Vol. No. Mei 2025, hal, 10-17 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss01. Peningkatan Pemahaman Gerakan Sholat Melalui Pelatihan Tata Cara Sholat di Masjid Agung Randusari Maz Reyza Zamzamy. Rahmat Asri. Hermawan Hermawan. 1,2,. Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Indonesia E-mail: mazreyzazamzamy@gmail. com, . rahmatasri830@gmail. com, . hermawan@stai-ali. Info Artikel Kata kunci : Sholat Pelatihan Praktik Randusari Pengabdian Penulis Koresponden : Maz Reyza Zamzamy E-mail: mazreyzazamzamy@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan praktik tata cara sholat masyarakat Dusun Randusari melalui pelatihan di Masjid Agung Randusari. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode edukatif berupa observasi awal, wawancara, ceramah, demonstrasi gerakan sholat, praktik langsung, serta sesi tanya jawab. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia, baik laki-laki maupun perempuan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dalam melaksanakan gerakan dan bacaan sholat sesuai tuntunan Selain itu, kegiatan ini turut mendorong tumbuhnya kesadaran beribadah yang lebih baik dan berpotensi menumbuhkan kegiatan pembelajaran rutin yang dipandu oleh tokoh agama setempat. Pelatihan ini menunjukkan efektivitas pendekatan partisipatif dalam membina kualitas ibadah masyarakat serta dapat menjadi program berkelanjutan di lingkungan masjid. ibadah mereka. Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sholat yang benar semakin meningkat, serta terbentuknya budaya keagamaan yang lebih kuat di Dusun Randusari. PENDAHULUAN Sholat merupakan rukun Islam yang menjadi tiang utama dalam kehidupan seorang Muslim (Alihan Satra dkk. , 2. Pelaksanaan sholat yang benar, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, tidak hanya mencerminkan ketaatan kepada perintah Allah tetapi juga merupakan wujud nyata dari upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Berdasarkan sumber-sumber yang baik seperti Al-Qur'an dan Hadis Shahih, tata cara sholat telah ditetapkan secara rinci dan jelas oleh Nabi kita mulai dari niat, takbiratul ihram, gerakan rukuk, sujud, hingga tasyahud dan salam sehingga setiap gerakan memiliki makna serta keutamaan tersendiri dalam mendekatkan hati seorang hamba kepada Sang Pencipta (Hady & Azani, 2. Dusun Randusari adalah dusun yang berada di Desa Watusigar Kecamatan Ngawen. Kabupaten Gunung Kidul. Dengan Luas Wilayah yang sebagian besar adalah lahan Pertanian, sehingga mayoritas penduduk dusun Randusari bermata pencaharian buruh tani. Sedangkan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Maz Reyza Zamzamy. Rahmat Asri. Hermawan Hermawan pendidikan formal yang terdapat di Dusun Randusari diantaranya adalah satu Taman Kanak-kanak dan dua Sekolah Dasar. Masjid Agung Randusari sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan di Dusun Randusari memiliki peran strategis dalam pembinaan ibadah umat. Berdasarkan pengamatan awal, diketahui bahwa sebagian jamaah masih melakukan gerakan dan bacaan sholat secara tidak tepat. Beberapa kekeliruan yang sering terlihat antara lain cara bersedekap yang belum sesuai sunnah, posisi rukuk yang tidak lurus, cara sujud yang belum sempurna, serta kesalahan dalam duduk tasyahud. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan tuntunan syariat Islam dalam melaksanakan sholat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. " (HR. Bukhar. Hadis ini menunjukkan bahwa pelaksanaan sholat tidak boleh berdasarkan kebiasaan turun-temurun semata, tetapi harus merujuk langsung kepada contoh yang diberikan oleh Rasulullah. Maka ketika sebagian jamaah di Randusari belum melaksanakan sholat sebagaimana tuntunan Nabi, hal tersebut menandakan perlunya upaya pembinaan yang berbasis pada sunnah secara praktis dan aplikatif. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan gerakan sholat yang sesuai dengan sunnah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim (Suparman, 2. Dengan menerapkan sunnah Rasulullah dalam sholat, seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas ibadahnya, baik dari segi kesempurnaan gerakan, ketepatan bacaan, maupun kekhusyukan hati. (Ahyana & Ashar, 2. Dalam konteks masyarakat Randusari, hal ini menjadi landasan kuat bagi perlunya program pelatihan tata cara sholat yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis dan berkelanjutan, agar kesalahan-kesalahan dalam ibadah dapat diperbaiki dan kualitas keislaman masyarakat semakin meningkat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda: "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun, jika sholatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya. " (HR. Tirmidz. Hadis ini menegaskan bahwa sholat memiliki kedudukan sangat sentral dalam struktur amal seorang Muslim. Jika ibadah sholat dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan, maka ia menjadi penyempurna bagi seluruh amal lainnya. Sebaliknya, jika sholat tidak dilakukan dengan baik, maka amal lain pun ikut terpengaruh secara negatif. Kondisi ini sangat relevan dengan keadaan masyarakat Dusun Randusari yang, berdasarkan hasil observasi awal, masih menunjukkan banyak kekeliruan dalam pelaksanaan sholat. Gerakan dan bacaan sholat yang tidak tepat menunjukkan bahwa kualitas sholat mereka masih perlu ditingkatkan secara serius. Dengan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Gerakan Sholat Melalui Pelatihan. demikian, pembinaan tata cara sholat menjadi kebutuhan mendesak agar ibadah yang menjadi tolok ukur amal ini dapat dilaksanakan secara sah dan sempurna. Sebagaimana ditegaskan oleh (Fatmala, 2. , memastikan bahwa sholat dilakukan dengan benar bukan hanya merupakan bentuk ketaatan, tetapi juga merupakan kunci diterimanya amal lainnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh sebab itu, setiap Muslim, termasuk masyarakat Randusari, harus berusaha meningkatkan pemahaman dan praktik sholat agar lebih sempurna sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kajian ini diselenggarakan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas ibadah jamaah dan menanamkan pemahaman yang mendalam mengenai tata cara sholat yang benar, memperbaiki kesalahan yang umum terjadi, serta meningkatkan kualitas ibadah jamaAoah Masjid Agung Randusari (Riyadi & Kahar, 2. Kontribusi kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah sholat para peserta, tetapi juga mendorong terciptanya budaya belajar agama yang berkelanjutan di masyarakat. Peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan ilmu kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat budaya keagamaan dan membangun masyarakat yang lebih taat serta sadar ibadah. METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Masjid Agung Randusari, yang terletak di Dusun Randusari. Desa Watusigar. Kecamatan Ngawen. Kabupaten Gunung Kidul. Lokasi ini dipilih karena merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat, namun berdasarkan observasi awal diketahui bahwa sebagian jamaah belum melaksanakan sholat dengan gerakan dan bacaan yang sesuai dengan tuntunan syariat. Hal ini diperkuat dengan wawancara bersama takmir masjid dan beberapa jamaah yang mengungkapkan bahwa kajian sholat selama ini masih bersifat teoretis dan belum menyentuh aspek praktik langsung. Kelompok sasaran kegiatan ini adalah jamaah Masjid Agung Randusari, yang terdiri dari laki-laki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak yang aktif mengikuti kegiatan ibadah di masjid. Para peserta hadir secara sukarela dan menunjukkan minat tinggi untuk memperbaiki kualitas ibadah mereka. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2025, setelah pelaksanaan sholat IsyaAo berjamaah, dengan durasi kegiatan sekitar 60 hingga 90 menit. Pemateri sekaligus fasilitator dalam kegiatan ini adalah tim pelaksana pengabdian, yaitu Maz Reyza Zamzamy dan Rahmat Asri. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Maz Reyza Zamzamy. Rahmat Asri. Hermawan Hermawan Metode yang digunakan dalam kegiatan ini bersifat edukatif dan partisipatif, yang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Observasi Awal Peneliti melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan sholat jamaah untuk mengidentifikasi kesalahan umum, seperti posisi bersedekap yang tidak tepat, rukuk yang tidak lurus, dan bacaan yang belum sesuai. Wawancara dengan Takmir dan Jamaah Wawancara dilakukan dengan Ketua Takmir Masjid (Bapak Tugimi. dan beberapa jamaah untuk mengetahui pengalaman mereka mengikuti kajian sholat sebelumnya serta kebutuhan mereka terhadap pembelajaran yang lebih aplikatif. Pelatihan dan Praktik Sholat Kegiatan utama berupa pelatihan tata cara sholat dimulai dengan pemaparan materi mengenai urgensi, keutamaan, dan kedudukan sholat dalam Islam. Selanjutnya, peserta diarahkan untuk mempraktikkan gerakan sholat mulai dari takbiratul ihram hingga salam, dengan bimbingan langsung dari fasilitator. Dalam praktik ini, penekanan diberikan pada posisi tubuh yang benar sesuai sunnah serta pelafalan bacaan sholat. Sesi Tanya Jawab dan Refleksi Di akhir kegiatan, dilakukan sesi tanya jawab untuk menjawab kebingungan peserta terkait gerakan maupun bacaan sholat, serta refleksi terbuka terhadap pelatihan yang telah diberikan. Sebagai bentuk evaluasi langsung, fasilitator mengamati perubahan sikap dan gerakan peserta saat praktik berlangsung. Peserta yang sebelumnya terlihat ragu dalam gerakan kini tampak lebih mantap dan memahami struktur sholat secara utuh. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis praktik sangat efektif dalam meningkatkan kualitas ibadah masyarakat secara nyata. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Masjid Agung Randusari pada tanggal 18 Januari 2025 menunjukkan hasil yang positif dalam peningkatan pemahaman dan praktik tata cara sholat masyarakat. Pelatihan yang dilakukan setelah sholat IsyaAo berjamaah, dengan durasi sekitar 60 hingga 90 menit, diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan usia, baik laki-laki maupun Materi yang disampaikan mencakup aspek teoretis mengenai urgensi sholat, serta praktik langsung gerakan dari takbiratul ihram hingga salam. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan keterlibatan aktif dalam mengikuti setiap sesi. Sebelum pelatihan dimulai, sebagian Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Gerakan Sholat Melalui Pelatihan. besar peserta belum memahami secara tepat posisi tubuh saat sholat, seperti posisi tangan saat bersedekap, cara rukuk dan sujud yang sesuai, serta duduk tasyahud yang benar. Hal ini terlihat dari ketidaksesuaian gerakan dengan standar yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu AoAlaihi Wasallam. Namun, setelah diberikan pembinaan dan bimbingan langsung, peserta mulai dapat memperbaiki posisi tubuh, mengikuti urutan rukun sholat dengan benar, dan melafalkan bacaan dengan lebih fasih. Efektivitas pelatihan ini juga diperkuat melalui sesi tanya jawab di akhir kegiatan. Dalam sesi ini, peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar gerakan yang masih membingungkan, seperti posisi jari saat tasyahud, bacaan antara dua sujud, dan perbedaan sholat fardhu dan sunnah dalam gerakan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil membangkitkan semangat belajar dan keingintahuan peserta terhadap ibadah sholat secara lebih mendalam. Secara teoritis, keberhasilan kegiatan ini sejalan dengan pendekatan pendidikan Islam yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis praktik. Rasulullah Shallallahu AoAlaihi Wasallam memberikan teladan dalam beribadah dengan cara memperagakan langsung sholat di hadapan para sahabat, sebagaimana sabdanya: AuSholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholatAy (HR. Bukhar. Pendekatan ini menggabungkan pemahaman kognitif dan psikomotorik sehingga peserta tidak hanya mengetahui, tetapi juga mampu melakukan secara benar. Pandangan ini diperkuat oleh (Sakinah dkk. , 2. yang menegaskan bahwa metode pembelajaran yang mengombinasikan teori dan praktik secara langsung sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman ajaran agama. Dalam konteks pelatihan ini, kombinasi ceramah, demonstrasi, dan praktik terbukti mampu membantu peserta memahami gerakan dan bacaan sholat secara lebih utuh dan aplikatif. Kontribusi kegiatan ini terhadap masyarakat dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, dari