TADHKIRAH: Jurnal Terapan Hukum Islam dan Kajian Filsafat Syariah Volume 1 Nomor 3 September 2024 e-ISSN : x-x, dan p-ISSN : x-x. Hal. DOI : a Available online at : https://ibnusinapublisher. org/index. php/TADHKIRAH Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia Reza Alinata Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Indonesia Winda Atika Sari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Indonesia Yuli Kartika Putri Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Indonesia Alamat: Universtitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Korespondensi penulis: 12310520024@students. uin-suska. Abstract. The first revelation in Q. al-'Alaq: 1-5 in rejecting ignorance, injustice, and monopoly, and emphasizing education to form intelligent individuals and Qur'anic characters. The verse inspires the formation of a progressive and civilized society. Ideal education should not only rely on empirical theories but should also integrate essential metaphysical concepts. In Arabic, educational terms such as ta'lim, tadris, and ta'dib have different but complementary meanings, highlighting aspects of teaching, formal instruction, and moral education. Islamic education combines scientific knowledge with spiritual values, forming individuals with morals and The thoughts of Ki Hajar Dewantara and K. Ahmad Dahlan were instrumental in shaping Indonesian national education, emphasizing character, religiosity, and modern knowledge. This integrative effort reflects an education that is inclusive, equitable, and encourages students' creativity and independence to face global challenges. Keywords: Meaning. Education. Islam. Relevance Abstrak. Wahyu pertama dalam Q. Al-AoAlaq: 1-5 dalam menolak kebodohan, ketidakadilan, dan monopoli, serta menekankan pendidikan untuk membentuk individu cerdas dan berkarakter Qur'ani. Ayat tersebut menginspirasi pembentukan masyarakat progresif dan beradab. Pendidikan ideal tidak hanya bergantung pada teori empiris tetapi juga harus mengintegrasikan konsep metafisika esensial. Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan seperti taAolim, tadris, dan taAodib memiliki makna berbeda namun saling melengkapi, menyoroti aspek pengajaran, pengajaran formal, dan pendidikan moral. Pendidikan Islami menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan nilai spiritual, membentuk individu berakhlak dan berintegritas. Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan K. Ahmad Dahlan berperan penting dalam membentuk pendidikan nasional Indonesia, menekankan karakter, religiusitas, dan pengetahuan modern. Upaya integratif ini mencerminkan pendidikan yang inklusif, merata, dan mendorong kreativitas serta kemandirian siswa untuk menghadapi tantangan global. Kata kunci: Makna. Pendidikan. Islam. Relevansi Received : Juni 20, 2024. Revised : Juli 07, 2024. Accepted: Juli 21, 2024. Online Available : Juli 23, 2024 * Reza Alinata, 12310520024@students. uin-suska. Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia LATAR BELAKANG Wahyu pertama dalam Q. Al-AoAlaq: 1-5 menegaskan bahwa Islam menolak kebodohan, ketidakadilan, dan monopoli, mengilustrasikan pentingnya pendidikan dalam menciptakan individu yang cerdas dan berkarakter Qur'ani. A aI aI Ea eI Oa eEa eIA a e AE aIA a e aAC aEaCA a e aAO aEa oCa aEaCA a AE aI a eECaEa aoIA a AOA a AIa Ia eIA a A eI aIa Ia eIA a A eIA a A eIA e AC E aA e Aa eC ae a aeI acaEa E aA s o aAEA s o aAEA Terjemahan: "Bacalah dengan . nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar . dengan pena, dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat ini memberikan harapan untuk membangun masyarakat yang progresif dan Para ahli pendidikan memperdebatkan konsep pendidikan ideal, menekankan pentingnya landasan metafisika dalam pendidikan. Istilah-istilah pendidikan dalam bahasa Arab seperti taAolim, tadris, dan taAodib mencerminkan berbagai aspek pendidikan, dari pengajaran hingga pembentukan moral. Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, menekankan pentingnya pembentukan karakter dan pembebasan dari kolonialisme dalam pendidikan. Filosofinya "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" menggambarkan peran pendidik dalam memberikan teladan, semangat, dan dorongan kepada murid. Ahmad Dahlan menekankan pendidikan Islam yang komprehensif, menggabungkan nilai-nilai religius dengan pengetahuan modern untuk membentuk individu yang cerdas dan proaktif. Pendidikan Indonesia saat ini berusaha mengintegrasikan ajaran Ki Hajar Dewantara dan K. Ahmad Dahlan, menekankan moralitas, cinta tanah air, kesadaran ilmiah, dan kemajuan sosial dalam kurikulum. Upaya ini bertujuan mencetak generasi berkarakter, religius, dan berwawasan luas yang siap menghadapi tantangan Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai pendidikan yang merata dan berkualitas. Meskipun ada banyak upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, masalah seperti ketimpangan akses, kualitas pengajaran, dan relevansi kurikulum dengan kebutuhan zaman masih menjadi kendala. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pendidikan yang terlalu fokus pada pencapaian akademik mengabaikan pembentukan karakter dan nilai-nilai moral yang esensial. Fenomena pendidikan saat ini menunjukkan relevansi dari pemikiran ini, di mana pendidikan yang hanya mengutamakan aspek akademik tanpa memperhatikan pembentukan karakter dan nilai moral tidak mampu menciptakan individu yang utuh dan berkontribusi positif pada masyarakat. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam pendidikan yang mencakup aspek intelektual, moral, dan spiritual. Judul ini diangkat karena ada kebutuhan mendesak untuk mengingatkan TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 kembali pentingnya konsep pendidikan yang holistik, sesuai dengan panduan Ilahi dan pemikiran tokoh-tokoh pendidikan nasional. Dengan menyoroti keselarasan antara pendidikan Qur'ani, pandangan Ki Hajar Dewantara, dan K. Ahmad Dahlan, peneliti ingin menginspirasi pembuat kebijakan dan praktisi pendidikan untuk mengembangkan sistem pendidikan yang lebih adil, bermakna, dan berkualitas, guna mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki integritas. KAJIAN TEORITIS Menurut M. Thalib, taAolim memiliki makna memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang belum mengetahuinya. Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan taAolim sebagai Jika taklim disamakan dengan tarbiyah, maka taklim mengandung makna pengenalan posisi segala sesuatu dalam sebuah sistem. Al-Attas berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara tarbiyah dan taklim. Menurut Rusiadi, dalam konsep tadris terdapat implikasi kuat akan keberadaan mudarris. Asal-usul kata "mudarris" berasal dari akar kata "darasayadrusu-darsan-durusan dirasatan", yang memiliki makna menghapus bekas, melatih, dan Menurut Al-Attas, pengertian taAodib yang berakar pada adab mencakup makna pendidikan peradaban dan kebudayaan. Ini melibatkan proses bertahap dalam memperkenalkan dan mengakui keberadaan tetap segala sesuatu dalam struktur penciptaan, dengan tujuan mengarahkan manusia menuju pengenalan dan pengakuan terhadap kekuatan serta keagungan Tuhan. Muhammad Nadi Al-Badri, seperti yang dikutip oleh Ramayulis, menyoroti pentingnya konsep ta'dib dalam konteks pendidikan zaman klasik. Pada masa itu, kata ta'dib dipahami secara luas untuk merujuk kepada semua aspek pendidikan dan pembentukan individu. Menurut Rahardjo, pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan sudah menjadi wawasan luas dan terkenal karena beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Beliau memaknai pendidikan sebagai bentuk pembebasan anak-anak dalam segala aspek kehidupan, baik secara fisik maupun spiritual yang dapat digarisbawahi sebagai bentuk memerdakakan hidup anak Hadiwijoyo juga menyebutkan bahwa oleh Ki Hajar Dewantara, kebebasan jiwa diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir positif, memiliki perasaan yang mulia dan luhur, serta tekad yang tinggi dan mulia dalam segala hal. Menurut K. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam harus mengutamakan pembentukan umat Islam yang memiliki karakter yang mulia, keagamaan yang kuat, wawasan yang luas terhadap isu-isu ilmiah sekuler, serta semangat yang tinggi untuk berperan aktif dalam kemajuan sosial. Menurut K. Ahmad Dahlan, pendekatan siswa dalam mencapai pengetahuan puncak tercermin dalam keinginannya untuk merancang fondasi yang mendasar bagi reformasi pendidikan Islam, dengan menggabungkan harmonisasi Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia sistem pendidikan modern dan tradisional secara menyeluruh. Konsep ini juga disorot oleh Abdul MuAoti "Kurikulum QurAoani". Muhammadiyah mengembangkan metode pembelajaran dialogis dan pendekatan rasional dalam pendidikan METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, metodologi kualitatif deskriptif diadopsi sebagai sebuah pendekatan yang memungkinkan pengumpulan dan analisis data deskriptifAibaik verbal maupun tulisanAidari subjek yang diteliti. Pendekatan holistik dan naturalistik menekankan pemahaman mendalam tentang pengalaman subjek, termasuk perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan mereka, yang memungkinkan eksplorasi fenomena dalam konteksnya yang alami tanpa mengganggu atau mengubah situasi. Untuk memahami fenomena pendidikan, seperti interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam lingkungan pembelajaran yang sebenarnya, berbagai teknik pengumpulan data digunakan mulai dari observasi partisipatif, hingga analisis Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi tema, pola, dan hubungan yang muncul, menggunakan metode seperti analisis konten atau Alat bantu seperti catatan lapangan dan perangkat lunak analisis data kualitatif juga dimanfaatkan untuk mendukung pengumpulan dan analisis data, memastikan bahwa proses penelitian terdokumentasi dengan baik dan terorganisir secara sistematis. Pendekatan ini memungkinkan tidak hanya penggalian kedalaman dan kompleksitas fenomena yang diteliti tetapi juga penyajian hasil penelitian yang kaya dan mendalam, yang mencerminkan nuansa dan konteks spesifik dari subjek studi. Pendekatan ini ditujukan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjek, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, dalam konteks yang alami dan holistik, melalui deskripsi detail menggunakan bahasa dan konteks Metodologi ini menekankan pada pemahaman fenomena pendidikan, seperti interaksi antara pendidik dan peserta didik, dalam lingkungan pembelajaran yang alami, dengan mengandalkan berbagai teknik pengumpulan data yang tidak mengubah lingkungan studi. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep TaAolim dalam Pendidikan Menurut M. Thalib, ta'lim berarti memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang belum mengetahuinya, menyoroti ta'lim sebagai proses pengajaran dan transfer Ta'lim terjadi dalam berbagai konteks, baik formal seperti di sekolah dan universitas melalui pengajaran di kelas, seminar, dan workshop, maupun informal seperti TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas. Inti dari ta'lim adalah proses belajar dan mengajar yang saling menguntungkan. Dalam Islam, ta'lim dianggap sebagai ibadah mulia, di mana ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus Ta'lim penting untuk pengembangan individu dan kesejahteraan masyarakat, membantu membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan, berbudaya, dan beradab. Memahami makna dan pentingnya ta'lim membantu umat Islam menghargai peran pendidikan dalam kehidupan. Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan ta'lim sebagai pengajaran, yang berbeda dari tarbiyah. Ta'lim berfokus pada transfer pengetahuan, mengajarkan fakta, konsep, dan prinsip dalam konteks pendidikan formal dan informal. Sebaliknya, tarbiyah mencakup pembinaan karakter, moral, dan spiritual individu, membentuk nilai-nilai dan sikap yang sesuai dengan ajaran Islam. Menurut al-Attas, meskipun ta'lim dan tarbiyah saling melengkapi, keduanya memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda. Ta'lim mengajarkan posisi segala sesuatu dalam sebuah sistem, membantu siswa memahami hubungan antara berbagai elemen pengetahuan, baik agama maupun duniawi. Dalam pandangan al-Attas, pendidikan Islam yang ideal memadukan ta'lim dan tarbiyah untuk menghasilkan