BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 Kaum Beriman Kristiani Dan Peran Sosial Politik: Dipanggil Menjadi Utusan Bonum Commune Di Tahun Politik Ferdianus Gato Ma1* 1*Program Studi Ilmu Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Email: 1*ferdianusgatoma@gmail.com (* : coressponding author) Abstrak - Kaum beriman kristiani adalah sekaligus sebagai warga Gereja dan warga Negara. Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, peran sosial politik kaum beriman kristiani dilihat sebagai partisipasi dalam perjuangan mewujudkan cita-cita nasional yaitu bonum commune bagi semua warga atau dalam terminologi sila Pancasila, sila kelima; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi pesta demokrasi di tahun politik 2024, peran sosial politik ini kian mendapat penegasan lantaran fenomena politik yang memperlihatkan adanya degradasi nilai etis dalam perpolitikan. Dengan metode penelitian kepustakaan yang berbasis pada diskursus filsafat politik dan refleksi teologi kitab suci, fenomena perpolitikan nasional ini dianalisis dengan mengedepankan gagasan ideal yang menginspirasi kaum beriman kristiani untuk berperan aktif dalam upaya mewujudkan bonum commune. Hasil analisis ini memperlihatkan bahwa peran sosial politik kaum beriman kristiani sangat penting diwujudkan sebagai sebuah panggilan dan perutusan kerasulan sebagaimana diinspirasikan oleh Paulus dalam Surat Roma 1:2-7. Kata Kunci: Kaum Beriman Kristiani, Peran Sosial Politik, Bonum Commune, Tahun Politik Abstract - Christian believers are at the same time members of the Church and citizens of the State. In the context of national and state life, the socio-political role of Christian believers is seen as participation in the struggle to realize national ideals, namely the bonum commune for all citizens or in the terminology of the Pancasila principle, the fifth principle, social justice for all Indonesian people. In facing the democratic party in the political year 2024, this social and political role is increasingly being emphasized because political phenomena show a degradation of ethical values in politics. Using literature research methods based on political philosophical discourse and theological reflections on the holy books, this national political phenomenon is analyzed by putting forward ideal ideas that inspire Christian believers to play an active role in efforts to realize the bonum commune. The results of this analysis show that the social and political role of Christian believers is very important to realize as an apostolic calling and mission as inspired by Paul in the Letter to Romans 1:2-7. Keywords: Christian Believers, Socio-Political Role, Bonum Commune, Political Year 1. PENDAHULUAN Relasi antara manusia dengan Pribadi Allah yang diimaninya merupakan spirit utama dalam menentukan moralitas seseorang. Oleh karenanya studi tentang tanggung jawab manusia terhadap agama atau aliran kepercayaannya selalu mendahului uraian atau penjelasan tentang tanggung jawab seseorang terhadap dunia ciptaan. Esensi manusia dalam membangun relasi dengan dunia ciptaan lain akan mengklasifikasi karakter tiap-tiap pribadi sebagai yang beriman dan yang tidak beriman. Relasi intens yang dibangun dengan Allah biasanya akan tampak dalam tindakan atau sikap hormat dan cinta terhadap sesama ciptaan serta segala situasi yang ada di sekitarnya. Sejauh mana seseorang dekat dengan Tuhan akan terlihat dalam semangat serta karya pelayanan yang dikerjakannya setiap hari. Relasi antara manusia dengan Allah adalah relasi vertikal yang sangat mendasar serta menjadi moda penentu relasi horizontal antara manusia dan ciptaan lain. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium Et Spes (GS) Art 2, No.5, dijelaskan bagaimana korelasi antara penghayatan atas iman yang bermuara pada praktik dalam karya pelayanan sebagai seorang beriman. “Dalam ziarah mereka menuju Kota Surgawi umat beriman Kristiani harus mencari dan memikirkan perkara yang di atas. Dengan demikian tidak berkuranglah, melainkan justru semakin pentinglah tugas mereka untuk bersama dengan semua orang berusaha membangun dunia secara lebih manusiawi.” (Konsili Vatikan II, 1965, p. Art. 2). Melalui relasi dan kebersamaan yang terbentuk secara kolektif di bumi, manusia melaksanakan rencana Allah yang dimaklumkan pada awal mula penciptaan, yakni menaklukan dunia serta menyempurnakan alam ciptaan, dan Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 14 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 mengembangkan dirinya sendiri. Mematuhi perintah Kristus yang mulia untuk menciptakan kebaikan bersama (bonum commune). Usaha untuk menggapai cita-cita luhur (appetitus) ini tidak hanya berkaitan dengan entitas sebagai seorang beriman Kristiani tetapi juga dikonkretkan dalam tanggung jawab sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Memasuki tahun politik 2024 yang ditandai dengan pesta demokrasi, maka sudah tentu sebagai warga masyarakat (civil society) sekaligus umat beriman, kaum kristiani dipanggil untuk ikut berpartisipasi dengan segala mekanisme dan dinamika perpolitikan yang ada di negara Indonesia. Perpolitikan yang tampak hanya menjadi ladang kepentingan untuk sekelompok orang, menjadikan kiblat politik di Indonesia hanya sebagai sebuah tema yang tidak pernah tuntas untuk diperdebatkan. Sentralisasi pada kepentingan pribadi atau sekelompok orang (partai) menjadi salah satu akar masalah yang belum tuntas untuk diatasi. Realitas ini kiranya menjadi panggilan mendasar bagi semua orang beriman untuk menggarami dan menerangi konstelasi perpolitikan di Indonesia. Sebagai warga negara, kaum kristiani, juga diajak untuk mengawal pelaksanaan pesta demokrasi, bukan hanya memberi suara saat hari pencoblosan, tetapi lebih dari itu berusaha untuk menciptakan atmosfer perpolitikan yang menyejukkan. Dengan kata lain, mengembalikan marwah perpolitikan sebagai mimbar suci untuk menebarkan kebaikan. Mencermati situasi politik yang mutakhir, fenomena buruk perpolitikan di tanah air dapat dijadikan sebagai landasan kritik terhadap model kehadiran kaum beriman dalam menyikapi situasi perpolitik yang mengalami disorientasi. Situasi ini menempatkan individualisme dan egosentrisme sebagai akar masalah buramnya etika politik di negeri ini. Selanjutnya melalui pendekatan reflektif eksegetis teks Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 1:2-7, umat beriman kristiani diajak menjadi rasul Kristus yang dipanggil dan diutus untuk ikut membagikan sukacita injil melalui karisma yang Tuhan berikan kepada orang-orang percaya ke dalam ruang publik politis sebagai wujud partisipasi memperjuangkan bonum commune bagi banyak orang. Dalam beberapa artikel sebelumnya tentang tema ini, beberapa penulis menyorotinya dari perspektif yang kurang lebih sama, yakni peran sosial politik kaum beriman kristiani dalam tata dunia. Titik tolak para penulis terdahulu dalam membahas tema ini umumnya berangkat dari ajaran sosial Gereja. Wicaksana mengulas keterlibatan awam katolik dalam bidang politik (Wicaksana, 2014). Selain itu Ayub Rusmanto dan Bambang Dewandaru mengangkat tema pentingnya pemberdayaan kaum awam dalam pengembangan pelayanan Gereja untuk mewartakan kabar keselamatan (Rusmanto & Dewandaru, 2022). Sedangkan penulis pada artikel ini membasiskan analisis pada teks kitab suci, Roma:1:2-7. Hal ini mau menegaskan bahwa inspirasi kitab suci tak kalah pentingnya dalam memberikan sumbangsih refleksi kritis mengenai peran sosial politik kaum beriman Kristiani dalam upaya bersama menghadirkan bonum commune. Unsur kebaruan inilah yang diusung penulis. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan analisis sosial atas fenomena perilaku politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Dalam konteks pesta demokrasi di tahun politik ini, aneka fenomena yang menunjukkan disorientasi politik menjadi titik berangkat untuk analisis situasi dengan pendasaran gagasan filsafat politik dan refleksi teologis berbasis kitab suci. Analisis teks kitab suci mendapatkan relevansi nilai-nilai moral dalam perpolitikan untuk dihayati dalam konteks umat beriman sebagai warga negara yang partisipatif dalam kehidupan bersama untuk bonum commune. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Situasi Politik di Indonesia Filsuf Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai zoon politicon atau mahkluk sosial (Bertens, 1990, p. 166). Kalimat ini mengindikasikan bahwa dalam seluruh keberadaan manusia sebagai individu dalam suatu kehidupan sosial selalu berdimensi politis. Bagi sang filsuf, politik dilihat sebagai seni dari tiap persona dalam mengaktualkan dirinya dalam hidup bersama sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Lantas untuk merumuskan satu dogma suci dari aktifitas Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 15 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 berpolitik ini, maka disepakati bersama tujuan dari nilai politik sebagai satu usaha untuk menciptakan bonum commune. Lantas etika hadir sebagai jembatan penghubung antara eksistensi manusia dan penggilan untuk mewujudkan kebaikan bersama sebagai tujuan luhur dari politik. Etika politik menjadi barometer untuk mengukur sejauh mana kualitas perpolitikan di Indonesia. Keberagaman yang mencakup banyak hal mulai dari letak geografis wilayah dan kepulauan, praktik kebudayaan, pluralitas agama serta keyakinan dan filosofi hidup yang beragam, menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya. Namun pada satu sisi terdapat oknum tertentu yang menyalagunakan identitas ini sebagai pemantik konflik kepentingan (Riyanto, 2014, p. 16). Sikap individualisme dan egosentrisme yang mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu hadir mencederai kebaikan bersama yang menjadi cita-cita luhur bangsa. Tidak terhitung masalah sosial yang menjadi tagline dalam berita-berita di media massa terkini, dilatarbelakangi oleh kedua mentalitas sentralisasi kepentingan tadi. Situasi ini seakan mengafirmasi kritik Hobbes (Seorang filsuf politik berkebangsaan Inggris), tentang perilaku manusia yang cenderung menjadi serigala bagi manusia lain (homo homini lupus) (Hardiman, 2007, p. 71). Tidak mengherankan wajah politik mutakhir dihiasi dengan orang-orang yang ingin mendominasi dan rakus akan kekuasaan serta jabatan, konflik kepentingan, diskriminasi pelayanan publik, intimidasi dengan alat kekuasaan untuk memuluskan kepentingan politik sektarian dan masih banyak situasi tidak menyenangkan lainnya Tentu uraian tentang perpolitikan adalah sebuah uraian yang panjang dan kompleks. Mulai dari sistem pemerintahan, kebijakan politik, partai politik hingga isu-isu politik yang tertumpah ruah mulai dari pusat hingga daerah. Namun yang menjadi sentral pembahasan dalam tulisan ini adalah terkait merosotnya Etika Politik dalam tatanan perpolitikan di Indonesia. Pada prinsipnya etika politik tidak dapat mengkhotbahi para pemangku pemerintahan, tetapi dapat memberikan patokan orientasi serta pegangan normatif bagi mereka yang mau membuat penilaian terhadap kehidupan politik dan kualitas tatanannya dengan tolak ukur martabat manusia serta kewajiban yang harus dibuat sebagai masyarakat (Magnis-Suseno, 1994, p. 3). Etika politik melibatkan prinsip-prinsip moral dan norma-norma yang mengatur perilaku para pemimpin politik dan juga masyarakat. Melalui pendekatan ini, maka kita dapat melihat dua wajah politik di negeri kita; yakni wajah tampan politik sebagai pengatur sistem masyarakat untuk mencapai bonum commune dan wajah buruk politik yang hanya membawa kesejahteraan bagi beberapa orang yang secara politik dan sosial mempunyai kekuasaan yang dilegitimasi oleh masyarakat. Model yang kedua inilah yang menjadi sumber penyebab disorientasi politik. Tampak setiap orang gemar memproduksi HOAX, isu SARA, melakukan diskriminasi sosial, hate speech, hingga aksi dan tindakan kejahatan lainnya. Menjelang perhelatan pesta demokrasi tahun politik situasi seperti ini semakin memanas; tiap pribadi atau kelompok dengan payung kepentingannya sendiri saling menjatuhkan, para politisi mulai menebar janji-janji yang aneh, black campaign, money politic mulai