Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 HUBUNGAN KOMPLEKSITAS REGIMEN OBAT DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Muhammad Faqih1. Riza Alfian1*. Abdul Mahmud Yumassik1. Fitrah Shafran Ilahi1. Nordin1 Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin. Banjarmasin. Indonesia *Email: riza@stikes-isfi-ac. Artikel diterima: 2025-10-03. Disetujui: 2025-10-29 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengendalian glikemik optimal untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan pasien DM adalah kompleksitas regimen obat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kompleksitas regimen pengobatan, tingkat kepatuhan pengobatan, serta hubungan antara kompleksitas regimen obat dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional yang dilakukan di Poli Penyakit Dalam RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin pada bulan AgustusAe September 2024. Sampel sebanyak 155 pasien dipilih dengan teknik consecutive Data kompleksitas regimen obat diperoleh dari resep menggunakan Medication Regimen Complexity Index (MRCI), sedangkan kepatuhan diukur menggunakan Adherence to Refill Medication Scale (ARMS). Sebagian besar pasien memiliki tingkat kompleksitas regimen sedang sebanyak 75 . ,4%), dan tingkat kepatuhan pengobatan yang patuh sebanyak 61 . ,4%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan yang tidak signifikan antara kompleksitas regimen obat dan kepatuhan pengobatan . =0,. Kompleksitas regimen pengobatan bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2. Hasil ini menunjukkan perlunya memperhatikan faktor lain seperti edukasi pasien, dukungan keluarga, dan komunikasi terapeutik dalam upaya meningkatkan kepatuhan Kata kunci: Kepatuhan pengobatan. Kompleksitas regimen. Diabetes melitus ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that requires optimal glycemic control to prevent complications and improve quality of life. One of the factors that may influence medication adherence among patients with DM is the complexity of the medication regimen. This study aimed to assess the level of medication regimen complexity, the level of medication adherence, and the relationship between medication regimen complexity and medication adherence among patients with type 2 diabetes mellitus. A cross-sectional study was conducted at the Internal Medicine Clinic of Sultan Suriansyah General Hospital. Banjarmasin, from August to September 2024. A total of 155 patients were selected using consecutive sampling. Muhammad Faqih, dkk | 243 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Data on medication regimen complexity were obtained from prescriptions using the Medication Regimen Complexity Index (MRCI), while adherence was measured using the Adherence to Refill Medication Scale (ARMS). Most patients had a moderate level of regimen complexity . 4%), and 61 patients . 4%) were classified as adherent to their medication. The correlation test showed no significant relationship between medication regimen complexity and medication adherence . = Medication regimen complexity is not the main factor affecting medication adherence in patients with type 2 diabetes mellitus. These findings suggest the need to focus on other factors such as patient education, family support, and therapeutic communication to improve treatment adherence. Keywords: Medication adherence. Regimen complexity. Diabetes mellitus individu yang hidup dengan diabetes, dan angka PENDAHULUAN diperkirakan akan (DM) bertambah menjadi 643 juta pada tahun merupakan gangguan metabolik kronis 2030 serta mencapai 783 juta pada yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah akibat kelainan pada posisi kelima dengan jumlah penderita sekresi maupun aksi insulin, atau mencapai 19,5 juta orang pada tahun kombinasi keduanya (Alfian, 2. 