Copyright A 2021 pada penulis Jurnal Abdimas STMIK Dharmapala Februari-2021. Vol. No. 1, hal. ISSN(P): . ISSN(E): 2775-4014 Pemberdayaan Petani Parparean I Melalui Produksi Buah Kakao Menjadi Coklat Batang Evan Diarisman Habeahan, 2Hafanolo Firman Waruwu, 3Rema Nelson Zai. Victoria Denisse Amazihono, 5Zepanya Gabriel Simanullang. Dr. Parsaoran Silalahi. Pt,. 1,2,3,4,5,6 Universitas HKBP Nommensen Medan Alamat Surat Email: evan. habeahan@student. id*, hafanolo. waruhu@student. zai@student. id, victoria. amazihono@student. Zepanya. simanullanng@student. Article History: Diajukan: 23 Maret 2025 ABSTRAK Kuliah Praktek Pengabdian pada Masyasyarakat (KPPM) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat. Lokasi pengapdian di lakukan di desa parparean I. Sebagai desa yang masih berkembang, desa parparean I memiliki sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam sektor pertanian perikanan dan pariwisata. Namun desa ini juga memiliki kekurangan, kurangnya pemberdayaan para petani terhadap sumber daya alam yang ada, termasuk pada buah kakao. Harga yang tidak stabil sering kali menjadi penyebab utama. Ketika harga turun drastis, petani tidak termotivasi untuk memanen karena biaya panen dan transportasi bisa melebihi pendapatan yang diperoleh. Oleh karena itu keterlibatan mahasiswa dalam kppm di desa parparean I dapat memberikan konstribusi positif dalam mengatasi serta mengoptimalkan permasalahan desa Parparean I. Kata kunci: Pemberdayaan Petani. Kakao. Coklat Batang. KPPM. Pengabdian Masyarakat. ABSTRACT Community service practice lecture (KPPM) is one form of student service to the community. also aims to apply the knowledge that students have gained from lectures in real life. helping the community in various aspects of development, as well as increasing student social care. As a village that is still developing. Parparean I village has natural resources that can be utilised to improve the welfare of the community, especially in the agriculture, fisheries and tourism sectors. However, this village also has shortcomings, the lack of empowerment of farmers towards existing natural resources, including cocoa fruit. Unstable prices are often the main cause. When prices drop drastically, farmers are not motivated to harvest because the cost of harvesting and transport can exceed the income earned. Therefore, the involvement of students in kppm in Parparean I village can make a positive contribution in overcoming and optimising the problems of Parparean I Keywords: Farmer Empowerment. Cocoa. Chocolate Bar. KPPM. Community Service. PENDAHULUAN Desa parparean I merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Porsea. Kabupaten Toba, dengan jumlah penduduk pada tahun 2024 yaitu sebanyak 939 Jiwa yang terdiri dari laki-laki JURNAL ABDIMAS | 81 https://doi. org/10. 47927/jikb. Segala konten dan isi di dalam jurnal disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional Evan Diarisman Habeahan, dkk Jurnal Abdimas 454 jiwa dan perempuan 485 jiwa. Dengan jumlah kepala keluarga 495 KK. Dan dibagi menjadi 3 wilayah Dusun yaitu. Dusun I. Dusun II, dan Dusun i. Pada Desa ini juga terdapat penduduk dari berbagai jenis pekerjaan. Perkembangan yang lebih jauh, muncul pergeseran potensi pada bidang pertanian. Hal tersebut menimbulkan tantangan dan kebutuhan baru dalam sendi-sendi pertanian. kurangnya pemberdayaan para petani terhadap sumber daya alam yang ada merupakan salah satu tantangan yang ada, termasuk pada buah kakao. Harga yang tidak stabil di pasar sering kali menjadi alasan mengapa buah kakao tidak dipanen. Ketika harga turun drastis, petani merasa tidak termotivasi untuk memanen karena biaya panen dan transportasi bisa melebihi pendapatan yang diperoleh. Secara Psikologis, ini menimbulkan rasa frustasi dan ketidakpastian, yang mengurangi keinginan untuk bekeja keras. Biaya produksi yang tinggi juga menjadi salah satu alasan mengapa buah kakao tidak dipanen termasuk biaya pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terus meningkat. Jika pendapatan dari penjualan kakao tidak sebanding dengan biaya ini, petani akan merasa rugi dan enggan memanen, ini menciptakan tekanan finansial yang signifikan, yang dapat menyebabkan stress dan demotivasi. Akses pasar yang terbatas ke kota Porsea sering kali menjadikan para petani kesulitan mengakses pasar. Kepedulian para petani terhadap sumber daya alam khususnya buah kakao sangatlah menentukan keberhasilan pada sektor pertanian. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, maka perlu pemberdayaan petani terhadap buah kakao di sekitar desa Parparean. Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, maka ditetapkan salah satu tujuan program kerja KPPM ini adalah pemberdayaan para petani melalui produki buah kakao. METODE Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, program KPPM di Desa Parparean I, dilakukan dengan pemberdayaan para petani melalui produksi buah kakao menjadi coklat batang. Metode ini meliputi tahapan-tahapan seperti pencampuran bahan, pelembutan, penghalusan, thempering dan pencetakan. Alat yang digunakan untuk proses pengolahan cokelat yaitu, oven, wajan, chopper. Stone Mill, mixer, thempering. Bahan-bahan utama yang digunakan yaitu biji kakao yang berantioksidan tinggi dan bahan baku pendukung seperti lemak kakao, gula merah, susu Tahapan dalam pengolahan ini yaitu dengan melakukan observasi, wawancara ditunjukkan untuk pelaku petani dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Persediaan bahan baku Menurut Hanggana . Bahan baku adalah sesuatu yang digunakan untuk membuat barang jadi, bahan pasti menempel menjadi satu dengan barang jadi. Dalam sebuah perusahaan bahan baku dan bahan penolong memiliki arti yang sangat penting, karena modal terjadinya proses produksi sampai hasil produksi. Pengelompokan bahan baku dan bahan penolong bertujuan untuk pengendalian bahan dan pembebanan biaya ke harga pokok produksi. Pengendalian bahan diprioritaskan pada bahan yang nilainya relatif tinggi yaitu bahan baku. Petani lokal yang memiliki puluhan pohon kakao menjadi tidak termotivasi untuk memanen, karena biaya panen dan transportasi bisa melebihi pendapatan yang diperoleh. Secara Evan Diarisman Habeahan, dkk Jurnal Abdimas Psikologis, ini menimbulkan rasa frustasi dan ketidakpastian, yang mengurangi keinginan untuk bekeja keras. Gambar 1. Buah kakao yang tidak dipanen di desa parparean I Gambar 2. Buah kakao yang tidak dipanen di desa parparean I Proses Pengolahan Proses pengolahan buah kakao untuk menjadi produk cokelat batang yang siap untuk dikonsumsi dilakukan dengan beberapa tahapan diantaranya yakni : Biji kakao kering adalah biji kako yang telah melewati tahap penyortiran dan fermentasi yang telah dikeringkan, pengeringan biji kakao dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan sinar matahari langsung yang dijemur hingga kering dengan tujuan untuk mengurangi kadar air pada biji kakao. Evan Diarisman Habeahan, dkk Jurnal Abdimas Gambar 3. Pengeringan Buah Kakao Penyangraian biji kakao adalah proses untuk mengurangi kadar air pada biji kakao yang belum kering sempurna dari hasil penjemuran. Peyangraian biji kakao menggunakan wajan dan kompor selama kurang lebih 60 menit sampai biji menjadi kehitaman. Gambar 4. Proses Penyangraian Buah kakao Biji kakao yang telah melewati peyangraian selanjutnya dilakukan pendinginan pada biji kakao menggunakan selama kurang lebih 15 menit dengan tujuan agar biji kakao cepat dingin sehingga bisa diproses ke pengolahan selanjutnya. Pengupasan kulit kakao menjadi Nib selama 25 menit dengan kapasitas adonan 1/2 kg. Gambar 5. Proses Pengupasan Kulit Kakao Penggilingan Nib kakao menggunakan chopper selama 40 menit dengan kapasitas adonan sebanyak 1/2 kg. Evan Diarisman Habeahan, dkk Jurnal Abdimas Gambar 6. Proses Penggilingan Buah Kakao Pencampuran adonan cokelat, dilakukan menggunakan chopper dengan komposisi pasta kakao, lemak kakao, gula merah, gula pasir dan susu bubuk dan susu uht. Gambar 7. Proses Pencampuran Adonan Cokelat Proses Thempering dan pencetakan berfungsi untuk menstabilkan adonan cokelat. kemudian cokelat yang dicetak warnanya lebih cerah dan tidak terjadi fat blooming untuk cokelat convertur ataupun sugar blooming. Evan Diarisman Habeahan, dkk Jurnal Abdimas Gambar 8. Proses Pencetakan Cokelat Batang Tahapan akhir yaitu sosialisai kepada petani parparean I ataupun masyarakat yang ada di parparean I. Hal ini menunjukan agar para petani kakao mampu mengolah hasil tani dengan buatan sendiri guna untuk dijadikan usaha maupun asupan sehari-hari. Gambar 9. Sosialisasi kepada Petani dan masyarakat Parparean 1 Gambar 9. Sosialisasi kepada Petani dan masyarakat Parparean 1 Copyright A 2021 pada penulis Jurnal Abdimas STMIK Dharmapala Februari-2021. Vol. No. 1, hal. ISSN(P): . ISSN(E): 2775-4014 SIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang dilakukan pada kajian proses pengolahan produk cokelat batang di Desa Parparean 1 dapat disimpulkan bahwa: Proses pengolahan buah Kakao menjadi cokelat batang berhasil diolah dan disosialisasikan kepada para petani dan masyarakat di Desa Parparean I, dan hasilnya bisa dikonsumsi dan diolah untuk dijual sebagai usaha rumahan. SARAN