Vol. No. June 2026, pp. ISSN: 2964-6677 The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing SelfEfficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients Efektivitas Edukasi Self-Care Management terhadap Peningkatan Efikasi Diri pada Penderita Tuberkulosis Paru Supriyadi1. Dewi Nur Sukma Purqoti2. Irwan Budiana3. Wanti Wanti4 Institut Kesehatan YARSI Mataram Poltekkes Kemenkes Kupang ABSTRACT Pulmonary TB is a chronic disease that requires long-term treatment with medication and causes physical impacts. Treatment adherence is influenced by the level of knowledge, family support, self-management, self-stigma, and selfefficacy. Self-efficacy is essential during treatment to increase self-confidence in managing and caring for oneself. One effort to increase self-efficacy is by providing adequate information regarding self-care methods through Management Self-Care education. The purpose of this study was to analyze the effect of management self-care education on self-efficacy in pulmonary TB patients. The research design used a pre-experimental approach with a one-group pre-post test approach. The sample consisted of 16 respondents selected using a purposive sampling The research instrument used a questionnaire Guide for constructing self-efficacy scale (GFCSES). The average pretest score was categorized as moderate . with the lowest score of 31, the highest score of 42, and a standard deviation of 2. Meanwhile, the average posttest score was categorized as high . , with the lowest score being 45, the highest score being 50, and a standard deviation of 1. Analysis using a paired sample t-test showed a p-value of 0. 00 (< 0. This indicates that self-care management has an effect on self-efficacy in pulmonary TB patients in the Gunung Sari Community Health Center work area in 2024. This research is expected to provide benefits and can be further developed as a source of knowledge for readers in general. Keywords: Education, self-efficacy, self-care management, pulmonary TB ABSTRAK TB paru merupakan salah satu penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang menggunakan obat dan menimbulkan dampak fisik. Kepatuhan pengobatan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, managemen diri, stigma diri, dan efikasi diri. Efikasi diri sangat diperlukan selama mengalami pengobatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam mengatur dan merawat dirinya. Salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi diri dengan memberikan informasi yang adekuat terkait cara perawatan diri melalui edukasi Management Self Care. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh edukasi management self care terhadap efikasi diri pada penderita TB Paru. Desain penelitian menggunakan pre eksperimen dengan pendekatan one group pre-post test. Sampelnya berjumlah 16 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan quesioner Guide for constructing self efficacy scale (GFCSES). Nilai rata-rata pretest berkategori sedang . dengan nilai terendah 31, nilai tertinggi 42, dan standar deviasi 2,97. Sedangkan nilai rata-rata posttest berkategori tinggi . dengan nilai terendah 45, nilai tertinggi 50, serta standar deviasi 1,73. Kemudian dianalisis menggunakan paired sample t-test menunjukkan p-value 0,00 (< 0,. Artinya ada pengaruh management self care terhadap efikasi diri pada penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari tahun Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kebermanfaatan serta dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi sarana ilmu pengetahuan bagi para pembaca pada umumnya. Kata Kunci: Edukasi, efikasi diri, self care Management. TB Paru Corresponding Author: Dewi Nur Sukma Purqoti. INKES Yarsi Mataram, purqotidewi87@gmail. PENDAHULUAN TB Paru (Tuberkulosis Par. merupakan salah satu penyakit yang biasanya menyerang paru-paru. Penyakit yang juga sering disingkat TB Paru ini bisa menular langsung ke manusia melalui udara. Tuberkulosis TB Paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikrobakterium Tuberkulosa. Bakteri ini meupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru Ae paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia (Queensland Health, 2. World Health The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Organization (WHO) telah merilis laporan tentang Tuberkulosis TB Paru pada skala global tahun 2021 menjadikan TB Paru sebagai penyakit menular paling mematikan pada urutan kedua di dunia setelah Covid-19 dan berada pada urutan ke tiga belas sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia. WHO melaporkan bahwa estimasi jumlah orang terdiagnosis TB Paru tahun 2021 secara global sebanyak 10,6 juta kasus atau naik sekitar 600. kasus dari tahun 2020 yang diperkirakan 10 juta kasus TB Paru. Dari 10,6 juta kasus tersebut, terdapat 6,4 juta . ,3%) orang yang telah dilaporkan dan menjalani pengobatan dan 4,2 juta . ,7%) orang lainnya belum ditemukan atau didiagnosis dan dilaporkan (WHO, 2. Berdasarkan data Kemenkes RI Pada tahun 2021. Indonesia berada pada posisi ketiga dengan beban jumlah kasus terbanyak, sehingga tahun 2021 jelas tidak lebih baik. Kasus TB Paru di Indonesia diperkirakan sebanyak 000 kasus TB Paru . atu orang setiap 33 deti. Angka ini naik 17% dari tahun 2021 yaitu zsebanyak 824. Insidensi kasus TB Paru di Indonesia adalah 354 per 100. 000 penduduk, yang artinya setiap 100. 000 orang di Indonesia terdapat 354 orang di antaranya yang menderita TB Paru (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2022 didapatkan bahwa kasus penderita TB di Provinsi NTB yaitu 22. 271 kasus (DIKES Provinsi NTB, 2. Berdasarkan data Kabupaten Lombok Barat pada 3 tahun terakhir di dapatkan dari dinas kesehatan Lombok Barat Cakupan penderita penyakit TB paru, di Wilayah Puskesmas Lombok Barat yaitu Gunung Sari berada di urutan ke dua tertinggi berjumlah 770 penderita setalah Narmada yang berjumlah 1. Dari data 3 tahun terakhir di dapatkan dari dinas kesehatan Lombok Barat, cakupan penderita TB Paru dari tahun ke tahun cukup tinggi di tahun 2020 memiliki 2. 694 penderita, sedangkan di tahun 2021 naik menjadi 232 penderita, dan di tahun 2022 meningkat menjadi 7. 