J Vol. No. 1 (April 2. : 1-53 DOI: 10. 36383/diskursusv22i1. PERTIMBANGAN DAN SENSUS COMMUNIS: REVOLUSI KOPERNIKAN DALAM PEMIKIRAN POLITIK ARENDT* Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan. Tangerang. Indonesia E-mail: ytzerald. sitorus@uph. Received: 12 Feb 2026 Revised: 18 Mar 2026 Accepted: 23 Mar 2026 Abstract: This article discusses ArendtAos political philosophy, which she developed by interpreting KantAos aesthetics. Through a hermeneutic reconstruction of ArendtAos texts, the author shows how she interprets and uses two of KantAos aesthetic concepts, i. , judgment and sensus communis, as the basis for political philosophy. The result is a political anthropology grounded in sensus communis. For Arendt, politics is the manifestation of sensus communis. Humans become zoon politicon because they possess the a priori faculty of sensus communis, which is a condition for the possibility of politics. ArendtAos political philosophy is still relevant because it reveals and reminds us of something important: the decline of sensus communisAior the dimension of shared judgment among citizensAibecomes the condition for the emergence of totalitarian regimes. In the age of digital media dominance, which is eroding our sensus communis and pushing people apart. ArendtAos warning is more important than ever. We must nurture and develop sensus communis through communication, dialogue, and the exchange of ideas. This is how we can understand each other and ynd common ground in our political lives. Keywords: judgment, sensus communis, politics, imagination, reyection, totalitarianism. Abstrak: Artikel ini membahas ylsafat politik Arendt yang dibangun melalui interpretasi atas ylsafat keindahan . Kant. Melalui metode rekonstruksi hermeneutis atas teks-teks Arendt, penulis memper* The paper is presented in the framework of Au50 Years After the Passing of Hannah ArendtAu in Indonesia. a joint programme by Goethe-Institut Indonesien and STF Driyarkara. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. lihatkan bagaimana Arendt menafsirkan dan menjadikan dua konsep pertimbangan estetis Kant, yakni pertimbangan . dan sensus communis, sebagai fondasi ylsafat politik. Hasilnya adalah sebuah antropologi politik yang didasarkan atas sensus communis. Politik bagi Arendt adalah manifestasi sensus communis. Manusia menjadi zoon politikon karena dalam dirinya sudah terdapat fakultas apriori sensus communis sebagai syarat kemungkinan politik. Filsafat politik Arendt tetap aktual karena dapat memperlihatkan sekaligus mengingatkan kita: kemerosotan sensus communis atau dimensi pertimbangan bersama antar-warga negara menjadi kondisi bagi kemunculan rezim totaliter. Di tengah dominasi media digital dewasa ini, yang menggerus sensus communis kita dan membuat orang teralienasi satu sama lain, peringatan Arendt penting: kita harus tetap memelihara dan mengembangkan sensus communis melalui komunikasi, dialog dan pertukaran pikiran agar dapat saling memahami dan mencari orientasi bersama dalam kehidupan politik. Keywords: pertimbangan, sensus communis, politik, imajinasi, reyeksi. PENDAHULUAN Dalam diskusi mengenai pemikiran politik Hannah Arendt, para komentator umumnya lebih sering memberikan perhatian pada tema pertimbangan . 1 Literatur yang membahas tema ini cukup banyak. Ini tentu karena tema pertimbangan menduduki posisi kunci dalam pemikiran Arendt. Tulisnya. AuKemampuan untuk melakukan pertimbang1 Tidak mudah menerjemahkan kata Inggris judgment (Jerman: Urtei. ke dalam bahasa Indonesia. Kata ini dapat diterjemahkan dengan penilaian, pertimbangan, atau . putusan, tentu dengan konotasinya masing-masing yang sayangnya justru kadang dapat mengaburkan pemahaman. Bertens misalnya menerjemahkan buku Kant. Kritik der Urteilskraft dengan Kritik Atas Daya Pertimbangan, lihat K. Bertens. Filsafat Barat Kontemporer. Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 2. , 91. Mengikuti Bertens, di sini saya menerjemahkan judgment dengan pertimbangan, tetapi dengan sekaligus mengingat bahwa dalam pengertian itu juga terkandung pengertian menilai dan memutuskan. Lihat misalnya Ronald Beiner and Jennifer Nedelsky . Judgment. Imagination, and Politics. Themes from Kant and Arendt (Lanham: Rowman & Littleyeld Publishing, 2. Hampir semua dari 14 artikel dalam buku ini membahas tema putusan. Martin Blumenthal-Barby. Arendt. Kant, and the Enigma of Judgment (Evanston. IL: Northwestern University Press, 2. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 an . he faculty of judgmen. adalah yang paling politis dari kapasitas-kapasitas yang dimiliki manusia. Au3 Arendt sendiri telah melakukan penelitian intensif dan memberikan kuliah-kuliah serta ceramah mengenai tema ini sejak tahun 1950-an di Amerika Serikat. Tema putusan juga muncul entah secara eksplisit atau implisit dalam karya-karyanya, termasuk dalam surat-suratnya. Dari tiga kapasitas intelektual manusia, yakni berpikir . , menginginkan . dan menimbang . , kapasitas terakhirlah menurut Arendt yang terpenting. Pertimbangan juga merupakan batu penjuru bagi reaksi intelektual Arendt terhadap rezim-rezim totaliter yang menjadi tema reyeksi dan penelitian dalam karya-karyanya. Ia mengatakan, hilangnya kemampuan untuk melakukan pertimbangan . adalah syarat kemungkinan bagi munculnya rezim totaliter dan sekaligus akibat dari rezim tersebut. Artinya, hilangnya kapasitas untuk melakukan pertimbangan kritis bukan hanya merupakan sebab atau asal-usul totalitarianisme tetap juga sekaligus akibat dari rezim Saya tentu tidak menyangkal betapa mendasarnya tema pertimbangan dalam seluruh pemikiran Arendt. Namun, dalam tulisan ini, saya hendak mengangkat tema lain yang juga tidak kalah pentingnya, yakni sensus 4 Dibandingkan tema pertimbangan, tema sensus communis memang relatif jarang dibicarakan. Arendt sendiri belum membahas tema ini secara tersendiri dalam karya-karya awalnya, walaupun memang di sana sini ia telah menyinggungnya. Tema ini baru dibahas secara mendalam dalam karya-karya terakhirnya, terutama The Life of the Mind dan Lectures on KantAos Philosophy. Arendt-Handbuch bahkan tidak menyebut tema ini sebagai salah satu konsep penting ylsafat Arendt. Tetapi kalau kita memahami dengan baik pengertian konsep-konsep sentral ylsafat Arendt, seperti reyeksi, imajinasi, politik, komunikasi. Arendt. The Life of the Mind (San DiegoOeNew YorkOeLondon: A Harvest Book, 1. Pengertian konsep ini akan dibahas pada bagian akhir artikel ini. Wolfgang Heuer. Bernd Heiter und Stefanie Rosenmyller (Hg. Arendt-Handbuch. Leben-Werk-Wirkung, (Stuttgart. Weimar: J. Metzler, 2. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. dan lain-lain, kita akan melihat bahwa semua konsep itu secara erat terkait dengan sensus communis. Kita dapat mengatakan bahwa sensus communis adalah cantelan atau syarat kemungkinan bagi semua konsep tersebut. Komunikasi atau ruang publik, misalnya, mengandaikan sensus communis. Arendt bahkan mengatakan, sebagaimana akan saya perlihatkan dalam tulisan ini, bahwa sensus communis adalah juga syarat kemungkinan manusia sebagai makhluk politis. Politik menjadi mungkin karena sensus communis. Dengan mengutip Kant. Arendt mengatakan bahwa sensus communis adalah Aukapabilitas yang membedakan manusia dari hewan dan dewa-dewa. Au6 Bahkan pertimbangan, yang merupakan kapasitas politis yang paling penting itu, memiliki validitasnya hanya berkat sensus communis. Artinya, pertimbangan mengandaikan sensus communis dan mengacu ke sensus communis dalam diri setiap orang. Mengapa tema sensus communis ini perlu diangkat? Ada dua alasan: praktis dan teoretis. Alasan praktis: konsep ini penting, tentu bersama dengan konsep pertimbangan . , terutama kalau kita hendak mencari relevansi Arendt untuk dunia kontemporer sekarang. tengah-tengah dunia digital sekarang, di mana masyarakat umumnya telah terfragmentasi dan telah kehilangan shared values akibat intervensi tanpa batas dari teknologi digital hingga ke ruang-ruang privat, keberadaan sensus communis ini sangat penting sebagai perekat yang membuat sebuah masyarakat layak disebut masyarakat dengan nilai-nilai bersama tertentu. Tanpa sensus communis, sebuah masyarakat tidak memiliki Augagasan mengenai pengertian yang sama untuk semua orangAu 8 dan itu akan membuat mereka dengan mudah menjadi mangsa bagi rezim-rezim Dalam The Origins of Totalitarianism. Arendt telah memperingatkan. AuPropaganda totaliter dapat secara ekstrim menghina akal sehat hanya kalau akal sehat itu telah kehilangan daya ikatnya. Au 9 Solidaritas Arendt. Lectures on KantAos Political Philosophy (Chicago: The University of Chicago Press, 1. , 70. Arendt. Lectures, 72. Arendt. Lectures, 71. Arendt. The Origins of Totalitarianism (ClevelandOeNew York: Meridian Books, 1. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 juga hanya mungkin berdasarkan sensus communis. Tanpa sensus communis, masyarakat tidak saling mengenal dan tidak peduli satu sama lain. Mereka tidak ubahnya sekumpulan individu atau massa yang satu sama lain terisolasi, kesepian dan terasing. Dan kondisi demikian justru sangat berbahaya secara politis karena akan membuka peluang bagi munculnya rezim-rezim totaliter, sebagaimana diperlihatkan Arendt dalam tulisan-tulisannya. AuKesendirian atau kesepian . adalah dasar dari semua teror, hakikat dari rezim totaliter. Au tulis Arendt. Alasan teoretis: konsep sensus communis dapat berguna sebagai fondasi baru bagi politik, sebagai alternatif atau bahkan sebagai syarat kemungkinan zoon politikon. Dalam berbagai literatur politik, politik umumnya dipahami sesuai dengan ajaran Aristoteles, yakni manusia sebagai zoon politikon, mahluk yang memiliki kecenderungan untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas politis . , karena Auseorang manusia pada hakikatnya adalah makhluk politis. Ay11 Dalam konsepsi ini, politik dipahami sebagai konstruksi individu-individu yang keluar dari ruang privat masing-masing dan bertemu di polis. Dengan kata lain, politik diturunkan dari individu-individu. Individu dulu, baru politik. Arendt menolak konsepsi ini. Melalui konsep sensus communis, ia mengatakan bahwa politik telah terkandung secara apriori dalam fakultas mental manusia. Sensus communis yang terdapat dalam diri setiap orang itu mempostulatkan pluralitas dan karena itu bersifat politis. Tindakan zoon politikon membentuk polis itu, sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, adalah realisasi atau manifestasi dari fakultas mental sensus communis Karena itu, kalau para ahli biasanya memahami politik sebagai fenomena sosial . an politi. , pada Arendt politik pertama-tama adalah fenomena mental yang kemudian terkonkretisasi menjadi fenomena sosial dan politis. Dengan kata lain, politik adalah AupolitisasiAy dari sensus Dengan ini Arendt dapat memberi pendasaran antropologis 10 Arendt. The Origins, 477. 11 Aristoteles. The Politics of Aristotle, trans. Peter L. Phillips Simpson (Chapel HillOeLondon: The University of North Carolina Press, 1. , 1. 1253a1, 11. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. dan ylosoys pada konsep Aristoteles mengenai zoon politikon. Sensus communis adalah syarat kemungkinan zoon politikon. Melalui konsep sensus communis inilah Arendt dapat melakukan apa yang saya sebut sebagai Revolusi Kopernikan dalam pemikirannya mengenai politik, seperti yang akan ditunjukkan dalam tulisan ini. Sebagaimana dalam ylsafat pengetahuannya Kant memperlihatkan kapasitas manusia, melalui kedua belas kategori transendental yang apriori terdapat dalam dirinya, untuk mengkonstitusikan objek pengetahuan, demikian pula manusia dalam konsepsi Arendt mengkonstitusikan politik melalui kapasitas sensus communis yang apriori terdapat dalam dirinya. Penggunaan frase Revolusi Kopernikan dari Kant untuk pemikiran Arendt mengenai politik di sini menjadi tepat bukan hanya karena kesamaan titik tolak reyeksi mereka, yakni kapasitas apriori yang terdapat dalam diri manusia, tetapi juga dari fakta bahwa Arendt tiba pada gagasan tersebut berdasarkan interpretasinya atas ylsafat keindahan . Kant, yakni Kritik Atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraf. Konsep pertimbangan . dan sensus communis dalam ylsafat politik Arendt berasal dari syarat-syarat pertimbangan estetis yang direyeksikan Kant dalam Kritik Kedua konsep itulah inti pembacaan Arendt atas Kant. Saya akan mengawali pembahasan ini dengan bertolak dari pengalaman konkret Arendt sebagai pengungsi yang tanpa kewarganegaraan . tateless perso. Pengalaman pahit itulah yang membawanya untuk mereyeksikan politik secara langsung dari hakikat kemanusiaan itu Ini kemudian membawanya kepada dua konsep sentral dalam politik, yakni pertimbangan dan sensus communis Ae konsep yang berasal dari ylsafat keindahan Kant tetapi ditafsirkan Arendt menjadi konsep Arendt menjangkarkan politik pada kedua konsep ini. Melalui kedua kapasitas manusiawi ini orang dapat melakukan pertimbangan dengan secara imajinatif menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Arendt menyebut kemampuan ini Aumentalitas yang diperluasAy . nlarged mentalit. , sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh mantan petinggi Nazi. Adolf Eichmann, sosok yang diangkat Arendt sebagai contoh bagi ketidakmampuan untuk melakukan pertimbangan dan membuat- DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 nya jatuh ke dalam banalitas kejahatan . anality of evi. Tulisan ini akan ditutup dengan uraian singkat mengenai relevansi dan aktualitas pemikiran Arendt untuk masyarakat digital dewasa ini. PEMBAHASAN REFLEKSI POLITIS: BERTOLAK DARI PENGALAMAN KONKRET Arendt adalah salah seorang dari sedikit ylsuf yang seluruh ylsafat- nya merupakan respons intelektual atas berbagai tragedi politik yang terjadi pada zamannya. Dia sendiri mengalami dan menjadi korban tragedi Ia lahir di Hannover. Jerman, pada 1906 dari pasangan suami istri keturunan Jahudi. Sewaktu masih kanak-kanak, orang tuanya membawanya pindah ke Kynigsberg, kota kelahiran Immanuel Kant, ylsuf yang sangat mempengaruhi Arendt. Ketika Kynigsberg jatuh ke tangan Rusia pada Perang Dunia pertama. Arendt dan ibunya lari ke Berlin. Di kota inilah Arendt menempuh pendidikan tingkat menengah, sebelum kemudian kuliah dan belajar pada Heidegger di Universitas Marburg. Jerman. Barangkali sudah merupakan takdir Arendt untuk menjalani hidup dengan pengalaman-pengalaman tragis karena ia beberapa kali harus mengungsi akibat pergolakan politik. Bukan hanya sewaktu kanak-kanak, tetapi setelah dewasa pun dia harus menderita karena mengungsi. Ketika rezim totaliter Hitler naik menjadi penguasa di Jerman. Arendt dan ibunya melarikan diri ke Paris tahun 1933. Mulai tahun itu ia menjadi orang tanpa kewarganegaraan . tateless perso. Arendt tinggal selama 7 tahun dalam pengungsian di Paris, dan bekerja untuk berbagai organisasi yang berkaitan dengan kepentingan Yahudi, antara lain Jugend Aliyah, organisasi yang bertujuan menyelamatkan anak-anak Yahudi dari pembunuhan Nazi dengan memindahkan mereka ke Palestina sebelum Perang Dunia II. Ketika Prancis jatuh ke tangan pasukan Jerman tahun 1940. Arendt ditahan di Velodrome dAoHiver . ekarang Place des Martyrs Juif. dengan 12 Arendt-Handbuch, 2, dst. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. status sebagai Auorang asing yang memusuhi JermanAu . eindliche Auslynde. 13 Setelah beberapa minggu ditahan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Arendt dipindahkan ke sebuah kamp di Gurs, selatan Prancis. Beruntung, bersama dengan ratusan pengungsi lainnya. Arendt berhasil dikeluarkan dari kamp tersebut oleh sebuah grup wanita yang dipimpin oleh militan komunis Austria. Lisa Fittko. Kebanyakan tahanan yang saat itu tinggal di kamp tersebut akhirnya dikirim ke kamp konsentrasi di Auswitz. 14 Tahun 1951 Arendt dinaturalisasi menjadi warga negara AS. Itu berarti selama 18 tahun ia tanpa kewarganegaraan. Ia meninggal pada Kamis, 4 Desember 1975 di New York karena serangan jantung sewaktu menjamu teman-temannya pada sebuah acara makan malam. Pengalaman pahit sebagai tawanan serta sebagai manusia tanpa kewarganegaraan inilah yang menjadi titik tolak reyeksi Arendt tentang Pengalaman tersebut tidak dapat dijelaskan dengan teori atau ylsafat sosial politik apapun. Sejak zaman Yunani klasik hingga era Pencerahan, literatur politik berbicara mengenai polis atau komunitas politis di mana warga negara dapat mengaktualisasikan dirinya dalam sebuah ikatan solidaritas. Polis juga berfungsi untuk melindungi warga negara-kota. Pada era Pencerahan, kesadaran akan hak-hak asasi manusia mulai muncul. Pencerahan membawa keyakinan universal bahwa setiap individu memiliki hak atas kehidupan, kebebasan dan hak milik . Negara bertugas untuk menjaga dan menjamin pemenuhan hak-hak Hingga abad ke-20 dapat dikatakan bahwa perhatian ylsafat politik umumnya terfokus kepada negara sebagai aktor utama yang menentukan kehidupan politik dan melindungi segenap warga negara. Tetapi dalam konteks Arendt dan para pengungsi lainnya, semua itu tidak berlaku. Mereka tidak memiliki hak, tidak memiliki komunitas politis yang melindungi mereka, tidak memiliki negara dan tidak ada 13 Arendt-Handbuch, 3. 14 Tentang pengalaman Arendt sebagai pengungsi dan tahanan perang, lihat Elisabeth Young-Bruehl. Hannah Arendt. For the Love of the World (New HavenOeLondon: Yale University Press, 1. Bagian Kedua: 1933-1951, 111-258. 15 Arendt-Handbuch, 9. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 aparat yang menjamin pemenuhan hak-hak mereka. Lebih tragis lagi, bahkan negara yang seharusnya bertugas memberikan rasa aman itu justru meneror dan membunuh warganya. Lalu bagaimana memahami dan membicarakan politik dalam kondisi demikian? Bagaimana menjelaskan kehidupan para pengungsi yang tanpa negara dan tanpa seorang pun bersedia mengklaim bertanggung jawab atasnya? Bagaimana menjelaskan kemunculan rezim-rezim totaliter yang menciptakan semua kondisi tersebut? Dan bagaimana menjelaskan semua kegelapan tersebut yang sama sekali tidak memiliki preseden dalam sejarah? Inilah yang mendorong Arendt untuk memikirkan politik secara Politik tidak dapat lagi didasarkan atas konsep-konsep politik tradisional, seperti negara, masyarakat sipil, pemerintah atau konstitusi. Dalam pengalaman konkret Arendt, semua institusi itu absen. Universal Declaration of Human Rights (UDHR) 1948, misalnya menyatakan bahwa negara bertugas melindungi hak-hak asasi manusia yang bersifat universal dan tidak dapat dihapuskan, tetapi sementara itu negara sendiri didasarkan atas prinsip kedaulatan teritorial. Arendt melihat paradoks dalam konsepsi HAM ini. Pengalaman konkret menjadi korban yang dikejar-kejar dan tidak memperoleh perlindungan dari siapa pun membawa Arendt pada premis yang mendasari seluruh pemikirannya, yakni bahwa satu-satunya prinsip yang harus menjadi prasyarat politis dan hukum bagi perlindungan manusia bukanlah hak asasi manusia, melainkan pengakuan atas Auhak untuk memiliki hakAu . ight to have right. Pengakuan atas Auhak untuk memiliki hakAu ini pada dasarnya mengacu kepada fakta manusia itu sendiri. Politik hanya dapat didasarkan atas fakta kemanusiaan itu sendiri. Manusia itu ada di sana, dan sekalipun ia kehilangan segala jenis dari apa yang disebut hak asasi manusia, tetapi 16 Gagasan dan kritik terhadap konsep hak asasi manusia ini kemudian dituangkan Arendt dalam bab 9 The Origins of the Totalitarianism. Pemikiran ini membuat Arendt ditafsirkan belakangan ini sebagai salah seorang teoretisi hak asasi manusia. Diskusi lebih jauh mengenai tema ini lihat antara lain: Menke. Christoph. Dignity as the right to have rights: Human dignity in Hannah Arendt, dalam M. Dywell. Braarvig. Brownsword, & D. Mieth (Eds. The Cambridge Handbook of Human Dignity: Interdisciplinary Perspectives (Cambridge. UK: Cambridge University Press, 2. , 332-342. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. ia tidak mungkin kehilangan status esensialnya sebagai manusia. Status sebagai manusia ini tetap sah sekalipun hanya ada satu orang manusia di muka bumi ini, kata Arendt. Antropologi politik Arendt bertolak dari fakta ini, dan itulah yang membuat mengapa analisa politisnya selalu bersifat humanistik, dan terkait erat dengan kehidupan manusia konkret. AuHak untuk memiliki hak, atau hak setiap individu untuk termasuk dalam kemanusiaan, harus dijamin oleh kemanusiaan itu sendiri,Ay tulis Arendt dalam The Origins of the Totalitarianism. 17 Dengan kata lain, politik harus didasarkan atas manusia itu sendiri dengan segenap kapasitas yang dimilikinya dan pengalaman konkret yang dijalaninya. Dalam sebuah wawancara, ia dengan tegas mengatakan: AuApakah objek pemikiran kita? Pengalaman! Tidak lain dan tidak bukan. Dan jika kita kehilangan dasar pengalaman, maka kita akan terperosok ke dalam segala jenis teori. Ay18 Dalam konteks inilah Arendt berbicara mengenai pengalaman dan kapasitas-kapasitas manusiawi dan hubungannya dengan politik. Kita lalu melihat reyeksi-reyeksi Arendt tentang politik yang sama sekali tidak politis. Artinya, tidak menggunakan kategori-kategori yang lazim dalam politik. The Human Condition misalnya memberi pendasaran baru atas politik dengan menarik distingsi konseptual atas tiga bidang kegiatan manusia . ita activ. , yakni kerja . , produksi . , dan tindakan . Dalam konsepsi ini, politik terletak dalam wilayah tindakan. Dari segi kegiatan intelektual . ita contemplativ. Arendt juga memberi pendasaran baru atas politik dengan menarik distingsi antara aktivitas berpikir . , menghendaki . dan menimbang . Dalam konsepsi ini, politik termasuk dalam bidang menimbang, dan, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, menimbang adalah aktivitas pikiran yang paling politis. 17 Arendt. The Origins, 298. 18 Arendt. AuHannah Arendt on Hannah Arendt,Ay dalam Thinking Without Banister. Essays in Understanding 1953-1975 (New York: Schocken Books, 2. , 449. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 II. PERJALANAN ARENDT MENUJU PERTIMBANGAN Sekalipun pertimbangan . adalah konsep Arendt yang terpenting dalam bidang politik, namun hingga sekarang belum ada kesepakatan di antara para komentator mengenai kapan dan bagaimana ylsuf ini tiba pada konsep tersebut. Bagaimana Arendt bisa menghubungkan pertimbangan dengan politik? Bukankah kedua tema tersebut hampir tidak berkaitan dan hampir tidak pernah dipertautkan dalam literatur politik maupun ylsafat? Blumenthal-Barby mengatakan bahwa asal-usul pemikiran Arendt soal pertimbangan itu tetap Audipenuhi oleh spekulasiAy . ermeated by speculatio. 19 Sementara David L. Marshall, yang meneliti asal-usul dan karakter teori Arendt mengenai pertimbangan mengakui bahwa Auasal usul teori pertimbangan pada Arendt tetap merupakan sebuah masalah. Ay20 Tidak sedikit komentator yang berpendapat bahwa Arendt mulai serius berpikir mengenai pertimbangan setelah ia mengikuti pengadilan Eichmann di Jerusalem pada 1961. Sebagaimana diketahui. Arendt melaporkan liputan dan reyeksinya atas pengadilan tersebut, yang kemudian terbit anumerta dalam bentuk buku dengan judul Eichmann in Jerusalem. A Report on the Banality of Evil, di bawah tema ketidakberpikiran . Tesis Arendt dalam buku itu mengatakan bahwa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Eichmann terhadap orang Yahudi tidak berakar pada niat jahat atau kebenciannya terhadap orang Yahudi, melainkan pada ketidakmampuannya untuk berpikir, dan karena aktivitas berpikir melibatkan kemampuan menimbang . o judg. , maka ketidakberpikiran juga sama dengan ketidakmampuan mempertimbangkan. 21 Esai interpretatif Ronald Beiner atas buku Arendt. Lectures on KantAos Political Philosophy, semakin mengukuhkan pendapat mengenai dampak besar pengadilan Eichmann atas pandangan Arendt mengenai putusan. bahwa Arendt 19 Martin Blumenthal-Barby. Arendt. Kant, and The Enigma of Judgment, 16. 20 David L. Marshall. AuThe Origin and Character of Hannah ArendtAos Theory of JudgmentAy, dalam Political Theory, 38 . , 2010, 367-393. 21 Hannah Arendt. Eichmann in Jerusalem. A Report on the Banality of Evil (New York: Penguin Books, 1. , 49, 53, 54, 276. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. baru meneliti fakultas pertimbangan . aculty of judgmen. dengan serius setelah ia mengikuti pengadilan Eichmann. Memang tidak dapat disangkal bahwa pengadilan Eichmann memberikan insight penting dan baru pada Arendt mengenai pertimbangan, sebagaimana nanti akan saya jelaskan. Tetapi kalau kita memperhatikan sejarah perkembangan pemikiran Arendt khususnya mengenai pertimbangan, baik berdasarkan tema-tema kuliah dan seminarnya sejak awal tahun 1950-an maupun Denktagebuch-nya,23 kita akan melihat bahwa ia telah secara intensif meneliti tema pertimbangan jauh sebelum ia menghadiri pengadilan Eichman. Martin Blumenthal-Barby memperlihatkan bahwa pada pertengahan tahun 1950-an Arendt telah menulis karya bertema pertimbangan, yang dimaksudkan sebagai bagian dari buku yang tidak pernah diselesaikan, yakni Introduction into Politics. Tema pertimbangan juga cukup sering dibahas dalam Denktagebuch-nya. Selain itu, sejumlah esai yang ditulis dalam rentang waktu 1950-an memperlihatkan perhatian besar Arendt terhadap tema ini. 24 David L. Marshall juga mengajukan pendapat dan bukti-bukti yang kurang lebih sama. 22 Beiner menulis dalam esai pendamping . nterpretive essa. AuSangat sedikit alasan untuk meragukan bahwa apa yang mendorongnya ketika dia [Arend. mulai serius berpikir mengenai putusan adalah kebutuhan yang tidak terhindarkan untuk membuat penilaian . dalam kasus Adolf Eichmann, dengan melihat fakta bahwa Eichmann sendiri dengan jelas tidak mengambil putusan yang bertanggung jawab Ae sebuah kejahatan yang bersumber dari banalitasnya untuk menolak berpikir,Ay dalam Lectures, 97. 23 Denktagebuch itu adalah Aubuku harian pemikiranAu Arendt. Edisi Jerman buku ini tebalnya 1. 239 halaman. Ini adalah diari pemikiran yang berisikan tulisan-tulisan singkat hasil reyeksi atau bacaan sehari-hari Arendt. Dalam buku tersebut kita dapat melihat apa saja yang dipikirkan oleh Arendt selama rentang waktu 1950Ae1973. Di dalamnya kita antara lain membaca tulisan yang membahas berbagai tema dan pemikiran para ylsuf serta sejarahwan, seperti Plato. Aristoteles. Leopold von Ranke. Nietzsche. Marx. Heidegger, dan lain-lain. Tema mengenai Aukejahatan radikalAu . as radikale Bys. Kant cukup sering dibahas, tetapi tema tersebut tidak digunakan Arendt ketika membahas rezim-rezim totaliter. Lihat Hannah Arendt. Denktagebuch 1950 Ae 1973. Hg. Ursula Ludz und und Ingeborg Nordmann (Mynchen/Berlin. Piper Verlag, 2. 24 Esai-esai Arendt yang membahas putusan itu antara lain. AuThe Crisis in CultureAy dan AuTruth and PoliticsAy dalam Between Past and Future (New York: Penguin Books, 1. AuSome Questions of Moral Philosophy,Ay and AuThinking and Moral ConsiderationAy dalam Hannah Arendt Responsibility and Judgment, ed. Jerome Kohn (New York: Schocken Books, 2. 25 David L. Marshall. AuThe Origin and CharacterAy. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Pemikiran Arendt mengenai tema pertimbangan mengalami perkembangan selama penelitian intensif tersebut. Dalam kuliah-kuliah dan Denktagebuch-nya pada periode tahun 1950-an ia banyak meneliti pertimbangan dalam konteks epistemologi, metaysika dan logika. Di sini ia antara lain mempelajari pertimbangan dalam kritik pertama Kant, yakni Kritik der reinen Vernunft dan dalam Wissenschaft der Logik Hegel. Konsepsi pertimbangan dalam kedua buku ini sangat berbeda dari pertimbangan pada tahap akhir pemikiran Arendt, yakni pertimbangan dalam konteks politik. Dalam reyeksinya mengenai syarat-syarat kemungkinan pengetahuan. Kant memperlihatkan fungsi penting pertimbangan . Berpikir tidak lain dari mempertimbangkan. Berpikir artinya mensintesakan berbagai representasi ke dalam sebuah kesadaran. Kant mendeynisikan pertimbangan sebagai kemampuan untuk melakukan sintesis . aculty of synthesi. dalam proses berpikir. AuKapasitas untuk mempertimbangkan adalah sama dengan kapasitas untuk berpikir,Au26 tulis Kant, karena pikiran bekerja melalui pertimbangan. Artinya, bagaimana representasi itu diolah atau disintesakan dalam kesadaran subjek, itu dilakukan melalui Tentang betapa pentingnya pertimbangan dalam proses terjadinya ilmu pengetahuan kita bisa lihat dari distingsi yang ditarik Kant antara pertimbangan analitis, sintesis dan sintesis apriori. Pengetahuan sendiri, sebagai hasil dari serangkaian proses pertimbangan dalam diri subjek penahu . nowing subjec. , selalu diungkapkan dalam bentuk putusan . Hegel juga membahas berbagai jenis pertimbangan dalam Wissenschaft der Logik-nya. Dalam buku ini Hegel membicarakan pertimbangan sebagai proses dialektis realisasi diri Roh (Geis. Tetapi, sekalipun merupakan realisasi Roh, jenis-jenis pertimbangan tersebut tetap kompatibel dengan berbagai jenis pertimbangan dalam penalaran. Hegel mengatakan bahwa pertimbangan tidak lain dari proses untuk membedakan se26 Kant. Kritik der reinen Vernunft. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel (Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1. A 80/B 106. Selanjutnya disingkat KdrV. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. kaligus mengidentikkan subjek dan predikat melalui kopula adalah . Kita dapat mengatakan bahwa konsepsi pertimbangan di sini juga memiliki kesejajaran dengan pertimbangan dalam politik, sebagaimana kemudian dipahami oleh Arendt, karena melalui aktivitas mempertimbangkan seseorang membedakan sekaligus mengindentikkan dirinya dari yang lain atau komunitas di mana dia berada. Tema lain yang diteliti Arendt dalam periode ini dan kelak penting dalam konsepsinya tentang pertimbangan adalah imajinasi (Einbildungskraf. Imajinasi juga penting dalam proses terjadinya pengetahuan. Kant menekankan hal ini dalam edisi pertama Kritik der reinen Vernunft. Dan Arendt menyadari hal itu berdasarkan komentar Hegel atas Kant. Dalam Ilmu Logika-nya. Hegel memuji Kant karena ylsuf ini telah menemukan sesuatu yang sangat penting dalam proses pengetahuan. Penemuan Kant yang dimaksud di sini adalah bahwa jenis-jenis pertimbangan itu tidak semata-mata didasarkan atas pluralitas realitas empiris yang menjadi objek pertimbangan, tetapi juga atas konsepsi yang dihasilkan oleh pikiran. Maksudnya, pengetahuan . ang terungkap dalam bentuk putusan atau judgmen. tidak semata-mata bersumber dari realitas empiris, sebab akal budi juga memberi kontribusi penting dalam proses tersebut. Kontribusi akal budi itu terjadi, antara lain, melalui imajinasi. Di mana kontribusi imajinasi dalam proses pengetahuan? Imajinasi, demikian Kant, adalah salah satu dari tiga Ausumber subjektif pengetahuanAy . ubjektive Erkenntnisquelle. , selain indra (Sin. dan apersepsi (Apperzeptio. (KdrV. A . Yang dimaksud dengan sumber subjektif di sini adalah kapasitas dalam diri subjek yang berfungsi untuk memproses materi pengetahuan . ari luar diri subje. menjadi pengetahuan. Dalam 27 Misalnya dalam putusan Aubunga itu adalah indahAy, kopula adalah mengidentikkan bunga dengan indah karena kualitas keindahan terdapat pada bunga. bunga itu identik dengan indah. Tetapi sekaligus kopula itu juga membedakan bunga dan indah karena indah hanyalah salah satu properti lain dari bunga . da banyak properti lain dari bunga selain indah, misalnya merah, dan lain-lai. , dan sebaliknya merah tidak hanya terdapat pada bunga . da banyak benda lain yang berwarna merah selain bung. Di sini kita melihat prinsip indentitas dalam perbedaan . dentity in differenc. yang menjadi salah satu prinsip ylsafat Hegel. Lihat. Wissenschaft der Logik II. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. (Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1. , 265. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 putusan Aubunga itu indahAy, misalnya, realitas indah tidak terdapat secara objektif dalam bunga. Predikat indah itu berasal dari pikiran subjek yang kemudian diatributkan kepada bunga. AuIndahAy di sini adalah penemuan subjek melalui aktivitas reyeksi. Putusan inilah yang kelak dikatakan Arendt dalam konteks politik sebagai putusan reyektif. AuImajinasi,Au demikian Kant. Auadalah fakultas untuk menghadirkan kembali sebuah objek sekalipun tidak hadir dalam intuisi,Au (KdrV. B . Inilah yang disebut Hegel sebagai Aukontribusi besar KantAy . er grossen Verdiensten Kant. 28 karena dengan itu Kant memperlihatkan bahwa subjek juga secara aktif berkontribusi dalam proses pengetahuan. Gagasan Kant ini kelak diambil alih sepenuhnya oleh Arendt dalam konsepsinya tentang peranan imajinasi dalam putusan politik. PERTIMBANGAN (JUDGMENT) DALAM POLITIK Tahun 1957 merupakan momen penting dalam perkembangan konsepsi Arendt mengenai pertimbangan. Di sini ia mulai memahami pertimbangan dalam arti politis, sebagaimana kemudian diuraikan dalam kuliahnya tentang ylsafat politik Kant. Lectures on KantsAos Political Philosophy. Arendt mengakui penemuan itu dalam suratnya kepada ylsuf Karl Jaspers, pembimbing disertasi yang kemudian jadi sahabatnya di Jerman. Ia menulis. Saat ini saya sedang membaca Kritik der Urteilskraft dengan kekaguman yang semakin besar. Dalam buku inilah, dan bukan dalam Kritik der praktischen Vernunft, tersembunyi ylsafat politik Kant yang sesungguhnya. Pujiannya terhadap common sense, yang sedemikian sering diremehkan. fenomena cita rasa dibahas secara serius sebagai fenomena dasar putusan . Aocara berpikir yang diperluasAo . he expanded mode of though. yang merupakan bagian dan unsur-unsur putusan, sehingga orang dapat berpikir dari sudut pandang orang lain. Kebutuhan akan keterkomunikasian . Saya selalu paling menyukai buku ini dibandingkan buku Kritik Kant lainnya, tetapi belum 28 Lihat Hegel. Enzyklopydie der philosophischen Wissenschaften I. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. (Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1. Paragraf 171, 322. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. pernah sebelumnya buku ini berbicara sekuat ini kepada saya setelah saya membaca bab mengenai Kant dalam buku Anda. Kutipan di atas bercerita banyak mengenai konsepsi Arendt tentang pertimbangan dalam politik. Nanti saya masih akan membahas konsep-konsep yang disebutkan dalam kutipan di atas, yakni sensus communis. Aucara berpikir yang diperluasAy atau enlarged mentality, dan komunikasi. Di sini saya mau menyoroti bagaimana Arendt menafsirkan Kant. Interpretasi Arendt atas Kant dapat dikatakan idiosinkratik. Ketidaklaziman ini menyangkut bagaimana ia menafsirkan tulisan-tulisan Kant mengenai politik dan juga mengenai pandangan Kant tentang ylsafat keindahan. Semua orang tahu bahwa Kant menulis sejumlah karya mengenai politik. Buku Zum ewigen Frieden jelas membahas soal politik, bahkan politik internasional. Demikian juga Grundlegung zur Metaphysik der Sitten yang membahas soal kebebasan dalam kehidupan sosial, sementara Die Metaphysik der Sitten membahas ylsafat hukum (Rechtslehr. Berdasarkan gagasan politik dan hukum dalam buku ini, ylsuf seperti John Rawls dan Habermas menganggap Kant sebagai pelopor ylsafat politik liberalisme. 30 Arendt juga jelas mengetahui kumpulan tulisan Kant yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul KantAos Political Writings31 dan On History32 sebab ia juga mengomentari kedua buku itu dalam Lectures. Namun Arendt rupanya menganggap semua tulisan itu tidak cukup Di sini ia tidak mengajukan kritik imanen atau argumen sistematik untuk menanggapi pemikiran politik Kant, melainkan hanya argumen sederhana dengan mengutip pendapat Kant sendiri mengenai tu29 Surat Arendt kepada Karl Jaspers, 29 Agustus 1957, dalam Hannah Arendt Ae Karl Jaspers: Correspondence, 1926-1969, ed. Kohler and H. Saner, trans. Robert and R. Kimber (San DiegoOeNew YorkOeLondon: A Harvest Book, 1. , 318. 30 Rawls menyebut ajaran Kant sebagai Auliberalisme komprehensif. Au lihat John Rawls. Political Liberalism (New York: Columbia University Press, 2. , 245 31 Kant. KantAos Political Writings, ed. Hans Reiss, trans. Nisbet (Cambridge: Cambridge University Press, 1. 32 Kant. On History, ed. Beck, trans. Beck. Anchor, and E. Fackenheim (Indianapolis: Bobbs-Merril, 1. 33 Arendt. Lectures, 7. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 lisan-tulisannya. Memang, untuk beberapa tulisannya yang pendek dan populer. Kant kelihatan seperti menganggapnya remeh. 34 Karena itu, dalam pandangan Arendt, tulisan-tulisan bertema ylsafat politik itu bukanlah traktat ylsafat yang serius, karena, demikian Arendt. AuKant sendiri menganggap tulisan-tulisan tersebut hanyalah Aopermainan dengan ideideAo atau Aopetualangan demi kesenangan belakaAo. Au35 Arendt juga beranggapan bahwa kebanyakan tulisan politik Kant itu, sebagaimana dalam kedua kumpulan tulisan yang disebut di atas, sebenarnya lebih terfokus kepada sejarah, dan oleh karena itu Kant seakan-akan Aumenggantikan ylsafat politik menjadi ylsafat sejarah. Au36 Berdasarkan alasan-alasan itulah Arendt mengambil kesimpulan berani bahwa AuKant sendiri tidak mengganggap tulisan-tulisannya tentang politik itu sangat serius. Au37 Dan dengan alasan itulah Arendt mengabaikan tulisan-tulisan Kant mengenai politik dan justru menggali ylsafat politik dari ylsafat keindahan Kant. Pada kalimat terakhir kutipan di atas kita membaca pengakuan Arendt mengenai pengaruh buku Jaspers kepadanya. Yang dimaksud di sini adalah buku Jaspers yang berjudul Die grossen Philosophen. Arendt mengakui bahwa interpretasinya atas Kant juga dipengaruhi oleh pembahasan mengenai pertimbangan menurut Kant dalam buku tersebut. Di situ Jaspers menekankan peranan penting pertimbangan reyektif dibandingkan kesebelas pertimbangan lainnya. Pada dasarnya, demikian Jaspers, berdasarkan penggunaan teoretisnya, ada dua pertimbangan penting, yakni pertimbangan reyektif dan pertimbangan determinatif. Pertimbangan determinatif adalah pertimbangan di mana yang universal . isalnya hukum, konsep, prinsip, atau kategor. terberi dan kemudian 34 Misalnya tulisan pendek berjudul Mutmasslicher Anfang der Menschengeschichte (Dugaan Mengenai Permulaan Sejarah Umat Manusi. disebutnya sebagai Aysebuah perjalanan pesiar belakaAy . ine bloye Lustreis. , sementara tulisan tentang Rechtslehre disebut AumembosankanAy, sedangkan Zum ewigen Frieden disebut Aubernada ironis. Ay Lihat Kant. Mutmasslicher Anfang der Menschengeschichte. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel (Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1. A 2, 85. 35 Arendt. Lectures, 7. Frase yang diberi tanda kutip dalam kutipan ini adalah pengakuan Kant sendiri mengenai tulisan-tulisannya yang membahas tema politik. 36 Arendt. Lectures, 8. 37 Arendt. Lectures, 7. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. yang partikular . ebagai obje. dimasukkan ke dalamnya. Misalnya dalam putusan Aubenda ini adalah buku. Ay Dalam putusan tersebut, benda sebagai objek dideterminasi atau dimasukkan ke dalam konsep buku. Sementara itu, pertimbangan reyektif adalah pertimbangan di mana objek partikular terberi sementara yang universal tidak tersedia. Subjek masih harus mencari yang universal untuk diatributkan kepada objek. Kant mengatakan bahwa pertimbangan reyektif penting bukan hanya dalam ilmu alam tetapi juga dalam ylsafat transendental. Mengapa? Bukan hanya karena pertimbangan ini mengatributkan sifat universal kepada objek, misalnya melalui penalaran abduksi, induksi atau reyeksi, tetapi juga karena pertimbangan ini mengandaikan kemampuan intelektual subjek untuk menemukan predikat bagi objek. Misalnya, dalam putusan Aubunga ini indahAy, sifat indah tidak terdapat secara empiris pada bunga Sifat tersebut ditemukan subjek melalui reyeksi dan diatributkannya kepada objek dalam pertimbangan. Dengan argumen inilah Jaspers, dengan mengikuti Kant dalam Kritik der Urteilskraft-nya, menekankan pentingnya pertimbangan reyektif dalam pertimbangan estetis, yakni pertimbangan mengenai cita rasa . 38 Dan inilah yang membuka jalan kemudian bagi Arendt untuk menyejajarkan pertimbangan estetis dengan pertimbangan politik. Dalam sebuah konferensi di Toronto tahun 1972, dia mengakui. Aualasan mengapa saya sangat tertarik kepada Kritik Atas Daya Pertimbangan bukanlah karena saya tertarik kepada estetika, tetapi karena saya percaya bahwa cara kita mengatakan Aoini benar,Ao Aoitu salahAo tidaklah berbeda dari cara kita mengatakan Aoini indahAo. Aoini jelekAo. Artinya, di sini kita diajak untuk melihat fenomena di hadapan kita secara langsung tanpa sistem apapun yang diasumsikan sebelumnya. Dan silahkan, termasuk sistem saya sendiri. Ay39 38 Mengenai ulasan Jaspers atas konsepsi Kant mengenai putusan, lihat Karl Jaspers. The Great Philosophers. The Foundation, ed. Hannah Arendt, terj. Ralph Mannheim (New York: A Helen and Kurt Wolff Book, 1. , 288-289. 39 Elisabeth Young-Bruehl. Hannah Arendt. For the Love of the World, 452. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Pernyataan Auini benarAy atau Auitu salahAy mengacu ke pertimbangan moral atau politis, sementara pernyataan Auini indahAy atau Auini jelekAy mengacu ke pertimbangan estetis. Di mana letak kesamaan kedua pertimbangan tersebut? Arendt berpandangan, struktur kedua pertimbangan tersebut sama, yakni sama-sama bersifat reyektif. Dalam pertimbangan ini, yang terberi kepada kita hanya objek, misalnya karya seni atau peristiwa politik tertentu, sementara sifat atau prinsip yang mau diatributkan kepada objek tidak terberi. Karena itu, baik dalam pertimbangan estetis maupun politis, subjek masih harus melakukan reyeksi untuk kemudian menemukan sifat atau prinsip untuk diatributkan kepada objek. Dengan bertolak dari estetika Kant, yang nanti masih akan saya jelaskan secara singkat. Arendt kemudian mereyeksikan lebih lanjut kekhasan pertimbangan reyektif. Yang khas dalam pertimbangan ini, dan yang secara esensial membedakannya dari berbagai jenis pertimbangan lainnya, adalah tidak adanya konsep atau norma sebagai acuan yang dapat diterapkan kepada objek. Konsep tersebut masih harus dicari oleh subjek melalui reyeksi. Inilah yang disebut Arendt dengan berpikir tanpa standar . hinking without baniste. 41 Dalam berpikir tanpa standar atau pegangan, subjek juga tidak dapat mengacu ke tradisi, norma, hukum atau konstitusi, sebab bila demikian hanya maka pertimbangan itu menjadi bersifat Tetapi alasan Arendt di sini bukanlah alasan logis semata. Kalau ia mengatakan bahwa dalam pertimbangan reyektif atau politis tidak ada norma atau nilai dapat dijadikan acuan, itu sesuai dengan pandangannya mengenai politik. Lebih khusus lagi, pengalamannya tentang politik. Tragedi-tragedi politik yang dibicarakan Arendt, seperti rezim-rezim totaliter nasionalisme-sosialisme Hitler atau fasisme Mussolini, sama sekali 40 Maksud Arendt dan Kant di sini tidak boleh disalahpahami. Setiap pertimbangan atas objek empiris tentu bersifat reyektif, artinya, kita harus menemukan atribut untuk objek itu. Pertimbangan reyektif yang dimaksud Arendt di sini adalah pertimbangan di mana argumen untuk pertimbangan tersebut tidak pernah bersifat logis konseptual, sebagaimana dalam putusan determinatif. Pengertian pertimbangan reyektif ini akan dijelaskan lebih jauh dalam pembahasan mengenai hakikat pertimbangan nanti. 41 Arendt. Thinking Without Banister. Essays in Understanding 1953-1975. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. tidak memiliki preseden dalam sejarah. Karena itu fenomena politik tersebut tidak dapat dinilai dengan mengacu ke pengalaman historis. Selain ituAikembali dengan mengacu ke pengalaman Arendt sendiriAipertimbangan dengan mengacu kepada norma atau bahkan konstitusi juga tidak membantu sebab hal-hal tersebut bisa saja justru membenarkan politik yang mau dikritik. Dalam kasus Nazi Hitler misalnya, kita tentu saja tidak dapat menilai rezim tersebut dengan mengacu ke konstitusi atau norma yang saat itu berlaku sebab semua itu justru membenarkan tindakan Hitler. Eichmann misalnya, berdasarkan pengakuannya sendiri, melakukan segala kejahatannya sebagai petinggi rezim Nazi berdasarkan ketaatan terhadap kewajiban yang justru sangat ditekankan oleh Kant dalam ylsafat moralnya. Inilah alasan Arendt untuk memasukkan tema politik ke dalam pertimbangan reyektif, sebagaimana Kant dalam estetikanya. Dalam menilai peristiwa politik. Arendt menuntut kita, sebagaimana dalam kalimat terakhir kutipan di atas, untuk melihat fenomena politik di hadapan kita secara langsung tanpa sistem atau nilai apapun yang diasumsikan sebelumnya. Bahkan, seperti ditegaskannya sendiri, kita juga tidak boleh mengasumsikan pemikiran Arendt. Dan dengan mengacu ke pengakuan Eichmann, ajaran moral Kant juga tidak boleh! Lantas, bila kita tidak dapat menilai politik dengan asumsi atau norma tertentu, apakah yang menjadi acuan penilaian kita? Di sinilah Arendt mengacu ke fakultas apriori dalam diri manusia, yakni sensus communis. Dengan sensus communis, yang nanti masih akan saya bicarakan, maka kita melakukan pertimbangan dengan secara imajinatif menempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: bagaimana kira-kira orang lain, bahkan semua orang lain, mengambil keputusan dalam kasus ini? Dalam Lectures. Arendt menulis. AuTema Kritik Atas Daya Pertimbangan Ae yang partikular, apakah itu fakta alami atau sebuah peristiwa dalam sejarah. fakultas pertimbangan sebagai fakultas 42 Eichman menegaskan hal ini ketika diinterogasi oleh polisi Israel. Lihat. Eichmann in Jerusalem, 135-136. Lebih jauh mengenai ketaatan Eichmann ini masih akan dibahas DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 mental manusia yang berkaitan dengan yang partikular itu. manusia merupakan syarat berfungsinya fakultas ini. Inilah insight di mana manusia tergantung dari sesamanya bukan hanya karena mereka memiliki tubuh dan kebutuhan ysik tetapi justru karena fakultas mental merekaAisemua topik ini memiliki signiykansi politik yang sangat penting, artinya, sangat penting dalam politikAiinilah pokok perhatian Kant jauh sebelum ia akhirnya, setelah menyelesaikan proyek ylsafat kritisnya Ay43 Berdasarkan alasan itulah, senada dengan surat kepada Jaspers di atas. Arendt menegaskan dalam Denktagebuch-nya. Agustus 1957. Aubahwa ylsafat politik Kant yang sebenarnya muncul dari pembahasan tentang fenomena keindahan. Ay44 PERTIMBANGAN ESTETIS PADA KANT Bagaimana Arendt menafsirkan ylsafat keindahan Kant menjadi sebuah ylsafat politik? Sebelumnya kita telah melihat interpretasi idiosinkratik Arendt untuk mengabaikan ylsafat politik Kant. Gaya interpretasi serupa juga dijalankannya dalam menafsirkan ylsafat keindahan Kant. Interpretasi itu terdapat dalam buku Lectures. Perlu ditambahkan, karena Arendt tidak sempat menulis bagian ketiga buku The Life of Mind yang sedianya membahas tema pertimbangan . , maka kita hanya dapat mengetahui pemikiran ylsuf ini mengenai pertimbangan berdasarkan gagasan yang dituangkan dalam Lectures. Teks buku yang terbit anumerta ini berasal dari kuliah Arendt pada New School for Social Research, musim 43 Arendt. Lectures, 14. 44 Arendt. Denktagebuch, 575. 45 Lima hari sebelum meninggal. Arendt baru saja menyelesaikan buku jilid kedua The Life of the Mind, yang membahas tema Willing. Buku ini dimaksudkan terdiri dari tiga jilid yang masing-masing membahas: Thinking. Willing dan Judging. Ia bermaksud melanjutkan penulisan jilid ketiga. Ketika ia meninggal, orang menemukan kertas kosong di mesin tiknya. Di kertas itu, yang pasti ditulis antara Sabtu dan Kamis . November Ae 4 Desember 1. hanya ada tiga baris tulisan singkat: AuThe Life of the Mind. Part i. JudgingAy dan dua epigraf dari penyair Romawi. Cato, dan dari Faust karangan Goethe. Lihat Postface dari editor. Mary McCarthy, untuk buku Arendt yang terbit anumerta. The Life of the Mind, 241-242. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. Interpretasi Arendt atas ylsafat keindahan Kant juga unik. Sebenarnya secara sistematik tidak tepat kalau dikatakan bahwa Arendt menafsirkan ide estetika Kant. Barangkali lebih tepat kalau dikatakan bahwa Arendt menggunakan pemikiran Kant mengenai ylsafat keindahan untuk membangun teorinya sendiri mengenai pertimbangan dalam politik. Arendt tidak membaca estetika Kant dengan cukup ketat. Bahkan, dari 14 sesi perkuliahan yang membentuk buku Lectures, hanya 4 sesi yang berbicara mengenai estetika Kant. Arendt juga tidak membahas empat momen pertimbangan estetis . akni momen kuantitas, kualitas, relasi dan modalita. yang merupakan inti reyeksi Kant mengenai estetika. Karena itu, dalam interpretasi Arendt, tidak mudah melihat di mana ylsafat Kant berhenti dan di mana ylsafat Arendt bermula. Di sini saya hanya akan menggariskan secara ringkas reyeksi estetis Kant untuk memperlihatkan akar-akar kantian ylsafat politik Arendt. Dalam Kritik atas Daya Pertimbangan. Kant mengatakan bahwa keindahan adalah Aupertimbangan mengenai cita rasaAy . udgment of taste. Geschmacksurtei. 46 Frase ini harus dipahami dengan tepat. Kant tidak mengatakan bahwa dalam hal estetika, kita mempertimbangkan objek. Kalau kita melihat sebuah lukisan, pertimbangan estetis tidak melakukan pertimbangan atas lukisan itu, melainkan atas persepsi kita atas lukisan Pertimbangan atas persepsi atas objek, apakah objek itu indah atau tidak indah, itulah yang disebut cita rasa. Masalah yang muncul kalau pertimbangan estetis menyangkut objek itu sendiri, lengkap dengan properti-propertinya, adalah bahwa pertimbangan itu merosot menjadi pertimbangan empiris objektif. Dan bila demikian, maka pertimbangan estetis bisa diusut, diperdebatkan dan dianalisa secara empiris, objektif dan pasti dengan mengacu ke atribut-atribut objek itu sendiri. Padahal soal keindahan tidak dapat diperlakukan demikian. 46 Kant. Kritik der Urteilskraft. Werke in Zehn Bynden. Wilhelm Weischedel (Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1. Paragraf 1. B 3/A 3. 47 Bahwa pertimbangan estetis hanya menyangkut persepsi atas objek, dan bukan objek itu sendiri beserta properti-propertinya, itu juga sejalan dengan teori pengetahuan Kant. Dalam Kritik der reinen Vernunft. Kant telah memperlihatkan ketidakmungkinan untuk mengetahui objek pada dirinya sendiri . kita hanya dapat mengetahui objek sebagaimana terberi kepada kita melalui kategori-kategori keindrawian (Sinn- DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Implikasi dari pertimbangan yang bukan atas objek, melainkan atas persepsi atas objek ini, adalah sentralnya peranan subjek dalam penilaian Istilah cita rasa sendiri telah mengimplikasikan subjektivitas. Dan Kant memang mengatakan bahwa dasar dari keseluruhan pertimbangan estetis adalah subjektivitas. Secara konkret, subjektivitas yang dimaksud di sini adalah perasaan . Gefyh. Pertimbangan estetis adalah pertimbangan mengenai perasaan. Itu berarti pertimbangan estetis bukanlah pertimbangan logis yang dapat diargumentasikan dengan kaidah-kaidah logis rasional. AuPertimbangan mengenai cita rasa bukanlah pertimbangan kognitif, dan karena itu ia tidak logis, melainkan estetis, yang berarti bahwa dasar yang mendeterminasi petimbangan itu tidak bisa lain daripada subjektif,Ay tulis Kant. Namun, menariknya, perasaan yang dimaksudkan Kant di sini tidak boleh dipahami sebagai perasaan subjektif personal belaka. Ketika saya membuat pertimbangan estetis dengan mengatakan Aubunga itu indahAy, pertimbangan itu tidak semata-mata didasarkan atas perasaan subjektif saya pribadi, sebab bila demikian, maka pertimbangan itu merupakan pertimbangan psikologis, dan bukan lagi pertimbangan estetis. Dan justru karena tidak didasarkan atas perasaan pribadilah maka pertimbangan estetis memiliki klaim universal sekalipun ia didasarkan atas subjektivitas. Bagaimana mungkin pertimbangan bersifat subjektif tetapi sekaligus universal? Jawabannya terdapat dalam pengertian momen kuantitas dalam pertimbangan estetis. Di sini Kant mengatakan bahwa keindahan adalah AuKesenangan yang bersifat universal. Ay AuYang indah adalah apa yang menyenangkan secara universal, tanpa konsep,Ay tulisnya. 49 Sebelichkei. yang kemudian diproses oleh kategori-kategori transendental pikiran (Verstan. Uraian lebih jauh mengenai hal ini lihat. Fitzerald K. Sitorus. Das transzendentale Selbstbewusstsein bei Kant. Zu Kants Begriff des Selbstbewusstseins im Lichte der Kritik der Heidelberger Schule (Hamburg: Dr. Kovac Verlag, 2. , 94 dst. 48 Kant. Kritik der Urteilskraft. Paragraf 1. B 3/A3, 279. Di sini kita melihat konsistensi epistemologis Kant, yakni bahwa semua pengetahuan mengenai dunia eksternal terpusat pada subjek, dan bukan pada objek. 49 AuSchyn ist das, was ohne Begriff allgemein gefyllt. Au dalam Kritik der Urteilskraft. Paragraf 9. B 32/A 32, 298. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. lumnya, dalam momen kualitas. Kant telah mengatakan bahwa keindahan adalah kesenangan yang tanpa kepentingan. Pertimbangan estetis harus tanpa kepentingan, sebab bila dalam pertimbangan itu terkandung kepentingan maka ia menjadi pertimbangan etis, karena yang dinilai adalah cocok tidaknya objek tersebut terhadap kepentingan. Karena pertimbangan itu tanpa kepentingan, maka pertimbangan atas objek itu tidak tergantung dari kondisi-kondisi personal saya. Dalam memberikan pertimbangan estetis itu saya AubebasAy, tidak dipengaruhi oleh perasaan atau kondisi empiris saya sendiri. Dan karena bebas, maka saya dapat mengatributkan penilaian serupa kepada orang lain. Artinya, kalau orang lain juga menilai objek itu tanpa kepentingan, maka ia pun akan menghasilkan penilaian serupa dengan penilaian saya. Dengan demikian, penilaian saya yang tanpa kepentingan dan subjektif itu memiliki klaim universal. Dan sifat indah atau tidak indah yang terungkap dalam pertimbangan itu seakan-akan merupakan karakteristik objektif objek Dengan demikian, penilaian estetis yang tadinya subjektif itu memperoleh klaim universalitasnya. Kant menyebut ciri putusan estetis kuantitatif ini sebagai Auuniversalitas subjektifAy. Ia memang didasarkan atas perasaan subjektif, tetapi karena tanpa kepentingan, maka perasaan itu dapat universal. Karena itu Kant mengatakan bahwa keindahan itu menyenangkan secara universal. Dalam momen modalitas (Modality. Kant mengatakan bahwa keindahan adalah Aukesenangan yang niscaya. Ay AuYang indah adalah apa yang sama sekali tanpa konsep diakui sebagai objek kesenangan yang niscaya,Ay 50 Keindahan secara niscaya berelasi dengan kesenangan (Wohlgefalle. Kita umumnya senang melihat objek yang indah. Tetapi keniscayaan di sini tidak bersifat teoretis atau objektif, sebab bila demikian maka saya akan tahu secara apriori bahwa setiap orang akan merasakan perasaan yang sama dengan saya dalam menilai sebuah objek. Dalam pertimbangan estetis, kita tidak dapat menjamin bahwa setiap orang akan memberikan penilaian yang sama. Keniscayaan di sini, kata Kant, hanya 50 AuSchyn ist, was ohne Begriff als Gegenstand eines notwendigen Wohlgefallens erkannt wird,Ay dalam Kritik der Urteilskraft. Paragraf 22. B 67/A67, 324. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 bersifat eksemplar. Auyakni sebuah keniscayaan mengenai persetujuan dari semua orang terhadap sebuah pertimbangan yang dianggap sebagai contoh dari sebuah aturan universal yang tidak dapat dinyatakan. Ay51 Artinya, ketika saya mengatakan bahwa sesuatu itu indah maka saya, karena tanpa kepentingan, dapat mengklaim bahwa semua orang lain juga seharusnya mengatakan itu sebagai indah. Keberlakuan klaim ini mengandaikan sebuah prinsip universal, dan salah satu contoh prinsip tersebut adalah putusan yang saya buat itu. Tetapi karena prinsip tersebut bukanlah prinsip logis maka ia harus dianggap sebagai sebuah Aupengetahuan umumAy . in Gemeinsinn, sensus communi. , yakni Auefek yang muncul dari permainan bebas kemampuan pengetahuan kita. Ay 52 Karena itu. Aucita rasa adalah sejenis sensus communis,Ay tulis Kant. Kant mengatakan bahwa keberadaan sensus communis yang merupakan fondasi pertimbangan estetis ini tidak dapat dibuktikan, tetapi ia diandaikan sebagai kondisi yang niscaya bagi kemungkinan untuk mengkomunikasikan pertimbangan estetis. Tanpa sensus communis itu, pertimbangan estetis tidak dapat dikomunikasikan. Kant menegaskan bahwa kita harus mengakui kemungkinan untuk mengkomunikasikan pertimbangan estetis itu secara universal, meski pertimbangan tersebut tidak bisa diargumentasikan secara logis-konseptual, dan karena itu sensus communis adalah pengandaian untuk komunikabilitas (Mittelbarkei. pertimbangan estetis. Inilah inti gagasan Kant mengenai estetika yang ditafsirkan Arendt menjadi ylsafat politik. Di sini kita melihat beberapa konsep yang kemudian dielaborasi Arendt dalam ylsafat politiknya, misalnya subjektivitas dan sekaligus universalitas pertimbangan, ketiadaan standar pertimbangan, sensus communis, komunikabilitas pertimbangan, dan lain-lain. Dengan alasan-alasan inilah Arendt menganggap bahwa ylsafat politik Kant terdapat dalam ylsafat keindahannya. Dalam esai berjudul The Cri51 Kant. Kritik der Urteilskraft. Paragraf 18. B 63/A 62, 320. 52 Kant. Kritik der Urteilskraft. Paragraf 20. B 65/A64, 321. 53 Kant. Kritik der Urteilskraft. Paragraf 40. B 156/A 154, 388. 54 Kant. Kritik der Urteilskraft. Paragraf 21. B 66/A 65, 322. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. sis in the Culture . , ia menulis: AuKapasitas untuk pertimbangan secara khusus adalah kemampuan politis persis dalam arti yang dimaksudkan oleh Kant, yakni kemampuan untuk melihat objek bukan hanya dari sudut pandang sendiri, melainkan dalam perspektif semua orang yang Bahkan pertimbangan ini mungkin adalah salah satu kemampuan manusia yang paling fundamental sebagai mahluk politis sejauh pertimbangan tersebut memampukan dia untuk mengorientasikan dirinya dalam bidang politik, dalam dunia bersamaAiini adalah pengetahuan yang hampir setua pengalaman politik itu sendiri. Au55 HAKIKAT PERTIMBANGAN MENURUT ARENDT Arendt mengatakan bahwa pertimbangan adalah kapasitas pikiran yang paling penting. Itu karena pertimbangan berkaitan langsung dengan status manusia sebagai mahluk politis. Dalam melakukan pertimbangan, katanya, kita telah selalu mengandaikan kehadiran orang lain, atau melihat objek yang sedang dipertimbangkan dari sudut pandang orang lain. Dan itulah arti politis menurut Arendt, yakni Aumelihat objek dari berbagai sudut pandang. Ay56 Tetapi perlu diingat bahwa objek yang dilihat di sini adalah objek partikular untuk kemudian, melalui reyeksi, sebuah predikat universal diatributkan kepadanya. Mempertimbangkan adalah Aufakultas untuk memikirkan yang partikular,Ay tulis Arendt. Mempertimbangkan, dengan demikian, berbeda dari berpikir . Berpikir, kata Arendt, pada dasarnya sama dengan berdialog dengan diri sendiri. Dalam mempertimbangkan, sekalipun saya sendirian, saya telah selalu mengantisipasi kehadiran orang lain. Dalam berpikir, kita berdialog dengan diri sendiri setelah Audengan sengaja menarik diri dari dunia penampakanAy . eliberate withdrawal from appearance. 58 Menarik diri dari dunia penampakan maksudnya mengabaikan keanekaragaman penampakan untuk kemudian memahami penampakan itu da55 Arendt. AuThe Crisis in Culture,Ay dalam Between Past and Future, 221. 56 Hannah Arendt. Was ist Politik? Fragmente aus dem Nachlass (Mynchen. Zyrich: Piper, 1. , 96. 57 Arendt. Lectures, 76. 58 Arendt. The Life of Mind, 75. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 lam bentuk konsep. Itulah yang disebut dengan representasi. Bila kita berpikir tentang kuda, misalnya, kita mengabaikan keanekaragaman penampakan kuda empiris dengan ciri partikularnya masing-masing. Kita menghadirkan kuda dalam pikiran kita dalam bentuk konsep . Konsep itu ada dalam pikiran kita. Karena itu dikatakan bahwa berpikir sama dengan berdialog dengan diri sendiri. Justru karena tindakan berpikir selalu menggunakan konsep, setelah kita menarik diri dari dunia penampakan, maka kebenaran dalam berpikir dapat diuji dan diargumentasikan secara logis dan rasional tanpa mengacu ke realitas empiris. Berpikir, dengan demikian, sama sekali tidak politis. ia egois. Sama seperti pertimbangan estetis Kant. Arendt mengatakan bahwa pertimbangan politis bukan pertimbangan logis rasional. AuJika Anda mengatakan Aumawar itu indahAy. Anda tidak tiba pada kesimpulan itu dengan pertama-tama mengatakan. Ausemua bunga adalah indah, bunga ini mawar, dan oleh karena itu mawar itu indah,Ay tulis Arendt. 60 Dalam pertimbangan logis rasional seperti ini, kita tidak membutuhkan subjektivitas, sebagaimana pertimbangan politis dan estetis. Arendt mengatakan, dalam pertimbangan estetis Aumawar ini indahAy, keindahan bukanlah properti objektif bunga tersebut. Klaim mengenai keindahan bunga itu tidak terletak pada realitas bunga tersebut. Sebab bila keindahan itu terletak secara objektif pada bunga maka realitasnya akan dapat diperdebatkan atau dipastikan, sebagaimana dalam putusan logis rasional. Dalam putusan estetis, bunga itu indah karena hasil pertimbangan memutuskan Di situ terletak dimensi subjektivitas pertimbangan. Arendt juga membedakan antara pertimbangan . dan akal budi praktis . raktische Vernunf. , sebagaimana Kritik kedua Kant. Dalam akal budi praktis, sebagaimana pertimbangan dalam ylsafat moral Kant, pikiran melakukan rasionalisasi untuk melakukan atau tidak melakukan Dengan pikiran, kita mereyeksikan apakah tindakan ini sesuai atau tidak sesuai dengan hukum moral. Acuannya adalah hukum moral. 59 Arendt. AuThe Crisis in Culture,Ay dalam Between Past and Future, 220. 60 Arendt. Lectures, 13-14. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. AuPertimbangan bukan rasionalitas praktis . ractical reaso. praktis mencari alasan . dan mengatakan kepada saya apa yang harus dan tidak harus dilakukan. rasionalitas ini menetapkan hukum dan itu identik dengan keinginan, dan keinginan menjadi perintah. muncul dalam bentuk imperatif. Sebaliknya, pertimbangan muncul dari Aukesenangan kontemplatif semata-mata atau cita rasa yang tidak aktif . ntytiges Wohlgefalle. Ay61 Di sini Arendt mengkritik Kant karena tidak berbicara mengenai pertimbangan partikular dalam ylsafat moralnya. AuPertimbangan partikularAiini indah, ini jelek. ini benar, ini salahAitidak memiliki tempat dalam ylsafat moral Kant,Ay tulisnya. 62 Filsafat moral Kant justru menekankan ketaatan terhadap hukum-hukum moral. Itulah yang disebut dengan etika kewajiban. Alasan inilah yang membuat Arendt menolak Kritik Akal Budi Praktis Kant karena terlalu menekankan ketaatan terhadap universalitas dan menggunakan yang universal untuk menilai yang partikular. Hal ini menjadi nyata dalam kasus Eichmann. Dengan sejumlah distingsi tersebut Arendt kemudian dapat memperlihatkan kekhasan pertimbangan reyektif atau politis. Bagaimana pertimbangan subjektif itu dapat melibatkan . orang lain dan karena itu bersifat politis? Jawaban Arendt, demikian: kalau kita mempertimbangkan sebuah objek partikular tanpa sama sekali melibatkan norma, asumsi atau nilai-nilai tertentu, maka dalam proses tersebut, sebagai manusia yang merupakan mahkluk sosial, kita pasti akan melakukan pertimbangan dengan melibatkan sensus communis. Sensus communis ini adalah ide atau pengertian . yang terdapat pada semua orang. Ini semacam shared values yang dimiliki oleh sebuah masyarakat dan secara praktis dimiliki oleh anggota komunitas. Kita misalnya tahu apa yang berterima atau ti61 Arendt. Lectures, 15. 62 Arendt. Lectures, 15. 63 Annelies Degryse. AuSensus Communis as a Foundation for Men as Political Beings: Arendt`s Reading of Kant`s Critique of Judgment,Ay dalam Philosophy and Social Criticism, 2011. Vol. , 345-358. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 dak berterima dalam masyarakat di mana kita berada. Sensus communis itu ada dalam diri kita secara apriori. Ia terbentuk berdasarkan interaksi dengan sesama. Karena itu, dalam sensus communis, secara ontologis, orang lain telah hadir. Artinya, ketika kita melakukan pertimbangan maka dengan sendirinya kita telah mempertimbangkan bersama-sama dengan anggota komunitas lainnya. Dengan alasan itulah Arendt mengatakan bahwa pertimbangan itu, sebagaimana putusan estetis, bersifat politis. Di sini kita melihat gaung putusan subjektif universal dalam estetika Kant. Dalam Lectures Arendt menulis: Orang melakukan pertimbangan selalu sebagai seorang anggota sebuah komunitas, yang dipandu oleh pengertian komunitas, sebuah sensus communis. Tetapi, dalam analisa terakhir, seseorang adalah anggota sebuah komunitas dunia berdasarkan fakta bahwa dia adalah inilah eksistensi kosmopolitan seseorang. Karena itu ketika seseorang melakukan pertimbangan dan ketika seseorang bertindak dalam urusan politik, orang diharapkan berpedoman dari ide, bukan dari aktualitas, sebagai seorang warga dunia dan oleh karena itu sebagai seorang penonton dunia (Weltbetrachte. Kutipan ini sangat padat dan telah mengandung visi Arendt mengenai Di sini Arendt mengatakan bahwa dalam dalam urusan politik kita harus berusaha memperluas cakrawala pikiran kita hingga mencakup seluruh umat manusia . nlarged mentalit. Maksudnya kita tidak boleh bertindak picik dengan hanya memperhitungkan kepentingan egois, kelompok, suku, bangsa atau entitas lainnya . ensus privatu. Kita harus membayangkanAibukan melihat fakta . ngat Arendt mengatakan ide, dan bukan fakt. Aibahwa kita adalah warga dunia. Karena itu, dalam urusan politik kita harus bertanya, misalnya, apakah pertimbangan saya ini akan disetujui oleh orang lain? Tetapi. Arendt mengharapkan, istilah orang lain di sini tidak hanya mencakup satu, dua, atau tiga orang, melainkan sebanyak mungkin, bahkan kalau boleh mencakup seluruh umat 64 Arendt. Lectures, 75-76. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. Di sini kita melihat dimensi kosmopolitan pemikiran Arendt dan juga Kant. Saya masih akan mendiskusikan konsep sensus communis lebih jauh dalam bagian akhir karangan ini. Sekarang kita masih perlu melihat lebih dekat struktur konseptual pertimbangan. Apa yang terjadi ketika kita melakukan pertimbangan? Dan bagaimana pertimbangan itu bekerja? OPERASIONALISI PERTIMBANGAN: IMAJINASI DAN REFLEKSI Dalam sesi kedua belas Lectures. Arendt menulis. Ada dua aktivitas mental dalam pertimbangan. Yang pertama adalah aktivitas imajinasi, di mana orang mempertimbangkan objek yang tidak lagi hadir, yang telah dicerabut dari persepsi indrawi langsung dan oleh karena itu tidak lagi mempengaruhi seseorang secara langsung. Tetapi sekalipun objek itu telah dicerabut dari indra luar . utward sense. kita, objek itu sekarang menjadi objek bagi indra dalam . nner sens. Aktivitas imajinasi mempersiapkan objek untuk Auaktivitas reyeksiAy. Dan aktivitas kedua iniAireyeksiAiadalah aktivitas mempertimbangkan yang sesungguhnya. Kutipan ini perlu diuraikan agar kita memahami konsepsi Arent mengenai pertimbangan. Pertimbangan bertolak dari sebuah objek partikular, entah itu karya seni atau peristiwa politis. Seperti telah kita lihat sebelumnya, di sini yang terberi hanya objek partikular, sementara yang universal, yang akan menjadi atribut objek itu belum tersedia. Kita sebagai subjek yang melakukan pertimbangan masih harus melakukan reyeksi, sesuai dengan pengertian pertimbangan reyektif. Kita dapat mengajukan pertanyaan kritis: mengapa pertimbangan sepertinya menjadi rumit dalam pandangan Arendt? Apa alasan untuk kerumitan tersebut? Tidakkah cukup bahwa kita melakukan penilaian terhadap objek partikular yang kita hadapi? Mengapa harus ada imajinasi, lalu reyeksi, hingga nanti sensus communis? 65 Arendt. Lectures, 68. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Jawabannya kembali kepada kekhasan pertimbangan partikular tersebut, yakni pertimbangan di mana yang terberi adalah yang partikular, sementara yang universal tidak terberi. Yang universal, yang menjadi sifat atau predikat dari yang partikular, itu masih harus dicari oleh subjek. Di sinilah kesulitan logis pertimbangan reyektif. AuKesulitan menjadi besar jika hanya yang partikular yang terberi, kepadanya yang umum atau universal harus ditemukan,Ay tulis Arendt dengan menutip pernyataan Kant dari Kritik der Urteilskraft. 66 Yang universal itu tidak mungkin diturunkan dari yang partikular yang sedang dipertimbangkan. Misalnya, dari sebuah lukisan tidak mungkin kita menurunkan predikat AuindahAy. Juga tidak mungkin diturunkan dari pengalaman, sebab pengalaman juga selalu Kita juga tidak mungkin menimbang yang partikular melalui yang partikular lainnya. Juga tentu saja tidak mungkin menurunkan yang universal itu dari luar objek partikular yang kita hadapi. Lalu dari mana yang universal tersebut harus diturunkan? Di mana dia harus dicari? AuAgar dapat menentukan nilai dari yang partikular, saya membutuhkan tertium quid atau tertium comparationis, sesuatu yang berhubungan kepada dua yang partikular namun berbeda darinya,Ay tulis Arendt. Istilah tertium quid (Ausesuatu yang ketigaA. atau tertium comparationis (Auyang ketiga dalam perbandinganA. dalam kutipan di atas adalah istilah Latin yang memaksudkan sebuah kualitas tertentu yang sama-sama dimiliki oleh dua objek partikular yang mau diperbandingkan. Itulah yang masih harus dicari dalam pertimbangan. Pernyataan Auwaktu itu uangAy misalnya memiliki tertium comparationis, yakni kelangkaan. kelangkaan-lah yang sama-sama terdapat dalam uang dan waktu sehingga kita mengatakan waktu itu uang. Kapasitas untuk menarik perbandingan demikian, kata Arendt, dimungkinkan melalui imajinasi. Berkat imajinasi kita dapat menciptakan sebuah tertium comparationis yang menghubungkan dua entitas yang tidak saling berhubungan. Pertimbangan yang mengatakan Autotalitarianisme itu jahatAy misalnya memiliki tertium compara66 Arendt. Lectures, 76. Teks dicetak miring adalah kalimat Kant sendiri yang dikutip Arendt. 67 Arendt. Lectures, 76. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. tionis seperti kebebasan atau hak-hak asasi manusia. Arendt mengatakan bahwa syarat kemungkinan pertimbangan adalah kapasitas manusia untuk menghadirkan secara imajinatif orang atau objek yang berfungsi sebagai contoh . dalam pertimbangan. Bagaimana imajinasi bekerja dalam proses pertimbangan politik? AuImajinasi,Ay kata Arendt. Auadalah kemampuan menghadirkan objek yang Ay68 Dalam rumusan teknis, imajinasi melakukan representasi atas Representasi artinya menghadirkan kembali. Dalam teks singkat yang berjudul Imagination, yang ditulis untuk seminar tentang Kritik der Urteilskraft pada musin gugur 1970. Arendt menulis. Auimajinasi adalah fakultas untuk merepresentasikan dalam intuisi sebuah objek yang tidak hadir. Atau. Ayimajinasi . acultas imaginand. adalah fakultas untuk mempersepsi atas objek yang absen. Ay69 Artinya, dengan imajinasi, kita melakukan persepsi atas objek yang tidak hadir. AuJika saya menghadirkan-kembali dalam pikiran apa yang absen, saya memiliki image dalam pikiran sayaAiimajinasi dari sesuatu yang telah saya lihat dan sekarang saya hadirkan kembali. Ay70 Jadi dalam imajinasi juga terdapat tindakan untuk mempersepsi, yakni persepsi atas image objek dalam pikiran. Seperti diungkapkan Arendt dalam kutipan di atas, melalui imajinasi, sebuah objek seakan-akan dicerabut dari eksistensi empirisnya. ditransformasi dari objek indra menjadi objek pikiran . nner sens. Dalam kondisi demikian, objek itu tidak lagi mempengaruhi subjek secara langsung, karena ia telah dicerabut dari eksistensi empirisnya. Yang dipersepsi subjek sekarang bukan lagi objek itu sendiri, melainkan objek yang telah ditransformasi menjadi image dalam pikiran. Karena objek itu sekarang ada dalam diri subjek dalam bentuk image, maka Aureyeksi dilakukan bukan atas objek, melainkan atas representasinya. Objek yang direpresentasikan itu sekarang menimbulkan perasaan senang . atau tidak senang . , perasaan tersebut tidak lagi muncul dari 68 Arendt. Lectures, 65. 69 Arendt. Lectures, 79. 