Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Tipoid di Wilayah Kerja Puskesmas Lepo-Lepo Tahun 2024 Rizki YuliantiA*. Andi HermanA. RasmaA 1,2,3. Program Studi S1 Keperawatan. Institut Teknologi adan KesehatanaAvicenna. Kendaria Email korespondensi: riskiyulianti771@gmail. Info Artikel: Diterima: 19 Agustus 2024 Disetujui: 30 Agustus 2024 Dipublikasi: September 2024 Kata Kunci: Cuci Tangan. Kebiasaan Makan. Pengetahuan. Demam Tifoid Keywords: Handwashing, dietary habits, knowledge, typhoid fever Abstrak Latar Belakang: Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat penting di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo, kejadian demam tifoid menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid dapat membantu dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah analitik pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel 36 orang. Teknik non probability sampling dengan pendekatan consecutive sampling. Mengetahui ada hubungan menggunakan uji chisquare dan uji kekuatan menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian di peroleh bahwa hubungan cuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid pada nilai Avalue = 0,000 (Avalue < 0,. , ada hubungan kebiasaan makan dengan kejadian demam tifoid pada nilai Avalue = 0,001 (Avalue < 0,. dan ada hubungan pengetahuan dengan kejadian demam tifoid pada nilai Avalue = 0,001 (Avalue < 0,. di Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024. Kesimpulan: Pola makan yang tidak sehat dan stres merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap cuci tangan sebelum makan, kebiasaan makan dan pengetahuan merupakan faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian demam tifoid di Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024. Bagi Puskesmas disarankan agar meningkatkan pelayanan kesehatan dengan cara menigkatkan perhatian ke pasien demam tifoid agar dapat mengurangi kasus. Abstract Background: Typhoid fever is a systemic infection caused by Salmonella typhi bacteria and is still a significant public health problem in many developing countries, including Indonesia. In the Lepo-Lepo Health Center area, the incidence of typhoid fever shows an alarming trend. Understanding the factors associated with the incidence of typhoid fever may help prevent and control this disease. Objective: This study aims to identify and analyze the aspects related to the incidence of typhoid fever in the working area of Puskesmas Lepo-Lepo. Methods: The research method used was an analytic cross-sectional study The number of samples was 36 people. Non-probability sampling technique with consecutive sampling approach. Knowing there is a relationship using the chi-square test and strength test using the chi-square test. Results: The results showed the relationship between hand washing before eating and the incidence of typhoid fever at a value of Avalue = 0. 000 (Avalue <0. there is a relationship between eating habits with the incidence of typhoid fever at a value of Avalue = 0. 001 (Avalue <0. , and there is a relationship between knowledge and the incidence of typhoid fever at a value of Avalue = 0. 001 (Avalue <0. in the Lepo-Lepo Health Center Area. Baruga District. Kendari City 2024. Conclusion: Unhealthy diet and stress are significant risk factors for hand washing before eating. eating habits and knowledge are factors associated with the incidence of typhoid fever in the Lepo-Lepo Health Center Area. Baruga District. Kendari City 2024. For Puskesmas, improving health services by increasing attention to typhoid fever patients is recommended to reduce cases. PENDAHULUAN Demam tifoid adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Penularan biasanya terjadi melalui konsumsi makanan atau air yang Di Indonesia, insiden demam tifoid diperkirakan berkisar antara 350 dan 810 kasus per 100. 