P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 PERAN GURU DALAM MENANAMKAN NILAI MORAL PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI ERA GLOBALISASI UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Nazaruddin1. Siti Mariyah2 Institut Agama Islam Miftahul Ulum Tanjungpinang Alamat : Jalan Raja Haji Fisabilillah. Kelurahan Tanjungpinang Timur. Kecamatan Bukit Bestari. Tanjungpinang. Kepulauan Riau Email : nazaruddinstaimu@gmail. com, riamardia90@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam menanamkan nilai moral pada siswa sekolah dasar di era globalisasi serta keterkaitannya dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. melalui analisis isi. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai pendidik, teladan, motivator, dan fasilitator dalam pembentukan karakter siswa. Penanaman nilai moral dilakukan melalui pembelajaran di kelas, pembiasaan perilaku positif, keteladanan, serta penguatan . Namun, globalisasi menghadirkan tantangan berupa pengaruh budaya asing, kemajuan teknologi yang tidak terkontrol, serta menurunnya interaksi sosial yang berdampak pada degradasi moral siswa. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat seperti integrasi nilai moral dalam pembelajaran, kolaborasi dengan orang tua, serta penguatan pendidikan agama dan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanaman nilai moral memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab. Keyword:Peran Guru. Moral Siswa. Globalisasi. Tujuan Pendidikan Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam membentuk kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membentuk karakter dan moral peserta didik. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki akhlak mulia dan kepribadian yang baik. menegaskan bahwa pendidikan nasional tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam Pasal 3, dinyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki kepribadian yang baik. 1 Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia memiliki orientasi yang holistik, yakni mengintegrasikan aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan proses Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kualitas moral dan kepribadian peserta Makna Auakhlak muliaAy dalam konteks undang-undang tersebut merujuk pada perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, norma sosial, dan budaya Akhlak mulia mencakup sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, serta menghargai orang lain. Sementara itu. Aukepribadian yang baikAy berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengelola diri, bersikap mandiri, memiliki integritas, serta mampu beradaptasi secara positif dalam berbagai situasi Kedua aspek ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, karena akhlak yang baik akan membentuk kepribadian yang kuat, dan kepribadian yang baik akan memperkuat konsistensi dalam berperilaku moral. Oleh karena itu. Anonim Undang-undang SISDIKNAS Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 pendidikan harus diarahkan pada proses internalisasi nilai, bukan sekadar penyampaian materi. Dalam implementasinya, tujuan pendidikan nasional tersebut menuntut adanya transformasi dalam sistem pembelajaran di sekolah. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing moral bagi peserta didik. Adapun tugas guru adalah : mengajar peserta didik. 2 Tugas pertama dari seorang guru adalah mengajar seluruh peserta didik terkait ilmu pengetahuan yang diketahuinya secara mendalam, disamping juga harus merekayasa proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar mampu menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Selain itu, kurikulum perlu mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Lingkungan pendidikan juga harus mendukung terciptanya budaya yang mencerminkan nilainilai moral, seperti disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab, sehingga peserta didik dapat belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga dari praktik kehidupan sehari-hari. Namun demikian, dalam era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi, implementasi tujuan pendidikan nasional menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Pengaruh budaya luar, penggunaan media digital yang tidak terkontrol, serta perubahan pola interaksi sosial dapat berdampak pada menurunnya kualitas moral peserta didik. Dalam situasi ini, pendidikan dituntut untuk mampu menjadi benteng yang menjaga nilai-nilai luhur bangsa sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman. Hal ini memerlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan moral dan kepribadian anak. Citra Berliana. Guru: Tugas dan Peran Dalam Pendidikan. ILMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Keagamaan. Vol, 2 No 2. Maret 2024, h. View Of Guru. Tugas Dan Peran Dalam Pendidikan Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 Secara