini dapat disimpulkan Masyarakat Kampung Otakwa yang Sebagian besarnya bermatapencaharian sebagai nelayan, belumlah memahami pentingnya Manajemen Keuangan Keluarga, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pengaruh budaya, pengaruh rendahnya Tingkat Pendidikan dan jauhnya mereka dari sarana perbankan. Penting dilaksanakan sosialisasi edukasi pengelolaan keuangan keluarga nelayan agar masyarakat kampung Otakwa lebih memahami manajemen keuangan dengan memiliki Tabungan dalam pengelolaan keuangan Keluarga. Open access article under the CC BY-SA license. URL Jurnal: https://cendisia. stie-portnumbay. id/index. php/cnd/ Agustinus. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Pendahuluan Kondisi ekonomi Kampung Otakwa di Kabupaten Mimika, memiliki potensi ekonomi lokal yang Namun, potensi tersebut belum dimaksimalkan karena belum adanya pusat-pusat ekonomi di tingkat kampung. Selain potensi ekonomi lokal, masyarakat Kampung Otakwa juga mencari alternatif penghasilan seperti bergantung pada air hujan dan air sumur payau. Masyarakat Kampung Otakwa dapat memanfaatkan potensi ekonomi lokal seperti pertanian . agu, kelapa, dan kebun campu. , perikanan, dan kerajinan tangan untuk meningkatkan pendapatan mereka (USAID. Peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas juga dapat membantu memaksimalkan potensi ekonomi kampung ini. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan terkait dengan edukasi literasi keuangan, dan bagaimana suatu keluarga dapat mengelola keuangannya dengan lebih baik, khususnya untuk keluarga nelayan di Kampung Otakwa. Distrik Mimika Timur Jauh. Kabupaten Mimika. Lp4m Unmuha . Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini dilakukan dalam beberapa langkah yang melibatkan metode survei lapangan berupa Identifikasi masalah yang dilakukan sebagai langkah awal untuk merumuskan apa saja yang akan dijadikan bahan untuk perancangan sistem dan materi pelatihan dalam kegiatan pengabdian ini. Melakukan survei lapangan di Kampung Otakwa sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan, kemudian melakukan pelatihan, sosialisasi dan diskusi dengan Masyarakat Kampung untuk mengidentifikasi permasalahan terkait, temuan penting atau hasil pengabdian, dan Dari kegiatan PkM ini dapat disimpulkan bahwa. Masyarakat Kampung Otakwa yang Sebagian besarnya bermatapencaharian sebagai nelayan, belumlah memahami pentingnya Manajemen Keuangan Keluarga, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pengaruh budaya, pengaruh rendahnya Tingkat Pendidikan dan jauhnya mereka dari sarana perbankan. Penting dilaksanakan sosialisasi edukasi pengelolaan keuangan keluarga nelayan agar masyarakat kampung Otakwa lebih memahami manajemen keuangan dengan memiliki Tabungan dalam pengelolaan keuangan Keluarga. Gambar: Pintu Masuk Pelabuhan Kampung Otakwa Metode Metode yang digunakan adalah kualitatif sering disebut metode naturalistik karena pengabdian masyarakatnya dilakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. , disebut juga metode etnografi, karena pada awalnya metode ini banyak digunakan untuk pengabdian masyarakat bidang antropologi budaya, disebut juga sebagai metode kualitatif karena data yang dikumpulkan dan dianalisisnya bersifat kualitatif. Zunaidi . Metode ini menggambarkan keadaan yang sedang berlangsung pada saat pengabdian Pemberdayaan Ekonomi danA( Agustinus. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 masyarakat dilakukan, berdasarkan fakta yang ada. Metode diskriptif tidak terbatas pada pengumpulan data dan penyusunan data karena metode diskriptif mempunyai ciri-ciri memusatkan pada pemecahan masalah yang ada dan aktual, data dikumpulkan, disusun , dijelaskan kemudian dianalisis. Selanjutnya Zunaidi . menjelaskan jenis metode observasi berdasarkan peranan yang dimainkan yaitu dikelompokkan menjadi dua bentuk sebagai berikut: Observasi partisipan yaitu peneliti adalah bagian dari keadaan alamiah tempat dilakukannya observasi. Observasi non partisipan yaitu dalam observasi ini peranan tingkah laku peneliti dalam kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan kelompok yang diamati kurang dituntut. Dalam pengabdian masyarakat ini digunakan observasi non partisipan,peneliti tidak turut ambil dalam bagian kehidupan orang yang Zunaidi . menjelaskan dalam metode pengabdian masyarakat dengan Kualitatif Naturalistik terdapat beberapa pendekatan-pendekatan dengan penjelasan sebagai berikut: Pendekatan Pendidikan Masyarakat: Penerapan konsep PkM tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat signifikan bagi lembaga pendidikan tinggi itu sendiri. Menurut Zunaidi . , praktik PkM dapat meningkatkan reputasi dan citra lembaga pendidikan tinggi di mata masyarakat, meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran praktis dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata, serta memperluas jejaring dan kemitraan lembaga dengan berbagai stakeholder di luar dunia akademik. Pendekatan Konsultasi: Pengabdian kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat karenaberkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Pendekatan Difusi Ipteks: pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu mekanisme utama dalam memfasilitasi transfer pengetahuan, teknologi, dan sumber daya dari lembaga pendidikan dan stakeholders lainnya ke masyarakat untuk meningkatkan kehidupan mereka . Pelatihan dan Pemberdayaan: Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, peran tridharma perguruan tinggi sangatlah penting karena memberikan landasan yang kokoh untuk menjembatani antara dunia akademik dan masyarakat lokal dengan pedekatan kearifan lokal . ocal wisdo. Simulasi Ipteks: Panduan Pengabdian masyarakat Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Tahun 2. menjelaskan bahwa Pemberdayaan Ekonomi: Melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha kecil, dan akses terhadap sumber daya ekonomi dengan dilandasai Pendidikan dan Pelatihan untuk medapatkan tujuan utama yaitu Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan, baik formal maupun nonformal, serta memberikan pelatihan dalam berbagai bidang keterampilan. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Zunaidi . menjelaskan jenis metode observasi berdasarkan peranan yang dimainkan yaitu dikelompokkan menjadi dua bentuk sebagai berikut: Pertama. Observasi partisipan yaitu peneliti adalah bagian dari keadaan alamiah tempat dilakukannya observasi. Kedua. Observasi non partisipan yaitu dalam observasi ini peranan tingkah laku peneliti dalam kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan kelompok yang diamati kurang dituntut. Dalam pengabdian masyarakat ini digunakan observasi non partisipan,peneliti tidak turut ambil dalam bagian kehidupan orang yang diobservasi. Hasil Dan Pembahasan Hasil Pengabdian Masyarakat Tim pengabdian masyarakat bergerak menuju langsung ke mayarakat untuk silahturahmi dan pengambilan data di Masyarakat yang mencari karaka . , mencari ikan di laut, para pengusaha, koperasi Maria Bintang Laut. Tim peneliti STIE Port Numbay Jayapura berjumlah enam orang sedang melaksanakan pengabdian masyarakat di Kampung Otakwa ini, kami berjalan dengan didampingi oleh beberapa masyarakat . da juga petugas dari LINMAS). Mata pencaharian merupakan aspek penting dalammemahamikondisi ekonomi dan pola kehidupan masyarakat di suatu wilayah. Keberagaman pekerjaan yang ditekuni oleh masyarakat mencerminkan sumber penghidupan utama serta potensi ekonomi yang ada di Agustinus. Dkk. Vol. No. September 2024:22-31 Agustinus. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 daerah tersebut. Berikut adalah data karakteristik responden berdasarkan mata pencaharian di Kampung Otakwa. Distrik Wania. Kabupaten Mimika. Gambar: Wawancara dan survei potensi perikanan Karakteristik informan yang diwawancarai, terkait Umur dan profesi dari masyarakat di Kampung Otakwa dapat disajikan sebagai berikut: Pemberdayaan Ekonomi danA( Agustinus. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Berdasarkan data tersebut, kelompok terbesar dalam mata pencaharian informan didomnasi oleh matapencaharian nelayan dengan mencari ikan di Laut dan Karaka dengan jumlah 40 responden atau . ,4%). Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang mengandalkan nelayan sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Otakwa dibuat dua pengabdian. Pengabdian yang pertama dilakukan sebagai berikut. Pengembangan Potensi Perikanan Untuk mengetahui potensi perikanan di Kampung Otakwa tim pengabdian masyarakat STIE Port Numbay Jayapura melakukan wawancara dengan masyarakat Kampung Otakwa. Adapun hasil-hasil wawancara bersama dengan lima puluh satu responden yang kami dapat adalah sebagai berikut: Mayoritas pertama masyarakat di Kampung Otakwa adalah mencari ikan di laut. Mayoritas kedua masyarakat di Kampung Otakwa adalah mencari Karaka (Kepitin. di Muara sungai atau di pinggiran laut. Harga Karaka dari masyarakat asli kampung Otakwa menjual dengan kisaran harga Karaka ukuran kecil dijual Rp20. 000,- per ekor, ukuran sedang dijual Rp30. 000,- per ekor dan ukuran besar dijual Rp50. 000,- per ekor. Ditemukan enam pengusaha di Kampung Otakwa dan ditambah Satu Koperasi Maria Bintang Laut. Keenam Pungusaha ini dan satu koperasi ini bergerak di kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat, seperti Bahan Makanan. Bahan Bakar Minyak, dan menampung hasil-hasil ikan dan Karaka. Koperasi Maria Bintang Laut rata-rata menerima sekitar 2 ton untuk sekali masyarakat melaut, ikanikan yang ditangkap antara lain kepiting bakau/karaka . , ikan kerapu, ikan kakap merah, dan gelembung renang, yaitu, ikan kakap dan ikan kerapu. Komoditas lainnya yang dimanfaatkan masyarakat yaitu ikan bandeng laut, ikan kakap mulut tikus, ikan bulanak, ikan lele, ikan pari, ikan hiu, penyu, ikan duri/sembilang, lasi, kakap batu, ikan cakalang, ikan tenggiri, ikan lema, ikan kapaskapas, ikan mubara, ikan gabus laut, ikan sumpit, tambelo . ivalvia dalam kayu mangrove yang telah lapu. dan juga udang laut, udang kali, serta udang halus. Beberapa masyarakat juga menjual hasil tangkapan ikan kepada beberapa pengusaha yang ada di kampung Otakwa. Tentunya hasil penjualan ikan oleh masyarakat ke pengusaha dengan Koperasi berbeda, dimana hasil tangkapan ikan dijual ke Koperasi lebih murah dibandingkan menjual di Jika 1 Kg ikan kakap dijual di Koperasi dengan harga Rp25. 000,- maka di pengusaha dapat membeli dengan harga Rp 30. 