2021, yang diproyeksikan meningkat Tipe 2 menjadi bentuk DM yang paling menjadi 28,6 juta pada tahun 2045 (Sun Diabetes Indonesia et al. , 2. Di tingkat regional, prevalensi DM di Provinsi Kalimantan karena gejala awalnya yang tidak khas Selatan serta kenaikan glukosa darah yang (RISKESDAS, 2. , sedangkan di berlangsung perlahan (Della et al. Kota Banjarmasin dilaporkan terdapat Apabila tidak dikontrol secara 263 kasus pada tahun 2021. DM tipe 2 dapat menimbulkan 1,4% Salah satu permasalahan utama dalam penatalaksanaan diabetes melitus mikrovaskular maupun makrovaskular. (DM) adalah rendahnya kepatuhan Prevalensi diabetes melitus (DM) pasien terhadap terapi yang dijalankan. Hasil tinjauan sistematik terhadap 30 studi di Indonesia mengungkapkan Menurut International Diabetes Federation (IDF) tahun 2021, terdapat sekitar 537 juta Muhammad Faqih, dkk | 244 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pengobatan yang masih rendah (Pertiwi menyusun regimen terapi yang lebih et al. , 2. Padahal, kepatuhan yang sederhana serta mudah dijalankan oleh optimal memiliki peran penting dalam pasien (Alves-Conceicao et al. , 2. mencapai kontrol glikemik yang baik Pada tahun 2023. RSUD Sultan serta meningkatkan kualitas hidup Suriansyah penderita (Shah et al. , 2. Untuk 108 kunjungan rawat jalan menilai tingkat kepatuhan pasien, salah satu instrumen yang sering digunakan Angka tersebut menunjukkan Adherence Refill Banjarmasin Medication Scale (ARMS), yang telah kompleksitas penatalaksanaan terapi terbukti valid dan reliabel pada populasi DM di fasilitas kesehatan tersebut. Dengan kondisi demikian, diperlukan termasuk diabetes melitus (Mpila et al. evaluasi terhadap hubungan antara kompleksitas regimen pengobatan dan Kompleksitas tingkat kepatuhan pasien dalam konteks pengobatan turut menjadi salah satu Penelitian ini bertujuan untuk faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi . e kompleksitas regimen terapi dengan Vries et al. , 2. Regimen yang melibatkan penggunaan beberapa jenis melitus di RSUD Sultan Suriansyah obat, frekuensi pemberian dosis yang Kota Banjarmasin. tinggi, bentuk sediaan yang kurang praktis, serta petunjuk penggunaan METODE PENELITIAN Desain penelitian Penelitian mempertahankan kepatuhan (Jaam et , 2. Tingkat kompleksitas ini dapat dinilai menggunakan Medication bertujuan untuk menganalisis hubungan Regimen Complexity Index (MRCI), antara kompleksitas regimen terapi yaitu instrumen yang membantu tenaga dengan tingkat kepatuhan pengobatan kesehatan dalam mengevaluasi dan pada pasien diabetes melitus tipe 2. cross-sectional Muhammad Faqih, dkk | 245 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Pengumpulan data dilakukan satu kali Suriansyah Banjarmasin. Sementara melalui pertemuan langsung antara itu, sampel penelitian merupakan subset peneliti dan responden yang memenuhi dari populasi tersebut yang dipilih kriteria inklusi di lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Penyakit Sultan Dalam Suriansyah RSUD Banjarmasin. eksklusi yang telah ditentukan. Pemilihan Kegiatan penelitian dimulai sejak tahap sampling, yaitu dengan melibatkan penyusunan proposal pada bulan Mei seluruh pasien yang datang secara Juli pengumpulan data berlangsung pada inklusi serta eksklusi selama periode bulan Agustus hingga September 2024. Proses pengambilan sampel Data dilaksanakan selama satu bulan, dalam rentang waktu antara Agustus hingga selanjutnya dilakukan analisis statistik September 2024. untuk menilai hubungan antara variabel Kriteria Inklusi: yang diteliti. Pasien dengan diagnosis diabetes Tujuan melitus tipe 2 berusia 17Ae65 tahun Penelitian ini bertujuan untuk Pasien