Vol. No. November 2025, hal, 104-111 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Optimalisasi Tata Kelola Madrasah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang Muchamad Syaifudin. Asraf Umam. Siti Fathimah Al Fathiyah. Siti Mashlahah Al Fikri. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Sunniyah salafiyah Pasuruan. Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ibnu Sina Malang. Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Yasini Pasuruan. Indonesia E-mail:. muchamadsyaifudin765@gmail. com, . asrafumam14@gmail. com, . faelfath@gmail. Mashlahah@stai-alyasini. Info Artikel Kata kunci : Manajemen Berbasis Sekolah Efektivitas Pengelolaan Pengelolaan Madrasah Penulis Koresponden : Muchamad Syaifudin E-mail : muchamadsyaifudin765@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang meningkatkan efektivitas pengelolaan madrasah melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Latar belakang kegiatan ini adalah rendahnya pemahaman tenaga pendidik terhadap konsep MBS serta kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan madrasah. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan observasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi selama tiga Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada tiga aspek utama: pemahaman konsep MBS meningkat dari 55% menjadi 90%, efektivitas pengelolaan dari 60% menjadi 88%, dan partisipasi masyarakat dari 50% menjadi 85%. Peningkatan ini menandakan bahwa penerapan MBS mampu memperkuat kemandirian lembaga, transparansi pengelolaan, serta kolaborasi antar pihak terkait. Kegiatan ini berkontribusi dalam membangun sistem manajemen madrasah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Diharapkan kegiatan serupa dapat dikembangkan secara periodik untuk memperluas dampak dan keberlanjutan implementasi MBS di lembaga pendidikan Islam PENDAHULUAN Pendidikan madrasah memegang peran strategis dalam membentuk generasi berakhlak dan berkarakter Islami. Sebagai lembaga pendidikan menengah pertama berbasis Islam. MTs tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga pusat pembinaan moral dan sosial peserta MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang merupakan salah satu lembaga yang berupaya mencetak generasi unggul dan berdaya saing. Namun, efektivitas pengelolaan madrasah sangat menentukan kualitas pembelajaran dan perkembangan peserta didik dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Berdasarkan realitasnya. MTs Riyadussolihin masih menghadapi sejumlah persoalan manajerial, terutama terkait minimnya otonomi dalam pengambilan keputusan, lemahnya Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. koordinasi kelembagaan, serta rendahnya partisipasi pemangku kepentingan. Keputusan strategis cenderung bersifat top-down sehingga kurang mencerminkan kebutuhan lokal. Selain itu, perencanaan, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan keuangan belum berjalan efisien dan transparan. Kepemimpinan kepala madrasah masih dominan administratif sehingga budaya kolaboratif belum terbentuk optimal, sementara keterlibatan orang tua dan masyarakat masih Kondisi ini mengakibatkan sejumlah program tidak berjalan efektif dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sosialnya. Dalam konteks tersebut, penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menjadi sangat urgen sebagai pendekatan untuk memperkuat tata kelola madrasah. MBS memberikan otonomi lebih luas kepada madrasah dalam mengelola sumber daya, merancang program, dan mengevaluasi kegiatan secara mandiri . adeak, 2. menegaskan bahwa MBS dapat meningkatkan efektivitas lembaga karena membuka ruang partisipasi seluruh unsur pendidikan. MA juga menyatakan bahwa MBS memungkinkan sekolah menentukan arah kebijakan sesuai kebutuhan lingkungan dengan tetap menjaga prinsip transparansi dan akuntabilitas. (Surip, 2. menekankan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah dalam menggerakkan guru dan membangun budaya organisasi yang sehat, sementara penelitian (Asra, 2. menunjukkan bahwa pelibatan komite dan masyarakat dalam MBS mampu meningkatkan mutu layanan pendidikan dan kepercayaan publik. Dengan demikian. MBS menjadi kerangka ideal untuk memperbaiki manajemen dan memperkuat kinerja kelembagaan madrasah. Kegiatan pengabdian di MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang bertujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan madrasah melalui penerapan prinsip MBS yang berorientasi pada otonomi, partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Secara khusus, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman kepala madrasah dan tenaga pendidik mengenai konsep MBS, membentuk tim manajemen madrasah yang kolaboratif, serta menyusun Rencana Kerja Madrasah (RKM) yang terukur dan