tercium dan masih banyak manuver buruk lainnya sebagai usaha untuk membenarkan segala cara demi mendapat simpatik. Fenomena ini kentara memperlihatkan adanya tendensi perjuangan seolah-olah demi kebaikan bersama yang nyatanya didahului dengan situasi keburukan bersama seperti ini. Politik tanpa etika menjadikan politik sebagai suatu pertunjukan yang memalukan. Padahal semua aktor politik itu adalah orang yang berpendidikan dan beragama. Tampak fenomena miris: keterdidikan dan keberagamaan telah dikebiri oleh sifat egois dan keserakahan duniawi. Pada titik ini, patut dipertanyakan dan direfleksikan peran sosial politik kaum Kristiani sebagai warga negara. Kaum kristiani dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah-tengah situasi anomis (Mangunhardjana, 1997, pp. 22–23) seperti ini. “Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman padahal tidak berbuat apa-apa? Kamu lihat bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak. 2:14)” (Indonesia, 2017). Sebagai orang-orang benar di hadapan Tuhan, kaum beriman kristiani dipanggil menjadi utusan Kristus yang menghadirkan keutamaan-keutamaan Kristiani melalui kesaksian hidup serta usaha untuk menggarami dan menerangi tata dunia dalam bidang politik demi tercapainya bonum commune. Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 16 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 3.2 Eksegese Teks Roma 1:2-7 Teks dimulai dengan kalimat “Injil yang telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perentaraan nabi-nabi-Nya dalam Kitab Suci (ayat 2)”. Injil secara etimologis berasal dari kata Euangelion yang berarti berita baik atau kabar gembira (Poppi, 2006, p. 7). Konsep Injil bukanlah hal yang baru. Galatia 3:8 tertulis bahwa Tuhan memberitakan Injil kepada Abraham. Musa juga memberikan syarat-syarat Injil dalam Ulangan 30:11-14. Tentu Injil yang dimaksudkan dari kutipan di atas adalah Yesus Sendiri. Yesus atau Yeshua yang artinya Allah (YHWE) yang menyelamatkan. Yesus adalah kabar gembira yakni sosok penyelamat yang sudah dijanjikan oleh Allah sejak zaman Perjanjian Lama. Berikut beberapa kesaksian para nabi tentang Injil (Kabar Gembira) yang dijanjikan oleh Allah melalui mereka: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:6) "Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan." (Daniel 9: 26) "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." (Mikha 5: 2) “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zakharia 9: 9) Tentu dalam konteks Perjanjian Lama, bangsa Israel mengidentikkan pribadi penyelamat yang dijanjikan oleh Allah tersebut dengan seorang tokoh politik (Poppi, 2006, p. 8). Sosok pemimpin atau seorang raja yang dipilih dan diurapi oleh Allah untuk membebaskan mereka dari penindasan/penjajahan. Pemahaman ini kemudian berubah seiring perjalanan waktu. Melalui ayat selanjutnya “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakan dari keturunan Daud (ayat 3)”, seakan menjadi jembatan untuk merekonstruksi pemahaman bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama. Bahwa Allah bukan hanya menepati janji-Nya, tetapi Ia melampaui itu dengan mengutus Putra-Nya sendiri untuk membebaskan umat pilihan dari model penjajahan yang lebih kejam yakni belenggu dosa. Keberpihakan Allah untuk mengikutsertakan manusia dalam karya keselamatan-Nya dipertegas dalam ayat ini. “Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mazmur 89:4-5) Atribut fisik Yesus menjadikan-Nya anak Daud, tetapi dalam roh-Nya adalah Tuhan (Wommack, 2022, p. 9). Tampak proyek keselamatan Allah dimulai dari janji-Nya lewat perentaraan para nabi, dilanjutkan dengan tindakan melibatkan manusia (Keturunan Daud) untuk merealisasikan janji tersebut dan sampai hari ini kerja sama antara Allah dan manusia itu masih terus berlanjut. "Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:31-33) Kelahiran Yesus adalah bukti dari kesetiaan Allah atas janji-Nya. Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, yang berpuncak pada kematian-Nya di kayu salib. Bukan lagi para nabi yang mengisahkannya tetapi Yesus sendirilah yang memberi kesaksian tentang diri-Nya sebagai Sang Penyelamat; Kabar Gembira dari Allah. Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 17 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 “Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah 3 ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." (Lukas 2:19) Pernyataan ini sekaligus mengafirmasi kekuasaan yang ada dalam diri Putra sebagai Anak Allah. Yesus bangkit dari antara orang mati merupakan kesaksian terbesar dari semua perihal keabsahan klaim Yesus dan juga menjadi simbol pendamaian antara Allah dengan manusia yang berdosa. Allah mengutus Putra-Nya sendiri sebagai pendamai; sebagai raja yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Selanjutnya tongkat estafet karya keselamatan itu ada di tangan kaum beriman kristiani yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus sebagai anak-anak Allah melalui sakramen pembaptisan (Widharsana & Hartono, 2017, p. 480). Oleh karena itu, berkat rahmat pembebasan dan keselamatan oleh karena kebangkitan Yesus, setiap orang yang percaya dianugerahkan jabatan suci sebagai rasul dengan mengemban tugas untuk mewartakan keselamatan Allah. “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.” (ayat 5). Kasih karunia diterjemahkan dari Bahasa Yunani; charis yang berarti berkenan, bermanfaat, kebaikan, pemberian, rahmat, sukacita, kemurahan hati, kesenangan, terima kasih. Bentuk lain dari kata Yunani charis adalah charisma yang diterjemahkan sebagai pemberian cuma-cuma; pemberian yang melibatkan kasih karunia (charis) dari pihak Allah sebagai pemberinya. Dengan kata lain karisma adalah bentuk atau menifestasi khusus dari anugerah Tuhan (Wommack, 2022, pp. 10–11). Iman dan kepercayaan Paulus menjadi pintu masuk kasih karunia dari Allah dan sekaligus memeteraikannya sebagai seorang rasul dengan beragam karisma yang diterima. Kata rasul dalam bahasa Yunani adalah Apostolos yang berarti utusan, duta, atau wakil (Leon-Dufour, 1990, p. 466). Istilah ini secara harafiah merujuk pada seorang pembawa pesan atau penyampai pesan. Paulus sebagai hamba Kristus, rasul yang menyampaikan pesan dari Tuhan yang adalah tuannya; Tuhan yang ia imani. Pesan yang dibawa oleh Paulus adalah pesan keselamatan dari Allah yaitu Yesus Kristus Sendiri. Paulus memperkenalkan Yesus (dan ajaran-Nya) kepada semua orang (Yahudi yang utama dan yang Non Yahudi) supaya mereka percaya dan taat kepada Allah. Taat dalam Bahasa Yunani disebut Hupakoe yang berarti mendengarkan dengan penuh perhatian, yang mengiplikasikan sikap kepatuhan dan penundukan (Wommack, 2022, pp. 10–11). Taat dan percaya berkaitan erat satu sama lain. Menarik pada ayat 5, Paulus tidak mengatakan bahwa karisma yang ia terima adalah berkat ketaatannya pada Allah, ia tetap sadar akan identitasnya sebagai hamba yang punya fokus perhatian pada tindakan melayani. Paulus sadar bahwa berkat tersebut diterima karena kemurahan Allah. Selanjutnya rantai kasih tersebut diteruskan oleh Paulus kepada jemaat yang menerima pengajarannya, agar mereka pun terhitung dalam kelompok pilihan Allah. “Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.” (Ayat 6). Dipanggil dan menjadi milik Kristus, menjadi ungkapan seorang pribadi yang telah menerima sapaan (revelasi) dari Allah dan dengan iman ia dilayakkan menjadi milik Kristus yang berarti siap melanjutnya tugas Paulus. Kasih karunia Allah telah memberikan panggilan (atau undangan) kepada setiap orang untuk menjadi kudus dan menerima meterai sebagai pewarta Sabda Allah. Pada akhirnya sapaan terakhir pada perikop ini, salam dari Paulus; “Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus.” (ayat 7). Hal ini mengindikasikan satu kebenaran dasariah bahwa manusia adalah objek kasih Allah. Manusia yang dimaksudkan adalah mereka yang menerima Sabda Tuhan dan percaya kepada Kristus. Tidak ada kewajiban moral yang mengikat Tuhan untuk mengasihani manusia dengan menjadikan manusia kudus melalui wafat-Nya, tetapi semua semata-mata karena kasih-Nya yang tak terbatas (Paus Yohanes Paulus II, 1992, p. 159). 