Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article ANALYSIS OF HYPERTENSION INCIDENCE IN PRODUCTIVE AGE GROUP AT PLAJU HEALTH CENTER PALEMBANG CITY Analisis Kejadian Hipertensi pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Plaju Kota Palembang Grease Prathama1. Ali Harokan2. Dianita Ekawati3. Yusnilasari4 1,2,3,4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada. Palembang. Indonesia *Corresponding Author: Grease Prathama Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada. Palembang. Indonesia Email: prathamagrease@gmail. Keyword: Productive Age. Hypertension. Health Center. Kata Kunci: Usia Produktif. Hipertensi. Puskesmas. A The Author. 2025 Abstract Hypertension is a non-communicable disease with increasing prevalence, particularly among the productive age group. Lifestyle factors and family history are suspected to significantly contribute to the incidence of hypertension. This study aimed to analyze the association between various risk factors and the incidence of hypertension in individuals of productive age. This was a cross-sectional study involving 375 respondents aged 15Ae59 years registered at Plaju Public Health Center. Samples were selected using accidental Data were collected using questionnaires, blood pressure measurements, and metabolic status assessments. Data analysis included univariate, bivariate (Chi-Square tes. , and multivariate . ogistic regressio. Bivariate analysis revealed significant associations between several factorsAiincluding education, family history of hypertension, sodium intake, physical activity. BMI, smoking, cholesterol, and stressAiwith hypertension. Logistic regression identified sodium intake as the most dominant factor influencing The regression model demonstrated strong predictive ability. Hypertension among the productive age population is influenced by a combination of lifestyle and genetic Controlling sodium intake, promoting healthy lifestyles, and conducting routine screening are essential for hypertension prevention in this age group. Abstrak Article Info: Received : June 11, 2025 Revised : August 10, 2025 Accepted : August 22. Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif. Faktor gaya hidup dan riwayat keluarga diduga berperan besar dalam kejadian hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan berbagai faktor risiko dengan kejadian hipertensi pada usia Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 375 responden usia 15Ae59 tahun yang terdaftar di Puskesmas Plaju. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan tekanan darah serta status metabolik. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat . ji Chi-Squar. , dan multivariat . egresi logisti. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa beberapa faktor seperti pendidikan, riwayat hipertensi keluarga, asupan natrium, aktivitas fisik. IMT, merokok, kolesterol, dan stres memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa asupan natrium merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kejadian hipertensi. Model regresi memiliki kekuatan prediktif yang baik dalam menjelaskan kejadian hipertensi pada populasi ini. Hipertensi pada usia produktif dipengaruhi oleh kombinasi faktor gaya hidup dan predisposisi genetik. Pengendalian asupan natrium, promosi gaya hidup sehat, dan skrining rutin sangat penting untuk mencegah hipertensi pada kelompok usia ini. PENDAHULUAN Tekanan darah tinggi, juga dikenal sebagai hipertensi, ialah masalah kesehatan global yang makin memprihatinkan. Secara umum, hipertensi diberi definisi sebagai ketika tekanan darah seseorang di atas 120/80 mmHg 1. Hipertensi merupakan satu di antara tantangan kesehatan global, terutama di sejumlah negara berkembang 2. Mengacu World Health Organization (WHO) hipertensi merupakan penyebab utama sejumlah komplikasi penyakit tidak menular (PTM) contohnya kasus serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kecacatan, hingga komplikasi diabetes melitus dan pada tahun 2016. PTM bertanggung jawab atas 72% kematian global Hipertensi juga penyebab utama kematian dini diseluruh dunia 3, 4. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Mengacu data dari Organisasi Kesehatan Dunia . , diprediksi 1,28 miliar orang usia antara 30 serta 79 tahun mengalami hipertensi, dan angka ini diperkirakan akan meningkat seiring pada perubahan pola makan dan gaya hidup 2. Di sejumlah negara berkembang seperti Indonesia, hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat yang , terutama bagi orang dewasa muda dan orang-orang usia kerja. Target global untuk penyakit tidak menular yakni membuat berkurang prevalensi hipertensi yakni 33% pada tahun 2010 serta 20304. Meski orang lanjut usia sering kali lebih mungkin menderita hipertensi, ternyata orang-orang di usia produktif juga lebih mungkin menderitanya 5. Sebab hal itu disejumlah negara berkembang pada saat ini prioritas pelayanan kesehatan ialah pencegahan dan pengendalian penyakit menular namun sekarang beralih ke pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular atau Non Communicable Disease 6. Mengacu data dari World Health Organization (WHO) tentang status Global Report On Non Communicable Disease, orang dewasa berusia 18 tahun ke atas ratarata mengalami tekanan darah tinggi berada pada angka 22 %7 Prevalensi hipertensi pada dewasa muda meningkat sebab gaya hidup yang tidak sehat, obesitas, dan sosio-ekonomi. Pergeseran tren penyakit saat ini dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular juga berkontribusi pada peningkatan kasus yang mempunyai kaitan pada Beban cardio vascular disease yang disebabkan hipertensi pada dewasa muda membuat meningkat angka kematian atau tahun hidup dengan disabilitasdan dari 1,28 miliar orang di seluruh dunia yang merasakan tekanan darah tinggi, hanya 21% yang bisa mengendalikannya 9. Permenkes no 4 tahun 2019 penduduk usia pelayanan minimal bidang kesehatan yaitu pada rentang 15-59 tahun. Kesehatan usia produktif krusial sekali untuk mendukung serta kualitas hidup Supaya produktivitas dan kualitas hidup bisa terjaga, kesehatan orang-orang di usia produktif sangatlah penting. Pola hidup sehat mencakup pola makan imbang, olahraga teratur, serta pengelolaan stres yang baik, mempunyai dampak yang significant terhadap kesehatan orang-orang di usia produktif 11. Meningkatnya disebabkan gaya hidup tidak baik di kalangan orang usia produktif. Gaya hidup yang tidak sehat merupakan penyumbang yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan hipertensi 12. Gaya hidup masyarakat ialah faktor yang memengaruhi kehidupan mereka. Gaya hidup yang tidak sehat berkontribusi terhadap tingginya angka kematian di Indonesia 4. Prevalensi hipertensi pada kelompok umur 31Ae44 tahun yakni 31,6% serta pada kelompok umur 45Ae54 tahun yakni 45,3%, dengan prevalensi terendah di Provinsi Papua . ,2%) dan tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan . ,1%). Rentang usia untuk "dewasa muda" ialah 18Ae40 tahun. Provinsi Sumatera Selatan prevalensi hipertensi berdasarkan riskesdas . sebesar 30,4% sendiri pada peningkatan jumlah kasus hipertensi dimana pada tahun 2021 ada 987. 295 kasus meningkat tajam ditahun 2023 menjadi 1. 068 kasus. Dari data diatas bisa dilihat bahwa kejadian hipertensi itu meningkat Tiap tahunnya 4. Kota Palembang, sebagai satu di antara pusat metropolitan di Sumatera Selatan merasakan perubahan modernisasi yang begitu cepat, baik pertumbuhan ekonomi ataupun perubahan gaya atau pola hidup. Perubahan gaya hidup berhubungan seperti konsumsi makanan tinggi garam, rendahnya aktifitas fisik, serta stress berkontribusi pada peningkatan kasus hipertensi 4. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2023 dan 2024 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 menempati peringkat pertama penyakit dengan jumlah kasus terbanyak di fasilitas kesehatan tingkat pertama kota palembang. Adapun jumlah kasus tersebut sebanyak 555 kasus pada tahun 2023 dan pada tahun 2024 meningkat menjadi 171. Kecamatan Plaju merupakan kecamatan yang mempunyai populasi padat beragam aktifitas masyarakat ataupun industri berpotensi menghadapi beban kesehatan yang lebih Sebagai satu di antara institusi pelayanan kesehatan lapis pertama. Puskesmas Plaju diharapkan berperan pada pencegahan serta penanggulangan penyakit tidak menular, mencakup hipertensi 13. Berdasarkan data laporan angka kesakitan Puskesmas kota Palembang diraih bahwa Puskesmas Plaju termasuk dalam urutan ke lima Puskesmas dengan kasus hipertensi tertinggi di kota Palembang dan berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan di Puskesmas Plaju diraih bahwa hipertensi menduduki urutan awal dengan kasus terbanyak selama dua tahun adapun data sasaran SPM Hipertensi usia produktif sebesar 36527 jiwa dan capaian spm hipertensi usia produktif dipuskemas plaju yaitu 13. produktif sebesar 37. 85% 13. Penelitian Sidabutar. Nababan5ada hubungan jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, asupan natrium dan obesitas terhadap kejadian hipertensi. Penelitian Iskandar. Mamlukah6 memperlihatkan ada hubungan riwayat keluarga, stress serta gaya hidup terhadap kejadian hipertensi. Penelitian Asikin. Badriah8 ada hubungan antara riwayat potasium dan obesitas terhadap kejadian Mengacu latar belakang maka perlu dilaksanakan penelitian terkait kejadian hipertensi usia produktif di Puskesmas Plaju kota Palembang tahun 2025. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional hubungan antara berbagai faktor risiko dengan kejadian hipertensi pada usia produktif dalam satu waktu tertentu. Desain identifikasi hubungan antara variabel bebas dan terikat serta memberikan gambaran prevalensi hipertensi secara efisien. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi: jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat hipertensi keluarga, asupan natrium, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, riwayat kadar kolesterol, dan tingkat stres. Sementara itu, variabel dependennya adalah kejadian hipertensi yang telah Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh individu usia produktif . Ae59 tahu. yang terdaftar sebagai pasien di Puskesmas Plaju, dengan jumlah populasi 536 orang berdasarkan data kunjungan tahun 2024. Penentuan besar sampel dilakukan dengan merujuk pada tabel Krejcie dan Morgan, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 375 orang dengan tingkat kepercayaan 95% (Z = 1,. dan margin of error sebesar 5%. Pengambilan sampel dilakukan dengan berdasarkan kehadiran responden yang pengumpulan data di Puskesmas Plaju, dengan tetap memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah individu berusia 15Ae59 tahun, terdaftar sebagai pasien di Puskesmas Plaju, dan Kriteria eksklusi meliputi individu dengan riwayat penyakit jantung atau kondisi medis serius lainnya, ibu hamil, individu yang tidak tercantum dalam register harian Puskesmas Plaju, serta yang https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 tidak memiliki catatan pemeriksaan kadar faktor risiko dominan. Hasil analisis ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang paling berkontribusi terhadap hipertensi pada kelompok usia produktif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan rekam medis, kemudian dianalisis secara bertahap. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik responden serta distribusi frekuensi dan proporsi masing-masing Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antara masing-masing dengan kejadian hipertensi. Keputusan pengujian didasarkan pada nilai signifikansi . -valu. , di mana nilai p < 0,05 dianggap Besar risiko . dds ratio/OR) dari faktor risiko terhadap kejadian hipertensi kontingensi 2 x 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menyajikan distribusi frekuensi dan berdasarkan variabel-variabel yang diteliti. Variabel independen meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat hipertensi, riwayat hipertensi keluarga, asupan natrium, aktivitas fisik, indeks massa tubuh (IMT), kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kadar kolesterol, dan Sementara itu, variabel dependen adalah kejadian hipertensi. Data ini diperoleh dari 375 responden usia produktif yang terdaftar di Puskesmas Plaju. Selanjutnya, analisis multivariat dengan regresi logistik ganda digunakan untuk mengetahui pengaruh simultan dari variabel independen terhadap kejadian hipertensi serta untuk mengidentifikasi Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Variabel Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Rendah Tinggi Riwayat Hipertensi Hipertensi Tidak Riwayat Hipertensi Keluarga Ada Tidak Ada Asupan Natrium Tidak Sesuai Sesuai Aktivitas Fisik Kurang Cukup IMT Tidak Normal Normal Merokok Tidak Konsumsi Alkohol Frekuensi Persentase https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Variabel Tidak Kadar Kolesterol Tinggi Normal Stres Stres Normal Berdasarkan Tabel 1, mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 284 orang . ,7%) dan sebagian besar memiliki tingkat pendidikan tinggi sebanyak 254 orang . ,7%). Sebanyak 204 responden . ,5%) memiliki riwayat hipertensi, dan 250 orang . ,7%) memiliki riwayat hipertensi dalam keluarganya. Asupan natrium responden mayoritas sesuai dengan kebutuhan, yaitu sebanyak 204 orang . ,4%). Frekuensi Persentase sebanyak 200 orang . ,5%). Sebanyak 200 responden . ,5%) juga memiliki status IMT normal. Sebagian besar responden tidak merokok . ,1%) dan tidak mengonsumsi alkohol . ,9%). Kadar kolesterol normal ditemukan pada 266 responden . ,9%), sedangkan 109 responden . ,1%) memiliki kadar kolesterol tinggi. Dari sisi psikologis, mayoritas responden mengalami stres sebanyak 228 orang . ,8%), dan sisanya 147 orang . ,2%) berada dalam kondisi Dari segi aktivitas fisik, lebih dari separuh responden tergolong cukup aktif secara fisik Tabel 2. Analisis Kejadian Hipertensi pada Kelompok Usia Produktif di Puskesmas Plaju Kota Palembang Variabel Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Rendah Tinggi Riwayat Keluarga Ada Tidak Ada Asupan Natrium Tidak Sesuai Sesuai Aktivitas Fisik Kurang Cukup IMT