A 2024 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 22 Issue 4 . : 1078-1087 ISSN 1829-8907 Tinjauan Strategi Pengemasan Buah dan Sayur dalam Memerangi Food Loss dalam Rantai Pasokan Pascapanen di Indonesia Taufiq Ihsan1* dan Vioni Derosya2 1Departemen Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik. Universitas Andalas. taufiqihsan@eng. 2Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Andalas *e-mail: ABSTRAK Buah-buahan dan sayur-sayuran segar memiliki umur simpan yang pendek, terutama jika diangkut secara global, sehingga menimbulkan risiko kehilangan pangan/ food loss yang tinggi, terutama di Indonesia. Pentingnya mengatasi kerugian pangan pascapanen memerlukan optimalisasi rantai pasok, sebuah tugas yang rumit mengingat beragamnya faktor penyebab antar produk dan rantai pasok. Tinjauan ini menawarkan strategi pengemasan untuk meningkatkan umur simpan produk segar di seluruh rantai pasokan. Melalui kajian literatur yang sistematis, 57 artikel yang dipublikasikan dari tahun 2014 hingga 2023 di beberapa negara, dipelajari faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kehilangan pangan. Ini meliputi suhu udara, kelembaban relatif, dan gas pematangan, yang dipengaruhi oleh fisiologi pascapanen, yang menyebabkan perubahan kualitas, matang berlebihan, dan pembusukan mikroba. Tidak adanya rantai dingin, pemantauan kualitas yang tidak memadai, dan manajemen inventaris yang kurang optimal dalam rantai pasokan memperburuk tantangan ini. Identifikasi penyebab kehilangan pangan higrotermal memungkinkan dilakukannya mitigasi terhadap inefisiensi dalam penyimpanan dan pengemasan. Solusi praktisnya mencakup penyesuaian suhu penyimpanan, meningkatkan ventilasi kemasan untuk pendinginan optimal, menjaga kondisi kelembapan yang sesuai, dan menyesuaikan komposisi gas berdasarkan fisiologi unik komoditas. Langkahlangkah pemantauan rantai pasokan juga dirinci guna membantu dalam memahami beragam tindakan, mempercepat pengambilan keputusan, dan mendorong upaya kolaboratif untuk memerangi kerugian pascapanen. Kata kunci: buah dan sayur, food loss, rantai pasokan, pascapanen, pengemasan ABSTRACT Fresh fruits and vegetables face a brief shelf life, particularly when transported globally, posing heightened food loss risks, notably in Indonesia. Addressing postharvest food losses necessitates optimization of supply chains, a complex task given the diverse contributing factors that vary across products and supply chains. This review offers packaging strategies to enhance the shelf life of fresh produce throughout the supply chain. The main factors contributing to food loss were studied through a systematic literature review of 57 articles published from 2014 to 2023 in several These include air temperature, relative humidity, and ripening gases, influenced by postharvest physiology, leading to quality alterations, over-ripening, and microbial spoilage. The absence of a cold chain, inadequate quality monitoring, and suboptimal inventory management within supply chain procedures exacerbate these challenges. Identification of hygrothermal food loss causes allows for the mitigation of inefficiencies in storage and packaging. Practical solutions include adjusting storage temperatures, enhancing packaging ventilation for optimal cooling, maintaining suitable humidity conditions, and tailoring gas compositions based on the unique physiology of the Supply chain monitoring measures are also detailed to aid in understanding diverse measures, expediting decision-making, and fostering collaborative efforts to combat postharvest losses. Keywords: fruits and vegetables, supply chains, food loss, postharvest, packaging Citation: Ihsan. , dan Derosya. Tinjauan Strategi Pengemasan Buah dan Sayur dalam Memerangi Food Loss dalam Rantai Pasokan Pascapanen di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1078-1087, doi:10. 14710/jil. PENDAHULUAN Buah dan sayuran segar merupakan sumber nutrisi dan serat penting dalam makanan manusia. Namun, umur simpannya yang terbatas dan daya tahan yang tinggi menyebabkan peningkatan risiko kehilangan makanan . ood los. , terutama di sepanjang rantai makanan global. Di seluruh dunia, sekitar 20Ae50% dari semua buah dan sayuran yang diproduksi, hilang atau terbuang di sepanjang rantai pasokan sebelum mencapai tahap konsumen Ihsan. , dan Derosya. Tinjauan Strategi Pengemasan Buah dan Sayur dalam Memerangi Food Loss dalam Rantai Pasokan Pascapanen di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1078-1087, doi:10. 