70 Arendt. Lectures, 79 DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 persepsi langsung atas objek. Kant menyebut ini Aoaktivitas reyeksiAo,Ay tulis Arendt. Kita perlu memahami uraian Arendt di sini, terutama mengenai pencerabutan objek dari kondisi empirisnya untuk ditransformasi menjadi image dan selanjutnya menjadi objek persepsi dalam pikiran. Alur proses representasi ini ditekankan oleh Arendt untuk memperlihatkan sesuatu yang penting dalam proses tersebut. Dengan menguraikan proses itu lebih mendetail. Arendt membuka ruang untuk berbicara mengenai salah satu konsep penting dalam putusan politis, yakni imparsialitas pertimbangan berdasarkan posisi subjek sebagai penonton . Imparsialitas ini menjadi syarat bagi putusan politis yang adil dan objektif, atau, dalam terminologi putusan estetis Kant. Auputusan yang tanpa kepentingan. Ay AuDengan menghapuskan objek . ari kondisi empirisny. , kita telah menciptakan kondisi imparsialitas,Ay tulis Arendt. Tatkala objek telah dipersepsi dalam bentuk image dalam pikiran, maka objek empiris tidak lagi mempengaruhi subjek secara langsung. Kita juga seakan-akan tidak memiliki kepentingan lagi terhadapnya karena kita tidak melihatnya secara langsung. Kita seakan-akan menutup mata terhadapnya. Di sini subjek mendistansiasi dirinya dari objek, sehingga dapat melihat objek secara keseluruhan dari kejauhan tertentu. Objek yang terberi melalui indera itu dipadatkan dan diabtraksikan dalam pikiran. Dengan ini terbukalah kondisi bagi ketidak-memihakan . dan tanpa kepentingan . yang sangat penting bagi pertimbangan. AuDengan menutup mata, orang menjadi penonton imparsial yang tidak lagi dipengaruhi secara langsung oleh objek-objek yang dapat dilihat. Ay73 Pada titik ini Arendt kemudian berbicara mengenai distingsi antara aktor dan spektator dalam pertimbangan. Aktor adalah subjek yang melakukan pertimbangan tanpa imajinasi. Pertimbangannya memihak, 71 Arendt. Lectures, 65. 72 Arendt. Lectures, 67. 73 Arendt. Lectures, 68. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. tidak objektif, karena ia berpartisipasi, terlibat, dan dipengaruhi oleh objek yang dipertimbangkannya. Sementara spektator adalah subjek yang melakukan pertimbangan melalui imajinasi. Dia berjarak dari objek yang dipertimbangkannya, dan karena itu pertimbangannya objektif, tidak Spektator dapat melihat objek secara keseluruhan, sementara penglihatan aktor terbatas karena melihat dari sudut pandang bagiannya Tulis Arendt. Hanya spektator-lah yang menduduki posisi yang memampukannya melihat keseluruhan. aktor, karena ia adalah bagian dari permainan, harus menjalankan bagiannyaAiper deynisi, ia memihak . Spektator, per deynisi, imparsialAitidak ada bagian . yang ditugaskan Oleh karena itu, menarik diri dari keterlibatan langsung dan berada pada titik tertentu di luar permainan adalah condition sine qua non untuk semua pertimbangan. Arendt mengatakan lebih lanjut: Hanya apa yang menyentuh dan mempengaruhi seseorang dalam representasiAiketika orang tidak lagi dipengaruhi melalui kehadiran langsungAiketika orang tidak terlibat, seperti spektator yang tidak terlibat dalam tindakan aktual Revolusi PerancisAimaka hal itu dapat diputuskan sebagai benar atau salah, penting atau tidak penting, indah atau buruk, atau sesuatu di antaranya. Dalam kondisi demikian, orang dapat berbicara mengenai pertimbangan dan bukan lagi cita rasa, sebab, sekalipun objek itu dapat mempengaruhi seseorang seperti dalam cita rasa, orang dapat, berdasarkan representasi, menciptakan jarak tertentu, keberjarakan atau ketidakterlibatan atau ketidak-memihakan, yakni syarat yang dibutuhkan untuk persetujuan atau ketidaksetujuan, untuk mengevaluasi sesuatu sesuai dengan nilai Di sini Arendt memaksudkan bahwa pertimbangan yang objektif atas sebuah objek partikular hanya dapat dilakukan jika subjek tidak terlibat dan berada pada jarak tertentu dari objek, menjadi spektator. 74 Arendt. Lectures, 55. 75 Arendt. Lectures, 67 DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Keberadaan objek sebagai image dalam pikiran itu menjadi syarat bagi operasi reyeksi. Apa yang direyeksikan dan bagaimana reyeksi berlangsung? Arendt mengatakan bahwa momen reyeksi adalah momen pertimbangan yang sesungguhnya. Disebut demikian karena di sini reyeksi dilakukan atas hasil penilaian inner sense terhadap image objek. Inner sense, demikian Arendt, akan segera menjatuhkan penilaian atas image objek itu. Misalnya, apakah kita senang . atau tidak senang . atas image itu. Ini semacam perasaan intuitif spontan yang muncul dalam diri subjek atas image tersebut. Bahkan subjek juga tidak memiliki kontrol atas perasaan spontan tersebut. Tetapi kemudian subjek akan mempertimbangkan hasil penilaian inner sense itu untuk mengambil keputusan apakah menyetujuinya atau tidak. Pada momen reyeksi inilah terletak inti dari proses pertimbangan. Jadi perasaan langsung dan segera yang muncul ketika image objek itu dipersepsikan kembali ditundukkan di bawah operasi kedua, yakni operasi reyeksi. Aktivitas kedua yang menjalankan pertimbangan untuk menyetujui . atau tidak menyetujui . perasaan senang atau tidak senang . ang muncul dari perasaan langsung dan seger. itu akan menghasilkan perasaan senang . atau tidak senang . tahap kedua. Arendt menulis demikian: Dalam kesenangan . tahap dua ini bukan objek itu yang membuat kita senang, melainkan bahwa kita mempertimbangkan objek itu Jika kita menghubungkan ini kepada keseluruhan alam atau dunia, kita dapat mengatakan: kita senang bahwa dunia atau alam ini menyenangkan kita. Tindakan persetujuan itu menyenangkan, sementara tindakan tidak menyetujui itu tidak menyenangkan. Pertanyaan terpenting berikutnya tentu saja: bagaimana kita memilih atau memutuskan apakah setuju atau tidak setuju terhadap perasaan senang atau tidak senang tersebut? Apa acuannya? Jawabannya atas pertanyaan ini membawa Arendt kepada konsep terpenting yang hendak saya perkenalkan dalam tulisan ini: sensus communis. 76 Arendt. Lectures, 69. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. IV. SENSUS COMMUNIS SEBAGAI TITIK TOLAK PERTIMBANGAN Kita sudah melihat sekilas pengertian sensus communis dalam uraian sebelumnya. Sensus communis adalah kapasitas mental yang membuat kita dapat tampil sebagai mahluk sosial. Kemanusiaan kita terletak dan dijamin oleh sensus communis itu. Tanpa sensus communis maka kita bukan mahluk sosial. Di sini perlu ditekankan bahwa Kant membedakan antara sensus communis sebagai common sense dan sensus communis sebagai community sense. Istilah common sense berarti sense yang sama pada setiap orang dalam pribadinya masing-masing. Tetapi bukan itu yang dimaksud oleh Kant. Dengan menggunakan istilah Latin. Kant mengindikasikan bahwa di sini yang dimaksudkan adalah sesuatu yang berbeda: sebuah pengertian ekstra . n extra sens. Aiseperti kapabilitas mental ekstra (Jerman: Menschenverstan. Aiyang membuat kita cocok ke dalam sebuah komunitas. AuPemahaman yang sama sebagai manusia A itulah yang paling minimal untuk diharapkan dari siapapun yang mengklaim diri manusia. Sensus communis adalah kapabilitas yang membedakan manusia dari hewan dan dari dewa-dewa. Kemanusiaan manusia itulah yang termanifestasikan dalam sensus communis ini,Ay demikian Arendt menjelaskan dengan cukup distingtif konsep sensus communis Kant. Kata sense dalam frase sensus communis, dengan demikian, tidak tepat jika diterjemahkan dengan AuindraAu. Mungkin lebih ditepat diterjemahkan dengan pengertian. jadi semacam pengertian umum sebagai sesama manusia atau pengertian yang dimiliki oleh komunitas. Karena kita memiliki sensus communis maka kita dapat hidup wajar dalam sebuah masyarakat. Kita dapat bergaul, berkomunikasi dengan sesama, memiliki empati, dan tenggang rasa. Kita tahu apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh orang lain. Sekalipun tidak sedemikian konkret dan jelas, kita juga memiliki pengertian tertentu mengenai batas-batas kewajaran dalam masyarakat di mana kita berada. Penggunaan istilah gila atau waras juga 77 Arendt. Lectures, 70 DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 ditentukan oleh sensus communis. Orang gila atau tidak waras tetap dapat berkomunikasi dengan orang lain tetapi dengan cara yang tidak sesuai dengan sensus communis. Orang demikian akan dianggap aneh atau sakit . Sensus communis adalah sebuah fakultas manusiawi yang bersifat apriori, dan memungkinkan Ausensasi dari kelima indra privat saya . cocok dengan dunia bersama yang dibagi dengan . hared worl. orang lain,Ay tulis Arendt. Dalam bagian pertama buku The Life of the Mind yang membahas tema berpikir . Arendt membahas sensus communis ini secara cukup mendetail dengan mengacu ke Aquinas dan Kant. Di situ, dengan mengikuti Aquinas, ia mengatakan bahwa sensus communis itu adalah sejenis indera keenam . ixth sens. yang mempersatukan kelima indera dan menjamin bahwa apa yang kita lihat, sentuh, cium, dengar dan kecap adalah objek yang satu dan sama. Sensus communis itu adalah Ausebuah fakultas yang menjangkau semua objek dari kelima indera. Ay79 Dengan pengertian demikian. Arendt mengatakan bahwa sensus communis adalah indera dalam . nner sense, sensus interio. dan berfungsi sebagai Auakar bersama dan prinsip indera luar. Au80 Dengan kata lain, sistem panca indera luar kita dapat berfungsi sebagai satu kesatuan karena keberadaan sensus Arendt menekankan status ontologis sensus communis dalam kemanusiaan kita dengan mengatributkan sifat apriori pada fakultas ini. Sebagaimana pada Kant, apriori artinya mendahului segala pengalaman, atau tidak diperoleh melalui pengalaman, tetapi justru menjadi syarat transendental bagi terjadinya pengalaman. Sebuah fakultas apriori artinya sudah terberi . dengan sendirinya. 81 Pada konteks Arendt, sifat apriori sensus communis terletak pada fungsinya sebagai syarat berbagai aktivitas kita sebagai manusia, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Dengan menyebutnya apriori maka Arendt hendak menekankan sifat ke78 Arendt. The Life of the Mind, 50. 79 Arendt. The Life of the Mind, 50. 80 Arendt. The Life of the Mind, 51. 81 Kant. KdrV. B 1, 2. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. terberian sensus communis ini dalam diri kita sebagai manusia. Ia bahkan mengatakan, dalam frase yang kedengarannya terlalu empiris dan ysikal, bahwa sensus communis ini sebagai bagian dari Ausistem biologis kitaAy . ur biological apparatu. Sekalipun sensus communis itu sudah terdapat secara apriori dalam diri kita. Arendt menekankan bahwa fakultas ini baru dapat berfungsi secara aktif melalui interaksi dan komunikasi dengan sesama. AuKehidupan bersama dalam komunitas dengan sesama mengembangkan sensus communis (Gemeinsin. ,Au tulisnya. 83 Artinya, sensus communis tidak berkembang dalam isolasi atau kesendirian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sensus communis memang telah terkandung dalam diri setiap manusia, tetapi ia berupa potensi, yang baru akan berkembang atau dapat berfungsi secara aktual melalui interaksi dengan sesama. Aktualitas sensus communis melalui interaksi ini persis memperlihatkan dimensi Jadi, kemanusiaan manusia sebagai mahluk sosial dimungkinkan oleh sensus communis. Dengan mengikuti Kant. Arendt mengatakan bahwa kita menjadi mahluk sosial bukan karena kita saling membutuhkan dalam hal ysik, tetapi karena fakultas mental sensus communis. Fakultas mental itu memperlihatkan interdependensi kita dengan sesama. 85 Sensus communis dengan demikian telah mempostulatkan pluralitas, dan karena itu ia bersifat politis. Sensus communis-lah yang membuat mengapa politik menjadi sangat mendasar dalam kehidupan kita. Kita hanya menjadi manusia karena politik. Karena itu, pernyataan mengapa manusia mem82 Arendt. The Life of the Mind, 52. 83 Arendt, yuber das Byse. Eine Vorlesung zu Fragen der Ethik (Mynchen: Piper, 2. , 143. 84 Pengertian apriori di sini agak berbeda dengan pengertian Kant. Pada Arendt, apriori lebih berarti potensi yang sudah terberi dalam diri kita sebagai manusia, yang baru akan berkembang melalui interaksi. Potensi itu dapat mati atau tergerus jika tidak Pengertian demikian tidak terdapat dalam konsepsi Kant, sebagaimana disinggung pada alinea sebelumnya. Lebih jauh mengenai pengertian apriori pada Kant, lihat Sitorus. Das transzendentale Selbstbewusstsein bei Kant, 74-76. 85 AuManusia saling tergantung dari sesamanya bukan hanya karena mereka memiliki tubuh dan kebutuhan ysik, tetapi persis karena fakultas mental mereka,Ay tulis Arendt dengan mengikuti Kant, dalam Arendt. Lectures, 14. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 bentuk komunitas politis, negara atau masyarakat, jawabannya adalah karena sensus communis. Politik atau pluralitas merupakan ontologi kemanusiaan kita. Dalam In The Promise of Politics. Arendt menulis. AuManusia tidak hanya eksis secara plural sebagaimana semua mahluk duniawi lainnya, melainkan memiliki indikasi pluralitas ini di dalam dirinya. Ay 86 Pendek kata, sensus communis itulah syarat kemungkinan zoon politikon. Karena politik sudah terkandung dalam diri kita dalam bentuk sensus communis, maka pada dasarnya tidak ada manusia yang a-politis. Kalaupun dalam kenyataan ada manusia yang tidak mau tahu dengan politik, atau melakukan pertimbangan hanya dengan melibatkan sudut pandangnya belaka, itu adalah manusia yang Aukurang manusiaAy. Maksudnya, sensus communis orang tersebut tidak berkembang. Ke dalam kelompok ini termasuk orang egois, picik, berpandangan sempit. Dia mungkin sama dengan penderita autisme yang hidup dalam sensus privatus-nya sendiri. Arendt mengutip uraian Kant dalam bukunya yang berjudul. Anthropology from Pragmatic Point of View. AuKant A mencatat dalam Anthropology-nya bahwa kegilaan . adalah kondisi hilangnya sensus communis ini yang memampukan kita melakukan pertimbangan sebagai spektatorAAy87 Kemampuan untuk melakukan pertimbangan dengan mengacu ke sensus communis, dengan demikian, bukan persoalan kecerdasan intelektual, juga bukan soal pengetahuan akan kebenaran logis dan rasional. Itu adalah soal kemauan dan kemampuan untuk berimajinasi, untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Seperti telah disinggung sebelumnya, melalui imajinasi kita dapat membebaskan diri dari sensus privatus atau ideologi, pandangan keagamaan dan sudut pandang primordial lainnya yang mengungkung pandangan kita, dan dengan demikian memungkinkan kita mencapai imparsialitas yang penting bagi pertimbangan. Kemampuan itu juga tidak dapat diajarkan secara teoretis, melainkan harus dilatih terus menerus melalui pembiasaan diri untuk berdialog dengan orang 86 Arendt. The Promise of Politics (New York: Schocken Books, 2. , 22. 87 Arendt. Lectures, 64. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. Karena itulah kita sering melihat banyak orang pintar dan cerdas secara intelektual tetapi gagap atau gagal dalam pengambilan keputusan menyangkut masalah-masalah publik. Dengan kepintaran atau kecerdasan orang dapat menjalankan pertimbangan determinatif dengan baik, yakni dengan menerapkan konsep universal dalam pikiran kepada yang partikular, sementara dalam urusan politis yang paling penting adalah pertimbangan reyektif, di mana orang berusaha menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dalam momen reyeksi atas perasaan senang atau tidak senang yang muncul dalam diri itu, konsep sensus communis sebagaimana diuraikan di ataslah yang menjadi acuan. Kita harus menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, membandingkan pertimbangan kita dengan kemungkinan pertimbangan orang lain. Kita harus bertanya: bagaimana kira-kira pertimbangan orang lain mengenai hal ini? Tanpa imajinasi maka pertimbangan hanya akan ditentukan oleh pandangan-pandangan sempit, picik, ideologis dan egois. Imajinasi dan sensus communis akan membawa kita melampaui keterbatasan pikiran dan sudut pandang kita. Tindakan menempatkan diri dalam posisi orang lain ini disebut Arendt, dengan mengikuti Kant. Aumentalitas yang diperluasAy . nlarged Tetapi Arendt menegaskan bahwa Auorang lainAy yang dimaksud di sini bukan sekadar orang-orang di sekitar saya, atau anggota komunitas di mana saya berada, melainkan sedapat mungkin mencakup seluruh umat manusia. Jadi. Arendt mengharapkan bahwa dalam melakukan pertimbangan politis kita harus selalu memperluas cara berpikir kita dengan secara imajinatif membandingkan pertimbangan kita hingga mencakup pertimbangan kolektif umat manusia. Dengan demikian, melalui sensus communis kita bergerak memperluas wawasan kita dan mengambil perspektif sebagai penonton dunia . orld spectato. Pertimbangan kita bukan lagi pertimbangan egois dan picik, melainkan pertimbangan dalam skala global yang mencakup seluruh umat manusia. Di sini kita kembali melihat gaung imperatif kategoris Kant yang mengatakan agar kita selalu bertindak berdasarkan maksim yang dapat menjadi hukum DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 AuInilah maksim sensus communis: Berani berpikir sendiri . aksim Penceraha. Posisikan dirimu dengan berpikir dalam posisi setiap orang lainnya . aksim mentalitas yang diperlua. ,Ay tulis Arendt. 88 Di sini perlu ditambahkan bahwa penempatan diri sendiri dalam posisi semua orang lainnya ini . nlarged mentalit. tidak sama dengan konsep phronesis Aristoteles, dan juga tidak sama dengan sikap empati atau simpati. Aristoteles memahami phronesis sebagai kemampuan negarawan untuk mengambil keputusan yang paling baik bagi semua kalangan, sementara konsep enlarged mentality Arendt berarti kemampuan warga negara untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. 89 Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, sementara dengan enlarged mentality Arendt memaksudkan kemampuan untuk melihat kembali dunia sebagaimana orang lain melihatnya. SENSUS COMMUNIS DAN UJI PUBLIK Bagaimana kita tahu bahwa putusan kita sesuai dengan sensus communis? Bagaimana kita tahu putusan kita tepat secara politis? Cukupkah bahwa kita melakukan pertimbangan dengan mengacu ke sensus communis? Arendt mengatakan, tidak. Tidak cukup bahwa kita melakukan pertimbangan dengan memperkirakan kemungkinan pertimbangan orang lain atau dengan menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Menurut Arendt, hasil pertimbangan kita masih perlu diuji oleh orang lain, baik secara lisan maupun tertulis. Karena itu, bagi Arendt, kultur perdebatan dan diskusi sangat penting dalam kehidupan politis. Di situ tentu termasuk kebebasan berbicara, berpikir serta pers yang bebas. Tetapi Arendt mengingatkan bahwa dalam perdebatan politis, tujuan perdebatan bukan terutama untuk mempengaruhi orang lain atau untuk menghilang88 Arendt. Lectures, 71. 89 Shmuel Lederman. AuFrom Kant to Eichmann: How Kant Led Arendt to the Banality of Evil,Ay dalam: History of Political Thought. Vol. XLIV. No. Summer 2023, 375. David L. Marshall. The Origin and Character of Hannah Arendt`s Theory of Jugdment. 90 Seyla Benhabib. AuHannah Arendt and the Redemptive Power of Narrative,Ay dalam: Hannah Arendt. Critical Essays, ed. Lewis P. Hinchman and Sandra K. Hinchman (New York. Albany: State University of New York, 1. , 121. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. kan perbedaan pendapat, melainkan untuk melakukan tes atas setiap pendapat sehingga kualitas dan kapasitas setiap pertimbangan dapat dipertanggung-jawabkan secara politis. Melalui perdebatan kita dapat melihat pendapat mana yang lebih baik untuk kepentingan bersama. Arendt menekankan. AuKant percaya bahwa kemampuan berpikir sangat tergantung pada penggunaan pikiran secara publik. tanpa Aopengujian bebas dan terbuka,Ao tidak ada pikiran dan tidak ada pembentukan opini yang mungkin. Akal budi kita tidak dibuat untuk mengisolasi dirinya melainkan untuk terlibat dalam komunitas dengan orang lain. Au 91 Frase Aupenggunaan akal budi secara publikAy . he public use of reaso. menjadi salah satu konsep penting dalam ylsafat politik kontemporer. Filsuf seperti Jyrgen Habermas dan John Rawls menggunakan konsep ini sebagai sendi teori mereka. Kehidupan demokrasi mengandalkan penggunaan akal budi secara publik. Etika diskursus Habermas berdiri di atas prinsip ini. 92 Konsep Kant yang diangkat kembali oleh Arendt dan diaktualkan oleh Habermas ini sekarang dipandang sebagai salah satu syarat dan ukuran kehidupan politik demokratis yang sehat: setiap orang berhak untuk berbicara dan menyatakan pendapat serta isi pikirannya di ruang publik. AuOrang tidak dapat belajar tanpa publisitas, tanpa test yang muncul dari pertemuan dengan pikiran orang lain,Ay tulis Arendt. Lebih jauh lagi. Kant dan Arendt melihat the public use of reason ini bukan sekadar masalah politik, tetapi juga masalah moral. Di sini Arendt memahami moralitas sebagai kesesuaian antara wilayah privat dan publik. Melakukan pertimbangan dengan semata-mata bertolak dari maksim privat dan mengabaikan sensus communis, itu adalah kejahatan menurut Arendt. AuKejahatan ditandai oleh penarikan diri dari kehidupan publik. Moralitas berarti layak untuk dilihat, dan bukan hanya oleh manusia 91 Arendt. Lectures, 40 92 Lihat misalnya. Jyrgen Habermas. AuReconciliation Through the Public Use of Reason,Ay dalam The Journal of Philosophy. Maret, 1995, vol. 92, no. 3, 109-131. 93 Arendt. Lectures, 42. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 tetapi juga, pada akhirnya, oleh Tuhan. Sang Maha Mengetahui isi hati . er Herzenskundig. ,Ay demikian Arendt. EICHMANN DAN KETIDAKBERPIKIRAN Adolf Eichmann adalah sosok penting dalam reyeksi Arendt mengenai politik. Eichman adalah contoh yang baik untuk pertimbangan yang buruk karena tidak bertolak dari sensus communis. Melalui kasus Eichmann juga Arendt mengubah pandangannya mengenai kejahatan: dari the radical evil menjadi the bananality of evil. Sebagaimana diketahui. Eichmann adalah salah seorang petinggi rezim Nazi yang bertugas untuk menyediakan fasilitas dan logistik guna mendeportasi jutaan orang Yahudi dari berbagai negara Eropa ke kampkamp konsentrasi. Ia juga bertanggung jawab atas pelaksanaan proses pembunuhan orang Yahudi di negara-negara Eropa yang diduduki Jerman. Setelah rezim Nazi ambruk pada 1945. Eichmann ditangkap pasukan Sekutu. Tetapi, dengan memalsukan identitas, ia kemudian dapat melarikan diri dari tahanan perang Sekutu di Jerman. Selama beberapa tahun ia hidup di Jerman dengan identitas palsu. Tahun 1950, berkat bantuan organisasi yang membantu para buronan Nazi. Eichmann memperoleh paspor Argentina dan tinggal di Buenos Aires dengan nama palsu Ricardo Klement. Anak dan istrinya kemudian menyusul ke Argentina. Selama masa penyamaran itu. Klement atau Eichmann melakoni berbagai pekerjaan antara lain di pabrik mobil Mercedes-Benz di Buenos Aires. Pada 11 Mei 1960 ia ditangkap dinas rahasia Israel Mossad melalui sebuah operasi intelijen yang sangat menegangkan, kemudian diselundupkan ke Israel dan diadili di Jerusalem pada 11 April hingga 15 August 1961. Eichman dituduh melakukan 15 bentuk kejahatan, antara lain Aukejahatan terhadap orang Yahudi, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan selama seluruh rezim Nazi, dan khususnya selama periode Perang Dunia 94 Arendt. Lectures, 49-50. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. II. Au Pada 15 Desember 1961 ia dijatuhi hukuman mati dan pada 31 Mei 1962 ia dihukum gantung. Tubuhnya dikremasi dan abunya ditaburkan di laut Mediterania di luar perairan wilayah Israel untuk mencegah kemungkinan orang mengenangnya dengan mengunjungi tempat tertentu yang dianggap sebagai kuburannya. Arendt meliput pengadilan Eichmann di Yerusalem dengan status sebagai reporter majalah The New Yorker. Dalam pengadilan itu, ia mengamati pembelaan dan pengakuan Eichmann sendiri mengenai kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya. Eichmann menyangkal seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa dia adalah korban dari ketaatan terhadap kewajiban. Ia mengakui bahwa dalam melakukan pekerjaannya ia selalu taat kepada perintah dan juga hukum. Hal ini berkali-kali ditekankannya kepada polisi dan hakim yang menginterogasinya. 97 Kalaupun dia hendak dipersalahkan, demikian Eichmann, kesalahannya Auhanya membantu dan mendukungAy . iding and abettin. pemusnahan orang Yahudi, yang diakuinya sendiri sebagai Ausalah satu kejahatan terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Au 98 Pengakuan Eichmann yang barangkali paling mengejutkan adalah ketika ia membawa-bawa ylsafat Kant dalam kejahatan yang dilakukannya. Dalam interogasi yang dilakukan oleh polisi dan juga hakim di pengadilan, pembicaraan berkembang hingga menyangkut ylsafat. Eichmann mengakui bahwa selama karier militernya dia selalu berusaha untuk mengikuti prinsip yang diajarkan Kant dalam ylsafatnya. Ketika polisi dan hakim bertanya prinsip mana yang dimaksudkannya. Eichmann menjawab Auimperatif kategoris KantAy. 99 Eichmann memang mengakui bahwa hingga saat itu dia belum sepenuhnya memahami imperatif 95 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 21. 96 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 249-250. 97 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 135. 98 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 22. 99 Tanya jawab antara polisi dan hakim dengan Eichmann, yang khusus menyinggung ylsafat Kant, dapat dibaca dalam Lord Russell of Liverpool. The Trial of Adolf Eichmann (London. Melbourne. Toronto. Heinemann, 1. , 246-247. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 kategoris Kant tetapi dia selalu berusaha menerapkan prinsip ketaatan terhadap kewajiban itu dalam hidupnya. Pengakuan dan pembelaan diri ini rupanya cukup meyakinkan Arendt. Dalam bukunya. Eichmann in Jerusalem, ia melaporkan proses pengadilan itu, mencatat pengakuan-pengakuan Eichmann dan menguraikan reyeksinya atas pengakuan tersebut. Arendt menemukan bahwa pada dasarnya Eichmann bukanlah orang jahat. Sekalipun ia terlibat dalam pembunuhan 6 juta orang Jahudi di Eropa, tetapi Auia bukan monster,Au101 tulis Arendt. Arendt bahkan melihat bahwa dalam hidupnya Eichmann adalah Auorang yang benar-benar bersyukur. Au102 Dalam diri Eichmann. Arendt juga tidak menemukan kebencian terhadap orang Yahudi. AuJelas dia tidak memiliki kebencian terhadap orang Yahudi, tidak menganut anti-semitisme fanatik atau indoktrinasi sejenisnya. Secara AopribadiAo dia tidak memiliki apapun yang memusuhi Jahudi. Justru sebaliknya, dia memiliki banyak Aoalasan pribadiAo untuk tidak menjadi pembenci Jahudi,Au tulis Arendt. 103 Alasan pribadi yang dimaksud di sini adalah bahwa dalam keluarga besar Eichmann juga terdapat keturunan Yahudi. Lantas mengapa Eichmann bisa terlibat dalam kejahatan yang sedemikian kejam? Jawaban Arendt sama dengan gagasannya yang telah diuraikan dalam tulisan ini: ketidakberpikiran dan ketiadaan imajinasi. 100 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 135-136. Mungkin karena ketidakpahaman tersebut maka Eichmann tidak dapat membedakan antara imperatif kategoris dan imperatif Dalam etika deontologinya. Kant memang menekankan ketaatan terhadap hukum moral, tetapi bukan terhadap hukum yang dibuat oleh orang tertentu. Perintah der Fyhrer Hitler bukanlah imperatif kategoris, melainkan imperatif hipotetis. Imperatif kategoris hanya menyangkut hukum/kewajiban moral. 101 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 54. 102 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 30. 103 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 26. 104 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 30. Kesimpulan Arendt ini sangat kontroversial. Bahkan tidak sedikit yang menuduh Arendt seorang anti-semitis karena pernyataannya yang bernada membela Eichmann, menyederhanakan tragedi Holocaust dan tidak memiliki simpati yang cukup terhadap kaum Jahudi, lihat antara lain Margaret Canovan. Hannah Arendt. A Reinterpretation of Her Political Thought (Cambridge: University Cambridge Press, 1. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. AuCacat yang lebih menentukan dalam karakter Eichmann adalah ketidakmampuannya yang hampir total untuk melihat apapun dari sudut pandang sesamanya. A Semakin lama kita mendengarkannya berbicara maka semakin jelas bahwa . ini terkait erat dengan ketidakmampuannya untuk berpikir, yakni berpikir dari sudut pandang orang lain. Ay105 Pada bagian lain Arendt menulis bahwa Au(Eichman. tidak bodoh. Hanya ketidakberpikiran-lah . Aidan ini sama sekali tidak sama dengan kebodohanAiyang membuatnya menjadi salah seorang kriminal terbesar dari zaman itu. Ay106 Fakta inilah inilah yang kemudian mendorong Arendt untuk mengubah tesisnya mengenai kejahatan. Sebelumnya, dalam The Origins of Totalitarianism, ia menyebutkan rezim-rezim totaliter sebagai radical evil. Tetapi, setelah mengikuti pengadilan Eichmann, ia meninggalkan tesis Perubahan itu diberitahukannya kepada sahabatnya. Gershom Scholem, seorang sejarahwan Yahudi yang juga mengecam tesis Arendt mengenai banalitas kejahatan. Arendt menulis. AuSaya mengubah pikiran saya dan tidak lagi berbicara mengenai Aokejahatan radikalAo . adical evi. Memang saya berpendapat bahwa kejahatan itu tidak pernah AoradikalAo , cuma kejahatan itu ekstrim, ia tidak pernah memiliki kedalaman juga tidak memiliki dimensi kejahatan. Ia dapat tumbuh liar dan merusak seluruh dunia justru karena ia menyebar seperti jamur di permukaan. Ay107 Tentang banalitas kejahatan. Arendt menulis demikian: Au. Eichmann itu cukup cerdas, tetapi dalam hal ini ia bodoh. Kebodohannya itu sangat keterlaluan, seakan-akan kita berbicara kepada tembok. Itulah sesungguhnya yang saya maksud dengan banalitas kejahatan. Tidak ada yang mendalam tentang hal itu Ai tidak ada yang jahat! Yang ada hanyalah ketidakmampuan untuk membayangkan apa yang sedang di- 105 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 47-49. 106 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 287-288. 107 Arendt. AuThe Eichmann Controversy: A Letter to Gershom Scholem,Ay dalam: The Jewish Writings, ed. Jerome Kohn and Ron H. Feldman (New York: Schocken Books, 2. , 471. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 alami oleh orang lain. Ay108 Jadi dalam pandangan Arendt, ketidakberpikiran atau ketidakmampuan menempatkan diri dalam posisi orang lain, adalah kejahatan. Arendt menutup bab terakhir Eichmann in Jerusalem demikian: AuEichmann sedang merangkum pelajaran yang telah diajarkan oleh kasus panjang ini tentang kejahatan manusiaAipelajaran tentang kejahatan yang mengerikan, yang melampaui kata-kata dan pikiran, yaitu banalitas kejahatan. Ay109 KESIMPULAN Barangkali Kant adalah ylsuf terpenting yang mempengaruhi pemikiran Arendt, tetapi Hegel adalah ylsuf yang menunjukkan kepada Arendt bagaimana ylsafat harus dikerjakan. Hegel mengatakan bahwa Auylsafat adalah zaman yang ditangkap dalam pikiran. Au110 Dan itulah yang persis dilakukan Arendt dalam ylsafatnya. Arendt mereyeksikan tragedi-tragedi politik yang terjadi pada zamannya di mana ia sendiri turut menjadi korban. Tujuannya, sebagaimana dikatakannya dalam prolog The Human Conditions, adalah Autidak lain dari untuk memikirkan apa yang sedang kita lakukan. Au111 Hasilnya adalah sebuah ylsafat politik yang sangat menarik dan tampaknya selalu aktual. Kejahatan politik yang sedemikian ekstrim yang dilihat dan dialaminya sendiri itu mau tidak mau memaksa Arendt untuk tidak menganalisa politik berdasarkan pandangan metaysis, ideologi atau paham-paham tertentu yang abstrak, melainkan berdasarkan manusia konkret itu sendiri. Sebagaimana diuraikan dalam tulisan ini, 108 Arendt. AuAoAs if Speaking to a Brick WallAo: A Conversation with Joachim FestAy, in Thinking Without a Banister: Essays in Understanding, 1953Ae1975, 279. 109 Arendt. Eichmann in Jerusalem, 252. Suami Arendt. Heinrich Blycher, seorang pemikir dan penulis, adalah orang yang pertama sekali menggunakan istilah banalitas kejahatan untuk kasus Eichmann. Lihat surat Karl Jaspers kepada Arendt pada 13 Desember 1963, dalam: Hannah Arendt Ae Karl Jaspers Correspondence 1926-1969, 542. 110 AuSo ist auch die Philosophie ihre Zeit in Gedanken erfasst,Au tulis Hegel dalam Prakata untuk Grundlinian der Philosophie des Rechts. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. 7 (Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1. , 26. 111 Arendt. The Human Condition (New York: Anchor Books, 1. , 6. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. Arendt mencari fakultas yang mengkonstitusikan politik dalam diri manusia. Itulah pertimbangan dan sensus communis. Politik adalah manifestasi sensus communis melalui pertimbangan. Tanpa kemampuan untuk melakukan pertimbangan yang bertolak dari sensus communis, politik akan jatuh menjadi kejahatan. AuPropaganda totaliter dapat secara ekstrim menghina sensus communis hanya kalau akal sehat telah kehilangan kesahihannya,Au112 tulis Arendt. Filsafat Arendt adalah sebuah antropologi politik. Di sini kita melihat bahwa politik adalah ekspresi kemanusiaan kita sebagai mahluk sosial. Artinya, kualitas politik ditentukan oleh kualitas kemanusiaan kita. Kalau misalnya politik lebih banyak ditentukan oleh sensus privatus, dan bukan sensus communis, maka itu adalah tanda kegagalan kita sebagai mahluk politis. Antropologi politik ini menjadi kunci aktualitas pemikiran Arendt. Ia menjangkarkan politik pada kemanusiaan itu sendiri, dan oleh karena itu pemikiran-pemikiran politisnya selalu dapat membantu kalau kita mau memahami fenomena-fenomena politik yang terjadi. Sebagaimana diperlihatkan dalam artikel ini, antropologi politik Arendt sangat relevan dalam mendiagnosa sekaligus menolak tendensi-tendensi anti-politik dalam masyarakat kontemporer. Observasi Seyla Benhabib atas politik di Amerika Serikat memperkuat hipotesa ini. Ia mengatakan, setelah Donald Trump menang sebagai Presiden Amerika Serikat . , buku The Origins of Totalitarianism melambung menjadi best seller di AS karena pembaca ingin mengetahui ancaman-ancaman rezim dan politisi otoriter tidak hanya di AS tetapi juga di Hungaria. Turki. Brasil, dan India. Secara teoretis, pemikiran Arendt membawa angin segar dalam pemikiran politik. Arendt membangun pemikirannya dengan tidak bertolak dari tema-tema politik konvensional, seperti negara, kekuasaan, konstitusi, civil society, dan lain-lain, melainkan dari manusia itu sendiri 112 Arendt. The Origins, 352. 113 Seyla Benhabib. AuThinking without Banister,Ay The New York Review. Februari 24, 2022 Issue, https://w. com/articles/2022/02/24/thinking-without-banisters-hannah-arendt/ DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 dengan segenap kebebasan yang dimilikinya. Dengan alasan ini Arendt mungkin dapat dimasukkan ke dalam pemikir politik postmodern karena ia memberi peran besar kepada subjek yang bebas dalam melakukan tindakan politik tanpa harus selalu mengacu ke nilai-nilai atau norma Arendt mengatakan. Ausetiap generasi yang baru, bahkan setiap manusia baru ketika ia menegaskan dirinya antara masa lalu yang tidak terbatas dan masa depan yang tidak terbatas, harus menemukan dan dengan susah payah membuka jalan baru. Ay114 Arendt menekankan politik yang tidak bisa lagi bersandar atas nilai-nilai lama dan tradisional. Pendasaran politik atas sensus communis ini sangat relevan untuk dunia kita dewasa ini, tidak hanya di Tanah Air tetapi juga secara global. Teknologi komunikasi telah menghasilkan manusia-manusia yang semakin individualis dan semakin tealienasi satu sama lain. Sensus communis Ini juga sebagian menjelaskan munculnya rezim-rezim totaliter dewasa ini di berbagai negara yang bekerja melalui manipulasi publik secara politis, atau apa yang populer dengan post-truth. AuKemerosotan yang mencolok dalam sensus communis pada sebuah komunitas dan peningkatan yang mencolok dalam kepercayaan akan takhayul dan mudahnya orang tertipu . adalah tanda pasti dari alienasi dari dunia,Au tulis Arendt. 115 Tanpa sensus communis maka pertimbangan kita akan didasari oleh prasangka, ideologi atau sensus privatus. Masyarakat akan semakin mudah dimangsa oleh para pembentuk opini publik seperti buzzer atau inyuencer. Inilah salah satu pokok keprihatinan Arendt dalam ylsafatnya. Filsafat politik Arendt mengingatkan bahwa sensus communis terancam hilang dalam politik kontemporer. Padahal, sensus communis itu harus dibentuk, dipelihara dan dikembangkan bersama melalui komunikasi, pertukaran pikiran, dan dialog. Lewat hal-hal ini kita bisa saling memahami, mencari orientasi bersama dengan harapan mencapai pemahaman bersama. Dengan itu pula kita bisa melihat bahwa kekuasaan tidak pertama-tama terletak di tangan penguasa, melainkan di ta114 Arendt. Between Past and Future, 13. 115 Arendt. The Human Condition, 187. Bandingkanlah ini dengan fenomena mudahnya orang termakan hoax sekarang ini. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. ngan warga negara yang melakukan tindakan kolektif di ruang publik, membicarakan kepentingan bersama, melalui partisipasi dan pertukaran Politik bukanlah pertama-tama soal memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan, melainkan soal kemampuan menempatkan diri dalam posisi orang lain. Gagasan inilah yang membuat Arendt menjadi salah seorang pemikir politik paling populer dan berpengaruh pada abad ke-20 dan 21. DAFTAR RUJUKAN Arendt. The Life of the Mind. San DiegoOeNew YorkOeLondon: A Harvest Book, 1978. _________. Lectures on KantAos Political Philosophy. Chicago: The University of Chicago Press, 1992. _________. The Origins of Totalitarianism. ClevelandOeNew York: Meridian Books, 1958. _________. Eichmann in Jerusalem. A Report on the Banality of Evil. New York: Penguin Books, 1964. _________. Denktagebuch 1950 Ae 1973. Hg. Ursula Ludz und und Ingeborg Nordmann. Mynchen/Berlin. Piper Verlag, 2002. _________. Between Past and Future. New York: Penguin Books, 1993. _________. Responsibility and Judment, ed. Jerome Kohn. New York: Schocken Books, 2003. _________. Thinking Without Banister. Essays in Understanding 1953-1975. New York: Schocken Books, 2018. _________. The Promise of Politics. New York: Schocken Books, 2005. _________. AuThe Eichmann Controversy: A Letter to Gershom Scholem. Ay 116 Arendt mungkin satu-satunya ylsuf . endatipun ia menolak sebutan in. yang nama dan pemikirannya paling banyak dijadikan sebagai objek bagi pusat studi di universitas di berbagai negara, tidak hanya di Eropa dan Amerika Serikat, tetapi juga di negara-negara Amerika Latin. Bahkan universitas di Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Brasil memiliki pusat studi Hannah Arendt. Tahun 2006, di bawah pemerintahan presiden yang beraliran populis. Hugo Chavez, di Venezuela didirikan sebuah Observatorium Hannah Arendt. Pusat kajian serupa juga terdapat di universitas di Buenos Aires, lihat. Arendt-Handbuch, 400-401. Karya-karya Arendt dibaca dan dipelajari oleh orang-orang di luar lingkungan akademis. Pada 28 Mei 1975, beberapa bulan sebelum ia meninggal dunia, senator Joseph R. Biden. Jr . ang kemudian menjadi Presiden ke 46 Amerika Serikat, 2021-2. mengirim surat kepada Arendt, memohon agar Arendt berkenan mengirimkan kepadanya copy dari paper yang dibacakannya pada acara Boston Bicentennial Forum, lihat Arendt. Kant and the Enigma of Judgment, 13. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 The Jewish Writings, ed. Jerome Kohn and Ron H. Feldman. New York: Schocken Books, 2007. _________. Was ist Politik? Fragmente aus dem Nachlass. Mynchen-Zyrich: Piper, 1993. _________. The Human Condition. New York: Anchor Books, 1959. _________. yuber das Byse. Eine Vorlesung zu Fragen der Ethik. Mynchen: Piper, 2010. Aristoteles. The Politics of Aristotle. Trans. Peter L. Phillips Simpson. Chapel HillOeLondon: The University of North Carolina Press, 1997. Beiner. Ronald and Jennifer Nedelsky . Judgment. Imagination, and Politics. Themes from Kant and Arendt. Lanham: Rowman & Littleyeld Publishing, 2001. Benhabib. Seyla. AuHannah Arendt and the Redemptive Power of Narrative. Ay In Hannah Arendt. Critical Essays, ed. Lewis P. Hinchman and Sandra K. Hinchman. New York. Albany: State University of New York, 1994. _________. AuThinking without Banister. Ay The New York Review. Februari 24, 2022 Issue, https://w. com/articles/2022/02/24/ thinking-without-banisters-hannah-arendt/ Bertens. Filsafat Barat Kontemporer. Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia. Blumenthal-Barby. Martin. Arendt. Kant, and the Enigma of Judgment. Evanston. IL: Northwestern University Press, 2023. Canovan. Margaret. Hannah Arendt. A Reinterpretation of Her Political Thought. Cambridge: University Cambridge Press, 1992. Christoph. Menke. AuDignity as the right to have rights: Human dignity in Hannah Arendt. Ay In The Cambridge Handbook of Human Dignity: Interdisciplinary Perspectives, edited by M. Dywell, et al. Cambridge: Cambridge University Press, 2014. Degryse. Annelies. AuSensus Communis as a Foundation for Men as Political Beings: ArendtAos Reading of KantAos Critique of Judgment. Ay Philosophy and Social Criticism 37, no. Glass. Suzanne. https://w. uk/life-style/adolf-eichmann-is-a-historical-ygure-to-me-ricardo-eichmann-speaks-to-suzanne-glass-about-growing-up-the-fatherless-son-of-the-nazi-warcriminal-hanged-in-israel-1595146. Pertimbangan dan Sensus Communis (Fitzerald Kennedy Sitoru. Habermas. Jyrgen. AuReconciliation Through the Public Use of Reason. Ay The Journal of Philosophy 92, no. Hegel. Wissenschaft der Logik II. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1982. _________. Enzyklopydie der philosophischen Wissenschaften I. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1982. _________. Grundlinian der Philosophie des Rechts. Hegel Werke in zwanzig Bynden. Bd. Frankfurt/Main: Suhrkamp, 1982. Heuer. Wolfgang. Bernd Heiter und Stefanie Rosenmyller (H. Arendt-Handbuch. Leben-Werk-Wirkung. Stuttgart. Weimar: J. Metzler, 2011. Jaspers. Karl. The Great Philosophers. The Foundation, ed. Hannah Arendt, terj. Ralph Mannheim. New York: A Helen and Kurt Wolff Book,1957. Kant. Kritik der reinen Vernunft. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel. Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1968. _________. Kritik der Urteilskraft. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel. Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1968. _________. Kritik der praktischen Vernunft. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel. Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1968. _________. Mutmasslicher Anfang der Menschengeschichte. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel. Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1968. _________. Zum ewigen Frieden. Werke in Zehn Bynden. Bd. Hg. Wilhelm Weischedel. Darmstadt: Wiss. Buchgesellschaft, 1968. _________. KantAos Political Writings. Trans. Nisbet. Ed. Hans Reiss. Cambridge: Cambridge University Press, 1970. _________. On History. Trans. Beck. Anchor, and E. Fackenheim. Ed. Beck. Indianapolis: Bobbs-Merril, 1963. Kohler L. , and and H. Saner. Hannah Arendt. Karl Jaspers: Correspondence. San DiegoOeNew YorkOeLondon: A Harvest Book, 1992. Lederman. Shmuel. AuFrom Kant to Eichmann: How Kant Led Arendt to the Banality of Evil. Ay History of Political Thought. Vol. XLIV. No. Summer 2023. Lord Russell of Liverpool. The Trial of Adolf Eichmann. LondonOeMelbourneOeToronto: Heinemann, 1962. DISKURSUS. Volume 22. Nomor 1. April 2026: 1-53 Marshall. David L. AuThe Origin and Character of Hannah ArendtAos Theory of Judgment. Ay Political Theory 38, no. Rawls. John. Political Liberalism. New York: Columbia University Press. Sitorus. Fitzerald K. Das transzendentale Selbstbewusstsein bei Kant. Kants Begriff des Selbstbewusstseins im Lichte der Kritik der Heidelberger Schule. Hamburg: Dr. Kovac, 2018. Young-Bruehl. Elisabeth. Hannah Arendt. For the Love of the World. New HavenOeLondon: Yale University Press, 1982.