Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 2. SEPTEMBER 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 RELEVANSI DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN PESANTREN: PENDEKATAN MEANINGFUL. MINDFUL. DAN JOYFUL LEARNING Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum UIN Sunan Ampel. Surabaya Email : awafi881@gmail. com, irmasoraya@uinsa. id, mkurjum@uinsa. Abstract One of the approaches considered relevant in addressing the challenges of 21st-century education is deep learning, which emphasizes deep understanding, active engagement, and intellectual transformation. This approach comprises three main pillars: meaningful learning, mindful learning, and joyful learning, which are explored and analyzed in relation to their relevance within the learning practices of pesantrenAitraditional Islamic educational institutions known for their distinctive pedagogical heritage. This study employs a qualitative approach using the library research method, analyzing primary and secondary literature from various reputable academic sources. The data were analyzed using thematic analysis to identify the core characteristics of deep learning as reflected in pesantren practices, including the sorogan, bandongan, bahtsul masail, and innovations in kitab kuning instruction. The findings reveal that pesantren have practically implemented the deep learning approach through various learning methods that demonstrate cognitive engagement, reflective awareness, and a joyful, contextual learning environment. These findings indicate that pesantren are capable of bridging classical Islamic pedagogical values with the demands of 21st-century educational transformation. Keywords: deep learning, meaningful learning, mindful learning, joyful learning, pesantren Abstrak Salah satu pendekatan yang dinilai relevan dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 adalah deep learning, yaitu pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, keterlibatan aktif, dan transformasi intelektual. Pendekatan ini terdiri atas tiga pilar utama: meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning, yang dalam penelitian ini dieksplorasi dan dianalisis relevansinya dalam praktik pembelajaran di pesantren, yang merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional yang kaya akan kekhasan pedagogik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan . ibrary researc. , melalui penelaahan literatur primer dan sekunder dari berbagai sumber ilmiah yang kredibel. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik untuk mengidentifikasi karakteristik utama deep learning dalam praktik pembelajaran pesantren, seperti metode sorogan, bandongan, bahtsul masail, dan inovasi dalam pembelajaran kitab kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren telah menerapkan pendekatan deep learning secara praksis melalui berbagai metode pembelajaran yang mencerminkan keterlibatan kognitif, kesadaran reflektif, serta suasana belajar yang menyenangkan dan kontekstual. Temuan ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjembatani nilai-nilai pedagogik Islam klasik dengan kebutuhan transformasi pendidikan abad ke-21. Kata kunci: deep learning, meaningful learning, mindful learning, joyful learning, pesantren PENDAHULUAN Dalam konteks pendidikan modern, deep learning telah berkembang menjadi pendekatan strategis yang mampu menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Berbeda dengan pembelajaran permukaan . urface learnin. yang lebih menekankan pada hafalan dan reproduksi informasi, deep learning berfokus pada pengembangan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya secara bermakna, serta melibatkan mereka dalam proses belajar yang reflektif dan menyenangkan (Dolmans et al. , 2016. Hussain et al. , 2. Konsep deep learning sebagaimana dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Ketiga pilar ini membentuk suatu kerangka pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akuisisi pengetahuan, tetapi juga menekankan pada pemahaman konseptual dan kesadaran reflektif, dan meningkatkan motivasi (Feriyanto & Anjariyah. Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Meaningful learning terjadi ketika pengetahuan baru dapat dihubungkan secara substantif dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya, sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang relevan dan mendalam (Gupte et al. , 2. Sementara itu, mindful learning menekankan pentingnya proses belajar yang disertai dengan kesadaran penuh terhadap konteks dan tujuan pembelajaran, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami makna dari apa yang dipelajari (Lewittes & Morris, 2. Adapun joyful learning, yang sering disalahpahami hanya sebagai suasana yang menyenangkan, sejatinya merupakan strategi pedagogis yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung peningkatan motivasi serta keterikatan emosional terhadap materi pembelajaran (Cronqvist, 2. Ketiganya dapat menjadi fondasi yang kuat dalam membangun sistem pendidikan yang mendukung deep learning. Menarik untuk dicermati bahwa nilai-nilai dasar dalam pendekatan deep learning sejatinya telah lama hidup dan berkembang dalam pendidikan pesantren. Sebagai institusi pendidikan Islam yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, pesantren secara inheren mengembangkan tradisi pengajaran yang bersifat mendalam, berulang, dan reflektif. Kitab kuning sebagai kurikulum inti pesantren bukan hanya menjadi sumber rujukan keilmuan, tetapi juga merepresentasikan simbol otentisitas intelektual Islam klasik (Bruinessen, 1. Melalui berbagai metode pengkajian seperti sorogan, bandongan, dan halaqah/musyawarah, santri dituntut untuk memahami teks secara mendalam, menguasai struktur bahasa Arab klasik yang kompleks, serta menafsirkan pesan-pesan keagamaan dengan ketelitian dan refleksi kritis (Ifendi. YaAocub et al. , 2. Dalam hal ini, prinsip-prinsip pembelajaran yang diterapkan di pesantren memiliki kemiripan esensial dengan pendekatan deep learning yang berkembang dalam kajian pedagogik modern, meskipun perumusan eksplisit dalam terminologi pendidikan kontemporer masih relatif terbatas. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa konsep deep learning mulai mendapat perhatian dalam konteks pendidikan Islam, meskipun penerapannya di pesantren secara eksplisit dalam kerangka teoritis deep learning masih jarang dirumuskan secara sistematis. Artikel Pesantren as a Prototype of Education with a Deep Learning Approach menjadi pelopor dalam mengidentifikasi bahwa metode tradisional pesantren seperti sorogan dan bandongan dapat memfasilitasi deep learning, meskipun belum banyak diuraikan dalam pendekatan pedagogik modern (Maimun et al. , 2. Sementara itu, penelitian oleh di SMP Nurul Jadid menyoroti pentingnya strategi joyful learning dalam membangun kesadaran berbahasa Arab santri, terutama melalui permainan edukatif dan pendekatan kontekstual yang menyenangkan (Ubay et al. , 2. Meskipun berfokus pada aspek joyful learning, penelitian ini memperlihatkan relevansi pendekatan pembelajaran aktif dan bermakna dalam konteks lembaga yang bernaung di bawah pesantren. Artikel Deep Learning Opportunities in Progressive Islamic Education menambahkan dimensi teoritis yang lebih kuat dengan menegaskan bahwa pembelajaran PAI sangat ideal dikembangkan melalui pendekatan deep learning yang mengintegrasikan meaningful, mindful, dan joyful learning dalam menyampaikan materi agama yang kompleks dan beragam (B. Nasution et al. , 2. Ketiga penelitian ini menunjukkan adanya celah teoretik yang relevan untuk diisi, yaitu merumuskan pendekatan deep learning secara eksplisit dan holistik dalam praktik pembelajaran di pesantren, terutama dalam mengintegrasikan ketiga pilar tersebut sebagai kerangka pembelajaran khas pesantren. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil celah tersebut dengan menelaah bagaimana pendekatan deep learning dapat digunakan sebagai kerangka teoretis untuk membaca ulang praktik pembelajaran di pesantren, khususnya melalui lensa meaningful, mindful, dan joyful learning. Pendekatan ini memiliki potensi yang besar untuk memperkaya khazanah teori pendidikan modern melalui integrasi nilai-nilai, metode, dan filosofi pembelajaran yang bersumber dari tradisi lokal dan religius. Mengkaji pesantren dalam perspektif deep learning tidak hanya membuka ruang dialog antara tradisi dan modernitas, tetapi juga menawarkan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan pendekatan pedagogik yang kontekstual, transformatif, dan holistik. Dengan menempatkan pesantren dalam kerangka pembelajaran yang mendalam, institusi ini dapat diakui sebagai aktor signifikan dalam percakapan global mengenai masa depan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kognisi semata, tetapi juga pada pembentukan karakter, kesadaran, dan makna hidup. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kepustakaan . ibrary researc. (Darmalaksana, 2. untuk mengeksplorasi konsep deep learning dalam wacana pendidikan kontemporer dan menelaah relevansinya terhadap praktik pembelajaran di pesantren. Data diperoleh dari literatur primer dan sekunder seperti buku ilmiah, artikel jurnal, hasil penelitian terdahulu, serta referensi klasik dan modern tentang pendidikan Islam dan pedagogi pesantren. Seluruh sumber dianalisis secara kritis guna merumuskan Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 karakteristik deep learning dalam kerangka meaningful, mindful, dan joyful learning, serta menelusuri implementasinya dalam konteks pembelajaran pesantren. Literatur dipilih secara selektif berdasarkan relevansi dengan fokus penelitian, menggunakan kata kunci seperti deep learning, meaningful learning, mindful learning, joyful learning, dan Aupembelajaran di pesantrenAy. Sumber data dikumpulkan dari platform bereputasi seperti Scopus. Google Scholar. Semantic Scholar. DOAJ, dan perpustakaan digital institusi pendidikan. Analisis data dilakukan melalui pendekatan tematik(Najmah et , 2. , dengan mengidentifikasi tema utama terkait nilai-nilai deep learning dalam konteks pendidikan Fokus analisis diarahkan pada praktik khas seperti sorogan, bandongan, bahtsul masail, dan inovasi pembelajaran kitab kuning, untuk menelaah sejauh mana prinsip deep learning telah terimplementasi secara Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani tradisi pendidikan Islam dengan paradigma pedagogik kontemporer yang kontekstual, transformatif, dan berbasis kearifan lokal. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Deep Learning Dengan Pendekatan Meaningful. Mindful, dan Joyful Learning Konsep deep learning dalam pendidikan berasal dari penelitian Marton dan Syljy di Swedia, yang meneliti strategi pemrosesan mental siswa ketika diminta menjawab pertanyaan pemahaman setelah membaca Dalam eksperimen tersebut, ditemukan dua pendekatan utama dalam proses belajar: pertama, surface learning, yaitu pendekatan yang berfokus pada penghafalan dan reproduksi informasi secara terpisah tanpa refleksi mendalam. kedua, deep learning, yaitu pendekatan yang mendorong siswa untuk memproses informasi secara kritis dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Marton & Syaljy. Mystakidis, 2. Pembelajaran mendalam ini tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan materi secara konseptual, tetapi juga mendorong keterlibatan peserta didik dalam proses belajar yang reflektif, bermakna, dan menyenangkan(Dolmans et al. , 2016. Hussain et al. , 2. Dalam perspektif ilmu kognitif, deep learning dipandang sebagai kemampuan individu untuk mengorganisasi berbagai potongan pengetahuan yang terpisah menjadi suatu skema pemahaman yang utuh dan kompleks (Soergel, 2. Hal ini menunjukkan bahwa deep learning melibatkan proses kognitif tingkat tinggi yang menuntut integrasi pengetahuan dan pemahaman lintas konsep. Selain itu, deep learning lahir dari pertemuan antara tiga elemen penting: penguasaan, identitas, dan kreativitas. Penguasaan mencakup pemahaman substansial terhadap konten, kemampuan mentransfer pengetahuan, serta keterampilan mengenali pola dan struktur dalam suatu disiplin ilmu. Identitas berkaitan dengan motivasi intrinsik yang mendorong pelajar untuk memaknai pembelajaran sebagai bagian dari dirinya, sedangkan kreativitas menunjukkan kemampuan pelajar untuk tidak hanya menyerap pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikannya secara orisinal dalam konteks nyata. Ketiganya membentuk landasan kuat bagi pembelajaran yang tidak hanya efektif secara kognitif, tetapi juga transformatif secara personal dan sosial (Mehta & Fine, 2. Paradigma ini mendorong siswa untuk bersikap terbuka, reflektif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman. Untuk memperkuat kerangka deep learning, perlu dipahami tiga komponen utama yang saling terintegrasi, yaitu meaningful learning . embelajaran bermakn. , mindful learning . embelajaran dengan kesadaran penu. , dan joyful learning . embelajaran yang menyenangka. Ketiganya membentuk fondasi pembelajaran mendalam yang tidak hanya berfokus pada akuisisi