Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 7 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Sakralisasi Ruang Dan Nilai Tradisi Meburu Di Desa Adat Panjer I Kadek Pranajaya1. Putu Ratih Pertiwi2. I Wayan Sukma Winarya Prabawa3 Institut Desain dan Bisnis Bali. Indonesia Universitas Udayana. Indonesia Politeknik Pariwisata Bali. Indonesia pranajaya@idbbali. Abstract Bali is very rich with traditions that contain local wisdom values. The tradition in Bali is still preserved until now. This tradition has a strong foundation because it is supported by the beliefs and beliefs of Balinese Hinduism, one of which is the meburu tradition can be trusted to neutralize the influence of negative energy into strength and positive energy. The meburu tradition is a means of purifying Bhuana Alit and Bhuana Agung to be balanced between humans, nature and their environment, both in the sekala realm and in the niskala realms. At present, there are still many people who do not know about the phenomenon created by the concept of sacred space that forms traditions, unique rituals, and the magic of meburu carried out by the people of Panjer Traditional Village. What is the real meaning that can be found from every procession behind all the ritual thoughts, structures, and beliefs that have been carried out continuously so far. This study aims to explore and examine the social values, cultural values, and religious values contained in the meburu tradition, and analyze the implications of the values contained therein. The method used in this study is a qualitative exploration with theological, historical and philosophical approaches. The results of the study found that the series of meburu traditions began with making ceremonial offerings. Ida Bhatara heading to paum/meetings at Bale Agung Temple, melasti, ngembang, meprani, tawur agung panca sata, meburu tradition, and penyimpenan. The foundation in mythology has become a strong foundation in carrying out the religious beliefs of the Panjer Traditional Village community so that the existence of the meburu tradition can remain stable because it is packaged into mythical beliefs. The meburu tradition can maintain cultural values, social values, and religious values that have been passed down from generation to generation in the past to the present so that they remain stable and sustainable. Preserving the meburu tradition can have implications for Hindu devotion, attitudes and ethics, as well as implications for togetherness and cooperation, religious behavior and Keywords: Sacralization Of Space. Social. Cultural and Religous Values. The Meburu Tradition Abstrak Bali sangat kaya dengan tradisi yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Tradisi di Bali keberadaannya masih tetap terjaga kelestariannya hingga saat ini. Tradisi tersebut memiliki pondasi yang kuat karena ditopang oleh keyakinan dan kepercayaan agama Hindu Bali, salah satunya adalah tradisi meburu yang dapat dipercaya untuk menetralisasi pengaruh energi negatif menjadi kekuatan dan energi positif. Tradisi meburu menjadi sarana menyucikan bhuana alit dan bhuana agung untuk menjadi seimbang antara manusia, alam dan lingkungannya, baik di alam sekala dan di alam niskala. Saat ini, masih banyak masyarakat belum mengetahui fenomena yang tercipta dari konsep ruang sakral yang membentuk tradisi, ritual unik, dan magis meburu yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Panjer. Apa sebenarnya makna yang dapat ditemukan dari setiap https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH prosesi di balik seluruh pemikiran ritual, struktur, dan kepercayaan yang telah dijalankan secara berkesinambungan selama ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengkaji nilai sosial, nilai budaya, dan nilai religius yang terkandung pada tradisi meburu, dan menganalisis implikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi kualitatif dengan pendekatan teologis, historis, dan filsafat. Hasil penelitian menemukan bahwa rangkaian tradisi meburu diawali dengan membuat banten upacara. Ida Bhatara menuju paum/rapat di Pura Bale Agung, melasti, ngembang, meprani, tawur agung panca sata, pelaksanaan meburu, dan penyimpenan. Landasan dalam mitologi telah menjadi pondasi kuat dalam menjalankan keyakinan religius masyarakat Desa Adat Panjer sehingga keberadaan tradisi meburu dapat tetap ajeg lestari karena dikemas menjadi keyakinan mitos. Tradisi meburu dapat menjaga nilai budaya, nilai sosial, dan nilai religius yang diwariskan secara turun temurun pada masa lalu hingga saat ini sehingga tetap ajeg dan lestari. Pelestarian tradisi meburu dapat memberikan implikasi terhadap ketatwaan Hindu, sikap dan etika, serta berimplikasi terhadap kebersamaan dan kerja sama, perilaku religius, dan etis. Kata Kunci: Sakralisasi Ruang. Nilai-Nilai Sosial. Budaya. Dan Religi. Tradisi Meburu Pendahuluan Tradisi merupakan benda . dan gagasan yang bersumber dari masa sebelumnya yang tetap ada sampai sekarang dan wujud benda tersebut belum dihancurkan atau dirusak. Tradisi memiliki warisan yang benar dari masa lalu serta telah terjadi berulang-ulang dan tidak terjadi secara kebetulan ataupun disengaja (Sztompka, 2. Tradisi bersumber dari pengetahuan, diakui dan diyakini oleh masyarakat serta dilakukan secara turun temurun untuk menjaga warisan budaya yang ajeg dan lestari. Tradisi diyakini memiliki sifat-sifat religius dan berkearifan lokal oleh masyarakat di Bali sehingga tradisi tersebut dihormati dan dipuja melalui upacara keagamaan Hindu (Listriani. Yasa, & Putra, 2. Terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan . elanjutnya disebut UU 5/2. oleh pemerintah mengisyaratkan kepada kita bahwa budaya-budaya lokal dengan komunitas yang dimiliki harus digairahkan dan dibangkitkan kembali oleh seluruh komponen masyarakat. Selain itu, hadirnya UU/5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan mengajarkan kita untuk saling menghargai keberagaman dan identitas kebudayaan di Indonesia seiring dengan dinamika modernisasi saat ini. Bali sangat kaya dengan