Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 2. Juni 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Sarkasme pada Kolom Komentar Media Sosial Alivia Rosita Wahyuni1,*. Fitri Amilia1. Hasan Suaedi1 Universitas Muhammadiyah Jember *Corespondence: aliviarstw01@gmail. Artikel Info Abstrak Submission Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk kata serta kalimat sarkasme pada kolom komentar media sosial. Fokus penelitian diarahkan pada pola linguistik dan fungsi sosial dari sarkasme yang muncul dalam bentuk leksikal dan sintaksis. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan sosiosemantik untuk menelaah hubungan antara makna dan konteks sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan Analisis data mengacu pada teori sosiosemantik yang dikemukakan oleh Halliday, khususnya dalam konteks hubungan antara teks dan situasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme dalam kolom komentar muncul dalam bentuk kata tunggal, kata majemuk . , dan Pada tataran kalimat, ditemukan pola sarkasme berbentuk kalimat interogatif dan imperatif yang menyiratkan sindiran tajam. Struktur kalimat sarkastik umumnya mengikuti pola oposisi antara Subjek (S) dan Predikat (P), di mana makna yang muncul sering kali berlawanan dengan makna harfiah. Pola ini menciptakan efek sindiran yang kuat, sehingga sarkasme tetap terbaca meskipun mengalami variasi bentuk. 2025-04-17 Revisions 2025-05-15 Publish 2025-06-02 Kata Kunci: Sarkasme. Komentar. Media Sosial This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Sosial media telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, karena memungkinkan untuk berkomunikasi dengan lebih cepat dan mudah. Salah satu bentuk komunikasi yang umum digunakan adalah dengan menyampaikan pesan singkat melalui komentar pada sebuah postingan. Pengguna Instagram dapat memberikan tanggapan terhadap foto atau video yang diunggah oleh akun lain dengan cara menuliskan komentar yang dapat berupa opini, dukungan, kritik, atau sekadar ekspresi emosi seperti emoji. Bahasa yang digunakan dalam kolom komentar lebih banyak mengandung unsur sarkasme. Sarkasme pada kolom komentar berisi hinaan merupakan cara penyampaian kaya atau kalimat pahit, pedas, kasar untuk mencemooh, seperti merobek-robek hati pendengar dan pembacanya (Hayati, 2. Tujuan sarkasme pada kolom komentar untuk mengungkapkan maksud dan gagasan dengan cara menyindir supaya meningkatkan kesan dan makna kata terhadap pembaca atau pendengarnya, menimbulkan perhatian dan diskusi, serta mengungkapkan emosi dan perasaan. Penelitian ini menjelaskan bentuk penggunaan sarkasme pada kolom komentar media sosial. Fokus kajian ini meliputi bentuk kata yang berupa kata tunggal, akronim, majemuk dan kalimat sindiran. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengguna media sosial yang berbahasa sarkasme sebagai alat komunikasi, ekspresi diri dan manipulasi. Penggunaan bentuk sarkasme pada kolom komentar didasari oleh bentuk kata, (Cahyaningsih & Sabardila, 2. bentuk kata yang dijumpai pada kolom komentar biasanya berbentuk akronim sebagai leksikon dari 95 bahasa gaul. Bahasa gaul memiliki ciri dengan dua aspek, yakni . bentuk kata dan . asal kata. Pada kolom komentar ditemukan bahasa gaul yang berdasarkan bentuk katanya. Berikut merupakan bentuk kata yang ditemukan pada kolom komentar media sosial. Konteks: penutur mengomentari postingan berupa foto seorang tiktokers yang diisukan menghamili anak artis. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Data 1: Jamet (B. , pada data 1 merupakan kata Akronim, bentuk kata sarkasme berupa akronim yang ditemukan pada kolom komentar adalah kata jamet. Kata jamet merupakan pemendekan kata dari jawa metal atau jajal metal, kata tersebut digunakan untuk menyebut suatu hal atau kegiatan bersifat alay atau kampungan (Rismaya et al. , 2022. , misalnya gaya rambut mirip jambul yang sangat tinggi, atau gaya berpakaian dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan gaya masa kini. Kata jamet memiliki arti mengejek karena menunjukkan seseorang yang bergaya kampungan. Data 2: muka tembok (B. M), pada data 2 merupakan bentuk kata majemuk yang berupa ungkapan. Ungkapan seringkali disebut juga sebagai idiom yang berupa gabungan kata dengan makna khusus (Setyorini & Pramudiyanto, 2. Makna kata muka tembok bukan berarti seseorang yang mempunya wajah seperti tembok, namun tentang seseorang yang tidak memiliki rasa malu atau tidak terpengaruh dengan pendapat orang lain. Frasa dari dua kata dasar muka . dan tembok . Komentar tersebut merupakan konotasi negatif yang mengekspresikan ketidaksetujuan atau kecaman. Sarkasme berupa kata dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga pembagian tersebut didasarkan pada, bentuk bahasa yang memiliki unsur atau satuan terkecil yang disebut sebagai morfem atau kata, morfem atau kata yang digunakan berupa kata tunggal