JIGE 4 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige KRITIK ATAS SIKAP TANPA PAMRIH (DISINTERESTED ATTITUDE) MELALUI SUDUT PANDANG VOYEURISTIK Richardo Torang Manahan. Harsawibawa Albertus. Program Magister Ilmu Filsafat. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Depok, 16426. Indonesia History Article ABSTRACT Article history: Received Mei 18 ,2023 Approved Mei 27, 2023 Keywords: Disinterestedness Voyeuristik Estetika A work of art contains a stratified aesthetic element in accordance with the satisfaction of the human senses. Beauty is often directed at the object of the human body which is displayed tabooly in the form of "nude" and contains sexuality or intimacy. The work contains voyeuristic elements which often lead to negative perceptions or views and even behavioral deviations. disinterestedness attitude, thus, as answering the problem. researcher tries to first explain the description of voyeuristic in a work of Newton's identical voyeuristic example. After that put forward a critical view of the use of disinterestedness attitude to interpret voyeuristic works. The method used is a phenomenological approach. The result of this analysis is the view of disinterestedness implying that selfless and selfless use can capture the value of the beauty of a work but in the existence of voyeuristic art it turns out that the effect is great if these two things are separated. Disinterestedness seems to encourage interpreters to create impersonal personalities in order to capture the "aesthetic" value of a work by capturing the other side of However, the value of a work cannot be separated from the truth it depicts ABSTRAK Sebuah karya seni mengandung unsur estetika yang bertingkat sesuai dengan kepuasan indrawi manusia. Keindahan sering ditujukan terhadap objek tubuh manusia yang ditampilkan secara tabu dengan bentuk AunudeAy dan mengandung seksualitas atau Karya tersebut mengandung unsur voyeuristik yang sering menimbulkan persepsi atau pandangan negatif bahkan penyimpangan perilaku. disinterestedness attitude, dengan demikian, seperti menjawab permasalahan tersebut. berusaha menjelaskan lebih dulu deskripsi dari voyeuristik dalam suatu karya contoh karya Newton yang identik bersifat voyeuristik. Setelah itu mengemukakan pandangan kritis terhadap penggunaan disinterestedness attitude untuk menafsit karya Metode yang digunakan adalah pendekatan Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1050 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Hasil disinterestedness menyiratkan bahwa penggunaan tanpa pamrih dan dengan pamrih bisa menangkap nilai keindahan suatu karya namun dalam keberadan seni voyeuristik ternyata besar efeknya jika kedua hal ini dipisahkan. Disinterestedness seperti mendorong para penafsir nuntuk membuat pribadi impersonal untuk menangkap nilai AuestetikaAy dari sebuah karya dengan menangkap sisi lain dari ketelanjangan. Namun nilai sebuah karya memang tidak bisa lepas dari kebenaran yang digambarkannya A 2023 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: putra08@gmail. PENDAHULUAN Menciptakan karya seni berarti membangun model dari pemahaman diri sehingga bisa dimengerti dan dipahami sebagai ungkapan ekspresi sehingga ekspresi disini dapat dikatakan sebagai kandungan mental yang timbul dari intensi pikiran. Permainan estetis membuat seni dapat menimbulkan kesan yang bisa dinikmati bagi pemakna-nya. Rader and Jesup . menjelaskan bahwa seni adalah aktivitas manusia yang terdiri dari pengekspresian, yang dilakukan oleh satu orang secara sadar, sarana tanda-tanda eksternal tertentu, menyajikan kepada orang lain perasaan yang telah dia lalui dan bahwa orang lain kemudian terinfeksi oleh perasaan dan juga pengalaman tersebut. Sehingga karya yang dihasilkan dapat menghasilkan efek psikis yang dapat memancing gairah dan menstimulasi perasaan dan pemahaman untuk menyingkapkan sebuah paradigma baru. Ekspresi-ekspresi ini dimaksudkan untuk menjadi fenomenal sehingga suasana dan pengalaman hidup . ife-expression. menjadi objek kajian yang Namun kenyataannya ekspresi bukan hanya intensi pikiran tetapi juga dikondisikan oleh pikiran dan pikiran yang mengkondisikan bisa juga telah terkondisikan oleh intensi lainnya. Memang permainan estetis memiliki sisi subjektif yang kuat, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari kualitas-kualitas objektif tertentu dari objek estetis (Jena Y, 2. Permainan estetis selalu melibatkan sebuah fenomenon, entah itu objek atau sekumpulan objek yang dialami sebagai yang memiliki bentuk ideal tertentu . deal for. Setiap perjumpaan dengan objek-objek estetis membawa seseorang kepada pengalaman