Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026, pp. 50 - 57 ISSN 2720-8842 (Onlin. Journal homepage: http://jurnal. id/index. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN HIV/AIDS DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA SISWA KELAS XII DI SMAN X SLEMAN Kresensia Lestari TendeA . Riadini Wahyu Utami . Mahindria Vici Virahaju Jurusan Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKes Akbidyo ARTICLE INFO Article history Submitted : 2024 Ae 12 Ae 14 Revised : 2026 Ae 01 Ae 31 Accepted : 2026 Ae 01 Ae 31 Keywords: HIV AIDS Knowledge Free Sex Behavior Kata Kunci: HIV AIDS Pengetahuan Perilaku Seks Bebas https://doi. org/10. 33490/b. ABSTRACT The problem of HIV and AIDS represents a significant health, economic, social, and psychological challenge worldwide, including in Indonesia. HIV (Human Immunodeficiency Viru. is a virus that weakens the immune system, while AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrom. is a condition of immune system deficiency caused by HIV infection. Based on the DIY Provincial Health Profile, 916 new HIV cases were detected in 2022, with the highest prevalence recorded in Sleman Regency . and the lowest in Kulon Progo Regency . The total cumulative cases reached 6,784, with a male dominance of 69. Preliminary interviews conducted with students at SMAN X Sleman revealed a lack of awareness regarding the signs, symptoms, transmission, and impacts of risky sexual behavior. Consequently, this study aimed to determine the relationship between HIV/AIDS knowledge levels and risky sexual behavior among Grade XII students at SMAN X Sleman. This analytical research employed a correlational study with a cross-sectional design. The research sample consisted of 58 Grade XII students selected through simple random sampling. Data were analyzed using the ChiSquare test. The results showed that there was no significant relationship between the level of HIV/AIDS knowledge and risky sexual behavior, with a p-value of 0. > 0. Masalah HIV dan AIDS merupakan tantangan kesehatan, ekonomi, sosial, dan psikologis di hampir seluruh dunia, termasuk di Indonesia. HIV (Human Immunodeficiency Viru. adalah virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrom. adalah kondisi melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Berdasarkan profil kesehatan Provinsi DIY, terdeteksi 916 kasus baru infeksi HIV pada tahun 2022. Tingkat penemuan kasus tertinggi tercatat di Kabupaten Sleman dengan 340 kasus dan terendah di Kabupaten Kulon Progo dengan 28 Total akumulasi kasus mencapai 6. 784, dengan dominasi laki-laki sebesar 69,1%. Berdasarkan hasil wawancara studi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa siswa di SMAN X Sleman mengenai HIV/AIDS dan perilaku seks bebas, diketahui bahwa mereka kurang memahami tanda dan gejala, penyebab, cara penularan HIV/AIDS, serta bentuk dan dampak perilaku seks bebas. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS dengan Perilaku Seks Bebas pada Siswa di SMAN X Sleman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 A Corresponding Author: Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. hubungan antara tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa kelas XII di SMAN X Sleman. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 58 siswa kelas XII yang dipilih menggunakan teknik simple random Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas, dengan nilai p-value sebesar 0,627 . > 0,. Kresensia Lestari Tende Jurusan Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKes Akbidyo Telp. 0822-6624-1758 Email: kresenlestari@gmail. PENDAHULUAN This is an open access article under the CC BY-SA Permasalahan HIV dan AIDS menjadi psikologis hampir di seluruh dunia termasuk di Indonesia. HIV (Human Immunodeficiency Viru. adalah virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immuno-deficiency Syndrom. merupakan kondisi