tradisi yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Tradisi tersebut memiliki pondasi yang kuat karena ditopang oleh keyakinan dan kepercayaan agama Hindu Bali. Selain itu. Bali memiliki berbagai macam warisan budaya leluhur dan berlimpah yang sampai saat ini tertanam dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Tradisi tersebut masih berlangsung dengan baik hingga saat ini karena desa adat di Bali selalu konsisten untuk tetap menjaga nilai-nilai dan kepercayaan masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terkadung dalam bingkai tiga kerangka dasar agama Hindu sebagai pijakan dan tuntunan yaitu agama . , kesusilaan . , dan upacara . bersifat religius dan Masyarakat Bali memiliki berbagai macam tradisi serta keberadaannya masih tetap terjaga kelestariannya hingga saat ini, seperti tradisi meburu. Tradisi ini secara rutin dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Panjer Denpasar dalam rangkaian tawur agung kesanga, sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi. Rangkaian prosesi meburu menjadi salah satu sarana untuk memohon kepada Tuhan agar bhuana alit atau alam manusia dan bhuana agung atau alam semesta tetap suci dan seimbang, baik di dunia sekala . dan di dunia niskala . idak nyat. sehingga aura positif dalam sistem kepercayaan masyarakat Hindu dapat dipertahankan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tradisi meburu diduga mempunyai personifikasi mistik kekuatan alam, yaitu kepercayaan terhadap makhluk gaib, dewa pencipta, serta dapat mengkonseptualisasikan hubungan berbagai kelompok sosial dan kekuatan alam (Keesing, 1. Koentjaraningrat menyampaikan bahwa dalam ritual dan kepercayaan keagamaan yang terjadi di masyarakat akan mendorong manusia untuk berbuat dan menemukan hubungan dengan dunia gaib dan penguasa alam melalui ritual keagamaan . eligious ceremonie. di saat masyarakat mengalami kegentingan, terjadi bahaya gaib, penyakit dan kesengsaraan (Koentjaraningrat, 1. Agama, budaya, dan tradisi Bali berhubungan erat dengan mitologi dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat di Bali sebagai sebuah mitos yang diimplementasikan secara turun temurun sehingga menjadikan kepercayaan, hakikat kebaikan, dan nilai sakral dalam aktivitas sosial keagamaan Hindu. Mitos dalam tradisi sebagai sebuah fenomena sejarah yang tidak tampak dan sakral tetapi dapat dipercaya dan diyakini serta dipertahankan oleh masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Mitos dalam keyakinan beragama yang berkembang di Bali diyakini sebagai pengembangan tradisi dan budaya di Indonesia dengan menghargai nilai-nilai prinsip dari ajaran agama Hindu sehingga mitos tersebut dapat menjadi penguat keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat Indonesia. Tradisi meburu sebagai budaya tradisional merupakan kepercayaan tentang pengetahuan dan kebenaran yang dilaksanakan secara berlanjut. Hal itu, juga diungkapkan oleh (Piliang, 2. , bahwa tradisi berupa wujud karya, gaya, konvensi, dan kepercayaan yang direpresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu ke masa kini yang tidak berubah yang dijalankan sebagai sebuah pengulangan dalam memberikan pengetahuan dan kebenaran sebagai konsep suatu kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Artinya, tradisi meburu dapat dimaknai sebagai wujud kebudayaan dalam keyakinan masyarakat Desa Adat Panjer. Denpasar Bali di dalam bertindak, berbuat, berbudi pekerti, bersikap, dan juga berakhlak mulia dan tulus ikhlas. Konsep ruang sakral dibentuk tidak lepas dari pengaruh kuat dari sosial religious dari sistem kepercayaan atau agama, tradisi, dan budaya. Tidak hanya itu, konsep ruang sakral dipengaruhi oleh terbentuknya elemen-elemen fisik seperti simbol, desain, dekorasi, konsep dari wujud arsitektural, interior, dan nilai estetika pada struktur sakral tersebut yang dipercayai mampu membawa manusia lebih dekat kepada idealisme religius secara spiritual melalui komunitasnya (Mazumdar & Mazumdar, 2. Artinya, munculnya visualiasi ruang sakral dibentuk melalui implementasi dan manifestasi dalam ajaran-ajaran religius dan spiritual. Tradisi meburu merupakan kegiatan sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sad kerthi yang adiluhung dari leluhur di Bali. Selain itu, juga untuk mengharmoniskan dan menyeimbangkan alam, manusia dan budaya Bali yang bernafaskan ajaran agama Hindu baik secara sekala dan niskala. Dalam tradisi meburu dibutuhkan ruang yang memiliki atribut-atribut seperti yang disampaikan oleh Parimin . yaitu ruang sociology. Tradisi meburu memiliki ruang sakral dalam wujud karya arsitektur Bali yang mampu mewadahi segala jenis aktifitas keagamaan dan tradisi sebagai ruang sakral yang bermakna suci dengan aktifitas, ritual, pemujaan keagamaan. Pelaksanaan ritual dan pemujaan pada ruang sakral ini menjadikan pembeda dengan ruang-ruang lainnya dalam wadah, batasan, dan wujud kegiatan yang lebih spesifik. Menurut Dhavamony . wujud sakral dapat dijumpai pada kegiatan dan fungsi ritual yang dipersembahkan bagi para dewa/bhatara pada tempatsuci. Fungsi ritual dapat diartikan sebagai atribut budaya yang sangat penting untuk mewujudkan setting ruang publik maupun privat dan dapat menghasilkan struktur ruang tertentu (Knowles, 1. Hubert Caillois (Bustanuddin, 2. mengungkapkan bahwa kesakralan itu timbul dari konsep dan ide dasar dari ritual https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keagamaan. Sedangkan keyakinan sebagai mitos dan dogma untuk mengekspresikan karakter dan perlakuan bendanya agar tetap sakral. Pelaksanaan ritual merupakan realisasi dari kepercayaan tersebut sebagai perwujudan dan pengembangan etika religius dari wujud benda yang disakralkan. Begitu sakral, unik, dan berkekuatan magis tradisi meburu tersebut. Namun, hingga saat ini belum banyak masyarakat mengetahui fenomena yang dirasakan dan dialami secara nyata dalam hal terciptanya ruang sakral dan nilai-nilai yang terkandung dalam ritual meburu di Desa Adat Panjer. Pendalaman pengetahuan tentang tradisi meburu dapat didiskripsikan melalui bagian-bagian