14710/jil. (Gustavsson et al. , 2. Di Indonesia sendiri bahkan 62,8% (Kementerian PPN/Bappenas, 2. Produk dapat menjadi busuk karena beberapa faktor, antara lain penanganan pascapanen yang tidak tepat, pengelolaan rantai dingin yang salah, dan pengemasan yang tidak optimal (Yahia, 2. Selain itu, rantai global yang kompleks dengan banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat, rentan terhadap gangguan oleh kejadian yang tiba-tiba, seperti proses operasi yang tertunda, kondisi cuaca ekstrem, atau konsekuensi dari pandemi COVID-19 saat ini (Wunderlich, 2. Karena hilang dan terbuangnya pangan memiliki dampak sosio-ekonomi yang tinggi terhadap ketahanan pangan, limbah makanan hingga emisi karbon secara global, topik ini tentu menjadi perhatian khusus (FAO et al. , 2. Banyak penelitian terbaru yang membahas penyebab food loss pascapanen dan cara menguranginya (Spang et al. Yahia, 2. Dengan adanya pengelolaan permintaan pangan, yang salah satunya dilakukan melalui pengurangan limbah makanan, menjadi bagian yang sangat penting dalam menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan pertumbuhan populasi dunia (Searchinger et al. , 2. Dengan demikian, penanganan food loss dan limbah makanan . ood wast. memiliki beragam implikasi positif bagi komunitas global. Kemasan, sebaliknya, sering dipandang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan (INCPEN & WRAP, 2. Mulai dari hulu sampai hilir, hingga setelah produk dikonsumsi, konsumen harus membuangnya atau mendaur ulangnya. Namun, pengemasan dapat melindungi makanan dan memperpanjang umur simpan serta mengurangi dampak lingkungan suatu produk dengan mengurangi food loss (Brennan et al. , 2. Kemasan tersedia dalam berbagai ukuran serta mempunyai Ausarana informasiAy tersendiri guna menyampaikan cara terbaik untuk menggunakan dan menyimpan bahan makanan/ produk, juga paling utama tentu saja memperlambat degradasi buah dan sayuran yang diproses secara minimal. Telah banyak literatur yang mengidentifikasi dan mengkaji fungsi serta teknologi pengemasan yang secara khusus dirancang untuk mengurangi food loss dan food waste (Wikstrym et al. Saat ini, banyak solusi yang tersedia terkait pengemasan untuk mengatasi food loss pascapanen (Chauhan et al. Namun, langkah-langkah spesifik sering dibahas secara terpisah atau disesuaikan dengan tahapan tertentu atau rantai pasokan produk segar. Ini merupakan tantangan bagi pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi tindakan mana yang tersedia dan memutuskan tindakan mana yang optimal untuk diambil. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa setiap rantai bervariasi karena jenis produk, asal, dan standar serta protokol tiap rantai pasokan. Selain itu, kualitas produk tidak hanya dipengaruhi oleh prapanen dan fluktuasi iklim, tetapi juga rentan terhadap pemicu hilangnya A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP makanan tertentu . aitu suhu, kelembapan, gas Konsekuensinya, mengklasifikasikan solusi food loss berdasarkan pemicu tersebut dapat membantu mempercepat pengidentifikasian langkahlangkah yang tepat. Kemasan terperinci tersedia untuk buah dan sayuran tertentu . ontohnya artikel Anjum et al. Namun, ikhtisar ringkas dan holistik tentang tindakan paling umum yang mungkin diambil untuk buah dan sayuran, kurang tersedia bagi pemasok produk segar, distributor, pengecer, ahli rekayasa rantai pasok, dan peneliti, khususnya di Indonesia. Di sini, disajikan beragam pilihan tindakan pengemasan untuk pemasok produk, distributor, dan pengecer guna meminimalkan kehilangan produk segar pascapanen untuk memahami banyak tindakan yang tersedia sehingga cocok untuk ditiru dan diadopsi di Indonesia. Dalam ulasan ini, tujuannya adalah untuk mengeksplorasi strategi pengemasan yang ada dalam mengatasi kehilangan dan pemborosan makanan. Secara khusus, diulas berbagai solusi kemasan yang tersedia di seluruh rantai pasokan pascapanen. METODE Penelitian ini menerapkan Systematic Literature Review (SLR) untuk mengidentifikasi metode peran pengemasan terkait pencegahan dan minimalisasi food loss. Mengacu pada Tranfield et al. pengembangan