keseluruhan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 telah memberikan landasan yang kuat bagi pembangunan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Namun, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan tersebut sangat bergantung pada konsistensi implementasi di lapangan. Diperlukan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap pembinaan akhlak dan kepribadian peserta didik. Dengan demikian, pendidikan dapat benar-benar menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Sehubungan hal tersebut, berikut ini hasil penelitian yang dilakukan oleh Aggeliki mengemukakan Population mobility and modern social circumstances have changed the cultural homogeneity that characterized Greek education for decades. Thus, today, the dimension of economic migration, the refugee issue, as well as the existence of religious and other minorities contribute to the need to manage the AuOthernessAy in pre-school education. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa mobiletas penduduk dan keadaan sosial modern telah mengubah keseragaman budaya yang menjadi cirri pendidikan Yunani selama beberapa dekade. Oleh karena itu, saat ini, dimensi migrasi ekonomi, isu pengungsi, serta keberadaan minoritas agama dan minoritas lainnya berkontribusi pada kebutuhan untuk mengelola AuKeterasinganAy dalam pendidikan prasekolah. Tidak diragukan lagi, setiap organisasi pendidikan adalah sarana untuk mentransmisikan karakteristik budaya suatu negara. Oleh karena itu, di setiap tingkat pendidikan, pendidikan, antara lain, adalah faktor sosialiasi yang dinamis yang berfungsi sebagai saluran transmisi etika, tradisi, budaya, dan Aggeliki Iosifidou AuTeachersAo Attitudes Towards Racism and Xenophobia in Pre- School EducationAy Innovare Journal of Education. Vol 12. Issue 4, 2024. London: 2024. Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 kerangka normatif masyarakat. NooshinForghanimenyatakanbahwa AuTalking about values education in this school would be a contradiction. More contradictory than that would be talking about philosophical fundamentals of values education due to the fact that a school of thought that is fundamentally against foundationalism and its identity consists of meta-narratives is apparently indifferent to such But since philosophy can only be rejected by philosophy, then postmodernists have unwantedly and against their own claims, admitted some philosophical fundamentals. In investigating and criticizing their view of values education, attention to these fundamentals is of utmost importance. Therefore, in the following, we will briefly describe the most important philosophical fundamentals of postmodernismAy. Dapat dipahami bahwa membicarakan pendidikan nilai di sekolah ini akan menjadi suatu kontradiksi. Lebih kontradiktif daripada itu adalah membicarakan dasar-dasar filosofis pendidikan nilai karena kenyataannya sebuah aliran pemikiran yang secara fundamental menentang fundamentalisme dan identitasnya terdiri dari meta-narasi ternyata acuh terhadap hal-hal semacam itu. Namun karena filosofi hanya dapat ditolak oleh filosofi, maka postmodernis secara tidak sengaja dan bertentangan dengan klaim mereka sendiri, telah mengakui beberapa dasar filosofis. Dalam menyelidiki dan mengkritik pandangan mereka tentang pendidikan nilai, perhatian terhadap dasar-dasar ini adalah yang paling penting. Oleh karena itu, berikut ini, kami akan secara singkat menggambarkan dasar-dasar filosofis terpenting dari postmodernisme. Globalisasi membawa dampak positif dan negatif terhadap dunia pendidikan. Di satu sisi, globalisasi membuka akses informasi yang luas, tetapi di sisi lain dapat mengikis nilai-nilai moral peserta didik. Fenomena seperti menurunnya Nooshin Forghani. A Critical Examination of Postmodernism Based on Religious and Moral Values Education. International Education Studies. Vol. No. 2015 ISSN 1913-9020 EISSN 1913-9039 Published by Canadian Center of Science and Education. Iran, 2015, h. Microsoft Word - Layout-IES-p98 Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 sopan santun, kurangnya disiplin, serta meningkatnya perilaku menyimpang pada anak menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. LITERATURE RESEARCH Teori Pendidikan Nasional Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu menjadikan manusia sebagai manusia yang merdeka baik secara fisik, mental dan 5Manusia yang merdeka memiliki arti bahwa manusia merupakan seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari aspek kemanusiannya serta manusia yang mampu dalam menghormati serta dapat menghargai manusia lainnya. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa kembangnya anak-anak. Sehingga yang bisa dilakukan oleh para pendidik hanyalah dapat menuntun anak agar bisa tumbuh sesuai dengan kodratnya. Landasan pendidikan di Indonesia atau landasan yuridis pendidikan Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, dan berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945, oleh karena itu hal tersebut menjadi dasar untuk menjelaskan bahwa landasan hukum atau landasan yuridis pendidikan di Indonesia sangat penting dalam proses penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Seperti yang terdapat dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang NRI No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa: AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri. NatasyaFebriyanti. ImplementasiKonsep Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Jurnal Pendidikan Tambusai. Volume 5 Nomor 1Tahun 2021. View of ImplementasiKonsep Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy. Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa dicapainya keberhasilan dalam pendidikan melalui prinsip-prinsip sebagai berikut. Pertama, pendidik dan calon pendidik harus terlebih dahulu memahami dan berusaha menerapkan landasan-landasan dalam pendidikan yang tertulis maupun tidak tertulis. Kedua, pendidik dancalon pendidik membantu menyelesaikan masalah peserta Ketiga, seluruh elemen antara pendidik, calon pendidik, peserta didik, unsur dalam sekolah, wali peserta didik, masyarakat harus bergotong royong untuk memajukan pendidikan. Keempat, antara elemen satu dengan yang lainnya berhak saling mengingatkan jika terjadi perselisihan dengan landasan yang telah ada. Kelima, memberikan kesempatan wali peserta didik untuk membicarakan apa saja keluh kesah beliau terhadap anaknya . eserta didik Keenam, lembaga pendidikan memiliki hak dalam mengelola rumah tangganya sendiri. Ketujuh, penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan kurikulum, dan landasan yang berlaku dalam tingkat Kedelapan, pendidik merupakan poros utama dalam pendidikan jadi memiliki hak dan kewajiban lebih Kesembilan, peserta didik berhak mendapatkan pendidikan sesuai landasan yuridis sistem pendidikan nasional. Kesepuluh, wali peserta didik juga memiliki hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pendidikan yaitu mendukung penuh anaknya sebagai peserta didik sesuai landasan yuridis sistem pendidikan nasional. Teori Peran Guru Pemerintah dengan semangat yang luar biasa memperkenalkan pembaharuan dalam pendidikan yakni penerapan pendekatan pembelajaran Anonim Undang-undang SISDIKNAS Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 Pada pendekatan pembelajaran mendalam, guru berperan sebagai aktivator dan motivator, fasilitator dan pengembang budaya belajar yang membantu peserta didik mengeksplorasi, berkreasi, dan mengaitkan hubungan antar konsep. Beberapa karakteristik pendekatan Pembelajaran Mendalam dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan antara lain pembelajaran aktif, kolaboratif, pembelajaran terdiferensiasi. Dengan demikian, guru harus memahami karakteristik murid dengan berbagai strategi pembelajaran untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran Mendalam mendorong murid untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan merefleksikan kemajuan mereka sehingga mereka mampu melakukan asesmen diri, merefleksi capaian pembelajaran mereka sendiri dan menetapkan tujuan Hal ini membantu peserta didik mengembangkan keterampilan metakognitif dan mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam pembelajaran Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam relevan dengan pencapaian profil lulusan yang mendukung pengembangan kompetensi peserta didik secara 7Guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan karakter kepada peserta didik, terlebih di sekolah dasar yang secara nyata guru merupakan ujung tombak terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Menurut Umar Sidiq peran guru sebagai motivator ini dimaksudkan kepada peran guru sebagai educator dan supervisor. Untuk meningkatkan semangat dan gairah belajarnya, siswa membutuhkan motivasi yang tinggi. Motivasi itu sendiri berdasarkan sumbernya terbagi dua, yakni motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal adalah motivasi yang bersumber dari dalam diri peserta didik. Sebaliknya, motivasi eksternal adalah Kemendikdasmen. Bahan Bacaan Modul 5 Pembelajaran Mendalam: Perencanaan Pembelajaran, 5. Bahan Bacaan Asinkronus Modul 5_ Perencanaan Pembelajaran . Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 motivasi yang berasal dari luar diri peserta didik. Dan motivasi jenis kedua ini lah yang menjadi fokus perhatian guru untuk membangkitkannya. Teori Pendidikan Moral Pendidikan moral merupakan proses pembentukan nilai, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan norma sosial dan agama. Nilai moral Pembiasaan Pendidikan moral dan karakter menurut Suyanto yang dikutip oleh Agus Wibowo, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi cirri khas setiap orang untuk hidup dan bersosialisasi baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan negara. Pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan, perasaan dan tindakan sehingga pendidikan karakter menjadi 9 Upaya pembentukan moral atau karakter tidak semata-mata dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar saja, akan tetapi juga dengan pembiasaan dalam kehidupan. Menurut AlGhazali yang dikutip oleh Zubaedi, ada dua cara dalam mendidik akhlak juga diterapkan dalam pendidikan karakter yaitu: . Mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. perbuatan itu dikerjakan dengan diulang-ulang. Keteladanan Telah diketahui bersama, bahwa Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam Siddiq. Umar. Etika dan Profesi Keguruan. Tulungagung: STAI Muhammadiyah Tulungagung, 2018, h. Wibowo. Agus. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sri Marwiyati. Penanaman Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan. Salatiga: Thufula. Vol. 9 | No. 2 | Juli - Desember 2020, h. 154, 7190-31448-1-PB. Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 merealisasikan sistem pendidikan Islam. 11 Setiap prilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, merupakan prilaku Islami yang bersumber dari AlQurAan. Aisyah r. a sendiri pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah AlQurAan. 12 Dengan demikian, sebagai muslim hendaknya menjadikan Rasul sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Karena keagungannya keteladannya yang sempruna hanya dimiliki rasulullah pembawa risalah abad, kesempurnaanya menyeluruh dan universal, baik yang berhubungan dengan masalah ibadah, atau yang menyangkut kepatuhan atau kesabaran. Ini semua perlu diteladani dengan harapan agar kita menjadi manusia yang bermental Islami yang seluruh aspek kejiwaanya didasari dengan nilainilaii luhur Al-QurAan dan Hadits. Kata uswah atau iswah berarti teladan. Pakar tafsir Zamkhsyari ketika menafsirkan ayat diatas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasul itu. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama. Kata fi dalam firman-Nya: ) ( firasulillah berfungsi AumengangkatAy dari diri Rasul satu sifat yang hendaknya diteladani, tetapi ternyata yang diangkatnya adalah Rasul SAWsendiri dengan seluruh totalitas beliau, demikian menurut banyak ulama. Pendidikan Islam merupakan sistem kependidikan yang menyakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik Ubabuddin Din Hafid. AKonsep Pendidikan Karakter Perspektif IslamA. TaAdib: Jurnal Pendidikan Islam, 2018, https://doi. org/10. 29313/tjpi. Musthofa Muhammad AImaroh. Jawahirul Bukhari. Surabaya: Haromain, 2016 Maulana Kausar Niazi. Menuju Pemahaman Al-QurAan. Jakarta: Pustaka Alhusna, 2018 Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 duniawimaupun ukhrawi. 14 Oleh sebab itu, seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak, yang tingkah lakunya dan sopan santunya akan ditiru, disadari atau tidak, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri kita dan perasaanya, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, indrawi, maupun spiritual. Pendidikan keteladanan dalam Islam dijadikan sebagai metode dalam pendidikan Islam secaraPsikologi didasarkan akan fitrah manusia yang memiliki sifat gharizah . ecenderungan mengimitasi atau meniru orang Sehingga Al-QurAan memberikan petunjuk pada manusia kepada siapa mereka harus mengikuti agar mereka tidak tersesat. Sehubungan dengan konsep tersebut, dapat dipetik satu pesan Al-QurAan tentang pendidikan keteladanan dalam Islam. Penguatan . Teori tentang penanaman moral pada anak melalui penguatan . menekankan bahwa perilaku moral dapat dibentuk dan dipertahankan melalui pemberian konsekuensi yang tepat terhadap tindakan anak. Dalam pendekatan ini, anak belajar membedakan mana perilaku yang baik dan tidak melalui pengalaman langsung terhadap respon lingkungan. Penanaman moral melalui penguatan adalah proses membentuk perilaku baik dengan cara memberikan respon positif terhadap perilaku yang diharapkan, sehingga anak terdorong untuk mengulanginya. Sebaliknya, perilaku yang tidak sesuai akan dikurangi melalui konsekuensi Muhammad Quthb. Fenomena Kalam Ilahi: Bukti Kemukjizatan Al-QurAan (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2. Lis Yulianti Syafrida Siregar,Pendidikan Anak dalam IslamA. Pendidikan Anak Islam. Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 Penguatan tidak hanya berupa hadiah materi, tetapi juga bisa berupa:pujian, perhatian, penghargaan sosial, rasa diterima dalam Globalisasi dalam Pendidikan Globalisasi adalah proses integrasi global yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi. Dampaknya terhadap pendidikan antara Akses informasi luas Perubahan pola piker siswa Tantangan degradasi moral Globalisasi menuntut pendidikan untuk adaptif tanpa kehilangan nilai-nilai budaya dan moral bangsa. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan Penelitian Tulisan ini adalah hasil library research dengan pendekatan analisis isi kualitatif dengan metode de-kontekstualisasi dan re-kontekstualisasi untuk menelaah makna konsep metode kepustakaan dalam pendidikan Islam. Proses dekontekstualisasi diawali dengan seleksi unit analisis dari unit primer dan unit Dilanjutkan Re- kontekstualisasi diawali dengan pengelompokan kode ke dalam sub kategori/subtema, kemudian pembentukan kategori dan tema pada berbagai tingkatan. Britt Marie Lindgren. Berit Lundman, and Ulla H. Graneheim. AuAbstraction and Interpretation during the Qualitative Content Analysis Process,Ay International Journal of Nursing Studies, 2020, https://doi. org/10. 1016/j. Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 PEMBAHASAN Peran Guru dalam Menanamkan Nilai Moral Guru berperan sebagai teladan dalam sikap dan perilaku. Nilai moral Pembelajaran di kelas Pembiasaan sikap disiplin Keteladanan dalam interaksi sehari-hari Guru juga berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa memahami nilai baik dan buruk. Tantangan Globalisasi Globalisasi membawa pengaruh negatif seperti: Pengaruh budaya asing Ketergantungan pada teknologi Menurunnya interaksi sosial Hal ini dapat menyebabkan degradasi moral jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter. Strategi Guru Strategi yang dapat dilakukan guru antara lain: Integrasi nilai moral dalam pembelajaran Penggunaan metode pembelajaran berbasis karakter Kolaborasi dengan orang tua Penguatanpendidikan agama dan budaya Keterkaitan denganTujuan Pendidikan Nasional Penanamannilai moral berkontribusi langsung terhadap pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggungjawab. Tanpa pendidikan moral, tujuan pendidikan nasional Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 tidak dapat tercapai secara optimal. Tujuan pendidikan nasional Indonesia Undang-Undang Nomor Tahun Pasal yaitu: AyPendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawabAy. Dalam filsafat pendidikan, tujuan pendidikan tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga moral dan kartakter. Tokoh John Dewey pembentukan pengalaman yang membangun nilai dan tanggung jawab Tanpa penanaman moral, pendidikan hanya menghasilkan individu cerdas secara intelektual tetapi lemah secara karakter. Menurut Lawrence Kohlberg, tujuan akhir pendidikan moral adalah mencapai tahap moralitas otonom . ost-konvensiona. , yaitu: . bertindak berdasarkan prinsip etika universal, . memiliki kesadaran tanggungjawab sosial, keseluruhan hal tersbeut selaras dengan tujuan pendidikan nasional. membentuk warga negara yang bertanggungjawab dan demokratis. Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter mencakup tiga komponen Moral knowing . engetahuan mora. Moral feeling . erasaan mora. Moral action . indakan mora. Ketiganya sangat relevan dengan tujuan pendidikan nasional yang menghendaki keseimbangan: iman, ilmu dan amal. Tokoh seperti Al-Ghazali menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak . Ilmu tanpa akhlak dianggap tidak sempurna. Pendidikan sejati adalah yang membentuk kepribadian manusia seutuhnya. Ini Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 sangat sejalan dengan konsep Auberakhlak muliaAy dalam pendidikan nasional. sekolah, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga:disiplin, kejujuran, tanggung jawab. Tanpa penanaman moral: terjadi Penanaman moral memiliki keterkaitan yang sangat kuat dan tidak terpisahkan dari tercapainya tujuan pendidikan nasional. Secara teoritis, berbagai pendekatan . ilsafat pendidikan, perkembangan moral, belajar sosial, dan pendidikan karakte. menegaskan pentingnya moral sebagai inti Secara praktis, penanaman moral terbukti menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu hidup dalam masyarakat demokratis. PENUTUP Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai moral pada siswa sekolah dasar, terutama di tengah tantangan era globalisasi. Peran tersebut tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing, dan motivator dalam membentuk karakter peserta didik. Globalisasi memberikan dampak yang kompleks, baik positif maupun negatif, sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan moral siswa. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan berbagai strategi yang efektif, seperti mengintegrasikan nilai moral dalam proses pembelajaran, membiasakan perilaku positif, serta menjalin kerja sama dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Penanaman nilai moral terbukti memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pencapaian tujuan menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu bertanggung jawab dalam kehidupan Jurnal Misbahul UlJum (Jurnal Institus. V o l u m e 8 . N o . 1 Juli 2 0 26 h . 1- 17 . P- ISSN : 2656-6710 E-ISSN : 2745-9128 Jurnal Misbahul Ulum (Jurnal Institus. Volume 08. No. 1 Juli 2026 h . 1 Ae 17 DAFTAR PUSTAKA