karena hanya terdiri dari 1 suku kata (Rumilah et al. , 2. Selain bentuk kata tunggal pada kolom komentar media sosial penggunaan kata sarkasme juga dalam bentuk kata majemuk atau ungkapan. Kata ungkapan berupa idiom yang bertujuan untuk menyindir dan mengejek, bentuk kata ungkapan dianggap sebagai salah satu kata sarkasme karena Bentuk lain pada sarkasme yang ditemukan pada kolom komentar adalah bentuk kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari satu atau lebih kata yang mengungkapkan suatu pikiran atau perasaan (Suweta, 2. Variasi kalimat sebagai sarkasme tidak selalu dengan membandingkan antara predikat 1 dengan predikat 2, namun bisa pula berupa pertanyaan atau interogatif dan imperatif. Berikut data kalimat yang ditemukan: Data 3: Dia ngomong apasih, gajelas bgt anjir (K. In. , data 3 menunjukkan kalimat sindiran interogatif, karena pada kalimat tersebut terdapat kata tanya yaitu apasih. Kalimat interogatif sarkasme diperkuat dengan adanya kata anjir yang merupakan plesetan dari kata anjing, penggunaan kata tersebut dapat bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa kaget, kagum, dan emosi (Putri et al. , 2. Bentuk kata dan kalimat yang mengandung sarkasme dianggap sebagai bentuk penyampaian sifat buruk seseorang atau kelompok (Nuraeni et al. , 2. Dilihat dari bentuknya kata pada kolom komentar sarkasme dibedakan menjadi 3 yaitu, bentuk kata tunggal, kata majemuk atau ungkapan dan kata akronim merupakan karakteristik dari bahasa sarkasme agak kasar, kasar dan sangat kasar (Prasojo, 2. Selain bentuk kata yang menunjukkan sarkasme ditemukan pula bentuk kalimat sarkasme pada kolom komentar yang digunakan untuk menyampaikan pendapat pada kolom komentar (Dhyaningrum & Nababan, 2. Bentuk kalimat yang ditemukan berupa sindiran. Samosir . kalimat sindiran merupakan kalimat yang mengungkapkan maksud atau gagasan dengan cara menyindir untuk meningkatkan kesan dan makna terhadap pembaca. Kalimat sindiran yang ditemukan berupa kalimat sindiran interogatif yang merupakan kalimat pertanyaan, untuk mempertegas kalimat interogatif biasanya terdapat tanda baca (?) atau dengan adanya kata apa, kapan, dimana, berapa, bagaimana, mengapa dan siapa yang digunakan untuk menyatakan bahwa kalimat tersebut adalah kata tanya. Selain kalimat interogatif terdapat pula kalimat imperative yang merupakan kalimat perintah yang ditandai dengan penggunaan tanda baca (!) atau dengan adanya kata jangan, tolong, ayo dan mari. Kolom komentar menjadi salah satu media untuk menyampaikan sebuah kritik dan saran. Cahyanti & Sabardila . Pada sebuah akun media sosial kolom komentar lebih banyak ditemukan ungkapan yang Penggunaan kalimat sarkasme sendiri untuk menunjukan eksistensi mereka para netizen, ingin menggunakan kesempatan untuk numpang tenar, meluapkan ekspresi, meluapkan emosi, tidak sukanya dengan para pengguna Instagram dan lain sebagainya. Data yang diklasifikasikan dan dijabarkan merupakan temuan bentuk sarkasme pada kolom komentar media sosial. Bentuk kata sarkasme dalam kolom komentar merupakan modifikasi dari bahasa gaul, yang pada dasarnya digunakan sebagai sindiran untuk menjatuhkan atau mengejek. Bentuk sarkasme yang ditemukan berupa ungkapan dan kalimat pada kolom komentar yang terdiri dari frasa dan konotasi negatif. Andriarsih . menjelaskan tentang penggunaan bahasa sarkasme dan alasan yang mengakibatkan warganet melontarkan kata-kata kasar. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Cahyanti . yang membahas tentang penggunaan gaya bahasa sarkasme oleh perempuan yang mengandung body shaming dan ujaran kebencian terhadap perempuan lain. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Tarwiyati . membahas tentang bentuk pelanggaran maksim kesantunan berbahasa yang dijelaskan dalam penelitian tersebut tidak hanya itu faktor yang menyebabkan pelanggaran penggunaan gaya bahasa dijelaskan berdasarkan data yang ditemukan. Kemudian Mardiatussaadah . gaya bahasa sarkasme, berupa arti dari kata sarkas yang disampaikan oleh pemberi komentar atau warganet. Penelitian ini memiliki fokus untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan bahasa sarkasme, dengan fokus bentuk sarkasme yaitu, bentuk kata dan bentuk kalimat. Selain itu penelitian ini menjelaskan tentang tujuan dari komentar sarkasme pada kolom komentar yang ditemukan, dengan fungsi untuk menyampaikan pendapat berupa kritik, membangun sebuah identitas, menciptakan humor, dan menunjukkan kekecewaan yang dituangkan kedalam gaya bahasa sarkasme. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif menurut Abdussamad . penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala alami dan data yang dihasilkan adalah deskriptif yang berupa kata-kata, atau ucapan dari objek yang diamati. Data penelitian ini berupa komentar pengguna internet terkait bentuk sarkasme yang meliputi: bentuk kata akronin, majemuk dan tunggal serta bentuk kalimat sindiran. Kualitatif deskriptif merupakan salah satu jenis dari metode kualitatif yang cara menelitinya menampilkan data yang apa adanya tanpa manipulasi atau perlakukan lain (Rusli, 2. Pada dasarnya penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya situasi dan kondisi dengan hubungan yang ada, pendapat-pendapat yang berkembang, akibat atau efek yang terjadi dan sebagainya. Sumber data penelitian diperoleh dari media sosial Instagram, dengan proses pengumpulan data menggunakan cara mengamati interaksi pengguna media sosial pada kolom komentar yang memiliki unsur Adapun Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan catat digunakan untuk memilah setiap tuturan pada kolom komentar dan menandai bagian bahasa sarkasme lalu melewati proses pencatatan data yang dilakukan dengan mengambil kata dan kalimat sarkasme, kemudian diklasifikasikan menjadi bentuk kata tunggal, kata majemuk atau ungkapan, kata akronim, dan serta kalimat sindiran. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi dan dianalisis dengan mengolah bentuk sarkasme pada kolom komentar Instagram dengan fokus pada penggunaan kata dan kalimat sarkasme dalam kolom komentar media sosial Instagram. Penyajian data penelitian berupa uraian naratif yang kemudian diberikan tanda seperti. Kat. A (Bentuk Kata Akroni. Kat. T (Bentuk Kata Tungga. Kat. M (Bentuk Kata Majemu. Kal. In (Bentuk Kalimat Sindiran Interogati. Kal. Im (Bentuk Kalimat Sindiran Imperatif yang menjelaskan dan dikategorikan kedalam bentuk kata dan kalimat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penggunaan kata dan kalimat sarkasme banyak ditemukan pada komentar para pengguna media sosial Instagram. Bentuk kata dan kalimat yang digunakan pengguna media sosial seperti tidak memperdulikan mengenai sopan santun dan tindak tutur bermedia sosial. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya masyarakat yang masih banyak yang tidak ragu dalam mengekspresikan pemikiran mereka dengan penggunaan bahasa kasar atau sarkasme. Menurut (Sri et al. , 2. penggunaan kalimat sarkasme mencerminkan adanya tingkat kesantunan dalam bahasa yang digunakan di dalam kalangan masyarakat serta remaja dan membuktikan bahwa adanya teknologi yang berkembang saat ini harus digunakan dengan baik serta belajar menggunakan kalimat-kalimat yang santun. Sarkasme pada media sosial yang ditemukan berupa bentuk kata dan kalimat. Bentuk kata terdiri dari kata tunggal, kata majemuk dan kata akronim, serta bentuk kalimat berupa kalimat sindiran interogatif dan sindiran imperative yang semuanya memiliki ciri sebagai bentuk sarkasme. Bentuk sarkasme yang ditemukan berupa kata yang mengandung olok-olok, ejekan dan sindiran. Selain itu ciri yang ditemukan bermaksud untuk mengajak dan memperngaruhi pembaca atau pendengar agar berbuat serta mengikuti perkataan yang diucapkan (Halifah et al. , 2. Dampak dari kalimat sarkasme yang dilakukan oleh netizen untuk menerang https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. korban, yang menjadi korban sangat dirugikan dan dapat menderita mental yang dapat menyebabkan depresi akibat tekanan serta dapat membahayakan bahkan sampai bunuh diri, oleh karena itu, pada media sosial merupakan tempat yang bebas nilai, tidak terikat aturan dan norma. Pada penggunaannya sarkasme yang ditemukan pada media sosial berupa bentuk kata dan kalimat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahasa terdapat dua bentuk sarkasme yang ditemukan pada kolom komentar media sosial Instagram, dengan jenis sarkasme dalam bentuk keduanya. Berikut paparan mengenai bentuk kata dan kalimat sarkasme yang ditemukan pada kolom komentar Instagram. Bentuk Kata Sarkasme Berupa Kata Tunggal Iskandar Miza . Kata tunggal atau kata dasar adalah sebuah kata yang hanya memiliki satu morfem dasar saja, tanpa mengalami proses afiksasi, reduplikasi, atau komposisi. Penggunaan bentuk kata tunggal pada kolom komentar yang berupa bentuk kata sarkasme berupa kata yang cukup sering digunakan dan digunakan karena akibat modifikasi bentuk kata dari bahasa gaul. Konteks: Penutur mengomentari postingan berupa foto seorang lelaki yang diisukan berselingkuh. Data 1 Bangsat (B. Kat. Kata bangsat merupakan bentuk kata sarkasme berupa kata tunggal. Kata bangsat memiliki makna bajingan (Amelinda, 2. Kata tersebut digunakan untuk mengungkapkan rasa kesal atau marah. Umpatan kasar yang ditemukan pada sebuah kolom komentar media sosial tidak hanya merujuk pada benda ataupun makhluk hidup, namun juga menggambarkan sifat yang digunakan untuk mengolok-olok (Rismaya et al. Penggunaan kata bangsat dalam konteks ini mencerminkan ekspresi emosional yang spontan dan intens, yang kerap kali muncul dalam ruang digital tanpa filter sosial yang jelas, sehingga memperlihatkan penggunaan bahasa yang bisa menjadi cermin dari ketegangan psikologis dan sosial penggunanya. Konteks: Penutur mengomentari