tinjauan melibatkan lima langkah: . definisi tujuan penelitian. pemilihan basis data. identifikasi kata kunci dan istilah. pemilihan artikel yang kompatibel, dan . ekstraksi dan evaluasi data. Sehubungan dengan tujuan . , sesuai dengan arahan kajian yang diajukan pada sub 1 . , kajian ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menyusun metode pencegahan dan minimalisasi food loss terkait produk buah dan sayur, yang sebelumnya telah dipublikasikan, dipelajari, dan dibahas dalam literatur ilmiah di seluruh dunia. Mengenai pemilihan database . , telah dipilih lima database (Google Scholar. Science Direct. Scopus. Wiley, dan Web of Scienc. untuk sampel Kata kunci dan istilah . didefinisikan setelah peninjauan ulang istilah "food loss/kehilangan makanan/kehilangan pangan" dan diskusi di antara penulis tentang tujuan penelitian. Oleh karena itu, pada string pencarian, yang diterapkan di setiap basis data, adalah operasi Boolean: (Aufood lossesA. AND . revention OR minimizing OR reductio. AND . ethod* OR Aucase studyAy OR practice*), dengan rentang tahun publikasi 2014 sampai 2023. Ini menghasilkan satu set 1. 106 artikel. Untuk pemilihan artikel yang kompatibel . , pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Review and MetaAnalyses (PRISMA) digunakan untuk identifikasi sistematis dan penilaian pendekatan dan juga untuk memastikan penyajian metode yang konsisten dan lengkap (Moher et al. , 2. Proses ini meliputi langkah-langkah berikut: pertama, identifikasi dan penghapusan duplikat . , kedua, pengecualian bab Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1078-1087. ISSN 1829-8907 buku, prosiding, dan seminar . , dan, ketiga, pengecualian artikel di luar ruang lingkup judul, abstrak, dan membaca teks lengkap, . Setelah proses itu, 57 artikel dipilih untuk digunakan dalam tinjauan sistematis. Tidak ada studi yang dikeluarkan berdasarkan kualitas. Namun, kajian ini tidak mengklaim dibebaskan dari keterbatasan, karena didasarkan pada string pencarian, database, kriteria eksklusi dan pilihan subyektif. Terakhir dilakukan ekstraksi data . Untuk itu, serangkaian publikasi menjalani evaluasi oleh penulis. Evaluasi difokuskan pada identifikasi metode pengemasan yang bersinggungan langsung dengan pencegahan dan minimalisasi food loss, praktik, teknik, inisiatif, dan tindakan yang disarankan, diterapkan, dan dibahas dalam artikel yang dipilih. Setelah itu, pendekatan agregasi digunakan untuk meringkas kesimpulan dari artikel yang ditinjau. HASIL DAN PEMBAHASAN Efek Domino Food Loss Paradoks yang menekankan sektor pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan sementara sepertiga dari semua makanan yang diproduksi terbuang sia-sia menyebabkan terganggunya keseimbangan ekonomi dan lingkungan secara Satu tindakan kecil membuang-buang makanan pada akhirnya dapat menyebabkan serangan bersama terhadap keamanan pangan, meningkatkan banyak masalah etika, ekonomi, dan Produksi pangan membutuhkan banyak sumber daya, termasuk energi, air, pestisida, herbisida, pupuk, tanah, dan tenaga kerja, tak terkecuali di Indonesia (KPPN/Bappenas, 2. Memanfaatkan lebih banyak lahan untuk produksi pangan juga berarti lebih banyak penggundulan hutan, perubahan iklim, dan hilangnya habitat dan keanekaragaman hayati, sehingga menimbulkan berbagai dampak buruk (Ritchie et al. , 2. Selain itu, food loss di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2 ton, setara dengan 85,15 juta ton karbon dioksida ekuivalen, yaitu sekitar 7. 29% dari total emisi gas rumah kaca antropogenik, kurang dari emisi (Kementerian PPN/Bappenas, 2. Menggunakan pupuk, herbisida, dan pestisida dalam produksi pertanian berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan karena potensi bahan kimia dari tanah ke air (Tudi et , 2. Kehilangan pangan dan limbah makanan juga mewakili energi dan nutrisi yang dapat memberikan manfaat gizi bagi banyak orang (Conrad & Blackstone, 2. karena sekitar 690 juta orang kelaparan dan 3 miliar orang tidak makan makanan yang sehat ketika tersedia cukup makanan untuk memberi makan penduduk dunia. pada tahun 2019 (UN News, 2. atau sekitar 125 juta orang warga Indonesia. Meskipun kejadiannya saling eksklusif, dampak food loss saling terkait, sehingga menimbulkan efek domino. Hal ini menyoroti pentingnya pendekatan strategis yang secara bersamaan dapat mengatasi masalah kehilangan makanan dan pemborosan makanan serta memastikan keamanan dan keberlanjutan pangan di masa depan. Selanjutnya, peningkatan food loss juga diamati selama pandemi Covid-19 baru-baru ini. Selama pandemi, gangguan rantai pasok pangan baik pada sisi permintaan maupun pasokan terutama dibatasi oleh perintah pembatasan pergerakan (Aday & Aday. Pembatasan lockdown juga secara signifikan mempengaruhi harga dan pasokan pangan, terutama produk buah dan sayur, karena produksi yang lebih rendah, jaringan transportasi yang terbatas, pembatasan impor dan ekspor, ketakutan akan infeksi serta dan kekurangan tenaga kerja (Raj et al. , 2. Di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi (Patunru et , 2. Secara keseluruhan, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup besar terhadap sektorsektor vital ekonomi dunia (Kalogiannidis et al. , namun dampaknya terhadap produksi pangan dan limbah makanan harus dikaji lebih lanjut untuk menentukan dampak jangka panjangnya. Pendekatan Terkini untuk Mengurangi Food Loss Food loss dapat saja dimulai pada tahap awal produksi dan manufaktur, terutama dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melibatkan budaya dan geografi yang memengaruhi iklim, panen, dan perilaku dalam praktik tertentu (Mak et al. , 2. Sebaliknya, jumlah sisa makanan tergantung pada perilaku dan cara pandang masing-masing individu dan masyarakat. Faktor-faktor yang berkontribusi ini menyoroti bahwa food waste lebih mudah dikurangi atau dihindari daripada food loss. Sekitar 40% dari total food loss and food waste di negara berpenghasilan rendah dan menengah terjadi pada tahap pascapanen dan pengolahan, sedangkan total kehilangan dan pemborosan di negara berpenghasilan tinggi melebihi 40% dan terutama terjadi di tingkat ritel dan konsumen (Astria et al. , 2. Hal ini disebabkan karena negara-negara berpenghasilan rendah tidak memiliki fasilitas penyimpanan, pengemasan dan transportasi yang layak juga tidak memiliki kemajuan teknologi dalam hal sistem irigasi air yang memadai, infrastruktur yang buruk untuk penyimpanan dan pengolahan, kesadaran dan pengetahuan yang terbatas untuk menghindari hama dan penyakit, serta cuaca yang buruk. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengemasan tidak diragukan lagi memainkan peran penting dalam seluruh rantai pasokan karena dapat meminimalkan food loss dan food waste. Hal ini karena kemasan memberikan penahanan dan perlindungan terhadap makanan dari kebocoran atau kemungkinan kontaminasi selama sektor manufaktur, transportasi dan penyimpanan serta meningkatkan umur simpan produk makanan dan menawarkan kenyamanan kepada konsumen (Mukama et al. , 2. Kemasan saat ini mencakup berbagai macam bahan, seperti keramik, kaca, logam, kertas, karton, kayu, dan plastik. Sayangnya, penggunaan plastik dalam kemasan A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Ihsan. , dan Derosya. Tinjauan Strategi Pengemasan Buah dan Sayur dalam Memerangi Food Loss dalam Rantai Pasokan Pascapanen di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1078-1087, doi:10. 14710/jil. makanan kini diketahui menyebabkan masalah kesehatan jika bersentuhan dengan makanan atau tertelan karena racun dan bahan kimia yang terlarut (Sharma et al. , 2. Kemasan Cerdas (KC) dan Dampaknya Dalam Mengurangi Food Loss Istilah kemasan cerdas/ KC . mart packagin. sering kali digunakan saat ini ketika membahas sistem KC dianggap sebagai konsep yang luas, yang mencakup kemasan cerdas dan aktif yang dapat memantau perubahan internal dan eksternal yang terjadi pada suatu produk . dan merespons lebih lanjut . dengan berkomunikasi dengan antarmuka eksternal . istrik atau opti. (Vanderroost et al. , 2. Tujuan utama penerapan KC adalah untuk memperpanjang umur simpan produk dan menjaga kesegarannya, bertukar informasi kualitas dengan konsumen, meningkatkan keamanan produk, dan meningkatkan ketertelusuran produk saat bergerak melintasi rantai pasokan. KC yang menjadi alternatif utama terhadap pengemasan tradisional bertujuan untuk menunjang dan mempertahankan kualitas tinggi serta meningkatkan kesegaran produk Untuk mewujudkan hal tersebut, berbagai komponen dapat ditanamkan ke dalam sistem yang mampu melepaskan/menyerap zat dari/ke dalam makanan kemasan untuk menghindari pembusukan (Yildirim et