Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita pada Siswa Kelas B Taman Kanak-Kanak AnNahl Bandar Lampung Wahyuning Suryandari Taman Kanak-kanak An-Nahl Bandar Lampung suryandari@gmail. Abstract: This study aims to improve activities and learning outcomes of storytelling using video props in Class B students of An-Nahl Kindergarten Bandar Lampung in the 2019/2020 academic year. The method used in this research is the Classroom Action Research method or classroom action research which is carried out in 3 cycles, consisting of planning, implementation, observation and reflection. The research was carried out from August to September 2019 with a total of 18 The results of the research and observations obtained in the first cycle which scored 62 as many as 12 people, or 67%, with an average of 54 in the Enough category. In the second cycle, 15 students scored 62 or 83% with an average of 70 in the Good category. Meanwhile, in the third cycle, 18 students scored 62 or 100% with an average of 80 in the very good category. Observations of learning activities showed that the first cycle of students was 54% active, the second cycle was 70% active, and the third cycle was 80% active. Thus, the use of video can improve activities and learning outcomes for storytelling in Class B students of An-Nahl Kindergarten Bandar Lampung for the 2019/2020 academic Keywords: activity aids, learning outcomes PENDAHULUAN Pembelajaran keterampilan berbahasa pada hakikatnya adalah pembelajaran yang menekankan pada keterampilan berbahasa Indonesia. Tata cara berbahasa, kosa kata, dan sastra disajikan dalam konteks, yaitu dalam kaitannya dengan keterampilan tertentu yang sedang diajarkan, bukan sebagai pengetahuan. Pembelajaran Berbahasa bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menurut Tarigan . keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu: . keterampilan menyimak . istening skill. keterampilan berbicara . peaking skill. keterampilan membaca . eading skill. keterampilan menulis . riting skill. Keempat keterampilan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Setiap keterampilan erat hubungannya dengan proses berpikir yang mendasari berbahasa. Cara berbahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir. Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, guru benar-benar menyadari bahwa yang menjadi tugas utamanya adalah membentuk siswa agar memiliki kemampuan berbahasa dengan baik, artinya siswa harus terampil menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, baik dalam menyimak, menulis maupun berbicara atau bercerita. Menurut Rahman, dkk. , keterampilan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi akan tercapai apabila siswa diberi kesempatan lebih banyak untuk memahami teori serta berlatih menyimak, menulis, berbicara dan bercerita. Salah satu dari empat keterampilan berbahasa tersebut adalah keterampilan Menurut Tarigan . , berbicara adalah mengkomunikasikan atau menjelaskan lambang-lambang yang menggambarkan sesuatu dengan bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat memahami informasi yang disampaikan tersebut maka penerima informasi memahami yamg dijelaskan memahami yang dijelaskan. Kemampuan bercerita yang terdapat dalam kurikulum antara lain: bercerita tentang yang diketahui, dirasakan dibutuhkan, dan dipikirkan melalui bercerita atau Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar Dongeng merupakan cerita tradisional yang terdapat di masyarakat sejak zaman dahulu, berasal dari generasi terdahulu. Peristiwa yang diceritakan menggambarkan peristiwa dahulu kala, bukan peristiwa era sekarang. Dalam Kompetensi Berbahasa Usia 5 Tahun sampai dengan 6 Tahun di TK dijelaskan, kompetensi KI-3 Mengenali diri, keluarga, teman, pendidik, lingkunghan sekitar, agama, teknologi, seni dan budaya dirumah, tempat bermain dan Satuan PAUD dengan cara mengamati dengan indra . elihat, menyimak, menghidu, merasa, merab. menanya, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan melalui kegiatan bermain. KI-4. AuMenunjukkan yang diketahui, dirasakan, dibutuhkan dan dipikirkan melalui Berbahasa, musik , gerakan, dan karya secara produktif dan kreatif, serta mencerminkan perilaku anak berakhlak muliaAy. Adapun kompetensi dasarnya adalah. KD 4. 