JEBI Vol. No. 2 pp. Copyrigt A 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTS Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia PERAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DALAM MEMEDIASI PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN TERHADAP KINERJA UMKM The Role of Competitive Advantage in Mediating the Influence of Entrepreneurial Orientation on MSME Performance Nova Adhitya Ananda1. Mikhratunnisa1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teknologi Sumbawa Email: nova. ananda@uts. Abstract Entrepreneurial orientation, encompassing innovation, proactiveness, and risk-taking, is believed to enhance competitive advantage and MSME performance. Competitive advantage reflects the ability of MSMEs to create added value through product differentiation, superior quality, and competitive pricing. This study aims to explore the influence of entrepreneurial orientation on MSME performance, with competitive advantage serving as a mediating variable. The research focuses on women entrepreneurs in Sumbawa District. Sumbawa Regency, who play a pivotal role in the local economy. To test the research hypotheses. Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) was employed as the analytical tool. The population of this study comprises women-owned MSMEs in Sumbawa District. Using the rule of thumb of ten times the number of paths in the structural model, a sample of 60 respondents was determined and selected through purposive sampling. The findings reveal that entrepreneurial orientation significantly affects MSME performance, both directly and indirectly, through competitive advantage as a mediating variable. Women entrepreneurs with strong entrepreneurial orientation are proven capable of fostering competitive advantages that support business Keywords: women entrepreneurs. MSME performance, entrepreneurial orientation, competitive advantage. PLS-SEM. ABSTRAK Orientasi kewirausahaan, yang meliputi inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko, diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif dan kinerja UMKM. Keunggulan kompetitif mencerminkan kemampuan UMKM menciptakan nilai tambah melalui diferensiasi produk, kualitas unggul, dan harga kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja UMKM, dengan keunggulan kompetitif sebagai variabel mediasi. Penelitian berfokus pada wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa. Kabupaten Sumbawa, yang memainkan peran penting dalam perekonomian lokal. Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Populasi terdiri dari UMKM yang dimiliki oleh wanita di Kecamatan Sumbawa, dengan menggunakan perhitungan jumlah jalur dikalikan sepuluh didapatkan sampel sebanyak 60 responden yang dipilih dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM, baik secara langsung maupun melalui keunggulan kompetitif sebagai variabel mediasi. Wanita wirausaha yang berorientasi kewirausahaan terbukti mampu menciptakan keunggulan kompetitif yang mendukung pertumbuhan usaha. Kata Kunci: wanita wirausaha, kinerja UMKM. Orientasi kewirausahaan, keunggulan kompetitif. PLS-SEM. PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor ekonomi yang sangat strategis bagi Indonesia, termasuk di Kecamatan Sumbawa. Kabupaten Sumbawa. Nusa Tenggara Barat (NTB). Sektor ini tidak hanya menjadi penggerak utama perekonomian daerah, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, jumlah UMKM di wilayah ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan setiap Pada tahun 2020, tercatat lebih dari 1. 009 UMKM beroperasi di Kabupaten Sumbawa, dan rata-rata terjadi peningkatan sebesar 1. 