menganalisis hubungan antara tingkat pengobatan di Poli Penyakit Dalam kompleksitas regimen terapi dengan RSUD Sultan Suriansyah pada kepatuhan pengobatan pada pasien bulan AgustusAeSeptember 2024 diabetes melitus tipe 2 yang menjalani Pasien yang menerima obat untuk perawatan di Poliklinik Penyakit Dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Pasien yang bersedia menjadi Populasi dan sampel Populasi partisipan penelitian mencakup seluruh pasien rawat jalan Kriteria Eksklusi: Pasien diabetes melitus tipe 2 yang dengan diagnosis diabetes melitus tipe 2 yang memperoleh terapi di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sultan Pasien Muhammad Faqih, dkk | 246 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 komunikasi berat seperti tuli dan Pasien selama proses pengumpulan data Table 1. Definisi Operasional Variabel Penelitian Variabel Kompleksitas Regimen Pengobatan Kepatuhan Pengobatan Karakteristik Responden Definisi Operasional Tingkat kompleksitas regimen obat yang dikonsumsi pasien, dihitung berdasarkan jumlah obat, frekuensi, dan instruksi penggunaan. Tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat sesuai jadwal dan instruksi. Alat ukur Medication Regimen Complexity Index (MRCI) Kuesioner Adherence to Refills and Medications Scale (ARMS) Skala data Ordinal Kriteria Tingkat kepatuhan Patuh = 12 Tidak patuh = >12 Ordinal Data demografis pasien yang dapat memengaruhi kepatuhan Kuesioner / Rekam Nominal & Ordinal Tingkat kompleksitas Rendah = O4 Sedang = 5-8 Timggi = >8 Jenis kelamin. Usia. Pendidikan. Pekerjaan. Jumlah obat, lama menderita Sumber: Data primer, 2024 Pengumpulan data Selanjutnya, dilakukan analisis Data yang dikumpulkan melalui pengobatan serta indeks kompleksitas indeks kompleksitas regimen obat regimen terapi, yang disajikan dalam bentuk nilai rerata A standar deviasi Setelah . ean A SD). Untuk menganalisis hubungan seluruh data direkap dan dimasukkan ke antara kompleksitas regimen terapi dan dalam format Microsoft Excel guna mempermudah proses pengolahan serta Spearman, analisis data secara sistematis. karena kedua variabel berskala ordinal Analisis statistik dan tidak memenuhi asumsi distribusi Analisis statistik pada penelitian Seluruh proses analisis data ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Uji normalitas KolmogorovAeSmirnov perangkat lunak statistik yang sesuai. digunakan untuk menentukan apakah Etik data memiliki distribusi normal atau Penelitian ini telah memperoleh Muhammad Faqih, dkk | 247 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Sari Mulia Banjarmasin, 114/KEP-UNISM/Vi/2024. Seluruh tahapan penelitian dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsipprinsip etika penelitian, antara lain menjaga kerahasiaan data responden, memperoleh persetujuan tertulis dari partisipan melalui informed consent. Pensiunan 7 . ,5%) Obat Diabetes Melitus Yang Dikonsumsi Responden Tunggal ,8%) Kombinasi 2 ,5%) Kombinasi 3 ,6%) Obat Lain Yang Dimnum Tidak Ada 7 . ,5%) Tunggal ,3%) Kombinasi 2 ,2%) Kombinasi 3 ,9%) Kombinasi 4 ,1%) Lama Menderita Diabetes Melitus 0-1 Tahun 49 . ,6%) >1-5 Tahun 60 . ,7%) >5-10 Tahun 32 . ,6%) >10 Tahun 14 . ,0%) Sumber: Data primer, 2024 Hasil penelitian yang tercantum serta memastikan hak partisipan untuk konsekuensi apa pun. pada Tabel 2 menunjukkan bahwa diabetes melitus tipe 2 berjenis kelamin perempuan . ,9%). Kondisi ini dapat HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik demografi Tabel 2. Karakteristik responden . Jumlah Responden n=155 (%) Jenis Kelamin Responden Laki-laki 42 . ,1%) Perempuan 113 . ,9%) Usia Responden 17-35 tahun 1 . %) 36-45 tahun 21 . ,5%) 46-55 tahun 51 . ,9%) 56-65 tahun 82 . ,9%) Pendidikan Responden Sekolah Dasar 58 . ,1%) Sekolah Menengah Pertama 36 . ,2%) Sekolah Menengah Atas 37 . ,9%) Strata 1 ,8%) Pekerjaan Responden Tidak Bekerja 9 . ,8%) Ibu Rumah Tangga ,7%) Swasta ,9%) Wirausaha ,3%) PNS ,7%) Karakteristik perempuan lebih mudah mengalami stres, yang dapat berdampak pada pengendalian kadar glikemik. Selain itu, faktor risiko seperti obesitas dan penggunaan kontrasepsi oral juga lebih diabetes melitus tipe 2 pada perempuan (SaAodyah et al. , 2. Di sisi lain, kepatuhan yang lebih baik dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran serta dibandingkan laki-laki. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa perempuan Muhammad Faqih, dkk | 248 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 memiliki risiko 2,15 kali lebih tinggi bawah 40 tahun. Kondisi ini dapat untuk mengalami diabetes melitus tipe dikaitkan dengan proses degeneratif laki-laki, hubungan yang signifikan antara jenis kemampuan tubuh dalam metabolisme kelamin dan jumlah kasus diabetes Hasil penelitian ini sejalan melitus tipe 2 (Rosita et al. , 2. Hasil dengan berbagai studi sebelumnya yang tersebut juga konsisten dengan data menunjukkan bahwa risiko terjadinya Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 yang diabetes melitus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. melitus lebih tinggi pada perempuan Berdasarkan . ,8%) dibandingkan laki-laki . ,2%) terhadap 155 responden, ditemukan (RISKESDAS, 2. bahwa pasien memiliki latar belakang Berdasarkan pendidikan yang beragam. Sebagian kelompok lansia akhir . Ae65 tahu. besar memiliki pendidikan terakhir merupakan kategori dengan jumlah Sekolah Dasar (SD) sebanyak 36,1%, pasien terbanyak, yaitu 82 orang diikuti Sekolah Menengah Atas (SMA) . ,9%). Selanjutnya, kelompok lansia sebesar 23,9%. Sekolah Menengah awal . Ae55 tahu. tercatat sebanyak Pertama (SMP) 23,2%, dan Perguruan Tinggi 16,8%. Penelitian Ningrum kelompok dewasa akhir . Ae45 tahu. menunjukkan adanya hubungan sebanyak 21 pasien . ,5%), dan signifikan antara tingkat pendidikan kelompok dewasa awal . Ae35 tahu. dan kepatuhan pengobatan . < 0,. , sebanyak 1 pasien . ,6%). Distribusi di mana tingkat pendidikan yang lebih tinggi berasosiasi dengan kepatuhan yang lebih baik (Dwi Arini et al. , 2. Hasil penelitian lain oleh Dwi Arini et ,9%), juga mengindikasikan bahwa Menurut Nasution et al . , individu berusia di atas 50 tahun memiliki risiko prevalensi yang lebih tinggi pada dibandingkan mereka yang berusia di individu berpendidikan rendah. Tingkat Muhammad Faqih, dkk | 249 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 memperhatikan kondisi kesehatannya meningkatkan pemahaman mengenai dan melakukan kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan (Junaidi, 2. Berdasarkan data pada Tabel 2, jenis regimen terapi yang paling banyak Individu digunakan oleh pasien dalam penelitian ini adalah terapi kombinasi. Pemilihan umumnya memiliki wawasan kesehatan yang lebih luas, sehingga memiliki pemahaman dan kepercayaan diri yang pemeriksaan kadar glukosa lebih baik dalam menjaga kesehatan. Pasien umumnya diberikan monoterapi Dengan HbA1c dianggap sebagai salah satu faktor berada di bawah 7% selama tiga bulan berturut-turut. Namun, apabila kadar glukosa darah tidak terkontrol dan HbA1c melebihi 7%, maka diperlukan Berdasarkan tabel karakteristik (OAD) dalam penelitian ini memiliki pekerjaan membantu menormalkan kadar HbA1c. sebagai ibu rumah tangga, dengan Pendekatan jumlah 91 orang . ,7%). Temuan ini kestabilan kadar glukosa darah pada Naufanesa et al . yang juga pasien diabetes melitus tipe 2 (Dwi melaporkan bahwa kategori pekerjaan Arini et al. , 2. ibu rumah tangga mendominasi, dengan Berdasarkan jumlah pasien mencapai 64 orang sebagian besar responden memiliki . ,6%). lama menderita diabetes