kelemahan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV (Yayasan KNCV Indonesia. Prevalensi kelompok usia 15-49 tahun yang terkena HIV sebesar 0,8% (WHO, 2. Asia Tenggara merupakan salah satu penyumbang angka tertinggi orang yang terinfeksi HIV yaitu 3,7 juta orang (WHO, 2. Berdasarkan laporan perkembangan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Kabupaten/Kota Indonesia melaporkan kasus HIV/AIDS sebanyak 474 Kabupaten/Kota pada periode Januari-Maret Berdasarkan profil kesehatan provinsi DIY. terdeteksi 916 kasus baru infeksi HIV pada tahun 2022. Angka deteksi tertinggi tercatat di Kabupaten Sleman sebanyak 340 kasus dan terendah di Kabupaten Kulon Progo sebanyak 28 kasus. Jumlah total kasus adalah 784, dengan dominasi laki-laki sebesar 69,1%. Berdasarkan usia kasus HIV/AIDS di Indonesia, remaja 15-19 tahun menduduki posisi kelima penderita paling banyak (Rahayu et al. , 2. Meningkatnya kasus HIV/AIDS pada kalangan remaja salah satunya dipicu oleh penularan virus HIV/AIDS. Kurangnya informasi yang benar membuat remaja rentan melakukan perilaku berisiko. Upaya yang dapat dilakukan untuk menekan perilaku seks bebas pada remaja adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan seksual yang tepat, disertai pemahaman tentang dampak serius penyakit yang dapat timbul akibat perilaku tersebut (Minardo & Rini, 2. Bentuk-bentuk tingkah laku seksual pada dasarnya sangat beragam dan mencakup berbagai tahapan, mulai dari munculnya perasaan tertarik terhadap seseorang hingga perilaku yang lebih intim seperti berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Perilaku tersebut dapat diarahkan pada objek seksual yang berbeda-beda, yaitu orang lain, sosok yang hanya hadir dalam khayalan, maupun diri Keragaman objek dan bentuk perilaku ini menunjukkan bahwa ekspresi seksual manusia tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan situasional (Andriani et al. , 2. Dorongan seksual dapat dipengaruhi dengan menggunakan NAPZA, berkhayal tentang seksual, menonton film porno, melihat gambar porno, mendengar cerita porno, berduaan di tempat sepi (Alfiyah et al. , 2. Ketidaktahuan remaja tentang HIV/AIDS adalah kesalahan mendapatkan informasi, selain itu adanya pergeseran nilai dan perilaku, seks bebas . ree se. dan pemakaian narkoba merupakan kejadian yang paling sering terjadi sebagai penyebab penyebaran virus (Sumartini & Maretha, 2. Berdasarkan hasil wawancara studi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa siswa-siswi di Sman X Sleman tentang Jurnal Kebidanan Malakbi https://doi. org/10. 33490/b. Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. HIV/AIDS dan perilaku seks bebas, mereka kurang mengetahui tanda dan gejala HIV/AIDS, penyebab HIV/AIDS, penularan HIV/AIDS, bentuk Ae bentuk perilaku seks bebas, pengertian seks bebas dan Dampak seks bebas, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa - siswi di SMAN X Sleman. METODE Jenis Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di SMAN X Sleman. Kabupaten Sleman Yogyakarta. Lokasi penelitian ini dipilih berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sleman yang menyatakan bahwa angka tertinggi HIV/AIDS berada di salah satu wilayah Puskesmas yang berada dibawah naungannya dimana untuk wilayah kerjanya sendiri yaitu SMAN X Sleman. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari tahun 2024 hingga bulan Juni 2024. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa siswi kelas XII SMAN X Sleman. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Slovin dalam sebagai berikut: Besar sampel : Besar Populasi d :Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10% . Maka diketahui. Perhitungan menggunakan rumus tersebut adalah: Teknik sampel yang digunakan adalah teknik simple random sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 58 responden. https://doi. org/10. 33490/b. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner skala Gutman Pernyataan pada kuesioner berupa pernyataan positif/favorable dan negative/unfavorable dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Pertanyaan positif untuk jawaban skor 1 dan untuk jawaban tidak mendapat skor 0, sedangkan pada pertanyaan negative untuk jawaban ya mendapat skor 0 dan untuk menjawab tidak mendapatkan skor 1 Kuesioner diuji validitasnya dengan Korelasi Product Moment dan uji reliabilitas dilakukan dengan Teknik Koefisien Alpha Cronbach. Kuesioner Tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS awal berjumlah 40 butir, setelah dilakukan uji validitas hanya 15 butir Seks Bebas awal berjumlah 12 butir, setelah dilakukan uji validitas hanya 6 butir yang dinyatakan valid dan 6 butir dinyatakan tidak Butir yang tidak valid karena memiliki nilai r hitung lebih rendah dari r tabel yaitu 0,339. Rentang nilai hasil uji validitas antara 0,352 Ae 0,725. Pernyataan yang tidak valid dikeluarkan dari daftar sebelum dilakukan uji Uji reliabilitas dilakukan terhadap 26 butir dan berdasarkan hasil uji seluruh pernyataan dinyatakan reliabel dengan nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel. Seluruh pernyataan dinyatakan reliabel dengan hasil uji statistik Alpha Cronbach dengan rentang nilai antara 0,668 Ae 0,706. Pengolahan dan Analisis Data Seluruh data yang telah dikumpulkan selanjutnya dilakukan proses pengolahan yang meliputi editing dan coding, kemudian data diinput ke dalam program pengolah data statistik untuk dianalisis. Adapun Variabel berdasarkan skor yang diperoleh responden menggunakan kuesioner skala Guttman, yang terdiri dari 15 butir pernyataan valid dengan rentang nilai hasil uji validitas antara 0,352 Ae 0,725. Sementara itu, variabel perilaku seks bebas diukur menggunakan 6 butir pernyataan yang telah dinyatakan valid dan reliabel dengan nilai Alpha Cronbach antara 0,668 Ae 0,706. Seluruh data tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam kategori tertentu untuk melihat distribusi frekuensi dan Uji statistik hubungan menggunakan uji chi-square karena variabel independen . dan dependen . dalam Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. penelitian ini berskala kategorik. Hasil analisis disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, serta nilai p-value, di mana tingkat signifikansi statistik ditetapkan pada = 0,05 Jika hasil uji menunjukkan nilai p-value < 0,05. ,6%). Dari sisi perolehan informasi, sebagian besar responden mengaku belum pernah mendapatkan informasi terkait HIV/AIDS, yakni sebanyak 32 orang . ,2%), sedangkan responden yang sudah terpapar informasi berjumlah 26 orang . ,8%). Jika ditinjau dari profil usia, responden dalam penelitian ini didominasi oleh kelompok umur 18 tahun sebanyak 25 orang . ,1%) dan umur 17 tahun sebanyak 24 orang . ,4%), sementara kelompok umur 19 tahun merupakan jumlah terkecil dengan 9 orang . ,5%). Terkait variabel perilaku seks bebas, kecenderungan perilaku yang positif, di mana sebagian besar responden . ,1%) menyatakan tidak pernah melakukan perilaku seks bebas, dan hanya sebagian kecil . ,9%) yang menyatakan pernah. Mengenai tingkat pengetahuan responden terhadap HIV/AIDS, data menunjukkan sebaran yang cukup beragam namun cenderung positif. Diketahui bahwa porsi pengetahuan dalam kategori baik, yaitu sebanyak 24 orang . ,4%). Selebihnya, responden dengan tingkat pengetahuan kategori sedang memiliki jumlah sebanyak 17 orang . ,3%) dan kategori kurang memiliki jumlah yang sama juga yaitu sebanyak 17 orang . ,3%) Berdasarkan analisis tabel 2 yang mengaitkan umur dengan variabel penelitian, ditemukan bahwa meskipun angka perilaku seks bebas rendah secara keseluruhan, persentase tertinggi perilaku seks bebas justru ditemukan pada kelompok umur tertua . yaitu sebesar 3,4%. Di sisi lain, kelompok umur 17 tahun menunjukkan performa pengetahuan terbaik dengan kontribusi responden kategori "Baik" paling banyak . ,6%), sedangkan pada kelompok umur 18 tahun, tingkat pengetahuan cenderung tersebar merata di