Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. REALITA BIMBINGAN DAN KONSELING Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan DEWAN REDAKASI Pelindung dan Penasehat : Prof. Drs. Kusno. DEA. Ph. : Drs. Wayan Tamba. Penanggung Jawab : Farida Herna Astuti. Ketua Penyunting : Mustakim. Sekertaris Penyunting : Hariadi Ahmad. Keuangan : Junain Huri Penyunting Ahli Prof. Dr. Gede Sedanayasa. Prof. Dr. Wayan Maba Dr. Hj. Jumailiyah. MM Dr. Gunawan. Dr. Hari Witono. Penyunting Pelaksana : 1. Dr. Abdurrahman. : 2. Mujiburrahman. : 3. Drs. I Made Gunawan. Pelaksana Ketatalaksanaan Ahmad Muzanni. Baiq Sarlita Kartiani. Chaerul Anam. Distributor : Nuraeni. Pd. Desain Cover : Hardiansyah. MM. Alamat Redaksi: Redaksi Jurnal Realita Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Mataram Gedung Dwitiya. Lt. 3 Jalan Pemuda No. 59 A Mataram Telp. Email : bk_fip@ikipmataram. Web : ojs. Jurnal Realita Bimbingan dan Konseling menerima naskah tulisan penulis yang original . elum pernah diterbitkan sebelumny. dalam bentuk soft file, office word document (CD/Flashdisk/Emai. yang diterbitkan setiap bulan April dan Oktober setiap tahun. Diterbitkan Oleh: Program Studi Bimbingan dan Konseling. FIP IKIP Mataram. Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. DAFTAR ISI Halaman I Made Sonny Gunawan dan Nurul Huda Menumbuhkan Empati Sebagai Upaya Meningkatkan Nilai-Nilai Moralitas Siswa Melalui Pelayanan Bimbingan dan Konseling . 467 - 476 Abdurrahman dan Farida Herna Astuti Analisis Pengembangan Kurikulum Model Beauchamp di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam . 477 Ae 481 Hariadi Ahmad. Mustakim, dan Syafaruddin Hubungan antara Penyesuaian Diri dengan Berpikir Positif Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat . 482 Ae 494 Suaibun Peran Dongeng dalam Revolusi Mental . 495 Ae 500 Zainal Mustamiin dan M. Samsul Hadi Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Tipe Pemodelan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar . 501 Ae 508 Wiwiek Zainar Sri Utami Hubungan antara Pola Asuh Otoriter dengan Sikap Egois pada Siswa Kelas Vi di SMPN 13 Mataram . 509 Ae 516 Fero Sasri Julita. Syarafuddin, dan Ahmad Muzanni Pengaruh Konseling Solution Focused Brief Therapy (Sfb. Terhadap Kontrol Diri Siswa Kelas Vi Di Smpn 6 Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat . 517 Ae 524 Aluh Hartati. Baiq Sarlita Kartiani. M Chairul Anam Pengaruh Konseling Behavioristik Terhadap Prilaku Agresif Belajar Siswa 525 - 535 Lalu Jaswandi dan M. Zainal Mustamiin Pembelajaran Berbasis Etnomatematika dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Sekolah Dasar . 536 Ae 543 Eneng Garnika dan Ni Ketut Alit Suarti Pengaruh Dukungan Orang Tua Terhadap Kemandirian Anak Usia Dini di PAUD Permata Bangsa . 544 - 551 Menik Aryani. Baiq Rohiyatun, dan Fathul Azmi Hubungan Kepala Sekolah Sebagai Administrator dengan Kinerja Staf TU di Mts Se-Kecamatan Praya Timur . 552 Ae 559 Khairiyaturrizkyah, dan Nuraeni Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Disiplin Belajarp pada Siswa di SMA Negeri 1 Labuapi . 560 Ae 566 Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. Fitri Astutik, dan Muzakkir Pengembangan Sistem Informasi Penelitian Dan Pengabdian Masyarkat LPPM IKIP Mataram dalam Meningkatkan Motivasi Riset Dosen Internal 567 Ae 572 Zulkarnaen Potensi Sosial Emosi Anak Usia 4-5 Tahun . 573 - 586 Aliahardi Winata Pengaruh Penggunaan Waktu Mengakses Internet dan Handphone Terhadap Disiplin Belajar Siswa di Lombok . 