000,-Perbedaannya adalah di harga bahan bakar minyak dimana di Koperasi menjual harga bahan bakar minyak jauh lebih murah dibandingkan dengan pengusaha, dimana pengusaha menjual BBM jauh lebih mahal. Hasil tangkapan ikan di Kampung Otakwa ini tidak dilakukan secara rutin atau dilakukan sering / Kendala yang dihadapkan oleh Masyarakat. Koperasi dan Pengusaha adalah terkait denganEs Batu/Garam / Bahan Pengawet ikan. Dengan terbatasnya persediaan es batu sebagai bahan pengawet ikan maka menyebabkan Masyarakat juga terbatas mencari ikan. Karena jika ikan tidak segera di kirim ke Timika maka terjadi pembusukan dan menyebabkan kerugian pada nelayan. Kenapa produksi Es Batu sangat terbatas di Kampung Otakwa di karenakan beberapa hasil sebagai . Listrik yang digunakan di Koperasi Maria Bintang Laut mengunakan Listrik Tenaga Matahari (Solar Se. Belum ada listrik tenaga disel atau pembangkit listrik di Kampung Otakwa. Keterbatasan jumlah freezer. Jenis ikan yang mudah busuk. Jarak tempuh yang sangat jauh antara kampung otakwa dengan pelabuhan pomako, kurang lebih dua sampai dengan tiga jam perjalanan. Dengan jauhnya jarak tempuh ini mengharuskan masyarakat menyediakan jumlah BBM yang cukup banyak untuk menempuh perjalanan. Terjadinya Pendangkalan di laut menyebabkan kendala utama, tidak jarang juga jika terjadi pendangkalan air laut, membuat perjalanan terhambat. Masyarakat selalu berharap air laut pasang, jika air laut surut dan dangkal tidak bisa melakukan perjalanan. Berharap ada pendamping bagi pendatang. Agustinus. Dkk. Vol. No. September 2024:22-31 Agustinus. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Ada pendapat dari masyarakat pendatang yang berprofesi sebagai Pengusaha bahwa jika tidak ada pengusaha maka masyarakat adat susah menjual hasil ikan dan karaka. Adanya mutualisme antara masyarakat adat dan pengusaha. Tidak ada arus informasi dari luar secara masif sehingga kurang mendapatkan informasi terbaru Kendala-kendala ini yang menyebabkan nelayan juga terbatas dalam mencari ikan, seperti jika es batu tidak ada maka masyarakat nelayan tidak mencari ikan, karena kalua dipaksa mencari ikan resiko pembusukan ikan tinggi. Jika nelayan tetap mencari ikan dan mendapatkan hasil tangkapan yang besar maka Koperasi dan Pengusaha akan langsung membawa ke Pomako, ini juga masih memiliki tingkat risiko yang tinggi antara lain: Terbatasnya BBM dan Situasi Air Laut yang kadang tidak bersahabat seperti terjadi pendangkalan dan cuaca ekstrem. Gambar Potensi perikanan masyarakat kampung Otakwa Dari hasil wawancara bersama masyarakat . ditemukan Potensi yang sedang dikembangkan oleh masyarakat adalah sebagai berikut: PT Freeport Indonesia melalui Yayasan Pengembangan Masyarakat Amugme dan Kamoro (YPMAK) Membentuk Pokja bagi masyarakat untuk mengembangkan sector pertanian, adapun sector pertanian yang dikembangkan adalah tanaman sayur, pisang, durian, singkong dll. Area lahan yang disiapkan jauh dari Kampung Otakwa yaitu Kampung Air yang berjarak kurang lebih 30 mil dari Kampung Otakwa. Dimana YPMAK mengucurkan Dana sekitar Rp500juta kepada masyarakat di Kampung Otakwa. Potensi Ikan Asin yang dapat dikembangkan bagi masyarakat di Kampung Otakwa. Potensi tambak Karaka (Kepitin. dimana masyarakat yang masih peramu dengan menggunakan perahu untuk mencari karaka dikembangkan dengan membuat Tambak Karaka. Hasil pembahasan pertama pada pengabdian masyarakat di Kampung Otakwa adalah tantangan para nelayan dengan jarak tempuh yang sangat jauh antara Kampung Otakwa dengan pelabuhan Pomako, kurang lebih dua sampai dengan tiga jam perjalanan. Dengan jauhnya jarak tempuh ini mengharuskan masyarakat menyediakan jumlah BBM yang cukup banyak untuk menempuh perjalanan, terjadinya Pendangkalan di laut menyebabkan kendala