TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 15. Nomor 1 (Desember 2. : 27-36 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 29 Juli 2024 Accepted: 15 Desember 2025 Published: 30 Desember 2025 MERAWAT BUMI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB IMAN: PERSPEKTIF KRISTEN ATAS KRISIS EKOLOGI CARING FOR THE EARTH AS A MATTER OF FAITH: A CHRISTIAN PERSPECTIVE ON THE ECOLOGICAL CRISIS Edi Purwanto Universitas Pembangunan Jaya. Tangerang Selatan. Indonesia purwanto@upj. ABSTRACT Global environmental crises demand new approaches to conservation, including religious perspectives such as Christianity. The Christian perspective provides a significant theological and ethical framework for environmental management. This study aims to explore and analyze the contribution of the Christian perspective to environmental management through a systematic literature review approach. This study employs a systematic literature review approach to explore ecological concepts within Christianity. Data were collected from major academic databases such as Scopus and Google Scholar, focusing on eco-theology and environmental management from a Christian viewpoint. Findings indicate that Christian doctrines of creation and stewardship support environmental responsibility. Interfaith dialogue, integrating Christian spirituality with ecological issues, and a comprehensive eco-theological understanding are crucial for addressing environmental crises. This research encourages the Christian community to actively engage in environmental conservation efforts and develop management strategies grounded in spiritual values. Dialogue and collaboration among religious communities can enhance global sustainability efforts. Keyphrases: ecotheology. theological ecology. Christian ecology. environmental management. ecological crisis. ABSTRAK Krisis lingkungan global menuntut pendekatan baru dalam pelestarian alam, termasuk perspektif religius seperti Kekristenan. Perspektif Kristen menawarkan kerangka teologis dan etis yang penting untuk pengelolaan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis kontribusi perspektif Kristen terhadap pengelolaan lingkungan hidup melalui pendekatan tinjauan pustaka sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka sistematis untuk mengeksplorasi konsep ekologi dalam perspektif Kristen. Data dikumpulkan dari database akademik utama seperti Scopus dan Google Scholar dengan fokus pada eko-teologi dan pengelolaan lingkungan dari sudut pandang Kristen. Temuan menunjukkan bahwa doktrin penciptaan dan pemeliharaan dalam Kekristenan mendukung tanggung jawab Dialog antaragama, integrasi spiritualitas Kristen dengan isu ekologis, dan pemahaman ekoteologis yang komprehensif merupakan kunci untuk mengatasi krisis lingkungan. Penelitian ini mendorong komunitas Kristen untuk terlibat aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan mengembangkan strategi pengelolaan yang berlandaskan pada nilai-nilai spiritual. Dialog dan kolaborasi antar komunitas religius dapat memperkuat upaya keberlanjutan global. Frase kunci: ekoteologi. ekologi teologi. ekologi Kristen. pengelolaan lingkungan. krisis ekologi. PENDAHULUAN Krisis lingkungan global, seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, deforestasi, dan polusi, menjadi tantangan utama bagi kelangsungan hidup planet kita. Dalam menghadapi krisis ini, berbagai perspektif, termasuk perspektif religius, menjadi semakin relevan. Dalam konteks ini, ekologi dalam perspektif Kristen tidak hanya menawarkan landasan teologis dan etis, tetapi juga menyajikan Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 28 | MERAWAT BUMI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB IMAN kontribusi unik dalam mengintegrasikan spiritualitas, tindakan moral, dan tanggung jawab kosmologis dalam upaya pelestarian bumi. Orang Kristen mengakui pentingnya ekologi dan nilai-nilai sebagai elemen krusial untuk mengatasi krisis lingkungan. Doktrin penciptaan dalam Alkitab, yang menegaskan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan Pemelihara semua keberadaan, memberikan dasar teologis yang kuat untuk pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Keyakinan bahwa semua ciptaan adalah milik Tuhan dan berada di bawah kendali-Nya menekankan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawat alam. Dalam perspektif Kristen, pentingnya ekologi dan nilai-nilai semakin diakui sebagai elemen krusial untuk mengatasi krisis lingkungan. Berbagai ahli menyoroti perlunya kepemimpinan religius untuk terlibat dalam aktivisme ekologi dan mengembangkan konsep teologis yang selaras dengan budaya lokal guna mendorong keadilan ekologis dan sosial-ekonomi. 3 Meskipun terdapat kebuntuan antara pendukung dan penentang eko-teologi, ada seruan untuk membuka kembali komunikasi guna menjembatani kesenjangan dan memperdalam pemahaman tentang spiritualitas penciptaan. 