sisi individu, peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang langsung dapat diterapkan dalam ibadah sehari-hari. Kedua, dari sisi sosial, kegiatan ini membangun kesadaran kolektif untuk memperbaiki kualitas ibadah di lingkungan masjid. Setelah kegiatan berlangsung, beberapa peserta menyatakan keinginan untuk mengajarkan kembali apa yang mereka peroleh kepada anggota keluarga dan tetangga. Selain itu, takmir masjid menyambut baik gagasan untuk menjadikan pelatihan semacam ini sebagai bagian dari program pembinaan rutin di Masjid Agung Randusari. Namun, selama pelaksanaan kegiatan terdapat beberapa kendala. Salah satunya adalah keterbatasan waktu, karena kegiatan harus diselesaikan dalam rentang waktu terbatas setelah sholat IsyaAo. Akibatnya, penyampaian materi harus dilakukan secara ringkas namun padat. Selain itu, latar belakang peserta yang beragam menuntut pendekatan yang fleksibel agar semua peserta dapat Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Maz Reyza Zamzamy. Rahmat Asri. Hermawan Hermawan mengikuti kegiatan dengan baik. Untuk mengatasi hal ini, pemateri menggunakan metode campuran antara ceramah singkat, demonstrasi langsung, dan bimbingan individual saat praktik berlangsung. Dari hasil kegiatan ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif melalui pelatihan langsung sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah sholat di Model ini tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata dalam sikap dan keterampilan peserta. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai program pembinaan ibadah yang berkelanjutan dan berdampak luas di lingkungan masjid maupun masyarakat umum. Gambar 1. Kegiatan Kajian Pemaparan Teori Seputar Sholat Gambar 2. Kegiatan Praktik Gerakan Sholat KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kegiatan pelatihan tata cara sholat yang dilaksanakan di Masjid Agung Randusari terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas ibadah masyarakat. Melalui pendekatan edukatif-partisipatif berupa ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai gerakan dan bacaan sholat sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu AoAlaihi Wasallam. Pelatihan ini juga berhasil membangun semangat belajar dan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Peningkatan Pemahaman Gerakan Sholat Melalui Pelatihan. keterlibatan aktif peserta, serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk memperbaiki praktik sholat secara bersama-sama di lingkungan masjid. Dampak nyata dari kegiatan ini terlihat dari meningkatnya keterampilan peserta dalam memperagakan gerakan sholat dengan benar, munculnya diskusi dan tanya jawab yang konstruktif, serta adanya inisiatif peserta untuk menyebarkan ilmu yang diperoleh kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Selain peningkatan pada sisi individu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam membangun budaya ibadah yang lebih benar dan terarah di masyarakat Randusari. Berdasarkan hasil yang dicapai, disarankan agar kegiatan pelatihan tata cara sholat seperti ini dijadikan program rutin di masjid, minimal secara berkala. Program dapat dikembangkan dengan segmentasi yang lebih spesifik, seperti pelatihan untuk remaja, lansia, atau komunitas ibu-ibu, agar pembinaan dapat dilakukan secara lebih terfokus. Selain itu, perlu disusun media pendukung seperti modul ringkas atau panduan praktis gerakan dan bacaan sholat agar peserta dapat terus belajar secara mandiri setelah pelatihan berlangsung. Kegiatan ini juga dapat menjadi model pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan nyata, yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan tinggi lainnya sebagai bentuk kontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas ibadah umat. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Takmir Masjid Agung Randusari atas izin, dukungan, dan fasilitasi yang diberikan selama pelaksanaan kegiatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta dan pihak-pihak yang telah berpartisipasi dan memberikan kontribusi dalam kesuksesan program ini. DAFTAR PUSTAKA