estetis tertentu. Pengalaman estetis inilah yang kalau dialami secara serius tidak hanya membangkitkan sikap estetis dan komitmen tertentu, tetapi juga membuat guratan dalam pemikiran tentang kehidupan dan menimbulkan kedalaman berpikir serta menimbulkan berbagai paradigma tertentu. Unsur ilusi estetika . menjadikan seseorang merasa utuh, bersemangat, lebih positif, dan terlibat erat dengan dunia (Hagman, 2. Karya seni sering kali menggunakan tubuh sebagai objek untuk simbol ke-estetik-an sebuah karya. Tubuh sering diasosiasikan sebagai benda seni berestetik. Tubuh memiliki esensi tampilan, doktrin esensi dipandang tepat sebagai apa yang berusaha untuk menyingkapkan atau mengalahkan perbandingan-perbandingan lain. Sebab pemaknaan ini karya seni cenderung lebih abstrak dan konseptual, membuat makna dalam sebuah karya menjadi selalu relatif dan para penikmat/apresiator AuasyikAy mencari makna di balik karya tersebut walaupun terkadang meninggalkannya tanpa jawaban (Korsmeyer, 2. Namun ada sistem kompleks dibalik pemahaman terhadap sebuah objek maupun fenomena: ada perbedaan budaya, sosial, psikis, sejarah dan posisi dan hubungan kodrati subjek dan objek. Pada hakikatnya manusia adalah pemuja keindahan (Puspitasari, 2. Estetika sudah disepakati sebagai unsur vital penunjang kehidupan dan bagaimana memaknainya. Dari hal ini estetika berarti mempunyai kapasitas dan kualitas untuk membuat hal-hal menjadi kesatuan, keselarasan, kelengkapan, keseimbangan, dan konflik. Dengan demikian, nilai indah yang dimaksud tidak hanya akan menentukan bentuknya tetapi bisa juga menyangkut keindahan isi atau makna yang terkandung di dalamnya. Pada tahun 1970-an. Newton memulai era baru dengan foto-foto avantgarde-nya yang menseksualisasikan mode. Belum pernah sebelumnya wanita terlihat dalam pose seperti itu di Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1051 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . iklan mode. Dia adalah seorang pionir di dunia fotografi fashion. Disisi lain, dengan semangatnya yang tajam dan seringkali nihilistik, perhatiannya berkutat pada isu: Obsesi masyarakat kita dengan kekayaan luar biasa dan klaim yang dilebih-lebihkan, ketertarikan dan rasa jijik kita terhadap tindakan berlebihan dari orang kaya dan terkenal, dan betapa menyenangkannya mengolok-olok perilaku buruk dan kebiasaan seksual orang-orang berkuasa. Penggunaan tubuh dan unsur pornografi untuk menarik perhatian bukanlah hal baru fenomena di industri seni bahkan kita bisa curiga bahwa itu memang strategi untuk menjadi termasyur dalam mengalami kedalaman batin. Seksualitas memang menjadi salah satu pendekatan . eringkali diatur namun selalu didobra. untuk mencapai kemasyuran. Referensi pornografi dalam fotografi Newton memang diakui secara umum namun tetepa dianggap sebagai nilai artistik. Pada titik ini, mempertahankan gagasan bahwa Newton melukiskan dunia yang ideal bagi seksualitas dan ketelanjangan. Namun. Hal ini menjadi lebih berbahaya karena dengan mencoba meyakinkan penonton bahwa tubuh pun bisa di eksibisi untuk seni yang memang simulasi dalam masyarakat simulasi namun tetap berkampanye kebebasan. Menurut penulis. Auself-portrait, model and wifeAy adalah karya yang cukup lengkap untuk disebut fenomena menarik sebab menampilkan proses membuat karya menjadi terlihat independen . agaimana simulasi diyakini sebagai reaksi nyat. dari hampir semua fotonya, di mana cara memperhatikannya dan menunjukkan ketelanjangan mendominasi adegan yang menawarkan perspektif baru analisis kemenarikan tubuh dan dunia di sekitarnya. Citra dan niat yang dia ciptakan adalah provokator. Bahkan penikmat antusias hal-hal artisitik, secara tidak sadar, terprovokasi oleh foto-fotonya. Kieran, . menjelaskan voyeurisme dan eksibisionis merupakan ekses dari tontonan masyarakat. Penigntip dan eksibisionis menjadi ekses dari produksi seni voyeuristik. Memang sifat dari voyeurisme dan eksibisionisme merupakan Anomali tersebut berasal dari tujuan hidup manusia dan pemaknaan tentang hidup yang selalu bisa dibentuk dan semua orang boleh mencoba membentuk makna dirinya. Puncak dari peyibakan fenomena dan makna ini terjadi juga hingga tahap pemanfaatan sensasi untuk mencari kemasyuran yang merupakan anomali dari posisi pengkritik dan hal yang dikritik dimana kemasyuran ini juga dimaksudkan untuk mecapai kejayaan. Dalam pelabelannya pun terjadi anomali dimana penonton menjadi yang ditonton, serta voyeurisme berbalik menjadi eksibisionisme, dan sebaliknya. Pada karya Auself-portrait, model and wifeAy Helmut Newton menampilkan 2 orang model . ang telanjang dan kak. , dirinya (Fotografe. dan istrinya (Jun. dalam sebuah