PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Pemetaan Pola Antara Kepemilikan Tripartit. Karakteristik Dewan, dan Debt Structure Yang Membentuk Financial Distress Desi Argita Karismawati 1. Erma Setiawati 2* b200220495@student. id 1, es143@ums. id 2* Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia 1,2* Abstrak Penelitian ini bermaksud menganalisis pengaruh Kepemilikan Tripartit (Manajerial. Institusional, dan Pemerinta. Karakteristik Dewan (Ukuran Dewa. , dan Debt Structure terhadap Financial Distress pada perusahaan sektor Basic Materials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2022-2024. Metode yang digunakan ialah kuantitatif melalui teknik analisis regresi linear berganda. Populasi penelitian mencakup seluruh perusahaan sektor Basic Materials yang tercatat di BEI, sejumlah 86 perusahaan ditentukan untuk menjadi sampel menggunakan purposive sampling, yang menghasilkan 258 data pengamatan sepanjang periode penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kepemilikan manajerial, kepemilikan pemerintah, ukuran dewan, dan struktur utang memengaruhi financial distress secara negatif dan signifikan, sedangkan kepemilikan institusional tidak berpengaruh. Kata Kunci: Kepemilikan Manajerial. Kepemilikan Institusional. Kepemilikan Pemerintah. Ukuran Dewan. Struktur Utang. Financial Distress This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Di tengah perkembangan globalisasi yang kian rumit, perusahaan menghadapi tantangan yang semakin berat dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Salah satu indikator penting yang memperlihatkan kesehatan keuangan perusahaan adalah kemampuannya dalam menghindari kesulitan keuangan. Financial distress merupakan situasi ketika perusahaan menghadapi permasalahan finansial sebelum mencapai tahap kebangkrutan, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan tersebut tetapi juga berbagai pemangku kepentingan (Platt & Platt, 2. Sektor Basic Materials di Indonesia termasuk sektor yang rentan menghadapi financial distress, terutama dalam periode 2022-2024. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, misalnya fluktuasi harga bahan baku, ketidakpastian ekonomi global, dan persaingan yang semakin ketat. Data dari Bursa Efek Indonesia memperlihatkan bahwa sejumlah perusahaan di sektor tersebut mengalami penurunan kinerja keuangan yang cukup drastis. Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi financial distress menjadi sangat krusial guna mengantisipasi terjadinya kebangkrutan perusahaan. Struktur kepemilikan tripartit . anajerial, institusional, dan pemerinta. , karakteristik dewan . kuran dewa. , serta struktur utang merupakan aspek-aspek krusial yang perlu diteliti hubungannya dengan financial distress. Pemahaman mendalam tentang hubungan ini dapat membantu perusahaan dalam menentukan tindakan pencegahan yang sesuai. Teori agensi sebagai landasan utama penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat potensi ketidakselarasan kepentingan antara pemilik saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen (Jensen & Meckling, 1. Konflik ini dapat memengaruhi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 623 pengambilan keputusan entitas bisnis, termasuk keputusan finansial yang berpotensi mengarah pada financial distress. Komposisi kepemilikan yang beragam dapat menghadirkan mekanisme kontrol yang berbeda-beda pula dalam menangani konflik keagenan ini (Fama & Jensen, 1. Sebagai teori pendukung, teori sinyal memberikan perspektif tambahan dalam memahami bagaimana struktur kepemilikan, karakteristik dewan, dan struktur utang dapat menjadi sinyal bagi pasar tentang kondisi kesehatan keuangan perusahaan (Spence, 1. Sinyal-sinyal ini penting dalam konteks pencegahan financial distress karena dapat mempengaruhi persepsi dan keputusan investor serta kreditor. Kepemilikan manajerial dapat didefinisikan sebagai kepemilikan yang mana manajer perusahaan memiliki saham, yang dapat berdampak pada keputusan dan kebijakan finansial demi meningkatkan kinerja perusahaan (Ellili, 2. Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa proporsi kepemilikan manajerial pada tingkat optimal mampu meminimalkan risiko financial distress karena manajer akan lebih waspada ketika menetapkan keputusan yang dapat mempengaruhi kesehatan keuangan perusahaan (Srimindarti et al. , 2. Hanifa et al. menjelaskan kepemilikan Institusional sebagai kepemilikan saham perusahaan oleh institusi atau lembaga, mencakup dana pensiun, perbankan, dan lembaga asuransi, yang dapat memberikan stabilitas serta pengawasan tambahan terhadap manajemen. Investor institusional memiliki kapasitas dan sarana yang lebih memadai dalam melaksanakan pengawasan, sehingga dapat membantu mencegah terjadinya financial distress melalui pemantauan yang lebih ketat terhadap keputusan-keputusan strategis perusahaan (Maghfiroh et al. , 2. Kepemilikan Pemerintah adalah bentuk kepemilikan yang melibatkan pemerintah sebagai pemegang saham (Harnida et al. , 2. Kepemilikan pemerintah dalam perusahaan membawa dimensi unik dalam tata kelola perusahaan. Di satu sisi, kepemilikan pemerintah dapat menyediakan akses kepada sumber daya dan dukungan yang lebih luas, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan inefisiensi birokrasi yang berpotensi mempengaruhi keuangan perusahaan (Borisova et al. , 2. Menurut Melania & Tjahjono . Ukuran Dewan merupakan jumlah anggota pada struktur pengelolaan perusahaan, yang mencakup dewan komisaris dan direksi. Ukuran dewan direksi ialah komponen penting dalam efektivitas proses pengambilan keputusan perusahaan. Jumlah anggota dewan yang ideal dapat mendukung penetapan keputusan yang efektif dan kontrol yang optimal, sementara ukuran dewan yang terlalu besar atau terlalu kecil mampu mempengaruhi efisiensi dalam pencegahan financial distress (Kalbuana et al. , 2. Struktur utang ialah aspek penting yang memengaruhi kemampuan perusahaan dalam mengatasi kesulitan finansial (Septiana & Sari, 2. Susunan utang jangka pendek dan jangka panjang, serta kapasitas entitas bisnis dalam mengelola kewajibannya, dapat menjadi sinyal awal kemungkinan terjadinya kesulitan keuangan (Burnika et al. , 2. Berbagai penelitian terdahulu telah mencoba mengeksplorasi hubungan antara variabel-variabel tersebut dengan financial distress, meskipun masih ditemukan hasil yang beragam dan kesenjangan yang perlu diteliti lebih lanjut. Kepemilikan manajerial terbukti memengaruhi financial distress secara negatif (Santoso & Nugrahanti, 2. , namun beberapa riset lain mengungkapkan hasil yang tidak signifikan (Nursiva & Widyaningsih. Kepemilikan institusional memperlihatkan hasil yang beragam dengan temuan pengaruh positif (Annither et al. , 2. dan negatif (Santoso & Nugrahanti, 2. Kepemilikan pemerintah juga menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dengan ditemukann pengaruh negatif (Annither et al. , 2. , pengaruh positif (Li et al. , 2. dan tidak memberikan pengaruh (Santoso & Nugrahanti, 2. Ukuran dewan juga mengungkapkan hasil yang bervariasi dengan temuan pengaruh negatif (Manan & Hasnawati, 2. dan positif (Jamal, 2. Riset ini bertujuan mengisi kesenjangan ini dengan menitikberatkan di sektor Basic Materials di Indonesia. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 624 Mengingat pentingnya sektor Basic Materials serta munculnya research gap dari temuan studi terdahulu, penelitian ini difokuskan pada analisis pola keterkaitan antara struktur kepemilikan tripartit, karakteristik dewan, dan struktur utang dalam membentuk kondisi financial distress pada entitas bisnis di sektor Basic Materials yang teregistrasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2022-2024. Metode Analisis Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif guna menjelaskan hubungan sebab akibat antara beragam faktor dan keadaan financial distress perusahaan. Metode ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa metode ini memiliki kekuatan dalam menguji hipotesis penelitian yang berkaitan dengan variabel dependen dan independen. Populasi yang dipilih mencakup seluruh perusahaan sektor Basic Materials yang tercatat di BEI periode 2022-2024, dengan total 112 perusahaan. Metode purposive sampling diterapkan dalam seleksi sampel penelitian dengan mempertimbangkan kriteria: . Perusahaan sektor Basic Materials yang tercatat di BEI secara beruntun selama