individu yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Berdasarkan pandangan antara dua tokoh terebut, pengertian ta'lim menurut M. Thalib dan Muhammad Naquib al-Attas saling melengkapi dalam menjelaskan esensi pengajaran dalam Islam. Thalib menekankan ta'lim sebagai proses pemberitahuan atau transfer pengetahuan kepada seseorang yang belum mengetahuinya, fokus pada aspek informatif. Sementara itu, al-Attas memperluas pengertian ta'lim sebagai pengajaran yang mengintegrasikan pengetahuan ke dalam sistem yang harmonis, menunjukkan hubungan antara berbagai elemen pengetahuan. Kedua pandangan ini bersama-sama menyoroti pentingnya ta'lim dalam membangun dasar pengetahuan sekaligus memahami posisi dan keterkaitan ilmu dalam konteks yang lebih luas, baik agama maupun duniawi. Konsep Tadris dalam Pendidikan Pandangan yang dipaparkan oleh Rusiadi terkait konsep tadris dalam pendidikan memiliki implikasi kuat akan keberadaan mudarris. Istilah "mudarris" berasal dari akar kata Arab "darasa-yadrusu-darsan-durusan dirasatan", yang memiliki berbagai makna, termasuk menghapus bekas, melatih, dan mengajar. Ini menunjukkan bahwa peran mudarris bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai individu yang membantu menghilangkan kebodohan . enghapus bekas ketidaktahua. , melatih keterampilan, dan Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Dalam pengertian ini, mudarris tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk dan mengarahkan pemikiran serta perilaku siswa melalui latihan dan pembelajaran berkelanjutan. Proses tadris dengan demikian mencakup aspek kognitif, di mana siswa dibantu untuk memahami dan menginternalisasi pengetahuan baru, serta aspek praktis, di mana siswa diajarkan keterampilan yang relevan melalui latihan yang berulang. Makna "menghapus bekas" juga bisa diartikan sebagai upaya mudarris untuk menghilangkan kesalahpahaman atau konsep yang salah dari pikiran siswa, menggantinya dengan pemahaman yang benar dan Dengan demikian, mudarris berperan penting dalam membentuk pemahaman dan keahlian siswa, memastikan bahwa mereka tidak hanya mengetahui informasi, tetapi juga mampu menerapkannya secara efektif dalam kehidupan mereka. Secara keseluruhan, peran mudarris dalam konsep tadris sangat vital dan komprehensif, mencakup lebih dari sekadar pengajaran, tetapi juga pelatihan, penghapusan kesalahan, dan pembentukan pengetahuan yang mendalam dan berkelanjutan pada siswa. Tadris masuk ke dalam aspek kognitif karena berfokus pada proses mental yang mencakup pengetahuan, pemahaman, analisis, dan evaluasi. Menurut Rusiadi, tadris melibatkan kegiatan mengajar, melatih, dan menghapus bekas ketidaktahuan, yang semuanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan berpikir dan pengetahuan siswa. Konsep TaAodib dalam Pendidikan Menurut Al-Attas, pemahaman terhadap konsep ta'dib yang berakar pada adab mencakup dimensi yang lebih luas daripada sekadar pembentukan akhlak. Ta'dib, menurutnya, merupakan sebuah proses mendalam yang melibatkan pengenalan dan pengakuan terhadap keberadaan yang tetap dari segala sesuatu dalam struktur penciptaan. Konsep ini bukan hanya tentang menciptakan individu yang memiliki akhlak yang baik, tetapi juga mengajarkan kesadaran akan makna yang lebih dalam tentang eksistensi manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Dengan demikian, ta'dib bukan sekadar proses moralitas, tetapi sebuah pendekatan yang merangkul pendidikan peradaban dan Ini menekankan integrasi nilai-nilai agama dan etika ke dalam kehidupan sehari-hari, membentuk masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia berdasarkan prinsip-prinsip ilahi yang dianggap sebagai landasan utama bagi kehidupan manusia. Dengan cara ini, ta'dib tidak hanya mengajarkan perilaku yang benar, tetapi juga mengarahkan manusia menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang eksistensi dan tujuan hidupnya dalam konteks yang lebih luas dan berarti. Pemikiran Muhammad Nadi Al-Badri, seperti yang dikutip oleh Ramayulis, adalah bahwa pada zaman klasik, konsep TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 ta'dib memiliki arti yang sangat luas dan holistik dalam konteks pendidikan. Ta'dib tidak sekadar merujuk kepada pembentukan akhlak atau moral individu, tetapi mencakup seluruh spektrum pendidikan, mulai dari pengajaran pengetahuan hingga pembinaan nilai-nilai budaya dan tradisi. Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa ta'dib masuk ke dalam aspek afektif. Dalam konteks pendidikan Islam, ta'dib mengacu pada proses pembentukan karakter dan moral siswa. Berbeda dengan aspek kognitif yang fokus pada pengetahuan dan pemahaman, aspek afektif menekankan pengembangan sikap, nilai, dan perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama. Ta'dib melibatkan pembinaan sikap rendah hati, kesabaran, kejujuran, dan keadilan, serta menanamkan rasa tanggung jawab dan empati kepada sesama. Proses ini tidak hanya mengubah pikiran siswa tetapi juga hati dan sikap mereka terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Oleh karena itu, ta'dib menjadi bagian penting dalam pendidikan Islam untuk membentuk individu yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan Islam Menurut KH. Ahamad Dahlan Konsep pendidikan Islam menurut KH. Ahmad Dahlan menampilkan sistem pendidikan yang integral, mengintegrasikan ilmu, keseimbangan intelektual, moral, dan Pemikiran ini dapat disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional. Penulis berpendapat bahwa hasil yang diharapkan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional dapat dicapai melalui konsep pendidikan Islam KH. Ahmad Dahlan, yang sesuai dengan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran di mana peserta didik mengembangkan potensi, kekuatan spiritual, pengendalian diri, budi pekerti, kecerdasan, akhlak mulia, dan kemampuan yang dibutuhkan oleh dirinya, masyarakat, dan bangsa. Tujuan pendidikan nasional itu sendiri Ada beberapa versi pendapat para ahli yang digunakan dalam sistem pendidikan nasional khususnya sekolah formal, namun hal ini ``Pendidikan nasionalAoAo dalam Bab 20 Ayat 3 UU Tahun 2003Ay Memang benar mengembangkan keterampilan, mengembangkan budi pekerti, dan peradaban bangsa yang bermartabat Tujuan pendidikan nasional menurut berbagai pendapat ahli, khususnya dalam sistem pendidikan formal, tercermin dalam Bab 20 Ayat 3 UU Tahun 2003. Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan keterampilan, budi pekerti, dan peradaban bangsa yang Tujuannya mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, berakhlak mulia. Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab. Untuk menjelaskan lebih detail dan rinci, penelitian ini memaparkan beberapa versi pendidikan nasional. Menurut KH, tujuantujuan tersebut digabungkan untuk memberikan pemahaman yang lebih rinci tentang kesesuaian konsep pendidikan Islam. KH. Ahmad Dahlan mengonsepkan pendidikan Islam yang ideal sebagai upaya menghasilkan individu yang utuh, menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum serta memiliki iman yang kuat. Pendidikan ini bertujuan membentuk umat Islam yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan shaleh, serta mampu membangun bangsa secara lahiriah dan batiniah. Menurutnya, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta, dan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, sehingga pendidikan harus menyeimbangkan keduanya untuk membentuk manusia seutuhnya yang berlandaskan agama. Materi pendidikan yang dirumuskan oleh KH. Ahmad Dahlan dibagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, pendidikan moral atau akhlak yang bertujuan membentuk karakter berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kedua, pendidikan individu yang mengembangkan keseimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, keyakinan dan intelektual, serta integrasi perasaan dengan akal pikiran, sambil mempertimbangkan aspek duniawi dan akhirat. Ketiga, pendidikan kemasyarakatan yang mengembangkan kepekaan sosial dan semangat hidup bersama tanpa memandang suku, ras, atau agama. Materi ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. Tahun 2003, yang menekankan pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab. Dalam metode pendidikan. KH. Ahmad