7 Menyajikan berbagai karya yang berhubungan dengan lingkungan sosial . eluarga, teman, tempat tinggal, ibadah, budaya, transfortas. dalam bentuk gambar, bercerita, bernyanyi, dan gerak tubuh. KD 4. Menyajikan berbagai karya yang berhubungan dengan lingkungan alam . ewan, tumbuhan, cuaca, tanah, air, batu-batuan, dl. dalam bentuk gambar, bercerita, bernyanyi, dan gerak tubuh. Agar kompetensi dasar tersebut dapat dicapai oleh siswa secara optimal perlu diupayakan proses pembelajaran Berbahasa yang dapat merangsang pertumbuhan minat dan bakat siswa terhadap ekspresi sastra, yaitu dengan memberi kesempatan yang seluas- Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . luasnya kepada siswa untuk mengembangkan bakatnya dengan banyak-banyak berlatih bercerita, yang tentunya dibawah bimbingan guru menggunakan sumber yang bervariasi. Guru sebagai manajer pembelajaran harus mampu mendesain pembelajaran sehingga siswa aktif dan termotivasi untuk gemar bercerita atau mendongeng, misalnya melalui, menggunakan alat peraga yang tepat, memilih pesan moral sesuai karakteristik siswa kegiatan lomba bercerita atau mendongeng dan kegiatan lain yang sesuai. Dengan kegiatan lomba bercerita atau mendongeng, diharapkan siswa akan termotivasi untuk terus Berbahasa yang benar, sehingga mencapai hasil yang Dengan kegiatan bercerita, siswa diarahkan agar selalu menyampaikan pengalamannya, dan dengan itu siswa merasa bangga karena apa yang dialaminya di dengar dan diketahui oleh teman-temannya atau orang lain, yang pada gilirannya akan membangkitkan motivasi dan minatnya untuk selalu bercerita atau Namun, kenyataan dilapangan yang penulis jumpai, khusunya TK An-Nahl Bandar Lampung, dalam pembelajaran bercerita, guru masih lemah sumber belajar, dan pembelajaran sebagian besar berlangsung secara konvensional tanpa ada kegiatan tambahan, seperti lomba bercerita mendongeng dan pemberian penghargaan pada siswa yang terbaik kemampuan dalam bercerita, padahal media ini tersedia di sekolah. Selain itu, siswa juga kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, karena biasanya sumber belajar terpaku pada buku, dan kegiatan mensosialisasikan serta diseminasi kemampuan siswa bercerita terhadap lingkungan sosial masih sangat kurang. Akibat proses pembelajaran yang masih bersifat konvensional seperti ini adalah rendahnya kemampuan siswa bercerita atau mendongeng. Hal ini dibuktikan dengan nilai kemampuan siswa kelas B Aumenceritakan kembali isi cerita yang ditayangkan atau berceritaAy masih rendah. Data tentang kemampuan siswa menceritakan kembali isi cerita atau bercerita, hasil pra survey disajikan dalam tabel sebagai berikut. Tabel 1. Data Kemampuan siswa Pra Penelitian Kriteria Hasil Jumlah Rentang Hasil Belajar Belajar Siswa < 70 Tuntas Prosentase > 70 Tidak tuntas Jumlah Sumber : Arsip Guru Dari data pada tabel di atas, diketahui bahwa kemampuan siswa menceritakan kembali atau bercerita masih rendah. Jika dikonsultasikan dengan kreteria ketuntasan minimum (KKM) pelajaran Berbahasa di TK An-Nahl Bandar Lampung yaitu 70, maka siswa yang sudah tuntas 8 orang ( 47%), dan siswa yang belum tuntas belajar 10 orang . %). Salah satu penyebab rendahnya kemampuan Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . siswa tersebut adalah kualitas pembelajaran Berbahasa Indonesia yang masih Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi cerita atau bercerita pada siswa kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung melalui penelitian tindakan, dengan pembelajaran yang memanfaatkan Video sebagai media/ alat pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar bercerita