Perwira Journal of Community Development Vol. 5 (No. 2025, 43-46 ISSN Online 2798-3706 PENGENALAN KEGIATAN MEMBATIK TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD NEGERI 08 BENDAN KOTA PEKALONGAN Muhammad Naoval Haris1. Raiza Karyll Simpliciano2 Program Studi Kriya Batik. Fakultas Teknik. Universitas Pekalongan Program Studi Pendidikan Dasar. Fakultas Pendidikan. Mariano Marcos State University Penulis Korespondensi: Muhammad Naoval Haris . aovalharis@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkenalkan seni membatik kepada orang tua atau wali peserta didik SD 08 Bendan Kota Pekalongan sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik berbakti kepada orang tua dan pelestarian budaya lokal. Mengingat Pekalongan dikenal sebagai Kota Kreatif Dunia dalam bidang Kerajinan dan Kesenian Rakyat, pengenalan membatik menjadi relevan untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada peserta didik. Metode yang digunakan meliputi observasi, diseminasi, sosialisasi, dan diskusi. Kegiatan membatik memungkinkan peserta didik memahami nilai-nilai luhur antara lain kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang tua. Setiap tahapan membatik, mulai dari proses pembuatan pola, proses pemberian malam pada kain, proses pewarnaan, hingga proses penghilangan malam . , membawa pesan moral yang penting bagi perkembangan karakter peserta didik. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa orang tua atau wali antusias dan dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut, terutama dalam hubungan mereka dengan peserta didik. Berdasarkan evaluasi dan diskusi pasca-kegiatan, orang tua/wali menyatakan keinginan untuk mengikuti kegiatan membatik bersama anak-anak di masa mendatang. Dengan demikian, pengenalan kegiatan membatik ini efektif dalam membentuk karakter positif pada siswa dan orang tua sekaligus memperkuat kecintaan mereka terhadap warisan budaya batik. Kata Kunci : Batik. Karakter Peserta Didik. Pengabdian Masyarakat. Warisan Budaya PENDAHULUAN ndonesia memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam, salah satunya adalah batik. Batik merupakan salah satu budaya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBT. oleh United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tanggal 2 Oktober 2024 . Batik tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga sarana edukasi yang berharga dalam menanamkan nilai-nilai luhur pada generasi muda . Melalui kegiatan membatik, anak-anak dapat belajar lebih dari sekedar keterampilan, namun juga mereka dapat belajar tentang nilai-nilai ketekunan, tanggung jawan, menghargai orang lain dan berbakti kepada orang tua . SD 08 Bendan berada di Kota Pekalongan yang mana Kota Pekalongan telah dinobatkan sebagai Kota Kreatif Dunia dalam kategori Kerajinan dan Kesenian Rakyat (Craft & Folk Art. pada tanggal 1 Desember 2014 oleh UNESCO. Oleh karena itu, sarana pengenalan kegiatan membatik pada SD 08 Bendan sangat penting dalam pembentukan karakter siswa, khususnya dalam hal berbakti kepada orang tua serta bagian dari pelestarian budaya daerah sekitar . Pada usia sekolah dasar, anak-anak berada dalam fase perkembangan karakter dalam dirinya masingmasing. Pendidikan karakter yang diberikan di sekolah dasar mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter yang bertanggung jawab, disiplin, dan menghargai nilai-nilai kebajikan . Selain itu, karakter penting yang lain yang perlu dibangun sejak dini yakni sikap berbakti kepada orang tua, yang mencerminkan rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap keluarga. Melalui kegiatan membatik, siswa diajak untuk menyelami nilai-nilai tersebut, terutama melalui proses membatik yang membutuhkan kesabaran ketelitian, dan rasa hormat pada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi . Proses membatik yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang mana merupakan cerminan dari Perwira Journal of Community Development Vol. 5 (No. 2025, 43-46 ISSN Online 2798-3706 nilai-nilai luhur yang dibutuhkan dalam hubungan anak dengan orang tua. Anak belajar untuk menghormati dan menghargai apa yang sudah diberikan serta diperjuangkan oleh orang tua mereka. Dengan pendekatan edukatif melalui kegiatan pengenalan membatik ini, diharapkan orang tua siswa dapat memahami karakter siswa melalui kegiatan positif seperti membatik . Oleh karena itu, program pengenalan kegiatan membatik di SD 08 Bendan Pekalongan diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter siswa yang berbakti, berdisiplin, dan bangga akan warisan budaya. Melalui sinergi antara pendidikan karakter dan warisan budaya, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya terampil secara budaya, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta rasa hormat yang tinggi terhadap orang tua mereka. METODE Kagiatan pengabdian kepada masyarakat ini International Community Service AuChild and Environmental Friendly SchoolAy diselenggarakan oleh Universitas Pekalongan. Kegiatan ini dilaksanakan di SD 08 Bendan Kota Pekalongan pada hari Jumat tanggal 18 Oktober 2024. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat . ini sebagai berikut: Observasi: Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan observasi dan koordinasi dengan pihak SD 08 Bendan Kota Pekalongan perihal sistematika sekolah ramah anak yang diterapkan oleh sekolah tersebut. Diseminasi dan sosialiasi: Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan kegiatan pemaparan materi secara teori dan konseptual. Diskusi: Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan diskusi dua arah dengan peserta Evaluasi: Tim pengabdian kepada masyarakat melakukan evaluasi kagiatan dengan pihak sekolah dan peserta kegiatan. HASIL Pemaparan materi dilakukan dalam ruangan kelas yang disampaikan oleh tim pengabdian kepada masyarakat seperti yang dilihat pada Gambar 1. Kegiatan ini diikuti oleh 23 orang tua atau wali peserta didik kelas i yang mana peserta didominasi oleh Ibu dari orang tua siswa terlihat pada Gambar 2. Peserta sangat antusias dalam menerima materi dan berdiskusi bersama dalam hal parenting dan kajian tentang batik dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan foto bersama pasca kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang terlihat pada Gambar 3. Berikut materi yang disampaikan oleh tim pengabdian kepada Batik menjadi salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diterapkan di beberapa sekolah dasar di Kota Pekalongan, salah satunya diterapkan di SD 08 Bendan 08 Kota Pekalongan. Hal itu bertujuan untuk memberikan ketrampilan dan melestarikan budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekalongan terhadap peserta didik Sekolah Dasar di Kota Pekalongan. Selain itu, bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam melestarikan batik yakni terdapat Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Pekalongan yang mempunyai kompetensi keahlian Kriya. Kreatif. Batik, dan Tekstil (KKBT) dan Universitas Pekalongan yang mempunyai Program Studi D3 Kriya Batik untuk mewadahi generasi muda dalam pemahaman teori dan praktik pembuatan batik sekaligus pelestarian budaya batik di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan. Pada dasarnya, proses membatik terdiri dari proses pola batik, proses menggunakan malam panas, proses pewarnaan atau pencelupan, dan proses penghilangan malam pada kain atau proses nglorod. Berikut nilai-nilai luhur yang dapat diterapkan pada proses batik secara umum: Proses Pembuatan Pola (Nglowon. Pada tahap ini, anak-anak diajak membuat motif batik pada kain. Proses ini mengajarkan nilai kreativitas, kesabaran dan ketelitian sesuai ide yang diekspresikan dalam bentuk gambar. Pemilihan desain motif batik pada anak juga harus dipertimbangkan dikarenakan beberapa motif mempunyai makna. Contohnya motif bunga mempunyai makna kasih sayang kepada orang tua, motif kawung mempunyai makna kesucian dan lain sebagainya . Pengenalan motif yang diberikan kepada anak sebagai pengenalan kreativitas seni peserta didik. Salah satu motif batik khas Kota Pekalongan yakni Batik Jlamprang . Proses Pelekatan Malam pada Kain (Cantin. Pada tahap ini, anak-anak melakukan proses mencanting motif yang sudah dibuat menggunakan canting tulis untuk menorehkan lilin panas pada kain. Proses mencanting melatih konsentrasi dan kesabaran serta anak-anak juga belajar nilai ketekunan karena mencanting membutuhkan waktu yang lama. Harapannya setiap tetes lilin yang mereka buat, terdapat simbol kesabaran dan ketekunan yang juga diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, anak-anak memahami nilai seni dan menghargai proses perjuangan orang lain termasuk orang tua dalam mendidik dan Perwira Journal of Community Development Vol. 5 (No. 2025, 43-46 ISSN Online 2798-3706 membesarkan mereka dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Proses Pewarnaan Kain Pada tahap ini, proses pewarnaan batik dapat mengajarkan anak tentang nilai kesabaran, kreativitas dan ketelitian karena anak harus memastikan perpaduan warna yang baik sehingga menghasilkan kerataan warna yang baik dan indah serta anak memastikan proses pewarnaan tidak merusak lilin yang telah Selain itu, nilai kebersihan juga diterapkan dalam tahap ini. Proses Penghilangan Malam (Ngloro. Proses penghilangan malam atau lebih dikenal proses nglorod merupakan tahapan terakhir pada proses pembatikan. Pada tahap ini, anak belajar pentingnya kedisiplinan dan keberanian dalam menerima hasil karya batik mereka. Nilai ketulusan juga diajarkan dalam hal ini yang mana menghilangkan lilin atau malam untuk menghasilkan karya yang utuh dan indah. Harapannya, hal ini dapat menjadi pembelajaran bahwa terkadang butuh pengorbanan atau pelepasan demi mencapai sesuatu yang lebih baik dan lebih indah. Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Tim Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Gambar 2. Peserta Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Gambar 3. Dokumentasi Pasca Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pengenalan kegiatan membatik di SD 08 Bendan Pekalongan memberikan dampak positif yang signifikan dalam membentuk karakter peserta didik, khususnya dalam hal berbakti kepada orang tua dan menghargai warisan budaya lokal. Setiap tahapan proses membatik dari membuat pola hingga proses nglorod, anak-anak belajar nilai-nilai luhur seperti kesabaran, ketelitian, tanggung jawab, ketekunan, dan rasa cinta kepada warisan budaya. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat diselaraskan dengan pelestarian budaya, menciptakan generasi muda yang tidak hanya terampil dalam seni membatik, tetapi juga memiliki nilai-nilai etika dan moral yang kuat. Antusiasme dari orang tua atau wali menunjukkan bahwa kegiatan ini relevan dan efektif dalam memperkuat kecintaan pada warisan budaya lokal sekaligus membangun karakter positif. Dengan demikian, pengenalan membatik menjadi sarana edukatif yang mendukung pelestarian budaya batik dan pembentukan karakter peserta didik yang berbakti serta berakhlak mulia. Guna pengembangan kegiatan ini, saran untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat selanjutnya antara lain pelatihan lanjutan membatik dengan fokus pada zat warna alam sebagai wujud ramah lingkungan, kegiatan membatik orang tua/wali bersama anak-anak di masa mendatang, dan pameran hasil karya batik di memperkenalkan keindahan seni batik kepada masyarakat luas. DAFTAR PUSTAKA