melitus selama disebabkan oleh karena ibu rumah lebih dari 1 hingga 5 tahun, yaitu sebanyak 60 orang . ,7%). Temuan ini pekerjaan di luar rumah, sehingga sejalan dengan penelitian Rusnoto & memiliki lebih banyak waktu untuk Subagiyo Kondisi Muhammad Faqih, dkk | 250 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 menunjukkan bahwa rentang durasi Dalam penyakit 1Ae5 tahun merupakan periode yang paling banyak dialami oleh pasien dinilai menggunakan MRCI, sebuah instrumen yang telah digunakan secara seseorang menderita diabetes, semakin luas pada pasien diabetes melitus tipe 2 besar pula risiko terjadinya komplikasi (Cobretti et al. , 2. Instrumen MRCI akibat kerusakan pembuluh darah di terdiri dari tiga komponen utama, yaitu berbagai organ tubuh, yang pada bagian A yang menilai bentuk sediaan akhirnya dapat memperburuk fungsi obat, bagian B yang mengevaluasi organ vital serta menurunkan kualitas frekuensi pemberian dosis, dan bagian C yang menilai instruksi penggunaan pengendalian kadar glukosa darah obat (Cobretti et al. , 2. Sebelum dalam batas normal menjadi hal yang timbulnya komplikasi lebih lanjut. Kompleksitas regimen pengobatan perhitungan sederhana, yang sering kali Semakin Oleh Salah satu faktor yang dapat MRCI, menghasilkan estimasi berlebih atau menyebabkan ketidakpatuhan pasien terhadap terapi adalah kompleksitas regimen pengobatan. Regimen yang penting dalam terapi obat (Ayele et al. memiliki tingkat kompleksitas tinggi, seperti frekuensi konsumsi obat yang sering atau bentuk sediaan yang sulit digunakan, dapat menjadi hambatan Kompleksitas Tabel 3. Tingkat kompleksitas regimen pengobatan . Kompleksitas Regimen O4 Rendah 5-8 Sedang >8 Tinggi Sumber: Data primer, 2024 Nilai 32 . ,6%) 75 . ,4%) 48 . ,0%) berpengaruh terhadap kepatuhan karena Berdasarkan hasil pengukuran semakin rumit suatu regimen, semakin yang disajikan pada Tabel 3, tingkat mengalami kesulitan dalam mengikuti sebagian besar berada pada kategori instruksi penggunaan obat secara tepat. kor 5Ae. dengan jumlah 75 Muhammad Faqih, dkk | 251 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pasien . ,4%). Temuan ini tidak petunjuk, serta sepenuhnya sejalan dengan penelitian mengevaluasi kepatuhan pasien dalam empat item Afrika, mengambil ulang resep obat (July et al. Berdasarkan pedoman penilaian, memiliki nilai MRCI tinggi. Hasil penelitian Ayele et al . juga menunjukkan tingkat kepatuhan yang menunjukkan bahwa sebagian besar tinggi, sedangkan skor yang mendekati pasien memiliki tingkat kompleksitas 48 menandakan kepatuhan yang rendah regimen yang tergolong rendah hingga (Kripalani Menurut Mokolomban . , semakin tinggi tingkat kompleksitas dibagi menjadi dua, yaitu patuh . kor = regimen terapi yang dijalani pasien, . dan tidak patuh . kor > . maka semakin rendah pula tingkat (Dwiyatna et al. , 2. Dengan demikian, semakin rendah skor ARMS dengan regimen yang lebih sederhana menandakan tingkat kepatuhan yang lebih baik, sedangkan skor yang lebih Sebaliknya. Dalam kepatuhan yang lebih baik (Arfania et , 2. kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Kepatuhan pengobatan Pengukuran tingkat kepatuhan pasien Tingkat kepatuhan pengobatan diabetes melitus tipe 2 dilakukan dengan menghitung total skor ARMS menggunakan kuesioner Adherence to yang diperoleh dari setiap responden. Refills and Medications Scale (ARMS). Tabel 4. Tingkat kepatuhan pengobatan . Instrumen ARMS telah divalidasi dan terbukti memiliki reliabilitas yang baik Bahasa Indonesia (Andanalusia et al. , 2. Kuesioner Patuh Tidak Patuh ,4%) ,6%) Sumber: Data primer, 2024 Berdasarkan ini terdiri atas 12 butir pertanyaan yang sebanyak 61 pasien . ,4%) termasuk mencakup dua subskala, yaitu delapan dalam kategori patuh, sedangkan 94 item