000 orang, dengan tingkat prevalensi 1,6%. Penyakit ini menempati urutan kelima di antara penyakit menular yang menyerang individu dari semua usia di negara ini, yang berkontribusi terhadap 6,0% dari total kasus. Selain itu, penyakit ini merupakan penyebab kematian terbanyak Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 kelima belas di semua kelompok usia di Indonesia, yang mencakup 1,6% kematian. Mayoritas kasus demam tifoid dilaporkan pada individu berusia antara 3 dan 19 tahun. (Majidah et al. , 2. Insiden demam tifoid per tahun dan kontribusinya terhadap tingginya angka kematian dan kesakitan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat lebih dari 25 juta kasus demam tifoid yang dilaporkan secara global setiap tahunnya (Safi Hameedullah, 2. Temuan terkini dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan angka prevalensi demam tifoid sebesar 6,3% pada tahun 2023 (Sofia dkk. , 2. Lebih lanjut, data dari Dinas Kesehatan Kota Kendari pada tahun yang sama mengungkapkan bahwa insiden kasus tifoid mencapai 4,5%. (Dinke. Kota Kendar. Data kasus demam tifoid di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo pada Tahun 2022 sebanyak 324 Kasus. Tahun 2023 sebanyak 407 Kasus sedangkan untuk data yang berkunjung Puskesmas Lepo-Lepo dengan gejala demam tifoid dari bulan Maret sampai Juni sebanyak 72 orang (Puskesmas Lepo. Penelitian yang dilakukan oleh Dahlan . menunjukkan bahwa penularan penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi terutama terjadi melalui makanan dan minuman yang Cara menunjukkan pentingnya praktik keamanan pangan dan kebersihan diri dalam menanggulangi penyebaran penyakit ini (Dahlan, 2. Praktik kebersihan diri masyarakat, khususnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan, sangat berkorelasi dengan pencegahan penyakit demam tifoid. Lebih jauh, demam tifoid dikenal sebagai penyakit multifaktorial, yang penularannya dipengaruhi oleh berbagai faktor penentu, antara lain usia, jenis kelamin, sanitasi lingkungan, faktor pekerjaan, latar belakang pendidikan, kebersihan diri, dan lokasi geografis penderita. (Dahlan, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Hosoglu . mengidentifikasi beberapa faktor yang berhubungan dengan demam tifoid pada pasien dewasa. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pengetahuan . ilai-p = 0,. , kebiasaan makan yang melibatkan konsumsi sayuran mentah . ilai-p = 0,. , dan asupan salad selada . ilai-p = 0,. semuanya berkorelasi dengan peningkatan risiko tertular demam tifoid. Temuan ini lebih lanjut dijelaskan oleh investigasi yang dilakukan oleh Ramadhani dkk. , yang menilai kualitas bakteriologis selada yang tersedia di enam pasar grosir tradisional di Kota Semarang, termasuk Pasar Pedurungan, serta di lima supermarket. Analisis mereka menunjukkan bahwa dari 32 sampel selada yang diperiksa, empat sampel . ,5%) yang diperoleh dari pasar tradisional dinyatakan positif mengandung bakteri Salmonella sp. Pada bulan Juni 2024, serangkaian wawancara dilakukan kepada delapan responden dari wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat responden melaporkan kecenderungan mengonsumsi makanan di luar rumah. Selain itu, dua responden mengakui kurangnya praktik mencuci tangan sebelum makan, sementara dua responden lainnya menyatakan tidak mengetahui penyakit tifus. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, sehingga penulis tertarik melakukan penelitian tentang AuFaktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tipoid di wilayah Kerja Puskesmas Lepo-Lepo Tahun 2024Ay. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 METODE Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk faktor-faktor berhubungan dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo. Pendekatan cross-sectional dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengukur prevalensi dan mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan dependen pada satu titik waktu. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo, yang mencakup beberapa kelurahan. Wilayah ini dipilih karena memiliki tingkat kejadian demam tifoid yang cukup tinggi, sehingga pengumpulan data yang relevan. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan, dimulai dari Juli hingga Agustus 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo yang pernah mengalami gejala demam tifoid dalam satu tahun terakhir sebanyak 72 orang. Populasi ini dipilih dengan asumsi bahwa mereka telah terpapar risiko yang terkait dengan kejadian demam tifoid. Sampel penelitian diambil dengan teknik purposive sampling, di mana responden dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu individu yang telah didiagnosis menderita demam tifoid oleh tenaga medis di Puskesmas LepoLepo dalam satu tahun terakhir. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5% didapatkan sebanyak 36 Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan makan, dan pengetahuan, sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian demam tifoid. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner mengumpulkan data terkait dengan variabelvariabel independen dan dependen. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan dalam pengumpulan data. Selain itu, data sekunder mengenai angka kejadian demam tifoid akan diperoleh dari catatan medis Puskesmas Lepo-Lepo. Teknik analisis yang digunakan meliputi: Analisis Deskriptif: Untuk menggambarkan karakteristik demografis responden, distribusi pola makan, tingkat stres, dan kejadian gastritis, dan Uji ChiSquare: Untuk menguji hubungan antara pola makan dengan kejadian gastritis dan antara tingkat stres dengan kejadian gastritis. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Responden di Puskesmas Lepo-Lepo Tahun 2024 Karakterisitik Responden Jenis kelamin Laki-laki Umur . >30 Pendidikan SMP SMA Sarjana Pekerjaan IRT Tani Swasta PNS Tabel 1 menunjukkan dari 36 responden, terbanyak adalah jenis kelamin perempuan yaitu 31 responden . ,1%) dan terkecil adalah jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 5 ,9%), dengan umur tertinggi adalah umur 21-30 tahun sebanyak 18 ,0%) dan terkecil kategori Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 umur >30 tahun sebanyak 8 responden . ,2%). Pendidikan responden, terbanyak adalah berpendidikan Serjana yaitu 14 responden . ,9%) dan terkecil adalah berpendidikan SMP yaitu sebanyak 3 responden . ,3%). Sedangkan pekerjaan paling banyak adalah pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga yaitu 14 responden . ,9%) dan terkecil adalah pekerjaan sebagai tani yaitu sebanyak 2 responden . ,6%). Hubungan cuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Tabel 2. Hubungan Cuci Tangan Sebelum Makan Dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Cuci Tangan Kejadian Demam Total Avalue Sebelum Tifoid Makan Menderita Tidak Menderita Kurang 18 50,0 11,1 22 61,1 0,001 0,05 yuc= Baik 11 30,6 14 38,9 0,597 Total 21 58,3 15 41,7 36 100 Hasil penelitian dari 36 responden terdapat 22 responden mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori kurang dan 14 responden mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori baik. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai Avalue = 0,001 (Avalue < 0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan cuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas LepoLepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024 pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,. Untuk mengetahui besarnya keeratan hubungan antara variabel yang telah di uji koefisien phi terhadap hasilyuc = 0, 597 yang berarti ada hubungan yang kuat antara cuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas LepoLepo Kecamatan Baruga Kota Kendari. Fathonah . mencatat bahwa mikroorganisme yang berada dalam tubuh manusia dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan, dengan patogen tertentu yang terdapat pada tangan dan kuku. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan dengan benar melalui praktik mencuci tangan dengan sabun, yang meliputi menggosok dan membilas dengan air mengalir. Metode ini secara efektif menghilangkan kotoran dan kontaminan Oleh karena itu, sangat penting bersentuhan dengan makanan secara pentingnya mencuci tangan bagi semua Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden terdapat 22 responden mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori kurang dan 14 responden mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori baik. Dari 22 responden yang mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori kurang terdapat 18 responden . ,0%) yang menderita demam tifoid dan 4 responden . ,1%) tidak menderita demam hal ini karena responden tidak cuci tangan sebelum makan selain itu tidak menggunting kuku sekali 2 minggu. Selanjutnya dari 14 responden yang mengatakan cuci tangan sebelum makan ketegori baik terdapat 3 responden . ,3%) Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 yang menderita demam tifoid responden . ,6%) tidak menderita demam tifoid hal ini karena responden mencuci tangan dapat mencegah demam tifoid. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Malau . yang meneliti tentang hubungan antara perilaku cuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. Malau melaporkan hasil yang signifikan secara statistik dengan nilai p sebesar 0,042, odds ratio (OR) sebesar 2,870, dan confidence interval (CI) sebesar 1,135 hingga 7,252. Selain itu, hasil penelitian ini juga mendukung Rakhman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel cuci tangan pakai sabun sebelum makan dengan kejadian demam tifoid. Secara spesifik. Rakhman menemukan bahwa OR pada individu yang tidak menggunakan sabun saat mencuci tangan sebelum makan sebesar 2,625, hal ini menunjukkan bahwa individu yang tidak menggunakan sabun dalam perilaku tersebut memiliki kemungkinan 2,625 kali lebih besar untuk tertular demam tifoid dibandingkan dengan individu yang selalu mencuci tangan pakai sabun sebelum makan. Hubungan Kebiasaan makan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas LepoLepo Tabel 2. Hubungan Kebiasan Makan dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Lepo-Lepo Kebiasaan Kejadian Demam Tifoid Total Avalue Makan yyU Menderita Tidak menderita Kurang 0,000 0,05 yuc Baik 0,781 Total Hasil penelitian dari 36 responden terdapat 19 responden kebiasaan makan ketegori kurang dan 17 responden kebiasaan makan ketegori baik. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai Avalue = 0,000 (Avalue < 0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan kebiasaan makan dengan kejadian demam tifoid di Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024 pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,. Untuk mengetahui besarnya keeratan hubungan antara variabel yang telah di uji koefisien phi terhadap hasil yuc = 0, 781 yang berarti ada hubungan yang sangat kuat antara kebiasaan makan dengan kejadian demam tifoid di Wilayah Puskesmas LepoLepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024. Kebiasaan motivasi, pilihan, dan metode yang digunakan individu dalam memperoleh makanan (Saputra et al. , 2. Praktik mengonsumsi makanan di luar rumah, seperti membeli dari warung makan, terjadi setidaknya tiga kali per minggu (Padila, 2013, sebagaimana dikutip Batubuaya. Makanan merupakan kebutuhan mendasar bagi keberadaan manusia, dan salah satu strategi yang efektif untuk menjaga kesehatan adalah dengan memastikan konsumsi makanan yang aman, yang memerlukan verifikasi bahwa makanan tersebut bebas dari patogen. Makan di luar rumah menyiratkan konsumsi makanan atau minuman yang tidak disiapkan di rumah seseorang, yang mengarah pada Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 kurangnya kesadaran mengenai proses yang menggarisbawahi kurangnya pemahaman di digunakan oleh penjamah makanan dalam kalangan konsumen mengenai penanganan mengubah bahan mentah menjadi makanan dan penyiapan bahan makanan mentah yang siap saji. Praktik yang tidak sehat di antara tepat oleh petugas layanan makanan. penjamah makanan dapat secara signifikan Temuan penelitian ini menunjukkan membahayakan kebersihan makanan yang bahwa terdapat perbedaan yang signifikan disediakan, sehingga menimbulkan risiko dalam kebiasaan makan kelompok kasus kesehatan potensial bagi konsumen. dibandingkan dengan kelompok kontrol. (Pramitasari, 2. Secara khusus, individu dalam kelompok Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus menunjukkan prevalensi praktik diet dari 36 responden terdapat 19 responden yang buruk yang jauh lebih tinggi saat yang kebiasaan makan kurang terdapat 18 mengonsumsi makanan di luar rumah, responden . ,0%) menderita demam tifoid dibandingkan dengan mereka yang memiliki dan 1 responden . ,8%) tidak menderita kebiasaan makan yang lebih sehat. Bukti ini demam tifoid. hal ini karena responden menunjukkan bahwa kecenderungan untuk kebiasaan makan di luar rumah. membeli atau mengonsumsi makanan ringan Selanjutnya dari 17 responden yang di luar rumah merupakan faktor risiko yang kebiasaan makan ketegori baik terdapat 3 penting untuk perkembangan demam tifoid. ,3%) yang menderita demam Oleh karena itu, sangat penting bagi individu tifoid dan 14 responden . ,9%) yang tidak untuk berhati-hati dan mengutamakan menderita demam tifoid hal ini karena kebersihan makanan yang mereka konsumsi. responden kebiasaan makan jajan atau makan Hasil penelitian ini sesuai dengan di luar rumah. penelitian Ulfa . yang dilakukan di Temuan penelitian Artanti . wilayah kerja Puskesmas Pagiyanten menunjukkan bahwa konsumsi atau Kabupaten Tegal yang meneliti tentang pembelian makanan ringan di lingkungan luar hubungan antara konsumsi jajanan atau merupakan perilaku yang lazim di kalangan makanan di luar rumah dengan kejadian Perilaku ini sering kali berkorelasi demam tifoid. Hasil penelitian menunjukkan dengan menurunnya kesadaran mengenai adanya hubungan yang bermakna secara statistik dengan nilai p sebesar 0,001 dan odds Di tempat-tempat seperti tempat ratio sebesar 5,39 . % confidence interval: umum, keberadaan lalat, yang merupakan 1,97-14,. yang menunjukkan bahwa vektor potensial bagi Salmonella typhi, kebiasaan makan di luar rumah berhubungan menimbulkan kekhawatiran yang signifikan dengan peningkatan kejadian demam tifoid. mengenai keamanan pangan. Situasi ini Hubungan Pengetahuan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Tabel 2. Hubungan Pengetahuan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kejadian Demam Tifoid Total Avalue yyU Menderita Tidak menderita Pengetahuan Kurang 20 55,6 0,001 0,05 yuc 0,605 Baik 16 44,4 Total Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hasil penelitian dari 36 responden terdapat 20 responden yang pengetahuan kurang dan 16 responden pengetahuan baik. Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai Avalue = 0,001 (Avalue < 0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan pengetahuan dengan kejadian demam tifoid di Wilayah Puskesmas LepoLepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024 pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,. Untuk mengetahui besarnya keeratan hubungan antara variabel yang telah di uji koefisien phi terhadap hasil yuc = 0, 605 yang berarti ada hubungan yang kuat antara pengetahuan dengan kejadian demam tifoid Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024. Pengetahuan kognitif merupakan domain penting yang memengaruhi tindakan individu, bukan sekadar perilaku. Bukti empiris menunjukkan bahwa perilaku yang berakar pada pengetahuan cenderung lebih bertahan lama dibandingkan dengan perilaku yang tidak memiliki dasar tersebut. Pengetahuan asosiatif, membangun hubungan antara konsep abstrak dan realitas nyata. Pengetahuan sering dikategorikan ke dalam bentuk terstruktur dan tidak terstruktur, serta Pengetahuan terstruktur dicirikan oleh penyebarannya, sementara pengetahuan implisit mengacu pada keahlian dan pengalaman diam-diam individu yang belum didokumentasikan secara formal. Untuk mengubah pengetahuan implisit menjadi mengekstraksi dan mengatur informasi ini secara sistematis. Dengan demikian, pengetahuan kognitif memainkan peran penting dalam membentuk tindakan individu. (Notoatmodjo, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden terdapat 20 responden yang pengetahuan kurang terdapat 17 responden . ,2%) yang menderita demam tifoid dan 3 responden . ,3%) tidak menderita demam tifoid hal ini karena responden belum mengetahui Air minum isi ulang tanpa merek, dan perlu di perlu dimasak baik untuk masak baik untuk pencernaan. Selanjutnya dari 16 responden yang pengetahuan baik terdapat 4 responden . ,1%) yang menderita demam tifoid dan 12 responden . ,3%) tidak menderita demam tifoid hal ini karena responden mengetahui mencucian tangan yang baik cukup dengan air mengali mengalir saja. Hasil penelitian ini sejalan penelitian Puspita . menjelaskan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dengan perilaku meminimalkan kecemasan akibat hospitalisasi pada anak pra sekolah di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian Mutiara and Hastuti . , menjelaskan orang tua bayi BBLR mayoritas berusia dewasa Muda . ,6%), berjenis kelamin perempuan . %), berpendidikan rendah . %) dan tingkat kecemasan sedangBerat . %). Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia . ilai p = 0. dan jenis kelamin . ilai p = 0. dengan tingkat kecemasan orang tua Bayi BBLR, tetapi terdapat hubungan signifikan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan orangtua bayi BBLR dengan nilai p = 0. ilai p > 0. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Ada hubungan cuci tangan sebelum makan, kebiasaan makan, dan pengetahuan dengan kejadian demam tifoid di wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Baruga Kota Kendari 2024 Bagi Puskesmas disarankan agar meningkatkan pelayanan kesehatan dengan cara menigkatkan perhatian ke pasien demam tifoid agar dapat mengurangi kasus di Wilayah Puskesmas Lepo-Lepo Kecamatan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Baruga Kota Kendari 2024. Bagi profesi keperawatan disarankan agar memberikan pengetahuan bagi perawat dapat mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tipoid. Peneliti selanjutnya hendaknya dapat meneliti tentang aktifitas terhadap dengan kejadian demam tipoid. DAFTAR PUSTAKA