Dahlan menekankan pendekatan kontekstual dan non-tekstual, dengan metode praktik yang melibatkan guru secara aktif dalam memberikan pertanyaan dan jawaban, serta menggunakan metode ilustratif untuk menjelaskan konsep-konsep. Ia juga mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Keberhasilan menurutnya, tergantung implementasi, bukan hanya perencanaan. Pandangan KH Ahmad Dahlan tentang metode pengajaran, termasuk latihan, contoh, dan pemberian soal kepada siswa, penting untuk meningkatkan ketaqwaan mereka kepada Allah. Selain nilai-nilai sosial, beliau juga mementingkan nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan, tanggung jawab sosial, kreativitas, dan kemandirian. Berdasarkan penjelasan yang disajikan, dapat penulis simpulkan Konsep pendidikan Islam menurut KH Ahmad Dahlan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk menciptakan manusia yang seimbang dalam kecerdasan intelektual, sosial, dan TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 Pendidikan ini mencakup peningkatan kecerdasan dalam ilmu pengetahuan, interaksi sosial, emosional, spiritual, dan moral, sesuai dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Islam yang beliau dukung telah diterapkan di sekolahsekolah agama dengan menggabungkan pengetahuan agama dan ilmu umum, serta didukung oleh fasilitas modern untuk memastikan peserta didik tetap terhubung dengan perkembangan zaman. Dedikasi beliau dalam bidang pendidikan memberikan dampak positif bagi umat, dan beliau dihormati sebagai pemimpin yang berdedikasi dalam mewariskan nilai-nilai yang berguna. Melalui usaha dalam bidang pendidikan. KH Ahmad Dahlan turut berkontribusi dalam memecahkan masalah sistem pendidikan nasional, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ini meliputi upaya terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, termasuk aspek spiritual, kepribadian, akhlak, dan keterampilan yang penting bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan di Indonesia Menurut KH. Dewantara Tujuan pendidikan adalah isu sentral dan harus dirumuskan dengan jelas untuk menghindari arah yang salah. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah pedoman bagi tumbuh kembang anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pendidikan tidak hanya meningkatkan kecerdasan tetapi juga menjauhkan dari perbuatan tercela. Dewantara menginginkan kemerdekaan jasmani, rohani, dan spiritual, serta kebebasan individu yang menghargai harmoni, solidaritas, dan tanggung jawab. Tujuan pendidikan dibagi menjadi empat: jasmani, spiritual, intelektual, dan sosial. Ia menekankan kemandirian fisik, kecerdasan, kesejahteraan spiritual, dan sikap sosial yang baik. Menurut Ki Hajar Dewantara, mengajar dalam pengertian sebenarnya adalah proses humanisasi, yaitu proses mengangkat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Pendidikan harus memerdekakan manusia dari aspek kehidupan batinnya . tonomi berpikir dan pengambilan keputusan, bermartabat, berjiwa demokrati. Pendidik harus memiliki empat kompetensi utama: Kompetensi Pendidikan, yang melibatkan dorongan dan bimbingan dari belakang sesuai semboyan "Tut Wuri Handayani," serta mengembangkan inisiatif siswa sesuai semboyan "Ing Madya Mangun Karsa. " Kompetensi Karakter, yang mengharuskan pendidik menjadi teladan baik di depan sesuai semboyan "Ing Ngarsa Sung Tulada," dengan menjaga harga diri dan mengabdi kepada masyarakat. Kompetensi Sosial, yang mencakup kemampuan menjalin hubungan dan komunikasi dengan siswa, komunitas sekolah, serta pemangku kepentingan lainnya. Kompetensi Profesional, yang menuntut Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia pendidik untuk tampil profesional dalam aspek fisik, intelektual, sosial, kepribadian, nilai-nilai, dan spiritual, serta mampu menjadi motivator. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran membantu pendidik memilih perilaku yang tepat dan menghindari perilaku yang terlihat baik namun justru merugikan keberhasilan belajar siswa. Proses pendidikan di Taman Siswa didasarkan pada lima prinsip 'Panca Dharma,' yang mencakup prinsip-prinsip dasar pendidikan sejak didirikan pada tahun 1922 dan tertuang dalam peraturan serta adat istiadat kehidupan di Taman Siswa. Prinsip pendidikan yang holistik melibatkan berbagai aspek penting untuk pengembangan siswa. Asas Kemandirian menekankan pada pengembangan kreativitas, bakat, dan inisiatif siswa sesuai semboyan "Tut Wuri Handayani," yang berarti memberi kebebasan dengan pengawasan untuk memastikan pertumbuhan siswa sebagai pribadi mandiri tanpa batasan. Prinsip Nasional mencakup pembelajaran yang sesuai dengan prinsip nasionalisme, yang melibatkan kesatuan dengan tanah air dan rasa kebangsaan, tanpa mengisolasi diri tetapi menjaga hubungan dan kerjasama dengan negara lain. Prinsip Budaya menekankan pentingnya menghormati dan mengembangkan kebudayaan sendiri, memanfaatkan budaya yang memperindah dan meningkatkan kehidupan, serta menolak budaya yang kontraproduktif. Prinsip Kemanusiaan mengharuskan pembelajaran untuk mendasarkan pada pengembangan sifat mulia manusia, hidup bersama dengan gotong royong, saling mencintai, dan saling mendukung untuk kepentingan bersama. Prinsip Alam mengajarkan siswa untuk memenuhi kewajibannya terhadap Tuhan, lingkungan, masyarakat, dan diri sendiri melalui metode "Tut Wuri Handayani," yang memberikan kebebasan bergerak dengan bimbingan dan pengawasan. Relevansi Pendidikan Islam dengan Era Global Pendidikan di Indonesia . Pendekatan Pendidikan Holistik: Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan memperjuangkan pendidikan holistik yang melibatkan pengembangan seluruh aspek individu, termasuk aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Mereka meyakini bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada pemberian pengetahuan akademis semata, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan, dan nilai-nilai moral yang kuat. Pendekatan ini masih relevan dalam konteks pendidikan modern karena memberikan pemahaman yang lebih luas tentang kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan holistik, pendidikan dapat membantu menciptakan individu yang seimbang, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih baik. TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 . Pendidikan Berbasis Budaya Lokal: Konsep pendidikan berbasis budaya lokal yang diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan menekankan pentingnya memasukkan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pendidikan. Mereka percaya bahwa memahami dan menghargai warisan budaya adalah kunci untuk memperkuat identitas dan kebanggaan diri, serta menjaga keberagaman dalam masyarakat. Dalam era globalisasi seperti sekarang, pendekatan ini masih relevan karena membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, menghormati keberagaman, dan mempromosikan toleransi . Pendidikan untuk Pemberdayaan: Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan melihat pendidikan sebagai sarana untuk memberdayakan individu agar mampu berkontribusi secara positif dalam Mereka memperjuangkan pendidikan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk sukses dalam Pendidikan untuk pemberdayaan masih relevan dalam pendidikan modern karena membantu peserta didik mengembangkan potensi mereka secara maksimal, sehingga dapat mengambil peran aktif dalam transformasi sosial dan pembangunan . Pendidikan sebagai Sarana Perubahan Sosial: Pandangan bahwa pendidikan dapat menjadi motor perubahan sosial yang positif juga tetap relevan dalam konteks pendidikan modern. Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan meyakini bahwa melalui pendidikan, individu dapat dibekali dengan nilai-nilai seperti keadilan, kesetaraan, dan keberagaman yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dengan fokus pada pembentukan karakter dan kesadaran sosial, pendidikan modern dapat membantu membentuk generasi yang peduli terhadap isu-isu sosial dan siap berperan dalam menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Dengan demikian, kontribusi Ki Hajar Dewantara dan KH. Ahmad Dahlan terhadap pendidikan modern tidak hanya memberikan inspirasi, tetapi juga memberikan landasan konseptual yang kuat untuk pengembangan sistem pendidikan yang lebih