PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Mei - Juli e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Pengaruh Return on Asset. Current Ratio. Debt to Equity Ratio dan Ukuran Perusahaan terhadap Return Saham Wakhid Rizki Fauzan1*. Banu Witono2 B200190119@student. id1*, bw257@ums. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia1*,2 Abstrak Perkembangan bisnis yang semakin dinamis telah mendorong meningkatnya intensitas persaingan antarperusahaan, sehingga menuntut setiap perusahaan untuk meningkatkan kinerja keuangan dan menjaga keberlanjutan usahanya. Dalam konteks tersebut, pasar modal memiliki peran strategis sebagai sarana penghimpunan dana bagi perusahaan sekaligus sebagai alternatif investasi bagi investor. Salah satu pertimbangan utama investor dalam pengambilan keputusan investasi adalah return saham, karena mencerminkan tingkat keuntungan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan. Return saham dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama indikator kinerja keuangan perusahaan, antara lain Return on Assets (ROA). Current Ratio (CR). Debt to Equity Ratio (DER), serta ukuran perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return on Assets. Current Ratio. Debt to Equity Ratio, dan ukuran perusahaan terhadap return saham. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur subsektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021Ae2023. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Return on Assets dan Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan Current Ratio dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Kata kunci: Return on Asset. Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Ukuran Perusahaan. Return Saham This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Seiring dengan berlangsungnya globalisasi, sektor bisnis mengalami pertumbuhan yang sangat cepat, ditandai oleh munculnya beragam perusahaan baru yang memiliki keunggulan kompetitif masing-masing, sehingga intensitas persaingan menjadi semakin Tingginya tingkat persaingan antar perusahaan ini memberikan dampak besar terhadap kinerja perusahaan (Lombogia et al. , 2. Oleh karena itu, tiap organisasi dituntut agar aktivitasnya dapat berjalan secara optimal dan efektif agar mampu memiliki daya saing yang unggul serta menjaga keberlangsungan usahanya. Salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan perusahaan adalah ketersediaan modal yang memadai untuk membiayai seluruh aktivitas operasionalnya (Kusumawardani. Perusahaan dapat memperoleh sumber dana dengan biaya relatif rendah melalui penjualan saham kepada publik di pasar modal. Modal menjadi salah satu cara paling efektif untuk mempertahankan keberlanjutan perusahaan. Sebagai salah satu instrumen di pasar modal, saham banyak diminati investor karena memberikan peluang keuntungan yang tinggi serta menunjukkan kepemilikan terhadap perusahaan (Simanjuntak, 2. Pasar modal Indonesia merupakan wadah yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan penawaran surat berharga atau kepemilikan perusahaan. Pasar modal berfungsi sebagai sarana pendanaan bagi aktivitas yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, seperti surat utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, serta unit penyertaan kontrak investasi kolektif (Wulandari, 2. Pasar modal memberi kesempatan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 1 bagi perusahaan untuk bersaing menarik investor agar menanamkan modal. Hal ini mendorong organisasi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Melalui perdagangan saham, perusahaan memperoleh dana untuk operasional dan pengembangan usaha, sementara investor dapat berinvestasi untuk mendapatkan return Imbal hasil yang diterima investor sebagai hasil dari kegiatan penanaman modal disebut sebagai return saham (Ramadhan et al. , 2. Return saham menjadi acuan utama dalam keputusan investasi karena mencerminkan tingkat keuntungan. Sumbernya berasal dari dividen dan capital gain, sehingga investor cenderung memilih saham dengan potensi return tinggi (Lestari