4 Ada dorongan untuk pemahaman ekoteologis tentang kehidupan manusia yang mempertimbangkan lingkungan secara sosiologis dan ekologis, menekankan keterkaitan antara manusia dengan alam. Misalnya. Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si', menunjukkan bahwa Kekristenan menawarkan platform untuk dialog antaragama guna mengembalikan diskusi ekologi, dengan menekankan kasih sebagai prinsip panduan untuk konversi ekologi dan spiritual yang sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep ekologi dalam perspektif Kristen melalui tinjauan pustaka. Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang ada dan mengusulkan peluang penelitian masa depan. Pendekatan sistematis ini juga diharapkan dapat memberikan cakupan yang komprehensif dan analisis kritis dari literatur yang relevan, serta mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang peran dan kontribusi perspektif Kristen dalam upaya pelestarian Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan sistematis dan interdisipliner yang belum banyak digunakan dalam kajian ekologi Kristen. Sebagian besar studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Kroesbergen6 dan Kyrtner7, lebih bersifat konseptual atau reflektif, tanpa mengintegrasikan pemetaan tematik atau penelusuran sistematis terhadap literatur yang berkembang secara global. Studi oleh Obaji Agbiji8, misalnya, berfokus pada konteks Afrika dan mengusulkan pendekatan Aovalue for communityAo, namun belum mengkaji bagaimana prinsip tersebut muncul dalam ekoteologi lintas tradisi Kristen secara luas. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kontribusi baru melalui sintesis sistematis atas sumbersumber utama dari berbagai tradisi, serta memetakan ruang interaksi antara iman, etika, dan aksi ekologis. Melalui penelitian ini, diharapkan bahwa pemahaman yang lebih mendalam tentang ekologi dalam perspektif Kristen dapat membantu komunitas religius untuk lebih aktif terlibat dalam upaya pelestarian Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendorong dialog dan kolaborasi antara komunitas religius dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengatasi krisis lingkungan global. Dengan demikian, perspektif Kristen dapat berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan harmonis. 1Posman Pangihutan and Demsy Jura. AuEcotheology and Analysis of Christian Education in Overcoming Ecological Problems,Ay International Journal of Science and Society 5, no. : 13Ae27, https://doi. org/10. 54783/ijsoc. 2Pangihutan and Jura. 3Obaji M. Agbiji. AuReligion and Ecological Justice in Africa: Engaging AoValue for CommunityAo as Praxis for Ecological and Socio-Economic Justice,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 71, no. : 1Ae10, https://doi. org/10. 4102/hts. 4Hermen Kroesbergen. AuEcology: Its Relative Importance and Absolute Irrelevance for a Christian: A Kierkegaardian Transversal Space for the Controversy on Eco-Theology,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 70, no. : 1Ae8, https://doi. org/10. 4102/hts. 5Antonino Puglisi and Johan Buitendag. AuThe Religious Vision of Nature in the Light of Laudato SiAo: An Interreligious Reading between Islam and Christianity,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 76, no. : 1Ae10, https://doi. org/10. 4102/HTS. V76I1. 6Kroesbergen. AuEcology: Its Relative Importance and Absolute Irrelevance for a Christian: A Kierkegaardian Transversal Space for the Controversy on Eco-Theology. Ay 7Ulrich Kyrtner. AuEcological Ethics and Creation Faith,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 72, no. : 1Ae9, https://doi. org/10. 4102/hts. 8Agbiji. AuReligion and Ecological Justice in Africa: Engaging AoValue for CommunityAo as Praxis for Ecological and SocioEconomic Justice. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. EDI PURWANTO | 29 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) untuk menelaah secara komprehensif perkembangan pemikiran ekologi Kristen, baik dari perspektif teologis, etis, maupun 9 Proses penelitian dilakukan melalui lima tahapan utama yang saling berkaitan. Tahap pertama dimulai dengan perumusan fokus penelitian, yaitu mengidentifikasi ruang lingkup pembahasan mengenai ekoteologi Kristen, termasuk konsep-konsep seperti ecotheology. Christian ecological ethics, teologi penciptaan, dan environmental stewardship. Perumusan fokus ini sekaligus menetapkan batasan cakupan kajian sehingga proses pencarian data menjadi lebih terarah. Tahap kedua adalah penyusunan strategi pencarian literatur melalui basis data akademik seperti Scopus. Google Scholar, dan Web of Science, menggunakan kata kunci yang relevan seperti Auecotheology,Ay AuChristian environmental ethics,Ay Aucreation theology,Ay dan Auecological theology. Ay Pencarian dilakukan tanpa batas awal tahun publikasi untuk menangkap perkembangan historis, namun dengan penekanan pada dua dekade terakhir guna memperoleh gambaran kontemporer. Hasil pencarian kemudian memasuki tahap ketiga, yaitu proses seleksi literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi artikel ilmiah, buku akademik, dan dokumen gerejawi yang relevan dengan topik ekologi Kristen, sedangkan kriteria eksklusi mencakup tulisan populer atau publikasi yang tidak mengandung dimensi teologis Kristen. Seleksi dilakukan melalui penyaringan judul, abstrak, dan pembacaan penuh terhadap teks yang memenuhi syarat. Tahap keempat adalah analisis dan sintesis tematik terhadap literatur yang telah lolos penyaringan. Pada tahap ini, setiap artikel dikodekan dan ditelaah untuk mengidentifikasi tema-tema utama seperti dasar teologis ekologi Kristen, etika ekologis, perkembangan historis pemikiran teologi lingkungan, respons gereja terhadap krisis ekologis, serta isu-isu kontemporer dalam penerapan ekoteologi. Hasil analisis dilakukan secara iteratif sehingga tema-tema yang muncul dapat saling dikaitkan untuk membangun kerangka konsep yang koheren. Tahap terakhir adalah penyusunan temuan utama serta identifikasi kesenjangan penelitian. Dari sintesis tersebut ditemukan bahwa kajian ekologi Kristen telah berkembang kaya dalam aspek teologis dan etis, namun masih terbatas pada penelitian empiris dan implementatif, terutama dalam konteks kebijakan publik dan praktik gereja di Indonesia. Selain itu, kajian interdisipliner yang menggabungkan teologi, sosiologi, dan ekologi masih sangat terbatas. Temuan ini menjadi dasar untuk mengembangkan diskusi dan memberikan rekomendasi arah penelitian berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dasar Teologis Ekologi Kristen Doktrin penciptaan dalam Alkitab mencakup keyakinan bahwa Tuhan adalah Pencipta dari semua keberadaan, membawa ke dalam eksistensi sesuatu yang sebelumnya tidak ada, seperti yang diuraikan oleh Donald W. Mitchell, yang menekankan bahwa segala sesuatu adalah karunia yang dibawa ke dalam eksistensi oleh kedaulatan dan kasih Tuhan. 10 William Lane Craig lebih lanjut menjelaskan tindakan penciptaan yang berkelanjutan ini, membedakan antara peran Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara, dengan menjelaskan bahwa penciptaan melibatkan membawa sesuatu ke dalam eksistensi, sementara pemeliharaan berkaitan dengan menjaga eksistensi tersebut dari waktu ke waktu. 11 Narasi alkitabiah juga menggambarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Konsep ini tetap menjadi bentuk interpretasi diri manusia dan orientasi etis yang layak, terutama dalam bioetika dan ekologi, seperti yang dibahas oleh Ulrich H. Kyrtner. 12 Christian Danz menambahkan bahwa doktrin penciptaan tidak boleh dilihat sebagai deskripsi alam semata, tetapi sebagai penjelasan reflektif dari komunikasi religius-Kristen, 9David Denyer and David Tranfield. AuProducing a Systematic Review. ,Ay The Sage Handbook of Organizational Research Methods. (Thousand Oaks. CA: Sage Publications Ltd, 2. 10Donald W Mitchell. AuCatholic Theology of Creation: NatureAos Value and Relation to Humankind,Ay Claritas: Journal of Dialogue and Culture 4, no. : 70Ae74. 11William Lane Craig. AuCreation and Conservation Once More,Ay Religious Studies 34, no. : 177Ae188, https://doi. org/10. 1017/S0034412598004326. 12Ulrich H. Kyrtner. AuThe Human Being and the World as GodAos Creation: Present-Day Ethical Conflicts and Consequences of the Doctrine of Creation in the Perspective of the Doctrine of Justification,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 77, no. : 1Ae9, https://doi. org/10. 4102/hts. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 30 | MERAWAT BUMI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB IMAN yang menekankan isi yang terkait dengan dunia dari agama Kristen dan fungsinya di dalamnya. 13 Perspektif teologis ini tidak hanya menjadi dasar untuk memahami kosmos tetapi juga memainkan peran penting dalam pembentukan spiritual, seperti yang ditunjukkan oleh John Andrew Breon, bahwa yang terkait dengan doktrin Kristen, termasuk keyakinan akan penciptaan, dapat mengarah pada pertumbuhan spiritual yang signifikan dan komitmen yang lebih besar terhadap disiplin spiritual di kalangan orang percaya. Dengan demikian, doktrin penciptaan dalam Alkitab adalah multifaset, melibatkan tindakan kreatif awal dan berkelanjutan Tuhan, implikasi etis dan spiritual bagi manusia, serta refleksi dan komunikasi terus menerus dalam iman Kristen. Ayat-ayat Alkitab seperti Mazmur 24:1. AuTUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya,Ay dan Kejadian 1:1. AuPada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,Ay menegaskan kedaulatan Tuhan atas alam, menekankan bahwa semua ciptaan adalah milik-Nya dan berada di bawah kendali-Nya. Perspektif teologis ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap pandangan Kristen tentang ekologi. Perdebatan antara Thomas Berry dan Thomas Aquinas lebih lanjut menggambarkan nuansa teologis dalam memahami hubungan kita dengan alam. Sementara Aquinas menekankan transendensi ilahi dan tanggung jawab manusia untuk merawat alam. Berry berpendapat untuk penghormatan yang lebih intrinsik terhadap semua hal dalam alam ini, menunjukkan bahwa melihat manusia sebagai bagian dari komunitas bumi dapat mencegah eksploitasi. Selain itu, persepsi otoritas Alkitab dapat mempengaruhi sikap lingkungan, seperti yang terlihat dalam studi oleh Woodrum dan Hoban, yang menemukan bahwa individu yang kurang informasi mungkin menafsirkan Alkitab menurut kemauannya sendiri mendukung eksploitasi bumi yang tidak terbatas. 