adegan proses produksi sebuah karya. Karya seperti ini dapat dianggap voyeuristik karena menggambarkan peluang untuk memasuki . ruang pribadi untuk masuk ke dalam keintiman seseorang bahkan sebuah proses pekerjaan yang biasanya menjadi ranah privat. Ketertarikan dan keingintahuan untuk melihat apa yang sebenarnya tidak dimaksudkan, yang kadang-kadang tidak sengaja tersedia, menjadi lebih mudah ketika gambaran situasi dibuat oleh para profesional yang memiliki niat untuk mengekspos detail dari hal-hal intim agar dapat dialami: dinilai dan dianalisis dalam posisi yang aman. Model Newton digambarkan dalam foto dengan cara yang ambigu, yang membuat penonton bertanya-tanya tentang peran yang mereka miliki: apakah model diberi kekuatan melalui bidikan ini atau apakah mereka hanya diperlakukan sebagai objek seksual. Dalam ide prosesnya Helmut Newton selalu ingin melihat emansipasi. Oleh karena itu, dia tidak ingin menggambarkan gender atau sex sebagai objek melainkan sebagai subjek yang sadar akan kekuatan menggoda dan feminitas yang bersemayam dalam diri mereka masing-masing tanpa pernah jatuh ke dalam kevulgaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah studi kritis setelah menganalisis dan mengetahui bentuk penilaian disinterestedness attitude terhadap sebuah karya voyeuristik yang ternyata malah mendapatkan AukeindahanAy dari sebuah karya. Peneliti mengkaji paradigma disinterestedness attitude terhadap pandangan voyeuristik dimana peneliti menarik kesimpulan melalui alasan logis dalam pendekatan deduktif. Teknik triagulasi adalah teknik yang digunakan memulai dari Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1052 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . pengumpulan data deduktif yang lebih umum dan kemudian diklasifikasikan teori khusus pendukung menjadi pilihan penulis. Pendekatan fenomenologis dan di atas semua penelitian ini bertujuan untuk menggunakan berbagai metode untuk meningkatkan keandalan dan validitas temuan dengan demikian triangulasi. Pendekatan yang dilakukan adalah kepustakaan . ibrary reseac. dengan menelusuri buku, rujukan, artikel terkait kritis disinterstedness terhadap karya seni yang mengandung unsur Terutama dengan memerhatikan publikasi yang diterbitkan dari berbagai institusi pendidikan dan kemudian meninjaunya dengan keragaman kritik disinterstedness. Peninjauan tekstual dilengkapi refleksi kritis terhadap pandangan umum terhadap realitas dan pengetahuan Pada akhirnya berdasarkan hasil klasifikasi dapat ditarik kesimpulan yang nyata mengenai topik pembahasan yaitu disinterestedness attitude terhadap pandangan voyeuristik. Selain itu, para peneliti menyadari hipotesis dari pengetahuan yang ada yang dapat diuji dan diputuskan apakah akan menerima atau menolak HASIL DAN PEMBAHASAN Pandangan Voyeuristik & Tabu Menurut Battersby, . Estetika disamakan dengan sikap pikiran tertentu. mengabaikan pertimbangan moral, sosial dan politik dan dengan ketidak pedulian terhadap perintah dan kebutuhan tubuh. Lalu nilai voyeuristik dalam seni senantiasa mengeksplorasi ketelanjangan dan mendobrak ke-tabu-an dengan mengeksplorasi sensasi dan perilaku kontroversial dari mendapatkan kenikmatan ketika menonton bagian intim tubuh manusia. Freud mengemukakan istilah scopophilia untuk menunjukkan "kesenangan melihat" dan pemerolehan kenikmatan seksual dari melihat ini muncul dari ketegangan jiwa pada masa pubertas yang mendorong perilaku seks dengan berbagai versi, termasuk mendapatkan kesenangan seksual yang intim tanpa terlibat dengan objek. Melalui karya voyeuristik, seksualitas kembali menemukan ruang untuk mendapatkan kepuasaan dari sebuah bentuk keintiman dengan sebuah objek yang menjadi stimulus simbol Makna dari keberadaan simbol seks seperti payudara, vagina, dll. , yang dapat memuaskan hasrat seksual inderawi dieksplorasi sebagai sebuah objek dengan cara kreatif untuk menghasilkan berbagai makna. Penyingkapan ke-tabu-an menjadi konsep voyeuristik yang menarik bagi seniman yang terus-menerus berusaha untuk mendorong batas-batas kreatif. Perilaku yang menonjolkan tubuh sebagai objek untuk memancing hasrat seksual sebagai sarana yang di eksplorasi memunculkan bias dari nilai dari tubuh yang selama ini direpresi sebagai sebuah domain pribadi yang dilindungi/ditutupi. Melakukan eksperimen yang menentang normalitas. Newton menyusun detailnya dengan kaku dan bergaya memakai kesan erotis untuk karyanya yang ternyata juga memancing audiensi voyeuris dan modelnya sebagai eksibisionis. ketelanjangan model ditangkap dalam fungsi seni ataupun bukan namun kondisi telanjang dari lawan jenis selalu bisa menjadi alat pemenuhan hasrat walaupun tidak