prosesi ritualnya sehingga didapat makna dan ditemukan apa yang sebetulnya berada di balik segala kehidupan dan pemikiran pelaksanaan ritual, struktur, dan kepercayaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan selama ini oleh masyarakat Desat Adat Panjer. Artikel ini menjawab tiga permasalahan yaitu pertama, untuk mengeksplorasi rangkaian prosesi tradisi meburu yang dilaksanakan oleh Desa Adat Panjer. Kedua, mengkaji nilai-nilai yang terkadung di dalam prosesi tradisi meburu. Ketiga, menganalisis implikasi dari pelaksanaan prosesi tradisi meburu. Kebaruan dari kajian ini terletak pada pemaknaan prosesi meburu, ruang sakral, dan nilainilai yang terkandung dalam tradisi meburu. Metode Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi kualitatif untuk melihat rangkaian prosesi meburu secara menyeluruh di Desa Adat Panjer, seperti perilaku dan persepsi dengan mendeskripsikannya dalam bentuk kata, simbol, dan bahasa dengan menggunakan metode ilmiah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan teologi, pendekatan historis, dan pendekatan filsafat. Pendekatan teologi untuk memahami makna dan ajaran mengenai upacara dan tradisi meburu di Desa Adat Panjer sebagai wujud keyakinan empirik dari keyakinan ajaran-ajaran dan konsep dalam agama Hindu. Pendekatan historis bertujuan untuk memaknai rangkaian proses meburu dalam ruang sakral yang digunakan. Sedangkan pendekatan filsafat digunakan untuk memahami nilai-nilai yang terkadung di dalam tradisi yang sakral tersebut sehingga diperoleh, dimengerti, dan dipahami hakikat dan inti dari prosesi meburu tersebut secara seksama. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Penentuan informan ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu diklasifikasikan dengan tujuan tertentu berdasarkan kemampuannya dalam hal pengetahuan tentang pemaknaan tradisi meburu. Wawancara dilakukan dengan tokoh masyarakat, bendesa adat, kelian adat, jero mangku, serati, rohaniawan/pedanda, budayawan, serta masyarakat lainnya di wilayah Desa Adat Panjer. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dan Pembahasan Hari raya Nyepi adalah hari suci untuk umat Hindu yang dirayakan pada tahun baru caka dan telah ditetapkan berdasarkan penanggalan caka sejak 78 Masehi. Pelaksanaan hari raya Nyepi dapat dimaknai sebagai keyakinan agar kehidupan di dunia tetap seimbang, harmonis, sejahtera, dan damai. Keyakinan seseorang tersebut tidak dapat terlepas dari alam semesta beserta seluruh isi di dalamnya (Geertz, 1. Lebih lanjut Geertz . menyampaikan bahwa keunikan budaya memiliki karakter dan sistem nilai yang kompleks. Begitupula dengan eksistensi budaya masyarakat di Bali cenderung memiliki sikap, perilaku, dan berorientasi kepada nilai-nilai moral yang luhur . end to religious and moral value. dalam bingkai ajaran agama Hindu. Artinya, setiap sistem dalam agama memiliki makna dan simbol yang disakralkan sehingga dapat terwujud sistem keagamaan yang teratur. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pemahaman kebudayaan oleh Geertz . dapat dimaknai bahwa kebudayaan tersebut untuk menemukan dan mencari makna di balik seluruh kehidupan dan pelaksanaan ritual, struktur, dan kepercayaan dari masing-masing-agama. Seperti halnya rangkaian prosesi meburu menjadi salah satu sarana untuk memohon keseimbangan antara manusia, alam dan lingkungannya. Alam yang dimaksud adalah alam sekala . dan alam niskala . idak nyat. Alam sekala dapat dilihat dari kehidupan sosial masyarakat, sedangkan alam niskala dipersonifikasikan sebagai alam spiritual yang memiliki kekuatan dan keyakinan supranatural. Alam spiritual memiliki aura positif maupun negatif ke dalam kehidupan manusia sehingga menciptakan sistem religi lokal atau kepercayaan/agama Hindu. Pelaksanaan tawur agung kesanga dirangkaikan ritual meburu merupakan perwujudan umat Hindu dalam menjalankan ajaran bhakti marga dalam tatanan sistem dan nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Tradisi meburu mengandung makna untuk pelestarian budaya dan menjaga kelangsungan kehidupan masyarakat di Desa Adat Panjer secara sekala dan niskala. Rangkaian tradisi meburu diawali dengan membuat banten upacara. Ida Bhatara menuju paum/rapat di Pura Bale Agung, melasti, ngembang, meprani, tawur agung panca sata. Setelah semua rangkaian tawur selesai dilanjutkan dengan tradisi meburu dengan caru tawur nyomya bhuta kala di Pura Tegal Penangsaran dan diakhiri dengan penyimpenan. Semua persiapan telah diatur dengan baik oleh prajuru Desa Adat Panjer dibantu karang taruna, pemangku, kelian banjar, dan masyarakat. Menurut Tarka . awancara, 9 Februari 2. selaku kelian Adat Banjar Celuk diketahui bahwa ngayah dalam rangkaian Nyepi dilakukan bergilir setiap tahunnya oleh sembilan banjar yang ada di Desa Adat Panjer baik pria maupun wanita. Dalam mengerjakan upakara/banten dibantu oleh serati . eseorang yang ahli dalam membuat perlengkapan upacara keagamaa. yang dimiliki oleh Desa Adat Panjer berjumlah kurang lebih lima belas orang. Melalui Budiana . awancara, 10 Februari 2. , selaku tokoh masyarakat Desa Adat Panjer diperoleh informasi bahwa semua biaya pembuatan banten upakara tersebut bersumber dari kas Desa Adat Panjer termasuk upacara agama/odalan di Pura Kahyangan Tiga. Kas Desa Adat Panjer disimpan di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sehingga mendapatkan keuntungan 20% sesuai dengan aturan LPD. Selain itu, juga dana dari pungutan pasar, parkir, dan lain-lain sehingga dapat memenuhi kebutuhan ritual dan pembangunan di Desa Adat Panjer. Selain itu, juga Budiana . awancara, 10 Februari 2. , menyampaikan bahwa ngayah juga dapat mengembangkan pemahaman dan pengetahuan generasi muda terhadap aspek tattwa. Katattwan atau kasuksman dalam kegiatan ngayah membuat banten merupakan pengetahuan melalui tindakan dan interaksi antarwarga sehingga dapat mengonstruksi pengalaman empiris. Gambar 1. Ngayah Membuat Banten Upakara di Banjar Celuk (Sumber: I Kadek Pranajaya, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Anom . awancara, 9 Februari 2. , selaku Jero Mangku Dalang