Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN MP-ASI DINI PADA BAYI DI DESA SIALAMAN KECAMATAN SIPIROK KABUPATEN TAPANULI SELATAN TAHUN 2020 THE RELATIONSHIP OF MOTHER'S KNOWLEDGE WITH EARLY BREASTFEEDING FOR BABIES IN SIALAMAN VILLAGE. SIPIROK DISTRICT. TAPANULI SELATAN REGENCY IN 2020 Masnawati1. Sri Sartika Sari Dewi2 Dosen Program Kebidanan Program Sarjana Program Sarjana Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan masnawati@gmail. com, srisartikasaridewi@gmail. ABSTRAK Pemberian MP-ASI terlalu dini pada bayi usia kurang dari enam bulan dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan bayi antara lain perut kembung, diare, sembelit bahkan alergi makanan, hal ini disebabkan karena sistem pencernaan bayi belum siap menerima makanan selain ASI sehingga menimbulkan reaksi pada sistem pencernaan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli selatan Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki bayi berjumlah 44 orang dan keseluruhan dijadikan sebagai Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi dengan nilai p = 0,002 < = 0,05. Bagi ibu yang memiliki bayi usia < 6 bulan agar memberikan ASI saja dan memberikan MP-ASI dengan tepat serta menghindari pemberian susu formula dan makanan/minuman Bagi ibu yang memiliki bayi usia > 6 bulan agar memberikan MP-ASI yang tepat kepada bayi. Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih aktif dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat khususnya kepada ibu yang memiliki bayi tentang ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI yang tepat kepada bayi. Kata kunci : Pengetahuan. MP-ASI dini, bayi ABSTRACT Giving complementary foods with breast milk too early in infants aged less than six months can have an impact on the baby's health, including flatulence, diarrhea, constipation and even food allergies, the cause of this is the baby's digestive system is not ready to receive food other than breast milk, causing a reaction in the baby's digestive system. The purpose of the study was to determine the relationship between mother's knowledge and early complementary feeding to infants in Sialaman village. Sipirok district. Tapanuli Selatan regency in 2021. This study was a correlation analytic study with a cross sectional approach. The population is all mothers who have babies totaling 44 people and all of them are used as The results showed that there was a significant relationship between mother's knowledge and early complementary feeding to infants with p value = 0. 002 < = 0. For Vol. 6 No. 2 Desember Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal mothers who have babies aged < 6 months to give only breast milk and give complementary foods appropriately and avoid giving formula milk and other food/drinks. For mothers who have babies aged > 6 months to give the right complementary foods with breast milk to the It is recommended to health workers to be more active in providing health education to the community, especially to mothers who have babies about exclusive breastfeeding and giving the right complementary foods with breast milk to babies. Keywords : Knowledge, complementary foods with breast milk, baby hal ini menggambarkan bahwa pemberian ASI eksklusif masih rendah sedangkan LATAR BELAKANG praktik pemberian MP-ASI di berbagai Menyusui adalah salah satu cara dunia masih tinggi. Cakupan pemberian paling efektif untuk memastikan kesehatan ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan dan kelangsungan hidup anak. Namun, data Rakerkesnas tahun 2020 sebesar hampir dua dari tiga bayi tidak disusui 66,02% sementara target pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan yang eksklusif secara nasional sebesar 80%. Air susu ibu (ASI) Cakupan ASI eksklusif di Provinsi adalah makanan yang ideal untuk bayi. Sumatera Utara meningkat sebanyak 8, 75 Pemberian makanan pendamping ASI % dari tahun 2017 yakni sebesar 41,32 % (MP-ASI) yang tidak tepat terus menjadi 50,07 % pada tahun 2018. mengganggu upaya untuk meningkatkan Sebanyak 31 dari 33 Kabupaten/Kota di tingkat dan durasi menyusui di seluruh Provinsi Sumatera Utara dunia (World Health Organization, 2. persentase pemberian ASI eksklusif masih Pemberian MP-ASI terlalu dini di bawah target nasional . %), termasuk pada masyarakat merupakan salah satu Kabupaten Tapanuli Selatan sebesar 45,97% yang menduduki peringkat ke-13 Meskipun ASI diketahui memiliki banyak dari 33 Kabupaten/Kota (Dinas Kesehatan keunggulan dari segi gizi, imunitas. Provinsi Sumatera Utara, ekonomi, kepraktisan, maupun psikologis. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan ibu-ibu Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2019, memberikan ASI masih sangat rendah. cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Adanya praktik pemberian MP-ASI terlalu Danau Marsabut sebesar 53,3 %. dini, yaitu pada bayi yang berusia kurang Hasil studi pendahuluan dengan 10 dari enam bulan menjadi perhatian yang orang ibu yang mempunyai bayi, pada saat serius dimana organ-organ pencernaan kunjungan ke Posyandu Mawar desa pada tubuh bayi belum tumbuh sempurna. Sialaman Wilayah Kerja Puskesmas Danau Hal tersebut disebabkan oleh beberapa Marsabut, diketahui bahwa tujuh dari 10 alasan, antara lain karena pengetahuan ibu orang ibu telah memberikan MP-ASI pada tentang pentingnya ASI masih rendah, saat usia bayi kurang dari enam bulan. kurangnya dukungan keluarga untuk Tiga diantaranya mengatakan anaknya pemberian ASI eksklusif, dan banyaknya rewel dan suka menangis jika hanya diberi ibu yang bekerja diluar rumah (Yuliarti. ASI saja dan tidak diberi makanan Seorang ibu mengatakan air World Health Organization susunya hanya sedikit dan tidak cukup (WHO) tahun 2020, menyatakan bahwa untuk bayinya sehingga ia memberi hanya sekitar 41% bayi yang berusia 0-6 makanan tambahan berupa bubur bayi bulan di seluruh dunia diberikan ASI instan sejak bayinya berusia satu bulan. secara eksklusif, sedangkan 59% bayi Berdasarkan lainnya ternyata telah mendapatkan MPbelakang diatas, maka peneliti tertarik ASI saat usianya kurang dari enam bulan, untuk mengadakan penelitian tentang Vol. 6 No. 2 Desember Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Auhubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2021Ay. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2021. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Agustus Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan yang berjumlah 44 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling, dimana jumlah sampel sama dengan populasi. HASIL Hasil penelitian ini tentang hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020. Secara lengkap deskripsi karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 1. Pendidikan Rendah (SLTP) Menengah (SLTA) Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Jumlah Hasil Tabel 4. 1 ditinjau dari segi umur mayoritas responden berumur 20-35 tahun sebanyak 37 orang ( 84,1%), minoritas berumur > 35 tahun sebanyak 7 orang . ,9%). Mayoritas bayi berumur 10 dan 12 bulan masing-masing sebanyak 6 orang . ,6%), dan minoritas berumur 3, 4, 5, 11 bulan masing-masing sebanyak 3 orang . ,8%). Pendidikan responden mayoritas menengah (SLTA) sebanyak 23 orang . ,3%), dan minoritas responden berpendidikan rendah (SLTP) sebanyak 21 orang . ,7%). Mayoritas responden adalah bekerja sebanyak 27 orang . ,4%) dan minoritas tidak bekerja sebanyak 17 orang . ,6%). Tabel 2 Pemberian MP-ASI Dini pada Bayi Pemberian MP-ASI Dini Diberi Tabel 1 Karakteristik Responden Variabel Umur Ibu (Tahu. > 35 Umur Bayi . Vol. 6 No. 2 Desember Tidak diberi Jumlah Hasil 2 mayoritas responden memberikan MP-ASI dini pada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan sebanyak 32 orang . ,7%) dan minoritas responden tidak memberikan MP-ASI dini pada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan sebanyak 12 orang . ,3%). Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Tabel 3 Pengetahuan Responden tentang Pemberian MP-ASI Pengetahuan Cukup Baik Jumlah PEMBAHASAN Hasil pengetahuan responden cukup sebanyak 24 orang . ,5%) dan minoritas responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 20 orang . ,5%). Analisis Bivariat Tabel 4 Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi Pengeta Pemberian MP-ASI Dini Diberi Tidak Diberi Jumlah Cukup Baik Jumlah Val 0,00 Hasil tabel 4. 4 dari 24 responden yang berpengetahuan cukup mayoritas responden memberikan MP-ASI dini pada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan yaitu 22 orang . ,0%) dan minoritas tidak memberikan MP-ASI sebanyak 2 orang . ,6%). Sedangkan dari 20 responden yang berpengetahuan baik, sebanyak 10 orang . ,7%) memberikan MP-ASI dan sebanyak 10 orang . ,7%) lagi tidak memberikan MP-ASI dini pada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan. Hasil uji nilai P =0,002 ( p < 0,. hal ini mengidentifikasikan Ho ditolak, artinya ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2021. Vol. 6 No. 2 Desember Usia Ibu Berdasarkan mayoritas umur responden 20-35 tahun yaitu sebanyak 37 orang . ,1%). Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan dan Semakin tinggi umur seseorang, semakin bertambah pula ilmu (Syafrudin, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Pamarta . yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh usia terhadap ketepatan waktu pemberian MPASI . = 0,. , penelitian yang dilakukan oleh Juliyandari . yang mendapatkan hasil uji . = 0,346, p > 0,. dan berdasarkan koefisien contingensi (C) sebesar 0,185 . > 0,. menunjukkan tidak adanya hubungan antara usia ibu dengan ketepatan waktu pemberian MPASI. Umur mempengaruhi pengetahuan, semakin lanjut umur seseorang maka kemungkinan semakin meningkat pengetahuan dengan pengalaman yang dimilikinya (Hurlock. Daya tangkap dan pola pikir seseorang akan dipengaruhi oleh umur. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang (Notoatmodjo, 2. Berdasarkan teori tersebut peneliti berasumsi bahwa umur responden yaitu 20-35 tahun merupakan umur dimana seseorang sudah dianggap matang baik secara fisiologis, psikologis dan kognitif. Usia Bayi Berdasarkan mayoritas bayi berusia 10 dan 12 bulan masing-masing sebanyak 6 orang . ,6%). Bayi baru lahir atau neonatus adalah masa kehidupan neonatus pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal kehidupan di dalam rahim menjadi di luar Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir di semua sistem. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. (Marmi dan Rahardjo. Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah makanan atau minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi selama periode penyapihan . omplementary feedin. yaitu makanan/minuman diberikan bersama pemberian ASI (Asosiasi Dietisien Indonesia, 2. Pemberian MP-ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini, tetapi sangat diperlukan hygienitas dalam pemberian MP-ASI Selama kurun waktu 4-6 bulan pertama ASI masih mampu memberikan kebutuhan gizi bayi, setelah 6 bulan ASI kebutuhan gizi tidak lagi dipenuhi dari ASI saja. Peranan makanan tambahan menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi tersebut (Mufida dkk. Berdasarkan hasil penelitian, bayi dengan usia 3, 4 dan 5 bulan masingmasing sebanyak 3 orang . ,8%) dan sudah ada yang mendapatkan MP-ASI walaupun usianya belum sampai 6 bulan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian MPASI yang tepat dan kurangnya dukungan keluarga serta adanya tradisi di masyarakat yang masih memberikan makanan seperti gula, madu dan sebagainya pada bayi baru Bayi berusia > 6 bulan sebanyak 35 orang . ,5%) dan semuanya sudah diberikan MP-ASI. Pendidikan Berdasarkan mayoritas pendidikan responden adalah SLTA sebanyak 23 orang . ,3%). Pendidikan merupakan kegiatan atau proses belajar yang terjadi dimana saja. Vol. 6 No. 2 Desember kapan saja dan oleh siapa saja. Pendidikan pendidikan seseorang maka semakin mudah untuk menerima informasi, sehingga makin baik pengetahuannya, akan tetapi seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu berpengetahuan Pendidikan ibu akan memberikan dampak terhadap perlindungan dan kelangsungan hidup anak, melalui pemberian nutrisi yang cukup sesuai tumbuh kembang anak. Keterbatasan pendidikan ibu akan menyebabkan keterbatasan dalam penanganan terhadap gizi keluarga, dan balitanya. tinggi tingkat pendidikan formal yang pengetahuan tentang pemberian MP-ASI yang tepat (Damayanti, 2. Sesuai teori tersebut peneliti berasumsi bahwa pendidikan sangat penting untuk seorang ibu dan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan ibu terutama dalam merawat bayi dan MP-ASI Responden dengan pendidikan SLTA sebanyak 23 orang . ,3%) dan responden dengan pendidikan SLTP sebanyak 21 orang . ,7%). Ibu dengan pendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan lebih baik dalam hal kesehatan bayi dan pemberian MP-ASI yang tepat. Hal ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki pendidikan menengah dengan pengetahuan cukup dan baik. Pekerjaan Berdasarkan mayoritas responden adalah ibu bekerja yaitu sebanyak 27 orang . ,4%). Pekerjaan responden adalah petani sebanyak 21 orang dan wiraswasta sebanyak 6 orang. Pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia yang merupakan suatu tugas atau kerja yang dapat menghasilkan uang. Status pekerjaan yang semakin baik dan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal sosial ekonomi keluarga yang meningkat memudahkan ibu