al. , 2. Sebagai perbandingan. KC terutama digunakan untuk melacak dan memantau kondisi makanan kemasan, untuk menangkap dan menyediakan data kondisi produk selama proses penyimpanan dan transportasi (Wang et al. , 2. Dengan demikian, sistem KC biasanya melibatkan elemen perangkat keras, misalnya, detektor gas, indikator kesegaran dan pematangan, indikator waktu-suhu dan lainny. Ada juga sistem Aupembawa dataAy yang dapat digunakan untuk penyimpanan dan transfer data untuk menampilkan informasi setelahnya (Muller & Schmid. Membayangkan itu saja, tentu bagi negaranegara berkembang. KC adalah hal yang masih jauh dapat diterapkan. Sehingga perlu ditelaah kemungkinan lain terkait pengemasan yang lebih terjangkau pengaplikasiannya. Pendorong Food Loss di Sepanjang Rantai Pasokan dan Potensi Solusi Mencegah Penyalahgunaan Suhu Suhu adalah pendorong utama kerugian Alasan utamanya adalah proses yang bergantung pada suhu, seperti respirasi atau berlebihan dan penuaan, tetapi juga pertumbuhan mikroba patogen (Kader, 2. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus mempertahankan kisaran suhu optimal dengan ventilasi yang baik di sepanjang rantai pasokan untuk meminimalkan atau memperlambat proses yang tidak diinginkan tersebut (De Freitas & Pareek, 2. Harus dipastikan bahwa pendinginan dilaksanakan sesegera mungkin setelah A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Selain itu, teknologi prapendinginan perlu dioptimalkan untuk setiap komoditas guna mencegah kerusakan akibat perubahan suhu yang mendadak (Duan et al. , 2. Ketika akses ke listrik dan pendingin kurang, sistem pendingin energi rendah . isalnya pendingin evaporatif atau solar-drive. adalah opsi yang memungkinkan untuk penyimpanan dingin jangka pendek (Olosunde et al. , 2. Di sisi lain, kontrol suhu juga penting untuk mencegah kerusakan pada buah atau sayuran yang disimpan dalam suhu di bawah titik beku . hilling & freezing injurie. terutama yang berasal dari daerah tropis maupun subtropis (Kader, 2. Pemantauan suhu dalam rantai pasokan komersial biasanya dilakukan dengan menempatkan satu atau lebih sensor suhu di kargo selama pendinginan awal, pengangkutan, atau penyimpanan dingin (Mercier et al. , 2. Sayangnya, ini sangat sulit diterapkan di Indonesia. Hanya sedikit perangkat yang ditempatkan karena biaya tambahan dan sumber daya waktu yang diperlukan untuk menempatkan sensor dan mengevaluasi data. Sensor ini juga terkadang hanya mengukur suhu udara. Ulasan beberapa perangkat diberikan oleh Defraeye et al. Namun, data suhu udara yang diperoleh mungkin tidak mencerminkan kondisi termal sebenarnya dari buah dan sayuran tersebut. Meski demikian, fokus saat ini di Indonesia, dalam pemantauan suhu lebih terletak pada pemantauan waktu nyata serta pemantauan seluruh rantai pasokan pascapanen, daripada menempatkan lebih banyak sensor (Putri et al. Kementerian PPN/Bappenas, 2. Hal yang sama juga dilakukan oleh dunia secara global (Ndraha et al. Kelembapan Rendah dan Peningkatan Kehilangan Kelembapan Kehilangan air yang disebabkan transpirasi nyatanya adalah kehilangan mutu pasar produk, karena mengarah pada penurunan kualitas buah dan sayur seperti mengerut, layu hingga pelunakan. Produk segar yang berbeda . uah-buahan, umbiumbian, dan sayura. menunjukkan berbagai kerentanan terhadap transpirasi karena variasi morfologi dan anatomi, termasuk luas permukaan, kadar air, atau permeabilitas masing-masingnya (Bovi et al. , 2016. Sasaki et al. , 2. Untuk sebagian besar penyimpanan atau ruang pengemasan biasanya harus dijaga tetap tinggi (>90%). Namun demikian, spesifikasi pengemasan dan penyimpanan harus disesuaikan secara terpisah untuk setiap produk guna mencapai kualitas yang Di samping kemasan plastik tradisional . isalnya nampan, tas, foi. , tersedia beberapa solusi terbaru dan lebih berkelanjutan untuk meningkatkan lingkungan dengan kelembapan tinggi di sekitar Contohnya adalah polimer biodegradable, pelapis makanan yang juga dapat dimakan, dan sistem pelembap (Khalil et al. , 2018. Ramesh et al. , 2. Selain itu, perlu dicatat bahwa untuk produk tertentu. Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1078-1087. ISSN 1829-8907 termasuk umbi, langkah pencucian pascapanen dapat secara signifikan mengurangi umur simpan dengan . eminimalkan hilangnya kelembapa. atau dengan meningkatkan risiko infeksi mikroba oleh air yang terkontaminasi (Machado-Moreira et al. , 2. Pemantauan Kelembapan Dalam rantai pasokan komersial, pemantauan ini kurang umum dibandingkan pemantauan suhu. Salah satu alasannya adalah sensor biasanya lebih mahal dan kurang kuat di lingkungan dengan kelembapan Hal ini berubah dengan cepat dan semakin banyak pemangku kepentingan mulai menggunakan gabungan sensor suhu dan kelembapan, mengingat tingginya dampak kelembapan terhadap kualitas produk segar (Shoji et al. , 2. Kelembapan tinggi, kondensasi terkait dan pembusukan mikroba Penyebab lain food loss adalah penyakit pascapanen yang disebabkan oleh berbagai mikroba patogen, termasuk jamur dan bakteri. Organisme ini sebagian besar menunjukkan pertumbuhan yang maju di bawah kondisi lembap dan hangat (Al-Najada & Al-Suabeyl, 2. Tingkat kelembapan yang tinggi mendukung perkecambahan dan pertumbuhan spora jamur patogen. Fluktuasi suhu dalam rantai dingin dapat menyebabkan kondensasi pada permukaan buah bahkan kemasan (Castellanos et al. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengoptimalkan pengemasan pada setiap produk guna mengontrol kelembapan dan meminimalkan kondensasi. Hal ini dapat dicapai dengan pengemasan berventilasi optimal . osisi, ukuran, jumlah lubang ventilas. (Mukama et al. , 2. , pengemasan atmosfir termodifikasi (Modified Atmosphere Packaging/MAP) (Caleb et al. , atau penyerap kelembapan dalam kemasan (Bovi et al. , 2. Peningkatan Gas Berpotensi Mempercepat Pembusukan Spesies dan kultivar yang berbeda memiliki mempengaruhi permulaan dan durasi proses pematangan yang berlebihan hingga pembusukan. Buah-buahan klimakterik . isalnya mangga, alpukat, ape. , yang terus matang setelah panen, menjadi pascapanennya seringkali pendek (Yahia, 2. Setelah panen, buah-buahan ini menghasilkan hormon tanaman etilen, yang mempengaruhi pematangan dan reaksi penuaannya, tetapi juga produk hortikultura lain di sekitarnya. Gas pematangan lainnya, seperti O2 atau CO2, di udara sekitar produk juga mempengaruhi laju respirasi dan umur simpan produk terkait. Teknologi pascapanen yang sesuai, seperti penyimpanan dengan udara terkendali (Controlled Atmosphere Storage/ CAS) atau kemasan aktif, memodifikasi komposisi gas di sekitarnya untuk mempertahankan kesegaran produk lebih lama (Drago et al. , 2. Selain itu, penyerapan etilen, pencegahan kargo yang muatannya bercampur, serta penyimpanan dan pengangkutan yang berventilasi baik dapat membantu mengendalikan dan memperlambat proses terkait etilen (Sadeghi et , 2. Pemantauan berbagai gas ini tidak umum dilakukan dalam rantai pasokan produk segar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Alasan utamanya adalah perangkat yang kecil namun cukup akurat dengan harga yang terjangkau masih sulit untuk diproduksi (Janssen et al. , 2. Ada trade-off yang harus diselesaikan antara sensitivitas sensor, portabilitas, dan biaya. Namun, ada beberapa peneliti yang secara aktif berupaya meningkatkan beberapa aspek perangkat pemantauan gas (Hu et al. Wang et al. , 2. Strategi Pengemasan yang Memadai dalam Mengoptimalkan Operasi Rantai Pasokan Sementara standar kualitas membantu menjaga keseragaman produk dan mengurangi food loss selama rantai pasokan yang panjang, mereka juga dapat menyebabkan terjadinya food loss karena adanya istilah produk yang "tidak sempurna" atau tidak tersortir (Porter et al. , 2. Jadi, untuk mengurangi kerugian yang dapat dihindari ini, kemungkinan pembelian produk dengan ukuran, bentuk, atau kematangan yang tidak sesuai harus Studi terbaru menunjukkan bahwa konsumen bersedia membeli produk semacam itu saat didiskon (Cao & Miao, 2. Pilihan lain adalah penetapan harga yang AudinamisAy untuk kualitas produk yang berbeda atau juga memberikan insentif pada pelanggan untuk membeli tidak hanya produk yang sempurna tanpa cacat (Fan et al. , 2. Selanjutnya, bentuk komunikasi toko dapat membantu meningkatkan motivasi dan persepsi pelanggan untuk membeli. Label produk harus memberi tahu pelanggan seperti tanggal "baik digunakan sebelum" (Aschemann-Witzel et al. Selain itu, informasi produk juga dapat digunakan untuk menginformasikan kepada pelanggan tentang cara pencegahan food loss saat ini. Contohnya adalah persyaratan penggunaan kemasan untuk produk impor dengan rute pengangkutan yang panjang (Shrivastava et al. , 2. Namun demikian, unit pengemasan yang dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali harus diutamakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama untuk produk dalam negeri. Tabel 1 menyajikan solusi bersama dengan referensi yang relevan. A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Ihsan. , dan Derosya. Tinjauan Strategi Pengemasan Buah dan Sayur dalam Memerangi Food Loss dalam Rantai Pasokan Pascapanen di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1078-1087, doi:10. 