Tidak Normal Normal Merokok Tidak Konsumsi Alkohol Konsumsi Tidak Kadar Kolesterol Tinggi Normal Hipertensi Tidak Total P Value CI 95% 0,227 0,8-22 0,000 1,7-4,5 0,000 7,8-23,3 0,000 15,450,5 0,000 2,3-5,6 0,000 1,4-4,1 0,014 1,2-4,3 0,629 0,2-24,6 0,000 4,2-13,1 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Stres Stres Normal 0,000 Sebagian besar variabel menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian Variabel yang berhubungan signifikan . < 0,. meliputi pendidikan (OR = 2,. , riwayat hipertensi keluarga (OR = 13,. , asupan natrium (OR = 27,. , 2,7-6,6 aktivitas fisik (OR = 3,. IMT (OR = 2,. , merokok (OR = 2,. , kadar kolesterol (OR = 7,. , dan stres (OR = 4,. Variabel konsumsi alkohol . = 0,. dan jenis kelamin . = 0,. tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap kejadian hipertensi. Tabel 3 Hasil Model Akhir Analisis Regresi Logistik Variabel Asupan Natrium Constanta P Value 0,000 Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel asupan natrium merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kejadian hipertensi pada responden. Model regresi logistik yang diperoleh adalah Z = 21,453 Ae 4,102 (Asupan Natriu. Ketika individu memiliki asupan natrium yang tidak sesuai (>2000 mg/har. , maka nilai Z menjadi -25,555. Dengan menggunakan rumus probabilitas 1 / . e^(-Z)), diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,015 atau setara dengan 1,5%. Artinya, individu dengan asupan natrium berlebih memiliki peluang sebesar 1,5% untuk mengalami hipertensi berdasarkan model ini. Selain itu, nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,763 menunjukkan bahwa sebesar 76,3% variasi kejadian hipertensi dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model, 23,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. stres menunjukkan nilai p < 0,05, menandakan adanya hubungan yang bermakna secara statistik. Temuan ini sejalan dengan teori dan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa hipertensi dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi Pendidikan yang rendah dapat berdampak pada rendahnya pemahaman terhadap pola hidup sehat, termasuk pengaturan pola makan dan manajemen Sementara itu, riwayat keluarga memperbesar risiko individu. Kurangnya aktivitas fisik dan status gizi berlebih yang ditunjukkan oleh IMT tidak normal juga berkontribusi terhadap tekanan darah Merokok dan stres menjadi faktor pemicu tambahan yang memperburuk kondisi vaskular, mempercepat timbulnya Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa sebagian besar variabel independen memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada responden usia Variabel seperti pendidikan, riwayat hipertensi keluarga, asupan natrium, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, kadar kolesterol, dan Faktor konsumsi natrium yang tidak sesuai menunjukkan asosiasi paling kuat terhadap kejadian hipertensi, dengan odds ratio 27,9. Hal mengindikasikan bahwa individu yang mengonsumsi natrium berlebih memiliki kemungkinan 27,9 kali lebih besar untuk https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 mereka yang asupannya sesuai. Ini sejalan dengan teori fisiologis bahwa natrium berlebih dapat meningkatkan volume cairan ekstrasel dan resistensi perifer, yang berujung pada peningkatan tekanan darah. Dalam konteks populasi Indonesia, kebiasaan konsumsi makanan tinggi garam, seperti makanan olahan dan asin, cukup umum dan sulit dikendalikan 16, 17. Edukasi gizi yang terbatas serta preferensi budaya terhadap rasa asin memperparah risiko ini. Oleh karena itu, pengendalian asupan natrium menjadi salah satu intervensi utama dalam pencegahan hipertensi berbasis komunitas. Intervensi ini harus disertai strategi komunikasi yang sesuai dengan tingkat pendidikan masyarakat agar Analisis multivariat mendukung temuan dari analisis bivariat, di mana variabel asupan natrium tetap menjadi prediktor paling signifikan dalam model regresi Persamaan regresi yang diperoleh yaitu Z = -21,453 Ae 4,102 (Asupan Natriu. , sebesar 1,5% jika seseorang memiliki asupan natrium tidak sesuai. Meskipun angka ini tampak kecil, tetapi dalam model regresi logistik, nilai ini menunjukkan peningkatan risiko pada level individu setelah dikontrol dengan variabel lain. Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,763 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 76,3% variasi kejadian Ini berarti kontribusi variabelvariabel independen secara simultan cukup tinggi dalam memprediksi kejadian Sisanya, sebesar 23,7%, dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak dikaji dalam studi ini. Kekuatan model ini menunjukkan pentingnya peran pola konsumsi dalam kejadian penyakit tidak menular 19, 20. Selain natrium, variabel stres juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi, dengan OR sebesar 4,2. Individu yang mengalami stres memiliki kemungkinan empat kali lebih besar mengalami hipertensi dibandingkan individu dengan kondisi stres normal 21. Secara fisiologis, stres memicu peningkatan hormon adrenalin dan kortisol yang dapat menyempitkan pembuluh darah . Dalam jangka panjang, paparan stres kronis menyebabkan disregulasi tekanan darah dan mempercepat kerusakan vaskular. Temuan ini menguatkan pentingnya pendekatan psikososial dalam program pencegahan hipertensi. Edukasi mengenai manajemen stres serta peningkatan dukungan sosial menjadi aspek penting yang perlu dikembangkan. Terutama bagi kelompok usia produktif yang rentan terhadap tekanan pekerjaan dan sosial23, 24. Status indeks massa tubuh (IMT) juga memiliki peran penting dalam kejadian Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa responden dengan IMT tidak normal memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi (OR = 2,. Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan resistensi pembuluh darah, yang pada akhirnya menaikkan tekanan darah. Selain itu, lemak tubuh yang tinggi memicu peradangan sistemik dan resistensi insulin, yang turut meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian ini menggarisbawahi perlunya pengendalian berat badan melalui pola makan seimbang dan peningkatan aktivitas Intervensi berbasis gaya hidup menjadi sangat penting untuk menurunkan risiko hipertensi secara menyeluruh. Oleh karena itu, pengelolaan IMT menjadi komponen penting dalam kebijakan promosi kesehatan di tingkat pelayanan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Secara keseluruhan, hasil penelitian ini multifaktorial dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi. Meskipun asupan natrium merupakan faktor paling dominan, peran variabel lain seperti stres. IMT, pendidikan, dan riwayat keluarga tidak dapat diabaikan. Upaya pengendalian hipertensi perlu melibatkan edukasi gizi, peningkatan aktivitas fisik, manajemen stres, serta skrining riwayat keluarga. Strategi mempertimbangkan karakteristik lokal, termasuk budaya konsumsi makanan dan tingkat literasi kesehatan masyarakat. Dengan model prediksi yang cukup kuat, intervensi berbasis bukti dapat dirancang lebih terarah dan efisien. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi penguatan program promotif dan preventif hipertensi di layanan kesehatan primer seperti Ke depan, penelitian lebih lanjut dengan pendekatan longitudinal dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor risiko hipertensi secara kausal. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian hipertensi pada usia produktif dipengaruhi oleh berbagai faktor gaya hidup, lingkungan, dan predisposisi genetik. Faktor yang paling dominan dalam meningkatkan risiko hipertensi adalah asupan natrium yang tidak sesuai, diikuti oleh riwayat hipertensi keluarga, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, status gizi, kebiasaan merokok, kadar kolesterol, dan tingkat stres. Temuan ini menegaskan bahwa pola makan yang sehat, aktivitas fisik yang cukup, dan pengelolaan stres pencegahan hipertensi. Selain itu, latar belakang pendidikan berperan dalam terhadap risiko kesehatan dan perilaku hidup sehat. Pendekatan promosi kesehatan harus mempertimbangkan karakteristik individu secara menyeluruh dan dilakukan secara berkesinambungan. Peran layanan kesehatan primer sangat penting dalam skrining dini dan edukasi kepada masyarakat usia produktif. SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar Puskesmas dan tenaga kesehatan lebih aktif dalam memberikan edukasi terkait pentingnya pengendalian asupan natrium melalui penyuluhan gizi dan pemantauan konsumsi makanan masyarakat. Program promosi kesehatan sebaiknya difokuskan pada perubahan gaya hidup seperti peningkatan aktivitas fisik, manajemen stres, dan pengendalian berat badan secara rutin dan terintegrasi. Pemeriksaan tekanan darah dan status metabolik secara berkala perlu ditingkatkan, terutama bagi individu dengan riwayat hipertensi keluarga dan kebiasaan merokok. Intervensi edukatif hendaknya disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat agar pesan kesehatan dapat dipahami dan diterapkan secara efektif. Selain itu, kolaborasi lintas sektor dengan tokoh masyarakat dan media lokal dapat memperluas jangkauan promosi gaya hidup sehat. Penting juga bagi individu usia produktif untuk lebih proaktif menjaga kesehatan melalui perilaku pencegahan, bukan hanya ketika gejala muncul. Penelitian longitudinal direkomendasikan untuk memperkuat bukti kausalitas dari berbagai faktor risiko terhadap hipertensi DAFTAR PUSTAKA