periode 2022-2024. Perusahaan melaporkan informasi keuangan tahunan yang komprehensif dan konsisten selama periode observasi. Mengacu pada kriteria yang dimaksud, diperoleh 86 perusahaan yang sesuai syarat, menghasilkan 258 observasi. Data sekunder dikumpulkan dari laporan keuangan tahunan (Annual Repor. perusahaan yang diperoleh melalui laman resmi BEI . dan website perusahaan. Data yang dikumpulkan meliputi struktur kepemilikan, karakteristik dewan, dan struktur utang guna mengukur financial Pada studi ini, financial distress diukur melalui Interest Coverage Ratio (ICR) Score. ICR Score termasuk ukuran yang mampu digunakan sebagai cara mengidentifikasi kemungkinan financial distress perusahaan (Saputra & Salim, 2. ICR Score dihitung dengan rumus: yayaAyaycN ICR Score = yaycuycyceycyceycyc yaycuycyyceycuycyce Keterangan: EBIT (Earnings Before Interest and Taxe. : Laba sebelum bunga dan pajak Interest Expense: Beban bunga Kepemilikan manajerial diukur dengan persentase saham milik manajemen perusahaan, termasuk direksi dan komisaris (Khaeria & Kristanti, 2. Rumus KM = Jumlah Saham yang Dimiliki Manajer Total Saham Beredar Kepemilikan institusional pengukurannya menggunakan persentase saham milik institusi, antara lain lembaga asuransi, perbankan, perusahaan investasi, dan lembaga keuangan lainnya (Natalia & Rudiawarni, 2. Rumus perhitungannya: KI = Jumlah Saham yang Dimiliki Institusional Total Saham Beredar Kepemilikan pemerintah pengukurannya menggunakan persentase saham yang berada di bawah kendali pemerintah atau badan usaha milik negara (Annither et al. Rumus perhitungannya: KP = Jumlah Saham yang Dimiliki Pemerintah Total Saham Beredar Ukuran dewan ialah total keseluruhan anggota dewan komisaris dan direksi di suatu perusahaan (Natalia & Rudiawarni, 2. Berikut rumus perhitungannya: Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 625 UD = Jumlah anggota komisaris dan direksi Struktur utang dihitung dengan rasio utang . , ialah perbandingan antara total utang dengan total aset perusahaan (Saputra & Salim, 2. Rumus perhitungannya: DAR = Total Utang Total Aset Analisis data menggunakan SPSS versi 27 melalui sejumlah tahap, berupa: . Statistik Deskriptif yang menyajikan karakteristik data, . Uji Asumsi Klasik mencakup uji normalitas dengan CLT, multikolinearitas, heteroskedastisitas menggunakan pengujian Glejser, serta autokorelasi menggunakan pengujian Runs Test, . Analisis Regresi Linear Berganda melalui FD = CAKM CCKI CEKP CEUD CIDS A Keterangan: = Financial Distress = Konstanta CA - CI= Koefisien regresi KM = Kepemilikan Manajerial = Kepemilikan Institusional = Kepemilikan Pemerintah UD = Ukuran Dewan = Debt Structure = Error term . Pengujian hipotesis mempergunakan analisis uji F . dan uji t . dengan signifikansi sebesar 5%, dan . Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Squar. ialah mengukur kapabilitas variabel independen menjelaskan variabel dependen. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Statistik Deskriptif Tabel 1. Hasil Statistik Deskriptif Minimum Descriptive Statistics Maximum Mean Financial Distress -3,43871 19,00000 4,99870 6,25120 Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Kepemilikan Pemerintah Ukuran Dewan 0,00000 0,00000 0,00000 0,92500 0,99951 1,00000 0,09924 0,67259 0,02640 8,24 0,20867 0,28908 0,14089 3,765 Debt Structure -7,34621 8,23589 0,482362 3,12596 Std. Deviation Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Tabel 1 memperlihatkan bahwa financial distress mencatat rata-rata 4,99870 dengan standar deviasi 6,2512, menggambarkan variasi tinggi antarperusahaan. Kepemilikan manajerial diperoleh rata-rata 0,09924 dengan standar deviasi yang melebihi rata-rata, membuktikan kepemilikan yang heterogen. Kepemilikan institusional mempunyai rata-rata 0,67259 dan standar deviasi kurang dari rata-rata, mengindikasikan kepemilikan bersifat homogen. Kepemilikan pemerintah rata-rata 0,0264, mencerminkan bahwa hanya sebagian kecil perusahaan yang memiliki kepemilikan pemerintah. Ukuran dewan rata-rata 8 orang, relatif homogen dengan standar deviasi 3,765. Debt structure menghasilkan ratarata 3,12596, membuktikan bahwa data debt structure bersifat heterogen. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 626 Uji Normalitas Pengujian normalitas dalam penelitian ini didasarkan pada Central Limit Theorem (CLT). Mengacu pada teori tersebut, distribusi data dapat diasumsikan bersifat normal ketika ukuran sampel mencapai lebih dari 30 observasi. Dengan jumlah sampel sebanyak 258, data penelitian telah memenuhi asumsi normalitas. Uji Multikolinearitas Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Collinearity Tolerance Statistics VIF Keterangan Kepemilikan Manajerial 0,428 2,339 Tidak Terjadi Multikolinearitas Kepemilikan Institusional 0,370 2,702 Tidak Terjadi Multikolinearitas Kepemilikan Pemerintah 0,669 1,494 Tidak Terjadi Multikolinearitas Ukuran Dewan 0,879 1,137 Tidak Terjadi Multikolinearitas Debt Structure 1,000 1,000 Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Pengujian multikolinearitas memperlihatkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, artinya model tidak terindikasi multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Tabel 3. Hasil Uji Hetersokedastisitas Variabel Sig. Keterangan Kepemilikan Manajerial 0,209 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Kepemilikan Institusional 0,735 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Kepemilikan Pemerintah 0,795 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Ukuran Dewan 0,125 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Debt Structure 0,965 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Merujuk pada tabel 3, pengujian heteroskedastisitas dengan uji Glejser menghasilkan nilai signifikansi > 0,05 bagi semua variable. Model terbukti tidak mengandung masalah heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Tabel 4. Hasil Uji Autokorelasi dengan Run Test Unstandardized Residual Test Valuea -0,33073 Cases < Test Value Cases >= Test Value Total Cases Number of Runs 0,000 Asymp. Sig. -taile. 1,000 Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Sesuai dengan tabel 4, uji autokorelasi menggunakan Run Test menghasilkan nilai Asymp. Sig. -taile. sejumlah 1,000 (> 0,. , dapat disimpulkan bahwa model terbebas dari autokorelasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 627 Analisis Regresi Linier Berganda Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Unstandardized Coeffisients Std. Error (Constan. 7,245 0,523 Kepemilikian Manajerial -2,156 0,811 Kepemilikan Institusional -0,044 0,629 Kepemilikan Pemerintah -3,183 0,960 Ukuran Dewan -0,121 0,031 Debt Structure -1,905 0,035 Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Standardized Coefficients Beta 13,840 -0,072 -0,2659 -0,002 -0,070 -0,072 -3,315 -0,073 -3,868 -0,953 -53,817 Sig. 0,001 0,008 0,944 0,001 0,001 0,001 Keterangan H1 Diterima H2 Ditolak H3 Diterima H4 Diterima H5 Diterima Melalui hasil analisis, dihasilkan persamaan regresi berupa: FD = 7,245 - 2,156KM - 0,044KI - 3,183KP - 0,121UD - 1,905DS A Dari tabel 5, diperoleh kesimpulan bahwa seluruh variabel independen (Kepemilikan Manajerial. Kepemilikan Institusional. Kepemilikan Pemerintah. Ukuran Dewan, dan Debt Structur. berhubungan negatif dengan Financial Distress. Artinya, peningkatan pada setiap variabel independen tersebut akan menurunkan tingkat financial distress Uji t Tabel 5 menyajikan hasil uji t yang mengindikasikan bahwa, dari lima variabel independen yang diujikan, empat variabel terbukti memberikan pengaruh signifikan pada financial distress. Kepemilikan manajerial menghasilkan nilai thitung -2,659 dengan signifikansi 0,008 (< 0,. , diartikan HCA diterima. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kepemilikan manajerial memberikan pengaruh negatif signifikan pada financial distress. Kepemilikan institusional, diperoleh nilai thitung -0,070 dan signifikansi 0,944 (> 0,. , dapat dikatakan HCC ditolak, mengindikasikan kepemilikan institusional tidak mempengaruhi financial distress. Kepemilikan pemerintah menghasilkan nilai thitung -3,315 pada tingkat signifikansi 0,001 (< 0,. , sehingga HCE diterima, yang menandakan adanya pengaruh negatif signifikansi pada financial distress. Ukuran dewan menghasilkan nilai thitung -3,868 dengan tingkat signifikansi 0,001 (< 0,. , maka HCE