berbasis kebutuhan. Selain itu, kegiatan ini mendorong terbentuknya sistem monitoringAeevaluasi internal dan peningkatan keterlibatan masyarakat, komite, serta orang tua. Melalui proses pelatihan, workshop, dan pendampingan, madrasah diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan yang profesional, partisipatif, dan berintegritas, sehingga peningkatan mutu pendidikan dapat terwujud secara berkelanjutan. METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian masyarakat berjudul AuPenerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan MTs Riyadussolihin Al-Islamy SemarangAy dirancang menggunakan pendekatan partisipatif-kolaboratif yang menempatkan seluruh warga madrasah Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. sebagai aktor aktif dalam setiap tahap kegiatan. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan bahwa kepala madrasah, guru, staf administrasi, komite, hingga perwakilan siswa memiliki rasa kepemilikan terhadap proses penerapan MBS. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada aktivitas formalitas, tetapi diarahkan untuk memicu perubahan sistemik dalam praktik manajemen pendidikan Islam. Dalam keseluruhan proses, indikator keberhasilan yang ditetapkan mencakup peningkatan pemahaman terhadap prinsip MBS, penguatan efektivitas pengelolaan madrasah, serta tumbuhnya partisipasi masyarakat secara nyata. Pelaksanaan kegiatan berlokasi di MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang, lembaga yang sedang berupaya memperbaiki kualitas tata kelolanya agar lebih adaptif dan transparan. Pemilihan lokasi ini berdasarkan temuan observasi awal yang menunjukkan perlunya penguatan dalam implementasi MBS, terutama terkait perencanaan yang inklusif, mekanisme transparansi, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Kegiatan berlangsung selama tiga bulan, sejak Maret hingga Mei 2025, dengan penjadwalan yang disusun secara berurutan sehingga setiap tahap dapat berjalan konsisten dan menghasilkan data yang dapat ditelusuri. Sasaran utama kegiatan meliputi kepala madrasah, guru, dan staf tata usaha yang menjadi motor penggerak tata kelola lembaga. Komite madrasah dan masyarakat juga dilibatkan untuk memastikan bahwa penerapan MBS tidak hanya berfokus pada struktur internal, tetapi juga membangun jejaring sosial eksternal yang mendukung kemandirian sekolah. Kepala madrasah diarahkan agar mampu memimpin proses penguatan kebijakan berbasis otonomi sekolah, sementara guru mengambil peran dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip tersebut ke dalam praktik Dalam konteks indikator keberhasilan, keterlibatan dua kelompok ini menjadi kunci bagi terukurnya perubahan kompetensi manajerial dan peningkatan partisipasi publik. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup empat tahap utama. Tahap pertama adalah persiapan, dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk mengidentifikasi kondisi aktual pengelolaan madrasah. Analisis SWOT digunakan sebagai perangkat untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang relevan dengan penerapan MBS. Hasil analisis ini menjadi dasar penyusunan materi pelatihan dan agenda kegiatan yang selaras dengan kebutuhan Tahap kedua adalah sosialisasi dan pelatihan, dilaksanakan melalui workshop interaktif yang menggabungkan ceramah partisipatif, diskusi kasus, dan simulasi manajerial. Materi mencakup konsep inti MBS, strategi perencanaan berbasis visiAemisi, penguatan transparansi keuangan, serta peningkatan partisipasi masyarakat. Tahap ini diarahkan langsung pada indikator keberhasilan pertama, yaitu meningkatnya pemahaman peserta mengenai konsep dan praktik MBS. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. Tahap ketiga adalah implementasi dan pendampingan selama enam minggu. Tim pengabdi mendampingi madrasah dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) berbasis partisipasi, membentuk tim penjamin mutu internal, serta menerapkan mekanisme evaluasi berbasis kinerja. Proses ini dirancang untuk menghasilkan bukti peningkatan efektivitas pengelolaan madrasah, yang menjadi indikator keberhasilan kedua. Pendampingan dilakukan melalui mentoring dan supervisi agar praktik yang diterapkan dapat direplikasi secara mandiri. Tahap keempat adalah evaluasi dan refleksi, dilakukan dengan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif. Wawancara, observasi, dan angket digunakan untuk menilai capaian kegiatan terhadap tiga indikator utama: peningkatan pemahaman MBS, efektivitas sistem pengelolaan, dan meningkatnya partisipasi masyarakat serta komite madrasah. Temuan evaluatif kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi perbaikan dan strategi keberlanjutan Kegiatan ini disusun agar dapat direplikasi oleh madrasah lain dengan karakteristik serupa, khususnya yang sedang