pengetahuan, tetapi juga menekankan keterlibatan aktif dan reflektif peserta didik. Meaningful learning, sebagaimana dikemukakan oleh Novak, terjadi ketika siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, sehingga mendorong partisipasi aktif dan pemaknaan yang lebih mendalam. Dalam proses ini, siswa tidak menerima informasi secara pasif, melainkan secara aktif membangun pemahaman baru berdasarkan kerangka kognitif yang telah ada (Gupte et al. , 2. Oleh karena itu, meaningful learning menjadi elemen esensial dalam mewujudkan pembelajaran mendalam melalui aktivasi berpikir tingkat tinggi dan konstruksi makna baik secara individual maupun sosial. Dalam praktiknya, meaningful learning diwujudkan melalui pembelajaran aplikatif, pemecahan masalah, dan strategi kooperatif yang mendorong siswa mengaitkan teori dengan konteks nyata. Metode seperti penyelidikan dan pemecahan masalah efektif membentuk pemahaman bermakna karena memungkinkan integrasi konsep baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki (Mystakidis, 2. Pengaitan dengan konteks kehidupan nyata melalui kegiatan berbasis penelitian juga memperkuat keterlibatan aktif dan reflektif siswa dalam proses belajar (States et al. , 2. Interaksi antar siswa dalam pembelajaran kooperatif juga mendorong terciptanya pemahaman yang mendalam, karena siswa secara aktif membangun dan merefleksikan pengetahuan secara bersama-sama (Sharan, 2. Penggunaan analogi juga menjadi strategi efektif, karena membantu siswa memahami konsep baru dengan mengaitkannya pada pengetahuan yang telah Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 dikenal (Gyrses et al. , 2. Dengan demikian, pembelajaran bermakna tidak hanya berfokus pada isi materi, tetapi juga pada proses pembentukan koneksi dan makna oleh peserta didik. Aspek lain yang tak kalah esensial dalam kerangka deep learning adalah mindful learning. Pendekatan ini merujuk pada konsep mindfulness sebagaimana dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn dan Ellen Langer, yang menekankan pentingnya kesadaran penuh . dalam setiap proses pembelajaran. Mindful learning mendorong siswa untuk hadir secara utuh dalam proses belajar dengan meningkatkan perhatian, refleksi, dan keterlibatan terhadap materi (Pratama et al. , 2. Oleh karena itu, guru berperan sebagai penggerak keterampilan berpikir kritis melalui penyajian kasus nyata, situasi kontekstual, dan diskusi kolaboratif yang merangsang kreativitas dan refleksi (B. Nasution et al. , 2. Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam mengonstruksi pengetahuan melalui kesadaran penuh terhadap apa yang dipelajari. Pendekatan ini mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent-centered learnin. , sejalan dengan prinsip konstruktivisme yang menekankan tiga tahapan utama: pemberian informasi, transformasi pengetahuan dan pengalaman, serta evaluasi (Juliharti et al. , 2. Dalam model ini, siswa berperan sebagai subjek aktif yang secara sadar membentuk dan menilai pemahamannya. Lebih dari sekadar pendekatan pedagogis, mindful learning juga merupakan pendekatan psikologis yang mengintegrasikan kesadaran diri, motivasi intrinsik, dan kepercayaan diri dalam proses belajar (Yeh. Chen, et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sadar berkorelasi positif dengan kreativitas (Yeh. Chang, et al. , 2. , berpikir kritis (Sonia Piscayanti, 2. , serta kesejahteraan subjektif dan psikologis siswa (Wang et al. , 2. Dengan demikian, mindful learning tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman akademik, tetapi juga memperkuat dimensi afektif dan psikologis yang krusial dalam pendidikan abad ke-21. Komponen ketiga yang tak kalah penting dalam menunjang efektivitas deep learning adalah joyful learning, yakni pembelajaran yang menekankan pentingnya suasana belajar yang menyenangkan dan membangkitkan semangat belajar siswa. Pembelajaran ini dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dan menjadikan proses belajar sebagai pengalaman positif yang bebas dari tekanan (Fitri et al. , 2. Dalam konteks ini, siswa tidak hanya menikmati kegiatan belajar, tetapi juga merasa dihargai dan termotivasi untuk terus mengeksplorasi pengetahuan. Kunci dari joyful learning terletak pada penciptaan skenario pembelajaran yang menarik dan mampu memikat perhatian siswa (Yuniarti et al. , 2. Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik, terlibat secara emosional, dan mengalami kegembiraan dalam belajar (Bhakti et al. , 2. Joyful learning dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan kreatif sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. Penggunaan teknologi, seperti pembelajaran berbasis mobile Android, memberikan semangat baru bagi siswa untuk belajar secara mandiri dan fleksibel (Wicaksono, 2. Dalam pembelajaran bahasa Arab, integrasi permainan oleh guru mampu meningkatkan motivasi siswa sehingga tujuan pembelajaran lebih mudah dicapai (Ubay et al. , 2. Pendekatan serupa diterapkan pada pengajaran aksara Jawa melalui model sintagmatik berbasis joyful learning, yang melibatkan permainan untuk menciptakan suasana kelas yang dinamis dan interaktif (Sukoyo et al. , 2. Selain itu, integrasi seni pertunjukan seperti musik, tari, dan drama dalam pembelajaran tidak hanya memperkaya suasana belajar, tetapi juga mendorong ekspresi diri, kolaborasi, dan penghayatan materi secara lebih mendalam (Agarwal & Verma, 2. Dengan demikian, integrasi ketiga pendekatan ini secara sinergis dalam proses pembelajaran menjadi kerangka utuh dari deep learning dapat membentuk fondasi pembelajaran mendalam yang tidak hanya berfokus pada akumulasi pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman konseptual yang kuat, kesadaran reflektif dalam proses belajar, serta pengalaman belajar yang menyenangkan dan memotivasi. Pesantren dan Pendekatan Deep Learning Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berakar kuat dalam sejarah Indonesia, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap warisan intelektual bangsa, khususnya melalui tradisi pembelajaran kitab kuning. Sebagai kurikulum inti, kitab kuning merepresentasikan simbol keilmuan otentik yang bertahan lintas generasi. (Bruinessen, 1. Meskipun tidak secara eksplisit menggunakan istilah pedagogik modern, praktik pembelajaran di pesantren mencerminkan prinsip-prinsip deep learning. Hal ini tercermin dalam metode pengkajian kitab kuning yang menuntut santri untuk memahami teks secara mendalam, menguasai struktur bahasa Arab klasik yang kompleks, serta menafsirkan pesan-pesan keagamaan dengan ketelitian dan refleksi kritis (Ifendi, 2021. YaAocub et al. , 2. Tradisi keilmuan pesantren menempatkan santri sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Santri tidak hanya dituntut menghafal, tetapi juga menafsirkan, mengaitkan makna teks dengan realitas sosial, serta merefleksikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. (Akmal et al. , 2025. Zulmuqim et al. , 2. Proses ini mencerminkan karakteristik utama deep learning, yaitu keterlibatan kognitif yang mendalam, refleksi kritis terhadap informasi, dan konstruksi pemahaman konseptual secara berkelanjutan. Dengan Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 demikian, pesantren secara substantif telah mempraktikkan pendekatan pembelajaran yang transformatif dan berorientasi pada pengembangan makna, jauh sebelum konsep tersebut dikenal luas dalam dunia pendidikan Sistem pembelajaran khas pesantren seperti sorogan, bandongan, dan musyawarah atau halaqah menjadi sarana utama dalam mewujudkan kedalaman belajar yang selaras dengan prinsip deep learning. Ketiga metode ini membuka ruang interaksi langsung antara guru dan santri, memungkinkan terjadinya dialog, klarifikasi makna, serta bimbingan yang bersifat personal maupun kolektif. (Muzakki & NisaAo, 2020. Paramansyah et al. , 2. Meskipun pesantren tradisional mempertahankan sistem ini secara konsisten, banyak pesantren semi-modern telah mengintegrasikan kurikulum nasional ke dalam pembelajaran. Integrasi ini mencerminkan kemampuan adaptif pesantren terhadap perubahan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional yang menjadi identitasnya. (Isbah, 2. Dengan demikian, pesantren tidak hanya berperan sebagai benteng pelestarian ilmu agama, tetapi juga sebagai ruang dinamis yang terus relevan menjawab tantangan pendidikan kontemporer. Praktik Pendidikan Pesantren dalam Bingkai Meaningful Learning Prinsip meaningful learning tercermin secara kuat dalam praktik pembelajaran di pesantren, khususnya melalui metode sorogan yang menekankan keterlibatan aktif santri dalam mengonstruksi makna dari teks-teks Dalam metode ini, santri secara individual menyetorkan pemahaman mereka kepada guru, yang kemudian memberikan koreksi, mengajukan