587 - 595 Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGAN SIKAP EGOIS PADA SISWA KELAS Vi DI SMPN 13 MATARAM Wiwiek Zainar Sri Utami Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling. FIP. IKIP Mataram Email: wiwiek. zainar13@gmail. Abstrak: Setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, orang tua mendidik anak atas dasar kasih sayang, tapi kebanyakan orang tua hanya mementingkan kemauan diri sendiri saja, dan mengabaikan kemauan anaknya tanpa mengetahui karakter Hal seperti ini akan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Seperti pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua, yang dimana setiap keinginan orang tua harus dipenuhi oleh anak, dan apabila anak melanggar atau melawan orang tua tidak segan-segan untuk menghukum anak dengan cara memukul, sehingga anak akan terluka secara fisik dan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dengan sikap egois pada siswa kelas Vi SMP Negeri 13 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas Vi SMPN 13 Mataram yang berjumlah 134 siswa. sampel dalam penelitian ini yaitu sebagian dari seluruh jumlah siswa kelas Vi yaitu 33 siswa, dengan sampel 33 siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik product moment Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, diketahui nilai 0,347. Selanjutnya, nilai tersebut di konsultasikan dengan nilai product moment pada taraf signifikansi 5% dengan N=33, maka di peroleh nilai product moment sebesar 0,344. Kenyataan tersebut, menunjukkan bahwa nilai lebih besar dari nilai product moment atau 0,347>0,344. Dengan demikian, hasil analisis data dalam penelitian ini dinyatakan signifikan. Dan dengan demikian, hipotesis nihil ( ) ditolak, sedangkan hipotesis alternatif ( ) diterima. Berdasarkan hasil pengujian signifikasi di atas maka kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah AuAda Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Sikap Egois Siswa Di SMP Negeri 13 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018Ay, yang tergolong dalam kategori rendah. PENDAHULUAN Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan dan sangat penting bagi perkembangan serta kualitas diri individu dimasa yang akan datang. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal adanya pendidikan formal dan Pendidikan formal diperoleh dari suatu lembaga yang bertanggung jawab dan berkompetensi yaitu disekolah yang dimulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menegah Pertama (SMP). Sekolah Menengah Atas (SMA), dan berlanjut ke tingkat Perguruan Tinggi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Pendidikan yang anak dapatkan memberikan pengasuhan. Seperti halnya pola asuh otoriter, pola asuh otoriter yaitu pola asuh dimana orang tua berkuasa atas anak, semua keinginan orang tua harus dipenuhi oleh anak, dan apabila anak melanggar apa yang diperintahkan orang tua, orang tua tidak segan-segan untuk menghukum serta memukul anak. Sedangkan sikap egois yaitu sikap dimana seseorang merasa dirinya paling benar, tidak ada yang bisa menyainginya, dan menganggap orang lain rendah. Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. Orang tua dengan pola asuh otoriter cenderung banyak larangan yang diberikan kepada anak dan harus dilaksanakan tanpa menerima timbal balik berupa sanggahan dari anak. Apabila anak tidak menuruti kemauan orang tua maka orang tua akan bersikap tegas bahkan menghukum anak. Dalam perlakuan orang tua seperti ini anak akan merasa dikekang dan tidak leluasa dalam melakukan keinginannya sendiri. Hal seperti ini akan membuat anak hampa dengan kasih sayang orang tua, dan anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya menjadi salah satu faktor membentuk kepribadian anak yang egois. Memang tujuan orang tua tidak demikian, tetapi penerimaan anak tidak selalu tepat pada sasaran, yang menyebabkan anak bersikap egois kepada lingkungannya dan kepada teman sebayanya, karena merasa diperhatikan oleh orang tua tapi lebih kepada Egois termasuk dalam sikap sosial yang negatif. Anak yang berkepribadian egois akan menyayangi seseorang yang menyanginya juga, karena anak yang egois hanya mementingkan diri mereka sendiri tanpa mementingkan orang lain. Egois merupakan sikap yang tercela, karena cenderung berbuat sesuatu yang dapat merusak tatanan pergaulan didalam Anak yang egois akan membangga-banggakan dirinya sendiri, dan menganggap orang lain rendah. Anak yang egois berprilaku seperti itu karena keteladanan dari orang tua yang otoriter. Karena orang tua yang otoriter hanya mementingkan keinginan mereka sendiri tanpa memikirkan keinginan serta dampak bagi anak. Seperti yang pengamat temukan pada saat observasi awal di SMPN 13 Mataram, pada