Vol 5 No 2 Tahun 2025 SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia http:// ejournal. icpa-banyuwangi. id/index. php/skyhawk Pengaruh Implementasi Risk-Based Screening Terhadap Kinerja Aviation Security Dalam Pemeriksaan Penumpang di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali Jan Fridolin Tarigan1A. Dimas Hari Cahyo2. Fajar Islam3. Boi-Yee Liao4 Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi Krirk University Thailand Alamat Email: haricahyodimas@yahoo. id2, islamfajar83@gmail. com3 , y5708211@gmail. Email Korespondensi: ejanfridolintarigan02@gmail. Paper Received: 03 September 2025. Revised: 10 September 2025. Accepted: 18 September 2025. Published: 30 September 2025 Abstrak ________________________________________________________________________________________ Seiring meningkatnya volume penumpang dan kompleksitas ancaman keamanan, sistem pemeriksaan penerbangan konvensional menuntut pendekatan yang lebih efektif. RiskBased Screening (RBS) diimplementasikan sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi dan ketajaman deteksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kuantitatif pengaruh implementasi RBS terhadap kinerja personel Aviation Security (AVSEC) dalam pemeriksaan penumpang di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan sensus, di mana data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 80 personel AVSEC. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan teknik regresi linear sederhana. Hasil analisis membuktikan bahwa RBS berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja AVSEC . -hitung = 5. < 0. Koefisien determinasi menunjukkan RBS berkontribusi sebesar 28% terhadap variasi kinerja. Secara spesifik, dampak terbesar dirasakan pada peningkatan akurasi deteksi barang terlarang, yang disetujui oleh 90% responden. Disimpulkan bahwa implementasi RBS merupakan strategi yang terbukti efektif untuk meningkatkan kinerja AVSEC secara terukur, terutama melalui peningkatan efisiensi alur kerja, kepatuhan prosedur, dan akurasi deteksi ancaman. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan agar manajemen bandara terus memperkuat implementasi RBS melalui evaluasi berkala dan pelatihan berkelanjutan untuk mengoptimalkan kinerja keamanan secara menyeluruh Kata Kunci: Bandar Udara Adi Soemarmo. Keamanan Penerbangan. Kinerja Avsec. RiskBased Screening Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Abstract _______________________________________________________________________________________ As passenger volume and the complexity of security threats increase, conventional aviation screening systems demand a more effective approach. RiskBased Screening (RBS) is implemented as a strategy to enhance efficiency and detection accuracy. This study aims to quantitatively analyze the influence of RBS implementation on the performance of Aviation Security (AVSEC) personnel in passenger screening at Adi Soemarmo Airport. Boyolali. The research method used is quantitative with a census approach, where data was collected through questionnaires distributed to 80 AVSEC personnel. The collected data was then analyzed using simple linear regression. The results prove that RBS has a positive and significant effect on AVSEC performance . -value = 5. < . The coefficient of determination indicates that RBS contributes 28% to the variation in performance. Specifically, the greatest impact was observed in the increased accuracy of detecting prohibited items, as agreed by 90% of respondents. It is concluded that the implementation of RBS is a proven effective strategy for measurably improving AVSEC performance, particularly through enhanced workflow efficiency, procedural compliance, and threat detection accuracy. Based on these findings, it is recommended that airport management continue to strengthen RBS implementation through periodic evaluations and