berproses menuju tata kelola yang lebih mandiri dan partisipatif. Tim pengabdi juga menyusun modul implementasi MBS sebagai perangkat referensi yang dapat digunakan lembaga lain untuk memperkuat manajemen berbasis otonomi sekolah. Model ini sejalan dengan pandangan (Enco Mulyasa, 2. yang menegaskan bahwa keberhasilan MBS bergantung pada kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan pemanfaatan sumber daya. Dengan model pelaksanaan yang sistematis dan indikator keberhasilan yang terukur, kegiatan pengabdian ini diharapkan tidak hanya memperkuat tata kelola MTs Riyadussolihin AlIslamy Semarang, tetapi juga menjadi rujukan bagi madrasah lain dalam membangun manajemen pendidikan yang efektif dan berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menunjukkan dampak yang sangat positif terhadap penguatan tata kelola madrasah. Melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi, peningkatan signifikan terlihat pada tiga indikator utama, yaitu pemahaman konsep MBS, efektivitas pengelolaan lembaga, dan partisipasi masyarakat dalam mendukung program madrasah. Peningkatan capaian ini tidak terjadi secara linier, tetapi sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor pendukung dan penghambat yang muncul selama proses kegiatan. Secara umum, partisipasi aktif seluruh komponen sekolah menjadi fondasi keberhasilan program ini. Sebelum kegiatan dimulai, sebagian besar guru dan tenaga kependidikan masih memiliki pemahaman yang terbatas terkait konsep MBS, terutama pada aspek otonomi pengambilan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. keputusan dan perencanaan partisipatif. Namun setelah mengikuti rangkaian pelatihan, pemahaman tersebut meningkat dari 55% menjadi 90%. Salah satu faktor pendukung utama pada tahap ini adalah komitmen kepala madrasah untuk membuka ruang diskusi dan praktik reflektif, serta antusiasme guru dalam mengikuti sesi-sesi pelatihan. Komitmen tersebut berdampak langsung pada percepatan pemahaman dan penerimaan terhadap prinsip-prinsip MBS. Meski demikian, keterbatasan waktu pelaksanaan dan kesibukan guru dengan tugas administratif harian menjadi faktor penghambat yang mengurangi intensitas beberapa sesi pendalaman materi. Dampaknya, benar-benar mengintegrasikan konsep MBS dalam aktivitas manajerial maupun pembelajaran. Pada aspek efektivitas pengelolaan, madrasah menunjukkan perubahan positif dalam mekanisme perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kerja. Jika sebelumnya struktur pengelolaan cenderung bersifat top-down, setelah kegiatan tampak adanya kolaborasi lebih kuat antara kepala madrasah, guru, dan komite. Efektivitas pengelolaan meningkat dari 60% menjadi 88%, yang menunjukkan perbaikan signifikan pada aspek efisiensi dan akuntabilitas. Pencapaian ini diperkuat oleh dukungan aktif komite madrasah, khususnya dalam memberikan masukan terhadap penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM). Faktor pendukung ini menciptakan proses pengambilan keputusan yang lebih terbuka dan berbasis data. Namun, minimnya fasilitas digital, seperti perangkat perencanaan berbasis aplikasi, menjadi hambatan dalam mempercepat sistem dokumentasi dan pelaporan. Dampaknya, proses administrasi masih berjalan secara manual sehingga memerlukan waktu lebih panjang dan rentan terjadi keterlambatan. Dari sisi partisipasi masyarakat, capaian yang diperoleh juga meningkat secara signifikan. Melalui pelibatan komite sekolah dalam setiap tahap perencanaan dan evaluasi, masyarakat mulai menunjukkan dukungan nyata, baik dalam bentuk gagasan, tenaga, maupun kontribusi sumber daya. Tingkat partisipasi masyarakat meningkat dari 50% menjadi 85%, menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif yang diterapkan selama kegiatan berhasil mengubah pola hubungan antara madrasah dan komunitas sekitarnya. Faktor pendukung berupa dukungan komite dan keterbukaan kepala madrasah dalam menerima masukan menjadi katalis bagi meningkatnya keterlibatan publik. Namun, waktu keterlibatan masyarakat yang terbatas serta kurangnya media komunikasi digital menjadi faktor penghambat yang mengurangi intensitas interaksi antara sekolah dan masyarakat. Dampaknya, beberapa program kolaboratif tidak dapat berjalan secara optimal pada tahap awal Secara keseluruhan, perpaduan antara faktor pendukung dan penghambat tersebut membentuk dinamika yang berpengaruh langsung terhadap proses dan keluaran kegiatan. Faktor pendukung mempercepat internalisasi konsep MBS, memperkuat koordinasi antar unsur, dan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. meningkatkan kapasitas kelembagaan. Sebaliknya, faktor penghambat menunda sebagian proses implementasi dan menyebabkan perlunya strategi pendampingan tambahan pada kelompok tertentu. Meskipun demikian, hasil akhir menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian ini berhasil memberikan dampak substantif terhadap peningkatan pemahaman, efektivitas pengelolaan, dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan madrasah. Tabel berikut menggambarkan hasil peningkatan dari setiap indikator setelah pelaksanaan kegiatan pengabdian : Indikator Sebelum Kegiatan (%) Setelah Kegiatan (%) Peningkatan (%) Pemahaman Konsep MBS Efektivitas Pengelolaan Partisipasi Masyarakat Tabel 1. hasil peningkatan setiap indikator Selain itu, visualisasi data hasil kegiatan dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar 1. Grafik Peningkatan Hasil PkM di MTs Riyadussolihin Dari grafik tersebut terlihat tren peningkatan yang konsisten dari bulan ke bulan selama pelaksanaan program (MaretAeMei 2. Peningkatan paling tajam terjadi pada bulan April, yakni setelah dilakukan pelatihan intensif dan workshop implementasi MBS. Secara teoretis, hasil ini mendukung pandangan (Enco Mulyasa, 2. yang menegaskan bahwa keberhasilan MBS sangat bergantung pada tingkat partisipasi seluruh warga sekolah serta keterbukaan manajemen dalam menjalankan fungsi perencanaan dan pengawasan. Demikian pula Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untukAA. dengan hasil penelitian (Asyibli dkk. , 2. yang menyebutkan bahwa penerapan MBS secara efektif dapat meningkatkan mutu manajemen sekolah apabila didukung dengan kolaborasi yang harmonis antara sekolah dan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi manajerial, penguatan tata kelola lembaga, dan peningkatan partisipasi Luaran dari kegiatan ini berupa: Modul pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah yang dapat direplikasi oleh madrasah lain. Model pendampingan manajemen partisipatif yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia madrasah dalam hal manajemen strategis dan transparansi kelembagaan. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini berhasil memperkuat fondasi kemandirian madrasah serta menumbuhkan budaya organisasi yang transparan, kolaboratif, dan berorientasi Hasil ini diharapkan menjadi contoh praktik baik bagi madrasah-madrasah lain dalam upaya mewujudkan sistem pendidikan Islam yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pelaksanaan program pengabdian masyarakat di MTs Riyadussolihin Al-Islamy Semarang menunjukkan keberhasilan yang nyata dalam meningkatkan mutu pengelolaan madrasah melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan, pemahaman warga madrasah mengenai konsep MBS meningkat signifikan dari kondisi awal yang rendah menuju pemahaman yang lebih mapan, tercermin dari meningkatnya kompetensi dalam perencanaan strategis, penyusunan program, serta evaluasi kinerja. Efektivitas pengelolaan lembaga juga mengalami penguatan, ditandai dengan perbaikan koordinasi internal, struktur kerja yang lebih sistematis, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dari level yang sebelumnya minim menjadi jauh lebih aktif. Peningkatan indikator-indikator tersebut menunjukkan arah pencapaian tujuan program, yaitu memperkuat kapasitas manajerial dan kolaboratif madrasah agar mampu mengelola lembaga secara lebih mandiri dan akuntabel. Dampak nyata dari kegiatan ini terlihat pada perubahan pola kerja madrasah yang lebih terstruktur dan partisipatif, sehingga program kerja dapat dilaksanakan dengan pengawasan yang lebih efektif. Kolaborasi antara kepala madrasah, guru, dan komite menjadi semakin kuat, menghasilkan proses pengambilan keputusan yang lebih transparan dan berbasis kebutuhan nyata. Selain itu, implikasi sosial turut muncul dalam bentuk meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap madrasah. Keterlibatan aktif orang tua dan komite dalam perencanaan serta evaluasi Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Muchamad Syaifudin dkk. program menciptakan hubungan kemitraan yang lebih solid, sehingga madrasah dipandang lebih responsif, terbuka, dan progresif dalam pengembangan mutu pendidikan. Untuk memastikan keberlanjutan hasil yang telah dicapai, madrasah disarankan menetapkan mekanisme tindak lanjut yang operasional. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan meliputi: . menyusun kalender pelatihan tahunan untuk memperkuat kompetensi manajemen seluruh pendidik. membentuk tim MBS internal yang bertugas memantau implementasi program dan memberikan umpan balik berkala. memperluas keterlibatan masyarakat melalui forum komunikasi rutin antara sekolah, orang tua, dan komite. mengintegrasikan prinsip-prinsip MBS ke dalam kebijakan dan SOP madrasah agar praktik manajerial yang efektif dapat berlangsung secara konsisten. Dengan langkah-langkah tersebut, madrasah tidak hanya mempertahankan capaian program, tetapi juga mampu berkembang sebagai lembaga pendidikan yang adaptif, transparan, dan DAFTAR PUSTAKA