16 Ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan teologis dalam menumbuhkan etika pengelolaan ekologi yang bertanggung jawab. Proyek yang dipimpin oleh Prof. Dr. Johan Buitendag juga berkontribusi pada diskursus ini dengan mengeksplorasi teologi alam, yang bertujuan untuk mendamaikan etika Kristen dengan keberlanjutan ekologi. 17 Bersama-sama, wawasan ini menunjukkan bahwa mengakui kedaulatan Tuhan atas alam memerlukan pendekatan yang seimbang yang menghormati otoritas ilahi dan nilai intrinsik dari semua ciptaan, mempromosikan interaksi yang berkelanjutan dan etis dengan lingkungan. Perspektif Historis Ekologi Kristen Hubungan antara manusia dan alam telah menjadi tema penting dalam pandangan gereja tradisional, yang berkembang secara signifikan dari gereja awal melalui periode Patristik hingga Abad Pertengahan. Pandangan gereja awal sering menekankan kekuasaan manusia atas alam, yang berakar pada interpretasi Alkitab yang melihat manusia sebagai pengelola ciptaan Tuhan. Perspektif ini dipengaruhi oleh refleksi teologis tentang dunia alam sebagai manifestasi dari tatanan dan kebijaksanaan ilahi. Seiring berkembangnya teologi historis, khususnya selama periode Patristik, bapa-bapa gereja seperti Agustinus dan Aquinas mulai mengartikulasikan pandangan yang lebih bernuansa, mengintegrasikan filsafat klasik dengan doktrin Kristen untuk menekankan nilai utilitarian dan intrinsik alam. 18 Periode ini melihat pengakuan yang semakin berkembang akan keterkaitan semua ciptaan, yang lebih lanjut diuraikan selama Abad Pertengahan. Perspektif gereja Abad pertengahan dibentuk oleh tradisi Monastik yang mempromosikan hubungan harmonis dengan alam, seperti yang terlihat dalam praktik pertanian berkelanjutan dan pelestarian lanskap alam. Reformasi dan Pencerahan memiliki pengaruh signifikan terhadap pandangan gereja, terutama dalam membentuk kerangka teologis dan etis yang terus mempengaruhi perspektif kontemporer. Reformasi menekankan kembali pada otoritas kitab suci dan hati nurani individu, yang menjadi landasan bagi praktik 13Christian Danz. AuTheology of Nature: Reflections on the Dogmatic Doctrine of Creation,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 77, no. : 1Ae7, https://doi. org/10. 4102/hts. 14John Andrew Breon. AuChristian Doctrine as a Means of Christian Spiritual FormationAy (Asbury Theological Seminary, 2. , https://place. edu/cgi/viewcontent. cgi?article=1303&context=ecommonsatsdissertations. 15Marie George. AuIs Eco-Theologian Thomas Berry a Thomist?,Ay Scientia et Fides 7, no. : 47Ae71, https://doi. org/10. 12775/SETF. 16Eric Woodrum and Thomas Hoban. AuTheology and Religiosity Effects on Environmentalism,Ay Review of Religious Research 35, no. : 193Ae206, http://w. org/stable/3511888. 17Kyrtner. AuEcological Ethics and Creation Faith. Ay 18Wim A. Dreyer and Jerry Pillay. AuHistorical Theology: Content. Methodology and Relevance,Ay Verbum et Ecclesia 38, no. : 117Ae31, https://doi. org/10. 4102/ve. 19Matthias Byrgi and Urs Gimmi. AuThree Objectives of Historical Ecology: The Case of Litter Collecting in Central European Forests,Ay Landscape Ecology 22, no. SUPPL. : 77Ae87, https://doi. org/10. 1007/s10980-007-9128-0. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. EDI PURWANTO | 31 perawatan pastoral modern yang fokus pada Aukepedulian terhadal jiwa-jiwaAy dengan penuh belas kasih. Pergeseran sejarah ini juga memengaruhi keterlibatan gereja dalam isu sosial, termasuk ekologi. Pencerahan selanjutnya mendorong pendekatan rasional dan ilmiah untuk memahami dunia, yang telah diintegrasikan ke dalam perspektif gereja kontemporer mengenai pengelolaan lingkungan. Saat ini, gereja menekankan pentingnya ekologi, dengan pemimpin seperti Patriark Ekumenis Bartholomew dan Paus Fransiskus mendukung masyarakat di masa depan di mana lingkungan dilindungi dan dihormati. 21 Hal ini terlihat dalam dokumen seperti Ensiklik Paus Fransiskus AuLaudato Si,Ay yang menyerukan ekologi integral yang menangani dasar antropologis dari krisis ekologis. Selain itu, hubungan historis antara Kekristenan dan ekologi telah diperiksa, dengan beberapa gerakan lingkungan yang mengkritik doktrin Kristen karena perannya yang pernah dianggap dalam kerusakan ekologis. Namun, refleksi teologis terbaru, telah berusaha untuk mempromosikan etika ekologis yang didasarkan pada tanggung jawab manusia. 23 Pandangan holistik sikap kontemporer gereja tentang ekologi, menekankan keterhubungan dimensi sosial, lingkungan, dan ekonomi. Kemajuan pesat dalam bidang seperti neurogenetika molekuler juga menyoroti perlunya gereja untuk tetap terinformasi dan diperbarui, memastikan bahwa pencapaian ilmiah diterjemahkan ke dalam praktik etis dan pastoral yang 24 Dengan demikian, pengaruh historis dari Reformasi dan Pencerahan terus membentuk perspektif gereja modern tentang ekologi dan nilai-nilai, mengintegrasikan wawasan teologis tradisional dengan tuntutan etis kontemporer. Prinsip Etika Ekologi Kristen Pengelolaan lingkungan dalam Kekristenan pada dasarnya adalah tentang pengelolaan dan pelestarian yang bertanggung jawab atas sumber daya dan anugerah yang telah dipercayakan Tuhan kepada Konsep ini sangat berakar pada keyakinan bahwa manusia adalah penjaga ciptaan Tuhan. Prinsip pengelolaan lingkungan menekankan akuntabilitas, keberlanjutan, dan penggunaan sumber daya yang etis untuk manfaat generasi saat ini dan mendatang. Prinsip tanggung jawab yang dikemukakan oleh Hans Jonas sejalan dengan etika pengelolaan dengan menganjurkan tanggung jawab ke depan, terutama dalam konteks dampak teknologi modern. 25 Dalam praktiknya, pengelolaan lingkungan dari perspektif etika Kristen diterapkan melalui berbagai cara, seperti upaya pelestarian lingkungan dan pelayanan masyarakat. Misalnya, kerangka etika yang disediakan oleh pendekatan empat prinsip26Aikebajikan, tidak merugikan, otonomi, dan keadilanAidapat membimbing orang Kristen dalam membuat keputusan yang mencerminkan tanggung jawab pengelolaan lingkungan. Selain itu, etika keyakinan menunjukkan bahwa iman Kristen, ketika dilihat sebagai serangkaian asumsi yang penuh komitmen daripada sekadar keyakinan, dapat selaras dengan rasionalitas ilmiah, sehingga mendukung pendekatan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. 27 Bersama-sama, perspektif ini menggambarkan bahwa pengelolaan Kristen bukan hanya tentang mengelola sumber daya, tetapi juga tentang membina karakter moral yang selaras dengan implikasi yang lebih luas dari tindakan seseorang terhadap komunitas dan lingkungan. Krisis Lingkungan dan Tanggung Jawab Kristen Krisis ekologi global mencakup berbagai masalah lingkungan, seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, deforestasi, dan polusi, yang secara kolektif mengancam kesehatan dan 20Styphan Van der Watt. AuRe-Appreciating the Significance of Historical Perspectives and Practices on Reformed Pastoral Theology and Care Today,Ay STJ | Stellenbosch Theological Journal 4, no. : 753Ae74, https://doi. org/10. 17570/stj. 21Iuliu-Marius Morariu. AuEcology Ae Main Concern for the Christian Space of the 21st Century? Catholic and Orthodox Perspectives,Ay Journal for the Study of Religions and Ideologies 19, no. : 124Ae35. 22Marco Damonte. AuGod, the Bible and the Environment: An Historical Excursus on the Relationship between Christian Religion and Ecology,Ay Relations 5, no. : 27Ae45, https://doi. org/10. 7358/rela-2017-001-damo. 23Damonte. 24Darryl C De Vivo et al. AuIntroduction : Historical Perspectives,Ay in Neuromuscular Disorders of Infancy. Childhood and Adolescence, ed. Darras et al. Second edi (Elsevier, 2. , 3Ae16, https://doi. org/10. 1016/B978-0-12-417044-5. 25DE De Villiers. AuProspects of a Christian Ethics of Responsibility (Part . : An Assessment of an American Version,Ay Verbum et Ecclesia 28, no. : 88Ae109, https://doi. org/10. 4102/ve. Macklin. AuApplying the Four Principles,Ay Journal of Medical Ethics 29, no. : 275Ae80, https://doi. org/10. 1136/jme. 27Brian Zamulinski. AuChristianity and the Ethics of Belief,Ay Religious Studies 44, no. : 333Ae46, http://w. org/stable/27749963. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 32 | MERAWAT BUMI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB IMAN keberlanjutan planet kita. Tanggapan umat Kristen terhadap krisis ini bersifat multifaset dan sangat berakar pada pertimbangan teologis, etis, dan praktis. Tradisi Katolik Roma, misalnya, mengidentifikasi Ausanto ekologisAy yang kehidupan dan ajarannya menginspirasi pengelolaan lingkungan, mempromosikan model keterlibatan spiritual dan praktis dengan alam. 28 Sebuah studi empiris juga menunjukkan bahwa keyakinan eskatologis di kalangan Kristen, khususnya gagasan tentang kehancuran bumi yang tak terhindarkan, tidak secara signifikan menghambat sikap ramah lingkungan di kalangan generasi muda, menunjukkan potensi untuk memobilisasi demografi ini menuju upaya keberlanjutan. Metodologi teologis, seperti yang diusulkan oleh Paul Ballard dan Earth Bible Team, menganjurkan penggunaan Kitab Suci sebagai sumber untuk berkhotbah dan mengajar tentang tanggung jawab lingkungan, dengan demikian mengintegrasikan perhatian ekologis ke dalam praktik keagamaan. 30 Secara keseluruhan, tanggapan Kristen yang beragam ini menekankan peran signifikan komunitas keagamaan dalam menangani krisis ekologi, menyoroti perlunya pengelolaan etis, praktik inklusif, dan mobilisasi inisiatif berbasis iman untuk mempromosikan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks Asia, dan khususnya Indonesia sebagai negara dengan pluralitas agama yang tinggi, tanggung jawab ekologis tidak hanya menjadi tugas komunitas Kristen secara eksklusif, tetapi juga menjadi ruang dialog antaragama yang semakin relevan. Ensiklik Laudato SiAo yang mempromosikan ekologi integral telah memicu respon lintas iman, termasuk dialog dengan Islam sebagaimana diulas oleh Puglisi dan Buitendag dalam kajian lintas teks suci. 31 Studi-studi semacam ini menegaskan pentingnya membangun konsensus moral global lintas tradisi keagamaan dalam menjawab krisis lingkungan. Di Indonesia. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di beberapa daerah telah memprakarsai kegiatan bersih lingkungan, penanaman pohon lintas iman, dan kampanye pelestarian hutan berbasis nilai-nilai keagamaan. Namun demikian, belum banyak kajian teologis Kristen yang secara eksplisit merefleksikan peran iman dalam dinamika kolaborasi lintas agama tersebut. Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan teologi ekologi Kristen yang terbuka terhadap dialog antaragama, tidak hanya dalam wacana global, tetapi juga dalam konteks lokal yang multikultural. Pendekatan ini akan memperkuat solidaritas religius dalam menghadapi ancaman ekologi bersama, sekaligus memperluas horizon etis dan spiritual ekoteologi Kristen di dunia ketiga. Tantangan dan Peluang Integrasi nilai-nilai Kristen dengan ekologi menghadirkan berbagai tantangan dan peluang yang perlu dihadapi dan dimanfaatkan oleh komunitas Kristen dalam upaya mereka untuk menjaga dan melestarikan Tantangan pertama adalah hambatan teologis dan praktis yang ada dalam beberapa denominasi Kristen. Misalnya, gereja telah dikritik karena lebih fokus pada kehidupan setelah mati daripada isu lingkungan saat ini, mencerminkan pandangan umum dalam beberapa kalangan Kristen bahwa perhatian utama harus pada keselamatan jiwa daripada kelestarian bumi. Hal ini dapat mengurangi motivasi untuk mengambil tindakan konkret terhadap masalah lingkungan. Selain itu, terdapat kontroversi dan perbedaan pendapat dalam gereja mengenai prioritas isu lingkungan. Beberapa jemaat mungkin menganggap bahwa isu lingkungan tidak sepenting masalah sosial lainnya, sehingga menghambat upaya kolektif untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan. Hambatan lainnya adalah kekurangan pendidikan teologis yang memadai. Persepsi otoritas Alkitab dapat mempengaruhi sikap terhadap lingkungan. Studi oleh Woodrum dan Hoban menunjukkan bahwa individu yang kurang informasi mungkin menafsirkan Alkitab secara literal untuk mendukung eksploitasi bumi yang tidak terbatas. 32 Hal ini menekankan pentingnya pendidikan teologis untuk menumbuhkan etika pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Namun, terdapat peluang besar untuk pendidikan dan advokasi lingkungan dalam konteks Kristen. Dengan memanfaatkan pengaruh gereja, komunitas Kristen dapat mempromosikan perubahan positif yang 28Libby Osgood. AuEcological Saints: Adopting a Green Gaze of the Life and Writings of Saint Marguerite Bourgeoys,Ay Zygon 58, no. : 569Ae90, https://doi. org/10. 1111/zygo. 29Benjamin S. Lowe et al. AuAssociation of Religious End Time Beliefs with Attitudes toward Climate Change and Biodiversity Loss,Ay Sustainability (Switzerlan. 15, no. , https://doi. org/10. 3390/su15119071. 30Hyeran Kim-Cragg. AuPreaching Addressing Environmental Crises through the Use of Scripture: An Exploration of a Practical Theological Methodology,Ay Religions 13, no. , https://doi. org/10. 3390/rel13030226. 31Puglisi and Buitendag. AuThe Religious Vision of Nature in the Light of Laudato SiAo: An Interreligious Reading between Islam and Christianity. Ay 32Woodrum and Hoban. AuTheology and Religiosity Effects on Environmentalism. Ay Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. EDI PURWANTO | 33 lebih luas. Pendidikan lingkungan yang berakar pada teologi dapat membentuk sikap dan perilaku yang lebih ramah lingkungan di kalangan jemaat. Selain itu, ada potensi besar untuk sinergi antara gereja dan komunitas dalam upaya pelestarian lingkungan. Upaya kolaboratif dalam pengelolaan, seperti jaringan multi-pemangku kepentingan, menunjukkan efektivitas mengintegrasikan proses lintas skala untuk yang mana kolaborasi tersebut dapat memperkuat tanggung jawab bersama dalam mengatasi masalah ekologi. Penggunaan figur teladan seperti Ausanto ekologisAy dalam tradisi Katolik Roma, yang kehidupan dan ajarannya menginspirasi pengelolaan lingkungan, dapat menjadi teladan spiritual dan praktis yang kuat bagi komunitas Kristen. Figur-figur ini dapat memotivasi jemaat untuk terlibat lebih aktif dalam pelestarian Metodologi teologis yang diusulkan oleh Paul Ballard dan Earth Bible Team menganjurkan penggunaan Kitab Suci sebagai sumber untuk berkhotbah dan mengajar tentang tanggung jawab Ini dapat membantu mengintegrasikan perhatian ekologis ke dalam praktik keagamaan seharihari, menjadikan isu lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan beragama. Selain itu, studi empiris menunjukkan bahwa