diterima, membuktikan bahwa ukuran dewan memiliki pegaruh negatif signifikan dalam mengurangi risiko financial distress. Debt structure mengindikasikan nilai thitung terbesar yakni -53,817 dan nilai signifikansi 0,001 (< 0,. , sehingga HCI diterima. Hasil ini mengkonfirmasi bahwa struktur utang memberikan pengaruh negatif yang sangat signifikan pada financial distress, menjadikan variabel dengan dampak paling kuat dalam model penelitian. Uji f Tabel 6. Hasil uji f Regression Sig. 0,001b Keterangan Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Tabel 6 memperlihatkan hasil uji f dengan nilai Fhitung sebesar 587,846 melalui signifikansi 0,001 (< 0,. Membuktikan bahwa variabel independen secara serentak memiliki pengaruh signifikan terhadap financial distress. Uji Koefisien Determinasi (R. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 628 Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi 0,960a R Square 0,921 Adjusted R Square 0,919 Std. Error of the Estimate 1,773988626 Sumber: Hasil Olah Data Peneliti . Tabel 7 menyajikan nilai koefisien determinasi yang disesuaikan (Adjusted RA) sebesar 0,919, yang berarti variabel independen mampu menjelaskan 91,9% variasi financial distress, sementara sisa lainnya 8,1% mendapat pengaruh dari faktor lainnya yang bukan Pembahasan Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Financial Distress Studi ini mengungkapkan kepemilikan manajerial memengaruhi financial distress secara negatif dan signifikan, maka hipotesis pertama (H. Temuan yang dihasilkan konsisten dengan teori agensi (Jensen & Meckling, 1. yang menegaskan bahwa kepemilikan saham oleh manajer memberikan insentif lebih besar bagi mereka dalam mengoptimalkan kinerja perusahaan dan menghindari keputusan berisiko tinggi. Temuan yang dihasilkan relevan dengan studi Santoso & Nugrahanti . dan Nurcahyono et al. yang menghasilkan temuan pengaruh negatif signifikan, yang mengimplikasikan bahwa peningkatan proporsi kepemilikan manajerial berkorelasi dengan penurunan risiko kesulitan keuangan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa manajer dengan saham perusahaan akan lebih termotivasi menghindari keputusan yang berisiko tinggi yang dapat mengancam stabilitas keuangan perusahaan. Implikasi praktis dari temuan menegaskan bahwa peningkatan proporsi kepemilikan manajerial dapat menjadi instrumen strategis bagi perusahaan dalam meminimalkan risiko financial distress. Ketika manajer memiliki kepemilikan saham, kepentingan mereka menjadi sejalan dengan pemegang saham lainnya, sehingga lebih termotivasi mengambil keputusan yang mendukung keberlanjutan perusahaan. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Financial Distress Kepemilikan institusional tidak memberikan pengaruh terhadap financial distress, maka hipotesis kedua (H. Temuan yang dihasilkan mengidentifikasi bahwa keberadaan investor institusional belum memberikan dampak signifikan pada pengurangan risiko financial distress pada sektor Basic Materials. Temuan yang dihasilkan relevan dengan Nursiva & Widyaningsih . dan Lubis et al. yang menemukan hasil serupa, hal ini disebabkan investor institusional lebih berfokus pada return jangka pendek atau belum melakukan monitoring yang efektif terhadap manajemen. Dalam konteks sektor Basic Materials yang menghadapi volatilitas tinggi, monitoring oleh investor institusional belum cukup kuat untuk mencegah financial distress. Berdasar pandangan teori sinyal (Spence, 1. , tingginya kepemilikan institusional seharusnya memberikan sinyal positif bagi pasar mengenai kualitas perusahaan. Namun, studi ini menemukan bahwa sinyal tersebut tidak secara langsung mempengaruhi financial distress. Temuan yang dihasilkan memberikan implikasi praktis yang penting, perusahaan di sektor Basic Materials tidak dapat sepenuhnya mengandalkan keberadaan investor institusional sebagai mekanisme untuk mengurangi risiko financial distress, sehingga perlu mengembangkan mekanisme governance alternatif seperti penguatan fungsi komite audit dan komisaris independen (Klein, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 629 Pengaruh Kepemilikan Pemerintah terhadap Financial Distress Kepemilikan pemerintah memeiliki