Desa Adat Panjer diperoleh informasi bahwa, dua hari sebelum tradisi meburu dilaksanakan. Ida Bhatara/Ida Sesuhunan rapat . di Pura Desa/Pura Bale Agung. Pada umumnya di Pura Bale Agung terdapat bangunan utama berupa Bale Panjang yang berfungsi untuk menstanakan pelinggih/tempat suci Ida Bhatara dan benda-benda sakral saat upacara keagamaan di Bali. Bale Agung berarti balai yang besar dan memanjang difungsikan untuk menempatkan pretima pada saat upacara keagamaan. Selain itu, juga Bale Agung sebagai tempat dilakukannya paruman/rapat Ida Bhatara. Pertemuan yang dimaksud dapat berupa ruang pertemuan niskala para bhatara atau pertemuan sekala masyarakat Desa Adat Panjer. Pura Bale Agung sebagai penanda tempat pertemuan semakin dikuatkan dengan pelaksanaan sejumlah ritus yang dilakoni pada saat menjelang hari raya Nyepi, yaitu Ida Bhatara setiap pura di wilayah Desa Adat Panjer ditempatkan di Bale Agung untuk rapat . , seperti Ida Bhatara Pura Puseh. Pura Desa. Pura Dalem. Ida Bhatara Pura Tegal Penangsaran. Pura Dalem Meru. Pura Dalem Sasih. Pura Batur. Pura Patemon. Pura Taman Sari. Pura Pakuwon. Pura Kukuh. Pura Waringin. Pura Botoh. Pura Pasek. Pura Maospahit. Ratu Ayu maka Catur (Ratu Ayu. Dewa Rangda. Dewa Rarung, dan Ratu Mas Topen. , dan Ida Ratu Ngurah Agung Lanang lan Istri di Bekul. Prosesi Ida Bhatara/Ida Sesuhunan rapat . di Pura Desa/Pura Bale Agung tersebut dimaknai sebagai keyakinan, kebenaran, dan mitologi melalui simbolsimbol dewa/bhatara ke dalam pratima yang dimiliki masyarakat Desa Adat Panjer. Mitologi tersebut sebagai bentuk cerita yang dibuat oleh manusia untuk mengungkapkan suatu fakta yang memiliki unsur supranatural dalam bentuk keyakinan yang beretika. samping itu, juga disimbolikkan ke dalam ritual untuk menggambarkan hubungan manusia dengan kekuatan transenden dalam wujud dewa-dewa/bhatara. Gambar 2. Suasana Ida Bhatara Paum di Pura Bale Agung (Sumber: Agung Wijaya 2. Selanjutnya dilaksanakan upacara melasti. Pelaksanaan upacara melasti bagi masyarakat Desa Adat Panjer dilakukan pada tiga hari sebelum pelaksanaan hari raya Nyepi. Melasti bertujuan untuk pembersihan dan penyucian berbagai benda sakral yang dimiliki Pura di lingkungan Desa Adat Panjer seperti pralingga/ pratima Ida Bhatara. Pratima tersebut sebelumnya tersimpan di Pura Bale Agung. Menurut Rapog . awancara, 10 Februari 2. , sebagai pemangku Pura Dalem Sasih Desa Adat Panjer, mengaatakan bahwa melasti bermakna nganyudang malaning gumi, ngamet tirta amerta atau menghanyutkan atau membuang kotoran yang ada di alam dengan sarana air Sedangkan laut merupakan simbol sumber tirtha amertha (Dewa Ruci. Pemuteran Mandaragir. Artinya, melasti adalah rangkaian pembersihan manusia, alam, dan benda-benda sakral sehingga menjadi suci kembali. Masyarakat melaksanakan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH persembahyangan untuk memohon kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Es. , melalui air kehidupan seperti air laut, danau, dan sungai agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan rangkaian hari raya Nyepi. Lebih lanjut Rapog . awancara, 10 Februari 2. , mengatakan bahwa Desa Adat Panjer pada zaman dahulu melaksanakan melasti di seputaran Pura Batan Kendal. Namun, setelah melalui hasil kesepakatan masyarakat Desa Adat Panjer pada waktu itu maka pelaksanaan melasti hingga saat ini dilaksanakan di Pantai Mertasari Sanur. Setelah selesai melasti, seluruh perlengkapan seperti pralingga atau pratima Ida Bhatara /bendabenda suci dan sakral dibawa dan ditaruh kembali di Pura Bale Agung. Pada saat pelaksanaan melasti dihaturkan sesajen sebagai simbolis dewa dalam trimurti yaitu Dewa Wisnu. Siwa, dan Brahma. Jumpana disimboliskan sebagai linggih/singgasana Dewa Brahma. Rapog . awancara, 10 Februari 2. , juga menyampaikan bahwa upakara pada saat melasti adalah mempersembahkan hidangan kepada Hyang Baruna dengan mepekelem/membuang ke laut. Caru bebek dan ayam dipersembahkan ke dalam pusering segara/sumber segara . untuk mohon doa restu-Nya. Setelah pekelem dilaksanakan, masyarakat mengambil/ngelungsur tirtha/wangsuh pada dari air laut yang digunakan untuk melebur uparengga . erangkat upacara yang merupakan simbol perwujudan Sang Hyang Widhi, seperti pratima, tumbak, duaja, badrangan sebagai simbol yang patut disucikan serta umbul-umbul, dwaja/kober, dan Pada saat melasti tebu berfungsi sebagai penyupat/pembersih malaning/ bencana, kober sebagai simbul angin, badrangan simbol api, dan umbul-umbul simbol air, sedangkan pratima sebagai simbol dewa dan bhatara. Sebelum ditaruh di Bale Agung dilakukan meprasaya/berputar tiga kali/ngider buana sebagai simbolis berputar/ngilehin atau mengelilingi desa. Ida Bhatara sesuhunan nyejer . tiga hari di Bale Agung. Warga diberi kesempatan mempersembahkan soda, wangi rayunan /makanan di pagi hari dan sore secara simbolis kepada Ida Bhatara yang berada di Pura Bale Agung. Sehari setelah melasti, dilaksanakan acara ngembang oleh Utsawa Dharma Gita Desa Adat Panjer. Gambar 3. Suasana Melasti di Pantai Merta Sari Sanur (Sumber: Agung Wijaya 2. Sehari sebelum hari raya Nyepi, di pagi hari dilaksanakan upacara meprani di setiap Prani berarti semua makhluk/sarwa prani. Di sisi lain prani berarti hidangan /persembahan berupa soda dalam gebogan yang dilengkapi dengan nasi, lawar, sate, dan Namun, di beberapa desa di Bali hidangan prani disajikan dalam bentuk buahbuahan. Meprani di Desa Adat Panjer dilaksanakan pada pagi hari sehari sebelum hari raya Nyepi. Persembahannya berupa banten dan hidangan di atas dulang dengan nasi, lawar, sate, dan kuah. Banten prani ini dipersembahkan oleh seluruh keluarga untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dibawa ke banjar dan dipersembahkan kepada Ida Bhatara. Upacara meprani dipimpin oleh jero mangku yang ada di setiap banjar diikuti oleh seluruh krama/masyarakat banjar dengan ikut melakukan persembahyangan. Menurut Wirata . awancara, 18 Februari 2. , selaku jero mangku Pura Bale Agung Desa Adat Panjer mengatakan bahwa, upacara meprani bertujuan untuk mengharmoniskan alam sekala dan niskala dengan pelaksanaan pembersihan yang dimaknai sebagai penyucian bhuana agung dan bhuana alit dalam skala kecil, yakni ruang lingkup banjar dan krama banjar bersaranakan caru eka sata . yam brumbu. dan banten durmanggala. Upacara tersebut dimaknai sebagai pembersihan energi-energi negatif di alam semesta ini. Setelah itu dilanjutkan dengan pengulapan untuk mengembalikan energi-energi alam semesta ke posisinya semula. Selanjutnya adalah ngelis dan prayascita yang bermakna pembersihan serta penyucian bhuana agung maupun bhuana alit, sekala, dan niskala. Upacara mecaru ini agar alam semesta menjadi seimbang, bersih, tenang, dan suci atau pemarisuda bhumi. Gambar 4. Suasana Meprani di Br. Sasih Desa Adat Panjer (Sumber: Agung Wijaya 2. Setelah upacara meprani, sekitar pukul 12. 