utama, tidak jarang juga jika terjadi pendangkalan air laut, membuat perjalanan terhambat. Tantangan selanjutnya tidak ada arus informasi dari luar secara masif sehingga kurang mendapatkan informasi terbaru. Kendala-kendala ini yang menyebabkan nelayan juga terbatas dalam mencari ikan, seperti jika es batu tidak ada maka masyarakat nelayan tidak mencari ikan, karena jika tetap mencari ikan resiko pembusukan ikan tinggi. Jika nelayan tetap mencari ikan dan mendapatkan hasil tangkapan yang besar maka Koperasi dan Pengusaha akan langsung membawa ke Pomako, ini juga masih memiliki tingkat risiko yang tinggi antara lain: Terbatasnya BBM dan Situasi Air Laut yang kadang tidak bersahabat seperti terjadi pendangkalan dan cuaca ekstrem. Pendampingan bagi masyarakat asli kampung Otaka pernah dilakukan dan beberapa masyarakat asli kampung Otakwa dengan mengirim beberapa orang untuk mengikuti pelatihan penangkaran karaka di Provinsi Kalimantan. Dan hasilnya masyarakat mampu membuat tambak / penangkaran karaka di kampung Otakwa. Pemberdayaan Ekonomi danA( Agustinus. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Gambar Tempat Pemberdayaan Karaka/Kepiting Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi dan Keuangan dengan Topik AuPentingnyaTabungan Dalam Pengelolaan Pendapatan KeluargaAy Masyarakat Kampung Otakwa masih sangat menggantungkan kehidupannya pada alam Mereka mengibaratkan hutan sebagai AuibuAy yang harus dijaga agar selalu menyediakan dan memberikan makanan kepada mereka kapanpun mereka butuhkan. Masyarakat Otakwa mengenal istilah AuKampung AirAy atau dengan kata lainlahan pertanian. Untuk kampung air terdapat kebun campur yang ditanami beberapa jenis tanaman. Kepemilikan di kampung air dengan lokasi yang berbeda, di kampung air hanya dimiliki oleh beberapa keluarga yang lebih dulu menggarap wilayah tersebut. Dikatakan kampung air karena lokasinya kurang lebih 30 mil jauhnya dari kampung Otakwa dan di kampung Air tersebut terdapat beragam jenis tanaman yang ditanam, baik pokok maupun pelengkap seperti cabai, tomat, singkong . , ubi jalar . , keladi, pisang, sukun, serai, lengkuas, jahe, rambutan, dan Masyarakat adat Otakwa banyak memanfaatkan biota laut sebagai sumber pangan. Komoditas utama laut Antara lain, kepiting bakau/karaka, ikan kerapu, ikan kakap merah, dan gelembung renang, yaitu, ikan kakap dan ikan kerapu. Komoditas lainnya yang dimanfaatkan masyarakat adat Kampung Otakwa yaitu ikan bandeng laut, ikan kakap mulut tikus, ikan bulanak, ikan lele, ikan pari, ikan hiu, penyu, ikan duri/sembilang, lasi, kakap batu, ikan cakalang, ikan tenggiri, ikan lema, ikan kapas-kapas, ikan mubara, ikan gabus laut, ikan sumpit, tambelo . ivalvia dalam kayu mangrove yang telah lapu. dan juga udang laut, udang kali, serta udang halus. Hasil laut masih merupakan mata pencaharian utama masyarakat di Kampung Otakwa dimana hasil-hasil laut tersebut mampu memberikan penghasilam dan kehidupan bagi keluarga. Tim pengabdian masyarakat STIE Port Numbay Jayapura melakukan kegiatan lanjutan yaitu memberikan pelatihan AuPentingnyaTabungan Dalam Pengelolaan Pendapatan KeluargaAy di Kampung Otakwa. Jumlah kepala keluarga yang ada di Kampung Otakwa sebanyak 300 Kepala Keluarga dan pada pelatihan dihadiri 50 orang dari beberapa kepala keluarga yang berada di Kampung Otakwa. Karena waktu pelatihan dilaksanakan pukul 09. 00 wit dan waktu tersebut merupakan jam dimana rata-rata masyarakat di kampung Otakwa pergi mencari ikan di laut dan ada juga mencari Karaka di sekitar hutan Gambar Pelatihan/Pemberdayaan Ekonomi dan Agustinus. Dkk. Vol. No. September 2024:22-31 Agustinus. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Materi pelatihan yang disampaikan adalah Menabung dan mengelola keuangan secara bijak, memberi banyak manfaat. Hal yang tak kalah penting. Keluarga punya cadangan dana untuk keperluan Jadi tidak perlu panik sewaktu ada kebutuhan tiba-tiba dan mendesak. Berikut ini beberapa manfaat menabung yang bisa Keluarga dapatkan. Cadangan Dana. Salah satu manfaat penting menabung adalah memiliki cadangan dana atau dana darurat. Keluarga dapat siap untuk menghadapi situasi keuangan tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit yang membutuhkan perawatan dalam waktu lama, atau kebutuhan mendesak lainnya. Cadangan dana ini memberi perlindungan finansial, memberikan ketenangan pikiran sekaligus mengurangi stres, dan menjaga kestabilan keuangan di masa depan. Menghindari Sifat Konsumtif. Gaya hidup konsumtif dan belanja secara impulsif membuat Keluarga melakukan pengeluaran yang tidak terkendali. Jika diteruskan, kondisi tersebut bisa mengganggu kondisi Kebiasaan menabung dapat membantu Keluarga terhindar dari sifat konsumtif. Keluarga jadi lebih sadar akan prioritas kebutuhan dengan menghindari pengeluaran yang tidak perlu. Selain itu. Keluarga juga lebih fokus mengatur keuangan dengan baik dengan mengalokasikan pendapatan bulanan secara bijak. Memiliki lebih banyak uang dalam rekening tabungan membuat Keluarga merasa aman dan siap menghadapi kebutuhan masa depan. Pembahasan Strategi untuk mengembangkan usaha perikanan dengan memanfaatkan permintaan ikan yang tinggi dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan keamanan produk, diversifikasi produk, dan memperluas jaringan pemasaran. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan usaha Fasilitas penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Instalasi Bahan Bakar Minyak merupakan salah satu fasilitas fungsional pelabuhan perikanan. Namun nelayan masih kesulitan dalam mengakses BBM dengan harga normal dan stok yang tersedia tidak pasti. Mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah BBM yang dibutuhkan kapal perikanan di Pelabuhan Pomako - Otakwa, mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah BBM yang disediakan penyalur BBM resmi, serta menentukan persediaan kebutuhan BBM dan merekomendasikan distribusi BBM yang baik bagi nelayan Kampung Otakwa. Nelayan Kampung Otakwa membutuhkan BBM jenis solar dan bensin. Kebutuhan solar subsidi oleh kapal O30 GT sebesar 568. 041 liter selama satu tahun. Kebutuhan solar industri sebanyak 000 liter dalam setahun. BBM jenis bensin yang dibutuhkan sebesar 676. 202 liter dalam setahun. Rekomendasi untuk pendistribusian BBM yang lebih baik adalah melakukan penyederhanaan administasi perikanan agar mudah dalam mengakses BBM subsidi . atu identitas multifungs. , membuka informasi akses kuota ketersediaan BBM untuk sektor perikanan pada setiap tempat pengisian BBM dan membuat mekanisme terstruktur dan pengawasan ketat untuk pembelian BBM subsidi dan non-subsidi. Program meliputi peningkatan pemahaman masyarakat tentang Badan Usaha Milik Desa, peningkatan modal Badan Usaha Milik Desa, pelatihan manajemen keuangan, peningkatan akses pasar, dan peningkatan partisipasi masyarakat. Pelaksanaan program dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas dan merumuskan perbaikan ke depan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat di Pulau Lakkang menegaskan bahwa keberadaan Badan Usaha Milik Desa memiliki potensi strategis yang