keyakinan eskatologis di kalangan Kristen, khususnya gagasan tentang kehancuran bumi yang tak terhindarkan, tidak secara signifikan menghambat sikap ramah lingkungan di kalangan generasi muda. Ini menunjukkan potensi untuk memobilisasi demografi ini menuju upaya keberlanjutan. Dengan menavigasi tantangan-tantangan ini dan merangkul peluang-peluang tersebut, komunitas Kristen dapat memainkan peran signifikan dalam mempromosikan pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan, mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan etika dengan tindakan nyata untuk melestarikan Konteks Indonesia juga memperlihatkan upaya komunitas Kristen dalam merespons krisis ekologi dengan pendekatan berbasis iman. Berbagai gereja telah menginisiasi gerakan AuGereja Ramah LingkunganAy seperti yang digagas oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yang mendorong jemaat untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mengurangi penggunaan plastik, dan menanam pohon di lingkungan gereja. 33 Di lingkungan Katolik, gerakan Laudato SiAo juga diadaptasi melalui pelatihan ekopastoral dan kampanye edukasi lingkungan di paroki-paroki. 34 Meski demikian, inisiatif ini belum banyak dikaji secara akademik. Studi ilmiah mengenai efektivitas program gereja di Indonesia dalam pendidikan ekologi dan advokasi lingkungan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian mendatang perlu secara khusus mengeksplorasi peran gereja-gereja di Indonesia dalam mengintegrasikan ekoteologi ke dalam praktik liturgi, pengajaran, dan pelayanan sosial-ekologisnya. Konteks lokal ini membuka peluang besar untuk pengembangan teologi yang kontekstual dan partisipatif dalam merespons tantangan Ekologi Dalam Perspektif Kristen Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa ekologi dalam perspektif Kristen tidak hanya bersifat normatif teologis, tetapi juga memiliki dimensi historis, etis, dan praksis yang saling terkait. Doktrin penciptaan menegaskan dasar iman yang menempatkan manusia sebagai penjaga ciptaan, namun pemahaman ini baru menemukan kekuatannya ketika diterjemahkan ke dalam tindakan kolektif dan spiritualitas ekologis. Pandangan historis gereja dari masa Patristik hingga kontemporer memperlihatkan evolusi etis yang kaya, namun juga memperlihatkan tantangan internal, seperti dualisme spiritual-material atau kecenderungan eskapis. Pembacaan ulang terhadap prinsip etika Kristen menggarisbawahi urgensi untuk memperluas cakupan tanggung jawab moral hingga mencakup seluruh ciptaan, bukan hanya relasi antar manusia. sini, prinsip kasih dan keadilan ekologis menjadi kunci untuk melampaui pendekatan antroposentris Dialog antaragama dan inisiatif lintas iman yang muncul dalam konteks Asia dan Indonesia menandakan pergeseran dari ekoteologi sebagai refleksi teologis menuju praktik transformasional. Namun, tantangan teologis tetap nyata, termasuk resistensi terhadap agenda lingkungan dalam sebagian kalangan gereja, minimnya kurikulum teologis yang memadai, serta keterputusan antara refleksi iman dan kebijakan publik. Oleh sebab itu, transformasi liturgi, pendidikan, dan pelayanan menjadi arena strategis untuk memperkuat integrasi iman dan ekologi secara kontekstual. Pembahasan ini memperlihatkan bahwa teologi Kristen bukan hanya menyediakan lensa moral untuk memandang krisis 33PGI. Buku Panduan Gereja Sahabat Alam (KLH RI. STT Jakarta, 2. 34Isabella Piro. AuVatican Document on Integral Ecology: Safeguarding Creation Is EveryoneAos Responsibility,Ay Vatican News, https://w. va/en/vatican-city/news/2020-06/vatican-interdicastery-document-laudato-sisafeguarding-creation. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 34 | MERAWAT BUMI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB IMAN ekologi, tetapi juga menyediakan energi spiritual untuk menghidupi tanggung jawab ekologis dalam konteks gereja lokal dan masyarakat global. Sintesis Sintesis dari kajian sistematis ini menunjukkan bahwa teologi Kristen memiliki landasan yang kaya untuk pengelolaan lingkungan, namun pemanfaatannya dalam diskursus ekologis masih belum optimal. Literatur yang ada telah mengembangkan tiga dimensi utama: teologis-doktrinal . enciptaan, pemeliharaan, imago De. , etis-normatif . anggung jawab, keadilan ekologis, kasi. , dan praktis-transformasional . endidikan ekoteologis, liturgi ekologis, advokasi kebijaka. Namun, penelitian ini menemukan bahwa kontribusi ini masih bersifat parsial, fragmentaris, dan sering kali tidak menjembatani jarak antara refleksi teologis dan praksis ekologis di komunitas lokal. Kebaruan sintesis penelitian ini terletak pada usulan kerangka pandangan Kristen yang lebih integratif dan kontekstual, yang belum banyak dibahas oleh teolog-teolog sebelumnya, yaitu AuEkologi PersekutuanAy (Communion Ecolog. Pandangan ini mengusulkan bahwa relasi ekologis tidak hanya didasarkan pada pengelolaan . atau keadilan ekologis, tetapi bertolak dari pemahaman Kristen tentang persekutuan . , relasi timbal