terlibat langsung. Karya-karya voyeuristik tampaknya semakin membuka peluang untuk menemukan cara memuaskan hasrat seksual melalui model seksual yang membuat berfantasi dan kenikmatan penikmat terhadap pemenuhan hasrat seks yang disebabkan rasa nikmat yang terpuaskan melalui imajinasi. Para voyeur mendapatkan kesempatan untuk tidak secara langsung berinteraksi dengan objek mereka. AuTabuAy yang sebelumnya merupakan sebuah aturan . indakan yang dilarang dan pelakunya menjadi subjek yang tidak usah dipaham. berubah menjadi pemahaman yang bersifat relatif dan target untuk terus diragukan. Newton: AuJika Anda dapat melakukan apapun yang Anda inginkan, di mana kesenangannya? Hal-hal terlarang jauh lebih menarik. Ay Dari pilihan objeknya, terlihat Newton adalah seorang seseorang yang mengerti keberadaan voyeur. Menurut kamus Webster definisi voyeur adalah: Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1053 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Seseorang yang memperoleh kepuasan seksual dari mengamati individu yang tidak menaruh curiga sebagian telanjang, telanjang, atau terlibat dalam tindakan seksual secara luas/seseorang yang biasa mencari rangsangan seksual dengan cara visual. Pengamat yang mencongkel yang biasanya mencari yang kotor atau memalukan, dan Orang yang melakukan tindak pidana voyeurism. Terlihat dari karya-karyanya. Newton adalah pengamat keberadaan voyeur yang terusmenerus mencoba menghasilkan gambar yang akan mewakili kebenaran atau membuat kenyataan juga terlihat seperti sesuatu yang lain, biasanya batas-batas pengalaman ditembus sehingga terbangun narasi-narasi baru: kebiasaan dan pemaknaan baru. Newton sepertinya mendekati ketertarikan akan ketelanjangan dengan cara yang berbeda terlihat dalam gayanya menampilkan keadaan kerja memanfaatkan adegan yang biasanya bersifat privat untuk menyingkapkan makna dari situasi intim proses pekerjaan dimana pikiranpikiran libidinal tidak mendapat tempat. Dia bekerja dengan komposisi yang ketat, dan bermain dengan ke-tabu-an dan dengan mendemonstrasikan berbagai ekspresi yang semuanya dilakukan secara serius dalam pengambilan gambar. Keadaan yang tergambar menimbulkan tafsiran bahwa menjadi simbol seksualitas dan hasrat voyeuristik adalah hal yang biasa: perubahan hal intim yang biasanya adalah hal privat menjadi hal yang dapat dikonsumsi publik adalah hal yang biasa: terlihat Newton sebagai fotografer sedang mengambil foto seorang model yang bersedia telanjang dimana terlihat kaki model yang lain yang sepertinya tak keberatan untuk berada di situasi Hal ini diperkuat dengan kehadiran istri Helmut Newton yang ikut serius dalam memperhatikan proses produksi karya tersebut. Terlebih lagi, sang istri terlihat menghargai integritas suaminya untuk menghasilkan karya dan tak keberatan jika dirinya berada dalam keadaan tersebut, bahkan terlihat antusias. Penggunaan Disinterestedness Attitude Estetika mengkaji hakikat seni, keindahan, dan rasa, dengan penciptaan dan apresiasi Orang-orang memiliki perbedaan pendapat dan penilaian tentang apa yang indah atau jelek. Estetika juga menjadi persepsi, atau pengalaman, adalah objektif dalam arti bahwa kualitas estetika milik fenomena alam, pribadi manusia, dan karya seni. Plato berpendapat bahwa benda-benda indah memiliki keselarasan atau kesatuan di bagian-bagiannya. Begitu pula Aristoteles menganggap bahwa ciri-ciri keindahan adalah keteraturan dan simetri Karya seni, alami fenomena, wanita, pria, artefak, dan populer budaya mempengaruhi pengalaman melalui indera (Suojanen, 2. Menikmati keindahan suatu objek harus dihilangkan dari kepentingan hidup sehari-hari seperti keinginan/hasrat untuk memiliki, menguasai, memanfaatkan apalagi jika kepentingan tersebut memiliki isu yang sensitif seperti: politik, dikte moral, kepercayaan dan kegunaan praktis lainnya. AuTanpa pamrihAy berarti keadaan pikiran di mana pengamat kebal . terhadap hubungan eksternal objek. Dalam kondisi tanpa pamrih: Imajinasi dianggap sebagai produktif dan aktif sendiri . ebagai pencetus bentuk-bentuk dari kemungkinan intuis. bukan reproduksi dari pemahaman yang ada. Aesthetic Disinterestedness . stetika tanpa pamri. adalah perhatian dan apresiasi sifat estetika murni untuk kepentingan diri sendiri dan terlepas dari pertimbangan eksternal. Pada awal abad kedelapan belas Anthony. Earl of Shaftesbury, mengusulkan Disinterestedness Attitude baik sebagai moral maupun cita-cita estetika yang bertentangan dengan gagasan kepentingan pribadi . erasal dari Hobbe. untuk mengisolasi aspek-aspek keadaan mental yang menghalangi melayani tujuan sendiri. Kemudian. Kant . mengatakan bahwa aesthetic Disinterestedness