seluruh kategori (Baik. Sedang, dan Kuran. HASIL Pada penelitian ini ini digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi variabel penelitian, yaitu distribusi usia responden, rate HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa Ae siswi kelas XII di SMAN X Sleman. Berdasarkan hasil pengumpulan data terhadap 58 responden, diperoleh gambaran profil subjek penelitian yang meliputi data demografi serta variabel terkait HIV/AIDS sebagaimana tercantum pada tabel di bawah Tabel 1. Karakteristik Responden . Karakteristik Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Perolehan Informasi Tidak Kelompok Umur 17 Tahun 18 Tahun 19 Tahun Perilaku Seks Bebas Tidak Tingkat Pengetahuan Baik Sedang Kurang Berdasarkan Tabel karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 31 orang . ,4%), sementara perempuan berjumlah 27 orang Tabel 2. Perilaku Seks Bebas dan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS berdasarkan Umur Perilaku Seks Bebas Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS Umur (Tahu. Tidak Baik Sedang Kurang 1 . 8%) 23 . 6%) 12 . 6%) 4 . 9%) 6 . 8%) 16 . 5%) 8 . 7%) 8 . 7%) 8 . 4%) 15 . 8%) 4 . 6%) 3 . Total https://doi. org/10. 33490/b. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Perilaku Seks Bebas . Perilaku Tidak Pengetahuan Melakukan Melakukan Baik Cukup Kurang Total penting dalam membantu siswa memahami isu p-value Berdasarkan analisis hubungan antara tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa-siswi kelas XII di SMAN X Sleman, diperoleh nilai Chisquare sebesar 0,627. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil analisis bivariat yang menunjukkan bahwa siswa-siswi yang memiliki pengetahuan baik tentang HIV/AIDS dan melakukan perilaku seks bebas sebanyak 1 orang . %). Selanjutnya, siswa-siswi yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan melakukan perilaku seks bebas sebanyak 1 orang . %). Sementara itu, siswa-siswi yang memiliki pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS dan melakukan perilaku seks bebas berjumlah sebanyak 2 orang . %). PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa-siswi SMAN X Sleman memiliki pemahaman yang kurang baik mengenai HIV/AIDS sehingga siswa-siswi masih perlu informasi mengenai topik seputar kesehatan Pengetahuan tentang HIV/AIDS di kalangan siswa-siswi SMAN X Sleman dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor Ae faktor ini meliputi pendidikan dan kurikulum sekolah, akses informasi, lingkungan sosial dan budaya, program penyuluhan dan kegiatan kebijakan dan dukungan sekolah. Setiap faktor pemahaman siswa tentang HIV/AIDS melalui kompetensi guru, akses ke media dan teknologi, diskusi keluarga, dukungan teman sebaya, program edukasi eksternal, minat pribadi, pengalaman terkait HIV/AIDS, serta Dukungan psikososial dari konselor atau psikolog sekolah juga memainkan peran https://doi. org/10. 33490/b. Perilaku Seks Bebas Perilaku seksual yang dilakukan remaja dapat berawal dari mulai ada perasaan tertarik, mau berkencan, berpegangan tangan, mencium pipi, berpelukan, mencium bibir, memegang buah dada dan memegang alat kelamin, serta melakukan senggama (Winawati & Mubarokah, 2. Menurut (Rosalina,2. , seks bebas adalah perilaku penyimpangan seksual yang berkembang dari suatu budaya barat dengan arti kebebasan. Menurut (Stevanus et al. seks bebas merupakan perilaku seksual yang dilakukan remaja tanpa didasari pemahaman yang benar tentang seksualitas, reproduksi, dan tanggung Hal yang sama juga disampaikan oleh (Kontesa & Nurleny, 2. , perilaku mengekspresikan diri dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual yang dinilai tidak sesuai dengan norma. Remaja cenderung melakukan hubungan seksual ketika duduk di bangku SMA saat usia 15-18 tahun dan perilaku seksual yang dilakukan mengalami peningkatan dari tingkat kurang intim menjadi lebih intim (Ningsih et al. , 2. Data penelitian menunjukkan empat orang siswa Ae siswi