00 wita dilaksanakan tawur agung kesanga dengan caru panca sata di perempatan wilayah Desa Adat Panjer. Upacara Tawur Agung Kesanga dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala tergolong ke dalam upacara bhuta yadnya karena upacara tersebut dilakukan untuk kesejahteraan alam dan Selain itu, juga Tawur Agung Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia (Warsaa, 2. Kata tawur berarti membayar atau mengembalikan alam semesta ini agar menjadi seimbang. Artinya, tawur agung kesanga dilaksanakan pada tilem kesanga, yaitu pada tilem bulan kesembilan kalender Bali, sehari sebelum perayaan Nyepi. Tujuannya adalah untuk menyucikan dan menyeimbangkan bumi beserta isinya. Pelaksanaan upacara tawur di catus pata dengan caru yang bertujuan memanggil bhuta kala di segala penjuru arah untuk di-somya dengan memberikan laban . sehingga mereka tidak membuat kegaduhan dan malapetaka bagi umat manusia. Makna dan arti caru jika merujuk pada kitab swara samhita adalah harmonis dan Kata caru berasal dari kata car yang berarti enak, manis, atau sangat menarik yang kemudian berkembang menjadi harmonis, selaras, serasi, dan seimbang. Panca berarti lima dan sata artinya ayam. Jika dilihat dari terminologinya, caru panca sata bermakna persembahan suci berupa lima jenis ayam, disembelih dan diolah menjadi simbol-simbol berupa jenis-jenis makanan untuk disuguhkan kepada bhuta kala supaya harmonis (Arista, 2. Hal ini dimaknai secara niskala bahwa bhuta kala dikendalikan menggunakan ritual caru untuk menanggulangi berbagai macam malapetaka yang akan Dengan upacara mecaru ini diharapkan energi alam semesta kembali dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keseimbangan, bersih, tenang, dan suci. Setelah itu, dilaksanakan mapurwa daksina. Prosesi ritual tersebut untuk mendoakan agar semua binatang yang telah disucikan itu bisa dipergunakan untuk sarana yadnya. Semua binatang korban suci diperciki tirta praline yang diperoleh dari Pura Jagatnatha. Hal ini dimaknai agar roh-roh binatang yang dipergunakan sebagai sarana upacara tersebut menjadi meningkat/lebih tinggi derajatnya dari sebelumnya. Gambar 5. Suasana Mecaru Panca Sata di pempatan Desa Adat Panjer (Sumber: I Putu Dudyk 2. Menurut Anak Agung Ketut Adi, selaku jero/pemangku Pura Puseh Desa Adat Panjer mengatakan bahwa, sebelum meburu dilakukan beberapa rangkaian upacara oleh masyarakat Desa Adat Panjer. Dimulai dari upacara pedatangenan sari di Pura Bale Agung, ngaturin kawas pemendakan, ngider bhuana/berputar di Bale Agung sebanyak tiga kali, ngeluarin. Dilanjutkan dengan persembahan banten kawas pemendakan dan pementasan tari-tarian/pemendetan dengan tari rejang dan tari baris. Upacara ngider bhuwana dan pedatengan sari menggunakan areal ruang di dalam Pura Bale Agung yang dipimpin langsung oleh pemangku Pura Bale Agung. Pedatengan adalah bagian dari upacara keagamaan bagi umat Hindu di Bali. Pedatengan bersumber dari kitab suci Weda dan sastra-sastra yang ada di Bali. Pedatengan diambil dari bahasa Kawi (Jawa Kun. berati menjamu atau penyapa ida bhatara diiringi dengan tari pependetan untuk memohon wara nugraha/keselamatan (Wojowasito, 1. Gambar 6. Upacara Pedatengan Sari (Sumber: Ramanda 2. Berdasarkan lontar Usana Bali, rejang sebagai simbol widyadari . yang menuntun ida bhatara pada saat turun ke ibu pertiwi untuk melinggih/beristana di pura. Tari rejang dikategorikan sebagai tarian sakral yang ditarikan pada lingkungan pura dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH para penari berdekatan dengan letak sesaji. Rejang dewa berarti bersiap untuk menyambut datangnya para dewa yang akan turun ke bumi dan beristana di pralingga. Tari rejang ini umumnya dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara keagamaan bagi masyarakat Hindu di Bali. Tarian rejang adalah aset dan warisan budaya bangsa Indonesia yang dipercaya mengandung nilai-nilai dan makna spiritual. Oleh karena itu, tarian tersebut dapat dipercaya sebagai tarian yang suci dan dan sakral serta dilakukan dengan penuh rasa pengabdian yang tulus ikhlas. Sebelum tradisi meburu dilaksanakan oleh masyarakat Adat Panjer, dipentaskan rejang dewa dan baris penyegjeg pancer sari. Tarian tersebut dipentaskan di ruang/mandala jaba sisi/sisi terluar bangunan Saat pregina/penari rejang dewa menari sebagian pemangku ikut ngayah memendet, sedangkan serati dan beberapa warga ngayah ngemargiang kawas pemendakan. Gambar 7. Tari Rejang Penyegjeg Pancer Sari (Sumber: Agung Kesuma Yudha 2. Konsep pakaian tetap memakai warna warna putih dan kuning. Penari rejang melibatkan sembilan banjar di Desa Adat Panjer dengan jumlah penari sebanyak tiga puluh tiga penari. Sedangkan tarian baris penyegjeg pancer sari memiliki makna sebagai tarian kepahlawanan seperti tarian baris pada umumnya. Konsep tarian baris adalah membuka jalan untuk menuju surga dari alam bhuta ke alam dewata. Jumlah penari baris penyegjeg pancer sari berjumlah sembilan orang dimaknai sebagai jumlah pengider/pengurip bhuana sebagai konsep pengider bhuana yang ada dalam satra agama. Tumbak sebagai simbol penjuru mata angin. Tarian rejang dan baris penyegjeg pancer sari pertama kali dipentaskan pada saat upacara balik sumpah di Pura Desa Adat Panjer. Jenis pakaian sama dengan tarian rejang dan baris pada umumnya. Gambar 8. Tari Baris Penyegjeg Pancer Sari (Sumber: Agung Kesuma Yudha 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Anom . awancara, 9 Februari 2. , selaku jero mangku Dalang Desa Adat Panjer, menyatakan bahwa setelah selesai acara tari-tarian/pemendetan, pada sekitar pukul 17. 