adalah salah satu konsep sentral dalam teori estetika. Ia beranggapan karya seni identik dengan keindahan murni tanpa dikotori oleh kepentingan dan keinginan praktis Oleh sebab itu, penilaian keindahan harus dipisahkan dari keberadaan atau eksistensi objeknya (Patrick dkk. , 2. menjelaskan dunia merupakan sebuah pertalian energik manusia dengan segala kegiatannya dan di dalam ruang-ruang yang dibuatnya senyaman mungkin. namun kenyataannya manusia suka juga memenjarakan energinya ke dalam minat atau keinginan dan kepentingannya sendiri. Jadi, ketika seorang seniman membuat sebuah objek Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1054 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . minatnya itu sendiri bukanlah minat pribadinya namun minat itu tak lain merupakan jejak dari berbagai minat sosial yang mempengaruhinya Disinterestedness Attitude yang Karismatik Disinterestedness menciptakan intensitas ilusi karismatik dengan keadaan sambil tetap tidak terikat. Hal itu datang dari kualitas batin: kepercayaan diri, energi seksual, tujuan, kepuasan yang kurang dipunyai kebanyakan orang namun ketenaran disinterestedness attitude dalam menafsir seni voyeuristik membuat seperti bahwa kualitas ini juga diinginkan kebanyakan Kualitas ini dianggap membuat pemikiran seseorang tampak luar biasa dan superior. Dari semangat karismatik ini seseorang termotivasi untuk belajar meningkatkan karisma mereka. Mengapresiasi karya seni menurut Stolnitz . haruslah dilakukan dengan sikap terbuka dan tanpa purbasangka atau tanpa pamrih, namun menurut Dickie hal tersebut dianggap tidak masuk akal karena otak manusia itu tidak pernah kosong. Menurut Dickie sikap tanpa pamrih seperti itu kurang tepat dan cacat, karena seni tidak hanya mengandung nilai estetik tetapi juga mengandung nilai lain yang tidak bisa didekati dengan sikap tanpa pamrih seperti itu (Carlson, 2. Sontag, . menjelaskan bahwa fotografi telah menjadi salah satu perangkat utama untuk mengalami sesuatu, untuk memberikan kesan partisipasi. Sementara yang lain pasif, jelas penonton yang ketakutan, memiliki kamera mengubah satu orang menjadi sesuatu aktif, seorang voyeur: hanya dia yang menguasai situasi. Namun permasalahannya AusuperiorAy dalam hal voyeuristik bisa terjadi karena mengatasi kodrat sedangkan yang diunggulkan masyarakat yang mengenal tabu adalah bahwa sumber permasalahan terjadi ketika mencoba mendobrak kodrat. Saya menyimpulkan oleh mengaitkan temuan utama dari karya ini dengan diskusi kritis tentang cara-cara masuk yang voyeurisme diartikulasikan dalam fotografi kontemporer (Douglas. Mengkritik Pengutamaan Disinterestedness Attitude Dalam Menafsir Karya Voyeuristik Dalam refleksi estetis, imajinasi dikatakan memperoleh kebebasan yang melampaui peran tunduk yang dimainkannya dalam kognisi biasa menimbulkan adanya "budi mulia dan peningkatan tertentu yang melebihi penerimaan belaka untuk kesenangan dari kesan-kesan yang masuk akal. " Jika ada satu kepercayaan yang menjadi milik pemikiran modern, itu adalah mode perhatian . tertentu yang sangat diperlukan dan membedakan persepsi hal-hal Newton pada karya selalu menunjukan sesuatu yang berbeda dari yang diharapkan, dia menciptakan adegan dan membiarkan interpretasi terbuka, penikmat dapat memutuskan apa yang dihargai dari kekuatan karya Newton untuk membangkitkan emosi yang kuat terlihat jelas. Di samping gambar-gambar mencolok. Fotografi selalu merupakan bentuk rayuan. Deskripsi karya Helmut Newton pada Auself-portrait model and wife . Ay menunjukkan sensualitas tubuh model, yang secara narsis menampilkan ke-elok-an rupa, dengan bangga menatap bayangannya di cermin depan, hampir menyerangnya, membuatnya hanya fokus padanya. belakang, siluet seorang pria yang ingin mengabadikan sosok wanita seperti mimpi yang menonjol di depan kameranya. di sebelah kanan, seorang wanita duduk yang, sambil mengejek, mengamati pemandangan itu. "Potret diri dengan istri June dan model": ini adalah judul foto terkenal tahun 1981 oleh Newton yang benar-benar menumbangkan aturan fotografi yang masih "sopan," jauh dari kegembiraan pelanggaran, tidak dapat didamaikan dengan rasa malu yang kurang ajar. Apresiasi seni adalah urusan pribadi yang harus dinikmati dalam suatu AokeheninganAo. Mereka percaya bahwa masalah apresiasi itu berkaitan dengan pilihan individu yang berkaitan dengan selera pribadi. Pendapat tersebut memberi dukungan terhadap kata-kata klise bahwa keindahan itu tidak terletak pada objek tetapi pada mata pengamat (Desmond, 2011: . Keyakinan bahwa yang nyata adalah rasional dan aspek rasionalitas yang cenderung teknologis yang diterjemahkan ke dalam perilaku sosial membentuk konformisme baru. Keadaan ini Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1055 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . mungkin karena kerasionalan menjangkau hal baru. Hasilnya adalah atrofi organ mental untuk menangkap kontradiksi dan alternatif. Desmond, . 