saat jam pelajaran menjelaskan alat peraga yang akan di peragakan pada saat jam pelajaran Tetapi siswa siswi tetap saja tidak bisa diam memperhatikan bapak guru yang sedang menjelaskan di depan, padahal apa yang bapak guru tersebut sampaikan sangat berguna bagi mereka. Disisi lain mereka tidak menghargai guru olahraga yang sudah membuang cukup banyak tenaga untuk menjelaskan karena lebih mementingkan kesibukan sendiri. Agar perilaku egois tersebut dapat diketahui penyebabnya, maka penelitian ini dirasa penting untuk mengetahui apakah hal tersebut ada hubungannya dengan pola asuh orang tua yang otoriter dalam keluarga atau tidak. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengambil penelitian dengan judul AuHubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Sikap Egois Pada Siswa Kelas Vi Di SMPN Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018Ay. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dengan sikap egois pada siswa kelas Vi SMP Negeri 13 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018. Berdasarkan diharapkan dapat memberi informasi hubungan antara pola asuh otoriter dengan sikap egois siswa, serta memberi informasi kepada peneliti-peneliti lain, pendidikan dan bimbingan, khususnya terhadap pentingnya pola asuh yang terjalin secara efektif antara orang tua dan anak. Serta mampu memberikan informasi kepada orang tua terkait bagaimana menjalin pola asuh yang baik, pengembangan remaja. Asumsi teoritis dalam penelitian ini adalah pola asuh otoriter, setiap orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan bagaimana kemauan dan kehendak anak. Sehingga pola asuh otoriter termasuk pola asuh yang keras, karena hanya mementingkan kehendak orang tua. Dalam pola asuh memperhatikan anak tetapi lebih kepada mengekang, karena anak tidak bisa Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. Sehingga akan berdampak negatif bagi perkembangan sikap anak. Metode penentuan subyek dalam penelitian ini akan menggunakan teknik Teknik sampel digunakan karena melihat jumlah siswa kelas Vi di SMPN 13 Mataram relatif banyak, yaitu seluruh siswa kelas Vi dan merupakan populasi penelitian yang mengharuskan peneliti mengambil sebagian siswa saja sebagai sampel penelitian, sehingga peneliti menggunakan teknik random sampling atau sampel acak untuk memudahkan dalam mengumpulkan data. Metode penelitian ini akan menggunakan metode angket dengan ketentuan sebagai berikut: variabel (X) tentang pola asuh otoriter, sedangkan untuk variabel (Y) tentang sikap egois. Metode analisis data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis statistic dengan rumus Koefisien Korelasi Product Moment. Wirawan dalam Arifin . mendefinisikan sikap sebagai kesiapan pada seseorang untuk bertindak terhadap hal-hal tertentu. Menurut Warren dan juga Cantril . alam Sobur, 2013: merumuskan sikap sebagai disposisi atau predisposisi untuk bereaksi. Sedangkan pengertian egois Menurut Yusuf dan Nurishan . 2: . , egois atau egosentrisme adalah perbuatan purapura yang tidak disadari untuk mencapai kualitas superior, dan usaha untuk menyembunyikan rendah dirinya. Surbakti . 9: . menjelaskan bahwa egoisme adalah paham yang berpusat pada diri sendiri, mementingkan diri sendiri, atau hanya memikirkan diri sendiri sehingga mengabaikan bahkan meniadakan kepentingan orang lain. Berdasarkan pendapat para ahli yang sudah dijabarkan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap egois adalah kesadaran individu untuk bertindak dimana seseorang merasa dirinya paling benar dan tidak ada pesaingnya serta menganggap orang lain Abdullah . 0: 2, bahan aja. Mendeskripsikan ciri-ciri egois sebagai berikut: Selalu menang sendiri. Tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Bersikap acuh tak acuh. Tidak mau mendengar pendapat orang lain. Memikirkan kepentingan sendiri saja. Sombong. Tamak. Lestari . 