Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 Komodifikasi Disabilitas Dalam Film The Shape of Water Maria Novelita. Syaifuddin. Ilmu Komunikasi. Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis Jalan Pulomas Selatan Kav 22. Jakarta Timur 13210 Email: novel. schon@gmail. Email : syaifuddin. sayuti@kalbis. Abstract: The disability narratives we can find not only in the reality of life, but also has included in the mass media. The Shape of Water movie is one of many movies that raising the disability through their main character. This research is aimed to disassemble the disability that has been used as a commodity by the capitalists, the owners of the mass media. This qualitative research using The Commodification Concept (Political Economy Media Theorie. and Roland BarthesAo semiotics analysis with three level of meanings. denotative, conotative, and myths. The result of this study shows that the disability has transformed some myths. In the cultural myths, the disability is considered as magical, depend on others, and canAot socialize. However in the The Shape of Water movie, disability is illustrated as disgrace, independent, and able to socialize. Beside that, this movie also stabilize some myths, as being isolated from the community, something pitiful and having low degree. Keywords: commodification, disability, film, semiotics Abstrak: Kisah disabilitas tidak hanya dapat ditemui di dunia nyata namun juga dalam media massa. Salah satu film yang menghadirkan tokoh disabilitas adalah film The Shape Of Water melalui tokoh Tujuan penelitian ini adalah untuk membongkar disabilitas yang dijadikan komoditi bagi kaum kapitalis, pemilik media massa. Penelitian ini menggunakan Teori Komodifikasi (Teori EkonomiPolitik Medi. dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Roland Barthes yang meliputi tiga level pemaknaan yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Hasil dari penelitian ini adalah disabilitas telah mengalami pergeseran mitos. Dalam mitos daerah, disabilitas dianggap sakti, tidak mandiri, dan tidak dapat bersosialisasi. Namun dalam film The Shape of Water, disabilitas digambarkan sebagai AoaibAo, mandiri, dan mampu bersosialisasi. Selain itu, film ini juga memantapkan beberapa mitos seperti dikucilkan dari masyarakat, sesuatu yang menyedihkan dan memiliki derajat yang rendah. Kata Kunci: disabilitas, film, komodifikasi, semiotika PENDAHULUAN Disabilitas merupakan suatu keadaan di mana seseorang memiliki keterbatasan baik dari fisiologis, psikologis, kelainan struktur atau fungsi anatomi. Keadaan ini membuat orang tersebut mengalami hambatan dan kesulitan untuk beraktivitas maupun berpartisipasi secara penuh dan efektif dalam lingkungan masyarakat. Karena keterbatasan tersebut, sudah sepantasnya penyandang disabilitas mendapat perlakuan khusus serta pelindungan dari berbagai tindakan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Para penyandang disabilitas tidak hanya kita temui dalam lingkungan sekitar, bahkan sudah eksis dalam media massa, khususnya film. Gambaran dari realitas mengenai disabilitas sudah menjelma dalam kemasan kisah yang dibuat oleh para Rumah Produksi (Production Hous. Beberapa contoh film bertemakan disabilitas yaitu My Name is Khan . Ayah Mengapa Aku Berbeda . , dan The Shape of Water . , mengangkat kisah bagaimana masyarakat memandang tokoh utama yang merupakan seorang penyandang disabilitas. Film yang memuat penyandang disabilitas memiliki daya tarik penonton, tentunya melihat bagaimana cara mereka berinteraksi dalam kehidupan sosial. Seringkali media massa menambahkan AobumbubumbuAo yang terkesan dramatis sehingga mampu menggugah emosi penonton. Film memiliki kemampuan dan kekuatan dalam menjangkau banyak segmen sosial yang membuat para ahli berfikir bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sama seperti disabilitas yang ditampilkan di dalam film. Pembuat film mampu membentuk stereotip, dan mampu menciptakan pandangan negatif terhadap disabilitas. Adapun beberapa masyarakat yang percaya bahwa disabilitas adalah suatu AoaibAo, ketidaksempurnaan, malapetaka, makhluk yang dikucilkan dan perlu dikasihani. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 Berdasarkan efek tersebut, film memiliki dampak yang besar dalam membentuk atau merubah karakter penontonnya (Sobur, 2009: . Salah satu film yang berkisah mengenai kehidupan wanita bisu sukses dikemas dalam film The Shape of Water pada tahun 2017. Kesuksesannya dibuktikan dengan pendapatan yang diperoleh pembuat film hingga mencapai 195 juta USD. Selain itu film ini berhasil memenangkan 4 nominasi dalam ajang film bergengsi. Oscars Awards 2018, di antaranya Best Achievement in Directing. Best Motion Picture of the Year. Best Achievement in Production Design dan Best Achievement in Music Written for Motion Pictures (Original Scor. Melihat pencapaian sukses dari film ini, kita mampu berasumsi bahwa disabilitas mampu menjadi komoditas yang bernilai di pasar media. Vincent Mosco mendefinisikan komodifikasi sebagai Auproses mengubah barang dan jasa, termasuk komunikasi, yang dinilai karena kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang akan mereka berikan di pasarAy (Ibrahim dan Akhmad, 2014: . Begitupun dengan disabilitas yang ditampilkan dalam sosok Elisa pada film The Shape of Water. Fox Searchlight Pictures selaku rumah produksi, telah mengubah nilai guna disabilitas menjadi nilai tukar dalam industri hiburan. Tentunya tertanam kepentingan-kepentingan kaum kapitalis . emilik medi. yang ingin meraup keuntungan dan melakukan dominasi dalam mempengaruhi pola pikir, dan mental masyarakat. Komodifikasi disabilitas dalam film The Shape of Water ditunjukkan melalui tanda dan simbol, sehingga