1: . mengatakan hampir semua benda mengandung makna estetik termasuk juga benda non seni, oleh karena itulah dibutuhkan sebuah kepandaian untuk membedakan mana yang disebut seni dan mana yang bukan seni. Dalam masyarakat modern hal ini dipercaya dapat mengurangi irasionalitas yang lebih primitif dari tahap-tahap sebelumnya lalu meningkatkan dan memperpanjang kehidupan lebih teratur daripada sebelumnya. Namun, efeknya terjadi desublimasi keinginan: di mana tidak ada keinginan berjuang dan di dalamnya menghilangkan bentuk-bentuk jarak kritis dari masyarakat. Keadaan Ini bertentangan dengan masyarakat yang menganut ke-tabu-an dimana kontrol sosialnya melarang akses dan ekspresi kesenangan tertentu, yang mengarah pada "represi" mereka, yang diekspresikan sebagai antagonisme dalam kehidupan individu yang dipaksa untuk "menurunkan" keinginan mereka ke dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial. Fitur ketidaktertarikan yang paling mendasar dan diterima secara universal adalah kurangnya prasangka. Ini dapat ditelusuri kembali ke karya-karya filsuf moral awal seperti David Hume . Henry Sidgwick . , dan John Rawls . , dan Isaiah Berlin . Menjadi tidak tertarik mengharuskan kita untuk melihat suatu objek secara mandiri dengan sendirinya, bukan dalam kaitannya dengan beberapa objek lain. Ini adalah syarat mutlak bagi kita untuk benar-benar menghargai nilai estetika sebuah karya seni. Tidaklah sulit untuk memahami mengapa penggunaan aesthetic disinterestedness menjadi penting. Hal ini menunjang pelestarian apa yang sering disebut sebagai "otonomi" dalam karya seni. Karya seni disebut AuotonomAy karena fungsinya yang unik. Dimana tidak ada intensi untuk memberi pengetahuan konsumen yang berguna, untuk merangsangnya ke suatu tindakan, atau untuk meyakinkannya tentang kesehatan keyakinan dan tindakannya sendiri. Pendekatan yang tidak memihak tampaknya diperlukan, karena kecuali konsumen melepaskan dirinya dari keyakinan, keyakinan moral, dan keinginannya sendiri, dia akan menggunakan karya hanya untuk memajukan tujuan non-estetik ini, atau menolak karya karena tidak memajukan mereka. Seperti karya-karya Newton, dengan mengesampingkan kodrat dalam tubuh wanita yang dalam keadaan Autelanjang. Ay Prasangka moral dan politik sering ditonjolkan dalam disinterestedness attitude ini biasanya mereka berpendapat bahwa yang mengalami hanya memperhatikan segi-segi keyakinan yang diungkapkan selain dari kebenarannya. memang benar bahwa dalam banyak kasus, penikmat dapat menganggap keyakinan tentang karakter dan peristiwa sebagai keyakinan yang dipegang oleh orang lain selain dirinya sendiri. Dengan cara ini dia biasanya dapat memahami karya dengan membayangkan orang lain bereaksi terhadap karakter atau peristiwa dalam hal kepekaan moral orang itu. Sebaliknya dalam karya voyeuristik kita harus melihat ini sebagai masalah yang dihadapi penikmat. Dia "digoda keluar dari pemikiran atau nilai yang dianutnya. Kant . mengklaim bahwa untuk merenungkan suatu objek murni pada nilai estetikanya, kita harus tidak tertarik pada keberadaannya dan hanya mempertimbangkan bentuknya dalam imajinasi kita. Menurut Kant . , seseorang tidak bisa membuat karya seni hanya dengan mengikuti aturan dan meniru seniman lain. Menurut Kant, genius adalah mereka yang membuat karya seni dengan menciptakan atau mengubah kaidah seni. Meskipun ini tidak memberi tahu kita secara spesifik tentang ketidaktertarikan dalam kaitannya dengan penciptaan seni. memberitahu kita bahwa pencipta seni, menurut Kant, bukanlah tentang mengikuti aturan dan peniruan tetapi tentang penciptaan aturan dan manipulasi aturan. Mari kita bahas gagasan tentang kejeniusan ini dan bagaimana kaitannya dengan ketidaktertarikan. Penilaian estetika terhadap karya Newton selalu berkaitan dengan hal yang bersifat seksualitas, tabu dalam voyeuristic. Padahal secara fisik gambaran wanita telanjang sangat jelas dan memprovokasi ketertarikan terhadap kecabulan dan ketabuan dalam pandangan estetika individu secara alamiah kodrat manusia. Dalam hal ini, disinterested menggiring hal lain, penilaian dari segi masalah sosial, dan penilaian positif. Pandangan positif tentang ketidaktertarikan adalah gagasan Jerome Stolnitz tentang sikap estetika . Ini adalah semacam sikap mental khusus yang mengarahkan dan mengendalikan perhatian kita ketika kita merenungkan seni. Ketika kita