2: . , menyatakan bahwa: AuGaya pengasuhan yang otoriter dilakukan oleh orang tua yang selalu berusaha membentuk, mengontrol, mengevaluasi perilaku dan tindakan anak agar sesuai dengan aturan Aturan tersebut biasanya bersifat mutlak yang dimotivasi oleh semangat teologis dan diberlakukan dengan otoritas yang tinggi. Kepatuhan anak merupakan memberlakukan hukuman manakala terjadi pelanggaranAy. Sedangkan (Restian, 2015: . berpendapat bahwa pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang menuntut kepatuhan dan cenderung mengabaikan kretivitas. Jadi, dari pendapat ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh otoriter adalah pola asuh yang keras, karena orang tua cenderung memberikan perintah kepada anak dan harus Apabila perintah orang tua dilanggar maka orang tua tidak segan untuk menghukum anak, sehingga anak mereka terluka secara fisik maupun Baumrin dalam (Anisah, 2011: , mendeskripsikan ciri-ciri pola asuh otoriter sebagai berikut: Orang tua berupaya untuk membentuk, mengontrol dan mengevaluasi sikap dan tingkah laku anaknya secara mutlak sesuai dengan aturan orang tua. Orang tua menerapkan kepatuhan atau ketaatan kepada nilai-nilai yang terbaik menuntut perintah, bekerja dan menjaga tradisi. Orang tua senang memberi tekanan secara verbal dan kurang memperhatikan Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. masalah saling menerima dan memberi antara orang tua dan anak. Orang tua menekan kebebasan . atau kemandirian . secara individual kepada anak. Kerangka berfikir merupakan penjelasan sementara terhadap suatu gejala yang menjadi objek permasalahan . Objek permasalahan disini adalah AuHubungan pola asuh otoriter dengan sikap egois pada siswa SMP Kelas Vi SMPN 13 MataramAy. Egois atau egoisme yaitu sikap dimana seseorang merasa dirinya paling unggul dalam segalanya dan tidak ada orang atau benda apapun yang mampu menjadi pesaingnya. Pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang dimana orang tua yang terlalu mendominasi anak, bersikap keras terhadap anak, sehingga anak tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya. Dalam pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket sebagai metode pokok, metode observasi, dokumentasi pelengkap dalam penelitian yang akan Hasil data yang diperoleh menggunakan rumus korelasi product Hasil tes yang peneliti lakukan agar bisa mengurangi atau mencegah terjadinya penerapan pola asuh otoriter yang bisa menyebabkan anak kekurangan kasih sayang sehingga anak bersikap egois khususnya pada siswa SMPN 13 Mataram. METODE PENELITIAN Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 13 Mataram dengan ketentuan variabel (X) sebagai Pola Asuh Otoriter dan variabel (Y) sebagai Sikap Egois. Kemudian, dari masing-masing variabel ditentukan indikatornya yang diambil dari ciri-ciri. Selanjutnya dari masingmasing indikator dipecahkan menjadi sub indikator yang akan digunakan sebagai bahan untuk membuat kisi-kisi angket. Angket yang sudah jadi selanjutnya akan dibagikan kepada responden . untuk memperoleh data, apabila data sudah terkumpul maka data akan diolah menggunakan rumus statistik analisis Product Moment yang kemudian bisa ditarik kesimpulan. Menurut Sugiyono . 1: . populasi diartikan sebagai wilayah obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan Sedangkan menurut Sekaran . alam Hendrayadi dan Suryani, 2015: . , populasi sebagai keseluruhan kelompok orang, kejadian atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Berdasarkan kedua pengertian pendapat tersebut diatas, maka yang dimaksud dengan populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari subyek yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas Vi SMPN 13 Mataram yang berjumlah 134 siswa. Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diambil untuk diteliti dan hasil penelitiannya digunakan sebagai representasi dari populasi secara keseluruhan (Hendrayadi dan Suryani, 2015: . Pendapat lain mengatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011: Dalam penelitian ini pengambilan anggota sampel akan dilakukan dengan Proportionate Stratified Random Sampling, karena populasi mempunyai anggota yang tidak Berhubungan dengan jumlah seluruh siswa kelas Vi SMPN 13 Mataram sebagian saja dari keseluruhan siswa. Sehingga sampel dalam penelitian ini yaitu sebagian dari seluruh jumlah siswa Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. kelas Vi yaitu 33 siswa, bedasarkan sampel yang direncanakan sebanyak 25% sehingga 134 x = 33,5 dibulatkan menjadi 33 siswa. Hal tersebut diperkuat oleh Arikunto . 