pertanyaan untuk menguji kedalaman pemahaman, serta menambahkan penjelasan yang memperkaya makna teks (Satira et al. , 2024. Taufiqurrahman & Al Amin. Proses ini tidak hanya menuntut persiapan maksimal dari santri, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab intelektual atas materi yang mereka kaji (Muzakki & NisaAo, 2. Salah satu bentuk persiapan tersebut adalah praktik menuliskan makna kata . spek semanti. dan struktur tata bahasa Arab . spek sintakti. berupa iAorab di bawah teks Arab yang tidak dipahami, yang kemudian digunakan sebagai alat bantu untuk menafsirkan teks secara utuh (S. Nasution et al. , 2. Kegiatan ini menjadi jembatan kognitif yang menghubungkan pengetahuan lama dengan informasi baru, memperkuat konstruksi makna, serta menjadikan analogi dan penalaran sebagai bagian dari proses belajar. Lebih jauh, sorogan juga memberikan ruang interaksi bermakna antara guru dan santri(Rinaningsih et al. , 2. , dan mendukung keaktifan siswa dalam proses belajar sehingga menjadikan pembelajaran lebih intens dan kontekstual (Rahmatul Aziz Al Mursyidin & Hakim, 2. Metode sorogan menjadi sarana konstruktif yang memperkuat pemahaman santri secara menyeluruh dan mendalam terhadap teks, sekaligus mencerminkan prinsip meaningful learning dalam konteks pembelajaran pesantren Sementara itu, metode bandongan atau wetonan, yang merupakan bentuk pengajaran kolektif tradisional di pesantren, juga memiliki kontribusi dalam mendukung konstruksi makna secara bermakna. Dalam praktiknya, santri mendengarkan penjelasan guru mengenai teks secara lisan sambil mencatat makna-makna penting dengan penuh perhatian (Kompri, 2. Meski secara umum metode ini lebih menekankan pendekatan teacher-centered dan belum sepenuhnya mencerminkan prinsip meaningful learning karena minimnya partisipasi aktif santri, namun perkembangan zaman mendorong beberapa pesantren untuk merekonstruksi pendekatan ini agar lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer. Dalam transformasi tersebut, bandongan tidak lagi semata-mata menjadi forum ceramah pasif, melainkan dijadikan sebagai tahap awal penyampaian materi yang kemudian dikaji lebih lanjut secara mendalam melalui diskusi tekstual dan kontekstual. Diskusi ini dipimpin oleh santri dan didampingi oleh guru sebagai fasilitator, menciptakan ruang dialektis untuk membangun pemahaman bersama (Chairi, 2019. Rahmatul Aziz Al Mursyidin & Hakim, 2. Dalam proses ini, santri diajak untuk mengaitkan isi kandungan teks dengan realitas sosial, pengalaman religius, serta nilai-nilai tradisi pesantren yang hidup dalam komunitas Interaksi sosial yang terjadi dalam ruang diskusi tersebut turut memperkuat aspek kolaboratif dari meaningful learning, di mana pemahaman dibentuk tidak hanya secara individual tetapi juga melalui dinamika kelompok yang reflektif dan saling melengkapi. Praktik pembelajaran di pesantren, baik melalui metode sorogan dan bandongan secara substansial mencerminkan prinsip meaningful learning. Santri tidak hanya menerima informasi secara pasif, melainkan diajak untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya. Proses ini memungkinkan terjadinya konstruksi makna yang mendalam, fungsional, dan kontekstual. Meski sebagian metode seperti bandongan masih memiliki kecenderungan teacher-centered, namun adaptasi dan inovasi yang dilakukan menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pembelajaran di pesantren tidak hanya mempertahankan warisan keilmuan tradisional, tetapi juga mampu memberi ruang bagi penguatan nalar kritis dan penghayatan spiritual yang utuh. Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Bahtsul Masail Sebagai Representasi Mindful Learning Pembelajaran di lingkungan pesantren tidak dapat dilepaskan dari forum Bahtsul Masail, yaitu wadah musyawarah ilmiah bagi para santri dalam merespons berbagai persoalan hukum Islam kontemporer. Praktik ini merupakan ciri khas pendidikan Islam tradisional yang telah berlangsung secara turun-temurun. Namun, jika ditinjau dari pendekatan mindful learning, forum Bahtsul Masail ternyata mencerminkan prinsip-prinsip inti dari pembelajaran yang sadar, reflektif, dan kontekstual. Mindful learning, sebagaimana dirumuskan oleh Ellen Langer dan Jon Kabat-Zinn, mengacu pada pembelajaran yang melibatkan kesadaran penuh terhadap proses belajar, keterlibatan aktif, fleksibilitas berpikir, dan