untuk memberikan susu formula dan MP-ASI pada anak dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif (Kumalasari dkk. , 2. Penelitian yang telah dilakukan oleh Meike . , hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,022, dimana nilai p < 0,05 dengan taraf signifikan =5% maka Ho ditolak. Secara statistik dapat diinterpretasikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan responden dengan riwayat pemberian MPASI dini. Hal ini tidak sejalan dengan Kusmiyati . menyebutkan ibu yang tidak melakukan pekerjaan di luar rumah (IRT) akan memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu yang bekerja di luar rumah. sehingga bisa memberikan MPASI yang tepat juga. Hasil ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa bekerja selalu dijadikan alasan tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi karena ibu mempunyai lebih banyak kegiatan di luar rumah sehingga waktu pemberian ASI pun Pemenuhan nutrisi bayi yang seharusnya dapat dipenuhi oleh ASI akan tergantikan dengan pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Ibu yang belum bekerja sering memberikan makanan tambahan dini dengan alasan melatih atau mencoba agar pada waktu ibu mulai bekerja bayi sudah terbiasa. Status pekerjaan yang semakin baik dan sosial ekonomi keluarga yang 51 meningkat menyebabkan ibu mudah untuk memberikan susu formula dan MP-ASI pada anak. Pemberian MP-ASI Dini pada Bayi Berdasarkan mayoritas responden memberikan MP-ASI dini pada bayi yaitu sebanyak 32 orang . ,7%) dan minoritas tidak memberikan MP-ASI sebanyak 12 orang . ,3%). MPASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang Vol. 6 No. 2 Desember diberikan kepada bayi selama periode penyapihan . omplementary feedin. yaitu makanan/minuman diberikan bersama pemberian ASI (Asosiasi Dietisien Indonesia, 2. MPASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan bayi (Mufida , 2. Pemberian ASI atau MP- ASI tak lepas dari tatanan budaya, dalam konteks budaya dituturkan berbagai gambaran perilaku ibu menyusui Perilaku dibentuk oleh kebiasaan yang bisa diwarnai adat, tatanan norma yang berlaku di masyarakat dan kepercayaan. Perilaku umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Perilaku adalah hasil dari proses yang berlangsung selama masa perkembangan. Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasan di lingkungannya serta pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku pemberian MPASI sesuai dengan ketentuan yang seharusnya sehingga bayi dapat tumbuh kembang secara normal (Sutayani ,2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati . yang berjudul gambaran pemberian MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan, dimana dari 64 responden mayoritas responden memberikan MP-ASI yaitu sebanyak 43 orang . ,2%) dan minoritas tidak memberikan MP-ASI yaitu sebanyak 21 orang . ,8%). Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wahyuni . tentang hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan pemberian MPASI pada bayi usia 6-12 bulan di posyandu Pereng Bumirejo. Lendah Kulon Progo Yogyakarta penelitiannya menunjukkan tidak ada hubungan yang positif antara pengetahuan ibu tentang MP-ASI dengan pemberian MP-ASI pada balita usia 6-12 bulan. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis penelitian yang menunjukkan nilai correlation sebesar 0,759. Hal ini Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal ditunjukkan juga pada signifikasi hitung yang lebih kecil dari signifikasi 0,05 . ,00 < 0,. dan diperoleh nilai rho hitung . lebih besar dari rho tabel . Sesuai teori tersebut peneliti berasumsi bahwa mayoritas responden cenderung memberikan MP-ASI dini pada bayi usia kurang dari 6 bulan. Pemberian MP-ASI pada bayi merupakan hal yang sangat penting. Pemberian MP-ASI yang kurang tepat dapat mempengaruhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pengetahuan Responden Pemberian MP-ASI Berdasarkan mayoritas responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 24 orang . ,5%) dan minoritas berpengetahuan baik sebanyak 20 orang . ,5%). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahua diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati . yang berjudul gambaran pemberian MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan, dimana dari 64 responden yang berpengetahuan baik sebanyak 49 orang . ,6%). Penelitian Aprilia . menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 26 orang . 