30 WITA dilakukan upacara pengeluaran di Bale Agung. Tukang banten/ serati telah siap melaksanakan upacara meburu. Sebelumnya pelaksanaan meburu dimulai para pemangku dan serati ngaturin kawas pemendakan dan ngider bhuana/ mengelilingi Bale Agung sebanyak tiga kali dengan diiringi musik tradisional, yaitu baleganjur. Setelah itu, beberapa warga dan para sadeg . apakan ida bhatar. mulai kesurupan . ada yang mengambil keris dan mengambil tombak . engawin pajenengan Ida Bhatara Pura Tegal Penangsaran. Beberapa sadeg mengalami kerahuan dan langsung berlari meburu menuju Pura Tegal Penangsaran. Para pecalang Desa Adat Panjer beserta pihak kepolisian ikut mengamankan ritual meburu tersebut dengan berjaga di Pura Tegal Penangsaran. Masyarakat yang tidak kesurupan . mengikuti iringan tersebut sampai di Pura Tegal Penangsaran. Gambar 9. Para Sadeg Kerahuan/Kerasukan di Pura Bale Agung (Sumber: Agung Wijaya 2. Sesampainya di Pura Tegal Penangsaran dilaksanakan upacara mecaru dan nyambleh/menyembelih dengan mengambil ruang jaba sisi Pura Tegal Penangsaran. Rudi Arsana dan Tantra . awancara, 11 Februari 2. , mengatakan bahwa, upacara ini selalu ditradisikan karena masyarakat Panjer sangat percaya dengan adanya kekuatan magis dari Ratu Gede untuk melindunginya. Jero mangku nganteb caru dan melakukan pembersihan secara niskala . ereresik ngemargiang pebiokaonan, prayascit. dan lain-lain menghadap ke barat, sedangkan Ida Sesuhunan menghadap ke timur. Gambar 10. Sadeg Berlari Menuju Pura Tegal Penangsaran (Sumber: Agung Wijaya 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Setelah semua upacara mecaru selesai dilaksanakan penyamblehan bebek putih, ayam putih, dan babi kecil jantan/kucit butuan. Para sadeg patih yang kesurupan . sangat semangat dan semarak menyantap isi caru. Keris pajenengan Ida Bhatara Pura Tegal Penangsaran digunakan untuk nyambleh kucit butuan. Saat warga kerauhan pada rangkaian meburu diiringi suara gamelan beleganjur yang gemuruh. Gambar 11. Pecaruan di Jaba Sisi Pura Tegal Penangsaran (Sumber: Agung Wijaya 2. Tujuan nyomya adalah agar supaya masyarakat Desa Adat Panjer diberi kedamaian dan kesejahteraan/dirgayusa dan hening melaksanakan hari raya Nyepi. Menurut Budiana . awancara, 10 Februari 2. , selaku tokoh masyarakat Adat Penjer menyatakan bahwa tradisi meburu merupakan pelaksanaan ajaran kuna dresta dari ajaran catur dresta . una dresta, sastra dresta, loka dresta, dan desa drest. Meburu sebagai kuna dresta memiliki makna sakral dan magis. Oleh karena itu, diperlukan ruang dalam areal pura yang sakral dan harus dilestarikan dan dilaksanakan dengan dresta dan agama. Selain itu, tradisi meburu menciptakan keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit. Artinya perlu dijaga agar dapat memberikan nilai kesejahteraan, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat, baik sekarang maupun pada masa mendatang. Gambar 12. Situasi Meburu. Persiapan Nyambleh Kucit Butuan Pura Tegal Penangsaran (Sumber: Agung Wijaya 2. Budiana . awancara, 10 Februari 2. , juga mengatakan bahwa Pura Tegal Penangsaran merupakan pura yang diyakini sebagai suatu proses penghukuman dari mitologi Hindu dan sebagai tempat para atman. Tegal Penangsaran berarti tempat yang linggah/luas tidak terjangkau sebagai tempat Sang Hyang Atma melakukan perjalanan sebelum menuju surga atau. Posisi melakukan nyomya menghadap ke barat/kauh. Nyomya bermakna mengusir dengan ngelarung caru. Tradisi sakral meburu diyakini oleh https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat dapat menetralisasi kekuatan bhuta dan disomya/netralisasi agar menjadi energi positif /kerahayuan jagat di Desa Adat Panjer. Hasil temuan penelitian sesuai dengan hal yang disampaikan oleh Durkheim . bahwa tradisi sebagai ungkapan emosi keagamaan umat Hindu yang dalam. Hal ini menyebabkan masyarakat Adat Panjer menjadi religius. Artinya, sifat-sifat Tuhan/Ida Bhatara dimanifestasikan ke dalam wujud pratima dan simbol agama lainnya untuk mencari hubungan manusia dengan Tuhan, dan dewa-dewa. Jadi tradisi meburu memiliki jalinan persaudaraan yang erat dan terintegrasi secara emosi melalui ritual keagamaan yang menggerakkan jiwa manusia. Nilai-nilai budaya telah diwariskan pada tradisi meburu secara turun temurun hingga saat ini. Artinya, tradisi tersebut memiliki konsep-konsep yang ada dalam alam pikiran manusia yang dianggap berharga, bernilai penting dalam hidup mereka sehingga tradisi tersebut sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi yang positif pada kehidupan warga Panjer. Nilai-nilai budaya Bali dalam konsep mitologi mengandung nilai kearifan lokal untuk kesejahteraan masyarakat di Bali. Konsep tersebut di dalamnya mengandung nilai kerohanian atau keagamaan bagi masyarakat. Tradisi meburu diyakini sebagai bagian dari ritus yang diyakini dan diekspresikan melalui sikap religius bagi orang Bali. Artinya, ritus itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari simbol-simbol dan keyakinan religious oleh umat Hindu. Tradisi meburu berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat mitologis dalam setiap rangkaian kegiatannya sehingga landasan tersebut telah terbukti kuat menjadi pondasi bagi masyarakat Panjer. Selain itu, juga keberadaan tradisi meburu sampai saat ini dapat dilaksanakan dan tetap ajeg lestari karena dibalut dan dikemas oleh keyakinan mitos. Begitupula dengan upacara tawur agung kesanga, secara mitologis bermakna penyucian/pemarisudha bhuta kala. Upacara tersebut sebagai bentuk persembahan/kurban suci yang tulus ikhlas kepada unsur-unsur alam yaitu panca maha bhuta itu sendiri. Banyaknya keterlibatan warga Panjer dalam upacara dan rangkaian tradisi meburu cukup membuktikan bahwa masyarakat Panjer telah menerima pelestarian tradisi lama Pemakaian simbol-simbol