ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 10 No. 04 Desember 2024 id/index. php/andharupa PERANCANGAN FOTOGRAFI UNTUK MENGKOMUNIKASIKAN FAST FASHION CAMPAIGN Haekal Ridho Afandi1 Program Studi Desain Komunikasi Visual. Fakultas Teknik dan Desain. Universitas Hayam Wuruk Perbanas. Jl. Wonorejo Utara No. Surabaya, 60296 Corresponding Author: Haekal Ridho Afandi1 Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi peran fotografi sebagai alat komunikasi visual dalam kampanye fast fashion dengan tema "KAFAN?", yang menghubungkan kain kafan sebagai simbol kehidupan dan kematian. Dalam konteks ini, kain kafan berfungsi untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang dampak lingkungan dari industri fast fashion dan pentingnya keberlanjutan. Pendekatan trikotomi yang digagas oleh Peirce digunakan sebagai landasan untuk menganalisis bagaimana pesan dalam fotografi dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan individu terhadap isu sosial dan lingkungan. Pendekatan ini untuk memahami bagaimana simbol dalam fotografi dapat membentuk kesadaran dan tindakan masyarakat terhadap isu lingkungan industri fast fashion. Karya fotografi "KAFAN?" tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual, tetapi juga sebagai sarana untuk mengedukasi dan menginspirasi masyarakat agar lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap pilihan fashion mereka. Penelitian ini menganalisis bagaimana pesan dalam fotografi dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan individu terhadap isu sosial dan Diharapkan karya fotografi ini tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga sarana edukasi yang menginspirasi masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap pilihan fashion mereka. Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, penelitian ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan kesadaran kolektif tentang keberlanjutan dalam fashion. Kata Kunci: Fast fashion. Fotografi. Kampanye. Komunikasi Visual Abstract This research explores the role of photography as a tool for visual communication in a campaign addressing fast fashion, centered on the theme "KAFAN?". The concept of the shroud . ain kafa. is employed as a symbolic representation of life and death, aiming to raise public awareness about the environmental impact of the fast fashion industry and the importance of sustainability. Using the trichotomy approach proposed by Peirce, this study provides a foundation for analyzing how messages embedded in photography can influence individual mindsets and behaviors concerning social and environmental issues. This approach enables a deeper understanding of how symbols in photography can shape public awareness and actions regarding urgent environmental challenges in the fast fashion industry. The "KAFAN?" photographic work serves not only as a visual documentation but also as a medium for educating and inspiring society to be more conscious and accountable for their fashion choices. This research examines how the messages conveyed through photography can influence individual perspectives and actions on pressing social and environmental issues. The project aspires for the "KAFAN?" photographic work to transcend mere visual documentation, transforming into an educational medium that inspires the public to adopt more sustainable and responsible fashion practices. By leveraging the power of social media, the study emphasizes the importance of collaboration among various stakeholders in fostering collective awareness about sustainability in fashion. Keywords: Campaign. Fast fashion. Photography. Visual Communication Available online at: do/andharupa 30 Desember 2024 Received: 24 Juli 2024 Revised: 17 November 2024 Accepted: 27 Desember 2024 Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 PENDAHULUAN Industri tekstil di Indonesia, yang memproduksi sekitar 33 juta ton tekstil per tahun, memiliki dampak lingkungan yang signifikan, terutama dalam hal limbah dan emisi gas rumah kaca. Dari total produksi tersebut, sekitar satu juta ton menjadi limbah, yang menunjukkan tantangan besar dalam pengelolaan limbah dan keberlanjutan industri ini. Menurut Annika Rachmat. Co-Founder dari Our Reworked World, fast fashion adalah penyebab utama polusi limbah fashion yang merusak lingkungan, dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim (Griswold. Patel, dan Gnanadass, 2. Alan Wheeler menambahkan bahwa industri tekstil merupakan penyumbang polusi terbesar kedua di dunia, dengan total 1,2 miliar ton gas emisi rumah kaca yang dihasilkan secara global (Aiello dkk. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa industri tekstil tidak hanya berdampak pada lingkungan lokal, tetapi juga memiliki implikasi global yang serius. Perubahan budaya konsumsi di masyarakat juga berkontribusi terhadap masalah ini. Baudrillard menjelaskan bahwa konsumsi telah beralih dari memenuhi kebutuhan hidup menjadi pemuasan gaya hidup, yang menciptakan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan (Tian, 2. Konsumsi yang berlebihan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menciptakan ketidakadilan sosial, di mana masyarakat yang kurang mampu sering kali menjadi korban dari praktik industri yang merusak lingkungan. Dalam konteks ini, penting untuk mengedukasi masyarakat tentang dampak dari fast fashion dan pentingnya memilih produk yang lebih berkelanjutan. Fotografi sebagai media komunikasi visual dapat berperan penting dalam mengedukasi masyarakat mengenai dampak lingkungan dari fast fashion. Foto tidak hanya berfungsi sebagai dokumen fisik, tetapi juga dapat disimpan secara digital dan dibagikan melalui media sosial, sehingga memiliki daya jangkau yang lebih luas (Preininger, 2. Dalam konteks ini, fotografi mampu menyampaikan pesan dan kegelisahan melalui karya seni yang bermakna. Teori komunikasi menyatakan bahwa fotografer secara sadar menyisipkan makna dan pesan dalam karya mereka untuk membangun kesadaran di kalangan penonton (Leone. Dengan memanfaatkan kekuatan visual, fotografi dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu-isu lingkungan yang dihadapi akibat industri tekstil. Pentingnya desain karya fotografi yang bernilai tinggi dan bermakna juga tidak bisa diabaikan. Untuk merancang karya tersebut, dibutuhkan pengetahuan tentang estetika, semiotika, warna, dan teknik fotografi (BLEN, 2. Karya fotografi yang baik tidak hanya harus menarik secara visual, tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan yang kuat dan relevan. Dalam era digital saat ini, teknologi penangkap gambar yang berkembang pesat memungkinkan fotografer untuk menciptakan karya yang lebih utuh dan bermakna. Dengan memanfaatkan teknologi ini, fotografer dapat mengeksplorasi berbagai cara untuk menyampaikan pesan mereka, baik melalui komposisi visual yang kuat maupun melalui penggunaan warna dan bentuk yang tepat. Komunikasi visual menggabungkan berbagai unsur grafis dan estetika untuk menciptakan media komunikasi yang efektif. Di era digital saat ini, banyak foto yang dihasilkan tanpa pesan yang terkandung di dalamnya, sehingga penting untuk merancang karya fotografi yang dapat memprovokasi pemikiran dan diskusi di kalangan masyarakat (Silencing dan Politics of Exclusion: Representation of Women in Pakistani Primetime Dramas, 2. Karya fotografi berjudul "KAFAN?" dapat menjadi contoh bagaimana seni dapat digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakat dan Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 sebagai wadah untuk memprovokasi kampanye. Dengan mengunggah karya fotografi ke media sosial, pesan tersebut akan memiliki daya tarik yang lebih baik, terutama di era globalisasi yang berbasis digital. Karya fotografi yang dirancang dengan baik memiliki potensi untuk memberikan pesan yang multi-tafsir dan dapat bertahan seiring perkembangan zaman (Sahid. Junaidi, dan Iswantara, 2. Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan bagaimana foto dapat digunakan untuk menciptakan narasi yang kuat mengenai isu-isu lingkungan. Dengan memanfaatkan platform media sosial, fotografer dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan diskusi yang lebih mendalam mengenai dampak industri tekstil terhadap lingkungan. Ini juga menciptakan peluang untuk kolaborasi antara seniman, aktivis, dan masyarakat dalam upaya untuk menciptakan perubahan Dalam konteks pendidikan lingkungan, penting untuk mengintegrasikan pendekatan yang melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran. Pendidikan lingkungan yang efektif tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan dan kesadaran kritis di kalangan individu dan komunitas (Chuang. Tseng, dan Tang, 2. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran, kita dapat menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang isu-isu lingkungan dan mendorong tindakan yang lebih berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, kita dapat melihat bagaimana seni, khususnya fotografi, dapat berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan sosial. Dengan memanfaatkan kekuatan visual, fotografer dapat menciptakan karya yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang mendalam tentang dampak industri tekstil dan pentingnya keberlanjutan. Ini menunjukkan bahwa seni dan pendidikan dapat berjalan beriringan dalam upaya untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih berkelanjutan. Dengan pemaparan konsep dan definisi tentang komunikasi visual berupa karya fotografi yang sudah diutarakan, maka perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?" dapat menjadi landasan perancangan karya fotografi sebagai sebuah media yang baik dalam mempersuasif masyarakat atau penonton karya seni secara langsung dan dapat sebagai wadah untuk memprofokasi sebuah campaign. Karena karya fotografi juga bisa memberikan pesan yang multi tafsir dibanyak golongan masyarakat serta karya akan abadi dan berkembang seiring perkembangan zaman yang pesat, artinya jika karya hanya dicetak atau menggunakan teks banyak kemungkinanan masyarakat atau penikmat tidak terpengaruh dan dapat rusak karena bahan yang tidak abadi, namun jika pesan itu berupa foto dan diunggah dimedia sosial maka akan memiliki daya tarik dan tahan yang lebih baik, terlebih lagi diera globalisasi dimana semua berbasis pada digital. METODE PENELITIAN Metode penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang tepat untuk perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?". Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan wawancara dengan narasumber untuk mengumpulkan data secara lisan maupun melalui platform online dan media sosial. Hasil wawancara tersebut akan diolah menjadi narasi yang akan digunakan dalam perancangan karya fotografi ini. Dr. Zuchri Abdussamad dalam bukunya menyatakan bahwa analisis dalam penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses penyimpulan deduktif dan induktif, serta pada analisis Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati oleh Mustaqim (Mustaqim. Setiyaningsih, dan Fahmi, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kualitatif sangat relevan dalam memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi karya fotografi yang akan dirancang. Selain wawancara, peneliti juga akan menggunakan studi literasi dari media cetak, seperti buku, untuk mendukung perancangan karya serta teori-teori yang digunakan. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konteks dan makna yang ingin disampaikan melalui karya fotografi. Dalam penelitian kualitatif, penggunaan literatur sebagai sumber informasi sangat penting untuk memperkaya analisis dan memberikan landasan teori yang kuat (Syahrizal, 2. Dengan demikian, peneliti dapat mengaitkan hasil wawancara dengan teori-teori yang relevan, sehingga menghasilkan karya yang lebih bermakna dan kontekstual. Dalam konteks semiotika, peneliti akan mengadopsi pendekatan yang digagas oleh Charles Sanders Peirce, yang menekankan pada trikotomi Trikotomi pertama mencakup qualisign, sinsign, dan legisign, yang masingmasing menggambarkan tingkatan representasi tanda (Sugiarti, 2. Qualisign adalah tanda yang terasakan tetapi belum direpresentasikan, sinsign adalah tanda yang telah direpresentasikan, dan legisign adalah penggunaan berbagai sinsign dalam suatu tatanan tertentu. Pemahaman tentang trikotomi ini akan membantu peneliti dalam merancang karya fotografi yang mampu menyampaikan pesan secara efektif dan mendalam. Trikotomi kedua dalam kajian semiotika Peirce adalah acuan tanda, yang terdiri dari ikon, indeks, dan simbol. Ikon berfungsi sebagai representasi objek yang diwakili, indeks menunjukkan hubungan eksistensial antara tanda dan objek, sedangkan simbol adalah tanda yang bersifat konvensional dan arbitrer (Kaparang. Dengan memahami ketiga jenis tanda ini, peneliti dapat merancang karya fotografi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan makna. Hal ini penting untuk menciptakan karya yang mampu berkomunikasi dengan audiens secara efektif, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Trikotomi ketiga adalah pengguna tanda atau interpretan, yang mencakup rhema, dicent sign, dan Pada bagian ini, peneliti akan mempertimbangkan bagaimana makna yang ada dalam benak pengkarya dapat diturunkan kepada penonton melalui interpretasi yang berbeda-beda (Yunita, 2. Proses ini menunjukkan bahwa makna tidak hanya ditentukan oleh pengkarya, tetapi juga oleh bagaimana penonton menafsirkan tanda yang ada dalam karya tersebut. Oleh karena itu, penting bagi peneliti untuk mempertimbangkan berbagai perspektif dalam merancang karya fotografi "KAFAN?". Dalam perancangan karya fotografi ini, peneliti juga akan mempertimbangkan aspek estetika dan teknik fotografi. Pengetahuan tentang estetika, semiotika, dan teknik fotografi sangat penting untuk menciptakan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang mendalam (Purnamasari, 2. Dengan memanfaatkan teknologi penangkap gambar yang ada saat ini, peneliti dapat menghasilkan karya yang utuh dan bermakna. Ini menunjukkan bahwa perancangan karya fotografi memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang luas, baik dalam aspek teknis maupun konseptual. Penggunaan media sosial sebagai platform untuk membagikan karya fotografi juga menjadi bagian penting dalam penelitian ini. Di era digital, media sosial memiliki daya jangkau yang luas dan dapat digunakan untuk menyebarkan pesan yang ingin disampaikan melalui karya fotografi (Setyanto, 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 Dengan mengunggah karya ke media sosial, peneliti dapat menjangkau audiens yang lebih besar dan menciptakan diskusi yang lebih mendalam mengenai isu-isu yang diangkat dalam karya tersebut. Ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya berfungsi sebagai seni visual, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial dan lingkungan. Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan bagaimana karya fotografi dapat berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu-isu lingkungan dan sosial. Dengan memanfaatkan pendekatan semiotika, peneliti dapat menggali makna yang terkandung dalam karya fotografi dan bagaimana makna tersebut dapat berkontribusi pada perubahan sosial (Wardani, 2. Ini menunjukkan bahwa seni, khususnya fotografi, memiliki potensi untuk menjadi alat yang kuat dalam mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif yang komprehensif, peneliti dapat menghasilkan karya fotografi "KAFAN?" yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan makna dan pesan. Dengan menggabungkan wawancara, studi literasi, dan analisis semiotika, peneliti dapat menciptakan karya yang mampu berkomunikasi dengan audiens secara efektif dan memberikan dampak yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa penelitian kualitatif dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan seni dan komunikasi visual. Dalam kesimpulannya, metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam perancangan karya fotografi "KAFAN?" mencakup wawancara, studi literasi, dan analisis semiotika. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna yang terkandung dalam karya dan menciptakan pesan yang mendalam. Dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial, peneliti dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan diskusi yang lebih mendalam mengenai isu-isu yang diangkat dalam karya tersebut. Ini menunjukkan bahwa seni dan penelitian dapat berjalan beriringan dalam upaya untuk menciptakan perubahan positif di masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep dasar penciptaan karya fotografi berupaya melihat bagaimana peranan fotografi dalam proses penyampaian pesan untuk memprofokasi kampanye lingkungan tentang fast fashion, sehingga karya fotografi kembali kepada dasarnya menjadi media komunikasi visual yang memberikan pesan dan makna bagi penikmat karya seni dan bukan menjadi dokumentasi foto semata. Peneliti juga akan mengungkapkan gagasan yang dijabarkan dengan mempelajari pesan yang terkandung didalam proses kreatif perancangan karya foto dengan tema fast fashion dalam perancangan karya foto berjudul "KAFAN?", dengan membedah makna dan pesan atau interaksi simbolik yang terkandung didalam karya fotografi tersebut, penulis nantinya akan menjadikan data acuan untuk perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?" serta disajikan dalam bentuk narasi deskriptif sebagai media komunikasi visual merepresentasi fast fashion campaign (Abdussamad, 2. 1 Photography Fungsi utama fotografi ada empat (Adina dkk. , 2. , yang pertama fotografi sebagai komunikasi dimana foto sebagai alat komunikasi yang dapat menyampaikan pesan serta makna yang terkandung dalam karya dan dimengerti oleh penikmat karya untuk mempersuasif seseorang atau masyarakat. Yang kedua fotografi sebagai dokumentasi Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 dimana foto dapat menjadi arsip dokumen dimasa lampau atau mendatang untuk bukti terjadinya sebuah peristiwa, dalam fungsi yang kedua ini foto diharuskan memiliki kualitas foto yang baik dari segi teknis dan dapat menangkap suasana penting yang Yang ketiga fotografi sebagai seni dimana sebuah foto harus mengandung nilai estetis yang tinggi agar penikmat karya masuk kedalam imajinasi karya dan turut merasakan yang dihadirkan dalam sebuah foto. Yang keempat fotografi sebagai ekspresi dimana foto adalah media mengexpresikan kegelisahan seorang fotografer dari apa yang dilihat sampai yang dirasakan seorang fotografer, ungkapan rasa senang, kecewa, marah, sedih dan rasa yang