14710/jil. Tabel 1. Langkah-langkah pascapanen untuk mengurangi food loss di sepanjang rantai pasokan buah dan sayur yang dapat diterapkan di Indonesia Parameter Suhu Kelembapan Dampak Peningkatan simpan terkait suhu Mengurangi Mengurangi kehilangan Solusi Referensi Wadah kemasan berventilasi . apat digunakan kembal. Berry et al. , 2022. Defraeye et al. yang lebih baik untuk pendinginan homogen, misalnya, 2015. Gruyters et al. , 2019. Singh kotak kardus dengan lubang ventilasi, wadah dari et al. , 2016. Wu et al. , 2019 AuInternational Food Container Organization/ IFCO Systems. Peningkatan sistem pengemasan/insulasi untuk kontrol suhu yang lebih baik. Misalnya material berubah fasa . hase change materials/ PCM. untuk wadah dengan sekat. Pengemasan yang dirancang khusus untuk mengurangi risiko kondensasi atau kontaminasi. Misalnya wadah pengatur kelembapan, penambahan bantalan penyerap cairan, ventilasi yang lebih baik, bahan pengemasan yang mengandung senyawa antimikroba, saset antimikroba, dan pelapis yang dapat dimakan dengan zat antimikroba. Pengurangan penggunaan plastik Gas Operasi sistem ritel Singh et al. , 2018. Zhao et al. Bovi et al. , 2018. Jung & Zhao. Mukama et al. , 2020. Rux et al. , 2015, 2016 Pengemasan untuk perlindungan fisik terhadap Mukama et al. , 2020 getaran dan kerusakan AumemarAy pada buah misalnya, desain kemasan dengan kekuatan yang lebih baik, pencegahan kelebihan beban. Pelapis yang dapat dimakan, misalnya pelapis dari Mukama et al. , 2020 protein, lipid, polisakarida atau komposit. Bahan kemasan yang dapat terurai secara hayati atau Nor & Ding, 2020. Yousuf et al. berbahan dasar hayati misalnya, asam polilaktat, pati, 2018. Khalil et al. , 2018. Ramesh et al. , 2020 Kemasan produk secara kolektif/massal, bukan Kakadellis & Harris, 2020 kemasan tunggal . emasan plastik shrink wrap, bungkus flow pack, dll. Misalnya kantong berbahan Mengurangi kehilangan Pengemasan MAP atau modifikasi kesetimbangan, di mana Ghidelli et al. , 2018. Yildirim et massa & pematangan / kondisi di dalam kemasan diadaptasi berdasarkan al. , 2018 pembusukan yang lebih komposisi gas di dalam kemasan dan lingkungan Kesadaran Konsumen Cetak pesan informatif pada kemasan, misalnya. Verghese et al. , 2015 "kemasan yang dapat terurai secara alami . ", "kemasan yang dapat digunakan kembali . Verghese et al. , 2015 Pemberian informasi terkait strategi pengurangan food Misalnya, label atau stiker bertuliskan, "lebih sedikit food loss dengan pembelianA. Strategi Pengambilan Keputusan untuk Evaluasi Solusi dan Identifikasi Tindakan Optimal Identifikasi Solusi Khusus Produk Karena produk segar berasal dari berbagai jaringan tanaman pada tahap pengembangan yang pengemasan dan penyimpanan khusus untuk menangkal penyebab pembusukan terkait. Metode pengemasan dan penyimpanan yang dioptimalkan dapat membantu mengurangi gejala seperti yang telah diuraikan pada sub 3. Produk buah berukuran kecil, seperti strawberry, menjadi perhatian khusus karena rentan terhadap kondensasi dan pembusukan Ini karena rasio luas permukaan terhadap volume yang besar, yang meningkatkan risiko terjadinya transpirasi dan kondensasi. Sayuran seperti selada atau jenis rempah-rempahan, juga memiliki area jaringan yang luas. rentan layu akibat Berbagai kemasan dan penyimpanan berpendingin di ritel membantu mengurangi gejala akibat hilangnya kelembapan. Sebagian besar buah "nyata" dan terutama klimakterik menunjukkan peningkatan respirasi, pematangan, dan akhirnya penuaan setelah dipanen. Scrubber etilen dalam A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP kemasan atau selama penyimpanan mengurangi proses autokatalitik tersebut (Sadeghi et al. , 2. Salah satu tantangan bagi ritel dan pemangku kepentingan lainnya adalah bahwa setiap produk memiliki persyaratan yang