pengaruh negatif signifikan pada financial distress, maka dikatakan hipotesis ketiga (H. Temuan yang dihasilkan konsisten dengan teori agensi yang menjelaskan bahwa kepemilikan pemerintah memberikan akses lebih mudah terhadap sumber pendanaan dan dukungan kebijakan (Jensen & Meckling. Temuan yang dihasilkan relevan dengan Annither et al. dan Pardede & Syafruddin . yang menemukan pengaruh negatif, hal ini disebabkan oleh keberadaan kepemilikan pemerintah meningkatkan pengawasan dan memfasilitasi perolehan sumber daya yang diperlukan perusahaan, yang pada gilirannya meminimalkan risiko kesulitan keuangan. Dari perspektif teori sinyal, kepemilikan pemerintah mengirimkan sinyal positif kepada pasar terkait kredibilitas dan keberlanjutan perusahaan yang nantinya dapat mempertinggi kepercayaan investor dan kreditor dengan adanya implicit guarantee dari pemerintah yang menurunkan persepsi risiko default dan memperbaiki terms of credit yang diperoleh perusahaan (Borisova et al. , 2. Temuan yang dihasilkan memberikan implikasi praktis penting bagi kebijakan pemerintah dan manajemen perusahaan. Bagi pemerintah, temuan penelitian memperlihatkan bahwa keterlibatan pemerintah sebagai pemegang saham dalam perusahaan strategis di sektor Basic Materials dapat berfungsi sebagai penstabil ekonomi, terutama dalam periode ketidakpastian ekonomi. Bagi perusahaan swasta di sektor yang sama, temuan ini mengungkapkan pentingnya membangun hubungan strategis dengan pemerintah untuk mendapatkan dukungan yang dapat mengurangi risiko financial distress. Perusahaan dengan kepemilikan pemerintah mendapat stabilitas operasional dari perlindungan dan dukungan kebijakan di sektor strategis, serta memiliki akses terhadap sumber daya dan program pembiayaan pemerintah yang memberikan buffer keuangan lebih kuat. Pengaruh Ukuran Dewan terhadap Financial Distress Ukuran dewan memberikan pengaruh negatif signifikan pada financial distress, maka hipotesis keempat (H. Dewan yang lebih besar umumnya memiliki keberagaman keahlian dan perspektif yang lebih luas, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan strategis dan pengawasan terhadap manajemen. Temuan yang dihasilkan mendukung teori agensi yang menjelaskan bahwa dewan lebih besar dapat memberikan monitoring lebih efektif (Fama & Jensen, 1. Temuan relevan dengan Manan & Hasnawati . dan Majduddin et al. bahwa ukuran dewan berdampak negatif, penyebabnya ialah dewan yang lebih besar atau lebih banyak anggotanya umumnya mempunyai keefektifan lebih baik dalam mengawasi dan mengendalikan perusahaan, sehingga dapat mencegah keputusan-keputusan yang berisiko tinggi yang dapat mengarah pada kesulitan keuangan. Dalam sektor Basic Materials yang kompleks, dewan lebih besar memungkinkan pembagian peran dan spesialisasi yang lebih baik dalam pengawasan. Temuan yang dihasilkan membawa dampak praktis yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan Basic Materials. Perusahaan mengoptimalkan ukuran dewan dengan mempertimbangkan kompleksitas operasional dan kebutuhan keahlian yang spesifik, serta memperhatikan regulasi OJK mengenai komposisi minimal komisaris independen dan pembentukan komite-komite pendukung. Dalam proses rekrutmen anggota dewan, perusahaan perlu memastikan keberagaman keahlian, pengalaman, dan perspektif untuk memaksimalkan efektivitas monitoring dan advisory, termasuk mempertimbangkan keberagaman gender dan latar belakang industri yang relevan, serta mengembangkan mekanisme yang memastikan efektivitas komunikasi dan koordinasi dalam dewan melalui penggunaan teknologi digital untuk rapat dewan dan penetapan key performance indicators untuk mengukur efektivitas dewan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 630 Pengaruh Debt Structure terhadap Financial Distress Struktur utang memiliki pengaruh negatif signifikan pada financial distress, maka hipotesis kelima (H. Temuan menarik ini membuktikan bahwa peningkatan proporsi utang justru menurunkan financial distress. Hal ini sejalan dengan konsep efek pendisiplinan (Jensen & Meckling, 1. , dimana kewajiban pembayaran utang memaksa manajemen lebih efisien dalam operasional. Hasil relevan dengan Ulynnuha et al. dan Giovanni