penelitian ini menggunakan analisis Semiotika adalah teori yang membantu kita untuk memahami pesan menjadi makna. Sama seperti halnya dalam film The Shape of Water, gerakan yang dilakukan Elisa beserta simbol yang ditunjukkan dalam fim, dapat ditafsirkan sehingga dapat memiliki makna dan pesan yang berkaitan dengan objek. Dengan menggunakan model analisis semiotika Roland Barthes, peneliti akan mengungkapkan adanya praktik komodifikasi terhadap disabilitas dalam film The Shape of Water melalui 3 level pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Alasan peneliti menggunakan film The Shape of Water sebagai subjek penelitian karena peneliti menemukan keunikan pada kisah Elisa sebagai penyandang disabilitas yang saling jatuh cinta dengan makhluk air langka. Peneliti merasa film ini dengan AusengajaAy ingin memberikan ruang yang sama kepada penyandang disabilitas di media hiburan, sehingga menjadi komoditas yang menarik bagi penonton. Hal ini merupakan strategi para pemilik modal dalam meraup keuntungan. II. METODE PENELITIAN Komodifikasi Komodifikasi adalah kata yang dapat menggambarkan situasi media komunikasi massa pada zaman sekarang. Dengan menempatkan media sebagai industri budaya, menurut Nicholas Garnham dalam Ibrahim dan Akhmad . 4: . , kita mengkajinya dari pespektif ekonomi politik. Media dipandang sebagai sistem produksi, distribusi, dan konsumsi bentuk simbolik yang semakin memerlukan mobilisasi sumber daya sosial yang langkaAebaik material maupun kultural. Sumber daya tersebut dialokasikan dan digunakan dalam kendala-kendala yang terbentuk dari cara produksi kapitalis di zaman modern (Ibrahim dan Akhmad, 2014: . Menurut Vincent Mosco dalam Ibrahim dan Akhmad . 4: . , komodifikasi diartikan sebagai sebuah Auproses mengubah barang dan jasa, termasuk komunikasi, yang dinilai karena kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang akan mereka berikan di pasarAy. Lebih jelasnya komodifikasi merupakan proses perubahan nilai barang dan jasa yang semula dinilai karena nilai guna aslinya . isalnya, nilai guna sabun untuk membersihkan badan, obat menyembuhkan luk. menjadi suatu komoditas yang bernilai untuk mendatangkan keuntungan di pasar setelah dikemas. Komoditas adalah suatu bentuk tertentu dari sebuah produk yang diorganisasikan melalui proses pertukaran (Ibrahim dan Akhmad, 2014: . Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan diri pada persoalan komodifikasi dalam film The Shape of Water karena untuk melihat bagaimana dan berapa nilai AodisabilitasAo yang dikonstruksi oleh media massa dan juga menemukan AoideologiAo yang bersemayam di balik media massa. Teori komodifikasi juga dapat menunjukkan bahwa media massa mendahulukan keuntungan dibandingkan dengan tujuan media massa yang lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tipe komodifikasi isi, yaitu ketika pesan atau isi komunikasi diperlakukan sebagai komoditas, ekonomi politik cenderung memusatkan kajian pada konten media dan kurang pada khalayak media dan tenaga kerja yang terlibat dalam produksi media. Tekanan pada struktur dan konten media ini bisa dipahami terutama bila dilihat dari kepentingan media global dan pertumbuhan dalam nilai konten Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 media (Ibrahim dan Akhmad, 2014: 20-. Peneliti berusaha mengungkap bahwa disabilitas yang ditampilkan dalam film dijadikan sebuah komoditas. Penonton film ini secara tidak langsung menikmati dan tertarik dengan sajian komoditas . tanpa mengetahui adanya keuntungan yang diperoleh dari Production House (PH). Keuntungan dapat diperoleh dari sponsor dan investor dalam film, penonton bioskop, hak siar TV dan DVD. Disabilitas Disabilitas merupakan suatu keadaan di mana seseorang memiliki keterbatasan dalam segi fisik, mental maupun keduanya. Disabilitas berasal dari akronim Bahasa Inggris yaitu differently abled atau disingkat disability yang berarti manusia yang memiliki kemampuan berbeda. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan disabilitas sebagai berikut: AuDisabilitas adalah istilah umum dan luas yang meliputi kelainan, keterbatasan kegiatan dan halangan untuk berpartisipasi. Kelainan berarti permasalahan dalam fungsi dan struktur tubuh, keterbatasan kegiatan berarti kesulitan yang dihadapi oleh seorang individu dalam melakukan tugas atau aksi sedangkan halangan untuk berpartisipasi berarti masalah yang dialami oleh seorang individu dalam keterlibatannya di situasi kehidupan. Ay Disabilitas juga identik dengan kata AocacatAo. Kata ini muncul karena adanya suatu kekuasaan yang memberukan kata tersebut sebagai identitas kepada suatu anggota masyarakat, yang berbeda secara Kata cacat memiliki arti rusak atau tidak baik, sehingga sangat tidak cocok jika kata ini digunakan sebagai identitas manusia. Selain itu, secara empiris, istilah Aupenyandang disabilitasAy yang digunakan selama ini telah menimbulkan sikap dan perlakukan tidak baik kepada orang yang disebut sebagai penyandang cacat. Kecacatan dapat menggambarkan identitas seseorang yang lebih rendah daripada orang yang tidak cacat . Istilah Aupenyandang cacatAy dengan demikian menjadi bentuk kekerasan . ecara verba. terhadap manusia dan telah menyebabkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, terutama bagi penyandang cacat (Pratiwi, et al. , 2018: . Keterbatasan yang dimiliki para difabel menyulitkan mereka untuk berperan secara maksimal dalam masyarakat. Mereka akan mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang seperti pada umumnya sesuai dengan keterbatasan fisik maupun mental masing-masing. Setiap penyandang difabel memiliki kebutuhan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan berkembang secara baik. Dalam Pratiwi, et al. 8: . , berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 Tahun 2009, tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, klasifikasi penyandang disabilitas dalam regulasi ini terdiri dari: . Tunanetra, yaitu kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya, tunanetra dibagi menjadi dua, yaitu: Buta total . otally blin. dan Masih mempunyai sisa penglihatan . ow visio. Tunarungu, yaitu kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan Tunawicara, yaitu ketidakmampuan seseorang utnuk berbicara. Tunagrahita, yaitu keterbelakangan mental atau dikenal juga sebagai retardasi mental. Tunadaksa, yaitu kelainan atau kerusakan pada fisik dan kesehatan. Tunalaras, yaitu indivu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Berkesulitan belajar. Lamban belajar. Autis, yaitu gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. memiliki gangguan motorik. Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang dan zat adiktif lainnya. Memiliki kelainan lainnya. Tunaganda, yaitu seseorang yang memiliki kelainan pada fisik dan mentalnya. Penyandang disabilitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari juga perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, sama seperti orang normal lainnya. Alternative and Augmentative Communication (AAC) menjadi istilah yang tepat untuk menggambarkan metode komunikasi, khususnya untuk mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan bahasa verbal. Beberapa orang mungkin bisu ataupun memiliki kendala berbicara dengan baik disebabkan oleh penyakit atau cidera. Tujuan dari AAC adalah menyediakan sebuah pilihan untuk berkomunikasi yang dapat mengurangi frustasi dan meningkatkan bahasa ekspresif bagi orang yang kesulitan berkomunikasi. Adapun contoh dari AAC yaitu bahasa isyarat, gestur, alat komunikasi atau kombinasi dari metode-metode tersebut (Heller, et , 2019: 19-. Bahasa isyarat, yaitu bahasa yang menggunakan komunikasi manual dan gerakan tubuh untuk menyampaikan makna. Melalui AuisyaratAy, pembicara dapat menggabungkan secara terus menerus gerakan tangan. orientasi dan gerakan tangan, lengan, atau tubuh. dan ekspresi wajah untuk Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 mengekspresikan apa yang mereka pikirkan. Gestur dan perilaku komunikatif. Gestur adalah bentuk dari komunikasi nonverbal yang memperlihatkan pergerakan tubuh untuk menyampaikan pesan penting, baik di tempat pidato atau secara paralel dengan kata-kata yang diucapkan. Alat komunikasi elektronik. Contoh dari alat komunikasi elektronik dapat meliputi Ipads dan tablet android dengan aplikasi komunikasi alat-alat tersebut menyertakan sistem komputer, seperti tablet Windows menjalankan perangkat lunak komunikasi. Alat komunikasi nonelektronik. Contoh dari alat komunikasi nonelektronik adalah papan alfabet, buku komunikasi dan papan gambar dan/atau huruf-huruf timbul. Sama dengan alat komunikasi elektronik, alat komunikasi nonelektronik juga dapat digunakan oleh orang-orang yang tidak dapat menunjuk pilihan menggunakan jari mereka. Berkaitan dengan objek penelitian peneliti, disabilitas ditampilkan melalui sosok pemeran utama bernama Elisa. Wanita yang diceritakan baik dan cerdas ini memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbicara, atau kerap disebut tunawicara. Hampir dalam setiap adegan. Elisa berkomunikasi dengan menggunakan komunikasi nonverbal yaitu dengan menggunakan bahasa isyarat. Dalam film juga diceritakan sosok Elisa yang dianggap sebagai kaum marginal oleh beberapa orang sekitarnya, terutama rekan kerjanya. Semiotika Kemampuan lebih yang dimiliki manusia adalah berkomunikasi, yaitu kemampuannya dalam menciptakan bahasa simbolik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti melakukan proses komunikasi, yaitu untuk memenuhi kebutuhannya dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Guna mengadakan kontak sosial dengan orang lain, maka bahasa sangat diperlukan dalam komunikasi, baik bahasa verbal maupun nonverbal. Keduanya menggunakan sistem lambang dan simbol sebagai bentuk pesan (Vera, 2014: . Sehingga dalam proses komunikasi terjadi pertukaran makna berupa lambang dan simbol antarindividu. Adapun ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda adalah semiotika. Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur, 2013 : . Semiotika adalah teori yang membantu kita untuk memahami pesan menjadi makna. Pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator berupa kata-kata, tata bahasa, nada suara dan gerakan akan menjadi perhatian bagi komunikan. Komunikan akan memfokuskan perhatian pada karakteristik atau kualitas seseorang sebagai komunikator, sehingga komunikan akan memberikan respon terhadap pesan (Morissan 2013 : . Teks merupakan fokus utama dari semiotik. Model proses komunikasi satu arah . memberi perhatian kepada teks tidak lebih seperti tahapantahapan lain dalam proses komunikasi. Hal tersebut yang menjadi perbedaan mendasar dari pendekatan proses dan pendekatan semiotik. Penerima pesan dalam semiotik dianggap memiliki peranan yang lebih aktif dibandingkan sebagian besar model proses. Penerima pesan memiliki aktivitas yang cukup besar, yaitu menciptakan makna dari teks dengan membawa pengalaman, sikap dan emosi yang dimiliki ke dalam Tanda dipertimbangkan memiliki peran di dalam menciptakan makna tersebut (Fiske, 2014: . Tanda adalah sesuatu yang terdiri pada sesuatu yang lain atau menambah dimensi yang berbeda pada sesuatu, dengan memakai apapun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu hal lainnya (Berger, 2010: Sedangkan simbol atau lambang merupakan salah satu kategori tanda . (Sobur, 2013: . Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk pada sesuatu lainnya dan sudah disepakati oleh sekelompok orang. Lambang dapat meliputi kata-kata . , gerakan dan perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama. Simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar perwujudan bentuk simbolik itu sendiri (Sobur, 2013: 156-. Ferdinand De Saussure, ahli linguistik Swiss, menyebut ilmu yang dikembangkannya sebagai semiologi . Semiologi menurut Saussure, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu (Vera, 2014: . Ia menggunakan istilah signifier . untuk sebuah bentuk tanda, sedangkan menggunakan istilah signified . untuk segi makna. Saussure dan Roland Barthes, salah seorang pengikut Saussure, melihat tanda sebagai sesuatu yang menstruktur dan terstruktur di dalam kognisi manusia (Hoed, 2014: Roland Barthes membuat analisa sistematis mengenai makna dari tanda-tanda. Ia berfokus pada gagasan tentang signifikasi dua tahap. Signifikasi tahap pertama adalah hubungan antara signifier dan signified terhadap realitas eksternal. Barthes menganggapnya sebagai denotasi, yaitu makna yang Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 sebenarnya dari sebuah tanda. Denotasi merujuk pada apa yang diyakini akal sehat/orang banyak, makna yang teramati dari sebuah tanda (Fiske, 2014: Harimurti Kridalaksana dalam Sobur . mendefinisikan denotasi . sebagai Aumakna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu. sifatnya objektif. Ay Konotasi atau makna konotatif menurut Barthes adalah signifikasi tahap kedua. Barthes menggunakan istilah konotasi untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda di tahap kedua signifikasi tanda. Maka dari itu konotasi menjelaskan interaksi yang terjadi jika tanda bertemu dengan perasaan . dari pengguna dan nilai-nilai dalam budaya mereka. Makna bergerak ke arah pemikiran subjektif atau setidaknya intersubjektif: yakni ketika interpretasi . dipengaruhi sama kuatnya antara penafsir . dan objek atau tanda itu sendiri (Fiske, 2014: . Siginifikasi tahap kedua atau konotasi berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos . Mitos adalah bagaimana suatu kebudayaan mendefinisikan dan menjelaskan aspek-aspek realitas maupun gejala Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Mitos Barthes dengan sendirinya berbeda dengan mitos yang kita anggap tahayul, tidak masuk akal, ahistoris, dan lainlain, tetapi mitos menurut Barthes adalah type of speech atau gaya bicara seseorang. Mitos merupakan suatu wahana di mana suatu ideologi berwujud. Mitos dapat menyusun mitologi yang memainkan peranan penting dalam budaya (Wibowo, 2013: . Paradigma dan Jenis Penelitian Peneliti dalam penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis adalah suatu cara pandang melihat adanya realitas tersembunyi dari suatu proses komunikasi, tidak hanya dengan mengkritik, namun juga membuat perubahan terhadap suatu sistem sosial. Paradigma kritis juga membongkar adanya pengaruh terhadap pembentukan persepsi seseorang sehingga ia menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa atau wajar. Jika dilihat dari segi ontologis, paradigma kritis ini sama dengan paradigma postpositivisme yang menilai objek atau realitas secara kritis, yang tidak dapat dinilai secara benar oleh pengamatan Dalam segi ontologis, realitas adalah hasil konstruksi mental yang berasal dari individu pelaku sosial sehingga realitas dipahami secara beragam dan dipengaruhi oleh pengalaman. Maka untuk mengatasi masalah ini, secara metodologis paham ini mengajukan metode dialog dengan transformasi untuk menemukan kebenaran realitas yang hakiki. Secara epistomologis, hubungan antara pengamat dengan realitas merupakan suatu hal yang tidak dapat Pemahaman mengenai suatu realitas atau hasil penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Peneliti dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan realitas yang tidak dapat terpisahkan. Karena itu cara pandang kritis ini lebih menekankan pada subjektivitas dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan. Nilai-nilai yang dianut oleh pengamat ikut campur dalam menentukan kebenaran tentang suatu hal (Salim dalam Nudin, 2016: . Untuk menganalisis bentuk praktik komodifikasi dalam film The Shape of Water, maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Denzin dan Licoln dalam Noor . 1: . , kata kualitatif menyiratkan penekanan pada proses dan makna yang tidak dikaji secara ketat atau belum diukur dari sisi kuantitas, jumlah, intensitas, atau frekuensinya. Penelitian kualitatif dalam Nudin . 6: . didefinisikan sebagai: AuSuatu proses penelitian untuk memahami masalah-masalah manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci yang diperoleh dari para sumber infAoormasi, serta dilakukan dalam latar yang alamiah. Ay Instrumen AumanusiaAy. Periset merupakan bagian integral dari data, sehingga periset adalah orang yang ikut aktif dalam menentukan jenis data yang ingin dipakai. Periset merupakan orang yang berhubungan dengan objek yang diteliti. Sifat dari penelitian kualitatif adalah subjektif dan hasilnya tidak digeneralisasikan sehingga periset menjadi instrumen riset yang terjun langsung di lapangan (Kriyantono, 2016: . Di saat peneliti kualitatif sudah siap meluncur ke lapangan, maka saat itu juga ia menghimpun data sebanyak mungkin tanpa membutuhkan alat bantu instrumen. Peneliti Menurut Noor . 