berbeda, misalnya terkait kemasan, pelapis edible film . ungkus produk yang dapat dimaka. , atau pembersih etilen. Oleh karena itu, perusahaan yang memasok teknologi ini biasanya menyediakan solusi khusus untuk setiap produk kepada pelanggan. Sebagai contoh, pengemasan MAP disesuaikan oleh produsen untuk setiap produk, serta komposisi edible film dan prosedur aplikasinya. Selain itu, produk yang berbeda juga sering diangkut atau disimpan bersama, meskipun memiliki kondisi penyimpanan higrotermal lain yang optimal atau sensitivitas etilen dan tingkat produksi yang berbeda. Pemangku kepentingan menghadapi tantangan untuk menentukan kondisi suhu udara . an terkadang kelembapa. yang ditetapkan untuk menghindari pembusukan yang berlebihan dengan produk yang disimpan pada suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan menghindari kerusakan akibat pendinginan dengan produk yang disimpan pada suhu yang lebih tinggi. Suhu penyimpanan sering dipilih sebagai suhu optimal tertinggi dari semua tanaman Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1078-1087. ISSN 1829-8907 yang disimpan. Dengan demikian, chilling injuries dapat dihindari, namun hal ini menyebabkan hilangnya masa pascapanen buah dan sayuran yang dapat disimpan pada suhu yang lebih dingin. Pemangku kepentingan juga dapat mencoba mengidentifikasi atau membuat zona suhu di Di truk berpendingin atau ruang penyimpanan, terpal dapat memisahkan zona yang berbeda dan mengelompokkan kompartemen dengan cara itu. Di ruang penyimpanan, kondisi suhu juga seringkali tidak seragam. di mana suhu terdingin ditemukan di dekat kipas, di mana unit pendingin Pertukaran antara Nilai Food Loss dan Dampak Solusi Pengurangannya Beberapa trade-off muncul selama pengambilan keputusan untuk menerapkan strategi pengurangan food loss. Contohnya adalah biaya . angka pende. untuk langkah-langkah baru versus kemungkinan peningkatan pendapatan makanan yang disimpan yang biasanya baru terjadi kemudian (Rutten, 2. Selanjutnya, ketika standar baru ditetapkan, dampak lingkungannya tidak boleh melebihi emisi dari akumulasi kehilangan pangan. Dari sisi pengemasan sendiri, biasanya dilebih-lebihkan tentang emisi seluruh rantai pasokan (Shrivastava et al. , 2. Namun, seringkali sulit untuk secara tepat mengukur total jejak karbon di sepanjang rantai pasokan, dan penelitian yang membandingkan dampak lingkungan dari solusi food loss yang berbeda (Chauhan et al. , 2. Oleh karena itu, analisis siklus hidup (Life Cycle Assessment/LCA) dari keseluruhan rantai dan setiap operasi akan membantu dalam menberikan informasi yang relevan untuk proses pengambilan keputusan (Bessou, 2. Misalnya, nilai LCA dari seluruh rantai yang disebabkan oleh food loss dibandingkan dengan yang didorong oleh strategi pengurangan food loss, akan memberikan wawasan yang berharga untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang optimal. Dengan begitu, kita dapat menentukan berapa skor kriteria yang berbeda dalam menghemat makanan, mengurangi jejak karbon, serta menghemat biaya maupun energi. KESIMPULAN Studi ini menyusun kumpulan strategi pengemasan terkait pengurangan food loss untuk rantai pasokan pascapanen buah-buahan dan Di sini dijabarkan penyebab utama food loss dalam proses rantai pasokan yang tidak menguntungkan yang menyebabkan inefisiensi dan pembusukan sehinga mengarah pada limbah Tinjauan singkat dan holistik mengenai langkah-langkah memberikan ringkasan dan titik awal untuk mengoptimalkan rantai pasokan pascapanen dan meminimalkan food loss. Hal ini akan memungkinkan para stakeholder untuk berkonsultasi dengan praktik dan prosedur yang ada untuk mengurangi food loss. Perlu juga dikatakan bahwa kajian ini mempunyai keterbatasan, karena database yang dipilih untuk memilih artikel terkait hanyalah sedikit dari sekian banyak database yang tersedia, terutama untuk menggambarkan secara detail kondisi di Indonesia. Meskipun menunjukkan implikasi teoretis, praktis, dan manajerial, dengan memberikan panduan kepada akademisi, praktisi, dan pengambil keputusan tentang metode pengemasan buah dan sayuran untuk mengurangi dan meminimalkan food loss dan food Terakhir, sebagai penelitian masa depan, direkomendasikan survei yang menilai persepsi para pemangku kepentingan yang berbeda melalui penerapan aplikasi yang spesifik, sektoral, dan DAFTAR PUSTAKA