497 unit UMKM per tahun selama tiga tahun terakhir (Tribunnews, 2. Pertumbuhan ini tidak hanya menunjukkan potensi besar UMKM sebagai sektor ekonomi utama, tetapi juga mencerminkan kemampuan Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia masyarakat lokal dalam mengembangkan peluang usaha, meskipun di tengah berbagai keterbatasan. Namun, di balik pertumbuhan tersebut. UMKM di Kecamatan Sumbawa masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup Beberapa kendala utama yang sering dihadapi oleh pelaku UMKM meliputi akses yang terbatas terhadap modal (Jusly et al. , 2. , rendahnya tingkat adopsi teknologi, kurangnya kemampuan manajerial, serta persaingan pasar yang semakin ketat baik di tingkat lokal maupun nasional (Abdurohim, 2. Tantangan ini menjadi hambatan utama bagi UMKM untuk meningkatkan kinerja mereka secara Dalam konteks ini, orientasi kewirausahaan . ntrepreneurial orientatio. muncul sebagai salah satu pendekatan strategis yang dapat mendukung UMKM dalam menghadapi berbagai kendala tersebut. Orientasi kewirausahaan adalah karakteristik perusahaan yang mencakup inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil Inovasi mencerminkan kemampuan menciptakan ide atau produk baru, proaktivitas adalah inisiatif merespons peluang pasar, dan pengambilan risiko adalah keberanian menghadapi ketidakpastian. Orientasi ini memungkinkan perusahaan bersaing di lingkungan dinamis (Miller, 1. Lumpkin and Dess . misalnya, menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan dapat membantu perusahaan menciptakan strategi yang lebih inovatif dan adaptif, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Namun, dalam konteks UMKM, pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja usaha sering kali tidak bersifat Hal ini menunjukkan pentingnya memahami mekanisme perantara atau variabel mediasi yang dapat menjembatani hubungan tersebut. Keunggulan kompetitif . ompetitive advantag. menjadi salah satu variabel mediasi yang relevan dalam menjelaskan hubungan antara orientasi kewirausahaan dan kinerja UMKM (Sefanya and Ie, 2. Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan yang dimiliki perusahaan dalam menciptakan sesuatu yang unik dan nilai tambah yang sulit untuk dapat ditiru oleh pesaing. Dalam konteks UMKM di Kecamatan Sumbawa, keunggulan kompetitif dapat diwujudkan melalui pengembangan produk berbasis potensi lokal, seperti kerajinan tangan, olahan hasil pertanian, serta jasa pariwisata yang khas. Keunggulan kompetitif yang berbasis lokal ini tidak hanya dapat meningkatkan daya saing UMKM, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal yang menjadi salah satu aset penting bagi masyarakat Sumbawa. Di sisi lain, fenomena menarik yang muncul dalam konteks UMKM di Kecamatan Sumbawa adalah meningkatnya partisipasi wanita dalam dunia kewirausahaan. Tren ini mencerminkan semakin besarnya peran wanita dalam mendukung perekonomian keluarga dan komunitas. Wanita wirausaha sering kali menghadirkan pendekatan yang unik dalam mengelola usaha, seperti menekankan pada hubungan interpersonal, inovasi yang berkelanjutan, serta keberlanjutan sosial (Setiadi et al. , 2. Namun, wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa juga menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Kendala seperti diskriminasi gender, keterbatasan akses terhadap modal, dan beban peran ganda sebagai pengelola rumah tangga menjadi hambatan yang sering kali mengurangi potensi optimal mereka dalam mengembangkan usaha. Sebagian besar penelitian yang ada tentang orientasi kewirausahaan, keunggulan kompetitif, dan kinerja usaha JEBI Vol. No. 2, pp. masih bersifat umum atau berfokus pada perusahaan besar di negara maju (Annisa and Elfarina, 2023. Feranita and Setiawan, 2019. Sefanya and Ie, 2. Literatur yang secara khusus mengeksplorasi hubungan antara orientasi kewirausahaan dan kinerja UMKM dengan keunggulan kompetitif sebagai variabel mediasi dalam konteks lokal, seperti Kecamatan Sumbawa, masih sangat terbatas. Selain itu, dimensi gender dalam kewirausahaan, terutama yang terkait dengan kontribusi dan tantangan wanita wirausaha, juga belum banyak diteliti secara mendalam di wilayah ini. Maka dari itu, hal ini menciptakan kesenjangan penelitian yang penting untuk diisi guna memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika UMKM di KecamatanSumbawa. Dalam mengisi kesenjangan yang terjadi tersebut penelitian ini mencoba untuk mengeksplorasi peran orientasi kewirausahaan dalam meningkatkan kinerja UMKM yang dimediasi oleh keunggulan kompetitif, serta menyoroti peran dan tantangan wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis yang signifikan bagi literatur kewirausahaan, serta memberikan rekomendasi praktis yang relevan bagi para pemangku pemberdayaan, dan pelaku UMKM. Selain itu, diharapkan dari penelitian ini dapat mendorong terciptanya kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis gender untuk mendukung pengembangan UMKM yang berkelanjutan di Kecamatan Sumbawa. Orientasi kewirausahaan pada wanita wirausaha memainkan peran penting dalam menentukan kinerja UMKM. Dengan memanfaatkan inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko, wanita wirausaha dapat mengatasi berbagai tantangan dan menciptakan keunggulan kompetitif yang mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan usaha (Pandansari et al. , 2. Hubungan ini semakin relevan dalam konteks UMKM di Indonesia, di mana wanita memegang peran strategis dalam sektor ekonomi lokal. Melalui inovasi, wanita wirausaha menciptakan produk atau layanan yang unik untuk memenuhi kebutuhan pasar dan meningkatkan daya Proaktivitas memungkinkan mereka merespons peluang dan tantangan secara cepat, seperti memperluas jaringan atau menjalin kemitraan strategis. Sementara itu, keberanian mengambil risiko membantu mereka menghadapi ketidakpastian dengan mengadopsi teknologi baru atau mencoba pasar potensial. Sehingga hipotesis pertama, orientasi kewirausahaan berpengaruh terhadap kinerja UMKM. Orientasi kewirausahaan menciptakan keunggulan kompetitif melalui inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko yang saling mendukung. Keunggulan kompetitif yang terbentuk menjadi modal utama bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saing, mempertahankan posisi pasar, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan (Syamsudin et , 2. Inovasi memungkinkan perusahaan menciptakan produk atau layanan unik yang membedakan mereka dari Proaktivitas mendorong perusahaan untuk memanfaatkan peluang dan merespons perubahan pasar lebih cepat daripada pesaing. Sementara itu, keberanian mengambil risiko memungkinkan perusahaan menghadapi ketidakpastian dan mengeksplorasi strategi baru yang potensial. Hipotesis kedua dalam penelitian ini yaitu orientasi kewirausahaan berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Keunggulan kompetitif . ompetitive advantag. merupakan faktor kunci yang berkontribusi pada kinerja UMKM, terutama dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin Keunggulan kompetitif mencerminkan kemampuan UMKM untuk menciptakan nilai unik yang sulit ditiru oleh pesaing, baik melalui diferensiasi produk, efisiensi operasional, maupun penguasaan pasar tertentu. Dalam konteks UMKM, keunggulan kompetitif dapat diperoleh melalui pemanfaatan sumber daya lokal, inovasi produk berbasis kebutuhan pasar, dan pengembangan hubungan erat dengan pelanggan (Pandansari et al. , 2. Ketika UMKM meningkatkan daya tarik produk atau layanan mereka di mata konsumen, yang berdampak langsung pada peningkatan penjualan dan pangsa pasar. Selain itu, efisiensi operasional yang lebih baik memungkinkan UMKM untuk mengelola biaya secara optimal, sehingga meningkatkan profitabilitas. Hubungan jangka panjang dengan pelanggan juga menciptakan loyalitas konsumen, yang menjadi faktor penting dalam mempertahankan keberlanjutan usaha. Hipotesis ketiga adalah keunggulan kompetitif berpengaruh terhadap kinerja UMKM. Kinerja usaha merupakan aspek krusial dalam perkembangan sebuah bisnis, termasuk UMKM. Menurut Wibowo . , kinerja adalah hasil kerja atau prestasi kerja yang dicapai oleh individu atau kelompok dalam organisasi. Dalam konteks UMKM, suatu tingkat keberhasilan yang diraih berdasarkan berdasarkan target yang telah ditetapkan disebut sebagai Kinerja usaha dapat diukur menggunakan indikator finansial dan non-finansial. Indikator finansial mencakup aspek seperti pertumbuhan penjualan, peningkatan modal usaha, dan tren kenaikan keuntungan. Di sisi lain, indikator non-finansial meliputi perluasan cakupan pasar dan penambahan jumlah tenaga kerja. Dalam penelitian ini, kinerja UMKM diukur menggunakan indikator yang mencakup kemajuan pelanggan, persepsi terhadap profitabilitas, dan persepsi terhadap volume penjualan (Sefanya and Ie, 2. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai keberhasilan usaha, baik dari segi keuangan maupun non-keuangan. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk mencapai posisi unggul dibandingkan pesaing dengan menawarkan nilai superior kepada pelanggan. Menurut Porter . , keunggulan ini dapat dicapai melalui strategi kepemimpinan biaya atau diferensiasi produk. Dalam konteks UMKM, keunggulan kompetitif dapat diukur melalui indikator seperti harga yang bersaing, kualitas produk yang unggul, dan keunikan produk yang ditawarkan. Dengan memahami dan menerapkan strategi keunggulan kompetitif. UMKM dapat meningkatkan daya saing dan kinerja bisnis mereka di pasar yang semakin kompetitif. Menurut Miller . , orientasi kewirausahaan ditandai oleh tiga dimensi utama: inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko. Inovasi mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menciptakan ide-ide segar dan menjalankan proses kreatif yang menghasilkan produk atau layanan yang Sementara itu, proaktivitas mengacu pada sejauh mana perusahaan mampu mengambil inisiatif dan bertindak lebih cepat dibandingkan pesaing dalam merespons peluang atau perubahan pasar, dengan perspektif ke depan dalam mengantisipasi dan mengejar peluang baru. Keberanian mengambil risiko menunjukkan sejauh mana perusahaan bersedia membuat komitmen besar dan berisiko dalam JEBI Vol. No. 2, pp. Lumpkin and Dess . memperluas konsep ini dengan menambahkan dua dimensi tambahan: otonomi dan agresivitas kompetitif. Otonomi merujuk pada kemampuan individu atau tim dalam organisasi untuk mengambil keputusan independen dalam mengejar peluang bisnis. Agresivitas kompetitif mengukur kecenderungan perusahaan untuk secara langsung dan intensif menantang pesaing guna mencapai keunggulan di pasar. METODE PENELITIAN Pendekatan kuantitatif merupakan sebuah pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dengan menguji hubungan antara orientasi kewirausahaan, keunggulan kompetitif, dan kinerja UMKM. Pendekatan kuantitatif dipilih karena mampu memberikan gambaran yang objektif dan terukur mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian kuantitatif bersifat eksplanatori, tujuannya adalah untuk menjelaskan kausalitas hubungan yang terjadi antar variabel (Sekaran, 2. yang telah ditentukan, seperti orientasi kewirausahaan sebagai variabel independen, keunggulan kompetitif sebagai variabel mediasi, dan kinerja UMKM sebagai variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh UMKM yang dimiliki oleh wanita di Kecamatan Sumbawa. Kabupaten Sumbawa. Nusa Tenggara Barat. UMKM yang dimiliki oleh wanita dipilih sebagai populasi karena wanita wirausaha memainkan peran strategis dalam mendorong perekonomian lokal dan menghadirkan pendekatan unik dalam pengelolaan Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian (Ferdinand, 2. Adapun kriterianya yaitu pemilik UMKM wanita. UMKM telah beroperasi minimal dua tahun, dan UMKM memiliki keunikan produk atau layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) yang berbasis varian, yang memiliki keunggulan dapat digunakan dengan ukuran sampel kecil dibandingkan SEM berbasis kovarian. Menurut Chin and Newsted . ukuran sampel minimum dalam PLS-SEM dapat ditentukan berdasarkan kriteria Sepuluh kali jumlah indikator formatif terbanyak . engabaikan indikator reflekti. Sepuluh kali jumlah jalur yang mengarah pada model struktural. Ukuran sampel yang berkisar antara 30-50 hingga lebih dari 200. Berdasarkan kriteria tersebut, penelitian ini menggunakan acuan poin b, yaitu sepuluh kali jumlah jalur yang mengarah pada model struktural. Dalam penelitian ini, terdapat 3 jalur antar konstruk laten dalam model struktural. Oleh karena itu, jumlah sampel dihitung sebagai berikut 10y3 = 30. Dengan demikian, ukuran sampel minimal dalam penelitian ini adalah 30 sampel diperluas oleh peneliti menjadi 60 sampel. Peneliti tidak menggunakan acuan poin a karena tidak terdapat indikator formatif dalam model penelitian ini. Selain itu, jumlah sampel 60 yang digunakan telah memenuhi persyaratan pada acuan poin c, yaitu berada dalam kisaran 30-50 hingga lebih dari 200. Oleh karena itu, ukuran sampel ini dianggap memadai untuk menghasilkan estimasi yang valid dan reliabel dalam analisis PLS-SEM. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). PLSSEM merupakan metode analisis berbasis varians yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan menguji hubungan yang terjadi antar variabel laten dalam model penelitian (Hair et al. Proses analisis data dengan PLS-SEM dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan berikut (Hair et al. , 2. Pembuatan Mode. Model Pengukuran (Measurement Evaluasi Model Struktural (Structural Mode. Interpretasi Hasil HASIL Pembuatan Model Pengukuran Model penelitian ini dirancang untuk mengeksplorasi hubungan kausal antara orientasi kewirausahaan, keunggulan kompetitif, dan kinerja UMKM. Dengan menganalisis hubungan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam tentang strategi pengelolaan UMKM yang berorientasi pada peningkatan daya saing dan kinerja Model penelitian dapat dilihat pada gambar 1. KU2 Keunggulan Kompetitif Kinerja UMKM Orientasi Kewirausahaan KU3 KU4 OK1 OK2 OK3 OK4 Sumber : Data primer diolah . Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan bahwa indikator KK1. KK2. KK3 dan KK4 memiliki korelasi terhadap konstruk keunggulan kompetitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi terhadap konstruk orientasi kewirausahaan dan kinerja UMKM. Demikian juga, korelasi antara setiap konstruk dengan indikator-indikatornya harus lebih tinggi dibandingkan korelasi indikator tersebut dengan konstruk lain dalam model penelitian. Pendekatan lain untuk menilai discriminant validity adalah dengan mengevaluasi nilai Average Variance Extracted (AVE). Konstruk dianggap valid jika nilai AVE melebihi 0,50, yang menunjukkan bahwa sebagian besar varians indikator dapat dijelaskan oleh konstruk tersebut (Gana and Broc, 2. Tabel 2. Average Variance Extracted (AVE) Konstruk AVE Orientasi Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif Kinerja UMKM Sumber : Data primer diolah . Gambar 1. Model Structural Outer model dalam PLS-SEM menilai validitas dan reliabilitas indikator yang mengukur variabel laten. Indikator reflektif dianggap valid jika memiliki loading factor > 0,70, meskipun nilai 0,50-0,60 masih diterima untuk model yang sedang dikembangkan (Chin and Newsted, 1. Reliabilitas diuji melalui Composite Reliability (CR) > 0,70 dan Average Variance Extracted (AVE) > 0,50. Discriminant validity dipastikan dengan nilai cross loading masing-masing Evaluasi ini memastikan indikator valid dan reliabel sebelum analisis struktural dilakukan. Tabel 1 menunjukan di hasil dari discriminant validity. Tabel 1. Discriminant Validity KK1 Keunggulan Kompetitif Kinerja UMKM Orientasi Kewirausahaan KK2 KK3 KK4 KU1 JEBI Vol. No. 2, pp. Status AVE > 0,50 Valid Valid Valid Selain memeriksa validitas konstruk, evaluasi reliabilitas konstruk juga menjadi langkah penting dalam analisis. Reliabilitas konstruk dapat dinilai melalui Composite Reliability dan Cronbach's Alpha. Sebuah konstruk dinyatakan reliabel apabila kedua indikator ini memiliki nilai lebih dari 0,70, yang mengindikasikan tingkat konsistensi internal yang baik dalam pengukuran (Ghozali, 2. Hasil pengujian reliabilitas pada penelitian ini adalah sebagai Tabel 3. Uji Reliabilitas Konstruk Cronbach Alpha Orientasi Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif Kinerja UMKM Sumber : Data primer diolah . Composite Reliability Status > 0,70 Valid Valid Valid Evaluasi Model Struktural Setelah tahap evaluasi outer model, langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap inner model. Inner model digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antar konstruk laten dalam model struktural. Kualitas model struktural dinilai berdasarkan nilai R-Square. Model dianggap sangat baik jika nilai R-Square melebihi 0,67, cukup baik atau moderat jika Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia berada di atas 0,33, dan lemah jika nilainya lebih dari 0,19 namun kurang dari 0,33 (Ghozali, 2. Hasil evaluasi inner model dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:Tabel 4. RSquare Nilai R Square Keunggulan Kompetitif Kinerja UMKM Sumber : Data primer diolah . Q-Square atau predictive relevance adalah ukuran yang digunakan untuk menilai kemampuan prediktif dari model penelitian terhadap variabel dependen. Nilai Q-Square menunjukkan seberapa baik model dapat menjelaskan varians variabel dependen yang diteliti. Apabila nilai Q-Square lebih besar dari 0, model dianggap memiliki relevansi prediksi yang baik, sedangkan nilai kurang dari 0 mengindikasikan kurangnya kemampuan prediktif model. Rentang nilai QSquare adalah antara 0 dan 1, di mana semakin mendekati 1, semakin kuat kemampuan model dalam memprediksi variabel Penilaian Q-Square memberikan bukti tambahan tentang validitas model struktural dan menjadi indikator penting dalam mengevaluasi kualitas model. Berdasarkan data dari Tabel 4, nilai Q-Square dihitung : 1 Ae . -R. -R. 1 Ae . 1 Ae . 1 Ae 0. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan nilai t-statistik, di mana batas nilai t-tabel pada tingkat signifikansi 5% adalah 1,972. Hipotesis dianggap signifikan jika nilai t-statistik yang dihasilkan lebih besar dari 1,972. Pendekatan ini digunakan untuk menentukan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian. Hasil uji hipotesis yang diperoleh dapat memberikan gambaran apakah hubungan yang diuji dalam model penelitian ini signifikan secara Berikut adalah hasil dari pengujian tersebut:Tabel 5. Pengaruh Langsung Orientasi Kewirausahaan Keunggulan Kompetitif Original Sampel Ie JEBI Vol. No. 2, pp. Statistik Signifikan Signifikan Berdasarkan Tabel 5, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama, kedua, dan ketiga dalam penelitian ini terbukti Selain mengidentifikasi pengaruh langsung antara variabel-variabel penelitian, analisis juga menunjukkan adanya pengaruh tidak langsung. Untuk mengukur pengaruh tidak langsung tersebut, digunakan uji Sobel sebagai metode pengujian mediasi. Hasil dari uji Sobel memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang peran variabel mediasi dalam model penelitian ini. Berikut adalah hasil dari analisis pengaruh tidak langsung tersebut: Tabel 6. Pengaruh Tidak Langsung Mediasi Hubungan Keunggulan Orientasi Kewirausahaan Kompetitif Ie Kinerja UMKM Sumber : Data primer diolah . Sobel Test Hasil perhitungan Sobel test menunjukkan bahwa nilai z > 1,972 pada tingkat signifikansi 5%. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa keunggulan kompetitif berfungsi sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara orientasi kewirausahaan dan kinerja UMKM. Hal ini mengindikasikan bahwa orientasi kewirausahaan tidak hanya berpengaruh langsung terhadap kinerja UMKM tetapi juga memberikan dampak melalui peningkatan keunggulan kompetitif. Gambar 2. R-Square Konstruk Keunggulan Kompetitif Ie Kinerja UMKM Orientasi Kewirausahaan Ie Kinerja UMKM Sumber : Data primer diolah . Status > Signifikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM di Kecamatan Sumbawa yang dikelola oleh wanita wirausaha. Orientasi kewirausahaan yang melibatkan inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kinerja usaha. Wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa cenderung inovatif dalam menciptakan produk berbasis lokal yang unik dan berdaya saing tinggi. Proaktivitas mereka terlihat dari kemampuan merespons kebutuhan pasar secara cepat, seperti dengan memperluas jaringan pemasaran dan mengadopsi strategi Selain itu, keberanian mengambil risiko, misalnya melalui investasi dalam pengembangan usaha, memungkinkan UMKM untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas. Hasil ini sejalan dengan penelitian Syamsudin et al. , . yang menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan menjadi determinan penting dalam meningkatkan kinerja bisnis melalui inovasi dan keberanian menghadapi ketidakpastian. Orientasi kewirausahaan juga ditemukan berpengaruh positif terhadap keunggulan kompetitif. Wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa mampu menciptakan keunggulan kompetitif dengan memanfaatkan inovasi untuk menghasilkan produk-produk unik berbasis budaya lokal, seperti olahan makanan khas dan kerajinan tangan. Selain itu, proaktivitas mereka membantu memanfaatkan peluang pasar, baik lokal maupun nasional, sementara keberanian mengambil risiko memungkinkan mereka berinovasi dalam proses produksi dan Keunggulan kompetitif ini tercermin dalam diferensiasi produk, kualitas yang lebih baik, dan harga yang Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Temuan ini mendukung pendapat Porter . , yang menyatakan bahwa inovasi dan diferensiasi adalah elemen penting dalam menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa keunggulan kompetitif berpengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM. Wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa yang berhasil menciptakan keunggulan kompetitif melalui kualitas produk, harga yang kompetitif, dan layanan pelanggan yang baik menunjukkan kinerja usaha yang lebih baik. Keunggulan kompetitif ini meningkatkan daya tarik usaha mereka di mata konsumen, yang berkontribusi pada peningkatan penjualan, loyalitas pelanggan, dan pertumbuhan usaha. Hal ini sejalan dengan penelitian Pandansari et al. , . , yang menyatakan bahwa keunggulan kompetitif menjadi faktor kunci yang mendukung keberlanjutan dan keberhasilan bisnis di pasar yang kompetitif. KESIMPULAN Wanita wirausaha di Kecamatan Sumbawa dengan orientasi kewirausahaan yang tinggi cenderung mampu menciptakan keunggulan kompetitif yang mendukung peningkatan kinerja UMKM. Inovasi, proaktivitas, dan keberanian mengambil risiko memainkan peran penting dalam menciptakan produk serta layanan unggul yang meningkatkan daya saing usaha di pasar dinamis. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan penelitian ke wilayah lain, seperti kabupaten atau provinsi, guna membandingkan hubungan antar variabel dalam berbagai konteks. Penambahan variabel seperti digitalisasi usaha, kebijakan pemerintah, atau jejaring sosial dapat memberikan wawasan lebih komprehensif. Pendekatan kualitatif atau metode campuran dapat digunakan untuk mendalami motivasi dan tantangan yang dihadapi wanita wirausaha. Fokus pada segmen UMKM tertentu, seperti jasa atau teknologi, juga dapat memperkaya penelitian. DAFTAR PUSTAKA