821 penderita. Kasus TB Paru di Puskesmas Gunung Sari di tahun 2020 yang positif mengalami TB Paru 41 orang penderita dan yang mengalami kekambuhan terdapat 3 penderita, sedangkan ditahun 2021 yang positif TB Paru 17 orang penderita dan yang mengalami kekambuhan tidak ada, di tahun 2022 positif TB Paru 53 orang penderita yang mengalami kekambuhan 1 penderita, dan data di tahun 2023 di 5 bulan terakhir yang positif sebanyak 10 penderita. (Data Puskesmas Gunung Sari, 2. Berdasarkan data penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari tahun 2020 Ae 2023 yang di dapatkan sebanyak 121 penderita TB Paru. Data ini terbagi dalam 5 desa di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari yaitu. Desa Gunung Sari terdapat 0 Penderita TB Paru. Desa Kekait terdapat 17 Penderita TB Paru. Desa Dopang terdapat 10 Penderita TB Paru. Desa Sesela terdapat 41 Penderita TB Paru, sedangkan di Desa Taman Sari terdapat 53 Penderita TB Paru. Ankga terjadi TB Paru yang tinggi di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari yakni di Desa Taman Sari dan Desa Sesela. (Data Puskesmas Gunung Sari, 2. TB paru merupakan salah satu penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang dengan menggunakan banyak obat-obatan dan menimbulkan dampak fisik seperti batuk produktif yang berkepanjangan lebih dari 3 minggu, sesak nafas, nyeri dada, mudah lelah, dan nafsu makan menurun. Perubahan fisik tersebut dapat membuat pasien kesulitan dalam melakukan pekerjaan, aktivitas sehari-hari, dan menjalankan peran serta tanggung jawabnya terhadap keluarga maupun masyarakat. Perubahan psikologis timbul biasanya karena pikiran pasien tentang kesembuhan yang relatif kecil, ancaman kematian, aturan minum obat, maupun komplikasi yang dapat Keadaan psikologis yang semakin tidak stabil dapat memperparah kondisi pasien TB paru. TB paru juga dapat mengakibatkan masalah psikososial, dampak psikososial antara lain adalah adanya masalah psikologis berhubungan dengan penyakitnya seperti merasa bosan, kurang motivasi, sampai kepada gangguan jiwa yang cukup serius seperti depresi berat. Penangan farmakologi berupa obat Ae obat anti tuberculosis (OAT). Memberikan edukasi untuk minum obat TB Paru yang diberikan agar tidak putus obat, memberikan edukasi tentang hidup bersih dan lingkungan bersih. Terapi nonfarmalogi yang diberikan mengajari pasien untuk batuk yang benar agar tidak tertular dengan keluarga ataupun orang sekitar, mengajari pasien untuk batuk efektif. Self care merupakan suatu tindakan atau perilaku dari aktivitas individu dalam melakukan perawatan diri sendiri untuk mempertahankan kehidupan, kesehatan dan Intervensi dalam peningkatan pengetahuan penting untuk meningkatkan perilaku Self Management. Pengetahuan dapat mengubah kognisi pasien, membantu meningkatkan efikasi diri pasien dan membangun perilaku self managemen yang baik. Untuk mengelola diri sendiri, pasien harus memiliki pengetahuan dan sumber daya untuk menangani masalah terkait penyakit karena faktor predisposisi . engetahuan TB) adalah faktor prediktor terbaik dari perilaku Self Management TB, dan memungkinkan menjadi faktor penguat yang memilki dampak tidak langsung terhadap kepatuhan dan Self Management. Manajemen diri pasien perlu diperkuat dengan program edukasi yang membantu meningkatkan kepatuhan penderita TB paru dalam mengkonsumsi obat anti tuberculosis (OAT). Edukasi manajemen diri merupakan program yang membantu individu dengan kondisi kesehatan berkelanjutan belajar bagaimana caranya menjalani hidup dengan baik. Bagi banyak orang, ini berarti hidup dengan lebih sedikit stres, lebih banyak energi, dan kemampuan yang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan (Ernalinda dkk, 2. Edukasi self care merupakan program efektif untuk memperbaiki prilaku perlakuan diri, dan cara batuk efektif untuk mencegah penularan TB Paru. Keberhasilan pengobatan TB ditentukan dari tingkat kepatuhan pasien selama mengonsumsi OAT yang lengkap sampai selesai. Kepatuhan merupakan salah satu komponen penting dalam The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 program pengobatan. Kepatuhan dalam proses pengobatan pasien dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, manajemen diri, stigma diri, dan efikasi diri (Wulandari et al. , 2. Efikasi diri yang kuat akan mempengaruhi tujuan pribadi pada diri seseorang. Semakin kuat efikasi diri, semakin tinggi tujuan yang ditetapkan oleh individu bagi dirinya sendiri dan yang memperkuat adalah komitmen individu terhadap tujuan tersebut. Individu dengan efikasi diri yang kuat akan mempunyai cita-cita yang tinggi, mengatur rencana dan berkomitmen pada dirinya untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, individu dengan efikasi diri yang kuat akan mempengaruhi bagaimana individu tersebut menyiapkan langkah-langkah antisipasi bila usahanya yang pertama gagal dilakukan. Efikasi diri akan mempunyai kemampuan koping individu dalam mengatasi besarnya stres dan depresi yang individu alami pada situasi yang sulit dan menekan, dan juga akan mempengaruhi tingkat motivasi individu tersebut. Efikasi diri memegang peranan penting dalam kecemasan, yaitu untuk mengontrol stres yang terjadi. Efikasi diri sangat diperlukan oleh penderita TB paru selama mengalami masa pengobatan untuk meningkatkan kepercayaan diri penderita dalam mengatur dan merawat dirinya sendiri. Salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi diri ini adalah dengan memberikan informasi yang adekuat terkait bagaimana cara perawatan diri yang tepat pada penderita TB paru yaitu melalui edukasi Management Self Care. Menurut penelitian Yesayas . , edukasi manajemen diri memiliki nilai signifikan yang tinggi namun nilai estimasi minus, ini membuktikan bahwa edukasi manajemen diri memberikan pengaruh yang baik terhadap kepatuhan mengkonsumsi OAT, kepatuhan bisa meningkat setelah diberikan edukasi manajemen diri, namun dalam pemberian edukasi manajemen diri waktu pemberian dan durasi pemberian harus diperhatikan lagi karena dari hasil analisa estimed membuktikan bahwa responden mulai merasa bosan dengan waktu pemberian edukasi yang terlalu panjang, sehingga disarankan dalam pemberian edukasi manajemen diri bisa diberikan secara berkala dan waktu pemberian yang tidak terlalu panjang. Menurut penelitian yang dilkakukan oleh (Sukartini, & Probowati, 2. klien TB Paru mempunyai self efficacy yang baik sebanyak 41 orang . ,6%), %). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Meiharti Priyatna Dewi. Suarnianti. Syaifuddin Zaenal . tentang Self Care Penderita TB Dalam Mengurangi Resiko Penularan Penyakit Di Puskesmas Barabaraya Makassar, menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki self care yang kurang. Hasil penelitian didapatkan self care baik dengan pengurangan resiko penularan baik sebanyak 7 . ,7%). Hal ini dilihat dari responden yang menjawab selalu mencuci tangan setelah bersin atau batuk sebanyak 21 . ,0%), responden yang menjawab selalu menjaga asupan energi yang masuk kedalam tubuh sebanyak 22 . ,2%). Individu yang terlibat aktif dalam self care memiliki tuntutan kemampuan bertindak, yaitu kekuatan untuk bertindak secara mandiri untuk mengendalikan faktor yang mempengaruhi fungsi diri dan perkembangan mereka. Self care yang dilakukan secara efektif dan menyeluruh dapat membantu menjaga integritas struktur dan fungsi tubuh serta berkontribusi dalam perkembangan individu. Self care baik dengan pengurangan resiko penularan kurang sebanyak 5 . ,4%), ini disebabkan karena pengetahuan responden terhadap self care baik, namun sikap responden terhadap pengurangan resiko penularan yang kurang. Responden tidak melakukan tindakan yang dapat mengurangi resiko Self care baik tidak hanya memerlukan pengetahuan yang baik tetapi dapat mengambil keputusan dan tindakan untuk berubah. Berdasarkan Hasil Study Pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20 oktober 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari dengan teknik wawancara pada 7 Ae 10 orang yang mengalami TB Paru di dapatkan rata Ae rata umur klien adalah 40-67 tahun, dan sedang menjalankan pengobatan TB Paru selama 6-8 bulan, penderita TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gunung Sari cendrung belum memahami management self care. yang dilakukan 7 Ae 10 orang mengatakan dampak dari TB paru yang diderita lebih jarang keluar rumah karena merasa malu dengan penyakitnya yang menular dan pasien belum bisa berpakain rapi dan bersih serta belum mampu untuk berhenti merokok ketika terdiagnosa TB Paru. Tiga pasien lainnya mengatakan masi belum mampu melakukan tarik napas dalam ketika sesak napas dan masih jarang menutup mulut ketika sesak napas dan menutup mulut ketika batuk. 7 diantaranya mengatakan karena penyakitnya TB Paru yang di deritanya mempengaruhi kemandiriannya, sehingga menyebabkan mereka tidak yakin akan kemampuannya melakukan perawatan pada Pada penelitian sebelumnya tentang hubungan self care dengan kualitas hidup pasien DM tetapi belum ada penelitian pada TB Paru. Sehingga peneliti tetarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Edukasi Management Self Care Terhadap Efikasi Diri pada Penderita TB Paru. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan responden terhadap self care kurang baik. Management Self care yang dilakukan secara efektif dan menyeluruh dapat membantu menjaga integritas struktur dan fungsi tubuh serta berkontribusi dalam perkembangan individu. Perilaku self care akan terbentuk apabila mendapatkan motivasi, kemanjuran, komunikasi, sikap, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan, (Mohtar, 2. dalam Masyfahani. Sukartini, & Probowati, 2. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan yaitu pre Eksperimen dengan menggunakan pendekatan One Group prepost test design, rancangan ini hanya menggunakan satu kelompok subjek, pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah diberikan intervensi (Saryono 2. Penelitian ini dikakukan Di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat, dilakukan mulai januari sampai dengan februari 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah populasi sebanyak 53 penderita TB Paru di Desa Tamansari kecamatan Gunung Sari Kabupaten The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Lombok Barat dengan besar sampel pada penelitian ini adalah 16 orang. Teknik sampling pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik Purposive Sampling, variable yang diteliti adalah Melakukan Pre-test mengukur tingkat efikasi diri menggunakan kuesioner Guide for Constructing Self efficacy Scale untuk memenuhi kriteria inklusi. Pre-test akan dilakukan sebelum responden diberikan edukasi tentang management self care pada penderita TB Paru. Memberikan intervensi yaitu edukasi management self care pada penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari dengan menggunakan metode ceramah dan leaflet, materi disampaikan dengan komunikatif menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh responden. Edukasi management self care diberikan selama 10-15 menit dalam jangka waktu 3 . minggu terbagi menjadi 6 sesi. Intervensi atau pemberian edukasi akan dilakukan setelah responden melakukan pre-test dan mengisi inform consent yang diberikan oleh peneliti. Melakukan Post-test mengukur kembali tingkat efikasi diri menggunakan kuesioner Guide for Constructing Self efficacy Scale setelah diberikan edukasi management self care. Instrument penelitian ini adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah inform consent, lembar quesioner Guide for constructing self efficacy scale (GFCSES) dan SOP edukasi management self care dan Analisa data menggunakan uji Statistik paired T Ae test. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menggambarkan secara umum kondisi subjek penelitian yang menjadi sampel dalam studi ini. Karakteristik responden disajikan untuk memberikan gambaran awal mengenai distribusi data berdasarkan variabel demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, serta lama menderita tuberkulosis paru. Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pendidikan. Pekerjaan, lama menderita Pada Penderita TB Paru di Desa Taman Sari Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Tahun 2024. Variabel Mean Min Max Usia Jenis Frekuensi Persentase (%) Pendidikan Frekuensi Persentase (%) Tidak Sekolah SMP SMA Total Pekerjaan Frekuensi Persentase (%) Petani IRT Buruh Serabutan Total Variabel Mean Min Max Lama menderita TB Paru Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa responden penderita TB paru dalam penelitian ini berusia rata-rata 48 tahun. Sedangkan usia paling muda 32 tahun, dan paling tua 60 tahun, laki-laki sebanyak 16 orang . 