1: . , penelitian eksploratif adalah penelitian yang memiliki tujuan untuk mendapatkan keterangan, wawasan, pengetahuan, ide, gagasan, dan pemahaman sebagai upaya untuk merumuskan dan mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis. Desain penelitian ini dapat dianggap sebagai langkah pertama yang diharapkan dapat dipakai untuk merumuskan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 persoalan di mana pemecahannya dapat memakai jenis penelitian yang lain. Begitu juga dalam penelitian ini, peneliti memberi gambaran dasar mengenai komodifikasi disabilitas dalam film The Shape of Water dan membuat topik ini lebih dikenal oleh masyarakat luas. Sifat dari penelitian eksploratif adalah kreatif, terbuka, serta fleksibel. Selain itu, peneliti menggunakan model analisis semiotika dalam mengungkap atau membongkar adanya komodifikasi disabilitas dalam film The Shape of Water. Dengan menggunakan model semiotika, peneliti membedah tanda sehingga mampu mengungkap makna yang tersembunyi dalam tanda, simbol, serta teks secara kritis. Sementara itu, semiotika Roland Barthes merujuk pada denotasi, konotasi dan mitos. cara menganalisis makna berdasarkan model Roland Barthes yang merujuk pada signifikasi dua tahap. Melalui model ini. Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier . dan signified . di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Peneliti menganalisis setiap tanda dan simbol pada gambar dalam scene yang menunjukkan adanya aktivitas seorang penyandang disabilitas sebagai barang Selain menggunakan pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos, peneliti juga menggunakan sistem pemaknaan dari Arthur Asa Berger. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan terbagi menjadi data primer dan data Menurut Kriyantono . 6: 41-. , data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek penelitian, dari hasil pengisian kuesioner, wawancara atau observasi. Pada data primer, peneliti melakukan observasi dengan menyaksikan Film The Shape of Water. Metode observasi adalah metode di mana periset mengamati secara langsung objek yang diteliti. Peneliti mengamati film berkali-kali untuk dapat menganalisis dan membongkar adanya bentuk komodifikasi terhadap disabilitas. Sehingga data berupa teks . udio dan visua. yang muncul dalam film merupakan data mentah yang akan dianalisis menggunakan model analisis Semiotika Roland Barthes. Data sekunder merupakan data penunjang yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder. Data sekunder berperan sebagai data pelengkap dari data primer sehingga peneliti perlu berhati-hati dalam menyeleksi data agar sesuai dengan tujuan penelitian namun tidak juga terlalu banyak . Tujuan dari data sekunder adalah melengkapi data primer apabila data primer terbatas atau sulit diperoleh (Kriyantono, 2016: . Untuk data sekunder, peneliti mengumpulkan data melalui buku, jurnal ilmiah, rujukan elektronik dan artikel ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti membongkar adanya komodifikasi yang muncul dalam Film The Shape of Water dengan Gambar 1 Aktivitas Elisa Setelah Bangun Tidur Pemaknaan Denotasi dan Konotasi Gambar 1 Denotasi Dengan pencahayaan yang remang-remang, gambar ini memperlihatkan seorang wanita berkulit putih sedang tidur di atas sofa hijau kusam yang panjang dan bercorak. Ia tidur menghadap sebelah Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 kiri dengan memakai bantal hijau terang. Matanya ditutupi oleh kain khusus penutup mata dengan tali yang melingkari kepalanya. Ia menggunakan daster tak berlengan berwarna hijau kebiruan yang setengah dari daster tersebut tertutup selimut berbahan rajut berwarna hijau tua. Pada gambar ini terdengar suara jam beker yang mulai berbunyi. Gambar selanjutnya, tangan kiri wanita itu meraih sebuah jam beker berwarna kuning yang terletak di atas meja kayu kecil. Jarum pendek jam tersebut terletak pada angka mendekati 11, sedangkan jarum panjangnya ada pada angka 9. Kemudian wanita tersebut menekan tombol yang ada pada jam beker lalu suara jam tersebut berhenti. Cahaya dari ruangan tidak begitu terang, hanya disinari oleh sebuah lampu meja berkap. Kemudian pada gambar selanjutnya wanita berambut pendek tersebut sedang merapikan dan mengikat jubah mandinya. Dalam frame ini, terdapat sebuah jendela berbentuk persegi panjang yang dilapisi dengan kerai horizontal memperlihatkan gelapnya suasana di luar apartemen. Sementara itu selain terdapat rak sepatu kayu, terdapat juga tempat tidur dengan tiang besi berwarna emas. Adapun seprai tempat tidur itu berwarna putih begitu juga dengan Tempat tidur itu terlihat rapi dan bersih. Gambar keempat ini dilatar belakangi bunyi sirine dari mobil pemadam kebakaran. Teknik pengambilan ketiga gambar tersebut menggunakan medium shot. Dalam gambar berikutnya dengan teknik pengambilan gambar long shot, terlihat sebuah ruangan dikelilingi oleh perabotan rumah tangga, seperti kulkas, kompor, piring-piring, dan pancipanci tersusun di meja kecil. Tampak seorang wanita sedang berdiri melihat ke luar jendela. Di belakangnya terdapat kompor yang sedang merebus benda dengan air yang mendidih. Benda itu direbusnya dalam sebuah panci kaca yang bergagang. Konotasi Sosok wanita yang ada dalam keenam gambar tersebut bernama Elisa Esposito. Elisa merupakan tokoh protagonis dalam film ini di mana ia adalah seorang tunawicara sejak lahir. Teknik pencahayaan yang remang-remang dalam adegan ini ingin menggambarkan kisah hidup seorang penyandang disabilitas yang muram dan kelam. Di awali dengan adegan Elisa tidur di sofa dengan keadaan mata tertutup oleh masker mata. Tidur dengan menggunakan masker mata adalah hal yang kurang biasa, namun berbeda dengan Elisa. Masker mata baginya berfungsi untuk membantunya tidur Warna hijau kebiruan atau disebut dengan warna teal dimunculkan secara dominan dalam film Sep warna hijau pada bantal dan selimut dapat bermakna kesegaran, relaksasi, harmoni, kealamian, kesejukan dan bersifat menenangkan (Sugiarto, 2014: . Penggunaan warna-warna tersebut bertujuan untuk menggambarkan kehidupan Elisa sebagai penyandang disabilitas yang menyukai ketenangan dan keharmonisan dalam hidup. Tidurnya sangat lelap hingga suara jam beker berbunyi untuk Elisa terbangun dari tidur dan membuka masker Segera ia menekan tombol pada jam beker untuk menghentikan bunyi alarm. Jam beker dalam frame ini membantu Elisa untuk bangun dari tidur Dalam frame ini jam beker menunjukkan 45 malam hari. Hal ini ditunjukkan dengan pencahayaan dalam scene yang terlihat sedikit gelap, hanya terbantu oleh sebuah lampu meja. Ia bangun pada malam hari untuk bekerja di shift malam. Elisa menjauhkan diri dari aktivitas masyarakat yang aktif pada pagi/siang hari karena ia merasa dirinya mungkin akan kesulitan berkomunikasi dengan orang Sedangkan pekerjaannya yang ia jalankan pada malam hari hanyalah seorang petugas kebersihan di mana tidak membutuhkan banyak kegiatan Maka dalam gambar ini. Elisa bangun tidur di malam hari untuk bekerja. Dalam gambar selanjutnya. Elisa menggunakan jubah mandi yang biasanya digunakan untuk menutupi tubuh sebelum maupun sesudah mandi. Posisi kamera sudah berubah dengan latar ruangan yang terdapat sebuah tempat tidur kosong berwarna Jika dimaknai, tempat tidur yang kosong tersebut terlalu besar untuk ukuran dirinya, sehingga ia lebih memilih tidur di sofa. Hal itu mengartikan jika Elisa tidur di tempat tidur yang besar, ia akan lebih merasa seperti orang kesepian. Di samping itu semua. Elisa merupakan sosok penyandang disabilitas yang Meskipun ia tinggal sendirian, namun dilihat dari rak sepatu dan segala perabotannya di apartemen. Elisa mampu menciptakan ruangan yang tertata rapi dan bersih. Sepatu pantofelnya dari berbagai warna disusunnya dalam setiap rak. Pengambilan menggunakan teknik medium shot, yang menyoroti Elisa dari bagian kepala hingga pinggangnya. Dengan teknik ini, penonton diajak untuk melihat lebih detail aktivitas yang dilakukan oleh Elisa, terutama dalam scene setelah ia bangun tidur. Sisi kemandiriannya juga ditunjukkan kembali dalam gambar berikutnya, di mana Elisa sedang merebus telur dalam sebuah Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 panci berkaca. Elisa yang hidup sendirian dalam apartemen membuktikan bahwa ia sanggup mengurus dirinya sendiri. Ia tidak mengandalkan bantuan orang lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kumpulan gambar dalam satu scene ini ditampilkan pada film The Shape of Water untuk memperlihatkan aktivitas penyandang disabilitas sebagai seorang yang mampu mengurus dan menafkahi dirinya sendiri. Elisa dalam kumpulan gambar ini ingin digambarkan sebagai sosok yang tidak jauh berbeda dengan manusia normal lainnya, yaitu melakukan aktivitas. Hal ini jauh berbeda dengan pandangan disabilitas di masyarakat yang selalu bergantung dengan orang lain karena mereka memiliki keterbatasan. Kemandirian Elisa menjadi komoditas yang disajikan dalam film untuk menarik perhatian penonton. Gambar 2 Yolanda Memarahi Elisa Karena Tak Ikut Mengantre Pemaknaan Denotasi dan Konotasi Gambar 2 Denotasi Pada gambar pertama, terlihat seorang wanita berambut pendek menoleh ke belakang setelah seorang wanita gemuk berkulit hitam bersaut AuElisa! Come onA IAom here alreadyAAy Wanita berambut pendek itu mendekap topi baret dan sebuah kantong kertas. Di belakangnya tampak sebuah lorong dengan antrean yang cukup panjang, terdiri dari beberapa orang berkulit hitam dan berkulit putih dengan raut muka yang kesal. Adapun seorang wanita gemuk berkulit hitam berada pada awal antrean di depan mesin absen sebuah Ia adalah wanita yang memanggil wanita berambut pendek tadi. Dalam adegan itu, wanita berambut pendek menghampirinya. Dalam gambar kedua, wanita berambut pendek mengambil kartu absen yang diberikan oleh wanita gemuk berkulit hitam tersebut dan berkata. AuYou gotta learn to be on time. Ay Ketika wanita berambut pendek itu hendak memasukkan kartu absen ke dalam mesin absen, seorang wanita berambut pendek dengan ujung rambut ikal di belakang antrean berteriak kepadanya. AuHey! What are you doing? DonAot cut in dummy!Ay Ia berteriak sambil mengangkat dan mengarahkan tangan kirinya dengan telapak terbuka ke depan. Ketika wanita itu berteriak, seorang wanita berkulit putih dan seorang pria berkulit hitam di depan antrean tersebut menengok kepadanya. Saat itu juga, wanita berambut pendek pada barisan depan antrean tiba-tiba mengangkat alisnya dengan cepat dan langsung menaruh kartu absennya pada rak absen yang terpajang di dinding. Sementara itu, wanita gemuk berkulit hitam di baris depan membalas ucapan wanita yang berteriak itu. AuLeave her alone, woman. I was keeping her Ay Pada gambar selanjutnya, wanita yang berteriak tadi menunjuk jari telunjuknya kedepan. Mukanya menghadap ke kiri yaitu ke arah wanita berambut pendek yang sudah pergi tadi. Ia kemudian melihat ke wanita gemuk berkulit hitam dengan posisi jari menunjuk sambil berkata. AuI got reported. I came after you and the mute. Ay Wanita gemuk berkulit hitam yang sedang absen itu kemudian menjawab. AuYou do that. Yolanda. You do that. Ay Keseluruhan gambar diambil dengan teknik medium shot. Konotasi Seorang wanita gemuk berkulit hitam itu bernama Zelda. Ia merupakan sahabat Elisa yang ia kenal dari tempat kerjanya sebagai petugas kebersihan di laboratorium. Dalam gambar ini. Elisa menengok ke belakang di mana Zelda sedang memanggilnya. Zelda sedang berdiri di antrean pertama pada mesin absen dan menyuruh Elisa untuk cepat datang ke antrean pertama itu. Padahal dalam adegan itu. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 terlihat antrean yang cukup panjang, namun Zelda yang berada di depan antrean menunggu kehadiran Elisa supaya ia dapat absen tepat waktu. Zelda adalah seorang sahabat yang baik hati karena ia membantu Elisa agar tidak mendapat masalah dari pemimpin jika terlambat. Elisa merupakan bagian dari kaum yang termarginalkan di masyarakat karena seorang penyandang disabilitas, sama seperti Zelda. Dalam gambar ini, sebagian orang yang mengantre adalah orang yang berkulit hitam. Kaum kulit hitam di Amerika sendiri juga dikategorikan sebagai kaum yang terpinggirkan. Sehingga dapat diketahui bahwa orang yang bekerja menjadi bawahan di laboratorium ini adalah kaum minoritas. Mereka memilih bekerja pada malam hari yaitu jauh dari kegiatan masyarakat pada umumnya di pagi/siang hari. Dalam gambar berikutnya Elisa menghampiri Zelda yang memanggilnya untuk mengambil kartu absen yang sudah disiapkan oleh Zelda. Namun Elisa mendapat teguran dari Zelda di mana ia harus lebih tepat waktu. Hal ini bermaksud agar Elisa dapat merubah sikapnya. Karena kejadian Zelda menunggu Elisa membuat antrean menjadi tersendat, maka seorang wanita bernama Yolanda memarahinya. AuHeiA Apa yang kamu lakukan? Jangan menyerobot, bodoh!Ay Sehingga dalam konteks ini pernyataan Yolanda bertujuan untuk mengejek atau mencemooh Elisa. Zelda pun membela Elisa dengan membalas perkataan Yolanda. AuTinggalkan ia (Elis. Saya mengantre Ay Zelda tidak membiarkan Yolanda menganggu dan mengejek Elisa karena akan melukai Elisa meninggalkan mesin absen namun Yolanda masih saja mengoceh dengan menunjuk jari ke Elisa. Jari yang menunjuk merupakan bahasa tubuh yang menciptakan perasaan negatif pada orang lain karena menunjukkan agresivitas (Musman, 2016: Yolanda tetap memberi penekanan kepada Elisa dengan maksud menyerang. Tidak hanya kepada Elisa. Yolanda juga menunjuk jarinya kepada Zelda sebagai makna peringatan. Ia sekali lagi menggertak dengan kata-kata. AuApabila aku dilaporkan, aku akan datang setelah kamu dan si bisuAy Penyebutan Aothe muteAo atau Aosi bisuAo oleh Yolanda bermakna ejekan. Pada dasarnya ia dapat menggunakan sebutan AoElisaAo AodiaAo atau Aowanita ituAo namun lebih menggunakan kata Aosi bisuAo untuk menyudutkan Elisa . Penyandang disabilitas sering kali menjadi bahan ejekan di masyarakat karena dianggap berbeda. Bahkan Elisa dianggap memiliki derajat lebih rendah dari kelompok minoritas lainnya, seperti kaum kulit hitam dan budak-budak. Hal ini dapat terlihat bagaimana tatapan sinis orang-orang yang sedang mengantre terhadap Elisa Teknik medium shot di keseluruhan gambar ingin memperlihatkan hubungan personal, salah satunya menunjukkan dialog antar Zelda dan Yolanda. Sehingga melalui teknik ini, dapat terlihat ekspresi dari emosi Yolanda dan orang-orang dalam antrean yang mengucilkan Elisa. Adegan Yolanda mengejek Elisa menjadi realitas sosial yang disuguhkan dalam bentuk film. Dalan film ini disabilitas digambarkan sebagai sesuatu yang menyedihkan dan kaum yang perlu dikasihani. Selain itu, dalam adegan ini dapat disimpulkan bahwa Elisa sebagai penyandang disabilitas diperlakukan lebih rendah dari pada kaum minoritas lainnya, seperti kaum kulit hitam dan para budak. Berdasarkan pemaknaan di atas, dalam Gambar 1 ditemukan mitos yang ditampilkan dalam film yaitu penyandang disabilitas dapat hidup mandiri, mengurus dan menafkahi dirinya sendiri. Sosok Elisa yang tinggal sendiri di Apartemen membuatnya tidak bergantung pada siapupun. Hal ini dibuktikan dalam scene Elisa setelah bangun tidur, di mana ia menyiapkan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain, seperti teman atau keluarga. Mitos film ini mengalami pergeseran dari mitos daerah yang menyebut bahwa penyandang disabilitas tidak mandiri, kekanak-kanakan, dan membutuhkan Sedangkan dalam Gambar 2, terjadi pemantapan mitos mengenai disabilitas di mana seringkali kaum difabel dikucilkan dan diejek oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan saat Yolanda mengejek Elisa dengan sebutan AudummyAy atau AubodohAy karena ia kesal Elisa menjadi penyebab antrean panjang pada mesin Selain itu. Yolanda juga memanggil Elisa dengan sebutan AuSi bisuAy yang secara tidak langsung ia membuat label yang negatif, yaitu memanfaatkan kekurangan fisik Elisa. Disabilitas dalam film The Shape of Water adalah contoh bentuk apa yang dikatakan Vincent Mosco mengenai komodifikasi isi media. Disabilitas yang masyarakat ketahui adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan atau kecacatan baik dalam hal fisik, mental, maupun fisik-mental. Begitu juga dengan bermacam-macam kepercayaan masyarakat budaya . mengenai pandangan mereka tentang Namun ketika disabilitas telah AomemasukiAo industri media, nilai sebenarnya dari disabilitas itu sendiri diseleksi dan dikonstruksi sesuai dengan kebutuhan pasar media. Hal ini yang disebut sebagai Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 Disabilitas telah menjadi komoditas yang bernilai karena mampu mendatangkan keuntungan di pasar setelah dikemas menjadi sebuah film The Shape of Water untuk penyiaran komersial. Terbukti dengan masuknya film The Shape of Water pada urutan ke-46 dari 740 film dalam total pendapatan domestik film terbesar tahun 2017, yaitu sebesar 63 juta USD atau jika di rupiahkan pada tahun itu sekitar 850 miliar Rupiah. Selain itu, film ini juga sukses mendapatkan beberapa penghargaan nominasi dari ajang-ajang film besar, seperti Oscar Awards 2018. Golden Globes 2018. BAFTA Awards 2018, dll. Temuan lainnya dalam film ini, sosok Elisa sebagai penyandang disabilitas telah mengalami dehumanisasi dan alienasi. Elisa dipandang memiliki derajat yang lebih rendah dari kaum kulit hitam maupun budak-budak. Penyandang disabilitas seringkali dipinggirkan dan didiskriminasi oleh kaum superior sehingga menyebabkan penyandang disabilitas menjadi terasingkan. Makhluk asing dalam film ini menjadi cerminan sosok Elisa yang teralienasi dari lingkungan masyarakat karena dirinya merupakan manusia yang lemah dan berbeda dari manusia normal lainnya. Kembali kepada cara pandang peneliti, film The Shape of Water telah memberikan ruang di media massa terhadap disabilitas sebagai kaum yang minoritas. Film ini mampu memberikan stigma dan representasi negatif mengenai disabilitas yang diperankan dalam sosok Elisa. Karena dalam film ini, disabilitas digambarkan sebagai seorang yang lemah, terasingkan, sering dikucilkan dan perlu dikasihani. Media massa khususnya film seharusnya memberikan pesan yang mencerahkan dan bersifat informatif kepada khalayak sehingga media massa berperan sebagai sarana pemberdayaan Namun rupanya dalam penelitian ini, peneliti menilai Fox Searchlight Pictures sebagai pemilik media menggunakan disabilitas sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan melakukan Melalui sosok Elisa, kaum kapitalis telah menyeleksi dan mengkonstruksi ulang makna disabilitas agar mampu merubah persepsi masyarakat mengenai kaum disabilitas. Mereka menambahkan Aobumbu-bumbuAo agar disabilitas terlihat menarik di film sehingga mampu meraup keuntungan banyak. IV. SIMPULAN Peneliti menemukan bahwa disabilitas dalam film ini telah mengalami apa yang dikatakan Vincent Mosco sebagai komodifikasi isi media massa. Nilai guna disabilitas sudah berubah menjadi nilai tukar yang ditawarkan oleh pasar media. Seperti yang kita ketahui secara harfiah, disabilitas merupakan suatu keterbatasan atau kecacatan yang dimiliki seseorang baik dalam hal fisik, mental, dan/atau fisik-mental. Namun ketika disabilitas ditampilkan dalam media massa, pemaknaan disabilitas sudah mengalami pergeseran sesuai dengan apa yang dikonseptualisasi oleh media massa, terutama dalam penelitian ini adalah film The Shape of Water. Dalam hal ini, penonton menjadi target di mana media dapat mengkonstruksi konsep disabilitas. Pembuat film The Shape of Water melalui filmnya ingin mempengaruhi penonton untuk berperilaku sesuai apa yang media tawarkan, dibandingkan apa yang seharusnya dilakukan sebagai publik. Ditampilkannya disabilitas dalam film ini membuat stereotip bagi kita atau audiens untuk memperlakukan penyandang disabilitas sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Pemahaman ini membuat kita memarginalkan kaum disabilitas sebagai kaum yang Namun pada realitas sosial, penyandang disabilitas tidak ingin dipandang sebagai makhluk yang menyedihkan. Mereka ingin dipandang sebagai bagian dari masyarakat, yang berarti mereka membutuhkan kesempatan dan respek. Fox Searchlight Pictures sebagai pembuat film ini juga menampilkan secara implisit bahwa Elisa sebagai wanita bisu seringkali mengalami dehumanisasi dan alienasi dari lingkungan sekitarnya. Dalam hasil analisis denotasi dan konotasi, tokoh Kolonel Richard dan Yolanda dalam beberapa scene yang berbeda telah merendahkan derajat Elisa. Hal ini ingin menunjukkan bahwa disabilitas merupakan kelas terendah dalam masyarakat Amerika, dibandingkan dengan kaum kulit hitam dan para Bahkan hubungan Elisa dan makhluk asing dapat dimaknai bahwa disabilitas tidak layak menjadi bagian dari manusia, mereka adalah makhluk yang terasingkan dari masyarakat. Pembuat film menggambarkan disabilitas sebagai makhluk yang lemah dan menyedihkan. Rumah produksi dan beberapa pemilik modal lainnya melakukan hegemoni melalui disabilitas dalam tokoh Elisa supaya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Terbukti keuntungan yang didapat film ini dilihat dari pemasukan atau pendapatan ia dapatkan setelah penayangan dan juga banyaknya penghargaan yang diperoleh dari berbagai ajang penghargaan film. Pada akhirnya pergeseran mitologi disabilitas dalam film The Shape of Water merupakan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 7. No. Februari 2020 bagian dari ideologi media untuk mendapatkan keuntungan di pasar media. Sehingga, media massa menjadi AodalangAo dan menggunakan kisah disabilitas Elisa sebagai AobonekaAonya untuk memutarbalikkan pemahaman penonton mengenai disabilitas yang ada di masyarakat. Disabilitas dalam film The Shape of Water menjadi komoditas yang bernilai di pasar media dan mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik media. Morissan. Teori Komunikasi. Bogor : Ghalia Indonesia. Musman. Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh Semudah Membaca Koran. Yogyakarta: Psikologi Corner. Noor. Metodologi Penelitian: Skripsi. Tesis. Disertasi, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana. Nudin. Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Yogyakarta: Deepublish. Pratiwi. et al. Disabilitas dan Pendidikan Inklusif di DAFTAR RUJUKAN Perguruan Tinggi. Malang: UB Press. Berger. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda Sobur. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Yogyakarta : Analisis Wacana. Analisis Semiotik, dan Analisis Fiske. Pengantar Ilmu Komunikasi. Depok: Sugeng. Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Dalam Kebudayaan Kontemporer. Penerbit Tiara Wacana. Rajawali Pers. Heller. T et al. Disability in American Life: An Encyclopedia of Concepts. Policies. And Controversies. California: ABC-CLIO. Hoed. Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Edisi ketiga. Jakarta: Komunitas Bambu. Ibrahim. dan Bachruddin A. Komunikasi & Komodifikasi. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Kriyantono. Teknis Praktis: Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana. Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Malang: Kelompok Intrans Publishing. Sugiarto. Color Vision: Panduan Bagi Fotografer Dalam Memahami dan Menggunakan Warna. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Vera. Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia. Wibowo. Semiotika Komunikasi: Aplikasi Praktis Bagi Penelitian Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.