continuous training to optimize overall security performance. Keywords: Adi Soemarmo Airport. Aviation Security. Avsec Performance. Risk-Based Screening PENDAHULUAN Keamanan penerbangan merupakan elemen krusial yang menjadi fondasi utama bagi seluruh operasional di Bandar Udara. Di garda terdepan, personel Aviation Security (AVSEC) memegang tanggung jawab vital untuk menjamin keselamatan dan keamanan(Islam. Efendi, et al. , 2. , tidak hanya bagi penumpang, tetapi juga seluruh fasilitas Bandara. Namun, seiring dengan dinamika industri penerbangan global, pendekatan keamanan konvensional menghadapi tantangan ganda: peningkatan volume penumpang yang signifikan dan kompleksitas ancaman yang terus berevolusi. Sistem pemeriksaan tradisional yang bersifat seragam kini dinilai kurang efisien dan efektif dalam menyaring potensi risiko yang semakin beragam(Islam. Ardian, et al. , 2. Menjawab tantangan tersebut. Menurut penelitian Putra & Yudianto . , paradigma keamanan penerbangan modern mengarah pada penerapan pendekatan yang lebih cerdas dan adaptif, yaitu Risk-Based Screening (RBS). Konsep ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan optimal antara efisiensi operasional dan ketajaman deteksi keamanan. RBS bekerja dengan cara membedakan tingkat pemeriksaan berdasarkan profil risiko setiap penumpang, yang dianalisis melalui pendekatan berbasis perilaku . ehavior-based differentiatio. dan data . ata-based differentiatio. Dengan strategi ini, sumber daya keamanan dapat dialokasikan secara lebih efektif, di mana penumpang berisiko tinggi menerima pemeriksaan yang lebih mendalam, sementara penumpang berisiko rendah dapat melalui prosedur yang lebih cepat tanpa mengorbankan standar keamanan(Ulfa, 2. Konteks ini menjadi sangat relevan bagi Bandar Udara Adi Soemarmo di Boyolali, yang merupakan salah satu gerbang udara penting dengan tren peningkatan lalu lintas Peningkatan aktivitas ini secara langsung berimplikasi pada semakin kompleksnya manajemen keamanan yang harus dihadapi. Penelitian oleh (Andika Rimba Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Kusumawardana & Prayudhista, 2. sebelumnya telah menyoroti aspek-aspek keamanan di Bandara ini, seperti pentingnya safety culture di lingkungan AVSEC untuk meningkatkan kualitas pemeriksaan dan tantangan umum yang dihadapi petugas di lapangan. Meskipun manfaat teoretis RBS telah diakui secara luas dan mampu mengurangi waktu tunggu penumpang hingga 30% dalam kondisi ideal , efektivitas serta dampak nyata dari implementasinya terhadap kinerja personel AVSEC (Widagdo, 2. di Bandar Udara Adi Soemarmo belum teranalisis secara mendalam dan terukur. Terdapat sebuah kesenjangan pemahaman mengenai sejauh mana sistem RBS ini benar-benar berpengaruh pada indikator kinerja utama AVSEC, seperti efisiensi waktu, akurasi deteksi, dan kepatuhan terhadap prosedur di Bandar Udara Adi Soemarmo(Irvan & Maulana, 2. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi relevan dan mendesak untuk dilaksanakan. Penelitian ini secara spesifik bertujuan untuk menganalisis secara kuantitatif pengaruh implementasi Risk-Based Screening (Dillon et al. , 2. terhadap kinerja AVSEC dalam pemeriksaan penumpang di Bandar Udara Adi Soemarmo. Dengan mengevaluasi bagaimana sistem ini meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang kuat serta rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi pengembangan sistem keamanan penerbangan di Indonesia(Khunaini et al. , 2. METODE Metodologi penelitian (Islam. Mintje, et al. , 2. menjelaskan mengenai desain penelitian, populasi dan sampel, lokasi dan waktu, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sebagaimana didefinisikan oleh(Machali, 2. Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang dirancang secara sistematis, terencana, dan terstruktur sejak awal hingga tahap perancangan. Penelitian ini banyak menggunakan angka, baik dalam proses pengumpulan data, analisis, maupun penyajian hasilnya. Agar lebih jelas dan mudah dipahami, hasil penelitian ini sebaiknya disertai dengan gambar, tabel, grafik, atau bentuk visual lainnya(Islam et al. , 2. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif asosiatif. Asosiatif ialah rumusan masalah penelitian yang bersifat pertanyaan hubungan antara dua variabel atau lebih(Sugiyono, 2. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui pengaruh implementasi Risk-Based Screening (RBS) terhadap kinerja AVSEC dalam pemeriksaan penumpang di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali. Metode kuantitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara variabel dengan data numerik, yang akan dianalisis menggunakan uji statistik. Selain itu, penelitian ini juga dilengkapi dengan wawancara (Islam & Aulia, 2. untuk mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai tantangan dan efektivitas implementasi Risk-Based Screening oleh AVSEC Populasi dan Sampel Populasi merujuk pada keseluruhan kelompok atau unit yang menjadi fokus utama Kelompok ini bisa terdiri dari individu, benda, maupun kejadian yang semuanya berbagi ciri-ciri atau karakteristik spesifik yang telah ditetapkan oleh peneliti(Firmansyah et al. , 2. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 personel : Personel AVSEC Bandar Udara Adi Soemarmo dengan total 80 personel. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Sampel berarti bagian dari populasi yang diambil untuk dianalisis dalam suatu penelitian(Leksono et al. , 2. Metode Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan jenis Non probability sampling memakai teknik sampling jenuh, yang juga dikenal sebagai sensus atau sampling total. Metode ini dipilih karena seluruh populasi personel Aviation Security (AVSEC) di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali, yang berjumlah 80 orang, dijadikan sebagai sampel penelitian. Sampling jenuh (Ardiyanto et al. adalah teknik pengambilan sampel di mana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Pendekatan ini sangat dianjurkan untuk populasi dibawah 100 orang karena memungkinkan seluruh anggota berpartisipasi sebagai responden. Dengan demikian, sampel penelitian ini setara dengan jumlah populasinya, yaitu 80 responden, yang semuanya telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 80 Responden, yang terdiri dari personel Aviation Security (AVSEC) Adi Soemarmo Boyolali. Sampel penelitian (Luthfizar et , 2. ini ditentukan menggunakan teknik sampling sensus dengan kriteria sebagai Petugas AVSEC yang terlibat langsung dalam pemeriksaan penumpang. PIC AVSEC yang memiliki tanggung jawab dalam pengawasan dan kebijakan keamanan Bandar Udara. Lokasi penelitian dilaksanakan di Bandara Adi Soemarmo Boyolali dari bulan 17 Januari 2025 sampai dengan 21 Februari 2025. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan tahapan penting dalam penelitian untuk memperoleh informasi pendukung. Teknik ini menjadi dasar utama dalam penelitian guna mengumpulkan data yang valid. Pada penelitian tentang pengaruh Risk-Based Screening terhadap kinerja AVSEC, metode pengumpulan informasi yang digunakan adalah kuesioner/angket. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyampaikan serangkaian pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab(LaAobi et al. , 2. Dalam penelitian ini, kuesioner yang digunakan bersifat tertutup, artinya responden hanya memilih jawaban yang telah disediakan tanpa memberikan tanggapan tambahan. Kuesioner disebarkan secara digital melalui Google Form untuk memudahkan proses pengisian oleh responden(Yam & Taufik, 2. Sasaran responden dalam penelitian ini adalah petugas Aviation Security (AVSEC) di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali, yang terlibat langsung dalam proses pemeriksaan penumpang dengan metode Risk-Based Screening. Pemilihan responden ini dilakukan untuk memperoleh data yang akurat dan relevan dengan tujuan penelitian. SPSS (Statistical Product and Service Solution. Berdasarkan metodologi penelitian kuantitatif, analisis data merupakan proses sistematis untuk mengolah data yang diperoleh dari responden guna menjawab rumusan masalah. Untuk melaksanakan keseluruhan proses analisis tersebut, peneliti memanfaatkan perangkat lunak statistik yaitu SPSS (Statistical Product and Service Solutio. SPSS adalah program aplikasi komputer yang digunakan secara luas untuk menganalisis data secara komprehensif, mulai dari uji instrumen hingga pengujian hipotesis regresi. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Penggunaan perangkat lunak ini membantu memastikan akurasi dan efisiensi dalam pengolahan data numerik. Dalam penelitian tentang Pengaruh Risk-Based Screening (RBS) terhadap kinerja AVSEC di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali, teknik analisis yang digunakan Uji Instrumen (Uji Validitas dan Reliabilita. Uji Regresi Linear Sederhana. Uji Hipotesis. Angket/Kuesioner Kuesioner merupakan metode pengumpulan data dengan memberikan serangkaian pertanyaan maupun pernyataan tertulis kepada responden untuk diisi. Teknik ini sangat efisien ketika peneliti sudah memahami variabel yang diteliti dan mengetahui apa yang diharapkan dari responden. Dalam penelitian tentang Pengaruh Risk-Based Screening terhadap kinerja AVSEC di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama dengan karakteristik: Bentuk Pertanyaan: . Pertanyaan tertutup menggunakan skala Likert 1-4. Beberapa pertanyaan terbuka untuk pendapat tambahan. Pertanyaan terstruktur tentang implementasi RBS. Keunggulan Metode: . Efisiensi biaya dan waktu. Dapat menjangkau seluruh petugas AVSEC. Kemudahan replikasi penelitian. Implementasi Spesifik: . Kuesioner digital via Google Form. Berfokus pada dua variabel utama: Implementasi Risk-Based Screening . ariabel independe. dan Kinerja petugas AVSEC . ariabel depende. Didesain untuk mengukur persepsi dan pengalaman langsung petugas Teknik Analisis Data Berdasarkan metodologi penelitian kuantitatif, analisis data merupakan proses sistematis untuk mengolah data yang diperoleh dari responden guna menjawab rumusan masalah(Yam & Taufik, 2. Dalam penelitian tentang Pengaruh Risk-Based Screening (RBS) terhadap kinerja AVSEC di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali, teknik analisis yang digunakan meliputi Uji Validitas Validitas adalah ukuran yang menunjukkan seberapa jauh suatu alat ukur benarbenar mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Jika sebuah alat ukur tidak valid, maka hasil yang diperoleh bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan atau tujuan Dengan kata lain, semakin rendah validitasnya, semakin tidak dapat dipercaya hasil pengukurannya. "Validitas merujuk pada keabsahan atau kebenaran suatu instrumen penelitian. Hal ini berarti validitas menunjukkan sejauh mana sebuah alat ukur dapat menjalankan fungsinya dengan tepat, yaitu mengukur variabel yang memang menjadi target pengukurannya. Untuk memastikan bahwa alat ukur seperti angket atau kuesioner benar-benar valid, peneliti biasanya melakukan uji validitas. beberapa cara yang umum digunakan untuk menguji validitas adalah dengan bantuan program statistik seperti SPSS (Statistical Product and Service Solutio. Melalui SPSS, peneliti dapat mengetahui apakah setiap pertanyaan dalam instrumen tersebut relevan dan sesuai dengan tujuan penelitian. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Uji Reliabilitas Reliabilitas berasal dari kata AureliableAy yang berarti dapat dipercaya. Dalam konteks penelitian, reliabilitas merujuk pada tingkat konsistensi atau kestabilan suatu instrumen dalam mengukur sesuatu. Instrumen dianggap memiliki reliabilitas tinggi jika dapat menghasilkan data yang tetap konsisten meskipun digunakan berulang kali dalam kondisi yang sejenis. Misalnya, jika kita menggunakan alat ukur seperti meteran untuk mengukur tinggi badan seseorang, maka berapa pun kali pengukuran dilakukan saat di waktu maupun tempat yang berbeda hasilnya akan tetap sama. Ini menunjukkan bahwa meteran tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi karena mampu memberikan hasil yang akurat dan stabil. Dengan prinsip yang sama, dalam penelitian, instrument seperti kuesioner atau angket juga harus diuji reliabilitasnya agar data yang diperoleh benar-benar dapat Instrumen yang reliabel akan memberikan hasil pengukuran yang tetap konsisten terhadap apa yang hendak diukur. Untuk menguji reliabilitas instrumen penelitian, para peneliti biasanya menggunakan bantuan perangkat lunak statistik seperti SPSS (Statistical Product and Service Solutio. Salah satu teknik yang paling umum digunakan dalam SPSS adalah CronbachAos Alpha, yang membantu menentukan seberapa kuat tingkat konsistensi internal dari instrument tersebut. Melalui uji validitas dan reliabilitas ini, diharapkan instrumen yang digunakan benarbenar mampu menghasilkan data yang akurat dan dapat dipercaya untuk menganalisis pengaruh implementasi Risk-Based Screening terhadap kinerja Avsec dalam pemeriksaan penumpang. Uji Regresi Linear Sederhana Regresi linear sederhana merupakan salah satu metode statistik yang digunakan untuk melihat hubungan antara satu variabel independen (X) dan satu variabel dependen (Y). Dalam konteks penelitian ini, variabel independen dapat berupa implementasi Risk-Based Screening (RBS), sedangkan variabel dependennya adalah efektivitas pemeriksaan keamanan penumpang di Bandar Udara. Analisis ini bertujuan untuk memperkirakan atau memprediksi nilai dari variabel Y berdasarkan nilai dari variabel X melalui persamaan regresi. Regresi linear sederhana ialah salah satu metode statistik deduksi yang digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh satu variabel independen/prediktor (X) terhadap satu variabel dependen/kriteria (Y) dan memprediksi variabel dependen tersebut dengan menggunakan variabel independe. Data yang digunakan dalam analisis regresi linear sederhana umumnya berskala interval atau rasio. Bentuk umum dari persamaan regresi linear sederhana adalah sebagai berikut: Y = a bX Uji Hipotesis Inti dari hipotesis mencakup tiga komponen utama yaitu adanya dugaan sementara, hubungan antar variabel, dan proses pengujian kebenaran, yang pengembangannya melalui tiga tahap kunci: pertama, pencarian landasan teoritis untuk menyusun hipotesis. kedua, penyusunan dalil atau teori yang menghubungkan variabel dependen dan independen sebagai dasar analisis. dan ketiga, pemilihan metode statistik yang tepat untuk pengujian, sehingga pada dasarnya hipotesis merupakan pernyataan tentatif Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 berbasis teori dan norma terkait fenomena penelitian yang siap diuji dengan metode atau alat statistik yang relevan. Dalam penelitian ini, yang berfokus pada implementasi RiskBased Screening (RBS) dalam proses pemeriksaan keamanan penumpang di Bandar Udara, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan aplikasi SPSS 27 dengan metode uji parsial atau uji t. Adapun ketentuan dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut: . Jika hasil t hitung lebih besar dari t tabel, maka HCA ditolak dan HCa diterima. Artinya, variabel independen . isalnya implementasi RBS) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen . eperti efektivitas pemeriksaan keamana. , sehingga hipotesis . Jika hasil t hitung lebih kecil dari t tabel, maka HCA diterima dan HCa ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen, sehingga hipotesis ditolak. HASIL Uji Validitas Pengujian validitas dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mampu mengukur variabel yang dimaksud secara akurat. Penelitian ini berfokus pada dua variabel utama, yaitu Implementasi Risk-Based Screening (RBS) sebagai variabel bebas, dan kinerja personel AVSEC sebagai variabel terikat. Sebanyak 80 responden diminta menjawab 16 pernyataan yang mewakili kedua variabel tersebut. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan SPSS, untuk menilai hubungan antara masing-masing item pernyataan dengan total skor variabel. Hasil pengujian ini digunakan untuk menentukan apakah setiap pernyataan dalam kuesioner dapat dinyatakan valid atau tidak sebagai alat ukur dalam penelitian ini. Gambar 1. Hasil SPSS Uji Validitas Variabel X Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Gambar 2. Hasil SPSS Uji Validitas Variabel Y Gambar 3. R Tabel Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Gambar 4. Pengujian r Tabel dengan r hitung Berdasarkan gambar diatas, pernyataan dapat dikatakan Valid jika hasil dari r. lebih besar dari pada r. Uji validitas dilakukan untuk memastikan bahwa 16 item pernyataan dalam kuesioner benar-benar mengukur variabel penelitian, yaitu implementasi Risk-Based Screening dan kinerja AVSEC. Pengujian menggunakan SPSS dengan metode korelasi Bivariate Pearson, pada data dari 80 responden menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan memiliki nilai r-hitung yang lebih besar dari nilai r-tabel . Dengan demikian, seluruh item pernyataan dalam instrumen penelitian dinyatakan valid Uji Reliabilitas Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur tingkat konsistensi dari item-item pernyataan dalam kuesioner yang digunakan untuk menilai variabel Implementasi Risk-Based Screening (RBS) dan kinerja AVSEC. Pengujian ini melibatkan 80 responden dan dilakukan menggunakan program SPSS versi 27. Analisis reliabilitas dilakukan dengan melihat nilai CronbachAos Alpha, instrumen dikatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha lebih dari 0,6. Hasil pengujian ini memberikan gambaran apakah seluruh item dalam kuesioner dapat digunakan secara konsisten dan dapat dipercaya dalam mengukur variabel yang diteliti. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Gambar 5. Uji Reliabel Variabel X dan Y terhadap Cronbach Alpha Gambar 6. Hasil SPSS statistik reliabilitas Variabel X Gambar 7. Hasil SPSS statistik reliabilitas Variabel Y Didapat dari gambar diatas seluruh item pernyataan dalam kuesioner mempunyai Cronbach Alpha Ou 0,60 maka dapat dinyatakan bahwa instrumen penelitiantersebut maka dapat dinyatakan reliabel Uji reliabilitas bertujuan mengukur konsistensi instrument Menggunakan SPSS, hasil analisis Cronbach's Alpha menunjukkan nilai 0. untuk variabel bebas (RBS) dan 0. 655 untuk variabel terikat (Kinerja AVSEC). Karena kedua nilai tersebut berada di atas ambang batas 0. 60, maka instrument yang digunakan dalam penelitian ini dapat dinyatakan reliabel atau konsisten. Regresi Linear Sederhana dan Uji Hipotesis Uji Signifikansi Model (Uji F) Uji F (ANOVA) digunakan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan layak . untuk memprediksi variabel dependen. Gambar 8 Hasil Uji (F) Anova Dari gambar ANOVA, diperoleh Nilai F yang diperoleh adalah 31. 744 dengan tingkat signifikansi < 0. 001 (< 0. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi ini cocok untuk menganalisis dampak Implementasi Risk-Based Screening terhadap kinerja AVSEC. menghasilkan nilai 31. 744 dengan tingkat signifikansi < 0. 001 (< 0. Temuan ini Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 menunjukkan bahwa model regresi ini pantas dan signifikan untuk digunakan dalam mengevaluasi dampak Implementasi Risk-Based Screening terhadap kinerja AVSEC. Uji Koefisien Determinasi (R. Gambar ini memperlihatkan seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Gambar 9. Hasil Uji R2 Berdasarkan gambar Model Summary, nilai Adjusted R Square adalah 0. Nilai ini menunjukkan bahwa kontribusi pengaruh Implementasi RBS terhadap kinerja AVSEC adalah sebesar 28% pengaruh Implementasi RBS terhadap kinerja AVSEC. Sisa 72% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Yaitu: . Motivasi Kerja: Tingkat dorongan dan semangat internal setiap personel AVSEC dalam menjalankan tugasnya. Lingkungan Kerja: Kondisi dan suasana di tempat kerja, termasuk hubungan dengan rekan kerja dan atasan. Tingkat Pengawasan: Kualitas dan intensitas supervise yang diterima oleh personel dari pimpinan mereka. Program Pelatihan Non-RBS: Pelatihan lain yang diterima personel di luar topik Risk-Based Screening yang dapat meningkatkan kompetensi umum mereka. Kepuasan Kerja: Tingkat kepuasan personel terhadap berbagai aspek pekerjaan mereka, seperti gaji, tunjangan, dan pengembangan karier. Gaya Kepemimpinan: Cara pimpinan atau manajemen dalam mengelola dan berinteraksi dengan Uji Hipotesis (Uji . Uji t dilakukan untuk membuktikan apakah variabel Implementasi Risk-Based Screening secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja AVSEC Gambar 10. Hasil Uji t Coefficients, nilai t hitung adalah 5. 634 dengan tingkat signifikansi di bawah 0. < 0. Karena nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0. 05, maka Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari Implementasi RiskBased Screening terhadap kinerja AVSEC. Selain melakukan pengujian berdasarkan nilai signifikansi, pengujian hipotesis juga dapat dibuktikan dengan membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel. Berdasarkan Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 perhitungan, diketahui derajat kebebasan . penelitian ini adalah 78 . -k-1 = 80-1-. Dengan tingkat signifikansi = 0,05, nilai t-tabel yang diperoleh adalah 1,991. Dari hasil analisis regresi pada Coefficients, didapatkan nilai t-hitung untuk variabel Implementasi Risk-Based Screening sebesar 5,634. Karena nilai t-hitung . lebih besar dari nilai ttabel . , maka HCA ditolak dan Ha diterima. Hasil ini konsisten dengan metode pengujian sebelumnya dan kembali menegaskan bahwa variabel Implementasi Risk-Based Screening memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja AVSEC. Persamaan Regresi Berdasarkan Coefficients yang sama, dapat dibentuk persamaan regresi untuk memprediksi kinerja AVSEC. Nilai Konstanta . 071 dan nilai koefisien regresi . Maka, persamaan regresi yang terbentuk adalah Y=19. Persamaan ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 satuan pada Implementasi RiskBased Screening akan meningkatkan kinerja AVSEC sebesar 0. 580 satuan. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, penelitian ini membuktikan secara statistik bahwa hipotesis alternative (H. Hasil Uji t menunjukkan nilai signifikansi sebesar < 0. 001, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan ( = 0,. Hal ini mengonfirmasi bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel Implementasi Risk-Based Screening (X) terhadap variabel kinerja AVSEC (Y). Persamaan regresi yang terbentuk adalah Y = 19. Persamaan ini dapat diinterpretasikan sebagai berikut: . Nilai konstanta . 071 menunjukkan bahwa jika tidak ada implementasi Risk-Based Screening . ilai X=. , maka tingkat dasar kinerja AVSEC adalah sebesar 19. 071 satuan. Nilai koefisien regresi . 580 dan bertanda positif, menandakan bahwa setiap peningkatan satu satuan pada kualitas implementasi RBS, akan meningkatkan kinerja AVSEC sebesar 0. 580 satuan. Hasil uji koefisien determinasi (RA) menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar Angka ini berarti bahwa variabel Implementasi Risk-Based Screening mampu menjelaskan 28% dari variasi yang terjadi pada kinerja AVSEC. Sementara itu, sisa 72% terpengaruh oleh elemen-elemen lain yang tidak dianalisis dalam penelitian ini, seperti dorongan kerja, suasana kerja, tingkat pengawasan, atau program pelatihan non-RBS. Meskipun kontribusinya 28%, angka ini cukup signifikan untuk menunjukkan bahwa RBS adalah salah satu pendorong utama kinerja di lingkungan AVSEC Bandar Udara Adi Soemarmo. Pengaruh Implementasi Risk-Based Screening Hasil analisis kuantitatif diperkuat oleh persepsi responden . ersonel AVSEC) yang tercermin dalam data kuesioner. Implementasi RBS secara nyata memberikan dampak positif pada tiga aspek utama kinerja AVSEC, yaitu efisiensi, kepatuhan terhadap prosedur, dan peningkatan akurasi keamanan. Optimalisasi Efisiensi dan Alur Kerja: Proses pemeriksaan menjadi lebih cepat tanpa mengurangi ketelitian . isetujui 86,3%), yang secara langsung mengurangi waktu tunggu penumpang . iakui 83,8%) dan kepadatan antrean . isetujui 86,3%). Ini menunjukkan keberhasilan strategi diferensiasi risiko dalam mengalokasikan sumber daya secara efektif. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 Peningkatan Kepatuhan dan Konsistensi Prosedural: RBS mendorong personel untuk bekerja sesuai SOP . isetujui 82,5%) dan meningkatkan konsistensi penerapan prosedur antar petugas . isetujui 86,3%). Sistem ini dinilai mampu mengurangi ambiguitas dan memperkuat kepatuhan pada regulasi. Peningkatan Akurasi Deteksi dan Keamanan: Pengaruh paling menonjol dari RBS adalah meningkatnya akurasi deteksi barang terlarang . rohibited item. , yang disetujui oleh 90% responden. Tingginya persetujuan . %) terhadap peningkatan akurasi deteksi ini mengindikasikan bahwa RBS berhasil mengurangi 'kelelahan alarm' . larm fatigu. pada personel. Dengan beban kognitif yang lebih rendah karena penumpang berisiko rendah diperiksa lebih cepat, petugas dapat memfokuskan atensi penuh pada ancaman yang sesungguhnya. Dengan memusatkan perhatian pada penumpang atau bagasi berprofil risiko tinggi, kemampuan petugas dalam mengidentifikasi potensi ancaman menjadi lebih tajam. Selain itu, interaksi dengan penumpang dirasakan menjadi lebih positif dan kooperatif . ,8%), yang secara tidak langsung mendukung terciptanya lingkungan pengawasan yang lebih efektif. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan Implementasi RiskBased Screening (RBS) terbukti berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja personel Aviation Security (AVSEC) dalam pemeriksaan penumpang di Bandar Udara Adi Soemarmo Boyolali. Pengaruh signifikan ini dibuktikan secara statistik melalui hasil Uji-t yang menunjukkan nilai signifikansi 0. 001 (< 0,. Secara kuantitatif, analisis koefisien determinasi menunjukkan bahwa implementasi RBS memberikan kontribusi sebesar 28% terhadap variasi kinerja AVSEC. Pengaruh positif ini termanifestasi secara nyata di lapangan pada tiga dimensi kinerja utama, yaitu . peningkatan efisiensi alur kerja melalui pengurangan waktu tunggu penumpang, . peningkatan kepatuhan dan konsistensi terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), dan . peningkatan akurasi dalam mendeteksi barang terlarang . rohibited item. , yang merupakan dampak paling menonjol dengan persetujuan 90% personel AVSEC Saran Berdasarkan kesimpulan penulis mengajukan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait: Bagi Manajemen Bandar Udara Adi Soemarmo: . Mengingat pengaruh RBS yang signifikan, disarankan untuk terus memperkuat dan mengevaluasi implementasi program ini secara berkala, terutama pada aspek pelatihan personel mengenai teknik observasi perilaku . ehavior-based differentiatio. dan pemanfaatan data penumpang . ata-based differentiatio. Mengingat 72% kinerja AVSEC dipengaruhi oleh faktor lain, disarankan bagi manajemen untuk melakukan evaluasi internal lebih lanjut yang berfokus pada faktor-faktor tersebut, seperti program motivasi, perbaikan lingkungan kerja, atau peningkatan teknologi pendukung. Bagi Personel AVSEC: . Diharapkan personel AVSEC dapat terus meningkatkan kompetensi dan konsistensi dalam menerapkan prinsip-prinsip RBS agar efektivitas pemeriksaan semakin optimal dan standar keamanan penerbangan tetap terjaga. Jan Fridolin Tarigan, dkk / SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA