Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 16-20 Publisher: CV. Doki Course and Training E-ISSN: 2985-8070iCP-ISSN: 2986-7762 Dampak Dzikir terhadap Kecemasan Santri di Pondok Pesantren Al Latifiyyah Palembang Ulin Nuha1. Ike Utia Ningsih2 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang1,2 Corresponding email: ulinnuhabta@gmail. ARTICLE INFO Article History Submission: 26-06-2025 Review: 12-07-2025 Revised: 22-11-2025 Accepted: 23-11-2025 Published: 06-01-2026 Kata kunci Dzikir Kecemasan Santri ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dapak dzikir terhadap kecemasan santri penghafal al quran di pondok pesantren al latifiyyah. Penelitian menggunakan desain penelitian kualitatif yang memiliki karakteristik bersifat deskriptif dengan melalui metode observasi dan Temuan ini kemudian dianalisis dengan menggunakan aspek-aspek kecemasan menurut Deffenbacher dan Hazeleus menggunakan tiga aspek utama yaitu Worry (Kekhawatiran Berlebiha. Emotionality (Gejolak Emosional dan Keteganga. TaskGenerated Interference (Gangguan Saat Menjalankan Aktivita. Dengan demikian, dzikir dapat menjadi strategi spiritual efektif dalam meredakan kecemasan santri di tengah kompleksitas kehidupan Pendahuluan Cemas merupakan keadaan yang sangat umum terjadi pada tahap perkembangan remaja yang berganti menjadi dewasa dimana banyak masalah yang muncul tanpa Kecemasan adalah keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengelih bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi, banyak hal yang harus dicemaskan misalnya, kesehatan, relasi sosial, ujian, karier, dan kondisi lingkungan. (Nevid, 2. Maka dari pada itu dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan respon alami tubuh terhadap sesuatu yang dianggap ancaman. Dalam agama islam dzikir merupakan cara seorang hamba mengingat Allah SWT, yang mana dzikir secara bahasa berarti ingat, sesuai dengan firman Allah SWT n AE aa eO aE eO aOaE a eEAa a eO aIA e a eE aa eOIa eO a eE ea aE eI aOA Artinya: AuKerena itu, ingatlah kamu kepada-ku niscaya aku ingat . kepada mu dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu mengingkari . ikmat-k. Ay (Q. Al-Baqarah:. Website : http://jurnal. org/index. php/JIPBS/index Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 16-20 a AEac a eOIa aIIa eO aO a e aI aiOIac CaEa eOa aN eI a aE aeA a a AcEEa a e aI aiOIac eECaEa eOA AcEEa aaE a aE aeA Artinya: Au Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat allah. Ingatlah hanya dengan mengingat allah-lah hati menjadi tentram. Ay (Q. Ar-RaAod:. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa dzikir memiliki dampak yang sangat positif bagi ketentraman jiwa seorang manusia, dimana dengan mengingat allah hati dapat menjadi tentram sesuai dengan penjelasan dari surah Ar-RaAod ayat 28, sedangkan surah al baqarah pada ayat 152, menjelaskan bahwa dengan mengingat allah swt, maka manusia cenderung akan menghindari bentuk prilaku-prilaku yang negatif sehingga akan timbul rasa syukur akan luasnya nikmat yang telah allah berikan. Dzikir yang digunakan dalam penelitian ini memiliki empat kalimat yaitu tahmid . , tasbih . , takbir . , tahlil . Dimana keempat kalimat ini menggambarkan dari tanda-tanda kekuasan allah SWT mulai dari pujian kepada allah tuhan semesta alam, hingga kesaksian bahwasanya tiada tuhan selain allah SWT. Proses pensucian jiwa atau diri dengan cara berzikir akan membawa dampak yang sangat positif bagi manusia dalam perjalanannya menuju kesempurnaan hidup yang hakiki dan untuk ketenangan jiwanya (Ilyas, 2. Metode Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif yang merupakan bentuk pengumpulan data dengan metode deskriptif yang bersifat naratif seperti wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami konteks dan dinamika suatu fenomena melalui pendekatan deskriptif dan interpretatif, di mana peneliti berinteraksi langsung dengan subjek penelitian untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Hal ini diperjelas dengan pernyataan "Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena dari apa yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainyaAy. (Haris Herdiansyah: 2. Wawancara dilakukan di pondok pesantren latifiyaah pada tanggal 1 juni 2025, dengan durasi wawancara 30 menit dengan teknik wawancara yaitu semi terstruktur. Prosedur observasi untuk keadaan subjek dilakukan ketika wawancara dan berdasarkan pengalaman peneliti ketika hidup bersama subjek lebih kurang 2 tahun ketika berada di pondok pesantren al latifiyyah. Variabel dalam penelitian ini adalah dzikir dan kecemasan dimana subjek dalam penelitian ini merupakan santri pondok pesantren al latifiyyah palembang. Pendekatan yang digunakan adalah bersifat kualitatif yang memiliki karakteristik bersifat deskriptif. Data yang yang dikumpulkan berupa data pertama langsung dari sumbernya, peneliti menjadi bagian dari instrumen pokok analisisnya, kedua data berupa kata-kata dalam kalimat atau gambar yang mempunyai arti (Sutopo, 2. Ulin Nuha et. al (Dampak Dzikir terhadap KecemasanA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 16-20 Hasil dan Pembahasan Subjek dalam penelitian ini merupakan seorang santri dari pondok pesantren allatifiyyah palembang yang berinisial DS dengan umur 21 tahun. DS saat ini berada dalam fase perkembangan remaja yang penuh dengan berbagai persoalan mulai dari pencarian jati diri, bayangan akan apa yang dilakukan dimasa depan, hingga ketakutan menghadapi umur quarter-life crisis yang berhubungan dengan karir dimasa depan, bahkan tidak jarang subjek merasa diganggu oleh hal-hal mistis sehingga subjek merasa jika ia diganggu oleh jin yang sejenis makhluk astral yang tidak kasat mata. Setelah diamati lebih dalam seluruh kecemasan yang muncul ini dapat dipicu oleh pengaruh lingkungan sosial, keluarga, bahkan pendidikan. Untuk mengolah emosi yang muncul dalam dirinya, subjek memilih menerapkan dzikir dalam keadaan menyendiri setelah sholat, atau ketika subjek sedang membuat setoran Temuan ini kemudian dianalisis dengan menggunakan aspek-aspek kecemasan menurut Deffenbacher dan Hazeleus . alam Ghufron & Risnawita, 2. mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan adalah: Worry (Kekhawatiran Berlebiha. DS sering memikirkan tentang masa depannya terutama mengenai identitas dirinya dan ketakutan akan quarter-life crisis. Ia mulai khawatir apakah bisa berhasil, bagaimana kariernya nanti, dan hal-hal yang belum terjadi namun terus Ini menunjukkan bahwa DS mengalami worry, yaitu kecemasan yang muncul dari pikiran-pikiran negatif tentang apa yang akan terjadi. Ia seperti terjebak dalam lingkaran pertanyaan yang belum punya jawaban, dan hal ini membuat pikirannya tidak tenang. Emotionality (Gejolak Emosional dan Keteganga. Selain dari sisi pikiran. DS juga mengalami kecemasan secara emosional. Ia kerap merasa takut, bahkan merasa diganggu oleh hal-hal mistis seperti jin atau makhluk tak kasat mata. Ketakutan ini mungkin bukan sekadar keyakinan spiritual, tapi bisa jadi juga merupakan respons emosional terhadap tekanan batin yang tidak bisa ia Perasaan takut ini bisa datang tiba-tiba, dan menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami bukan hanya di pikiran, tapi juga terasa di hati dan Task-Generated Interference (Gangguan Saat Menjalankan Aktivita. DS juga merasakan bahwa kecemasan mempengaruhi kegiatannya sehari-hari. Ketika ia merasa cemas, pikirannya mudah terganggu, termasuk saat sedang Untuk meredakan rasa gelisah itu, ia memilih untuk menyendiri dan berdzikir setelah sholat. Ini adalah cara DS menenangkan diri, agar bisa kembali Artinya, kecemasan sudah sampai pada titik di mana ia perlu strategi khusus untuk mengatasinya agar aktivitasnya tidak terganggu. Hal ini didukung oleh temuan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa dzikir mampu memberikan ketenangan batin, menurunkan tingkat kecemasan, serta meningkatkan Ulin Nuha et. al (Dampak Dzikir terhadap KecemasanA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 16-20 kemampuan koping religius pasien dalam menghadapi terapi hemodialisis (Kisfandari. Sehingga tidak mengherankan jika dengan melafalkan dzikir, santri belajar mengalihkan kecemasan menjadi rasa yakin bahwa Allah akan memudahkan hafalan Dzikir menumbuhkan ketenangan, memperkuat fokus, dan menjadikan perjalanan menghafal Al-QurAoan bukan sekadar proses intelektual, melainkan juga pengalaman ruhani yang mendekatkan diri kepada Allah. Kesimpulan Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kecemasan seringkali hadir tanpa diundang sering kali ia menyelinap perlahan saat kita dihadapkan pada pilihan, beban harapan, atau bahkan sekadar memikirkan masa depan yang belum pasti. Bagi santri, yang tengah menapaki masa remaja menuju dewasa, perasaan ini menjadi begitu nyata. Pikiran bisa terasa berat, hati mudah gelisah, dan rutinitas pun terganggu. Seperti yang dijelaskan oleh Deffenbacher dan Hazeleus, kecemasan tak hanya muncul dalam pikiran, tapi juga merambat ke emosi dan cara kita bertindak. Dalam ruang batin yang penuh keraguan, seseorang butuh tempat untuk kembali pulih, dan merasa aman kembali. Dalam konteks inilah dzikir hadir, bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai bentuk keintiman spiritual yang menguatkan jiwa. Berdasarkan temuan penelitian ini, dzikir membantu menenangkan pikiran, melembutkan hati, dan mengurai kegelisahan secara Empat kalimat sederhana yaitu tahmid, tasbih, takbir, dan tahlil yang menjadi jembatan untuk kembali pada Allah dan pada ketenangan diri. Sejalan dengan makna AlBaqarah:152 dan Ar-RaAod:28, dzikir membuka ruang bagi rasa syukur dan ketentraman untuk tumbuh. Kesimpulannya, dzikir bukan sekadar bacaan, tetapi juga pelukan sunyi yang membuat hati lebih kuat saat dunia terasa berat. sehingga dapat disimpulkan bahwa dzikir berperan sebagai salah satu strategi spiritual yang efektif dalam mengelola kecemasan pada santri, baik dari aspek kognitif, emosional, maupun perilaku sebagaimana yang telah dijelaskan melalui aspek kecemasan menurut Deffenbacher dan Hazeleus. Referensi