menggunakan Video pada siswa kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020. Secara rinci tujuan penelitian adalah untuk: . meningkatkan aktivitas belajar aktivitas belajar bercerita menggunakan Video pada siswa kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020. meningkatkan Hasil belajar aktivitas belajar bercerita menggunakan Video pada siswa kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020 . KAJIAN TEORI Aktivitas Belajar Menurut Ahmadiyanto . , aktivitas belajar adalah suatu proses kegiatan belajar siswa yang menimbulkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku atau Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran untuk membelajarkan Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekan pada aktivitas siswa. Belajar bukanlah menghapal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental. Aktivitas belajar merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Dengan melakukan berbagai aktivitas dalam kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri tentang konsepkonsep dengan bantuan guru sebagai fasilitator. Sedangkan Masitoh . menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah seluruh kegiatan belajar siswa baik jasmani maupun rohani yang mendukung keberhasilan. Berdasar pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siwa dalam proses pembelajaran sangat menentukan, kondisi belajar akan baik dan aktif atau tidak. Dengan metode kerja siswa aktivitas siswa akan dikembangkan dan siswa akan dapat belajar menyelesaikan masalah yang dihadapi secara bekerja sama. Hasil Belajar Siswa Hasil belajar adalah kemampuan nyata yang dapat langsung diukur dengan testertentu dan dapat dihitung hasilnya, menurut Zainal dalam Sagala . 5: . , hasil belajar merupakan hasil usaha siswa, yang dapat dicapai saat dilakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap berbagai hal Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . yang pernah dilatihkan/diajarkan, sudah dapat diperoleh gambaran nyata tentang pencapaian program pembelajaran secara menyeluruh. Di samping itu. Hamalik . menyatakan hasil belajar adalah suatu terminologi yang menggambarkan suatu proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut mempersyaratkan perubahan yang relative permanen berupa sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan dan keterampilan melalui pengalaman. Skiner dengan teori operant conditioning sebagaimana dikutip Gredler dalam Slameto . menyatakan bahwa, hasil belajar merupakan respon tingkahlaku yang baru. Walau pun demikian namun pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku/ pengetahuan, sikap. Sedangkan Gagne dalam Slameto . berpendapat bahwa belajar ialah seperangkat kognitif yang menguabah sifat stimulasi dari lingkungan yang menjadai beberapa tahapan pengelolaan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas baru, kapabilitas inilah yang disebut hasil belajar. Berarti belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkahlaku yang berlainan seperti: pengetahuan, sikap keterampilan informasi, dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlainan inilah yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar. Bloom dan kawan-kawan sebagaimana dikutip oleh Dengeng dalam Hamalik . 9: . , mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga domain atau ranah yaitu Auranah kognitif, psikomotor dan afektifAy, ranah kognitif menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan keterampilan intelektual, ranah psikomotor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik, dan ranah afektif berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai dan emosi. Dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan ketiga kategori kapabilitas dan hasil belajar tersebut, banyak dipengaruhi oleh faktor internal seperti, pengetahuan awal dari masing-masing ketegori hasil belajar yang dimiliki oleh siswa, serta berkaitan dengan keterampilan yang sedang dipelajari. Selanjutnya. Winkel . 4:109-. berpendapat bahwa, hasil belajar merupakan suatu kemampuan internal . siswa yang telah menjadi milik pribadi dan kemungkinan siswa melakukan sesuatu atau memperoleh prestasi tertentu . Memperhatikan pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perolehan yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melewati kegiatan belajar. Dalam hal ini tercermin adanya perubahan baik perilaku maupun penguasaan materi pelajaran, sehingga dapat membentuk keterampilan, sikap, pengetahuan dan nilai yang dapat dipengaruhi faktor lingkungan sosial, budaya, fisik, spiritual, jasmaniah, rohaniah, psikologi dan kematangan fisik maupun non Hasil belajar yang diharapkan adalah hasil proses pembelajaran yang mencakup ranah kognitif/ pengetahuan, afektif/ sikap dan psikomotor/ keterampilan, mencapai 60% dari pembelajaran yang diturunkan dari indikator, kompetensi dasar dan standar kompetensi yang diperoleh siswa. Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Kriteria Hasil Belajar Kriteria hasil belajar pada penelitian ini adalah: ketercapaian kompetensi dasar yang dipelajari siswa. Tujuan Kognitif terbagi 6 siswa yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis sintesis, dan evaluasi. Kata operasionalnya antara lain menyebutkan, menunjukkasn, memilih, mendefinisikan dan sebagainya. Tujuan Afektif ada 5 siswa yaitu: penerimaan atau perhatian, jawaban atau sambutan, penghargaan, pengorganisasian dan karakterisasi nilai. Sikap yang lebih khusus seperti bertanya, memilih, menjawab, mengikuti, menjelaskan, menolak, menceritakan dan sebagainya. Tujuam psikomotor ada 7 siswa yaitu penginderaan, kesiapan tindakan, respon/ sambutran terbimbing, mekanisme tindakan yang otomatis dan kebiasaan bertindak, keterampilan yang hati-hati, adaptasi dankeaslian tindakan (Suparman, 2005: . Faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Sunarto . , faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain faktor yang terdapat dalam diri siswa (Inter. , dan faktor yang ada di luar diri siswa . Faktor intern berasal dari dalam diri anak bersifat biologis, sedangkan faktor ekstern faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yang sifatnya diluar diri siswa. Adapun yang dapat digolongkan kedalam faktor intern yaitu, kecerdasan, intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Faktor-faktor yang termasuk faktor ekstern berupa pengalaman belajar, keadaan keluarga, lingkungan fisik, lingkungan spiritual, dan sebagainya. Kemampuan Bercerita atau Mendongeng Kemampuan merupakan gambaran hakikat kualitas dari prilaku yang tampak sangat berarti (Usman, 2. Kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Jadi kemampuan adalah suatu yang mungkin atau telah dapat dilakukan oleh individu dalam suatu situasi tertentu (Wicaksono, dkk. , 2. Menurut Taringan . , bercerita adalah menginformasikan sesuatu pesan yang digambarkan melalui kalimat dengan bahasa yang dipahami oleh seseorang dan orang lain, sehingga orang lain dapat menerima dan memahami informasi atau pesan tersebut jika mereka memahami kalimat yang disampaikan itu. Sedangkan menurut Mohamad Yunus . , bercerita dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan . dengan menggunakan bahasa lisan sebagai alat atau medianya. Dengan demikian dapat diartikan bahwa bercerita adalah kegiatan menyampaikan pesan . agasan, perasaan, informas. secara lisan kepada pihak lain menggunakan bahasa lisan. Dongeng adalah cerita rakyat yang pada dasarnya disampaikan secara lisan. Peristiwa yang diungkapkan dianggap pernah terjadi pada masa lalu atau Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . merupakan suatu kreasi semata yang didorong oleh keinginan untuk menyampaikan pesan atau amanat tertentu, atau merupakan suatu upaya untuk memberi atau mendapatkan hiburan (Efendi Sanusi, 2. Menurut Danandjaja . , dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng biasanya mempunyai kalimat pembuka dan penutup yang bersifat klise. Biasanya dimulai dengan kalimat AuPada suatu waktu hidup seseorang. Ay dan ditutup dengan kalimat Audan mereka hidup bahagia selama-lamanyaAy. Bedasarkan pengertian bercerita dan pengertian cerita atau dongeng di atas, dapat dikemukakan bahwa bercerita cerita adalah kegiatan menyampaikan pesan . agasan, perasaan, dan informas. tentang cerita rakyat pada masa lalu kepada pihak lain menggunakan bahasa lisan sebagai medianya. Bercerita atau Mendongeng Dalam menceritakan kembali isi cerita atau dongeng yang ditayangkan, harus diperhatikan adalah: . Kesesuaian isi cerita atau dongeng dengan lisan yang . Ketepatan penggunaan bahasa lisan. Ketepatan menyebutkan nama tokoh yang berperan. Kepaduan cara bercerita dengan karakter tokoh. Untuk menghasilkan suatu cerita, tentunya harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu: Kelengkapan. Sebuah paragrap yang di lisankan setidaknya terdiri atas pikiran utama dan pikiran penjelasan lisan . Kesatuan. Sebuah paragrap harus memiliki gagasan pokok yang tersirat pada kalimat utama. Urutan kalimat. Kalimat-kalimat disusun dengan baik dan rutut sesuai dengan urutan jalan pikiran . eduktif-induktif, intuktif-dedukati. maupun sesuai dengan urutan kejadian . arasi atau deskrips. Koherensi. Hubungan antar kalimat jelas sehingga dapat tergambar secara padu (Wicaksono & Akhyar, 2. Media Pembelajaran Video Istilah media berasal dari Berbahasa Latin yang merupakan bentuk jama dari AumediumAy yang secara hafiah berarti peralatan atau pengantar. Secara umum media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi (Rahadi Aristo, 2003: . Menurut Ahmad Rohani . media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dikemukakan bahwa media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran . untuk menyampaikan suatu pesan . atau informasi dari suatu sumber . kepada penerima . Dalam dunia pembelajaran pada umumnya pesan atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi yaitu guru sedangkan sebagai penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang dikomunikasikan berupa sejumlah kemampuan sikap yang perlu di teladani oleh para siswa. Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dlam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil belajar secara efisien, serta tujuan pembelajaran dapat tercapai secara mudah (Ahmad Rohani, 1997: . Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan, yang fungsinya memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar. Videoa dalah media audio visual yang terdiri dari perangkat keras yang berupa alat perekam . dan perangkat lunak yang berupa program dalam CD rekaman. Menurut Ahmad Rohani, . Video dapat digunakan untuk program pendidikan, dan merupakan media yang sudah memasyarakat hingga ke Video sangat sesuai untuk melatih keterampilan ekspresi dan komprehensi baik secara lisan atau gambar, dan melatih keterampilan komprehensi menyimak yang dilakukan dengan menampilkan atau menayangkan rekaman sebuah cerita, kemudian guru memberi tugas yang berkaitan dengan apa yang ditayangkannya melalui pemutaran rekaman cerita tersebut. Langkah Penggunaan Video dalam Pembelajaran Bercerita Berikut ini adalah langkah-langkah program pembelajaran melalui media Video menurut Sudirman . Tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan Menetapkan topik pembelajaran Merumuskan tujuan pembelajaran Menetapkan pokok-pokok materi pembelajaran Menentukan format penyajian. Tahap Produksi . , kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah: Menyiapkan peralatan penyetelan. Menyimpan CD di tempat yang aman. Menyiapkan lembar informasi tambahan Menyiapkan tempat Melaksanakan penayangan Tahap penyajian, secara garis besarnya cara penyajian pembelajaran bercerita cerita atau dongeng menggunakan media Video dijelaskan sebagai Guru memberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai maksud dan tujuan menggunakan Video Intruksi dikomunikasikan melalui pemutaranfilem cerita. Apa yang harus dilakukan siswa sudah terangkum dalam intruksi itu. Siswa menyimak menggunakan multi indera memahami cerita atau dongeng, dan beberapa rangsangan yang berkaitan dengan pokokpokok dongeng Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Instruksi berikutnya adalah perintah untuk bercerita dongeng sesuai dengan pokok-pokok dongeng yang telah ditetapkan. Siswa mempresentasikan hasil belajar, dan siswa yang lain memberi METODE Penelitian ini dilakukan di TK An-Nahl Bandar Lampung. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah siswa Kelas B Tahun Pelajaran 2019/2020 yang jumlahnya 18 orang. Dalam mengungkap pengetahuan awal dan akhir siswa, sedangkan sebagai objeknya adalah kemampuan siswa menceritakan isi cerita atau dongeng yang ditayangkan. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengkaji, merefleksi secara kritis dari penerapan metode dan strategi pembelajaran Berbahasa Indonesia di Kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung, dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Metode yang digunakan adalah penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pemilihan metode penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa penelitian Tindakan kelas (PTK) mampu memperbaiki dan meningkatkan professional guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Untuk mengetahui efektifitas menggunakan Video dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar bercerita, penulis melakukan tindakan, langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini secara besarnya adalah sebagai berikut. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembelajaran Berbahasa Indonesia di kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung Membuat rencana tindakan yang akan diberikan kepada siswa, yaitu tindakan pembelajaran konsep AuMenceritakan isi ceritaAy Melaksanakan pembelajaran siklus pertama diikuti dengan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan , dan membuat catatan lapangan atau jurnal berdasarkan hasil pengamatan Refleksi, yaitu kegiatan mengadakan evaluasi pelaksanaan tindkan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dari pelaksanaan tindakan. Revisi hasil tindakan tentang kelemahan-kelemahan dalam rangka uji coba pada pelaksanaan tindakan siklus berikutnya. Melaksanakan tindakan siklus kedua, yang merupakan hasil refleksi dan revisi dari tindakan siklus pertama, diikuti dengan pengamatan dan membuat catatan berdasarkan hasil pengamatan. Refleksi dan revisi terhadap kelemahan dan kekurangan dari pelaksanaan tindakan kedua, untuk direkomendasikan pada pembelajaran berikutnya. Melaksanakan tindkan siklus ketiga, yang merupakan hasil refleksi dan revisi dari tindakan siklus kedua, diikuti dengan pengamatan dan membuat catatan hasil pengamatan. Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Evaluasi dan analisis dari semua data yang diperoleh, sebagai bahan untuk mengambil kesimpulan. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis mengadakan tiga kali tes yaitu tes pertama, kedua dan tes ketiga. Instrument untuk mengukur kemampuan siswa bercerita atau dongeng, disusun berdasarkan pengembangan konsep: Tabel 2. Kisi-kisi kemampuan bercerita Konsep Indikator Bercerita atau mendongeng Mampu menceritakan isi cerita atau dongeng berdasarkan urutan pokokpokok dongeng Mampu memahami alur Mampu memahami tokoh cerita Mampu memahami latar Mampu memahami sudut pandang Setelah mengembangkan kisi-kisi langkah selanjutnya adalah penyusun instrument atau alat ukur dongeng. Instrumen disusun dalam bentuk perintah kepada siswa untuk menceritakan kembali isi cerita atau dongeng yang baru saja Hasil kerja siswa akan dinilai menggunakan lembar penilaian dari Efendi Sanusi . sebagai berikut. Tabel 3. Lembar Penilaian Indikator Rentang Skor Kesesuaian Isi Alur Penokohan Latar Sudut Pandang Jumlah Bobot Hasil penelitian berupa kumpulan data tentang skor kemampuan siswa menceritakan kembali isi cerita, aktivitas siswa, dan tindakan guru dalam pembelajaran akan dianalisis secara rinci dari masing-masing tindakan. Analisis hasil penelitian disiswaan menjadi dua, yaitu: . Analisis proses pembelajaran yaitu mengenai tindakan guru yang bersumber dari hasil observasi tindakan kelas, aktivitas siswa dalam pembelajaran dan refleksi. Analisis hasil belajar siswa Setelah data hasil tes 1, 2, dan 3 terkumpul, data tersebut dianalisis melalui langkahlangkah sebagai berikut. Mengoreksi, dan menghitung jawaban yang benar dan yang salah pada masing-masing indicator, kemudian diberi skor . Menjumlahkan skor dari semua indikator, kemudian menentukan ratarata Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Memasukan ke dalam tabel skor untuk mengetahui tingkat kemampuan yang diperoleh masing-masing siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian Hasil penelitian berupa nilai aktivitas cdan hasil belajar bercerita atau dongeng pada siswa Kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020 . ketiga hasil tes tersebut dibahas secara rinci dalam siklus. Siklus I Pelaksanaan siklus ini mulai tanggal 6 Agustus sampai dengan 20 Agustus 2019, dalam siklus ini dilaksanakan 3x pertemuan dan setiap pertemuan 5 jam pelajaran . x 5 x 35 meni. adapun hasil penelitian diuraikan berikut ini. Tabel 4. Hasil Kemampuan Siswa Bercerita Interval F(%) Kategori Tuntas Tidak Tuntas Sumber : Hasil olahan penulis Secara umum rerata kemampuan siswa menceritakan kembali dongeng adalah yang berarti tergolong Cukup. Hasil tes selanjutnya yaitu setelah menerapkan pembelajaran menggunakan Video sebagai media belajar, diperoleh skor kemampuan siswa menceritakan kembali isi cerita atau dongeng akan dijelaskan setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran menggunakan Video pada siklus berikutnya. Pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa menunjukkan pembelajaran cerita menggunakan media Video masih perlu ditingkatkan, karena data menunjukkan rata-rata 54 kategori Cukup, hal ini dapat dilihat pada data berikut. Tabel 5. Lembar Observasi Pengamatan Aktivitas Siklus Ke I Kon Aktif/ Antu Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Memper /menyimak kan multi Oo Oo Oo Melak Sesuai Petun Ber Men Kreatif Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Siklus II Pelaksanaan siklus ini mulai tanggal 27 Agustus sampai dengan 10 September 2019 , dalam siklus ini dilaksanakan 3x pertemuan dan setiap pertemuan 5 jam pelajaran . x 5 x 35 meni. adapun hasil penelitian diuraikan berikut ini. Tabel 6. Distribusi Hasil Tes Kemampuan Siswa Interval F(%) Kategori Tuntas Tidak Tuntas Sumber : Hasil olahan penulis Secara umum rerata kemampuan siswa menceritakan kembali isi cerita pada tes siklus ini adalah 69,72 yang berarti tergolong Baik. Hasil tes berikutnya yaitu setelah menerapkan pembelajaran menggunakan Video sebagai media belajar, diperoleh skor kemampuan siswa bercerita sebagaimana disajikan dalam data setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai hasil refleksi pada siklus ke II. Selanjutnya, pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa menunjukkan pembelajaran cerita menggunakan media Video masih perlu ditingkatkan, karena data menunjukkan rata-rata 54 kategori Cukup, hal ini dapat dilihat pada data Tabel 7. Lembar Observasi Pengamatan Aktivitas Siklus Ke II Kon Aktif/ Antu Memper /menyimak kan multi Melak Sesuai Petun Ber Men Kreatif Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Jml Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Siklus i Pelaksanaan siklus ini mulai tanggal 17 September sampai dengan 1 Oktober 2019, dalam siklus ini dilaksanakan 3 x pertemuan dan setiap pertemuan 5 jam pelajaran . x 5 x 35 meni. adapun hasil penelitian diuraikan berikut ini. Tabel 8. Distribusi hasil tes ketiga kemampuan siswa bercerita Interval F(%) Kategori Tuntas Tidak Tuntas Sumber : Hasil olahan penulis Secara umum rerata kemampuan siswa bercerita kembali dongeng pada tes ketiga adalah 80 yang berarti tergolong Sangat Baik. Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang peningkatan kemampuan siswa bercerita dongeng , nilai hasil tes dirangkum dalam tabel berikut. Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus 3 NILAI YANG DIPEROLEH Nama Siswa Pra Penelitian Nilai Anisa Amrina Aji Berti Bilhusni Beni Cika Candra Ceppy Dera Destina Dila Siklus I Kategori Nilai Siklus i Siklus II Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . Dahri 14 Efan 15 Erni 16 Emilda 17 Emran 18 Finni Jumlah Rata-rata Sumber : Hasil olahan penulis Selanjutnya, pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa menunjukkan pembelajaran cerita menggunakan media video masih perlu ditingkatkan karena data menunjukkan rata-rata 80 kategori Amat Baik. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis di atas diperoleh beberapa temuan yang perlu dilakukan pembahasan, yaitu: Kemampuan siswa bercerita isi cerita atau dongeng Kemampuan siswa bercerita mengalami peningkatan. Peningkatan terlihat dari hasil tes, dimana pada siklus ke I yang mendapat nilai Ou 62 sebanyak 12 orang, atau 67% dari 18 siswa, dengan rerata 54 dalam kategori Cukup. Pada siklus ke II siswa yang mendapat nilai nilai Ou 62 sebanyak 15 orang atau 83% dari 18 siswa dengan rerata 70 dalam kategori Baik. Sedangkan pada siklus ke i siswa yang mendapat nilai Ou 62 sebanyak 18 orang atau 100% dari 18 siswa dengan rata-rata 80 dalam kategori Sangat Baik. Kualitas pembelajaran Berbahasa Indonesia Kualitas pembelajaran Berbahasa indonesia menggunakan Video sebagai media belajar mengalami peningkatan. Hal ini tergambar dari kondisi pembelajaran pada masing-masing siklus sebagai berikut : Pada siklus pertama, proses belajar mengajar masih bersifat monoton, guru memiliki peran sentral sebagai pusat informasi, sedangkan pasif menerima informasi dari guru. Dalam pembelajaran ini guru aktif sedangkan siswa pasif. Pada siklus kedua peran guru mulai bergeser dari peran sentral sebagai pisat informasi pada siklus pertama menjadi sebagai fasilitor dan Motivasi belajar siswa berkembang, mereka mulai timbul keberanian untuk mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam bercerita dongeng sehingga proses pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran siklus ketiga berjalan lebih kondusif dibandingkan dengan kondisi pembelajaran pada siklus pertama dan kedua. Siswa sangat antusias dalam belajar dan motivasi belajar siswa baik sekali, kesulitan yang mereka hadapi dalam bercerita dongeng didiskusikan dengan kerjasama yang baik, dan sesekali bertanya kepada guru. Peran guru pada Wahyuning Suryandari Penggunaan Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bercerita. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 1, . siklus ini hanya sebagai fasilitator dan dinamisator, sehingga proses pembelajaran yang berpusat pada siswa tampak jelas. Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga berkembang ke arah yang lebih Hal ini dapat dilihat dari rerata aktivitas siswa pada siklus Ke I sebesar 54%, pada siklus ke II rerata aktivitas siswa meningkat menjadi 70% dan pada pembelajaran siklus ke i rerata aktivitas siswa meningkat menjadi 80% Bertolak dari hasil analisis dan pembahasan di atas, ternyata penggunaan Video dalam pembelajaran Berbahasa dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar bercerita siswa kelas B TK An-Nahl Bandar Lampung TP 2019 /2020. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan kaji tindak, penulis dapat mengemukakan disimpulkan bahwa: . Penggunaan Video dapat meningkatkan aktivitas belajar bercerita pada siswa Kelas B Taman Kanak-Kanak An-Nahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020. penggunaan Video dapat meningkatkan hasil belajar bercerita pada siswa Kelas B Taman Kanak-Kanak AnNahl Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020 . DAFTAR PUSTAKA