3.3 Dipanggil Menjadi Utusan Bonum Commune di Tahun Politik Negara sebagai suatu institusi yang diberikan kapasitas untuk mengatur tatanan perpolitikkan agar bisa berjalan dengan baik, tampak belum maksimal melaksanakan tugas konstitusional ini. Realitas menunjukkan kepentingan kelompok tertentu lebih mendominasi daripada kepentingan Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 18 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 bersama. Kebijakan yang dibuat tidak lebih dari sekadar jalan ninja untuk menyejahterakan para pemangku jabatan. Fenomena menunjukkan bahwa kesenjangan sosial di negara ini masih relatif tinggi. Masyarakat yang adalah pemilik demokrasi hanya menjadi penonton setia. Kolusi, korupsi dan nepotisme masih menjadi pamandangan yang lazim dijumpai. Menjelang perhelatan pesta demokrasi di tahun politik ini, publik disuguhi manuver para pejabat dengan partai dan kepentingan yang membalutinya melakukan pergerakan bawah tanah demi mendapatkan simpati rakyat. Lantas banyak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan baik terhadap konstitusi maupun normanorma yang berlaku di masyarakat. Berhadapan dengan situasi ini, Gereja sebagai satu persekutuan umat beriman perlu terlibat melalui karya nyata dengan memberikan perhatian dan partisipasi aktif dalam menciptakan mode perpolitikan yang baik. Tentu usaha ini harus berbasis pada pengetahuan teologis serta ajaran moral Kristiani sebagai bekal dan sekaligus spirit dalam melaksanakan tugas perutusan tersebut. Jurgen Moltmann menuliskan bahwa teologi politik merupakan bentuk teologi Kristen yang bersikap kritis terhadap kondisi dan permasalahan politik (Moltmann, 1974, p. 21). Sebagai anggota Gereja, umat beriman tidak hanya ada sebagai pengkritik terhadap kebijakan atau situasi politik saat ini, tetapi berusaha menyadari situasi yang terjadi serta berani bertindak secara proporsional dan tanggap terhadap situasi dan mendedikasikan diri menjadi saksi pejuang kebenaran. Oleh karena itu, berdasarkan refleksi eksegetik terhadap Teks Roma 1:2-7, maka sebagai usaha konkret Gereja dalam menghadapi degradasi nilai etis perpolitikan di negeri ini, maka umat beriman dengan penuh kesadaran dipanggil menjadi utusan Kristus yang menghadirkan bonum commune (sukacita injil) di tengah konstelasi perpolitikan di Indonesia. Kaum beriman kristiani hendaknya menghidupi keutamaan rasuli sebagaimana ditampilkan oleh Santo Paulus dalam pengajarannya dan praktik hidupnya. Melalui iman akan Allah setiap orang yang percaya dimeterai sebagai anak-anak Allah sehingga layak menerima karisma dari Allah secara cuma-cuma. Berkat kasih karunia inilah, kaum Kristiani menerima tugas kerasulan sebagaimana diterima oleh Paulus untuk menjadi pembawa kebaikan dalam ruang publik politis. Dengan kata lain, menjadi rasul ekaristis yang senantiasa menampilkan wajah Yesus dalam segala perkataan dan perbuatan dengan menghadirkan kebajikan-kebajikan esensial Tuhan sendiri. “Tuhan itu pengasih dan penyayang panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Kerajaan-Nya ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.” (Mzm 145:8.13) (Indonesia, 2017) Paus Benediktus XVI menyebut kasih (caritas) sebagai sebuah kekuatan luar biasa, yang mendorong orang untuk ikut terlibat dengan berani dan penuh semangat dalam memperjuangkan keadilan dan kedamaian (XVI, 2014, p. 5). Kaum beriman kristiani diutus untuk menjadi orangorang benar yang menentang segala bentuk kecurangan dan kebohongan yang menjadi borok di negeri ini. Berkat karisma yang diperoleh dan meterai rasuli yang diterima oleh semua orang beriman kristiani, maka hal-hal kecil namun berdampak besar bisa dibuat di tahun politik ini antara lain: menyuarakan kebenaran bukan menjadi penyebar HOAX, berani menentang setiap oknum yang melegalkan segala cara demi mencapai kepentingan pribadinya, tidak menebar ujaran kebencian, tidak mencela atau menghancurkan nama baik orang lain, jika bergabung menjadi politisi maka jadikan Yesus sendiri sebagai teladan dalam berorganisasi, menjaga nama baik Gereja serta tidak menjadikan agama sebagai serana untuk merendahkan hakikat atau martabat pribadi atau kelompok kepercayaan lain. 4. KESIMPULAN Memasuki tahun politik dengan segala dinamika yang ada, sudah tentu sebagai anggota masyarakat wajib hukumnya mengambil bagian dalam usaha untuk menyukseskan penyelenggaraan pesta demokrasi. Tentu banyak hal baik yang telah dibuat oleh pemerintah sebagai instrumen negara yang diberi kepercayaan oleh masyarakat yang adalah pemegang kedaulatan tertinggi, untuk mengatur segala hal terkait dengan urusan pemerintah. Akan tetapi temuan pelanggaran dan kesenjangan sosial yang mengindikasikan adanya disorientasi politik di negeri ini tidak boleh Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 19 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3, No. 01, Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 (media online) Hal 14-20 dipandang sebelah mata. Pemerintah bersama segenap masyarakat perlu bergandengan tangan dan berkolaborasi untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang mengantar seluruh bangsa Indonesia pada terwujudnya kebaikan bersama sebagai ringkasan beberapa poin cita-cita luhur negara yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Etika politik yang mencakup tiga unsur penting yakni tujuan, proses dan hasil, harus dikawal pelaksanaannya agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai usaha konkret untuk mewujudkan komitmen luhur di atas, maka sebagai umat beriman Kristiani yang juga adalah warga masyarakat, maka keterlibatan dalam menyukseskan pesta demokrasi harus dilihat sebagai panggilan (undangan) mulia yang perlu ditanggapi. Refleksi Eksegetis atas Teks Roma 1:2-7 yang menjelaskan karakteristik seorang rasul berkat relasi vertikal yang dibangun bersama Tuhan menjadi ‘rujukan’ untuk setiap orang beriman kristiani, agar tampil di ruang publik dengan peran sosial politik sebagai pembawa kabar gembira atau bonum commune. Menjadi rasul ekaristis adalah perutusan untuk menampilkan wajah Tuhan melalui karisma yang diterima cuma-cuma dari Allah. Kasih karunia yang diterima dari Tuhan menyanggupkan tiap orang beriman kristiani untuk menjadikan konstelasi perpolitikan di negeri ini sebagai medan bakti perjuangan mewujudkan bonum commune atau sukacita injil bagi semua warga masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Bertens, K. (1990). Sejarah Filsafat Yunani. Kanisius. Hardiman, F. B. (2007). Filsafat Modern. Gramedia. Indonesia, L. A. (2017). ALKITAB DEUTEROKANONIKA. Lembaga Alkitab Indonesia. Konsili Vatikan II. (1965). Gaudium et Spes (R. Hardawiryana (ed.)). Obor. Leon-Dufour, X. (1990). ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU. Kanisius. Magnis-Suseno, F. (1994). Etika Politik Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Gramedia Pustaka Utama. Mangunhardjana, A. (1997). Isme-isme Dari A sampai Z. Kanisius. Moltmann, J. (1974). Religion and Political Society. Harper & Row Publishers. Paus Yohanes Paulus II. (1992). Katekismus Gereja Katolik. Penerbit Nusa Indah. Poppi, A. (2006). I Quattro Vangeli, vol II, Commento Sinottico. Messagero di Sant’Agostino – Editrice. Riyanto, E. A. (2014). Berfilsafat Politik. Kanisius. Rusmanto, A., & Dewandaru, B. (2022). Pemberdayaan Kaum Awam dalam Pengembangan Pelayanan Gereja untuk Mewartakan Kabar Keselamatan. Didasko: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 2 (2), 139– 148. Wicaksana, P. H. (2014). KETERLIBATAN KAUM AWAM KATOLIK DALAM BIDANG POLITIK Studi Kasus di Desa Banjarsari pada Tahun 2012-2013. Jurnal Teologi, 3 (1), 37–49. https://doi.org/https://doi.org/10.24071/jt.v3i1.450 Widharsana, P. D., & Hartono, V. R. (2017). Pengajaran Iman Katolik. Kanisius. Wommack, A. (2022). Romans Mahakaria Paulus Mengenai Kasih Karunia. Light Publishing. XVI, P. B. (2014). Caritas In Veritate (Kasih dalam Kebenaran). Depertemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Ferdianus Gato Ma | https://journal.mediapublikasi.id/index.php/bullet | Page 20