Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN: 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Kesulitan Orang Tua dalam Identifikasi Awal Gejala Stunting Halimatussa'diah1. Ade Yayang Hernida2. Annisa Dwika Putri Sitompul3. Dea Ningsih4 1,2,3,4 STAI Syekh H. Abdul Halim Hasan Al-Ishlahiyah Binjai. Indonesia Email Korespondensi : halimahawaii6@gmail. ABSTRAK Penelitian ini menyelidiki faktor-faktor yang menyulitkan orang tua dalam mengidentifikasi awal gejala stunting pada anak usia 0-2 tahun. Temuan menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan antara pekerjaan ibu, imunisasi, dan pendapatan dengan status stunting pada balita, sementara akses terhadap layanan kesehatan dan sikap terhadap perilaku kesehatan anak juga memiliki peran penting. Tinjauan sistematis terhadap intervensi gizi mengonfirmasi efektivitas program-program tersebut dengan penekanan pada penyesuaian budaya setempat. Identifikasi faktor predisposisi stunting, seperti jenis kelamin. BBLR, dan pemberian ASI eksklusif, memberikan wawasan yang berguna untuk merancang intervensi yang lebih spesifik. Penelitian juga menggarisbawahi peran pola asuh yang buruk dalam kejadian stunting pada anak usia dini, di mana faktor-faktor seperti pendidikan, pengetahuan, pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan pola asuh dalam keluarga memainkan peran sentral. Simpulan dari penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan program pencegahan stunting yang lebih terfokus, memperlihatkan perlunya peningkatan aksesibilitas fasilitas kesehatan, perhatian terhadap kebijakan mendukung kesehatan ibu bekerja, dan pendekatan holistik untuk meningkatkan pola asuh positif. Kata Kunci: Faktor-Faktor Risiko. Intervensi Gizi. Pola Asuh. Anak Usia Dini. Akses Kesehatan. Parental Difficulties in Early Identification of Stunting Symptoms ABSTRACT This study investigated the factors that make it difficult for parents to identify early symptoms of stunting in children aged 0-2 years. Findings showed significant associations between maternal occupation, immunisation and income and stunting status among under-fives, while access to health services and attitudes towards child health behaviours also played an important role. A systematic review of nutrition interventions confirmed the effectiveness of such programmes with an emphasis on cultural appropriateness. The identification of predisposing factors for stunting, such as gender. LBW and exclusive breastfeeding, provides useful insights for designing more specific interventions. The study also underscores the role of poor parenting in the incidence of stunting in early childhood, where factors such as education, knowledge, income, family size and parenting within the family play a central role. The conclusions of this study provide a strong basis for the development of more focused stunting prevention programmes, demonstrating the need for improved accessibility of health facilities, attention to policies supporting the health of working mothers, and a holistic approach to improving positive parenting. Keywords: Risk Factors. Nutrition Interventions. Parenting. Early Childhood. Health Access. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN : 2655-657X Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Stunting, sebuah permasalahan gizi kronis, menjadi fokus serius dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan anak-anak (De Onis & Branca, 2. Di tengah kemajuan zaman, pentingnya mengenali tanda-tanda stunting secara dini dan peran yang dimainkan oleh orang tua dalam pencegahan semakin diperhatikan. Artikel ini akan menyelidiki secara lebih mendalam mengenai konsep stunting, konsekuensi yang signifikan terhadap kesehatan anakanak, prevalensi stunting di Indonesia, gejala yang krusial untuk diidentifikasi pada usia dini, peran krusial orang tua dalam mengenali dini stunting, dan faktor-faktor yang menjadi hambatan bagi orang tua dalam proses identifikasi tersebut. Stunting dapat didefinisikan sebagai kondisi di mana pertumbuhan anak-anak mengalami hambatan, khususnya dalam hal tinggi badan. Dalam memahami dampaknya terhadap kesehatan, stunting memiliki implikasi serius terutama terkait dengan perkembangan otak, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa dewasa (Scheffler & Hermanussen, 2. Dengan memahami hal ini, masyarakat dapat lebih sadar akan urgensi pencegahan dan intervensi sejak dini. Di Indonesia, stunting memiliki prevalensi yang signifikan, memberikan tantangan serius terhadap upaya peningkatan kesejahteraan anak-anak (Rokx. Subandoro, & Gallagher. Oleh karena itu, penanganan stunting perlu difokuskan sebagai prioritas nasional. Pengidentifikasian dini gejala stunting pada usia dini menjadi langkah awal yang krusial dalam mengatasi masalah ini. Gejala seperti pertumbuhan fisik yang lambat, berat badan tidak sesuai dengan usia, dan perkembangan kognitif yang tertunda, harus diwaspadai oleh orang tua (Abubakar. Holding. Van de Vijver. Newton, & Van Baar, 2. Peran orang tua dalam mengenali dini stunting tidak dapat diabaikan. Mereka berperan sebagai agen pertama yang dapat mendeteksi gejala-gejala tersebut. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan anak-anak, orang tua dapat menjadi mitra yang efektif dalam upaya pencegahan stunting. Pendidikan dan pemahaman yang diberikan kepada orang tua tentang pentingnya peran mereka dapat menjadi kunci dalam mengatasi stunting di masyarakat. Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang menjadi hambatan bagi orang tua dalam proses identifikasi dini stunting. Faktor ekonomi, kurangnya pengetahuan tentang gizi, dan akses terbatas terhadap layanan kesehatan merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan untuk mengatasi kendala-kendala ini. Dengan menguraikan setiap aspek yang telah dibahas, tergambar bahwa stunting bukanlah hanya masalah fisik semata, melainkan juga mencakup dimensi sosial dan ekonomi (Beal. Tumilowicz. Sutrisna. Izwardy, & Neufeld, 2. Karena itu, pendekatan terhadap penanganan stunting haruslah terstruktur dengan pendekatan yang baik dan melibatkan berbagai pihak, dengan penekanan khusus pada peran yang sangat penting dari orang tua. Memahami dengan baik kompleksitas stunting memberikan landasan bagi perancangan strategi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan dalam upaya mengurangi dampaknya terhadap generasi masa depan. Pentingnya menyadari bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik semata, tetapi juga mencakup dampak yang lebih luas terhadap kehidupan anak-anak (De Onis. Implikasi sosial melibatkan aspek kognitif, emosional, dan interaksi sosial mereka, sedangkan dimensi ekonomi memengaruhi potensi produktivitas mereka di masa dewasa. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN : 2655-657X Dengan demikian, melihat stunting sebagai masalah yang melibatkan banyak aspek tersebut membuka ruang untuk intervensi yang lebih menyeluruh. Pendekatan rencana yang matang dalam menanggapi stunting tidak hanya mencakup upaya kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga memperhitungkan masalah sosial dan ekonomi yang menjadi latar belakang terjadinya masalah ini. Orang tua, sebagai agen pertama dalam pengenalan dini stunting, perlu didorong untuk memahami bahwa peran mereka tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga melibatkan dukungan emosional, stimulasi kognitif, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan optima (Pelletier et al. , 2. Ketika kita memahami kompleksitas stunting, kita dapat merancang strategi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan nutrisi anak, tetapi juga melibatkan pendekatan penyeluruh yang mencakup pendidikan orang tua, peningkatan akses terhadap layanan kesehatan, dan perbaikan ekonomi keluarga. Ini bukan hanya tentang menyelesaikan masalah fisik saat ini, tetapi juga tentang membentuk dasar yang kuat bagi kesejahteraan anak-anak dan generasi yang akan datang. Dengan begitu, pemahaman mendalam terhadap kompleksitas stunting memberikan landasan untuk pembangunan strategi yang tidak hanya responsif terhadap tantangan fisik, tetapi juga mengintegrasikan aspek-aspek sosial dan ekonomi yang membentuk kondisi ini. Melibatkan orang tua sebagai mitra yang berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting merupakan langkah kunci dalam merancang pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Sehingga, hanya melalui kerjasama lintas sektor dan pemahaman menyeluruh, kita dapat memitigasi dampak serius stunting terhadap generasi Stunting, atau kekurangan gizi kronis, dapat didefinisikan sebagai kondisi di mana tinggi badan anak berada di bawah persentil 3 Standar Deviasi (SD) dari standar pertumbuhan World Health Organization (WHO). Kondisi ini tidak hanya memengaruhi aspek fisik, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap perkembangan kognitif anak. Stunting dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan risiko penyakit kronis di masa dewasa, dan bahkan berdampak negatif terhadap perekonomian suatu negara (Handayani et al. , 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Angka ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi masalah serius di negara ini dan memerlukan perhatian lebih lanjut dalam upaya pencegahan (Novitasari & Rosita, 2. Identifikasi dini gejala stunting menjadi kunci dalam mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius. Gejala stunting dapat diamati pada usia 0-2 tahun, tahap kritis dalam perkembangan anak. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan meliputi berat badan lahir rendah (BBLR), pertumbuhan tinggi badan yang lambat, lingkar kepala yang kecil, keterlambatan perkembangan motorik, dan keterlambatan perkembangan kognitif (Manggala. Kenwa. Kenwa. Jaya, & Sawitri, 2. Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah faktor risiko yang signifikan, dan anak-anak dengan BBLR memiliki kemungkinan lebih besar mengalami stunting. Pertumbuhan tinggi badan yang lambat ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah persentil 3 SD dari standar pertumbuhan WHO. Lingkar kepala yang kecil juga merupakan indikator stunting, dengan ukuran di bawah persentil 3 SD dari standar pertumbuhan WHO. Keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif menjadi gejala lain yang perlu diawasi, di mana anak tidak mampu melakukan keterampilan sesuai usianya (Apriluana & Fikawati, 2. Orang tua memegang peran kunci dalam identifikasi dini gejala stunting pada anakanak mereka. Pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua melibatkan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN : 2655-657X pengukuran tinggi badan anak, pengukuran lingkar kepala, dan pemantauan perkembangan motorik dan kognitif anak. Mengukur tinggi badan anak dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur tinggi badan yang tersedia di puskesmas atau posyandu. Demikian pula, pengukuran lingkar kepala anak dapat dilakukan dengan menggunakan pita pengukur lingkar kepala. Orang tua dapat memantau perkembangan motorik dan kognitif anak dengan memperhatikan pencapaian keterampilan dasar yang seharusnya dimiliki anak sesuai usianya. Meskipun peran orang tua dalam identifikasi dini sangat penting, dalam kenyataannya, banyak orang tua mengalami kesulitan dalam melakukan hal ini. Beberapa faktor yang menyebabkan kesulitan tersebut antara lain adalah kurangnya pengetahuan tentang stunting, akses terbatas ke fasilitas kesehatan, dan kurangnya kesadaran untuk memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan. Kurangnya pengetahuan tentang stunting dapat menyebabkan orang tua tidak menyadari adanya gejala stunting pada anak. Pemahaman yang terbatas tentang dampak jangka panjang dari stunting juga dapat menjadi hambatan. Selain itu, akses terbatas ke fasilitas kesehatan dapat menyulitkan orang tua untuk memeriksakan anak ke puskesmas atau Terutama di daerah terpencil, akses ini bisa menjadi kendala utama. Kurangnya kesadaran orang tua untuk memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan gejala stunting diabaikan (Akli, 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang faktor-faktor yang menjadi hambatan bagi orang tua dalam mengidentifikasi stunting pada anak-anak mereka. Data-data yang diperoleh dari penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mengembangkan program edukasi bagi orang tua, meningkatkan akses ke fasilitas kesehatan, dan membangun kesadaran akan pentingnya identifikasi dini. Penelitian tentang kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi awal gejala stunting memiliki urgensi yang signifikan. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini dapat menjadi dasar untuk merancang program-program pencegahan yang lebih efektif. Upaya pencegahan stunting perlu didukung oleh pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor penghambat identifikasi dini dan bagaimana mengatasi hambatan tersebut. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan landasan untuk mengembangkan kampanye edukasi yang lebih luas, melibatkan masyarakat, fasilitas kesehatan, dan pemerintah. Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang stunting, memberikan akses yang lebih mudah ke fasilitas kesehatan, dan merangsang kesadaran akan pentingnya identifikasi dini dapat menjadi langkah-langkah kunci dalam upaya pencegahan. Dalam menghadapi tantangan stunting di Indonesia, identifikasi dini gejala stunting dan peran orang tua menjadi fokus penting. Dengan prevalensi yang masih tinggi, memahami gejala dan faktor-faktor yang menyulitkan orang tua dalam mengidentifikasi stunting adalah langkah kunci dalam upaya pencegahan. Melalui penelitian yang cermat, pendekatan holistik dalam pencegahan stunting dapat dikembangkan, yang tidak hanya melibatkan aspek kesehatan fisik anak tetapi juga mendukung peran aktif orang tua dalam mencegah stunting dan memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bagi generasi mendatang. METODE Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka atau library research untuk menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi awal gejala stunting pada anak-anak usia 0-2 tahun. Kajian pustaka merupakan pendekatan yang relevan untuk merinci dan menganalisis informasi yang telah ada dalam literatur ilmiah, termasuk jurnal-jurnal kesehatan, artikel penelitian, buku-buku, dan sumber-sumber tepercaya lainnya (Togia & Malliari, 2. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN : 2655-657X Pertama-tama, identifikasi sumber daya informasi utama menjadi langkah awal dalam metode kajian pustaka ini. Sumber-sumber tersebut termasuk basis data akademis seperti PubMed. ScienceDirect, dan Springer, yang menyediakan akses ke sejumlah besar jurnal dan artikel ilmiah (Egghe & Rousseau, 1. Dalam rangka merinci aspek-aspek tertentu yang terkait dengan kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi stunting, literatur terkini yang relevan dengan bidang kesehatan anak dan gizi menjadi fokus utama (Black, 2. Selanjutnya, proses seleksi dan evaluasi sumber daya informasi dilakukan untuk memastikan kredibilitas dan relevansi. Sumber-sumber yang telah memasuki tahap ini melibatkan penelitian-penelitian empiris, review literatur, dan laporan riset kesehatan terkini. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan metodologi penelitian, ukuran sampel, dan hasil temuan yang dapat mendukung pemahaman mengenai faktor-faktor yang berkontribusi pada kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi stunting. Dalam kajian pustaka ini, fokus utama adalah pada penelitian-penelitian terkait pencegahan stunting dan peran orang tua dalam proses ini. Dalam analisis literatur, akan ditemukan informasi terkait dengan tingkat kesadaran orang tua, pengetahuan mereka tentang stunting, serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengenali gejala stunting pada anak-anak mereka. Hasil dari metode kajian pustaka ini akan digunakan sebagai dasar teoretis untuk memahami faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merancang program pencegahan stunting yang lebih efektif. Keterbatasan dan potensi bias dari sumber daya informasi juga akan diakui dan dibahas secara kritis untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan yang Dengan menggunakan metode kajian pustaka, penelitian ini akan menyusun landasan teoritis yang kuat untuk memahami akar permasalahan dan merinci kontribusi faktor-faktor tertentu terhadap kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi gejala stunting. Kesimpulan dari analisis literatur akan membantu merumuskan pertanyaan penelitian yang relevan dan memberikan panduan bagi penelitian lebih lanjut untuk mengisi kesenjangan pengetahuan yang ada dalam konteks ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Masalah gizi kronis, khususnya stunting, menjadi tantangan serius dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anak-anak di Indonesia. Stunting, yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah persentil 3 Standar Deviasi dari standar pertumbuhan WHO, memiliki dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak-anak. Upaya pencegahan stunting memerlukan pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor yang dapat menyulitkan orang tua dalam mengidentifikasi awal gejala stunting pada anak-usia 0-2 tahun. Dalam rangka mengeksplorasi faktor-faktor tersebut, penelitian ini mengadopsi pendekatan kajian pustaka atau library research. Kajian pustaka memberikan landasan yang kuat untuk memahami dinamika kompleks dari kesulitan orang tua dalam mengidentifikasi Penelitian ini fokus pada identifikasi tingkat pengetahuan orang tua, aksesibilitas fasilitas kesehatan, kesadaran orang tua untuk memeriksakan anak, peran keluarga dan lingkungan sosial, serta perbedaan pengetahuan di berbagai kelompok sosial. Berikut adalah hasil penelitian yang diperoleh melalui pendekatan kajian pustaka, yang disajikan dalam tabel di bawah ini: Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 1 Januari 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN : 2655-657X Judul Penelitian Analisis FaktorFaktor Yang Mempengaruhi Balita Stunting Dan Tantangan Pencegahannya Pada Masa Pandemi Intervensi Gizi dalam Penanganan Pencegahan Stunting di Asia: Tinjauan Sistematis Identifikasi FaktorFaktor Kejadian Stunting Tabel 1. Hasil Kajian Relevan Penulis dan Tahun Hasil Nungky Wanodyatama Hasil kajian menunjukkan ada Islami hubungan yang signifikan antara & Umu Khouroh . pekerjaan (Islami & Khouroh, 2. pendapatan dengan status stunting. Hasil memperlihatkan bahwa akses terhadap layanan kesehatan, pekerjaan ibu dan sikap terhadap 1000 HPK berpengaruh signifikan terhadap status stunting di Kabupaten Malang. Temuan ini mendorong pemerintah Kabupaten Malang untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan di masa pandemi terutama terkait dengan layanan manajemen terpadu balita sakit, pemberian kalsium pada ibu hamil dan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Atmojo. Joko Tri. Intervensi program gizi sensitif dan Handayani, , spesifik telah terbukti mampu Darmayanti, , menurunkan kejadian stunting dan Setyorini, & menangani efek jangka panjang Widiyanto. A . daristunting di berbagai negara di Asia (Atmojo. Handayani, dan Indonesia. Meskipun program Darmayanti. Setyorini, & yang dijalankan tidak sama persis. Widiyanto, 2. karena penyusunan dan pelaksanaan programdapat disusun berdasarkan Program intervensi gizi hendaknya disesuaikan dengan budaya masingmasing tempat target. Chika Apriana Didapatkan 56 balita mengalami Widyaningsih . stunting berdasarkan jenis kelamin (Widyaningsih. Didah, laki-laki 24 balita . ,8%) dan Sari. Wijaya, & Rinawan, perempuan sebanyak 32 balita . ,2%). BBLR sebanayak 32 balita . ,2%), tidak diberikan ASI Ekslusif sebanyak 48 balita . ,7%), ibu bekerja sebanyak 6 orang . ,7%), pendidikan ibu SMA sebanyak 3 orang . ,3%), usia ibu 20-35 tahun sebanyak 39 orang . ,6%), riwayat usia ibu menikah pertama O20 tahun sebanyak 44 orang . ,7%), paritas 1-2 sebanyak 41 orang . ,2%) dan pendapatan orangtua