efektif dan relevan dengan tuntutan Melalui nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka anut, pendidikan modern dapat terus berkembang menuju arah yang lebih inklusif, berdaya, dan berorientasi pada perubahan sosial yang positif. Makna Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Relevansinya dengan Pendidikan di Indonesia KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan dalam perspektif Islam memiliki makna yang sangat mendalam, mencakup proses pembelajaran yang holistik dan seimbang antara aspek spiritual, intelektual, dan moral. Islam menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep pendidikan Islam ini sangat relevan dengan pemikiran tokohtokoh pendidikan nasional seperti Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad Dahlan. Ki Hajar Dewantara mengusung konsep "Tut Wuri Handayani" yang menekankan pendidikan yang membebaskan dan mendukung perkembangan potensi anak secara optimal. Sedangkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mendorong integrasi ilmu agama dan ilmu umum serta penanaman nilai-nilai moral yang kuat. Kedua tokoh ini memiliki visi yang sejalan dengan prinsip pendidikan dalam Islam, yaitu membentuk individu yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dengan demikian, nilainilai pendidikan Islam dapat memberikan landasan yang kuat bagi sistem pendidikan di Indonesia, mengarahkan pada pembangunan manusia yang seutuhnya dan berdaya saing global tanpa meninggalkan identitas keislaman dan kebangsaan. DAFTAR REFERENSI Abdul Mu'ti. Muhammadiyah untuk Kemanusiaan dan Peradaban Sang Surya Tiada Henti Menyinari Negeri. Surabaya: Hikmah Press. Abdullah. Educational Theory a Quranic Outlook. (Terjemahan: Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-QurAoa. Jakarta: PT Rineka Cipta. Al-Attas. Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung: Mizan. Aldila. Lubis. Aulia. , & Sopha. Hakikat Pendidikan Islam: Tarbiyah. TaAolim Dan TaAodib. Journal of Educational Research and Humaniora (JERH), 1, 83Ae89. https://doi. org/10. 51178/jerh. Farida Jaya. Konsep Dasar Dan Tujuan Pendidikan Dalam Islam: TaAolim. Tarbiyah Dan TaAodib. Jurnal Tazkiya. IX. , 63Ae79. Hadiwijoyo. Pendidikan Ketamansiswan Jilid i. Jakarta: Majelis Cabang Tamansiswa Jakarta. Hepi Ikmal. Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Konsep. Pemilihan. Pengembangan Dan Evaluas. , 50. Retrieved from https://example. Ibid. Ibid. TADHKIRAH - VOL. NO. 3 SEPTEMBER 2024 p-ISSN : x-x, e-ISSN : x-x. Hal 49-61 Jamil Suprihatiningrum. Strategi Pembelajaran (Teori dan Aplikas. Yogyakarta: Aruzz Media. Ki Hadjar Dewantara. Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika. Ki Hadjar Dewantara. Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika. Lasmin. Konsep Pendidikan Islam KH. Ahmad Dahlan. MaAozumi. Syihabudin. , & Najmudin. PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAoAN DAN AL-SUNNAH : Kajian Atas Istilah Tarbiyah. Taklim. Tadris. TaAodib Dan Tazkiyah. TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education, 6. , 193Ae209. https://doi. org/10. 17509/t. Materi pendidikan Ruswan Thoyib dan DarmuAoin. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik & Kontemporer. Milahtul Latifah. Terminologi Pendidikan Dalam Al-QurAoan. Rayah Al-Islam, 8. , 211Ae237. https://doi. org/10. 37274/rais. Moh. Tauchid. Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: MLPTS. Muhammad Naquib al-Attas. Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung: Mizan. Pratiwi. , et al. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Mengenai Makna Pendidikan (Tarbiyah. TaAolim. TaAodib. Tadris. DaAowah. Irsyad. Tadbiir. Tazkiyah. Uswa. JIIP Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7. , 2116Ae2124. https://doi. org/10. 20885/jiip. Rhoni Rodin, & Huda. Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Agama Islam Multikultural. Jurnal Al-Qiyam, 2. , 110Ae119. https://doi. org/10. 20885/alqiyam. Rusiadi. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Cet. Ke II. Jakarta: Sedaun. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003. (Tentang Sistem Pendidikan Nasiona.