postingan berupa foto seorang selebgram yang diisukan berselingkuh. Data 2 Anjay (B. Kat. Pada data 2 merupakan bentuk kata tunggal yang berasal dari bahasa gaul. Kata anjay turunan dari kata anjing yang kemudian berubah menjadi anjir, njir, anjay, kemudian njay (Ramadhan, 2. Kata anjay terbentuk akibat penggunaan kata gaul yang kemudian digunakan untuk menyampaikan beberapa ekspresi salah satunya sarkasme. Kata anjay merupakan bentuk sarkasme karena digunakan untuk menyoroti hal tersebut dengan nada bercanda atau meremehkan. Selain itu, dalam komunikasi sehari-hari, kata ini sering digunakan untuk menggantikan kata kasar agar terdengar lebih ringan namun tetap menyampaikan kesan menyindir (Isnawan, 2. Penggunaan kata anjay mencerminkan kreativitas berbahasa dalam budaya populer, namun penggunaannya tetap perlu diperhatikan konteksnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau dianggap tidak sopan, terutama di lingkungan formal atau antar generasi. Dari kedua data tersebut yang merupakan bentuk kata tunggal. Kata bangsat dan anjay merupakan kata tunggal yang mengalami modifikasi dalam bahasa gaul. Kata bangsat yang awalnya merujuk pada kutu busuk dalam bahasa Indonesia baku mengalami pergeseran makna menjadi ungkapan untuk menggambarkan sifat seseorang yang dianggap jahat atau menyebalkan. Sementara itu, anjay berasal dari modifikasi kata anjing dan digunakan dalam berbagai konteks ekspresif, seperti keterkejutan, kekaguman, atau ejekan ringan. Fenomena ini mencerminkan perkembangan bahasa yang terus beradaptasi dengan dinamika sosial dan budaya, khususnya di kalangan anak muda yang aktif menciptakan istilah baru dalam komunikasi sehari-hari (Jasmine Azizah Nur Inayah et al. , 2. Bentuk Kata Sarkasme Majemuk Tenri Sua et al. ungkapan adalah bentuk gaya bahasa yang berupa kiasan dan biasa dikenal dengan idiom. Bentuk kata majemuk yang berupa ungkapan atau idiom pada kolom komentar media sosial, tujuannya untuk memberikan komentar yang negatif yang berupa sarkasme. Pada data yang dijabarkan https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. merupakan bentuk kata ungkapan yang memiliki makna tidak langsung atau berupa kata sarkasme yang Konteks: Penutur mengomentari postingan tentang seorang wanita yang menjadi selingkuhan Data 3 Kupu-kupu Malam (B. Kat. Pada data 3 menunjukkan bentuk kata sarkasme yang berupa ungkapan atau idiom. Kata kupu-kupu malam bukan berarti kupu-kupu yang terbang atau hidup dimalam hari, namun kata tersebut memiliki makna yang berkonotasi negatif yaitu kata kupu-kupu biasanya digambarkan sebagai serangga yang memiliki keindahan sehingga mampu memberikan daya tarik terhadap mangsanya (Wahyuni, 2. Kupu-kupu Serangga bersayap lebar ini memiliki dua pasang sayap membran yang tertutup sisik kecil saling tumpang tindih seperti atap sirap. Umumnya berwarna cerah, serangga ini melipat sayapnya secara vertikal saat istirahat, berasal dari kepompong ulat, dan biasanya hinggap di bunga untuk mengisap madu Malam Waktu matahari tebenam hingga matahari Kupu-kupu Malam Seorang menjalani pekerjaan seksual atau sering dikenal dengan pelacur, yang biasanya bekerja pada malam hari. Kupu-kupu malam memiliki makna perempuan yang terlibat dalam prostitusi, dinyatakan demikian karena kupu-kupu biasanya hanya aktif di siang hari. Jenis hewan yang menyerupai kupu-kupu adalah ngengat yang hidupnya di malam hari namun hanya memiliki umur yang singkat bahkan hanya berumur satu malam, seperti pekerjaan seorang pekerja seks (Syahriy, 2. Sebuah ungkapan atau kata majemuk tidak dapat disebut sebagai ungkapan sarkasme, jika tidak memiliki ciri-ciri bentuk kata sarkasme. Ciri-ciri sarkasme yang memiliki tujuan untuk mengolok-olok, mengejek, dan menyindir seseorang. Ciri lainnya sarkasme penggunaan kata yang bertentangan dengan makna seharusnya misalnya pada penggunaan kata kupu-kupu menunjukkan bahwa bentuk kata tersebut bukan menjelaskan tentang hewan namun merupakan seorang wanita (Ranti et al. , 2. Bentuk Kata Sarkasme Berupa Kata Akronim Kata akronim merupakan pemendekan pada kata dan suku kata (Asih, 2. Pada penggunaan bahasa sarkasme pada kolom komentar ditemukan penggunaan kata akronim yang menunjukkan bentuk dari bahasa kasar yang berupa kata modifikasi karena adanya pengaruh penyimpangan bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa gaul. Pola pembentukan akronim hampir sama dengan singkatan yang mengambil dari suku kata pertama. Kata tersebut muncul karena adanya modifikasi bahasa yang kemudian timbul karena adanya pengaruh bahasa gaul. Konteks: postingan foto seorang selebgram yang merupakan istri pemain bola dan berselingkuh. Data 4 Sasimo (B. Kat. Pada data 4 merupakan bentuk kata sarkasme yang ditemukan pada kolom komentar. Kata sasimo merupakan singkatan dari Ausana sini mauAy merujuk pada seseorang yang mudah tertarik pada banyak hal atau orang, cenderung berpindah pindah