yang menilai kepatuhan pasien pasien . ,6%) tergolong tidak patuh terhadap pengobatan. Ketidakpatuhan pasien terhadap terapi disebabkan oleh Muhammad Faqih, dkk | 252 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 obat yang sama secara terus-menerus, mengonsumsi obat, menganggap obat seperti risiko gangguan fungsi ginjal. Padahal, diabetes melitus merupakan suplemen, serta dengan sengaja tidak penyakit kronis yang memerlukan terapi farmakologis jangka panjang tertentu (Rusmadi et al. , 2. Faktor untuk menjaga kadar glukosa darah yang paling dominan adalah kelalaian tetap stabil. Frekuensi penggunaan obat dalam mengonsumsi obat, terlihat dari yang tinggi, terutama pada pasien yang mayoritas responden yang tidak patuh harus mengonsumsi obat lebih dari satu saat menjawab pertanyaan pertama kali dalam sehari, turut berkontribusi dalam kuesioner, yakni terkait lupa terhadap penurunan kepatuhan karena minum obat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Agustina et al . yang lupa atau melewatkan dosis. Ketidakpatuhan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani Daya ingat yang rendah antidiabetik sering kali dipengaruhi atau lupa ini termasuk dalam bentuk oleh rasa jenuh dan kebosanan dalam ketidakpatuhan yang tidak disengaja . nintentional non-adherenc. , yaitu terutama pada pasien yang telah lama kondisi di mana pasien tidak bermaksud menderita diabetes melitus tipe 2 untuk mengabaikan terapi namun gagal (Agustina et al. , 2. Beberapa pasien menjalankannya sesuai anjuran (Fauzi juga memilih beralih ke penggunaan & Nishaa, 2. obat herbal ketika merasa kondisinya Selain faktor lupa, ketidakpatuhan membaik, dengan alasan bahwa terapi pasien juga dapat dipengaruhi oleh herbal dianggap lebih aman untuk pemakaian jangka panjang. Selain itu, faktor lain yang turut berperan terhadap merasa kondisi tubuh sudah membaik. rendahnya kepatuhan meliputi durasi Beberapa pasien mengaku khawatir pengobatan yang panjang, rasa tidak akan efek jangka panjang penggunaan melewatkan konsumsi Muhammad Faqih, dkk | 253 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 korelasi untuk menilai hubungan antara tingkat kompleksitas regimen obat kompleksitas regimen yang tinggi dengan kepatuhan pengobatan pada (Dwiyatna et al. , 2. pasien diabetes melitus tipe 2. Uji Hubungan metode Kolmogorov-Smirnov, dan hasil analisis menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal. Dengan demikian, diabetes melitus tipe 2 digunakan uji non-parametrik berupa Berdasarkan sejumlah literatur, dilakukan menggunakan Spearman merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien kompleksitas regimen pengobatan dan terhadap terapi. Oleh karena itu, dalam kepatuhan pasien. Table 5. Hubungan Kompleksitas Regimen dengan Kepatuhan Pengobatan . Variabel Kompleksitas regimen vs 0,119 Kepatuhan pengobatan Sumber: Data primer, 2024 p-value Kekuatan Korelasi Keterangan 0,139 Lemah Adanya korelasi yang tidak signifikan Hasil analisis menggunakan uji penelitian yang relatif terbatas . korelasi Spearman menunjukkan bahwa dan distribusi responden yang sebagian nilai koefisien korelasi . besar memiliki tingkat kompleksitas kompleksitas regimen pengobatan dan regimen sedang menyebabkan variasi kepatuhan pengobatan sebesar 0,119 skor MRCI menjadi sempit. Kondisi dengan nilai p = 0,139 . > 0,. Hal ini tersebut dapat mengurangi kemampuan menunjukkan bahwa tidak terdapat uji statistik dalam mendeteksi hubungan yang bermakna antara kompleksitas statistik antara kedua variabel, dengan kekuatan korelasi yang tergolong lemah. karakteristik responden yang relatif Hasil yang tidak signifikan ini dapat homogen, khususnya pada pasien yang telah lama menjalani terapi diabetes Pertama, jumlah sampel melitus tipe 2 dan