et al. , 2. Investor juga berhak menerima pembagian laba atau dividen sesuai dengan porsi kepemilikannya. Peningkatan return saham pada organisasi yang menunjukkan bahwa mempunyai performa bagus. Berbagai faktor memengaruhi fluktuasi return saham, seperti kondisi keuangan perusahaan, tingkat risiko, kebijakan dividen, suku bunga, ukuran perusahaan, mekanisme pasar, inflasi, hingga situasi perekonomian secara umum. Economic Value Added (EVA) merupakan factor penting yang perlu dipertimbangkan saat menganalisis imbal hasil saham (Laily, 2. EVA digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Apabila kinerja manajemen tergolong baik, yang tercermin dari tingginya nilai yang dihasilkan, maka harga saham perusahaan berpotensi mengalami peningkatan (AoUlah. Penerapan metode EVA dinilai dapat berdampak positif terhadap return saham, karena EVA merepresentasikan keuntungan bersih yang telah dikurangi biaya modal. Semakin tinggi nilai EVA, semakin besar pula peluang investor untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Selain itu. Debt to Equity Ratio (DER) memiliki peranan krusial untuk mendukung kegiatan operasional organisasi. Penggunaan DER perlu disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan selama periode operasional, di mana semakin lama perusahaan beroperasi, umumnya kebutuhan terhadap pembiayaan melalui utang juga meningkat (Nofitasari & Adi, 2. Tingginya DER berpotensi memberikan dampak kurang menguntungkan bagi perusahaan, karena peningkatan utang akan menambah kewajiban bunga. Kondisi ini dapat mengurangi laba yang dihasilkan dan pada akhirnya menekan tingkat return Di sisi lain. Return on Assets (ROA) menjadi salah satu indikator penting bagi investor karena menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset yang digunakan (Brigham & Houston, 2. Nilai ROA yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan semakin mampu mengoptimalkan penggunaan asetnya dalam menghasilkan keuntungan, demikian pula sebaliknya (NurAoAini et al. , 2. Tingkat current ratio yang terlalu kecil mencerminkan risiko ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya. Sebaliknya, jika nilainya terlalu besar, hal ini dapat mengindikasikan adanya dana menganggur yang belum dimanfaatkan secara produktif (Cahyati et al. , 2. Kondisi tersebut dapat menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan dan berdampak pada berkurangnya return yang diterima oleh investor. Permasalahan penelitian ini tercermin dari penurunan return saham yang menyebabkan investor tidak memperoleh keuntungan sesuai harapan. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh ketidakpastian kinerja perusahaan, menurunnya produktivitas, serta melemahnya permintaan ekspor. Riset ini mengacu pada penelitian sebelumnya oleh NurAoAini et al . menggunakan variabel dependen return saham serta variabel independen return on asset, current ratio, debt to equity ratio, dan pertumbuhan aset. Penelitian ini merupakan pengembangan dari studi sebelumnya dengan menambahkan satu variabel independen, yaitu Return Saham, serta mengganti variabel pertumbuhan aset dengan ukuran perusahaan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 2 Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak Return on Asset (ROA). Current Ratio (CR). Debt to Equity Ratio (DER), dan ukuran perusahaan pada return saham, khususnya perusahaan manufaktur sub sektor food and beverage yang terdaftar di BEI periode 2021Ae Landasan Teori Teori Signal Menurut teori sinyal, perusahaan memiliki dorongan untuk menyampaikan informasi kepada pihak eksternal, khususnya melalui laporan keuangan (Brigham & Houston, 2. Kondisi ini muncul akibat adanya perbedaan informasi antara perusahaan dan pihak luar. Umumnya, perusahaan memiliki pengetahuan yang lebih luas terkait kondisi serta peluang di masa mendatang dibandingkan investor dan kreditor. Keterbatasan akses informasi pada pihak eksternal sering membuat mereka mengambil sikap lebih konservatif, termasuk memberikan penilaian yang cenderung lebih rendah terhadap perusahaan. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan perlu menyajikan informasi yang memadai agar kesenjangan informasi dapat ditekan dan nilai perusahaan dapat meningkat. Di sisi lain, manajemen yang memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai kondisi internal biasanya akan terdorong untuk mengungkapkan informasi tersebut kepada calon investor melalui laporan sebagai upaya meningkatkan nilai perusahaan (Wahyudi, 2. Kinerja Perusahaan Kemampuan manajemen dalam mengelola serta memanfaatkan sumber daya keuangan yang dimiliki tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan (Gulo & Januardin. Kondisi keuangan perusahaan tercermin dalam kinerja yang dapat dianalisis melalui laporan keuangan tahunan. Informasi ini penting untuk menilai kualitas kesehatan keuangan perusahaan serta menunjukkan sejauh mana efektivitas manajemen dalam menjalankan operasional selama periode tertentu. Keuntungan organisasi dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai tingkat efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya selama periode tertentu. Menurut Esra dan Endang . , kinerja keuangan ialah indikator yang digunakan guna mengevaluasi kemampuan organisasi dalam memperoleh keuntungan. Return On Assets (ROA) ROA ialah rasio yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan seluruh asetnya untuk menghasilkan laba (Gulo & Januardin, 2. Rasio ini termasuk indikator penting dalam kelompok profitabilitas karena mencerminkan kemampuan entitas dalam memanfaatkan sumber daya untuk menghasilkan laba. ROA menggambarkan besarnya laba bersih setelah pajak yang diperoleh dari total aset yang digunakan dalam kegiatan operasional (Arramdhani, 2. ROA yang tinggi menunjukkan pemanfaatan aset yang semakin efisien dalam menghasilkan laba serta mencerminkan kinerja manajemen yang baik. Sebaliknya. ROA rendah menandakan pengelolaan aset yang belum optimal (Irdawati et al. , 2. Current Rasio Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dapat dinilai melalui current ratio, yaitu rasio yang membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar (Rizaqi, 2. Rasio ini menunjukkan kemampuan aset lancar dalam menutupi utang jangka pendek. Semakin tinggi nilai current ratio, semakin baik pula tingkat likuiditas Menurut Kasmir . Current ratio digunakan sebagai ukuran untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini menggambarkan sejauh mana aset lancar yang dimiliki dapat digunakan untuk menutup utang lancar dalam satu periode operasional atau satu tahun. Sejalan dengan itu. Candra . menyatakan bahwa current ratio mencerminkan tingkat likuiditas perusahaan berdasarkan perbandingan aset lancar terhadap kewajiban lancar. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 3 Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan mencerminkan tingkat pengalaman serta kemampuan perusahaan dalam berkembang, yang sekaligus menggambarkan kapasitas dan risiko dalam mengelola investasi (Andini & Firdaus, 2. Entitas beraset besar lebih mudah memperoleh pendanaan dan memiliki fleksibilitas keuangan yang lebih tinggi dibandingkan yang kecil. Entitas berukuran besar dinilai memiliki risiko lebih rendah dibandingkan yang kecil karena akses pendanaan yang lebih luas di pasar modal. Selain itu, semakin besar ukurannya, semakin tinggi pula minat investor terhadap sahamnya (Mappamiring & Sukarno, 2. Skala suatu perusahaan biasanya ditentukan berdasarkan total aset yang dimilikinya, di mana semakin besar aset tersebut, semakin besar pula ukuran perusahaannya (Rizaqi, 2. Perusahaan dengan total aset yang besar biasanya memiliki kondisi yang lebih stabil dan potensi laba yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan berskala kecil. Di samping itu, karena lebih banyak mendapat perhatian publik, perusahaan cenderung menyajikan laporan keuangan secara lebih terbuka, sehingga kualitas laba yang dihasilkan menjadi lebih baik. Return Saham Return saham ialah tingkat keuntungan yang diperoleh dari investasi, yang dihitung dari selisih antara nilai yang diterima dan jumlah yang ditanamkan, lalu dibandingkan dengan nilai investasi awal (Brigham & Houston, 2. Menurut Cahyati et al . , return saham ialah hasil yang diterima investor dari aktivitas investasi yang dilakukan. Terdapat dua jenis return saham, yakni return aktual sebagai hasil yang telah diperoleh, serta return ekspektasian yang mencerminkan harapan keuntungan di masa depan (Wahyudi, 2. Jika diasumsikan bahwa seluruh investor bertindak rasional, maka return yang tinggi akan mendorong meningkatnya minat investor untuk membeli sekuritas yang diterbitkan. Kondisi ini memberikan peluang bagi perusahaan untuk mencapai tujuan pendanaannya melalui pasar modal (Arramdhani, 2. Kerangka Penelitian Gambar 1 Kerangka Penelitian Pengembangan Hipotesis Pengaruh Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap return saham Menurut Kasmir . ROA digunakan untuk menilai seberapa efektif perusahaan dalam mengelola asetnya guna menghasilkan laba. Rasio ini mencerminkan kinerja perusahaan secara keseluruhan, di mana peningkatan ROA menunjukkan perbaikan kinerja yang dapat mendorong peningkatan dividen bagi pemegang saham. Rasio ini membandingkan laba bersih dengan total aset atau investasi yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan tersebut. Semakin tinggi tingkat profitabilitas, semakin besar kemampuan perusahaan dalam mencetak laba, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan investor, sehingga memengaruhi tingginya permintaan saham perusahaan di pasar modal dan berdampak positif padakenaikan return saham (Brigham & Houston, 2. Sejumlah penelitian sebelumnya yaitu Kusumawardani . dan Irdawati et al . bahwa ROA memengaruhi Return saham. Dari penjelasan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 4 tersebut, hipotesis yang diajukan: H1 : ROA berdampak pada Return saham Pengaruh Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap return. CR digunakan sebagai ukuran likuiditas untuk melihat kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang tersedia. Secara teori, likuiditas yang tinggi mencerminkan kondisi keuangan yang sehat dan memberikan persepsi positif bagi investor(Ramadhan et al. , 2. Namun, nilai CR yang terlalu tinggi dapat menunjukkan adanya kelebihan aset lancar yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga berpotensi menekan profitabilitas dan berdampak pada penurunan return saham (Laily, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang beragam, di mana penelitian Candra . dan Gulo dan Januardin . bahwa CR berdampak negatif dan tidak signifikan pada return saham. Sedangkan temuan NurAoAini et al . bahwa current ratio tidak memengaruhi return saham. Berikut ini hipotesis yang diajukan: H2: Current Ratio berdampak pada return saham. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) berdampak pada return saham. DER ialah rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dengan mengandalkan modal sendiri (Ramadhan et al. DER yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan lebih bergantung pada pembiayaan melalui utang dibandingkan modal sendiri dalam struktur pendanaannya. Perusahaan pada umumnya lebih memilih sumber pendanaan internal daripada eksternal, sehingga peningkatan penggunaan utang dapat dipandang sebagai sinyal negatif oleh Jumlah utang yang tinggi menyebabkan meningkatnya kewajiban pembayaran bunga, yang pada akhirnya dapat menekan keuntungan serta menurunkan performa keuangan perusahaan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketertarikan investor untuk menanamkan modal, yang selanjutnya dapat menekan harga saham serta menurunkan tingkat return saham (Laily, 2. Adapun study sebelumnya oleh Candra . m bahwa DER berdampak negatif pada return saham karena tingginya tingkat utang meningkatkan risiko perusahaan. Sementara itu, penelitian Arramdhani . menemukan bahwa DER berdampak signifikan pada return saham. Berikut hipotesis yang diajukan: H3: Debt to Equity Ratio berdampak pada return saham. Pengaruh ukuran perusahaan pada return saham. Ukuran perusahaan merupakan indikator yang umumnya diukur berdasarkan total aset dan mencerminkan besar atau kecilnya skala operasional suatu perusahaan. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar biasanya memiliki kapasitas sumber daya, diversifikasi usaha, dan kemampuan operasional yang lebih kuat dibandingkan perusahaan berskala kecil, sehingga dinilai lebih mampu menekan risiko kegagalan usaha maupun kebangkrutan (Ramadhan et al. , 2. Selain itu, perusahaan besar cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber pendanaan eksternal, reputasi yang lebih baik di pasar, serta kemampuan yang lebih tinggi dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan Kondisi tersebut dapat memberikan sinyal positif bagi investor karena perusahaan besar sering dipersepsikan memiliki prospek usaha yang lebih stabil dan tingkat risiko yang relatif lebih rendah. Meningkatnya kepercayaan investor terhadap perusahaan dapat mendorong peningkatan permintaan saham, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan harga saham dan return yang diterima investor. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wahyudi . menunjukkan bahwa perusahaan berukuran besar cenderung menghasilkan return saham yang lebih tinggi karena dianggap lebih stabil dan memiliki risiko yang lebih rendah. Namun demikian, pengaruh ukuran perusahaan terhadap return saham tidak selalu signifikan, sebab return saham juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti profitabilitas, struktur modal, likuiditas, sentimen investor, serta kondisi pasar secara umum (Cahyati et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H4: Ukuran Perusahaan bberdampak pada Return Saham. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 5 Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan memanfaatkan data numerik, seperti laporan tahunan dan laporan keuangan, untuk menganalisis permasalahan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor Food and Beverage yang terdaftar di BEI periode 2021Ae2023. Jumlah sampel penelitian ini ialah 160 perusahaan. Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling, yaitu berdasarkan kriteria tertentu, dengan data yang diperoleh dari situs resmi BEI . Pengumpulan sampel menggunakan Purposive sampling, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi sesuai dengan maksud dan kepentingan tertentu (Sugiyono, 2. Adapun kriteria pemilihan sampel penelitian sebagai berikut: Perusahaan manufaktur sub sektor Food and Beverage di BEI pada tahun 2021- 2023. Perusahaan yang secara konsisten menerbitkan annual report dan data keuangan di BEI selama 2021Ae2023. Perusahaan yang memiliki kelengkapan data terkait variabel yang diteliti Penelitian ini memanfaatkan data sekunder berupa laporan keuangan dan annual report perusahaan sektor agrikultur yang terdaftar di BEI selama periode 2021Ae2023. Data diperoleh dari situs resmi BEI dan masing-masing perusahaan dengan teknik dokumentasi. Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS 25 melalui analisis regresi linier berganda, yang mencakup statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji F, uji t, serta koefisien determinasi (RA). Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Populasi dan Sampel Tabel 1 Kriteria Pengumpulan Data KRITERIA JUMLAH Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang tidak terdaftar secara konsisten di BEI periode 2021Ae2023. Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang tidak mempublikasikan laporan keuangan tahunan di BEI selama 2021Ae2023. Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap dan konsisten untuk seluruh variabel penelitian dikeluarkan dari sampel. Perusahaan yang memenuhi kriteria sampel Total sampel selama tahun 2021-2023 Outlier data Sampel yang digunakan . Populasi penelitian ini ialah perusahaan manufaktur sektor food and beverage yang terdaftar di BEI periode 2021Ae2023 sebanyak 180 perusahaan, yang kemudian menjadi 160 setelah proses outlier. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu agar mewakili populasi. Analisis Statistik Deskriptif Uji deskriptif meliputi mean, maksimum, minimum, dan standar deviasi untuk menggambarkan return saham. Hasilnya terdapat pada Tabel 2 berikut: Tabel 2 Analisis Statistik Deskriptif Minimum Maximum Mean Std. Deviation Retun On Asset -1,978 2,770 Current Ratio Debt To Equity Ratio Ukuran Perusahaan Return Saham Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 6 Tabel 2 menunjukkan statistik deskriptif dari 160 sampel. Return saham memiliki nilai minimum -1,978 (PT Tri Banyan Tirta Tbk, 2. dan maksimum 2,770 (Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, 2. , dengan rata-rata 0,654 dan standar deviasi 8,201. ROA memiliki nilai minimum -9,282 (PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, 2. dan maksimum 3,052 (PT Prima Cakrawala Abadi Tbk, 2. , dengan rata-rata 0,24278 dan standar deviasi 0,451913. Current Ratio berkisar dari -0,484 hingga 0,562 (PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tb. , dengan rata-rata -0,00030 dan standar deviasi 0,099579. Sedangkan. DER memiliki nilai minimum 0,042 (PT Prashida Aneka Niaga Tbk, 2. dan maksimum 6,057 (PT Prima Cakrawala Abadi Tbk, 2. , dengan rata-rata 0,45418 dan standar deviasi 0,631805. Ukuran perusahaan berkisar dari -6,675 hingga 7,041, dengan rata-rata 0,10509 dan standar deviasi 1,445199. Uji Asumsi Klasik Uji berikut digunakan untuk menguji asumsi klasik, yaitu syarat yang harus dipenuhi dalam regresi linier agar hasil analisis dapat dipercaya. Uji Normalitas Uji normalitas memastikan residual berdistribusi normal. dengan sampel 160 (CLT), asumsi normalitas dianggap terpenuhi. Uji Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk melihat adanya keterkaitan antar variabel bebas dalam model regresi. Berikut hasil pengujian: Tabel 3 Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Return on asset Current Ratio Debt to Equity Ratio Ukuran Perusahaan Tolerance 0,926 0,815 0,907 0,734 VIF 1,080 1,227 1,102 1,363 Keterangan Tidak Terjadi Multikolineritas Tidak Terjadi Multikolineritas Tidak Terjadi Multikolineritas Tidak Terjadi Multikolineritas Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Uji multikolinearitas dilakukan dengan menganalisis nilai tolerance dan VIF (VIF = 1/toleranc. Model dinyatakan bebas multikolinearitas jika VIF O 10 dan tolerance Ou 0,10. Hasil menunjukkan seluruh variable memenuhi kriteria, sehingga tidak terdapat Uji Autokorelasi Uji autokorelasi digunakan untuk mendeteksi hubungan residual antar waktu. Model yang baik tidak mengandung autokorelasi. Pengujian dilakukan menggunakan DurbinWatson. Tabel 4 Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson 2,526 Keterangan Tidak Terjadi Autokorelasi Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 5, nilai Durbin-Watson sebesar 2,5260 berada di antara nilai du dan . Ae d. , sehingga menunjukkan bahwa model regresi tidak mengalami Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 7 Uji Heteroskedastisitas Uji ini untuk melihat apakah varians residual berbeda antar pengamatan. Model yang baik tidak mengalami heteroskedastisitas. Pengujian menggunakan metode Glejser dengan kriteria sig > 0,05. Tabel 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel Sig. Keterangan Return on asset 0,502 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Current Ratio 0,877 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Debt to Equity Ratio 0,922 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Ukuran Perusahaan 0,987 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Berdasarkan Tabel 5, seluruh variabel memiliki nilai signifikansi di atas 0,05 (ROA 0,502. 0,877. DER 0,922. dan ukuran perusahaan 0,. , sehingga model dinyatakan bebas dari Koefisien Determinan (R. Koefisien determinasi (RA) menunjukkan kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. semakin mendekati 1 semakin kuat, dan mendekati 0 semakin lemah: Tabel 6 Hasil Uji Koefisien Determinan Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Hasil uji menunjukkan nilai adjusted RA ialah 0,113 . ,3%), artinya variable independen menjelaskan return saham sebesar 11,3%, sedangkan 88,7% dipengaruhi faktor lain di luar Uji F Uji F bertujuan untuk menilai kelayakan . model regresi dengan melihat nilai signifikansi pada tingkat = 0,05. Model dinyatakan fit jika nilai signifikansi < 0,05, dan tidak fit jika > 0,05. Tabel 7 Hasil Uji F Model Regression Residual Total Sum of Squares Mean Square Sig. Sumber: Hasil Data SPSS 2026 Berdasarkan uji F, diperoleh nilai F sebesar 6,070 dengan signifikansi 0,000 (< 0,. , sehingga model regresi dinyatakan layak. Hal ini menunjukkan bahwa variable independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham. Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi linier berganda digunakan untuk melihat pengaruh variable independen melalui koefisien B, lalu disusun dalam persamaan regresi: Tabel 8 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Variable Significance (Constan. -54,324 Return on asset Current Ratio Debt to Equity Ratio Ukuran Perusahaan Berdasarkan Tabel 8, diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut. Y = -54,324 - 0,578X1 - 0,046X2 0,358X3 0,014X4 e Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 8 Hasil persamaan regresi dan interpretasi dari analisis regresi berganda diatas sebagai Nilai konstanta () sebesar -54,324 menunjukkan bahwa jika seluruh variabel independen bernilai nol, maka Return Saham ialah -54,324 Koefisien ROA sebesar -0,578 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 satuan ROA akan menurunkan return saham yaitu 0,578. Koefisien CR sebesar -0,046 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 satuan akan menurunkan return saham ialah 0,046 Koefisien DER sebesar 0,358 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 satuan DER akan meningkatkan return saham sebesar 0,358 Nilai koefisien regresi variabel Ukuran Perusahaan (X. yaitu sebesar 0. 014 artinya Setiap kenaikan 1 satuan ukuran perusahaan akan meningkatkan return saham sebesar 0,014 Uji Hipotesis Dengan asumsi semua factor lain tetap konstan, dampak parsial masing-masing variable independen terhadap return saham diuji menggunakan uji-t pada tingkat signifikansi 5%. Kesimpulan ini didasarkan pada hal-hal berikut: HCA diterima jika angka signifikansi lebih kecil dari = 5% HCA ditolak jika angka signifikan lebih besar dari = 5% Berikut adalah hasil uji t beserta interpretasinya: Tabel 9 Hasil Uji Hipotesis Variabel Sign Keterangan Return on asset H1 Diterima Current Ratio H2 Ditolak Debt to Equity Ratio H3 Diterima Ukuran Perusahaan H4 Ditolak Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut: ROA memiliki t hitung -3,162 dengan signifikansi 0,030 (< 0,. , sehingga berdampak signifikan pada return saham. Current Ratio memiliki t hitung -2,189 dengan signifikansi 0,499 (> 0,. , sehingga tidak berdampak signifikan pada return saham. DER menunjukkan nilai t hitung -0,677 dengan signifikansi 0,002 (< 0,. , sehingga memiliki dampak yang berarti pada return saham. Ukuran perusahaan memiliki t hitung 3,221 dengan signifikansi 0,255 (> 0,. , sehingga tidak memiliki dampak yang berarti terhadap return saham. Pembahasan Pengaruh Return on asset terhadap Return Saham ROA menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari asetnya. Semakin tinggi ROA, semakin efisien pengelolaan aset, sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan return saham (Simanjuntak, 2. Dalam perspektif teori sinyal. ROA yang tinggi menjadi tanda positif bagi investor mengenai peluang kinerja perusahaan di masa Berdasarkan hasil penelitian. ROA memiliki dampak pada return saham, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi yang memenuhi kriteria pengujian. Berarti tingkat profitabilitas menjadi faktor penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Rata-rata ROA yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga meningkatkan ketertarikan investor dan return saham. Sejalan dengan temuan Irdawati et al . bahwa ROA memengaruhi return saham, karena laba yang tinggi mencerminkan kinerja perusahaan yang baik. Namun, terdapat pula penelitian lain yang menunjukkan hasil berbeda, oleh esra . ROA tidak berdampak signifikan pada return saham. Menurut pandangan peneliti. ROA tetap menjadi indikator penting dalam memengaruhi return saham, namun pengaruhnya tidak berdiri sendiri. Investor tidak hanya mempertimbangkan profitabilitas, serta dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 9 ekonomi, suku bunga, dan risiko pasar. Oleh karena itu, meskipun ROA tinggi, return saham belum tentu meningkat secara berarti jika faktor lain tidak mendukung. Pengaruh Current Ratio terhadap Return Saham CR menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Meski tinggi dianggap baik, likuiditas berlebih bisa menandakan dana tidak dimanfaatkan secara efisien. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh Current ratio tidak berdampak pada Return Saham. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan likuiditas tidak berdampak nyata terhadap return investor. Dengan demikian, kenaikan CR tidak selalu diikuti peningkatan return saham. Sejalan dengan study NurAoAini et al . bahwa CR tidak memengaruhi return saham, karena investor cenderung lebih memperhatikan aspek profitabilitas dibandingkan kemampuan likuiditas jangka pendek. Namun, terdapat juga penelitian lain oleh Candra . yang menemukan bahwa CR memengaruhi return saham CR tidak menjadi faktor utama dalam keputusan investasi. Investor lebih menitikberatkan pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dibandingkan likuiditas jangka pendek. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Return Saham DER menunjukkan perbandingan utang dan ekuitas. nilai tinggi menandakan risiko lebih besar, namun juga peluang keuntungan melalui leverage. (Brigham & Houston, 2. Dalam teori sinyal, struktur modal dapat menjadi indikator bagi investor dalam menilai risiko dan prospek perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa DER memengaruhi Return Saham. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat utang menjadi pertimbangan investor dalam berinvestasi. Besarnya DER memengaruhi persepsi risiko dan potensi keuntungan, sehingga berdampak pada return saham. Sejalan dengan temuan Arramdhani . bahwa DER memengaruhi return saham, karena penggunaan utang yang optimal dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Namun, penelitian Candra . menunjukkan hasil berbeda, di mana DER tidak memengaruhi return saham. DER memengaruhi return saham karena mencerminkan keseimbangan risiko dan keuntungan. Pengelolaan utang yang tepat dapat meningkatkan return, sedangkan utang berlebih dapat menurunkan kepercayaan investor. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Return Saham Ukuran perusahaan menunjukkan skala dan tingkat stabilitas, di mana perusahaan besar umumnya memiliki akses pendanaan lebih luas dan risiko yang lebih rendah (Wulandari, 2. Hal ini seharusnya menjadi sinyal positif bagi investor dan dapat meningkatkan return saham. Namun, ukuran perusahaan tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi. Berdasarkan hasil pengujian. Ukuran Perusahaan memengaruhi Return Saham. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berdampak terhadap tingkat return yang diperoleh investor. Sejalan dengan hasil study Wahyudi . bahwa ukuran perusahaan tidak memengaruhi return saham. Namun, terdapat juga penelitian yang menemukan dampak signifikan, terutama pada perusahaan besar yang dianggap lebih stabil (Lestari et al. , 2. Menurut peneliti, tidak signifikannya dampak ukuran perusahaan pada return saham disebabkan karena investor tidak selalu menjadikan ukuran sebagai indikator utama, serta adanya ukuran perusahaan yang relatif kecil dan kemungkinan respons negatif investor selama periode penelitian. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh bahwa ROA dan DER memiliki dampak signifikan pada Return Saham, sedangkan CR dan Ukuran Perusahaan tidak memengaruhi Return Saham. Adapun saran dalam penelitian ini adalah dengan menambah jumlah sampel yang digunakan, misalnya dengan memilih kelompok industri pada sektor tertentu agar sampel lebih representatif terhadap populasi. Selain itu, disarankan memperluas periode penelitian agar data yang diperoleh lebih banyak sehingga hasil analisis menjadi lebih akurat dan komprehensif. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 10 Daftar Pustaka