et al. , penyebabnya ialah utang dapat meningkatkan kemampuan manajemen dalam mengelola keuangan perusahaan melalui disciplining effect, di mana kewajiban pembayaran utang memaksa manajemen untuk lebih efisien dalam operasional dan lebih selektif dalam investasi. Implikasi praktis dari temuan yang dihasilkan adalah perusahaan tidak perlu secara otomatis menghindari penggunaan utang, yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mengelola utang tersebut dan menggunakannya untuk investasi produktif yang dapat menghasilkan return yang memadai. Perusahaan perlu fokus pada manajemen struktur utang yang optimal dengan memperhatikan komposisi antara utang jangka pendek dan jangka panjang, menjaga rasio-rasio keuangan lainnya seperti debt service coverage ratio dan current ratio, serta melakukan monitoring aktif terhadap covenant utang dan menjaga hubungan baik dengan kreditor. Namun, perusahaan tetap harus berhati-hati karena utang yang terlalu tinggi dapat meningkatkan financial risk, terutama ketika kondisi ekonomi memburuk atau harga komoditas mengalami penurunan tajam, sehingga manajemen risiko yang prudent dan diversifikasi sumber pendanaan tetap menjadi kunci untuk menjaga stabilitas keuangan jangka panjang. Kemampuan perusahaan mendapatkan pinjaman mengirimkan sinyal. Simpulan dan Saran Dari analisis data dan temuan pengujian hipotesis, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kepemilikan manajerial memengaruhi financial distress secara negatif dan signifikan. Artinya semakin tinggi proporsi kepemilikan saham oleh manajemen, semakin rendah risiko kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan karena adanya keselarasan kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Kepemilikan institusional tidak memengaruhi financial distress, menandakan keberadaan investor institusional belum cukup efektif sebagai mekanisme monitoring untuk mencegah kesulitan keuangan pada sektor Basic Materials. Kepemilikan pemerintah mempengaruhi financial distress secara negatif dan signifikan dengan koefisien terbesar, menandakan bahwa perusahaan dengan kepemilikan pemerintah memperoleh stabilitas operasional yang lebih baik melalui akses terhadap sumber pendanaan dan dukungan kebijakan strategis. Ukuran dewan memengaruhi financial distress secara negatif dan signifikan, mengonfirmasi bahwa dewan yang lebih besar cenderung memiliki keberagaman keahlian dan perspektif yang meningkatkan kualitas pengawasan dan pengambilan keputusan strategis. Debt structure memperlihatkan pengaruh negatif dan sangat signifikan pada financial distress, yang mengindikasikan bahwa struktur utang yang tepat dapat berperan sebagai mekanisme pendisiplinan yang memaksa manajemen untuk lebih efisien dalam mengelola perusahaan, serta mengirimkan sinyal positif mengenai kredibilitas perusahaan kepada Perusahaan disarankan untuk meningkatkan proporsi kepemilikan manajerial, mengoptimalkan komposisi dewan, dan mengelola struktur utang secara hati-hati untuk memperkuat stabilitas keuangan. Bagi investor, komposisi kepemilikan, karakteristik dewan, dan tingkat leverage dapat dijadikan indikator awal dalam menilai risiko investasi, dengan perusahaan yang memiliki tata kelola kuat dan dukungan pemerintah cenderung lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Investor institusional perlu meningkatkan keterlibatan aktif dalam pengawasan perusahaan agar dapat memberikan kontribusi lebih optimal dalam mencegah kesulitan keuangan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 631 Penelitian mendatang sebaiknya memperluas cakupan ke berbagai sektor industri dengan periode observasi yang lebih panjang untuk menangkap dinamika ekonomi yang lebih luas. Penggunaan metode pengukuran alternatif seperti Z-Score Altman atau O-Score Ohlson dapat memperkuat validitas temuan, sementara penambahan variabel moderasi seperti kondisi makroekonomi dan volatilitas pasar akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Pendekatan mixed method yang mengombinasikan analisis kuantitatif dengan wawancara kualitatif juga dapat mengungkap mekanisme kompleks yang mempengaruhi kesulitan keuangan perusahaan secara lebih komprehensif. Referensi