perhatian terhadap konteks yang sedang dihadapi. Dalam konteks ini. Bahtsul Masail tidak hanya menjadi praktik diskusi hukum, melainkan juga menjadi model pembelajaran Islam yang mendalam dan transformatif yang menjawab ragam permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat dengan argumentasi berlandaskan dalil (Haidar, 1. Forum Bahtsul Masail mendorong santri untuk hadir secara utuhAibaik secara intelektual, emosional, maupun spiritualAidalam proses pembelajaran. Santri tidak sekadar mendengarkan atau menerima informasi secara pasif, tetapi terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, dan merumuskan jawaban atas persoalanpersoalan aktual berdasarkan referensi kitab kuning yang muAotabar (Hudri et al. , 2023. Pratomo, 2. Kesadaran penuh terhadap konteks masalah, kehati-hatian dalam berpendapat, serta keterlibatan dalam musyawarah mencerminkan prinsip awareness dalam mindful learning. Proses ini juga menuntut santri untuk mengolah informasi secara reflektif, membandingkan pendapat, serta menyusun argumentasi hukum yang logis dan kontekstual (YaAocub et al. , 2. Selain itu. Bahtsul Masail melatih fleksibilitas kognitif santri melalui penerapan berbagai metode istinbat hukum seperti ijtihad intiqaAoi, ijtihad insyaAoi, qauli, ilhaqi, dan manhaji yang disesuaikan dengan kompleksitas masalah yang dihadapi. Praktik ini tidak hanya menunjukkan keluasan wawasan hukum Islam, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir terbuka dan adaptif yang merupakan elemen penting dalam mindful learning (Abdillah et al. , 2. Forum ini juga menciptakan ruang belajar kolaboratif yang ditopang oleh nilai-nilai toleransi, saling menghormati pendapat, dan dialog egaliter sebagaimana ditemukan dalam penelitian (Adi, 2. , yang menunjukkan bahwa pembelajaran dalam Bahtsul Masail juga mengembangkan kesadaran sosial dan empati di kalangan santri. Aspek penting lainnya adalah otonomi belajar dan motivasi intrinsik santri yang tercermin dari keterlibatan mereka dalam proses seleksi dan pelatihan aktivis Bahtsul Masail, seperti di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo (Makhfud & Asyuari, 2. maupun dalam kegiatan Forum Musyawarah Anjang Sana Anjang Sini (FMAA) di Jember (Helmi & Hanifuddin, 2. Di kedua forum tersebut, santri tidak hanya mengikuti proses diskusi, tetapi juga berperan sebagai subjek aktif yang menentukan jalannya pembelajaran melalui kajian mandiri, pemilihan rujukan, dan penyusunan pendapat hukum. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahtsul masail di pesantren mengandung semangat heutagogi, yaitu pembelajaran berbasis kemandirian dan refleksi diri, yang sangat erat dengan prinsip mindful learning (Sirojuddin & Yaqin, 2. Bahtsul Masail bukan hanya forum pembelajaran tradisional di pesantren, melainkan juga representasi konkret dari mindful learning dalam pendidikan Islam. Ia menggabungkan kesadaran penuh dalam belajar, refleksi kritis, keterlibatan aktif, fleksibilitas berpikir, dan kepedulian sosial sebagai satu kesatuan yang utuh dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, pendekatan ini layak dijadikan model pembelajaran berbasis kesadaran yang mampu menjawab tantangan intelektual dan spiritual sekaligus. Inovasi Pembelajaran Kitab Kuning Dengan Pendekatan Joyful Learning Inovasi pembelajaran kitab kuning di pesantren mencerminkan respons terhadap tantangan zaman sekaligus pergeseran paradigma menuju pendekatan yang lebih humanistik dan menyenangkan. Prinsip joyful learning, yang menekankan keterlibatan emosional, suasana belajar positif, dan pembebasan dari tekanan, terefleksi dalam berbagai metode inovatif yang diterapkan di sejumlah pesantren di Indonesia. Hal ini tampak dalam penerapan metode seperti Al-Miftah Lil Ulum dan Amtsilati, di mana pembelajaran gramatika Arab dikemas melalui lagu, nadzom, media visual yang menarik, serta ritme berirama menggunakan alat musik sederhana (Muniro et al. , 2023. Yuningsih et al. , 2. Inovasi ini menciptakan suasana belajar yang ringan dan menyenangkan, sehingga memudahkan santri memahami materi yang sebelumnya dianggap kompleks dan membosankan (Silfa et al. , 2. Selain itu, variasi metode dan media pembelajaran yang diterapkan juga menjadi cerminan kuat dari prinsip joyful learning. Pendekatan eklektik yang diterapkan di pesantren modern dalam meningkatkan penguasaan bahasa