3%) dari jumlah responden sebanyak 35 orang. Sesuai teori tersebut peneliti berasumsi bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup dipengaruhi oleh kurangnya informasi kesehatan yang didapatkan oleh responden, khususnya mengenai pemberian MP-ASI pada bayi. Ibu dengan tingkat pengetahuan rendah dengan kondisi bayinya sebaliknya ibu Vol. 6 No. 2 Desember dengan tingkat biasanya akan sangat peduli terhadap anaknya baik itu terhadap pemberian ASI eksklusif maupun sampai pemberian makanan pendamping ASI. Sehingga diharapkan partisipasi petugas kesehatan atau kader posyandu harus lebih banyak untuk memberikan penyuluhan tentang pemberian MP-ASI yang tepat untuk bayi. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian MP-ASI Dini pada Bayi Secara statistik penelitian ini bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi di desa Sialaman Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan dengan nilai p = 0,002. Responden dengan pengetahuan yang baik, memberikan ASI eksklusif kepada bayi dari usia 0 sampai 6 bulan dan melanjutkan memberikan MP-ASI dengan tepat yaitu setelah bayi berusia 6 bulan. Sedangkan responden dengan pengetahuan cukup tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayi serta memberikan MP-ASI kepada bayi dengan usia kurang dari 6 bulan tanpa mengetahui akibat yang aakan terjadi jika memberikan MP-ASI dini kepada bayi. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh kurangnya informasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari . dengan judul hubungan pengetahuan dengan pemberian MP-ASI dini pada ibu yang mempunyai bayi usia 06 bulan dengan nilai p = 0,020, yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI Dini di Kelurahan Ghisikdrono Semarang. Penelitian Kusmiyati 2. didapatkan nilai p = 0. 005 ( < 0. secara statistik artinya ada hubungan signifikan antara pemberian MP-ASI. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Pancarani . yang berjudul hubungan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal pengetahuan dan sikap ibu pada informasi MP-ASI di buku KIA dengan pemberian MP-ASI balita usia 6-24 bulan di kelurahan Bandarharjo Semarang Utara didapatkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian MP-ASI dengan nilai p = 0,910. Pemberian MP-ASI dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi pengetahuan, pengalaman dan tingkat pendidikan, dan faktor eksternal meliputi sosial budaya, dan Apabila orang tua memiliki pengetahuan yang baik tentang pentingnya pemberian ASI, maka akan memberikan ASI saja sampai bayi berusia enam bulan, apabila pengetahuan ibu rendah maka akan memberikan MP-ASI sebelum usia enam bulan, dan beranggapan agar bayinya merasa kenyang (Notoadmodjo, 2. Sesuai teori tersebut peneliti berasumsi bahwa pengetahuan sangat berhubungan dengan perilaku seseorang terutama dalam hal kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih bayak ibu yang belum memahami betapa pentingnya memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan dan betapa berbahayanya memberikan MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan. Kurangnya pengetahuan ibu tentang MP-ASI dini dikarenakan bahwa mayoritas responden belum mengetahui secara mendalam tentang MP-ASI dini. Pengetahuan responden rendah hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar responden kurang mendapatkan informasi penting mengenai MP-ASI. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian, maka dapat diambil kesimpulan : Pengetahuan pemberian MP-ASI pada bayi masih berada dalam kategori cukup dan mayoritas responden memberikan Vol. 6 No. 2 Desember MP-ASI pada bayi dengan jadwal dan waktu yang tidak tepat. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi dengan nilai p = 0,002. SARAN Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diberikan saran sebagai berikut : Responden Bagi ibu yang memiliki bayi usia < 6 bulan agar memberikan ASI saja dan memberikan MP-ASI pada bayi setelah usia > 6 bulan serta menghindari pemberian susu formula dan makanan/minuman lainnya. Bagi ibu yang memiliki bayi > 6 bulan agar memberikan MP-ASI yang tepat kepada bayi. Institusi Pelayanan Kesehatan Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih aktif dalam memberikan masyarakat khususnya kepada ibu yang memiliki bayi tentang ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI yang tepat kepada bayi. Peneliti Selanjutnya Disarankan selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pemberian MP-ASI dengan faktor-faktor terkait pemberian MP-ASI. DAFTAR PUSTAKA