tujuan atau pasangan, dan sulit untuk berkomitmen pada satu hal. Dilihat dari bentuknya bentuk kata yang dapat diklasifikasikan merupakan bentuk akronim yang merupakan bahasa Rustiana & Wirawati . komentar tersebut termasuk bentuk kata yang berupa reduksi kata yang menyebabkan kata tersebut mempunyai bentuk berbeda dari aslinya. Bentuk Kalimat Sarkasme Berupa Kalimat Sindiran Interogatif (Nisa Luluk, 2. Kalimat interogatif adalah bentuk kalimat pertanyaan kalimat interogatif biasanya ditandai dengan adanya kata katanya yaitu, apa, bagaimana, kapan, dimana, siapa, mengapa, berapa, penggunaan kata tersebut disesuaikan dengan sesuatu yang ingin ditanyakan untuk mempertegas kalimat interogatif biasanya terdapat tanda baca (?) yang digunakan untuk menandakan bahwa kalimat tersebut https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. merupakan kalimat tanya. Pada kolom komentar ditemukan bentuk kalimat interogatif yang menunjukkan bentuk kalimat sindiran sarkasme. Konteks: penutur mengomentari postingan berupa foto sebelgram yang mengaku bergelar haji sejak 2 Data 5 Pak haji udh cipokan brp kali sama pacarnya (B. Kal. Pada data 5 terdapat kata pak haji yang merupakan orang yang diberi gelar sebagai penghormatan dan pengakuan atas perjalanan spiritual yang telah dilalui oleh seseorang. Hal tersebut menjadi sebuah kalimat sarkasme karena orang yang mendapat gelar haji namun melakukan hal yang kurang pantas yaitu cipokan dan dilakukan bersama pacarnya. Kalimat ini secara tidak langsung menyindir dan mempertanyakan moralitas atau perilaku seseorang yang seharusnya dianggap taat beragama. Kalimat sindiran yang disampaikan secara implisit untuk mengejek gelar yang dimiliki (Suciartini, 2. Pola sarkasme pada data 5 adalah oposisi makna antara subjek dan predikat. Berikut analisisnya. Haji (S) Cipokan (P) Oposisi positif Oposisi negatif Bila diubag bentuk, kalimat pada data 5 akan berubah menjadi kalimat berikut: pak haji udah cipokan sama pacarnya (Kalimat Deklarati. pak haji jangan cipokan sama pacarnya (Kalimat Imperati. Kalimat 5a merupakan bentuk kalimat deklaratif, kalimat deklaratif merupakan kalimat yang digunakan untuk menyampaikan sebuah berita yang menyatakan sebuah informasi. Kalimat deklaratif akan tetap menjadi bentuk kalimat sarkasme, karena terdapat ciri sarkasme pada kalimat tersebut terdapat kata yang menyindir dan tidak sopan. Bentuk lainnya pada data 5b menunjukkan bentuk kalimat imperatif. Kalimat tersebut dapat dikatakan bentuk kalimat sarkasme karena mengandung sindiran yang menggunakan bahasa yang kasar dan tidak sopan. kalimat sarkasme dapat berupa berbagai macam jenis kalimat. Kalimat sarkasme bentuknya dapat bermacammacam menyesuaikan jenis kalimat yang digunakan, karena ciri dari kalimat sarkasme yaitu selalu bersifat pedas dan melibatkan kritik yang keras, tidak enak didengar, dan pahit (Halifah et al. , 2. Bentuk Kalimat Sarkasme Berupa Kalimat Sindiran Imperatif Kalimat imperatif merupakan kalimat yang menunjukkan bentuk kalimat yang berupa perintah atau larangan (A. Devi & Subiyantoro, 2. Kalimat imperatif memiliki beberapa jenis yang meliputi, kalimat wajib, kalimat imperatif, kalimat imperatif larangan, kalimat imperatif permisif, kalimat imperatif referensial, kalimat imperative sugestif, dan kalimat imperatif bersyarat. Pada kolom komentar kalimat yang ditemukan pada kolom komentar adalah bentuk kata yang berupa kalimat sindiran. Berikut penjelasan dari bentuk kalimat sindiran imperatif yang ditemukan pada kolom komentar. Konteks: penutur mengomentari postingan berupa foto sebelgram yang mengaku bergelar haji sejak 2 Data 6 Pak haji jangan pegang-pegang pak belum muhrim (B. Kal. Pada data 6 terdapat kata haji yang merupakan seseorang yang diberikan gelar kehormatan dan gelar tersebut biasanya dikaitkan dengan seseorang yang taat beragama dan menjaga perilaku. Sarkasme pada kalimat yang muncul kontras antara ekspektasi terhadap seseorang yang berlabel religius dengan perilakunya yang justru bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan atau ajaran agama yang dijunjungnya (Apriansah et al. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Pembahasan Kata Sarkasme Berupa Sindiran. Ejekan dan Umpatan Bentuk kata sarkasme merupakan bentuk ungkapan yang bertujuan untuk mengejek, menyindir dan menghina seseorang, yang mengandung kepahitan dan celaan getir (Karangan et al. , n. Pada kehidupan sehari hari, penggunaan sarkasme memiliki daya tarik tersendiri. Beberapa orang mungkin menikmati penggunaannya sebagai cara untuk menunjukkan superioritas intelektual atau merusak semangat dan kepercayaan diri orang lain. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan sarkasme yang berlebihan atau tidak tepat dapat berdampak negatif pada hubungan antar individu dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Penggunaan sarkasme yang ditemukan pada kolom komentar ditujukan untuk menyindir seseorang tidak hanya berfungsi untuk menyakiti perasaan namun, sarkasme digunakan sebagai humor selingan untuk menghilangkan rasa penat, menggunjin atau mengkritik. Bentuk sarkasme berupa ejekan yang merupakan sebuah celaan, hinaan, olok-olok dan cemooh yang menyakiti hati dengan penyampaian secara langsung. Selain itu bentuk sarkasme juga berupa sindiran yang penyampaiannya tidak secara langsung (Sinaga et al. Bentuk sarkasme selain bertujuan untuk menyindir dan mengejek yaitu berupa umpatan. Umpatan pada sarkasme berisikan kata-kata kotor, ucapan jorok, sumpah serapah dan ungkapan yang tidak senonoh dengan tujuan untuk merendahkan orang lain (Pratiwi, 2. Umpatan yang ditemukan pada sarkasme biasanya berupa nama Binatang, anggota tubuh yang berkaitan dengan seks, dan sesuatu yang dianggap kotor atau menjijikkan. Umpatan merupakan penggunaan kata-kata atau frasa yang dianggap kasar, tidak sopan, atau tabu. Umpatan biasanya digunakan untuk mengekspresikan emosi yang kuat seperti kemarahan, frustasi, atau penghinaan (Ajib Ridwan, 2. Dalam banyak budaya, umpatan dianggap tidak pantas atau ofensif, namun tetap sering digunakan dalam situasi tertentu sebagai bentuk pelampiasan emosi. Umpatan dan sarkasme merupakan perpaduan bahasa yang menggabungkan sindiran tajam dengan bahasa kasar. Komentar sarkasme dapat digunakan untuk berbagai tujuan, dari pelepasan emosi hingga kritik tajam, penggunaannya yang berlebihan atau tidak tepat dapat merusak hubungan dan menyakiti perasaan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks dan dampak potensial sebelum menggunakan sarkasme umpatan dalam komunikasi sehari hari. Bentuk kata umpatan sindiran dan ejekan yang terkandung dalam sarkasme, pada penggunaannya ada beberapa bentuk terutama pada media sosial yang merupakan tempat untuk bertukar informasi secara luas. Pada media sosial sarkasme yang ditemukan dapat berupa bentuk kata yang ada pada kolom komentar dengan tujuan untuk menyampaikan opini tentang rasa kecewa, marah dan rasa tidak suka terhadap sebuah Meskipun kata-kata umpatan sering dipandang sebagai bentuk bahasa yang tidak sopan dan dapat memicu konflik, fenomena ini layak untuk diteliti dari berbagai sudut pandang linguistik, psikologis, sosial, dan Kajian terhadap penggunaan kata-kata umpatan dapat mengungkap bagaimana bahasa berperan sebagai medium ekspresi emosi serta bagaimana faktor sosial memengaruhi pemakaian bahasa yang dapat menyinggung perasaan (Amilia et al. , 2. Penggunaan bahasa sarkasme pada kolom komentar, ditemukan beberapa bentuk sarkasme dalam bentuk kata. Kalimat tersebut menjelaskan bahwa sarkasme dalam kolom komentar media sosial dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kata. Bentuk-bentuk tersebut meliputi kata tunggal, kata majemuk atau ungkapan, serta kata akronim yang mengandung makna sindiran atau ejekan terselubung. Kata tunggal dapat dikatakan sebagai bentuk sarkasme, karena penggunaan kata yang digunakan untuk menyindir bahkan mengejek terlihat berlebihan, tak jarang penggunaannya bertentangan dengan makna yang seharusnya. Selain itu pengulangan atau penekanan kata selalu berlebihan (Septiani, 2. Bentuk kata tunggal dapat diklasifikasikan menurut bentuk penggunaannya, contoh bentuk kata tunggal yang ditemukan pada kolom komentar yaitu, kata bangsat adalah bentuk kata yang berupa sifat yang bertujuan untuk menyulut amarah seseorang (Gading Rochlik et al. , 2. Dalam KBBI kata bajingan memiliki dua makna, yang pertama sifat kurang ajar. Kedua, diartikan sebagai orang yang memiliki tabiat jahat. Pada jenis kata bajingan memiliki makna yang sarkas. Selain itu, ada bentuk kata tunggal yang berupa kata plesetan dari kata anjing perubahan kata tersebut akibat penggunaan bahasa gaul. Misalnya pada penggunaan kata anjay https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. merupakan sarkasme dari penggunaan nama hewan yang mengandung ejekan. Ramadhani et al. penggunaan kata anjing, anjir, njir, anjay, njay merupakan bentuk ejekan yang bertujuan untuk memaki sesuatu yang dianggap najis, kotor, dan rakus. Bentuk kata pada kolom komentar tidak hanya berupa kata tunggal ada pula bentuk kata akronim. Kata akronim juga dapat menjadi sarkasme jika pada penggunaannya bertujuan untuk menyindir dan meremehkan seseorang. Buana & Huda . berpendapat akronim yang ditemukan pada kolom komentar media sosial merupakan bentuk kata sarkasme yang mempunyai makna negative misalnya pada kata sasimo menunjukkan akronim sarkasme yang bertujuan untuk menghina karakter seseorang. Bentuk kata akronim hampir sama dengan kata tunggal karena kesederhanaan bentuk kata yang digunakan untuk menyampaikan pesan dengan Bentuk kata akronim dari sasimo yang mengalami proses pemendekan dari suku kata pertama. Proses pemendekan kata atau penggunaannya akibat dari bahasa gaul, karena pada media sosial penggunanya cenderung