berada dalam sikap estetik, kita hanya mengkontemplasikan objek Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1056 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . sebagai karya seni dan kita tidak mengaitkannya dengan tujuan apapun selain tujuan untuk mendapatkan pengalaman estetik. Ketelanjangan memiliki kemenarikan yang kemudian disandingkan dengan nilai estetik dan menjadi objek kajian seni. Kajian seni memang memandang objek: bentuk, sifat dan ekspresinya sebagai objek. Namun sebenarnya dalam budaya-budaya tertentu ada objek yang ditabukan sebab efek samping dari mengkajinya tak terhindarkan, dalam seni voyeuristik, hal ini memang terbukti. Tampaknya mungkin bahwa dari pendekatan yang awalnya tertarik dan pribadi, apresiator dipaksa oleh karakteristik tertentu dari karya seni ke dalam keseimbangan kepentingan ini, atau ke dalam keadaan impersonal yang terpisah. Namun kita dapat menghindari implikasi Disinterestedness aesthetic dan mereka yang terlibat dalam penolakan fungsi unik karya dengan menekankan perbedaan yang sangat sederhana dan dengan menguraikan konsekuensinya: perbedaan antara cara konsumen mendekati karya seni, yaitu sikap yang dianutnya terhadapnya, dan hasil dari sikapnya itu, yaitu pengalaman yang terjadi Stolnitz . menunjukkan hubungan erat antara disinterestedness Attitude dan otonomi ketika dia mengatakan: "Namun, signifikansi 'disinterestedness' tidak terbatas pada teori estetika yang tepat. Idenya juga telah mengubah kebiasaan melihat dan menilai. adalah, di zaman kita sendiri, begitu umum sehingga karya seni dan objek estetika umumnya 'otonom' dan 'berdiri sendiri,' dan harus dipahami sedemikian rupa, sehingga kita harus mengejar diri kita Ini tidak selalu menjadi hal yang biasa. Memang, sepanjang sebagian besar sejarah seni Barat, gagasan ini tampaknya tidak terlalu salah dan tidak dapat dipahami. Selama periode ini, nilai-nilai seni bersifat ikonik atau kognitif, atau moral, atau sosial, dengan tidak ada yang tersisa yang dapat disebut seni sebagai miliknya (Stolnitz, 1961:. Menurut Martin Golding mengambil yang paling sensual dan langsung menarik objek, tubuh manusia, dan menempatkannya di luar jangkauan waktu dan keinginan. dibutuhkan konsep rasional yang paling murni yang manusia mampu, matematika ketertiban, dan membuatnya menyenangkan bagi indra (Haralambidou, 2. Dalam kebebasan menafsir, penikmat dapat juga mendekati karya dengan cara yang sangat pribadi: yaitu, ia tidak berusaha meminimalkan reaksinya terhadap gambar atau keyakinan dari karya seni. Reaksi seperti itu penting karena mereka dikendalikan oleh seluruh kompleks minat keyakinan, perasaan, dan sikapnya-dan dengan demikian mencerminkan Tidak melulu sebaliknya untuk mengapresiasi sebuah karya seni kita tidak perlu membawa apa-apa dari kehidupan, tidak ada pengetahuan tentang ide dan urusannya, tidak ada keakraban dengan emosinya dan membiarkannya berdiri di luar kebutuhan dan tujuan pribadi. Namun, pandangan sikap estetik tentang ketidaktertarikan menghadapi masalah, terutama pada karya seni tertentu. Kepentingan praktis seperti seksual, kognitif, moneter, kemasyuran atau kepentingan agama disaring oleh sikap estetika. Hal ini memungkinkan kita untuk melihat sebuah objek trouvy seperti Fountain (Marcel Duchamp 1. bukan sebagai sebuah urinoir melainkan sebuah karya seni dengan nilai estetika tersendiri. Tapi, sebagai pencipta karya seni semacam itu, tidak tertarik pada penggunaan praktisnya berarti kehilangan inti dari karya Bagi Duchamp, keindahan formal urinoir adalah sekunder dari penggunaan praktisnya Selanjutnya, deskripsi terkenal Ogden. Richards, dan Wood tentang "sinestesia," jenis pengalaman yang mereka rasa paling erat hubungannya dengan pengalaman keindahan. Sinestesia dicirikan oleh keseimbangan "impuls" penikmat. Keseimbangan ini mengurangi kecenderungan untuk bertindak, karena tidak ada impuls dominan yang dapat mengatur impuls Semakin penuh impuls. Jika, seperti yang kadang-kadang dituduhkan, seluruh kompleks dari impuls atau kepentingan tidak disalurkan dalam satu arah daripada yang lain. Ini menjadi siap untuk mengambil arah mana pun yang dipilih. Levinson secara tegas mendefinisikan kontemplasi seni sebagai kegiatan yang kita lakukan hanya ketika kita ingin menikmati karya seni untuk kepentingannya, bukan untuk kepentingan lainnya. Menurut Levinson, dia tidak dapat benar-benar merenungkan karyanya. Jadi, seorang seniman hanya mungkin benar-benar merenungkan karyanya jika dia tidak merasa tugasnya untuk merenungkan karyanya. Hal ini tentu bermasalah karena kewajiban tersebut merupakan bagian dari proses pembuatan karya Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1057 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Jadi, akun Levinson tentang ketidaktertarikan yang menilai kontemplator seni tidak akan diterjemahkan dengan baik menjadi pencipta seni. Dalam beberapa kasus hukum . is: pornografi-pornoaks. terlihat menemukan bahwa keadaan memaksa untuk mempertimbangkan kembali penafsiran dalam reaksi banal. Melihat makna implisit ini sebagai refleksi dari minat untuk menambah kedalaman gagasan tentang "keseimbangan kepentingan. " Seiring berkembangnya pengalaman, lebih banyak segi kepribadian digali untuk membantunya memperbaiki interpretasi karya. Selanjutnya, keyakinan yang bersifat moral atau non-moral dapat secara eksplisit dinyatakan dalam sebuah karya klaim bahwa penerimaan atau penolakan pembaca terhadap salah satu dari keyakinan yang diungkapkan ini harus menjadi dasar evaluasinya terhadap karya tersebut tampaknya secara serius merusak otonomi karya tersebut. Jika fungsi sebuah karya seni bukan untuk menegaskan apa pun, bukan untuk memberikan tuntunan moral atau non-moral, sulit untuk melihat bagaimana kebenaran atau kesalahan keyakinan tersebut dapat secara langsung menentukan nilai karya tersebut. Mengapa seni harus selalu berurusan dengan yang matang dan serius, tidak yang dangkal? Jika jawabannya adalah keyakinan yang belum matang tidak dapat dikembangkan dengan baik secara Seringkali kita memperhatikan segi-segi lain ini, memperhatikan kebenaran menjadi ukuran langsung dari nilai penafsiran yang juga dapat meningkatkan nilai karya. Penulis berpendapat bahwa segala jenis pengalaman seni boleh disebut "sah. " Hal ini guna menyikapi kekuatan paradigma seni yang sampai pada taraf permainan kepercayaan . , tidak hanya untuk knowing. KESIMPULAN Karya Newton digambarkan dalam foto dengan cara yang ambigu, menunjukkan gambar AutelanjangAy yang bersifat voyeuristik, yang pastinya ada yang menikmati sebagai pornografi. Karya-karya voyeuristik tampaknya semakin membuka peluang untuk menemukan cara memuaskan hasrat seksual melalui model seksual yang membuat berfantasi dan melanggengkan sarana untuk menjadi pegintip dan eksibisionis. Menganalisis fotografi Newton dengan pendekatan Disinterestedness attitude dengan mengeluarkan imajinasi liar pribadi seksualitas terhadap objek. Penggambaran Superioritas dalam mengkaji seni voyeuristik bisa terjadi karena mengutamakan penggunaan salah satu modus Berdasarkan penilaian objek karya seni Newton, meningkatkan imajinasi, meragukan ekspektasi dan kodrat. Dimana tidak ada intensi untuk memberi pengetahuan konsumen yang berguna, untuk merangsangnya ke suatu tindakan, atau untuk meyakinkannya tentang kesehatan keyakinan dan tindakannya sendiri. Dari pengabaian kepenuhan penilaian, menelaah segala sensasi. Kehebatan karya yang pun menjadi diragukan, karena tidak semat-mata artistik, tapi juga dipaksa menjadi artistik. Prasangka sering ditonjolkan dalam Disinterestedness attitude yaitu ada pengalaman atau cara pandang khusus yang dipilih sebagai maksud dari mengalami dan menafsir sehingga bisa dikatakan hanya memperhatikan segi-segi keyakinan yang diungkapkan selain dari kebenarannya secara utuh. Plesse. Disinterestedness menyiratkan bahwa keindahan ada di dalam objek sehingga kita, dari sudut pandang yang tidak tertarik, dapat menghargainya. Hal ini menimbulkan semacam sekat bakat tafsir antara seniman, karya seni dan apresiator. Menurut Tsou, . objektivitas tergantung pada kedalaman dan ruang lingkup interogasi transformatif yang terjadi di setiap komunitas ilmiah tertentu. Proses komunitas ini memastikan bahwa hipotesis pada akhirnya diterima tidak mencerminkan satu individu pun asumsi istimewa untuk mengatakan bahwa teori diterima atas dasar metode obyektif memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa teori, mencerminkan secara kritis mencapai konsensus komunitas ilmiah pengakuan dari domain terbatas aplikasi untuk teori. Jika mengacu pada gagasan locke bahwa setiap bayi adalah tabula rasa apakah itu mungkin? Menurut penulis, kita baru bisa mempunyai tafsiran yang memadai jika kita bertumbuh bersama objek, mengenal pertumbuhan kita sendiri dan mengenal objek serta pertumbuhannya, atau mengenal hal-hal yang diasosiasikan terhadap subjek dan objek. Disisi lain muncul Disinterestedness Attitude bukanlah bagian integral dari gagasan estetika dalam arti aslinya tentang Auilmu rasaAy. Kritik Atas Sikap Tanpa Pamrih (Disinterested Attitud. Melalui Sudut Pandang Voyeouristik - 1058 Manahan and Albertus/Jurnal Ilmiah Global Education 4 . dan merupakan cara evaluasi artistik yang dapat dan harus direvisi dan ditentang oleh kaum feminis (Deepwell. , 2. DAFTAR PUSTAKA