lainya. Dari pembahasan yang sudah dituangkan karya fotografi berjudul "KAFAN?" memiliki tiga fungsi, yang pertama foto memiliki fungsi komunikasi yang merepresentasikan fast fashion campaign dimana isu pencemaran lingkungan menjadi masalah yang semakin lama semakin tidak terkontrol dan perlu adanya komunikasi untuk masyarakat sebagai penggerak pola pikir serta tindakan masyarakat atau penikmat seni dalam mengurangi pencemaran lingkungan tersebut, dalam perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?" menghadirkan 100 logo brand lebih pakaian yang menjadi background dalam foto untuk mengkomunikasikan kemasyarakat pemilik brand yang turut andil menjadi terjadinya pencemaran lingkungan yang sekarang menjadi isu yang dapat merusak bumi dan dekat dengan masyarakat karena prodak yang bisa dijual bebas. Esai foto haruslah menyampaikan suatu cerita yang kuat dan mampu membawa emosi dari yang melihat, walaupun bentuk sebuah karya yang berbeda namun unsur foto tetap sama dengan tujuan untuk orang yang melihat karya agar juga bisa ikut merasakan sebuah gagasan dalam sebuah karya (Taufik & Setyanto, 2. 100 logo brand menjadi turut terjadinya pencemaran lingkungan . rand nasiona. 100 logo brand menjadi turut terjadinya pencemaran lingkungan . rand Internasiona. Gambar 1. Foto Berjudul "KAFAN?" Berfungsi Sebagai komunikasi [Sumber: Afand. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 Fungsi kedua foto sebagai seni juga termasuk dalam perancangan karya foto berjudul "KAFAN?" karena nilai estetis dalam karya tersebut mudah ditangkap dengan indra penglihatan dan tidak membuat jenuh, penggunaan model wanita dalam objek karya tersebut salah satu sindiran dan estetika visual yang dihadirkan untuk merepresentasikan isu fast fashion dimana pakaian banyak dibeli bukan menjadi kebutuhan primer melainkan menjadi penanda status quo dengan merek yang melatar belakangi pakaian tersebut. Menurut jurnal film tanpa perempuan (Ridho Afandi dkk. wanita dalam sebuah karya adalah sebagai pemikat dan objek seksualitas, atau dapat diartikan untuk exploitasi dimana mata akan termanjakan dengan visual yang indah dari wanita yang menjadikan nilai estetis dari sebuah karya, maksudnya keindahan yang khas dari tubuh perempuan membuat citarasa estetis yang unik, seringkali apa yang dikenakan pada perempuan dikaitkan dengan keindahan. Maka perancangan karya berjudul "KAFAN?" menggunakan pakaian yang terbuat dari busa hati berwarna putih yang biasanya dipakai untuk membungkus suatu produk dan menjadi sampah turut dimanfaatkan untuk salah satu pesan isu fast fashion yang merusak lingkungan dan bukan menggunakan pakaian yang umum dijual atau dibuat seorang desainer fashion karena kesanya akan tidak linier ketika kita menyampaikan isu fast fashion tapi memakai pakaian yang konvensional. Keindahan yang khas dari tubuh perempuan membuat citarasa estetis yang unik untuk merepresentasikan isu fast fashion Busa hati berwarna putih yang biasanya dipakai untuk membungkus suatu produk dan menjadi sampah turut dimanfaatkan untuk salah satu pesan isu fast fashion sebagai kostum atau baju Gambar 2. Foto Berjudul "KAFAN?" Berfungsi Sebagai Seni [Sumber: Afand. Fungsi ketiga foto sebagai ekspresi juga termasuk dalam perancangan karya foto berjudul kafan? karena merepresentasikan kegelisahan dari seorang fotografer dengan menghadirkan warna dominan background hitam serta pencahayaan warna merah yang merepresentasikan rasa yang dihadirkan fotografer. Background warna hitam ditampilkan untuk memberikan kesan mencekam dan mengindikasikan ada masalah dalam industry fashion dunia, dimana industri garment setiap bulanya meluncurkan pakaian terbaru dan itu berdampak pada pencemaran lingkungan tapi masyarakat yang Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 mengkonsumsi pakaian-pakain terbaru tidak merasa ikut merusak lingkungan. Pencahayaan merah dihadirkan dalam karya untuk menyampaikan rasa dimana fotografer ingin masyarakat atau penikmat seni ikut merasakan apa yang dirasakan kegelisahan fotografer dan ikut merubah prilaku lebih bijak dalam mengkonsumsi Dalam psikologi warna, warna hitam memiliki makna mengbangkitkan emosi seperti rasa sedih dan amarah namun sering dianggap berani, dominan dan kuat sedangkan warna merah memiliki makna keberanian, kekuatan, dan kegembiraan namuan warna ini juga mampu mendorong gairah dan energi bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan karena warna merah sendiri bisa mengartikan kehidupan serta warna tersebut identik dengan darah manusia (Andre Oliver, 2. Background warna hitam ditampilkan untuk memberikan kesan mencekam dan mengindikasikan ada masalah dalam industry fashion dunia Warna merah memiliki makna keberanian, kekuatan, dan kegembiraan namuan warna ini juga mampu mendorong gairah dan energi bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan karena warna merah sendiri bisa mengartikan kehidupan Gambar 3. Foto Berjudul "KAFAN?" Berfungsi Sebagai Ekspresi [Sumber: Afand. 2 Media Komunikasi Visual Didalam komunikasi fotografi membangun bahasa tertentu yang mempunyai leksikon dan sintaksisnya sendiri, pergantian gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan yang disetujui atau dilarang, dalam satu kasus bahasa dan disisi lain gambar Dalam buku the fashion system karya Roland Barthes yang diterjemahakan oleh Matthew Ward dan Richard Howard (University of California Press, 1. Untuk merasa hidup masyarakat konsumen perlu mengonsumsi pendapat dari Baudrillard. Dengan adanya pendapat tersebut timbul pemaknaan slogan: Auaku mengonsumsi maka aku adaAy. Artinya pengambaran pesan secara bertahap menciptakan struktur konsumsi yang berbeda dari sebelumnya juga mempengaruhi pemikiran bahwa konsumsi berhubungan dengan sistem tanda dan semiotika (Setia Bakti & Nirzalin, 2. Perancangan karya dalam seni fotografi dapat digunakan sebagai trigger dalam menyampaikan gagasan dalam sebuah karya bidang fotografi yang sekaligus sebagai media kampanye untuk Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 mempersuasif masyarakat yang melihat karya pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional dengan bantuan media sosial yang dapat lebih luas lagi. Gambar 4. Suasana pameran Pineal dengan tema Gelebah karsah [Sumber: Dokumentasi Pameran Pinela & The Orikop. Gambar 5. Suasana pameran karya kolaborasi dengan tema Gotong Royong Desain [Sumber: Dokumentasi Pameran Purwa Rupa Vol 1 & Wisma Jerma. Fotografi konseptual adalah hasil buah pikir dari repesentasi gagasan seorang fotografer yang bertujuan untuk ditanamkan kebenak penikmat seni yang melihat karya foto yang Ide dan gagasan, properti yang mendukung, pemilihan setting tempat, penggunaan setting lampu, make up yang digunakan, konsep pakaian serta emosi dan expresi dari sang model yang dipotret adalah elemen-elemen pendukung yang diperlukan dalam fotografi konseptual. Tahapan terahir adalah editing untuk mengemas Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 semua menjadi satu kesatuan untuk menyempurnakan konsep yang diinginkan dalam perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?", hasil dari karya fotografi konseptual kadang sering tidak masuk akal atau imajinatif dan seolah-olah tidak nyata. Banyak diantara karya fotografi konseptual sering ditemukan foto yang terdistorsi dari realitas yang ada dan kesan yang normal didekontruksi menjadi bentuk baru, konseptualisme kadang-kadang terlihat bertentangan dengan tradisi fotografi lain seperti dokumenter atau reportase (Adina dkk. , 2. Dari penjelasan diatas media komunikasi visual dalam bentuk fotografi adalah salah satu media yang dapat mengutarakan kegelisahan atau ide dari gagasan konsep yang dapat mengkampanyekan isu lingkungan, perancangan karya berjudul "KAFAN?" memanfaatkan hal tersebut untuk turut menyampaikan isu fast fashion kemasyarakat. Serta menggunakan konsep dari fotografi konseptual untuk menyampaikan gagasan dalam setiap elemen atau proses perancangan. Produksi foto Pemilihan Foto Edit Foto Penyelesaian foto Gambar 6. Proses perancangan Foto Berjudul "KAFAN?" [Sumber: Afand. 3 Penerapan Trikotomi Awal gagasan dari penciptaan fotografi berjudul "KAFAN?" sebagai cara untuk mengkampanyekan isu lingkungan yang kian lama semakin tidak terkendali karena banyaknya merek yang beredar turut andil memproduksi fashion terbaru dan limbah yang tidak bisa diatasi dan tidak adanya penyelesaian. Kampanye tentang fast fashion menjadi konsen terhadap lingkungan yang kian lama semakin mengancam tentang industri paling berpolusi di dunia menunjukkan bahwa fashion menduduki peringkat keenam dalam bidang ini setelah berada diperingkat kedua. Meskipun terdapat rencana dan upaya yang bertujuan untuk membuat sektor ini lebih rendah, namun tingkat polusi yang diakibatkannya masih tinggi, bahwa industri yang paling berpolusi di dunia dengan jumlah emisi yang terkait dengan industri fashion secara global setara dengan jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan gabungan perekonomian Perancis. Jerman, dan Inggris. Dengan keresahan yang muncul maka perancangan karya berjudul kafan? diciptakan guna mengkampayekan isu fast fashion tentang pencemaran lingkungan, konsep berkarya menggunakan trikotomi yang digagas oleh Charles Sanders Peirce. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 Trikotomi pertama berdasarkan representamen . esuatu yang dapat ditangkap secara panca indra manusi. yang diterapkan adalah qualisingn atau kualitas sebuah tanda dimana hasil foto yang dirancang serupa dengan genre foto model dengan keindahan yang dapat ditangkap secara langsung oleh indra penglihatan. Berikutnya ada sinsign atau keberadaan terkini dari sebuah tanda yaitu penggunaan kostum atau pakaian yang dipakai menggunakan busa hati pembungkus suatu produk dimana pengkarya mengkomunikasikan ada masalah dalam insdustri fashion, bingkai frame yang terbuat dari kain perca seragam sekolah, instansi pemerintahan dan bahkan kain batik termasuk dalam industri tekstil yang merusak lingkungan, serta penempatan logo-logo dan posisi model turut menjadi tanda untuk perancangan karya berjudul kafan? yang menandakan merek-merek yang ditampilkan turut andil dalam perusakan lingkungan serta posisi model yang menghadap kekanan dekat dengan batas frame gambar menjadi tanda ada masalah dengan memunculkan kesan tidak nyaman dalam gambar karena kaidah sebuah foto ketika ada model atau objek berada disebelah kanan sepatutnya wajah atau arah objek menghadap kekiri agar kesan yang dihadirkan nyaman dari teori komposisi rule of space (Binus @Jakarta, 2. Berikutnya legisign bisa diartikan norma atau makna yang dimiliki dari suatu tanda itu sendiri dalam perancangan karya berjudul kafan? yaitu mengunakan tanda-tanda yang dihadirkan dan dikombinasikan dalam sebuah perancangan foto yang disusun secara utuh dengan mengadaptasi fotografi konseptual agar dapat ditangkap penikmat seni atau masyarakat dalam mengkampayenkan isu fast fashion. Qualisingn atau kualitas sebuah tanda dimana hasil foto yang dirancang serupa dengan genre foto model Sinsign atau keberadaan terkini dari sebuah tanda yaitu penggunaan kostum, frame foto, logo merek yang di hadirkan, komposisi foto Legisign bisa diartikan norma atau makna yang dimiliki dari suatu tanda itu sendiri dalam perancangan karya Gambar 7. Foto Berjudul "KAFAN?" Penerapan Trikotomi Pertama [Sumber: Afand. Trikotomi kedua berdasarkan objeknya yang diterapkan adalah Ikon atau tanda yang mempunyai kesamaan dengan objek aslinya yang dihadirkan serupa dengan genre foto model dan fashion yang mana fungsinya untuk menunjukan busana yang dipakai Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 seorang model adalah representasi industry fashion yang menjadi isu pencemaran Berikuitnya indeks atau tanda yang berhubungan dengan objek dan ada landasan sebab akibatnya dimana diterapkan banyaknya merek-merek yang dihadirkan mewakili industry fashion dan penggunaan kain sebagai bingkai frame karya juga menjadi tanda untuk mengeksistensikan tanda dan objek yang diwakili, berikutnya adalah symbol atau tanda yang berhubungan dengan penandanya juga petandanya yang dihadirkan dalam perancangan karya "KAFAN?" secara arbitrer dan dapat ditangkap oleh panca indra tanpa kesan menghakimi seperti goresan cat merah dimata model, make up model, kostum atau pakaian model, penggunaan logo instansi dalam seragam dalam bingkai frame, warna cahaya yang disorotkan ke model, dan editing logo merek yang disusun sebagai background foto. Ikon atau tanda yang mempunyai kesamaan dengan objek aslinya yang dihadirkan serupa dengan genre foto model dan fashion Indeks atau tanda yang berhubungan dengan objek dan ada landasan sebab akibatnya,merek-merek yang dihadirkan mewakili industry fashion dan penggunaan kain frame karya untuk mengeksistensikan tanda dan objek yang diwakili symbol atau tanda yang berhubungan dengan penandanya juga petandanya yang dihadirkan, secara arbitrer dan dapat ditangkap oleh panca indra Gambar 8. Foto Berjudul "KAFAN?" Penerapan Trikotomi Kedua [Sumber: Afand. Trikotomi ketiga berdasarkan Interpretant . engguna tand. yang diterapkan adalah rhema atau tanda yang di maknai atau di artikan secara berbeda dari makna aslinya yang dapat diartikan kata yang tepat dalam situasi tertentu dan tindakan (Rifai, 2. dimana judul perancangan karya adalah "KAFAN?" yaitu plesetan dari kata kapan? yang menayakan kepada diri kita kapan memulai bergerak untuk mengatasi isu pencemaran lingkungan dan kafan sendiri memiliki arti jenis kain yang dipakai untuk ritual keagamaan sebagai penutup atau pakaian orang yang meninggal yang maksudnya adalah ketika nanti manusia meninggal tidak ada merek-merek yang melebeli dan menyelimuti mayat didalam kubur, jadi ada dua makna yang dihadirkan dalam judul karya sebagai tanda yang dapat dilihat oleh penikmat karya. Berikutnya dicent singn atau tanda yang memiliki arti sesuai faktanya atau kenyataanya dimana