rutin melakukan Kedua. Muhammad Faqih, dkk | 254 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 kontrol, dapat menyebabkan tingkat langsung dirasakan, efek samping, serta Faktor meskipun regimen pengobatan cukup mencakup pemahaman terhadap tujuan Dengan pengobatan, persepsi terhadap manfaat terapi, perilaku dalam penggunaan obat, terhadap terapi jangka panjang mungkin Sementara tenaga kesehatan meliputi pelaksanaan kompleksitas regimen menjadi tidak asuhan kefarmasian, frekuensi interaksi menonjol secara statistik. Ketiga, faktor- antara apoteker dan pasien, serta faktor sosiodemografi dan perilaku kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan informasi obat (Jaam et al. dukungan keluarga, serta pemahaman terhadap penyakit dan terapi, juga Temuan ini juga konsisten dengan berpotensi berkontribusi terhadap hasil American yang tidak signifikan. Pasien dengan Association (ADA, pemahaman dan motivasi yang baik menekankan pentingnya individualized therapy dan dukungan edukasi pasien regimen terapinya kompleks. Selain itu, keberadaan program edukasi dan asuhan Selain itu, laporan World RSUD Sultan Health Organization (WHO, 2. Suriansyah Diabetes pengobatan pada penyakit kronis seperti kepatuhan, terlepas dari kompleksitas regimen yang dijalani. global, dengan estimasi hanya sekitar Hal ini sejalan dengan pandangan 50% pasien di negara berkembang yang bahwa kepatuhan pengobatan bersifat mencapai kepatuhan optimal. Oleh multifaktorial dan dipengaruhi oleh karena itu, intervensi edukatif dan berbagai aspek, termasuk faktor obat, peningkatan literasi kesehatan menjadi pasien, dan tenaga kesehatan. Faktor obat meliputi efek terapi yang tidak kepatuhan pada pasien dengan regimen Muhammad Faqih, dkk | 255 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Hasil penelitian ini menunjukkan meningkatkan kepatuhan pengobatan. KESIMPULAN signifikan dengan tingkat kepatuhan Berdasarkan pasien diabetes melitus tipe 2. Temuan yang dilaksanakan pada bulan Agustus ini berbeda dengan beberapa penelitian hingga September 2024 di Poli Penyakit sebelumnya yang melaporkan bahwa Dalam semakin kompleks regimen pengobatan. Banjarmasin, diperoleh bahwa sebagian besar pasien diabetes melitus tipe 2 RSUD Sultan Suriansyah memiliki tingkat kompleksitas regimen Perbedaan hasil ini menunjukkan pengobatan dalam kategori sedang . kor bahwa kompleksitas regimen bukan MRCI 5Ae. dengan proporsi sebesar satu-satunya faktor penentu kepatuhan, 48,4%. Sementara itu, tingkat kepatuhan melainkan dapat dipengaruhi oleh faktor pengobatan pasien lebih banyak berada lain seperti tingkat pemahaman pasien pada kategori tidak patuh, yaitu sebesar terhadap terapi, dukungan keluarga, 60,6%. Hasil uji korelasi menunjukkan serta kualitas komunikasi dengan tenaga bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat Dengan kompleksitas regimen pengobatan dan utama penelitian ini adalah memberikan tingkat kepatuhan pengobatan pada bukti kontekstual pada populasi pasien pasien diabetes melitus tipe 2. di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat rumah sakit daerah, bahwa faktor UCAPAN TERIMA KASIH nonfarmakologis seperti edukasi dan Ucapan terima kasih kepada dukungan sosial memiliki peran lebih semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. Ucapan regimen itu sendiri. Temuan ini dapat terima kasih kepada STIKES ISFI menjadi dasar bagi pengembangan Banjarmasin yang telah memberikan intervensi farmasi klinik yang berfokus penelitian ini, dan ucapan terima kasih Muhammad Faqih, dkk | 256 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 243-259 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin yang telah memberikan izin dan kelengkapan data melalui rekam medis dan kuesioner. DAFTAR PUSTAKA