agama dalam pelaksanaan tradisi dapat menghipnotis kita secara tidak sadar terhadap makna-makna dari simbol yang digunakannya, padahal kita tidak memahami, seperti halnya penggunaan binatang dalam upacara pecaruan meburu dengan menggunakan hewan kucit butuan, ayam dan itik. Hal tersebut karena kepercayaan masyarakat dan dibarengi rasa ketakjuban dan ketakutan pada akhirnya melahirkan sikap pemujaan dan religius. Landasan kuat dalam mitologi ini menjadikan umat Hindu melakukan ritual yadnya tersebut dengan tulus, taat, dan tunduk akan kebesaran Nya. Masyarakat menjadi ketakutan bila tidak melaksanakan ritual tersebut seperti yang diceritakan dalam mitos. Sebab ada risiko dan ancaman bahkan hukuman yang dapat menimpa warganya. Begitu pula dengan aktivitas ritual atau tradisi meburu, jika tidak dilaksanakan secara rutin selalu dikatakan oleh para penglingsir/dituakan akan terjadi musibah/ bencana pada wilayah/pemukiman Desa Adat Panjer. Faktor mitologi di Desa Adat Panjer sudah menjadi landasan penguat keyakinan . umat Hindu dalam menjalankan bhakti melalui ritual yadnya dan melaksanakan tradisi-tradisi masyarakat lainnya. Perihal tersebut dipertegas oleh pernyataan Widana. Winantra & Sudyana . yang menyatakan bahwa keberadaan mitologi dapat mengungkapkan dan merumuskan kepercayaan, melindungi serta memperkuat moralitas, menghayati pengalaman religius yang murni, memberikan pedoman hidup bagi manusia, dan menciptakan model bagi tindakan manusia termasuk dalam ritual/upacara Sulitnya menganalisis secara logis makna dari mitos dan religi merupakan gejala kebudayaan manusia. Oleh karena itu, sangat penting mengaitkan kepercayaan dan imajinasi mitis secara real . agar tidak kehilangan dasar-dasarnya. Mitos adalah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hasil dari emosi dan latar belakang emosional seseorang sehingga terjadi perbedaan dalam pengalaman empiris secara nyata. Mitos ada dan terwujud bukan dari pemikiran manusia melainkan perasaan kita sendiri. Sedangkan religi sendiri berhubungan dan dapat dipahami melalui unsur-unsur mitis dan lahir dari kekuatan-kekuatan moral (Yudari. Paramita & Ngurah, 2. Tradisi meburu memiliki nilai budaya yang kuat dan mulia sehingga dijadikan pedoman hidup masyarakat Adat Panjer untuk ikut melaksanakannya secara ikatan btahin yang tulus ikhlas. Nilai-nilai itu muncul dalam norma-norma, kebiasaan, ataupun hukumhukum adat sebagai suatu tata tertib yang menjamin kehidupan bersama yang sesuai dengan kepercayaan masyarakat adat melalui awig-awig desa adat dan perarem yang telah disepakati bersama oleh masyarakat Adat di Panjer. Hal itu, juga disampaikan oleh Edward B. Taylor (Nuraeni & Alfan, 2. bahwa secara keseluruhan kebudayaan terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, moral, kesenian, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang didapat oleh masyarakat. Nilai-nilai yang terkadung dalam prosesi tawur agung kesanga dan tradisi meburu adalah nilai sosial, nilai budaya, dan nilai religi. Nilai tersebut menjadi pondasi kuat dalam pelestarian kebudayan dan ajaran agama Hindu sehingga dapat menjaga keseimbangan alam semesta bhuana agung dan bhuana alit. Ketiga nilai tersebut tercermin dalam wujud kebudayaan seperti yang disampaikan oleh Kebung . yang mengambil intisari dari pernyataan Koentjaraningrat . yaitu: . gagasan terwujud dari kumpulan, ide-ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan yang bersifat abstrak serta dapat diraba dan disentuh. aktivitas melalui tindakan yang berpola dari masyarakat. artefak terwujud dalam karya fisik dari aktivitas dari perbuatan masyarakat. Dapat berupa benda yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan. Sedangkan upacara keagamaan dapat didefinisikan sebagai sarana komunikasi yang memuat pesan-pesan agama. Seperti yang dijelaskan oleh Suparlan . bahwa dalam upacara agama memiliki pesan untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh masyarakat. Konsep upacara keagamaan Hindu di Bali mempunyai nilai sosial secara tulus ikhlas dalam beryadnya sehingga dapat terwujud kesejahteraan hidup di dunia . dan di akhirat . Selain itu, konsep tri hita karana terimplementasi dalam kehidupan sosial masyarakat desa adat di Bali. Nilai sosial dapat dilihat dari semangat gotong-royong/ngayah, kebersamaan, dan kekeluargaan sangat kental terlihat dalam pelaksanaan tradisi meburu. Masyarakat Desa Adat Panjer ngayah/gotong royong/bekerjasama untuk melaksanakan tradisi ini, mulai dari tahap persiapan sampai dengan selesainya upacara. Tradisi ini dilaksanakan secara tulus tanpa mengharapkan Ngayah/gotong royong sebagai wujud konsep dan budaya menyame braya untuk membangun rasa kekeluargaan dan kebersamaan bagi umat Hindu di Bali untuk saling membantu satu sama lain. Budaya ngayah merupakan kewajiban sebagai wujud penerapan ajaran karma marga. Ajaran karma adalah ajaran yang membebaskan kerja dari ikatan hasil kerja. Artinya, umat diajarkan untuk melaksanakan kerja secara tulus ikhlas dan tanpa pamrih serta menjadikan tindakan kerja sebagai kewajiban . Nilai kebersamaan pada tradisi meburu merupakan cerminan dari budaya Bali yang dilaksanakan secara turun-temurun sehingga terpupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Terdapat pula unsur kekeluargaan dan gotong-royong sehingga masyarakat diajarkan tidak bersifat induvidualisme sehingga mampu mengendalikan diri dan mulat sarira. Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi meburu mampu mengantarkan pada masyarakat berfikir dan berbuat baik di masyarakat (Saryana, 2. Nilai sosial dapat memberikan motivasi dan peranan agar umat dapat saling membantu dan menjadikan alat solidaritas pada kelompok masyarakat (Subqi, 2. Kebersamaan muncul karena solidaritas yang didasari rasa simpati dan kesatuan kepentingan bersama masyarakat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH merupakan cerininan nilai sosial yang dimiliki masyarakat Adat Panjer. Selain itu, nilai religius juga terkandung dalam tradisi meburu yang diturunkan dari kepercayaan kepada leluhur dalam bentuk kegiatan yang bermanfaat, patuh, dan konsisten untuk melaksanakan ajaran agama. Nilai religius dari tradisi meburu dapat dirasakan dari unsur magisnya baik dari sisi pelaksanaannya maupun dari sisi mitologinya yang diyakini oleh masyarakat setempat, jika tradisi ini tidak diikuti akan membuat masyarakat khawatir akan adanya bencana besar dan wabah penyakit seperti yang terjadi pada masa silam. Nilai religius dalam tradisi meburu diwujudkan dalam bentuk simbol kerahuan/kerasukan oleh para sadeg dan persembahan kepada bhutakala sehingga untuk memperoleh keselamatan dan Artinya, nilai religius bersumber dari keyakinan ketuhanan yang ada pada diri seseorang dan memiliki kesucian serta dapat dijadikan rujukan dalam bertingkah Nilai religus selain mengandung unsur ketuhanan juga mengandung nilai kerohanian, nilai keindahan, moral, dan kebenaran. Agama muncul karena adanya suatu getaran dari emosi yang ditimbulkan dalam diri manusia . ental effervescen. Getaran dari emosi dari kompleksitas perasaan tersebut berpengaruh terhadap rasa kesatuan antara sesama warga masyarakat sehingga berdampak pada dorongan kuat pada rasa terikat, bakti, cinta dan perasaan antara sesamanya penganut keyakinan. Hal ini dapat dikategorisasi dengan yang suci . acre dan duniawi . (Durkheim, 1. Menurut Durkheim masyarakat tersebut sebagai sui generis yaitu terdapat keunikan yang membedakan satu dengan yang lainnya. Keunikan tersebut mempengaruhi ikatan sistem sosial, ekonomi, dan pandangan tentang agama. Keunikan masyarakat ini kemudian dapat merepresentasikan simbol-simbol dan fenomena yang terjadi yang menjadikan identitas Jika dikaitkan dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tatanan/Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru dengan tradisi meburu, dapat dipahami bahwa tradisi meburu sebagai tata-titi kehidupan masyarakat Desa Adat Panjer yang bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal sad kerthi dalam mewujudkan masyarakat yang memiliki karakter, berjati diri, berkualitas, berdaya saing, dan bertanggung jawab terhadap alam, manusia/krama, dan kebudayaan Bali. Pelaksanaan tradisi meburu di Desa Adat Panjer berimplikasi terhadap ketatwaan, sikap, dan etika. Selain itu, juga berimplikasi terhadap kebersamaan, religious, dan etis. Katattwaan menjadi landasan iman . dan takwa . masyarakat Desa Adat Panjer dalam menjalankan tradisi tersebut dengan penuh kepercayaan untuk memohon anugerah kepada Ida Sesuhunan. Selain itu, juga masyarakat Desa Adat Panjer memiliki kepercayaan terhadap hukum karmaphala sehingga kepercayaan menjalankan tradisi meburu ini akan mendapatkan pahala dan anugerah dari Ida Bhatara. Kesakralan upacara meburu ini selalu dijaga melalui bingkai aturan-aturan khusus yang tertuang dalam awigawing dan pararem yang disepakati bersama oleh seluruh krama Desa Adat Panjer. Pelaksanaan tradisi meburu oleh masyarakat Panjer melalui pikiran suci, sraddha, dan bhakti dalam membangun struktur pengetahuan dalam kognitifnya. Artinya, masyarakat Adat Panjer dapat melihat prosesi tersebut melalui pengamatan, pengalaman, dan interaksi sosial sesama para pangayah sehingga konsep tattwa, susila, dan acara saling terintegrasi dan mengisi. Kewajiban krama Desa Adat Panjer untuk melaksanakan tradisi meburu dalam rangkaian tawur agung kesanga dilandasi oleh kewajiban sosial dan kewajiban sebagai umat beragama. Dalam struktur dan pranata sosial diatur kedudukan, wewenang, hak, dan kewajiban serta aturan-aturan yang harus yang mengikat dan dipatuhi oleh krama adat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melalui aktivitas dan ritual keagamaan. Kewajiban sosial berdasarkan struktur dan pranata sosial di Desa Adat Panjer akan terhindar dari sanksi sosial dan sebagai upaya penyadaran individu terhadap ritual keagamaan dan keyakinan. Seperti halnya disampaikan oleh Giddens bahwa setiap individu memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai kewajiban-kewajiban sosialnya. Bagi Giddens, individu adalah agen yang memiliki banyak pengetahuan . dan kemampuan memahami tindakannya sendiri (Giddens, 2. Artinya, masyarakat sendiri mampu untuk melestarikan tradisi meburu ini dengan segala pengetahuan dan kesadaran yang dimiliki melalui ritual keagamaan dan keyakinan. Menurut Giddens . struktur didefinisikan sebagai rules and resources atau aturan-aturan dan memiliki sumber daya melalui ilmu pengetahuan, wacana, budaya, tradisi, dan ideologi (Pranajaya, 2. Kesimpulan Tradisi meburu adalah suatu warisan budaya yang sangat unik, sakral, dan berkekuatan magis. Selain itu, juga memiliki kearifan lokal yang diterima secara turun temurun oleh masyarakat dari generasi tua sampai generasi saat ini. Dapat disimpulkan bahwa landasan atau alasan mitologi . telah membuktikan sebagai pondasi kuat dalam menjalankan keyakinan religious masyarakat Hindu di Desa Adat Panjer sehingga keberadaan tradisi-tradisi dalam adat, budaya dan agama Hindu dapat tetap ajeg lestari karena dikemas menjadi keyakinan mitos. Tradisi sakral meburu dapat dipercaya untuk menetralisir pengaruh energi negatif dari bhuta kala melalui ritual nyomya bhuta kala agar menjadi kekuatan dan energi positif. Rangkaian tradisi meburu diawali dengan membuat banten upacara. Ida Bhatara menuju paum/rapat di Pura Bale Agung, melasti, ngembang, meprani, tawur agung panca sata, pelaksanaan meburu, dan penyimpenan. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi meburu adalah nilai budaya, nilai sosial, nilai religius yang diwariskan secara turun temurun pada masa lalu hingga saat ini sehingga tetap ajeg dan lestari. Ruang sakral yang digunakan dalam rangkaian tradisi meburu adalah di jeroan/mandala utama dan jaba sisi di pura Bale Agung. Sedangkan di Pura Tegal Penangsaran hanya menggunakan jaba sisi pura. Ruang sakral lainnya adalah di perempatan Jalan Tukad Pakerisan sebagai tempat berlangsungnya tawur agung kesanga panca sata. Pelestarian tradisi meburu memberikan implikasi terhadap ketatwaan Hindu, sikap dan etika, serta berimplikasi terhadap kebersamaan dan kerja sama, perilaku religius, dan etis. Daftar Pustaka