menggunakan bahasa yang santai dan kadang tidak formal. Hal tersebut mencakup penggunaan akronim yang mengikuti pola singkatan yang beragam, yang tujuan dari penggunaan akronim tersebut untuk mengekspresikan pikiran atau emosi dengan cepat dan sederhana. Bentuk Kalimat Sarkasme Memiliki Oposisi Makna Antara S dan P Sarkasme berupa kalimat dapat berupa kalimat interogatif, imperatif, dan deklaratif. Data yang ditemukan dalam penelitian ini terbatas pada kalimat interogatif dan imperatif. Namun, dengan teknik analisis agih, kalimat deklaratif dapat menjadi kalimat sarkasme. Adapun pola sarkasme berupa kalimat yang ditemukan dalam penelitian ini adalah oposisi makna antara S dan P. Pola sarkasme yang paling umum adalah ketika subjek dalam kalimat menyiratkan sesuatu yang positif atau netral, sementara predikatnya justru menyatakan sesuatu yang bertentangan atau negatif, atau sebaliknya (Mahbub & Surmalam, 2. Sarkasme kalimat memiliki pola oposisi makna dan asosiasi antara S dan P. Dari 3 bentuk kalimat sarkasme yang ditemukan, ada pola sarkasme kalimat, berikut pola yang ditemukan: Berikut contoh oposisi S dan P. Pola: Subjek positif. Subjek negative Contoh kalimat: pak haji jangan pegang-pegang pak belum muhrim Pak haji Pegang-pegang Pada kalimat tersebut, subjek pak haji diberi predikat pegang-pegang, namun diikuti dengan klausa belum muhrim. Oposisi makna terjadi karena pernyataan awal yang positif orang yang dihormati bergelar haji bertentangan dengan pernyataan negatif Aupegang-pegang yang bukan muhrimAy. Bentuk oposisi mengandung unsur sarkasme yang bertujuan untuk menyindir (Fauzan, 2. Oposisi makna terbentuk dari benturan antara harapan dan kenyataan, di mana seseorang yang seharusnya menjadi teladan justru melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Pola: Subjek negatif. Predikat positif Contoh kalimat: sipaling tersakiti tapi sangat menikmati hasilnya Sipaling tersakiti Sangat memikmati hasilnya Pada kalimat tersebut, subjek sipaling tersakiti, namun predikat sangat menikmati hasilnya memberikan makna positif. Oposisi ini menciptakan efek sarkastik yang memiliki makna tersirat berupa orang yang menghadapi segala tantangan akan mendapatan sesuatu yang membahagiakan. Sarkasme yang ada pada oposisi kalimat berupa sindiran yang menyakiti hati (Arisnawati, 2. Pola: Subjek umum. Predikat berlebihan Contoh kalimat: Mukamu dan rasa malunya kok bisa tebel banget belajar darimana kak? Mukamu dan rasa malunya Banget belajar darimana kak https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Pada kalimat tersebut, subjek Mukamu dan rasa malunya dikaitkan dengan predikat belajar darimana kak? yang diikuti oleh situasi yang negatif, yaitu kok bisa tebel banget. Oposisi makna terjadi karena pertanyaan belajar dimana bertentangan dengan pengalaman negatif Mukamu dan rasa malunya kok bisa tebel banget. Makna tersirat dari kalimat ini adalah bahwa orang tersebut sebenarnya tidak memuji karena kepandaian melainkan karena orang yang dimaksud tidak mempunyai rasa malu. Kalimat sarkastik memanfaatkan oposisi makna antara subjek dan predikat untuk menyampaikan makna yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan secara eksplisit (Rashid & Yaakob, 2. Pola-pola yang umum ditemukan dalam kalimat sarkastik termasuk subjek positif dengan predikat negatif, subjek negatif dengan predikat positif, dan subjek umum dengan predikat berlebihan. Sarkasme memainkan peran penting dalam komunikasi sehari-hari sebagai alat untuk menyampaikan kritik, humor, emosi, dan ketidaksetujuan dengan cara yang lebih halus dan tidak langsung (Nurhayati et al. , 2. Bentuk kalimat pada kolom komentar tidak hanya berupa kalimat yang memiliki makna oposisi namun juga ditemukan kalimat yang berupa kalimat sindiran. Kalimat sindiran pada kolom komentar menggunakan bentuk interogatif dan imperatif yang mengandung sarkasme. Tujuannya adalah untuk menyampaikan ejekan, hinaan, atau umpatan secara tidak langsung namun tajam. Kalimat interogatif merupakan kalimat yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan (Yumi et al. , 2. Contoh kalimat pak haji udah cipokan berapa kali merupakan kalimat sindiran sarkasme yang bentuknya kalimat interogatif atau kalimat tanya, hal tersebut dikuatkan dengan adanya kata berapa yang merupakan salah satu ciri dari kalimat interogatif. Kalimat interogatif juga memiliki makna oposisi yang berupa oposisi negatif dan oposisi positif (Arsanti. Oposisi negatif yang ditunjukkan pada kalimat udah cipokan kata cipokan adalah hal yang kurang pantas jika seorang yang mendapatkan gelar terhormat berupa haji melakukan kegiatan yang tidak terpuji. Bahkan hal tidak terpuji tersebut dilakukan kepada pacarnya yang belum muhrim atau sah untuk melakukan yang semestinya pada hubungan suami istri. Oposisi negatif merupakan bentuk kalimat terjadi ketika dua ide yang berlawanan dinyatakan, misalnya dalam kalimat