diterapkan dalam perancangan karya "KAFAN?" memiliki fungsi yang sama dari penciptaan karya foto model atau fashion pada umumnya namun bukan baju yang akan dijual untuk mengkomunikasikan Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 foto melainkan kampanye isu lingkungan yang menjadi keresahan untuk diselesaikan bersama dengan harapan penikmat seni atau masyarakat ikut andil merubah pola konsumsi fashion lebih bijak . Berikutnya argument atau tanda yang memuat alasan dari suatu hal dimana diterapkan dalam karya perancangan berjudul "KAFAN?" dari penggunaan bahan dan gagasan konsisten menghadirkan tanda-tanda yang mengusung tema fast fashion tentang pencemaran lingkungan. rhema atau tanda yang di maknai atau di artikan secara berbeda dari makna aslinya yang dapat diartikan penggunaan diterapkan dijudul karya "KAFAN?" dicent singn atau tanda yang memiliki arti sesuai faktanya atau kenyataanya dimana penciptaan karya foto model atau fashion pada umumnya namun bukan baju yang akan dijual untuk mengkomunikasikan foto melainkan kampanye isu argument atau tanda yang memuat alasan dari suatu hal dari penggunaan bahan dan gagasan konsisten Gambar 9. Foto Berjudul "KAFAN?" Penerapan Trikotomi Ketiga [Sumber: Afand. KESIMPULAN Dari pembahasan yang sudah dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan peranan karya seni fotografi sebagai media komunikasi visual untuk mempersuasif masyarakat yang melihat karya tersebut. Peranan penting karya fotografi juga meningkatkan keinginan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan atau mendistribusikan sebuah isu yang dikampanyekan. Melalui karya fotografi kita juga dapat mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat yang melihat karya tersebut di media soaial tanpa mereka mengerti akan teknis fotografi karena penikmat seni terbagi menjadi tiga kategori seperti kurator karya seni, pembuat karya seni, dan penikmat awam atau masyarakat umum. Serta melaluai fotografi yang bentuk medianya adalah visual merupakan bentuk komunikasi universal yang pesan dan maknanya dapat diterima orang yang melihat karya tersebut dari gagasan seorang fotografer. Melalui fotografi isu yang sedang menjadi konsen dunia dapat dibuat dengan menyederhanakan gagasan menjadi tampilan visual yang dapat diterima lapisan masyarakat dengan memberikan cirihas tersendiri dari seorang Melalui perancangan karya fotografi juga tidak menutup kemungkinan masyarakat yang melihat karya dapat merespon dengan merubah prilaku untuk lingkup kecil dirinya dan sekitar demi mengurangi polusi tersebut secara tidak langsung. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Afandi. Perancangan Fotografi untuk A 603-619 Perancangan karya fotografi berjudul "KAFAN?" diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk lebih responsif terhadap isu-isu global, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan dampak industri fast fashion. Dalam konteks ini, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi, tetapi juga sebagai medium komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat. Dengan kemudahan akses teknologi, terutama smartphone, masyarakat, khususnya anak muda, memiliki kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam menyebarkan isu-isu lingkungan melalui karya fotografi mereka sendiri (Lu dkk. , 2. Fotografi sebagai elemen visual memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang Dalam era digital saat ini, di mana informasi dapat diakses dengan cepat, karya fotografi yang dirancang dengan baik dapat menjadi alat yang efektif untuk mengedukasi masyarakat tentang isu-isu lingkungan. Lu menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih dalam tentang industri fast fashion dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap dampak lingkungan dari pilihan belanja mereka (Lu dkk. Oleh karena itu, karya "KAFAN?" bertujuan untuk tidak hanya menyampaikan pesan tentang pencemaran lingkungan, tetapi juga untuk mengajak penikmat seni untuk merenungkan peran mereka dalam mengatasi masalah tersebut. Karya ini menggambarkan isu fast fashion melalui sudut pandang pengkarya dengan menggunakan konsep trikotomi yang digagas oleh Charles Sanders Peirce. Dengan pendekatan ini, diharapkan penikmat seni atau masyarakat dapat memahami maksud dari keresahan yang dihadirkan dalam visual, sehingga mampu meresapi Seperti yang diungkapkan oleh Gazzola (Gazzola dkk. , pemahaman yang lebih baik tentang keberlanjutan dan ekonomi sirkular dapat membantu konsumen membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab. Karya "KAFAN?" berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan. DAFTAR PUSTAKA