balik antara Allah, manusia, dan ciptaan. Dalam kerangka ini, ciptaan dipahami bukan sekadar objek moral atau sumber daya, tetapi sebagai bagian dari komunitas kehidupan yang berpartisipasi dalam karya pemeliharaan Allah (Kol. 1:16Ae. Dengan demikian, tindakan ekologis bukan hanya kewajiban etis, tetapi perwujudan spiritualitas relasional. Selain itu, sintesis ini mengusulkan pendekatan AuEkologi PertobatanAy (Ecology of Conversio. , yaitu kerangka yang memandang krisis ekologi sebagai panggilan untuk pertobatan hidup dan pertobatan komunal, bukan sekadar perubahan perilaku ekologis. Perspektif ini menggeser fokus dari teori etika lingkungan menuju transformasi spiritual yang mengakar pada liturgi, disiplin rohani, dan praksis Konsep ini melampaui eco-theology arus utama yang cenderung konseptual, karena menekankan perubahan batin dan spiritual sebagai sumber gerakan ekologis Kristen. Sintesis penelitian ini juga mengangkat satu pandangan yang masih minim dieksplorasi dalam literatur ekoteologi, yaitu AuEkologi Lintas Iman Berbasis Iman KristenAy. Meskipun telah ada kajian antaragama seperti oleh Puglisi dan Buitendag, belum banyak teolog yang mengeksplorasi bagaimana teologi Kristen dapat menjadi agen pembentuk dialog ekologis lintas agama dalam konteks Indonesia yang Penelitian ini mengusulkan bahwa nilai-nilai inti Kekristenan seperti kasih, rekonsiliasi, dan keutuhan ciptaan dapat menjadi jembatan moral antara agama-agama dalam menghadapi krisis bersama. Pendekatan ini menjadi kontribusi baru bagi ekoteologi Kristen Asia dan menghasilkan ruang penelitian yang luas bagi teologi kontekstual Indonesia. Secara keseluruhan, sintesis ini memberikan kontribusi baru dengan: . menawarkan kerangka AuEkologi PersekutuanAy sebagai visi teologis integratif, . mengembangkan konsep AuEkologi PertobatanAy yang mengakar pada spiritualitas Kristen, . memperluas ekoteologi ke arah ekologi lintas iman berbasis dialog, . menegaskan pentingnya praksis liturgis dan pastoral sebagai bagian inti ekoteologi, dan . memetakan agenda penelitian yang lebih kontekstual bagi gereja di Indonesia. KESIMPULAN Doktrin penciptaan dalam Alkitab memberikan dasar teologis yang kuat untuk pengelolaan Keyakinan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan Pemelihara semua keberadaan menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawat ciptaan. Konsep ini bukan hanya dasar teologis tetapi juga memiliki implikasi etis yang mendalam, yang menekankan keterkaitan manusia dengan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi. Sejarah hubungan manusia dengan alam dalam tradisi Kristen menunjukkan evolusi pemikiran dan Dari pandangan awal yang menekankan kekuasaan manusia atas alam hingga pendekatan yang lebih holistik dan inklusif, gereja telah mengalami transformasi signifikan dalam memahami dan mempraktikkan pengelolaan lingkungan. Periode Patristik. Abad Pertengahan. Reformasi, dan Pencerahan masing-masing memberikan kontribusi penting terhadap pembentukan perspektif ekologi Kristen Prinsip etika Kristen menekankan pengelolaan yang bertanggung jawab atas sumber daya alam. Pendekatan ini menyoroti pentingnya akuntabilitas, keberlanjutan, dan penggunaan sumber daya yang etis. Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan secara teoretis tetapi juga dapat diterapkan dalam praktik melalui berbagai upaya pelestarian lingkungan dan pelayanan masyarakat. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. EDI PURWANTO | 35 Penelitian ini menegaskan bahwa perspektif ekologi Kristen memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan etika Kristen dengan tindakan nyata, komunitas Kristen dapat memainkan peran signifikan dalam mempromosikan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan harmonis. Melalui pemahaman yang lebih mendalam dan praktik yang lebih baik, gereja dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam mengatasi tantangan lingkungan global. Implikasi dari penelitian ini juga bersifat pastoral dan liturgis. Doktrin penciptaan bukan hanya menjadi dasar bagi pemahaman iman, tetapi juga seharusnya memengaruhi praktik liturgi, pendidikan iman, dan bentuk pelayanan gereja. Liturgi dapat diselaraskan dengan musim ekologis, seperti AuSeason of CreationAy, untuk menumbuhkan kesadaran umat akan tanggung jawab terhadap bumi. Pengajaran sekolah minggu, katekisasi, dan khotbah mingguan juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan ekoteologis yang berbasis Alkitab. Gereja, sebagai komunitas iman, dipanggil untuk tidak hanya berkhotbah tentang keselamatan spiritual, tetapi juga menegaskan panggilan untuk merawat ciptaan sebagai bentuk kasih kepada sesama dan ketaatan kepada Sang Pencipta (Mzm. 24:1. Kej. 2:15. Mat. 22:37Ae. Dalam konteks ini, pengintegrasian nilai-nilai ekologi dalam disiplin rohani, pelayanan sosial, dan pengembangan komunitas menjadi strategi penting untuk menjadikan gereja sebagai agen transformasi ekologis yang relevan dan berdampak. DAFTAR PUSTAKA