yang mengandung penolakan atau penyangkalan terhadap suatu ide yang sebelumnya disebutkan (Gora & Girsang, 2. Bentuk kalimat oposisi positif ditunjukkan pada kalimat pak haji, yang memiliki makna seseorang yang dihormati karena telah melakukan perjalanan spiritual. Dilihat dari jenis kalimatnya, kalimat interogatif dapat disebut sarkasme jika memiliki unsur untuk mengejek mengolok-olok dan menggunakan kata kasar misalnya dengan merendahkan seseorang dalam sebuah pertanyaan. Namun, tidak hanya bentuk kalimat yang mengandung unsur interogatif juga dapat ditemukan bentuk sarkasme misalnya pada kalimat AuMukamu dan rasa malunya kok bisa tebel banget belajar darimana kak? Bisa tetap dikatakan bentuk kalimat sarkasme meskipun berubah menjadi kalimat imperatif coba tunjukkan caranya biar mukamu bisa setebal itu!Ay Hal tersebut karena bentuk sarkasme hanya fokus untuk mengejek dan membuat sakit hati seseorang. Bentuk kalimat imperatif yang ditemukan pada kolom komentar juga mengandung makna oposisi. Kalimat imperatif yang berpotensi menjadi kalimat sarkasme memiliki pola oposisi negatif dalam kalimatnya. Kalimat oposisi yang dimaksud merupakan kalimat yang mengandung dua gagasan atau pernyataan yang Pola kalimat oposisi ditunjukkan pada kata pak haji sebagai oposisi positif, maknanya seseorang yang diberi gelar sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah menunaikan salah satu rukun islam. Sedangkan pola kalimat 113 oposisi negatif ditunjukkan pada kalimat pegang-pegang orang yang belum muhrim, kalimat tersebut merupakan oposisi negatif karena tidak pantas seorang yang memiliki gelar terhormat melakukan tindakan yang mendekati zina. Fitriyani & Mukhlish . imperatif adalah kalimat yang digunakan untuk memberikan perintah, instruksi, permintaan, atau ajakan. Dengan demikian, kalimat imperatif ditunjukkan pada kalimat jangan pegang-pegang pak belum muhrim, yang ditandai dengan adanya kata jangan. Kata tersebut merupakan kata perintah berupa larangan yang ditujukan kepada seseorang yang bergelar haji. Bentuk kalimat imperative tersebut termasuk kedalam kalimat sindiran karena untuk tujuannya melarang orang yang bergelar haji berbuat tidak baik. KESIMPULAN Terdapat dua bentuk sarkasme dalam penelitian ini, yaitu sarkasme kata dan kalimat. sarkasme kata berbentuk kata dasar, kata majemuk, dan akronim. Kata dasar bentuk dasar dari sebuah kata yang belum https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. mengalami proses afiksasi, pemajemukan, atau perubahan lainnya. Kata dasar ini berfungsi sebagai unit dasar dalam pembentukan kata baru. Kata majemuk merupakan kata yang terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih yang memiliki makna baru. Kemudian kata akronim itu bentuk singkatan yang dibuat dari hurufhuruf awal atau bagian-bagian tertentu dari sebuah frasa atau nama yang lebih panjang. Sarkasme kata memiliki ciri untuk menyindir, mengejek, atau mengkritik seseorang atau sesuatu secara tajam, meskipun terkadang bisa disampaikan dengan cara yang halus atau humoris. Sarkasme kata berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kritik, ketidakpuasan, atau humor, tetapi harus digunakan dengan hati-hati karena bisa menyinggung atau membingungkan jika tidak dipahami dengan baik oleh Biasanya digunakan untuk kata sarkasme digunakan untuk menyampaikan kritik, sindiran, atau humor dengan cara yang tidak langsung dan seringkali bertujuan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan atau frustrasi terhadap sesuatu atau seseorang. Namun, penggunaannya harus hati-hati karena bisa menyinggung atau menyebabkan kesalahpahaman jika tidak dipahami dengan baik. Bentuk kalimat yang ditemukan berupa kalimat sindiran interogatif dan sindiran imperatif. Kalimat sindiran interogatif merupakan kalimat tanya yang berisikan ejekan dan sindiran. Bentuk kedua adalah kalimat sarkasme. Bentuk kalimat sarkasme meliputi kalimat sindiran interogatif dan kalimat sindiran Kalimat sindiran interogatif merupakan kalimat pertanyaan yang digunakan untuk menyindir seseorang atau situasi tertentu. Meskipun bentuknya berupa pertanyaan, tujuan utama dari kalimat ini bukan untuk meminta informasi, melainkan untuk menyampaikan kritik atau sindiran secara halus. Kalimat lainnya berupa kalimat sindiran imperatif yaitu kalimat yang berbentuk perintah atau ajakan, namun sebenarnya bertujuan untuk menyindir atau memberikan kritik secara tidak langsung. Meskipun terlihat seperti perintah biasa, kalimat ini sering kali menyampaikan makna yang bertentangan atau menyoroti kekurangan atau ketidaktepatan seseorang. Semua bentuk kalimat memiliki pola yang sama untuk menjadi kalimat sarkasme. pola yang dimaksud adalah pola oposisi semantik antara S dan P. Oposisi semantik mengacu pada pertentangan konsep antara S dan P. Bila S memiliki komponen makna berupa konsep positif, maka P beroposisi dengan konsep S. Daftar Pustaka