signifikan untuk menggerakkan perekonomian desa berbasis potensi lokal, asalkan dikelola dengan baik. Meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan terkait pemahaman konsep, permodalan, manajemen keuangan, akses pasar, dan partisipasi masyarakat, upaya penguatan telah berhasil meningkatkan kapasitas pengurus dan mendorong peran aktif masyarakat dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa. Adalah penting untuk menggarisbawahi bahwa pendampingan jangka panjang dan berkelanjutan pasca kegiatan pengabdian menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan efektif dari program-program yang diinisiasi. Lebih lanjut, komitmen pemerintah daerah melalui kebijakan pendukung dan skema pembiayaan menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan serta optimalisasi peran Badan Usaha Milik Desa guna meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat desa. Kesimpulan Maka kegiatan pengabdian masyarakat di masyarakat kampung Otakwa dengan potensi ekonomi yang ada di masyarakat dengan potensi hasil ikan dan karakan yang dominan dan potensi ekonomi baru yang Pemberdayaan Ekonomi danA( Agustinus. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 sedang dikemnangkan di kampung air, juga kehidupan social masyarakat yang bergantung kepada alam dan juga ketergantuangan dengan pihak lain seperti dengan ketergatungan bersama pihak Pemerintah Daerah. Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL). Yayasan Pengembangan Masyarakat Amugme dan Kamoro (YPMAK) dan Juga PT Freeport Indonesia, maka pada pengabdian masyarakat yang didukung dengan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini dapat dibuat beberapa model Siklus penjualan Ikan dan karaka nelayan dapat disajikan sebagai berikut: Model 1. Siklus Ekonomi Nelayan/Potensi Ikan Model 1. Siklus Ekonomi Nelayan/Potensi Ikan Model 1 merupakan hasil perilaku nelayan di Kampung Otakwa dalam mempersiapkan diri mencari ikan dan perilaku setelah mendapatkan hasil tangkapan ikan, dimana masyarakat sebelum berangkat ke laut mereka datang terlebih dahulu kepada pengusaha local atau koperasi untuk mendapatkan Bama, dimana Bama yang mereka peroleh bukan dengan membeli tetapi dengan hutang terlebih dahulu, dengan perjanjian nanti setelah mendapatkan hasil tangkapan ikan mereka menjual kepada pengusaha yang membantu dengan Bama diawal. Setelah dikurangi dengan hutang bama baru selesih menjadi hasil pendapatan nelayan. Model 2. Model Karaka Agustinus. Dkk. Vol. No. September 2024:22-31 Agustinus. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Pada gambar Model 2 atau disebut dengan AuOtakwa Crab ModelAy merupakan keunikan tersendiri bagi masyarakat kampung Otakwa dimana rata-rata nelayan di Kampung Otakwa jika mereka tidak melaut untuk mencari ikan dikarenakan Faktor cuaca ekstrem mereka mencari Karaka / Kepiting. Dengan hutan bakau yang luas dan masih alami menjadi kekuatan bagi masyarakat di Kampung Otakwa, karena kualitas Karaka yang baik dan jumlah Tangkapan Karaka dalam jumlah besar serta memperoleh pendapatan dari penjualan karaka yang menguntungkan. Selain itu hasil Tangkapan Karaka juga menjadi konsumsi bagi Ucapan Terimakasih Terima kasih disampaikan kepada Ketua STIE Port Numbay Jayapura. Kepada PT. Freeport Indonesia dan semua Tim yang terdiri dari Dosen dan mahasiswa magister manajemen yang sudah terlabat aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Otakwa. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Kampung dan seluruh masyarakat yang ada di Kampung Otakwa. Daftar Pustaka