6: . , yang berpendapat bahwa Aujika populasi lebih dari 100, maka besarnya sampel antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebihAy tergantung setidak-tidaknya Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan Sempit pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya Besar ditanggung oleh peneliti, untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik. Instrumen penelitian adalah suatu alat menginterprestasikan informasi yang diperoleh dari para responden yang melakukan dengan menggunakan pola ukur yang sama, dalam instrumen penelitian dikenal dengan nama valid dan reliabel (Siregar, 2010: . Sedangkan menurut Darmadi . 4: . yang dimaksud dengan validitas instrumen adalah kemampuan menggambarkan keadaan suatu aspek sesuai dengan maksudnya untuk apa instrumen tersebut dibuat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket. Angket yang digunakan berupa angket terbuka karena pada prinsipnya sangat efektif dilihat dari kepentingan peneliti, karena responden dapat memberikan jawabannya sesuai dengan yang mereka pikirkan sehingga mereka dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Skala angket yang digunakan yaitu skala diantaranya adalah jawaban AuselaluAy diberi skor 4, jawaban AuseringAy diberi skor 3, jawaban Aukadang-kadangAy diberi skor 2, dan jawaban Autidak pernahAy diberi skor 1 (Sugiyono, 2011: . Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode angket sebagai metode pokok, dokumentasi, serta wawancara sebagai metode pelengkap. Angket atau yang sering disebut sebagai kuesioner yaitu dimana dalam kuesioner tersebut terdapat beberapa macam pertanyaan yang berhubungan erat dengan masalah penelitian yang hendak dipecahkan, disusun, dan disebarkan ke responden untuk memperoleh informasi di lapangan (Sukardi, 2003: . Sedangkan ahli lain berpendapat bahwa angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons sesuai dengan permintaan pengguna (Riduwan, 2013: 25-. Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan adalah teknik pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan dan pernyataan kepada responden untuk memperoleh informasi tentang masalah yang akan dipecahkan. Menurut Yusuf . 4: . salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui atau menyelidik tingkah laku nonverbal yakni dengan menggunakan teknik observasi. Sedangkan menurut Noor . 1: . ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian. Ahli lain berpendapat bahwa observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan (Riduwan, 2013: . Berdasarkan pendapat para ahli diatas, yang dimaksud dengan observasi adalah teknik yang digunakan peneliti untuk mengawasi mengenai tingkah laku objek secara langsung. Dokumentasi merupakan bagian yang dapat mendukung dalam proses mengungkapkan dan mendeskripsikan Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. hasil penelitian, dokumentasi yang dikumpulkan yaitu dokumentasi yang berhubungan dengan lokasi penelitian, surat-surat tentang pelaksanaan kegiatan, (Abdurrahman, 2017: . Menurut Sukardi . 3: . dokumentasi yaitu dimungkinkan memperoleh informasi dari bermacam-macam sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden atau tempat, dimana responden bertempat tinggal atau melakukan kegiatan sehariharinya. Dari pendapat para ahli diatas, dokumentasi yaitu teknik penelitian yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi berupa sumber tertulis, atau yang berhubungan dengan tempat dimana responden yang diteliti. Menurut Sugiyono . 4: . wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik Sedangkan menurut Sukardi . 