Arab, seperti Gontor dan al-Amien, yang memadukan game-based learning, direct method, dan community learning, menciptakan pengalaman belajar yang dinamis, interaktif, dan kontekstual (Hanani et al. , 2. Hal serupa tampak dalam metode Iktisyaf, yang mengintegrasikan teknik tanya jawab, kuliah Abdul Wafi. Irma Soraya. Mohammad Kurjum Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 umum, pengulangan, dan hafalan, memberikan fleksibilitas bagi guru dalam menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik dan gaya belajar santri (Husnaini et al. , 2. Melalui kombinasi strategi ini, santri tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam proses konstruksi pengetahuan. Inovasi pembelajaran di pesantren menunjukkan tingginya keterlibatan emosional dan sosial santri. Praktik seperti musahharoh . engulangan lisan berkelompo. dan takrir . resentasi bergili. dalam metode Nubdzatul Bayan, misalnya, tidak hanya meningkatkan penguasaan materi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kolaborasi antar santri (Sinta et al. , 2. Kegiatan ini menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan menyenangkan, selaras dengan karakteristik joyful learning yang mendorong keterlibatan personal dan rasa memiliki. Selain itu, metode inovatif di pesantren dirancang untuk menumbuhkan rasa pencapaian Penggunaan sistem jilid dan evaluasi modular dalam metode Al-Miftah. Tamyiz, dan Nubdzatul Bayan memungkinkan santri merasakan keberhasilan kecil yang memperkuat motivasi intrinsik serta membangun kepercayaan diri dalam proses belajar berkelanjutan (Arif et al. , 2023. Muniro et al. , 2. Integrasi antara tradisi klasik dan pendekatan inovatif menjadi kekuatan khas pesantren dalam mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan tanpa mengabaikan otoritas keilmuan. Metode tradisional seperti bandongan dan sorogan tetap dipertahankan, namun dimodifikasi agar relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Dengan demikian, inovasi pembelajaran kitab kuning di pesantren tidak hanya efektif secara kognitif, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang bermakna, menyenangkan, dan Pembelajaran yang sebelumnya identik dengan hafalan dan tekanan kini bergeser menuju proses yang lebih partisipatif, adaptif, dan sesuai dengan semangat joyful learning dalam kerangka deep learning abad PENUTUP Deep learning dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, reflektif, dan bermakna. Pendekatan ini dijelaskan lebih lanjut melalui tiga kerangka utama, yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Meaningful learning merujuk pada proses pembelajaran yang membangun pemahaman baru berdasarkan kerangka kognitif yang telah ada. Sementara itu, mindful learning menekankan pentingnya kesadaran penuh dalam belajar, yang mencakup fleksibilitas berpikir, keterlibatan aktif, kesadaran kontekstual, serta kepekaan terhadap hal-hal baru. Adapun joyful learning berfokus pada penciptaan suasana belajar yang menyenangkan, yang mampu membangkitkan semangat dan menjadikan pengalaman belajar bebas dari tekanan. Ketiga pendekatan ini saling melengkapi dalam menciptakan proses pembelajaran yang holistik dan transformatif. Pesantren telah mengimplementasikan pendekatan deep learning melalui penguatan pemahaman esensial dan transformasi intelektual santri. Pendekatan ini tercermin dalam prinsip meaningful learning, yang tampak nyata pada metode sorogan. Dalam metode ini, santri secara aktif dan individual mengolah struktur kognitif mereka dalam memahami teks kitab, yang nantinya harus dipertanggungjawabkan di hadapan guru. Prinsip ini juga mulai terinternalisasi dalam metode bandongan, yang kini mengalami pergeseran dari pendekatan teacher-centered menuju diskusi yang lebih kolaboratif dan reflektif, sehingga memperkuat konstruksi makna secara kolektif. Selanjutnya, forum Bahtsul Masail mencerminkan prinsip mindful learning, yang ditunjukkan melalui keterlibatan aktif santri dalam menganalisis problematika kontemporer secara sadar, reflektif, dan kontekstual. Di sisi lain, inovasi dalam pembelajaran kitab kuning mencerminkan penguatan prinsip joyful learning, melalui penerapan metode-metode kreatif yang menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memperkuat keterlibatan emosional, serta menumbuhkan interaksi sosial dan rasa memiliki dalam komunitas belajar. DAFTAR PUSTAKA