telah melakukan hubungan seksual, tiga diantaranya belum pernah mendapat informasi mengenai HIV/AIDS dan 1 orang siswi sudah mendapat informasi tentang HIV/AIDS di sekolah. Tiga siswa dalam data ini diketahui berjenis kelamin laki-laki, dan usia mereka antara 18- 19 Untuk membantu remaja membangun pemahaman yang benar tentang seksualitas, membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan mengatasi trauma emosional yang mungkin terjadi (Yati, 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Seks Bebas Hasil analisis data menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas secara statistik. Hal ini sejalan dengan hasil Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. penelitian (Santika, 2. , yang berjudul AuHubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS dengan Perilaku Seksual Remaja Siswa Kelas X dan XI di SMKN 1 BabelanAeBekasiAy. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seksual remaja. Hal ini dikarenakan responden yang mempercayai bahwa hanya perilaku seksual yang dapat menjadi cara penularan HIV/AIDS, sehingga mereka akan berusaha untuk lebih waspada terhadap perilaku seksual. Penelitian (Nurohmah & Susanti 2. , juga menyebutkan bahwa tidak terdapat pengetahuan dengan sikap remaja terhadap perilaku berisiko. Pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS merupakan salah satu komponen faktor predisposisi yang penting pengetahuan tidak akan selalu menyebabkan terjadinya perubahan perilaku tetapi (Kesumawati, 2. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh (Mulyaningrum & Saptawati 2. tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah adalah, pertama yaitu faktor internal: pengetahuan, aspek-aspek kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, perilaku, kerentanan yang dirasakan terhadap risiko, kesehatan reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri, usia, agama, dan status perkawinan, kedua yaitu faktor eksternal: kontak dengan sumbersumber informasi, keluarga sosialbudaya, nilai dan normal sebagai pendukung sosial untuk perilaku tertentu. Remaja yang tahu tentang risiko mungkin masih terlibat dalam perilaku berisiko karena kurangnya akses ke alat kontrasepsi, seperti kondom, atau karena Oleh karena itu, meskipun pengetahuan merupakan komponen penting dalam pencegahan HIV/AIDS, faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual perlu diperhatikan dan ditangani dalam upaya pencegahan yang lebih komprehensif (Syafrawati et al. , 2. https://doi. org/10. 33490/b. Meskipun ada beberapa siswa yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik, proporsi yang cukup besar dengan menunjukkan perlunya peningkatan edukasi dan intervensi yang lebih komprehensif tentang HIV/AIDS di Sman X Sleman. Pengetahuan tentang upaya pencegahan dan edukasi HIV/AIDS di Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama di kalangan remaja, masyarakat pedesaan, dan orang dengan pendidikan rendah. Upaya edukasi dan penyebaran informasi yang tepat dan mudah diakses perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS. Menurut (Jumu, 2. menyatakan bahwa kondisi tersebut sudah sejalan dengan Pengertian edukasi adalah proses pembelajaran yang dilakukan baik secara formal maupun tidak formal yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan, dan mengembangkan potensi diri pada pembelajaran itu lebih baik. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa-siswi di SMAN X Sleman, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia 18 tahun . ,1%) dengan proporsi jenis kelamin laki-laki yang dominan . ,4%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan HIV/AIDS dalam kategori baik . ,4%), sementara responden yang memiliki pengetahuan kategori sedang dan kurang memiliki persentase yang sama besar . asingmasing 29,3%). Terkait perilaku seksual, mayoritas responden tidak melakukan perilaku seks bebas . ,1%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai pvalue sebesar 0,627 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seks bebas pada siswa-siswi kelas XII di SMAN X Sleman. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS tidak serta-merta menjadi faktor tunggal yang menentukan keputusan remaja dalam berperilaku seksual. Jurnal Kebidanan Malakbi Volume 7. Nomor 1. Januari 2026 Hubungan Tingkat Pengetahuan HIV/AIDS. Alfiyah. Solehati. , & Sutini. Gambaran Faktor-Faktor Berhubungan dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja SMP. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, 4. , 131Ae139. https://doi. org/10. 17509/jpki. Andriani. Suhrawardi. , & Hapisah. Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja dengan perilaku seksual Jurnal Inovasi Penelitian, 2. , 3441Ae3446. https://doi. org/https://doi. org/10. 47492/jip. Jumu. Perbandingan Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas XI SMA Sebelum dan Setelah Edukasi Komplikasi Penyakit Sosial terhadap Kejadian HIV/AIDS di Biak Numfor Tahun 2021. HEALTHY. Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 3. , 20Ae29. https://doi. org/https://doi. org/10. 51878/he Kesumawati. Hubungan Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS dengan Perilaku Seksual Remaja di SMK Mutiara Kota Bandung. Journal of Midwifery and Public Health, 1. https://doi. org/10. 25157/jmph. Kontesa. , & Nurleny. Education of Love Your Body for Prevention of Sexual Behavior in Children Age at SDN 20 Kurao Pagang. Jurnal Peduli Masyarakat, 2. , 95Ae104. https://jurnal. m/index. php/JPM/article/view/121 Minardo. , & Rini. Peningkatan kualitas remaja dalam pencegahan perilaku seks bebas dan bahaya HIV/AIDS pada siswa SLTA di SMA Muhammadiyah Sumowono. Jurnal Pengabdian Kesehatan, 4. , 52Ae60. https://jpk. id/index. php/jpk/article/view/106 Mulyaningrum. , & Saptawati. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Perilaku Seks Bebas Remaja di SMA PGRI Purwodadi Grobogan. The Shine Cahaya Dunia Kebidanan, 5. https://doi. org/10. Ningsih. Utami. , & Huda. Pengaruh pendidikan kesehatan metode permainan Redi (Roda Edukasi dan Inspiras. terhadap pengetahuan remaja putri untuk mencegah seks pranikah. Jom FKp, 5. , 563Ae571. Nurohmah, & Susanti. Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Seksual Remaja Putri di Desa Kalibening. Sukoharjo. Wonosobo. Prosiding Seminar Nasional Dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo, 1. , 880Ae885. https://callforpaper. id/index. php/se mnasdancfpbidanunw/article/view/200 Rahayu. Rismawanti. , & Jaelani. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang HIV/AIDS Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pelajar. Jurnal Endurance, 2. , 145Ae150. Rosalina. Pengaruh Pendidikan Seks Bebas Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Seks Bebas Di Lingkungan Banjar Tanjung Sanur. Institut Teknologi Dan Kesehatan Bali. Santika. , & Yuliani. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS dengan Perilaku Seksual Remaja Siswa Kelas X dan XI di SMKN 1 Babelan Ae Bekasi. MAHESA : Malahayati Health Student Journal, 3. , 3419Ae https://doi. org/10. 33024/mahesa. Stevanus. Setyorini. , & Yunianto. Efektivitas Pendampingan orang tua terhadap tingkat pemahaman seksual CARAKA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika, 3. , 1Ae21. https://ojs. id/index. php/ibc/article /view/88 Sumartini. , & Maretha. Efektifitas Peer Education Method dalam Pencegahan HIV/AIDS terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja. JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA, 6. https://doi. org/10. 17509/jpki. Syafrawati. Hidayat. Isrona. , & Vebrielna. Edukasi Narkoba. HIV/AIDS. Pornografi dan Kesehatan Reproduksi Remaja di Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN, 30Ae37. https://doi. org/10. 25077/bina. WHO. Global health sector strategies on, respectively. HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections for the Jurnal Kebidanan Malakbi DAFTAR PUSTAKA