3: . wawancara yaitu teknik dimana peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek yang diteliti. Dari kedua pendapat ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa wawancara dalam sebuah penelitian adalah metode yang dilakukan dilakukan secara tatap muka dengan Analisis data dilakukan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang sudah diajukan. Hasil kesimpulannya (Hendryadi dan Suryani, 2015: . Menurut Arikunto . berpendapat bahwa mengolah data berarti mengatur atau mengorganisir. Mengatur dan mengorganisir berarti sistematis, sehingga dapat dengan mudah dan cepat dimengerti yang berkaitan dengan masalah diteliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik product moment. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis data di atas, diketahui nilai sebesar 0,347. Selanjutnya, konsultasikan dengan nilai moment pada taraf signifikansi 5% dengan N=33, maka di peroleh nilai product moment sebesar 0,344. Kenyataan tersebut, menunjukkan bahwa lebih besar dari nilai product moment atau 0,347>0,344. Dengan demikian, hasil analisis data Dan dengan demikian, hipotesis nihil ( ) ditolak, sedangkan hipotesis alternatif ( ) diterima. Berdasarkan hasil pengujian signifikasi di atas maka kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah AuAda Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Sikap Egois Siswa Di SMP Negeri 13 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018Ay, yang tergolong dalam kategori rendah. Sesuai dengan pedoman interpretasi Product Moment menurut Sugiyono . 4: . KESIMPULAN DAN SARAN Setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, orang tua mendidik anak atas dasar kasih sayang, tapi kebanyakan orang tua hanya mementingkan kemauan diri sendiri saja, dan mengabaikan kemauan anaknya tanpa mengetahui karakter anak. Hal seperti ini akan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Seperti pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua, yang dimana setiap keinginan orang tua harus dipenuhi oleh anak, dan apabila Wiwiek Zainar Sri Utami Jurnal Realita Volume 3 Nomor 5 Edisi April 2018 Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram ISSN . 3 Ae 1. anak melanggar atau melawan orang tua tidak segan-segan untuk menghukum anak dengan cara memukul, sehingga anak akan terluka secara fisik dan Hal kepribadian anak yang egois, salah satu faktor anak menjadi egois yaitu karena kurangnya kasih sayang. Dengan cara orang tua seperti itu, menghukum anak, maka anak akan merasa kurang diperhatikan dan kurang diberikan kasih sayang oleh orang tua. Sehingga akan membentuk kepribadian anak yang egois. Anak yang egois akan menyanyangi seseorang yang menyanyangi mereka Jadi, sudah jelas bahwa pola asuh yang otoriter berhubungan dengan sikap egois siswa. Maka berdasarkan hasil analisa data pada bab IV dalam penelitian ini diketahui bahwa nilai rhitung lebih besar dari rtabel padataraf signifikansi 5% dengan jumlah N=33 orang, atau . hitung 0,347>rtabel 0,. yang berarti hasil penelitian ini adalah signifikan, dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa AuAda Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Sikap Egois Siswa Kelas Vi Di SMP Negeri 13 Mataram Tahun Pelajaran 2017/2018Ay, dan berada pada kategori hubungan yang rendah. Saran dalam penelitian ini adalah :. Bagi Kepala Sekolah hendaknya lebih menekankan kepada semua guru memahami karakter siswa, agar tidak terjadinya hal-hal yang berdampak begatif bagi siswa, karena anak-anak di usia menengah pertama ini masih sangat labil dan perlu diperhatikan lebih baik perkembangannya . Bagi Guru BK agar selalu memperhatikan dan memahami sikap dan karakter siswa, serta tidak memukul, karena dengan begitu siswa akan merasa kurang akan kasih sayang Bagi orang tua hendaknya lebih memperhatikan kemauan serta sikap anaknya, seperti tidak memaksakan kehendak anak untuk selalu mentaati perintah sedangkan tidak sesuai dengan mengantisipasi dampak buruk yang akan terjadi kepada perkembangan anak . Bagi siswa hendaknya tidak mengikuti kemauan orang tua apabila tidak sesuai dengan kemauan, apapun alasan yang menjadi acuan tidak sesuainya kemauan bisa di diskusikan baik-baik dengan orang tua, bukan dengan cara melawan Bagi peneliti lain hal ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan penelitian yang lebih terhadap aspekaspek yang belum terungkap dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA