ISSN : 2808-2117 Vol. 3 No. 2 (Maret, 2. The Relationship Between Activities Using Learning Media to Read Fluently and Speaking Ability in Early Age Children Yuyun Yulianingsih1. Zaenal Muftie2. Siti Nabilah3 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Email: yuyunyulianingsih67@gmail. com, zaenal. muftie@uinsgd. id, stnabilah063@gmail. ABSTRACT The aim of this research is to determine the reality of media usage activities for reading fluency in Group B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Bandung City, the reality of early childhood speaking abilities in Group B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Bandung City, and the relationship between media use activities learning to read fluently with speaking skills for early childhood in Group B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Bandung City. This research uses quantitative correlational methods. The subjects in this study were 15 children in Group B RA Exactly 180 Miftahul Jannah Andir Bandung City. Data collection techniques were carried out using observation sheets. The research results were processed using partial analysis of items per indicator, normality test, linear regression test, correlation and determination coefficients, hypothesis testing. The results of the research show that the activity of using learning media for reading fluency with results . and the speaking ability of young children with results . are in the very good category. The relationship between the activity of using learning media for reading fluency and the speaking ability of young children in Group B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Bandung City can be seen from the results of the correlation coefficient which produces a value of 0. 59 indicating a fairly strong/medium level of relationship. Keywords : Speaking Ability. Early Childhood. Learning Media PENDAHULUAN Pendidikan merupakan lingkungan di mana individu dapat mengoptimalkan potensi dirinya. Seorang ahli dalam pendidikan anak usia dini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pelayanan kepada anak sejak lahir sampai usia delapan tahun. Menurut UU No. 14 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalan memasuki pendidikan lebih lanjut. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 146 tahun 2014 pasal 1, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan melalui penyediaan rangsangan pendidikan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak sehingga mereka siap untuk melangkah ke tahap pendidikan berikutnya. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan sesuai dengan keunikan dan tahap Ae tahap perkembangan sesuai kelompok usia anak usia dini. Hal ini dinyatakan dalam Permendikbud nomor 5 tahun 2022. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak usia dini (STTPA) yang merupakan kriteria tentang kemampuan pencapaian anak pada seluruh aspek pertumbuhan dan perekembangan, meliputi nilai agama http://journal. id/index. php/athfal ISSN : 2808-2117 Vol. 3 No. 2 (Maret, 2. moral fisik Ae motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni. Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. Masalah perkembangan bahasa mempunyai hubungan erat dengan tingkat literasi. Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia mengungkapkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia masih kalah jauh dengan negara lain di dunia. Kemudian hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Data statistik UNESCO 2012 mendeskripsikan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Ini berarti setiap 1. 000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca (Aminah, 2. Salah satu tahapan perkembangan yang sangat penting pada anak adalah perkembangan bahasa, karena bahasa merupakan faktor awal yang menentukan bagi seorang anak untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungannya. Anak yang kaya akan perbendaharaan akan memiliki kemampuan berbicara yang tertata dengan baik dan mudah dipahami. Dalam proses memperoleh keterampilan berbahasa, anak seringkali memulai dengan sesuatu hubungan berurutan seperti mendengarkan bahasa, berbicara, lalu belajar membaca dan menulis. Belajar membaca untuk anak-anak bagian terpenting dalam hidupnya karena itu adalah awal hidupnya, mereka secara sistematis memahami proses pembelajaran. Mengajak anak belajar membaca adalah cara mendidik mereka sebagai investasi, peluang untuk membangun karakter dan membuatnya merasa istimewa proses belajar membaca harus menyenangkan sampai anak itu akan bisa membaca (Wiyani, 2. Kemampuan berbicara merupakan tahap awal dalam perkembangan bahasa seorang anak. Anak usia dini mengalami tiga tahapan dalam perkembangannya, yakni masa bayi . sia 0-12 bula. , masa balita . sia 1-3 tahu. , dan masa prasekolah . sia 3-6 tahu. Pada masa inilah seorang anak akan belajar mengembangkan potensi-potensi dasar dalam dirinya, seperti berjalan, memegang, berbicara dan lain sebagainya (Wiyani. Peranan media pembelajaran dalam proses belajar dan mengajarmerupakan satu kesatuanyang tidak dapat dipisahkan daridunia pendidikan. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pengirim kepada penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik untuk belajar (Tafonao, 2. Media pembelajaran membaca, merupakan salah satu alat yang bisa menstimulasi anak agar mau dan gemar membaca. Oleh karenanya, pemilihan media pembelajaran harus tepat, agar anak terstimulasi untuk belajar membaca anak yang termotivasi untuk membaca dan terlibat dalam membaca ketika dihadiahi dengan kesempatan untuk memilih buku sesuai keinginan. Keberhasilan dalam pembelajaran membaca, tidak bisa lepas dari media yang Media pembelajaran dapat menimbulkan gairah belajar, membentuk interaksi yang lebih langsung antara pendidik dengan lingkungan nyata, dan peserta didik mampu belajar sendiri - sendiri menurut kemampuan dan minatnya. METODE Pendekatan pada penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono . pendekatan penelitian kuantitatif yang diartikan sebagai suatu jenis penelitian yang jelas sejak awal sampai pembuatan desain penelitian, spesifikasinya yaitu sistematis terencana dan terstruktur. Pendekatan kuantitatif dijelaskan sebagai metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi dan sampel tertentu. Data yang dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian, analisis bersifat kuantitatif / statistik untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode korelasi yang artinya penelitian yang melibatkan proses pengumpulan data untuk menentukan, ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau Menurut Gay . yang dikutip Ibrahim, dkk . bahwa penelitian korelasi termasuk bagian dari http://journal. id/index. php/athfal ISSN : 2808-2117 Vol. 3 No. 2 (Maret, 2. penelitian ex-postfactor, karena tidak terdapat rekayasa pada suatu keadaan disetiap variabelnya akan tetapi dilakukan suatu penelitian secara langsung untuk mendapatkan hubungan antar variabel yang diterapkan sesuai dengan koefesien korelasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data itu diperoleh dan penunjukan sumber datanya berasal dari populasi dan sampel (Arikunto, 2. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan yaitu anak usia dini di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung dengan jumlah 15 anak. Menurut Suharsimi Arikunto . mengatakan bahwa apabila subyeknya kurang dari seratus, lebih baik diambil seluruhnya sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi. Tetapi, apabila jumlah subyeknya besar yaitu lebih dari seratus orang dapat diambil 10-15% atau 20-25% bahkan lebih. Berdasarkan populasi semuanya berjumlah 15 orang, maka sesuai dengan pendapat diatas jumlah yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu 15 orang dari keseluruhan jumlah populasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan unjuk kerja. Hasil penelitian diolah menggunakan analisis parsial item per indikator, uji normalitas, uji regresi linier, koefisien korelasi dan determinasi, uji hipotesis. Isi dari metode yang perlu ditulis adalah teknik pelaksaan penelitian secara lengkap dengan kaidah etik penulisan karya tulis. Jenis penelitian, variabel penelitian dan informasi penting lainnya yang berkaitan dengan metode penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan melalui teknik pengumpulan data observasi secara langsung, dengan jumlah anak 15 di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung. Sebanyak 10 item instrumen diperoleh nilai rata Ae rata sebesar 83,24 yang termasuk pada interval 80 Ae 100 dengan kategori sangat baik. dapat disimpulkan bahwa aktivitas penggunaan media pembelajaran lancar membaca di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung berkategori sangat baik. Hasil penelitian selaras dengan pernyataan Heinich yang dikutip oleh Azhar Arsyad . , media pembelajaran adalah perantara yang membawa pesan atau informasi yang memiliki tujuan pendidikan, menjadi perantara komunikasi antara informasi dan penerima, yaitu siswa. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan melalui teknik pengumpulan data observasi secara langsung, dengan jumlah anak 15 di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung. Sebanyak 10 item instrumen diperoleh nilai rata Ae rata sebesar 83,65 yang termasuk pada interval 80 Ae 100 dengan kategori sangat baik. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara anak usia dini di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung berkategori sangat baik. Hasil penelitian selaras dengan pernyataan Menurut Munandar sebagaimana dikutip oleh Susanto menegaskan bahwa kemampuan merupakan potensi yang ada sejak lahir. Dengan latihan dan pengalaman, kemampuan tersebut dapat ditingkatkan sehingga individu mampu melaksanakan berbagai hal (Susanto, 2. Selanjutnya menurut Hurlock (Rumilasari, 2. berbicara adalah bentuk komunikasi yang melibatkan penggunaan kata Ae kata dalam rangka menyampaikan niat dan tujuan. Pada anak usia dini, berbicara memiliki peran penting sebagai alat untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan sebagai latihan untuk mengembangkan kemandirian. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara aktivitas penggunaan media pembelajaran lancar membaca dengan kemampuan berbicara anak usia dini. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua variabel menunjukkan distribusi normal dan regresi linier antara keduanya. Oleh karena itu, koefisien korelasi dapat dihitung menggunakan rumus korelasi product moment, menghasilkan nilai 0,59 dan angka ini berada dalam interval 0,40 Ae 0,5999 menunjukkan tingkat hubungan yang cukup kuat / sedang. Pendukung lainnya adalah hasil uji hipotesis, dimana nilai thitung sebesar . dan ttabel . dengan derajat kebebasan 13 pada taraf signifikansi 5%. Karena thitung . > . , maka hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X (Aktivitas Penggunaan Media Pembelajaran Lancar Membac. dan variabel Y (Kemampuan Berbicar. Hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh nilai sebesar 34,81%, hal ini mengindikasikan bahwa tingkat keakuratan korelasi antara variabel X (Aktivitas Penggunaan Media Pembelajaran Lancar Membac. dan variabel Y (Kemampuan Berbicar. mencapai 34,81% di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah http://journal. id/index. php/athfal ISSN : 2808-2117 Vol. 3 No. 2 (Maret, 2. Andir Kota Bandung, sementara itu kontribusi faktor Ae faktor lain yang tidak tercakup dalam penelitian ini sebesar 65,19%. Dalam upaya mencapai tujuan ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, tentu memerlukan media yang menarik, memiliki keunikan, dan mampu meningkatkan proses pembelajaran dalam perkembangan berbicara anak. Namun demikian, aktivitas anak pada penggunaan media pembelajaran lancar membaca bukan satu-satunya variabel yang dapat menstimulus kemampuan berbicara. Tetapi terdapat variabel atau faktor lain yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan berbicara anak usia dini dan tidak diteliti oleh peneliti. KESIMPULAN Hubungan antara aktivitas penggunaan media pembelajaran lancar membaca dengan kemampuan berbicara anak usia dini di Kelompok B RA PERSIS 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung daat dilihat dari hasil koefisien korelasi menghasilkan nilai 0,59 dan angka ini berada dalam interval 0,40 Ae 0,5999 menunjukkan tingkat hubungan yang cukup kuat / sedang. Pendukung lainnya adalah hasil uji hipotesis, dimana nilai thitung sebesar . dan ttabel . dengan derajat kebebasan 13 pada taraf signifikansi Karena thitung . > . , maka hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X (Aktivitas Penggunaan Media Pembelajaran Lancar Membac. dan variabel Y (Kemampuan Berbicar. Hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh nilai sebesar 34,81%, hal ini mengindikasikan bahwa tingkat keakuratan korelasi antara variabel X (Aktivitas Penggunaan Media Pembelajaran Lancar Membac. dan variabel Y (Kemampuan Berbicar. mencapai 34,81% di Kelompok B RA Persis 180 Miftahul Jannah Andir Kota Bandung, sementara itu kontribusi faktor Ae faktor lain yang tidak tercakup dalam penelitian ini sebesar 65,19%. Dari hasil penelitian mengenai hubungan antara aktivitas penggunaan media pembelajaran lancar membaca . aiabel X) dengan kemampuan berbicara anak usia dini . ariabel Y). DAFTAR PUSTAKA