25%), dan sisanya Perempuan sebanyak 3 orang . 75%), pendidikan SMP dan SMA yaitu sama-sama 5 orang . 25%). Sedangkan yang paling sedikit tidak sekolah yaitu 2 orang . 5%), sisanya berpendidikan SD . %), pekerjaan yang terbanyak yaitu petani dan buruh, sama-sama 6 orang . 5%). Sedangkan yang paling sedikit yaitu pekerjaan serabutan sebanyak 1 orang . 25%), rata-rata lama menderita TB paru responden dalam penelitian ini yaitu 5 bulan. Sedangkan paling tinggi menderita TB paru yaitu 24 bulan . , dan paling rendah 3 minggu . ,75 bula. Tabel 2. Distribusi Self Efficacy Sebelum Diberikan Intervensi Management Self Care Pada Penderita TB Paru di Desa Taman Sari Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Tahun 2024. Variabel Mean Min Max Pretest Posttest Berdasarkan pada Tabel 2. bahwa nilai rata-rata pretest self efficacy sebelum diberikan intervensi management self care yaitu 35 poin, yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan skor tertinggi dan terendah pretest yaitu 39 poin dan 30 poin, serta standar deviasinya 2,56. Berbeda dengan nilai rata-rata posttest self efficacy Laki-laki Perempuan Total The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 sesudah diberikan intervensi management self care yaitu 46,7 poin yang termasuk dalam kategori tinggi. Sedangkan skor tertinggi dan terendah posttest yaitu 50 poin dan 45 poin, serta standar deviasinya 1,54. Tabel 3. Uji Paired Sample T-Test Pretest dan Posttest Self Efficacy Pada Penderita TB Paru di Desa Taman Sari Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Tahun 2024. Mean Std. Deviation Std. Error Mean Pretest Self Efficacy Posttest Self Efficacy Pretest Self Efficacy & Posttest Self Efficacy Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa terdapat selisih nilai self efficacy penderita TB paru sebelum dan sesudah diberikan edukasi management self care yaitu sebesar 11,5, dan post test diperoleh nilai Sig. 0,045 (< , maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh intervensi management self care terhadap self efficacy pada penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari pada tahun 2024. PEMBAHASAN Hasil analisis data penelitian pada Tabel 1. menunjukkan bahwa rata-rata usia responden penderita penyakit TB paru di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari yaitu 48 tahun, dengan standar deviasi 8,77. Rata-rata usia tersebut menunjukkan kelompok manusia dewasa puncak atau usia produktif rentan mengalami TB paru. Usia pasien mempengaruhi kemampuan mereka mengolah penyakit. Faktor usia ini berdampak pada fisik dan koginiti yang merupakan hal penting dalam management self care. Hal penting tersebut seperti daya ingat untuk minum obat dan kemampuan memahami intruksi medis (Kim, 2019. Mahmoudi, 2. Menurut Dodd, et al. pada usia dewasa, terutama dikalangan pekerja, beban pekerjaan dan tanggung jawab keluarga dapat mempengaruhi kepatuhan seseorang terhadap pengobatan, seperti penyakit TB. Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 5. 2, bahwa 81,25% penderita hipertensi adalah laki-laki. Sebuah teori menyatakan bahwa laki-laki memiliki resiko lebih tinggi terkena TB dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar 7:1 di seluruh dunia (WHO, 2. Teori lainnya menyatakan bahwa perbedaan hormon seksual antara laki-laki dengan Perempuan dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan respon terhadap infeksi TB. Estrogen dan testosterone diketahui memiliki efek imunomodulator yang berbeda yang dapat mempengaruhi kerentanan terhadap seseorang terhadap TB (Kumar & Clark, 2. Untuk Pendidikan diperoleh bahwa responden terbanyak yaitu dengan Pendidikan terakhir SMP dan SMA . ama-sama 31,25%), sehingga relevan dengan skor rata-rata self efficacy yang berkategori sedang. Tingkat Pendidikan terakhir ini akan berpengaruh pada pengetahun dan kemampuan responden memahami tentang penyakit yang dialaminya. Hal ini diuraikan juga oleh Lee et al. , . , penderita dengan Pendidikan rendah memungkinkan memiliki kesulitan dalam memahami pentingnya pengelolaan efektif dan kepatuhan pengobatan. Akibatnya memungkinkan proses penyembuhan yang dilakukan. Beberapa faktor diidentifikasi bisa meliputi paparan debu organik, ventilasi yang buruk di tempat kerja, dan kebiasaan perokok maupun merokok. Faktor lainnya berupa kondisi kerja yang berat, kepadatan tempat tinggal yang tinggi, dan akses terbatas ke layanan kesehatan juga bisa menjadi faktor utama terhadap tingginya prevalensi TB Berdasarkan data Tabel 5. 5 bahwa responden paling lama mengalami TB paru yaitu 24 bulan . , dengan standar deviasinya 5,9. Mengacu pada angket yang diisi keterangan responden tersebut yaitu karena putus pengobatan 2 kali. Sedangkan rata-rata lama penderita TB paru yaitu 4,8 bulan. Sebuah teori tentang lama menderita TB paru menyatakan, bahwa bakteri TB paru yang telah terpapar obat-obatan dalam waktu yang lama dapat mengalami mutasi genetik yang membuatnya menjadi lebih resisten terhadap pengobatan, yang pada gilirannya dapat memperburuk penyakit dan menghambat respons terhadap terapi atau pengobatan (Smith et al. , 2. Teori lainnya tentang lama menderita TB paru menyebabkan penurunan kekebalan tubuh pasien akibat infeksi dan mengakibatkan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, yang pada akhirnya memperburuk penyakit dan memperpanjang waktu penyembuhan (Johnson & Williams, 2. Menurut Chien, et al. bahwa perlu mengetahui kemajuan kesembuhan pasien, dan memberikan umpan balik yang positif dan konstruktif terhadap lamanya pengobatan. Umpan balik ini untuk membantu pasien dalam pengobatan, dan membentuk perilaku positif untuk menjaga dan menyelesaikan pengobatannya. Hasil penelitian ini juga telah selaras dengan beberapa penelitian lainnya seperti. Yulianti et al. , . , yang 000 pasien TB paru di beberapa rumah sakit di Jawa Barat, ditemukan bahwa 62% pasien adalah lakilaki. Selanjutnya dari Soeroto et al. , . menemukan bahwa data TB paru di Indonesia dengan laki-laki memiliki prelevansi lebih tinggi dibandingkan Perempuan dengan rasio 63%:35%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sejumlah 16 orang responden penderita TB paru tersebut sebelum diberikan intervensi management self care memiliki nilai rata-rata self efficacy pada kategori sedang . , dengan standar deviasinya 2,56. Lebih lengkapnya untuk distribusi nilai 16 orang responden tersebut tersaji pada Tabel 5. 6 di atas. Kategori sedang tersebut menunjukkan bahwa penderita TB paru masih memiliki pengetahuan tentang penyakitnya yang kurang. The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 paru merupakan salah satu penyakit serius yang dapat menimbulkan stress dan kecemasan yang akan mengurangi bahkan menghambat proses pengobatan yang seharusnya maksimal dilakukan (Taylor, 2018. Sugiharno, 2. Kondisi lainnya dari kategori sedang yaitu kurang patuhnya penderita terhadap anjuran pengobatan. Akibatnya penderita cenderung melewatkan dosis obat atau berhenti pengobatan lebih dini (Apsari, 2. Kondisi ini menciptakan persepsi penderita maupun para penderita lainnya bahwa pengobatan untuk TB paru tidak efektif dan perasaan sulit untuk mengikutinya (Syamsuddin, et al. Kurangnya self efficacy dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan, yang berdampak negatif pada hasil kesehatan pasien dan potensi penyebaran infeksi lebih lanjut (Chien, et al. Kawulusan, 2. Sebelum diberikan intervensi, penderita TB paru sering mengalami self efficacy yang rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu stigma sosial, ketidakpastian tentang pengobatan atau pengelolaan, serta dampak fisik dan psikologis dari penyakit tersebut (Kars & Inauen, 2. Hasil self efficacy penderita TB paru sebelum intervensi pada penelitian ini memiliki beberapa penelitian pendukung hasil yang sama atau relevan. Pertama dari Noorratri et al. , . meneliti self efficacy penderita TB paru sebelum mereka berpartisipasi dalam program management self care. Hasil penelitiannya memperoleh nilai rata-rata self efficacy yaitu berkategori sedang . Penelitian oleh Li et al. , . bahwa pasien dengan penyakit kronis, termasuki TB paru, menunjukkan hasil serupa yaitu sebelum intervensi, skor self-efficacy pasien berada dalam rentang sedang . Terakhir dari Kumar et al. , . meneliti efektivitas intervensi yang dipimpin oleh perawat pada management self care terhadap self efficacy pasien TB paru. Hasilnya bahwa sebelum intervensi, pasien memiliki self efficacy dalam kategori Edukasi management self care memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya kepatuhan terhadap regimen pengobatan. Pasien yang memahami konsekuensi dari tidak mematuhi pengobatan lebih cenderung mengikuti arahan medis, yang meningkatkan efikasi diri mereka dalam mengelola penyakit. Sebuah studi oleh Louw, et al. menemukan bahwa edukasi management self care berhubungan dengan peningkatan kepatuhan pengobatan dan efikasi diri pada pasien TB paru. Kategori self efficacy yang sedang juga menunjukkan bahwa dukungan sosial pada penderita kurang maksimal yang membuatnya merasa terisolasi, kurang percaya diri, dan memiliki stigma buruk tentang penyakitnya. Edukasi management self care sering kali mencakup elemen dukungan sosial atau emosional dan motivasi, baik melalui sesi individu atau kelompok. Kemudian Chang et al. menemukan bahwa dukungan emosional yang diberikan melalui edukasi management self care secara signifikan meningkatkan self efficacy pasien TB paru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self efficacy yang dimiliki responden penderita TB paru sebelum diberikan intervensi management self care, berkategori sedang. Hasil ini didukung oleh Sari et al. , . bahwa self efficacy pasien TB paru sebelum diberikan intervensi edukasi management self care adalah 32 poin . Selaras juga dengan penelitian oleh Kurniawati, et al . memperoleh data bahwa sebelum intervensi, skor self efficacy pasien diukur menggunakan General Self Efficacy Scale (GSES), hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki skor self efficacy dalam kategori rendah hingga sedang, dengan rentang skor antara 20 hingga 30 poin . dan 31 hingga 40 . Didukung pula penelitian oleh Rahayu et al. bahwa sebelum intervensi edukasi management self care, skor self efficacy pasien rata-rata adalah 29 poin, yang masuk dalam kategori rendah. Beberapa penelitian pendukung tersebut menunjukkan hasil atau kondisi yang selaras dengan penelitian ini. Keselarasan dimaksudkan pada kondisi responden penderita suatu penyakit yang berkategori kurang maupun rendah dalam pengetahuan maupun pengelolaan diri terhadap penyakit yang sedang dialami. Pada penelitian ini juga peneliti mengkaji keterkaitan self efficacy dengan latar belakang Pendidikan terakhir responden. Sebuah teori perilaku Kesehatan menekankan pentingnya pengetahuan dan keyakinan individu untuk membentuk hidup sehat. Pada konteks penyakit TB paru, peningkatan pengetahuan melalui Pendidikan yang ditempuh dapat mengubah persepsi pasien tentang kerentanan mereka terhadap TB, manfaat pengobatan, dan hambatan yang mungkin dihadapi (Glanz et al. , 2. Menurut Alipanah et al. pendidikan memainkan peran penting dalam management self Pendidikan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan, kemampuan untuk memahami instruksi medis, dan kemampuan untuk mengakses informasi Kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata self efficacy responden penderita penyakit TB paru sesudah diberikan intervensi management self care berada pada kategori tinggi . ,7 poi. , dengan standar deviasinya 1,54. Lebih lengkapnya untuk distribusi nilai 16 orang responden tersebut tersaji pada Tabel 5. 6 di atas. Nilai terendah dari para responden yaitu 45 poin yang juga termasuk pada kategori tinggi self efficacy. Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian intervensi management self care terhadap peningkatan self efficacy pada penderita TB paru. Intervensi management self care dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk gaya hidup sehat, rasa percaya diri, serta memberikan dukungan kepada penderita penyakit dalam mengelola kondisi mereka secara mandiri dan efektif. Pada akhirnya kegiatan ini akan menumbuhkan dan meningkatkan self efficacy pada penderita tersebut (Ryan, 2020. Lorig & Holman, 2020. Munro et al. , 2. Melalui edukasi management self care, pasien diajarkan berbagai keterampilan praktis untuk mengelola gejala dan efek samping pengobatan, seperti teknik manajemen stres dan cara mengatasi kelelahan (Katuuk et al. , 2020. The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Abilowo et al. , 2. Pelatihan keterampilan pengelolaan diri . anagement sel. akan berhubungan dengan peningkatan self efficacy pada penderita TB paru (Van der Werf et al. , 2. Edukasi self care juga membantu mengurangi stigma yang sering kali melekat pada TB paru dengan menyediakan informasi yang akurat dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ini (Smith, et al. Penderita penyakit yang merasa lebih didukung oleh lingkungan sosial mereka, akan meningkatkan efikasi diri (Williams, & Ziedonis, 2. Menurut Santos et al. , edukasi self care yang efektif dapat mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan sosial, yang berkontribusi pada peningkatan self efficacy. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian dari Gebremariam et al. , . bahwa penderita TB yang memiliki pengetahuan lebih baik tentang penyakitnya secara signifikan meningkat nilai self efficacy dalam mengelola Penelitian lainnya juga menyatakan bahwa pengetahuan pasien akibat pemberian management self care mampu mengurangi ketakutan dan kesalahpahaman, sehingga membuat self efficacy pasien tersebut meningkat (Yusuf et al. , 2. Penelitian pendukung lainnya, dari Rahmawati et al. , menilai efektivitas intervensi management self care pada pasien TB paru. Diperoleh hasil bahwa skor rata-rata self efficacy setelah intervensi meningkat menjadi 73 poin . ategori tingg. Penelitian dari Kurniawati et al. , . bahwa self efficacy pasien TB paru setelah menerima edukasi management self care mencapai skor rata-rata menjadi 78 poin . , yang masuk dalam kategori tinggi. Begitupula dengan penelitian dari Fitriana et al. bahwa skor rata-rata self efficacy yang diukur menggunakan General Self Efficacy Scale (GSES) setelah intervensi management self care meningkat menjadi 74 poin . ategori tingg. Analisis untuk mengetahui adanya pengaruh management self care terhadap self efficacy dilakukan dengan uji statistic paired sample t-test pada data skor pretest-posttest self efficacy penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari. Hasil uji sesuai pada Tabel 5. , menunjukkan terdapat pengaruh signifikan management self care terhadap self efficacy pada penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari. Hal ini dibuktikan dengan nila p-value < 0,05 . Pengaruh signifikan ini juga dibuktikan dengan peningkatan nilai rata-rata self efficacy responden penderita TB paru sebesar 11,5 poin, nilai tertinggi sebesar 11 poin, dan nilai terendah sebesar 15 poin. Beberapa analisis peneliti terhadap pengaruh atau peningkatan self efficacy akibat intervensi management self care, pertama bahwa dengan pemberian intervensi management self care penderita TB paru akan merasa memiliki dukungan sosial. Dukungan sosial ini kemudian membuka rasa percaya diri penderita untuk mengetahui lebih jauh tentang pengobatan maupun pengelolaan Poin selanjutnya dari intervensi management self care penderita TB paru akan membuka cara berpikir atau menghapus stigma buruk tentang penyakitnya. Kondisi ini membuat penderita tersebut memiliki sikap terbuka dalam mempelajari dan mengetahui jenis penyakitnya. Terakhir, intervensi management self care akan memberikan penderita informasi dan pengetahuan tentang cara pengelolaan maupun pengobatan penyakitnya. Pada akhirnya mereka akan bersikap patuh pengobatan dan intruksi medis. Analisis peneliti tersebut didukung oleh beberapa teori. Salah satu teori menyatakan bahwa edukasi management self care akan memberikan pasien peningkatan motivasi sembuh dan berjuang melawan penyakitnya. Melalui management self care, motivasi tersebut bisa muncul karena pasien sering diberikan penghargaan atas kemajuan kesembuhannya (Taylor, 2. Intervensi management self care juga membantu pasien mengurangi stress dan kecemasan yang sering kali menyertai diagnosis TB paru. Hal tersebut dilakukan melalui pengajaran pada pasien teknik relaksasi dan manajemen stress (White, et al, 2. Lebih lanjutnya management self care membantu pasien menentukan dan menetapkan tujuan pengobatan yang realistik dan dapat dicapai. Melalui penetapan ini bukti nyata hasil pengobatan, mereka rasakan sendiri terhadap penyakit TB paru yang dialami (IMoH, 2019. Maharani. Sedangkan penelitian relevansi seperti penelitian dari Lestari et al. , . , bahwa terdapat hubungan signifikan antara edukasi self care dalam meningkatkan self efficacy pada penderita TB paru. Penelitian lainnya dari Suralaga . , bahwa terdapat hubungan signifikan antara management self care dengan tingkat self efficacy pada penderita TB paru di wilayah kerja puskesmas Wonosari. Kabupaten Bondowoso. Melalui management self care penderita TB paru akan memperoleh motivasi dan semangat untuk pulih, serta kemauan menjalani pengobatan sampai selesai. Terakhir terdapat penelitian dari Nurwa dan Kiik . , bahwa terdapat hubungan signifikan antara management self care dengan tingkat self efficacy pada penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Naibonat. Kabupaten Kupang. Pernyataan ini didukung hasil uji hipotesis dengan paired sample t-test dengan perolehan (Pvalue < 0,. Lebih lanjut diperoleh juga selisih nilai rata-rata pretest-posttest self efficacy yang meningkat . ,3 Pada akhirnya bahwa berdasarkan analisis, teori, maupun penelitian relevansi tentang management self care. Pada penelitian ini telah benar menunjukkan bahwa management self care mampu membentuk dan meningkatkan self efficacy penderita, salah satunya yaitu penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari tahun 2024. KESIMPULAN DAN SARAN Penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari rata-rata pretest self efficacy responden penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari yaitu berkategori sedang . , dengan nilai terendah 30 poin dan nilai tertinggi 39 poin, serta standar deviasiasinya 2,56. Nilai rata-rata The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 posttest self efficacy responden penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari yaitu berkategori tinggi . ,7 poi. , dengan nilai terendah 45 poin dan nilai tertinggi 50 poin, serta standar deviasinya 1,53. Hasil uji hipotesis dengan paired sample t-test menunjukkan p-value 0,045 (< 0,. , yang berarti terdapat pengaruh intervensi management self care terhadap self efficacy pada penderita TB paru di Desa Taman Sari wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari tahun 2024. ETIK PENELITIAN Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari seluruh responden telah memberikan informed consent sebelum pengambilan data dilakukan. Penelitian ini tidak melibatkan intervensi langsung pada manusia dan telah mengikuti prinsip etika penelitian yang berlaku. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada kepala puskesmas gunung sari dan tim yang sudah memberikan ijin dan mefasiilitasi kegiatan penelitian ini, kepada para kader yang ikut terlibat dalam proses kegiatan, sehingga kegiatan bisa berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA Abilowo. Yanti. , & Permatasari. Optimalisasi Self Care Management pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjungbinga Kabupaten Belitung. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari, 1. , 383-390. Achmad Wandi. Dewi Retno Puspitosari. Mengenal Tuborculosis. Puwokerto: CV Pena Persada. Agustian. , & Masria. Januar. AuHubungan Usia. Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Cibadak Kabupaten Sukabumi. Ay In Bandung Conference Series: Medical Science (Vol. No. 1, pp. Alipanah. Jarlsberg. Miller. Linh. Falzon. Jaramillo. , . & Nahid. AuAdherence Interventions And Outcomes Of Tuberculosis Treatment: A Systematic Review And Meta-Analysis Of Trials And Observational Studies. Ay PLOS Medicine, 15. , e1002595. Anggraeni. Saryono. Metodelogi Penelitian Kualitatif Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika Anggriani Saputri Tania. Istiqomah. Hubungan Self Efficacy Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberculosis Paru Di Puskesmas Pekayon Jaya Kecamatan Bekasi Selatan Kota Bekasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam As-SyafiAoiah Apsari. , & Sartika. AuHubungan Persepsi Hambatan dengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Pasar Minggu Jakarta Selatan. Ay Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 7. , 1281-1293. Balasubramanian. Sathyamurthy. , & Parthasarathy. Comorbidity and its impact on patients with Journal of Clinical Tuberculosis and Other Mycobacterial Diseases, 13, 12-20. Bandura. Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W. Freeman. Bandura. Reflections on self-efficacy. *Advances in Behaviour Research and Therapy, 20*. , 31-34. https://doi. org/10. 1016/j. Barza Karumu. Dkk. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Di Rs Medika Dramaga. Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor Bazzaz, . Deep Insights Urinary Tract Infections Effective Natural Remedies. African Journal of Urology, 27. , 1Ae13. Caini. Bellerba. Corso. Costanza. Di Martino. Trevisan. , & Facciotti. AuTuberculosis Among Healthcare Workers in Italy: A Retrospective Cohort Study. Ay BMC Infectious Diseases, 20. , https://doi:10. 1186/s12879-020-4920-y Chang. , et al. Effectiveness of self-management education interventions in patients with chronic conditions: A systematic review. *BMC Public Health, 18*. , 1116. https://doi. org/10. 1186/s12889-0186028-4 Chien. , et al. AuFactors Influencing Patient Adherence to Tuberculosis Treatment: A Literature Review. Ay Respiratory Medicine, 158, 1-7 De Alencar Ximenes. , de Fytima Pessoa Milityo de Albuquerque. Souza. Montarroyos. Diniz. , & Luna. AuSocioeconomic Determinants of Tuberculosis in Brazil: A Multilevel Study. Ay BMC Public Health, 21. , 622. https://doi:10. 1186/s12889-021-10713-7 Dodd. Yuen. Sismanidis. Seddon. , & Jenkins. AuThe global burden of tuberculosis mortality in children: A mathematical modelling study. Ay The Lancet Global Health, 6. , e1302-e1309. https://doi:10. 1016/S2214-109X. The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Erlina Burhan. Dkk. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Tuborcolosis. Jakarta: Kemenkes RI. Fendy Yejayas. Pengaruh Edukasi Manajemen Terhadap Kepatuhan Mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis Pada Penderita Tuborkulosis di Blud RSUD Nabre Provinsi Papua. STIK Sint Carolus Jakarta Fitriana. Wulandari. , & Nugraheni. The Effect of Self-Care Management Interventions on SelfEfficacy in TB Patients in Surabaya. *Jurnal Ilmu Kesehatan, 18*. , 56-64. https://doi. org/10. 32831/jik. Fitriani. Dewi. Aita Dwi Prawtiwi. Aita Dwi Pratiwi, and Betty. Buku Ajar TBC. ASKEP Dan Pengawasan Minum Obat Dengan Media Telepon. Betty. Tanggerang Selatan: STIKES Widya Dharma Husada Tangerang. http://stikes. Gebremariam. Bjune. , & Frich. Barriers and facilitators of adherence to TB treatment in patients on concomitant TB and HIV treatment: A systematic review. *PLOS ONE, 13*. , e0203835. https://doi. org/10. 1371/journal. Gebremariam. , et al. AuThe Relationship Between Health Literacy and Adherence to Anti-Tuberculosis Treatment: A Systematic Review. Ay Tuberculosis Research and Treatment, 2018, 1239012. https://doi:10. 1155/2018/1239012 Glanz. Rimer. , & Viswanath. Health behavior: Theory, research, and practice . th ed. San Francisco. CA: Jossey-Bass. Hafiz. AuHubungan Self Efficacy Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru. Ay Jurnal Medika Hutama, 2. Januar. , 429-438. Halajur. Promosi Kesehatan di Tempat Kerja. Wineka Media. Indonesia Ministry of Health. National Guidelines for Tuberculosis Control. Jakarta: Ministry of Health. Jagger. Reuter. , & Bock. Prevalence of tuberculosis in adults aged 42-51 years: A study from a high-burden country. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease, 20. , 783-790. Jeon. Murray. Baker. , & Cho. AuDiabetes Mellitus Increases the Risk of Active Tuberculosis: A Systematic Review Of 13 Observational Studies. Ay PLoS Medicine, 15. , e1002455. https://doi:10. 1371/journal. Johnson. , & Williams. The immunological consequences of chronic tuberculosis. Trends in Immunology, 41. , 1-12. Karima. Maslichhah. Sudaryanti, . Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. Pemahaman Akuntansi. Dan Ketaatan Pada Peraturan Perundangan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Daerah (Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Sampan. E-Jra, 10. , 10Ae24. Kars. , & Inauen. Barriers to TB Treatment Adherence In Patients: Insights From Health Psychology. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease, 23. , 110-118. Katuuk. Sitorus. , & Sukmarini. Penerapan Teori Self Care Orem Dalam Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Melitus. Jurnal Keperawatan, 8. Kawulusan. Katuuk. , & Bataha. AuHubungan Self-Efficacy Dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Di Puskesmas Ranotana Weru Kota Manado. Ay Jurnal Keperawatan, 7. Kementerian Kesehatan Indonesia. Laporan Survei Kesehatan Nasional 2021. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved from http://w. Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuborkulosis. Jakarta: Kemenkes RI. Kemenkes RI. Program Penanggulangan Tuborkulosisi. Jakarta: Kemenkes RI. Kim. AuAge Differences In Adherence To Self-Management Behaviors And Barriers To Self-Care In Adults With Chronic Illnesses. Ay Journal of Advanced Nursing, 75. , 3080-3092. Kumar. , & Clark. Kumar & Clark's Clinical Medicine . th ed. Elsevier. Kumar. Suman. , & Kaur. Effectiveness of nurse-led intervention on self-management, self-efficacy, and blood glucose level among patients with Type 2 diabetes mellitus. Journal of Nursing Research, 29. , 45-53. Kurniawan. Sutanto. , & Haryono. Impact of Self-Care Management Education on Self-Efficacy in Pulmonary TB Patients in Bandung. *Indonesian Journal of Health Sciences, 11*. , 222-230. https://doi. org/10. 29080/jihs. Kurniawati. Supriyadi. , & Anwar. Pengaruh Edukasi Self-Care terhadap Efikasi Diri Pasien Tuberkulosis Paru di Jawa Tengah. *Jurnal Keperawatan Indonesia, 22*. , 45-53. https://doi. org/10. 7454/jki. Lee. Tuthill. Birch. , & Wright. Enhancing self-efficacy in tuberculosis patients through psychoeducational interventions: A systematic review. *Health Education Research, 34*. , 301-315. https://doi. org/10. 1093/her/cyz016 The Effectiveness of Self-Care Management Education on Increasing Self-Efficacy in Pulmonary Tuberculosis Patients (Supriyadi et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Lee. Oh. Kim. Lee. , & Kim. AuThe Impact Of Educational Intervention On Patients' Adherence To Tuberculosis Treatment: A Randomized Controlled Trial. Ay BMC Infectious Diseases, 20. , 1-9. Lestari. Hermawan. , & Ningsih. Efektivitas Edukasi Self-Care dalam Meningkatkan Efikasi Diri Pasien TB Paru di Bandung. *Jurnal Kesehatan, 9*. , 150-158. https://doi. org/10. 26630/jk. https://massugiyantojambi. com/2011/04/15/teori-motivasi/ Li. Zhang. , & Liu. Impact of self-care management intervention on self-efficacy and adherence in patients with chronic diseases in China. PLOS ONE, 17. , e0264732. Lorig. , & Holman. AuSelf-Management Education: History. Definition. Outcomes. And Mechanisms. Ay Annals of Behavioral Medicine, 41. , 1-10. Louw. Mabaso. Peltzer. , & Mchunu. The effect of educational interventions on adherence to TB treatment: A systematic review. *Journal of Tuberculosis Research, 7*. , 91-104. https://doi. org/10. 4236/jtr. Maharani. AuPenerapan Terapi Kognitif Perilaku Untuk Meningkatkan Kepatuhan Obat Pada Individu Dengan Gangguan Bipolar: Studi Kasus. Ay Jurnal EMPATI, 13. , 20-31. Mahmoudi. Moradi. , & Moradi. AuChallenges In Tuberculosis Treatment Adherence Among Elderly Patients: A Systematic Review. Ay Iranian Journal of Public Health, 49. , 343-352. Mariana. And Simanullang. Self Management Pasien Hipertensi Di Rsup H . Adam Malik Medan Tahun 2019 Self Management Pasien Hipertensi Di Rsup H . Adam Malik Medan. Mariana. , & Simanullang. Self Management Pasien Hipertensi Di RSUP H. Adam Malik Medan. Muhtar. Pemberdayaan Keluarga Dalam Peningkatan Self Efficacy Dan Self Care Activity Keluarga Dan Penderita Tb Paru (Family Empowerment in Increasing Self-Effi cacy and Self-Care Activity of Family Patients Pulmonary T. Jurnal Ners, 8(Oktobe. , 229Ae239. https://doi. org/http://dx. org/10. 20473/jn. Muniyandi. Ramachandran. , & Balasubramanian. Socioeconomic dimensions of tuberculosis: review of studies over two decades from South India. Indian Journal of Tuberculosis, 67. , 462-472. Munro. Lewin. Smith. Engel. Fretheim. , & Volmink. Patient adherence to tuberculosis treatment: A systematic review of qualitative research. *PLoS Medicine, 14*. , e1002848. https://doi. org/10. 1371/journal. Murray. Rosenthal. , & Pfaller. Medical Microbiology . th ed. Elsevier. Ngamvithayapong-Yanai. , et al. AuThe Impact of Educational Level on The Delay in Diagnosis and Treatment of Pulmonary Tuberculosis: A Cross-Sectional Study in Thailand. Ay BMC Public Health, 19. , https://doi:10. 1186/s12889-019-7051-5 Noorratri. Purnamasari. , & Kartika. Improving self-efficacy and physical self-reliance of patients with pulmonary tuberculosis through mindfulness. Nurse Media Journal of Nursing, 10. , 154-165. Notoatmodjo, . Pendidikan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nugraha. , et al. AuDeveloping Effective Psychoeducational Programs for TB Patients: Lessons Learned from a Multi-Center Trial. Ay Journal of Clinical Psychology in Medical Settings, 30. , 65-77. Nuraini. Setyawan. , & Wibowo. The influence of educational level on tuberculosis incidence in West Java. Indonesia: A cross-sectional study. Indonesian Journal of Public Health, 14. , 167-175. Nursalam. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika Nuwa. , & Kiik. Effect of Self Management Education on Knowledge and Self Efficacy of pulmonary TB Clients in Timor Tribal Community. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifer. , 8. , 085-093. Patel. Desai. , & Srivastava. The association between educational status and tuberculosis prevalence in India. Journal of Global Infectious Diseases, 10. , 17-22. Pradipta. Houtsma. , van Boven. Alffenaar. , & Hak. Interventions to improve medication adherence in tuberculosis patients: A systematic review of randomized controlled studies. Primary Care Respiratory Medicine, 29. , 21-29. Puspasari. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.