Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 5 (No. : Halaman : 63-69 Hubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Dan Intensive Care Unit (ICU) The Correlation of Job Stress with Nurses' Performance in Carrying Out Nursing Services in the Emergency Department (IGD) and Intensive Care Unit (ICU) Al Muhajirin1*. Agus Setiyadi2. Harun Al Rasid3. Tri Mulyati4. Yosy Retno5. Sara Tania6. Sariaman Purba7. Sri Redjeki8. Yunita9 & Irma Gita10 1*,2,3,4,5,6,7,8,9,10 Keperawatan Ners. STIKes Wijaya Husada Bogor. Indonesia Disubmit: 26 Juni 2025. Diproses: 30 Juni 2025. Diaccept: 20 Juli 2025. Dipublish: 30 Juli 2025 *Corresponding author: wijayahusada@gmail. Abstrak Stres yang dialami karyawan akibat lingkungan yang dihadapinya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerjanya. Kinerja yang menurun salah satunya dapat disebabkan oleh stres yang dialami Kinerja seorang perawat dapat dilihat dari mutu asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan stres kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Metode penelitian yang digunakan berupa analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yaitu dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden. Pengumpulan data diperoleh melalui penyebaran kuosioner PSS 10 untuk variabel stress kerja dan lembar observasi untuk menilai kinerja. Analisa data yang digunakan adalan univariat dan bivariat dengan uji kendallAos tau. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value sebesar 0,000 yang artinya p-value <0,05 sehingga Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan stres kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Diharapkan dapat menjadi masukan kepada pihak manajemen RS khususnya untuk memberikan pelatihan, motivasi, maupun reward kepada perawat, sehingga kinerja perawat akan baik dan stress kerja perawat dapat berkurang. Kata Kunci: Kinerja. Stress Kerja. Perawat Abstract The stress experienced by employees due to the environment they face will affect their performance and job satisfaction. Decreased performance can be caused by stress experienced by employees. The performance of a nurse can be seen from the quality of nursing care provided to patients. This study aims to analyze the relationship between work stress and nurses' performance in carrying out nursing services at the Emergency Room (IGD) of Leuwiliang Hospital. Bogor Regency. The research method used was quantitative analytic with a cross sectional approach. The sampling method used total sampling technique with a total sample size of 35 respondents. Data collection was obtained through the distribution of PSS 10 questionnaires for work stress variables and observation sheets to assess performance. Data analysis used is univariate and bivariate with kendall's tau test. The statistical test results obtained a p value of 0. which means the p-value <0. 05 so that Ha is accepted. It can be concluded that there is a relationship between work stress and nurses' performance in carrying out nursing services at the Emergency Department (IGD) of Leuwiliang Hospital. Bogor Regency. It is expected to be an input to the hospital management, especially to provide training, motivation, and rewards to nurses, so that nurse performance will be good and nurse work stress can be reduced. Keywords: Performance. Work Stress. Nurses DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Muhajirin. Hubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Dan Intensive Care Unit (ICU). Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (JBIKES), 5 . : Halaman. PENDAHULUAN Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu unit di Rumah Sakit yang merupakan tempat pertama kali dikunjungi seorang pasien ketika ingin mendapatkan pertolongan pertama. IGD setiap saat terdapat kasus dengan berbagai tingkat kegawatan yang harus segera mendapat pelayanan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang selalu kontak pertama kali dengan pasien harus selalu cepat, tepat, dan cermat untuk mencegah kematian dan kecacatan (Trisyani et al. , 2. Pada tahun 1990, jasa pelayanan IGD di Amerika meningkat 106% dari tahun 1980, sedangkan kunjungan IGD pada tahun 2022 mencapai 110. 000 dan meningkat 23% dari 90 juta kunjungan yang terjadi pada tahun 2002. Jumlah yang signifikan ini menunjukkan bahwa memerlukan perhatian yang cukup besar (Stowman, 2. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 di mana 12% dari kunjungan IGD berasal dari rujukan, dengan jumlah RSU 1. 033 dari 1. rumah sakit yang ada (Infodatin, 2. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2020 didapatkan jumlah kunjungan IGD berjumlah 47. 757 orang, pada 2017 berjumlah 48. 967 orang, pada 2018 berjumlah 53. 930 orang, pada 2019 455 orang, dan pada 2020 122 orang. Sedangkan menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor jumlah kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat, angka pasien terus Sejak berdirinya RSUD tahun 2014, terdapat sebanyak 19. 000 lebih Tahun 2017 jumlah kunjungan meningkat menjadi 28. 000 lebih pasien. Lonjakan luar biasa terjadi pada tahun 2019 di mana jumlahnya mencapai 44. Sementara untuk data tahun 2020 sampai bulan Oktober, tercatat sebanyak 125 pasien merasakan dinginnya ruang IGD (Dinkes Jawa Barat, 2. Di Rumah Sakit tenaga keperawatan merupakan sumber daya manusia terbanyak dari segi jumlah dan paling lama berinteraksi dengan klien. Tenaga keperawatan rumah sakit adalah ujung tombak pelayanan kesehatan, dimana tenaga keperawatan bekerja selama 24 jam mendampingi dan memonitor kesehatan pasien secara terus menerus memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan professional (Sitorus and Lusianah, 2. Tugas dan tanggung jawab perawat bukan hal yang ringan untuk dipikul. satu sisi perawat bertanggung jawab terhadap tugas fisik, administratif dari instansi tempat ia bekerja, menghadapi kecemasan, keluhan dan mekanisme pertahanan diri pasien yang muncul pada pasien akibat sakitnya, ketegangan, kejenuhan dalam menghadapi pasien dengan kondisi yang menderita sakit kritis atau keadaan terminal, di sisi lain ia harus selalu dituntut untuk selalu tampil sebagai profil perawat yang baik oleh pasiennya. Berbagai situasi dan tuntutan kerja yang dialami dapat menjadi sumber potensial terjadinya stres (Nisa, 2. Stres kerja merupakan reaksi yang merugikan terhadap tekanan yang berlebihan atau tuntutan di tempat kerja dan lingkungan kerjanya. Pekerjaan yang berhubungan dengan rumah sakit atau kesehatan memiliki kecenderungan tinggi untuk terkena stres kerja atau depresi pada perawat sehingga mengakibatkan pelayanan menjadi terganggu (Mariana and Ramie, 2. Stres kerja yang peningkatan waktu sakit dan omset pekerjaan yang lebih tinggi. Salah satu profesi yang rentan mengalami stres kerja dalam Departemen Emergensi adalah perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) (Adela Sulistira. Meta Maulida D and Abdul Hadi Hassan, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD Leuwiliang dengan melakukan observasi dan wawancara kepada 10 perawat yang bertugas di IGD RSUD Leuwiliang 7 perawat diantaranya mengalami stres dalam melakukan pelayanan dan 3 perawat lainnya tidak mengalami stres. Berkaitan dengan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan tanggal 12-14 Mei 2025. Responden dalam penelitian ini adalah perawat IGD dan ICU RSUD Leuwiliang sebanyak 35 orang. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 35 Instrumen yang digunakan berupa lembar kuesioner Perceived Stress Scale (PSS)-10 untuk menilai stres kerja dan lembar observasi untuk menilai Pengolahan data dan analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji kendall HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Lama Kerja, dan Pendidikan Kriteria Usia O 30 tahun > 30 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Kerja O 5 tahun > 5 tahun Pendidikan Di Perawat S1 Perawat Ruangan IGD ICU Total Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2025 Berdasarkan Hasil Tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 35 responden, didapatkan responden terbanyak berusia O 30 tahun yaitu sebanyak 22 responden . ,9%), 19 responden . ,3%) berjenis kelamin laki-laki, 18 responden . ,4%) dengan lama kerja > 5 tahun, 32 responden . ,4%) dengan pendidikan Di Keperawatan, dan 51,4% adalah perawat ruang IGD. pengalaman, di mana sebanyak 18 . ,4%) responden dengan pengalaman kerja >5 tahun, sehingga perawat sudah mampu memiliki strategi coping yang lebih baik dalam menghadapi tekanan dan stres. Perawat menjadi lebih terbiasa dengan rutinitas kerja, tantangan, dan konflik, sehingga lebih mampu mengelola stres Berdasarkan Tabel 2 tentang yang muncul. distribusi frekuensi stres kerja dalam melaksanakan pelayanan keperawatan di Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kinerja Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ICU, dari Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ICU Kinerja Perawat sebanyak 17 responden . ,6%) memiliki Baik stress kerja sedang. Buruk Hasil penelitian ini sebanding Total Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2025 dengan penelitian yang dilakukan Fuji Mazelda dkk . dengan judul Tingkat Berdasarkan Tabel 3 tentang Stres Kerja dengan Kinerja Perawat di distribusi frekuensi kinerja perawat dalam Rumah Sakit: Literature Riview, dari 6 melaksanakan pelayanan keperawatan di artikel yang memenuhi kriteria didapatkan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ICU, dari sebanyak 4 artikel . ,67%) dengan stres kerja sedang (Mazelda. Arneliwati and . ,3%) Erika, 2. mempunyai kinerja baik. Stres kerja sedang adalah kondisi Hasil penelitian ini dibandingkan ketika seorang pekerja merasakan tekanan dengan penelitian yang dilakukan oleh dan ketegangan akibat pekerjaan yang Maulida Khalizahy . dengan judul Hubungan Stres Kerja dengan Kinerja mengatasinya, namun belum mencapai Perawat Terhadap Proses Asuhan tingkat yang ekstrem atau kronis. Stres ini Keperawatan di Unit Rawat Inap RSUD bisa disebabkan oleh berbagai faktor Khidmat Sehat Afiat Kota Depok tahun seperti beban kerja yang berlebihan. Hasil penelitian menunjukan dari 69 tuntutan pekerjaan yang tinggi, kurangnya responden didapatkan sebanyak 19 dukungan dari atasan atau rekan kerja, perawat . ,2%) dengan kinerja baik konflik di tempat kerja, ketidakjelasan (Maulida Khalizahy. Azizah Zen and Fini peran, dan lingkungan kerja yang tidak Fajrini, 2. kondusif (Putri Adhisty et al. , 2. Kinerja perawat yang baik adalah Menurut hasil kerja perawat yang profesional, disimpulkan bahwa tingkat stres perawat ditunjukkan dengan pemberian pelayanan di IGD dan ICU RSUD Leuwiliang keperawatan yang berkualitas dan efektif. Kabupaten Bogor dalam kategori sedang, serta mampu memberikan kepuasan pada hal ini dapat disebabkan karena faktor Kinerja ini mencakup aspek Tabel 2. Distribusi Frekuensi Stres Kerja Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ICU Stres Kerja Ringan Sedang Berat Total Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2025 pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan berinteraksi dengan pasien dan tim kesehatan lainnya. Kinerja perawat yang baik merupakan kunci keberhasilan pelayanan kesehatan secara Dengan kinerja yang optimal, perawat dapat memberikan kontribusi positif bagi kesehatan pasien, citra rumah sakit, dan kemajuan profesi keperawatan. Kinerja perawat yang baik dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri perawat . maupun dari lingkungan kerja . Faktor internal meliputi motivasi, pengetahuan, kepribadian perawat. Faktor eksternal meliputi lingkungan kerja, kepemimpinan, manajemen, dan fasilitas yang tersedia (Siregar and Kep, 2. Menurut disimpulkan bahwa kinerja perawat yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah tingkat pendidikan dan faktor pengalaman dari perawat di ruang IGD dan ICU. Semakin tinggi tingkat pendidikan perawat, semakin baik pula kinerja dalam memberikan pelayanan Pendidikan memberikan perawat pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pelayanan yang Pengalaman juga membantu perawat mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif dan kemampuan untuk menangani berbagai situasi pasien. Tabel 4. Hubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan Pelayanan Keperawatan Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ICU RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor Kinerja Perawat Total Variabel Baik Buruk P value Ringan Stres Kerja Sedang 0,000 Berat Total Sumber Tabel: Data Primer Tahun 2025 Berdasarkan hasil Tabel 4 di atas diketahui bahwa dari 35 responden, terdapat 16 . ,7%) yang memiliki stres kerja ringan dengan kinerja perawat baik. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value sebesar 0,000 O 0,05 yang artinya adanya hubungan stres kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Yasir Haskas dkk . dengan judul Hubungan Stres Kerja Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanaan Asuhan, di mana hasil penelitian menunjukkan nilai p value sebesar 0,002 yang artinya terdapat hubungan stres kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanaan asuhan (Haskas et al. , 2. Stres kerja memiliki hubungan negatif dengan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan. Tingkat stres yang tinggi dapat menurunkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh perawat, sedangkan stres yang rendah dapat meningkatkan kinerja Perawat yang mengalami stres kerja ringan atau sedang cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Perawat dapat fokus pada tugas, memberikan perawatan yang efektif, dan menjaga kualitas pelayanan (Maydinar. Sasmita and Selandio, 2. Berdasarkan hasil penelitian dan teori diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa terdapat keselarasan antara teori dengan hasil penelitian yaitu bahwa stress kerja yang ringan akan membuat kinerja perawat menjadi lebih baik di mana perawat lebih fokus dalam bekerja sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan dengan lebih optimal. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara stres kerja dengan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) aan Intensive Care Unit (ICU). UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh sivitas akademika STIKes Wijaya Husada Bogor khususnya yang telah memberikan bantuan dana penelitian serta kepada seluruh responden yang bersedia terlibat dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA