Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 FESTIVAL TUMPENG SEWU SEBAGAI PEMBANGUNAN IDENTITAS SUKU OSING BAGI GENERASI MUDA Rossa Yulvinda Eka Putri Universitas Negeri Surabaya, rossa. 18078@mhs. Sarmini Universitas Negeri Surabaya, sarmini@unesa. Abstrak Tradisi memiliki peran yang sangat signifikan sebagai pengikat sosial dan media pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti gotong royong, religiusitas, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab sering kali tercermin dalam berbagai tradisi lokal, seperti Tumpeng Sewu di Banyuwangi. Dalam pelaksanaannya bagi generasi muda banyak sekali yang masih menganggap bahwa tradisi tersebuh hanya sebuah acara tahunan dan masih kurang memaknai nilai karakter yang ada. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi Festival Tumpeng Sewu sebagai media membangun identitas suku osing dan hambatan-hambatan dalam pembangunan identitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini merupakan Ketua Adat Desa Kemiren dan Masyarakat Desa Kemiren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Tumpeng Sewu terdapat dua prosesi yang menjadi bagian daripada tradisi tersebut. Yang pertama, rangkaian upacara adat sebelum tradisi tumpeng sewu, diantaranya Mepe Kasur. Arak-arakan. Barong Kemiren dan Parade Obor atau Oncor kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Tradisi Tumpeng Sewu sendiri. Beberapa makna Tradisi Tumpeng Sewu yaitu sebagai pengungkapan rasa syukur desa terhadap Danyang Desa atau leluhur. Kemudian, sebagai simbol tali persaudaraan serta mempererat tali silaturahmi antara masyarakat Kemiren hingga warga pada umumnya serta menjadi simbol bahwa tradisi dari para nenek moyang tidak pernah tergerus zaman, meskipun modernisasi semakin menguasai pada saat ini. Tradisi Tumpeng Sewu dapat bertahan hingga kini karena anak-anak muda yang berada di Desa Kemiren memiliki rasa kepedulian serta rasa antusias yang sangat tinggi. Tradisi ini akan tetap ada karena tradisi lahir dari masyarakat Kemiren dan menyatu dengan masyarakat Kemiren juga. Kata Kunci: tradisi, festival, tumpeng sewu, identitas, suku osing, karakter Abstract Tradition plays a very significant role as a social bond and a medium for character education. Values such as mutual cooperation, religiosity, tolerance, discipline, and responsibility are often reflected in various local traditions, such as Tumpeng Sewu in Banyuwangi. In its implementation, many young people still consider the tradition to be just an annual event and still lack the meaning of the existing character values. This study uses a descriptive analysis research method. Data from this study were obtained from interviews, observations and The informants in this study were the Head of Kemiren Village Customs and the Kemiren Village Community. The results of this study indicate that in the Tumpeng Sewu tradition there are two processions that are part of the tradition. The first is a series of traditional ceremonies before the Tumpeng Sewu tradition, including Mepe Kasur. Parade. Barong Kemiren and Torch Parade or Oncor, then continued with the implementation of the Tumpeng Sewu Tradition itself. Some of the meanings of the Tumpeng Sewu Tradition are as an expression of the village's gratitude to the Danyang Desa or ancestors. Then, as a symbol of brotherhood and strengthening the ties of friendship between the Kemiren community and the general public and as a symbol that the traditions of the ancestors have never been eroded by time, even though modernization is increasingly dominating at this time. The Tumpeng Sewu tradition can survive until now because the young people in Kemiren Village have a sense of caring and a very high sense of enthusiasm. This tradition will continue to exist because the tradition was born from the Kemiren community and is also one with the Kemiren community. Keywords: tradition, festival, tumpeng sewu, identity, osing tribe, character. dengan menganut tradisi kultural beragam. Berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik, di September 2020 total populasi Indonesia sebanyak 270. 911 jiwa (SP2. dan juga menurut Badan Pusat Statistika 2010 jumlah suku bangsa di Indonesia sekitar 1. 340 suku bangsa. Jenis persebarannya juga sangat beragam di seluruh penjuru Setiap suku memiliki ragam budaya yang berbeda PENDAHULUAN Indonesia adalah sebuah bangsa yang mempunyai tingkat keanekaragaman dengan tinggi karena terdiri atas berbagai pulau, bermacam budaya, dan juga terdiri beberapa kondisi geografis yang beda pula. Bangsa Indonesia ialah bangsa meliputi sejumlah kelompok etnis Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing yang tentunya melekat pada diri masing masing warga Dan budaya atau tradisi ini pula menjadi suatu khas atau menggambarkan suatu kebiasaan dan karakter yang dimiliki masing masing suku tersebut (NaAoim & Syaputra, dalam Fernanda, 2. Kebudayaan merupakan suatu pola dari makna yang terjalin secara menyeluruh atau sebagai suatu sistem yang diwariskan dalam suatu simbol untuk melestarikan pengetahuan yang ada dalam kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung akan dilakukan rutin serta menjadi sebuah warisan dari para leluhur untuk generasi dikemudian hari (Geertz, dalam Yunus, 2. Kebudayaan tergolong dalam sejumlah komponen, meliputi: sistem linguistik, kerangka kemasyarakatan, keyakinan spiritual, instrumen serta perangkat teknologi, serta ekspresi artistik. Kesenian merupakan suatu sarana mengekspresikan perwujudan suatu keindahan yang ada dalam akal manusia yang juga memiliki nilai nilai historis dan menjadi suatu simbol (Koentjaraningrat, dalam Safitri, 2. Pada dasarnya budaya yang ada merupakan suatu warisan turun-temurun mengenai suatu cara agar hidup bersama serta berkembang yang dimiliki oleh suatu kelompok tersebut (Santoso dalam Syamsul Anam. Budaya lokal merupakan nilai, aktivitas, serta lambang dengan merepresentasikan dedikasi kolektif segenap komponen sosial untuk memajukan mutu edukasi (Mustakim dan Salman, 2. Tradisi dapat didefinisikan sebagai kumpulan praktik, kepercayaan, serta prinsip-prinsip dengab disalurkan secara turuntemurun antargenerasi dalam sebuah komunitas (Hobsbawm, 1. Tradisi berfungsi sebagai pengikat keberlangsungan identitas budaya suatu komunitas. Identitas budaya sendiri ialah konstruksi sosial yang mencerminkan kesadaran kolektif akan nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang membedakan suatu kelompok dengan kelompok lain (Hall, 1. Tradisi mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti upacara adat, seni, ritual keagamaan, pola komunikasi, hingga norma dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu komunitas. Dalam konteks Indonesia, tradisi memiliki peran yang sangat signifikan sebagai pengikat sosial dan media pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti gotong royong, religiusitas, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab sering kali tercermin dalam berbagai tradisi lokal, seperti Tumpeng Sewu di Banyuwangi (Zumaroh, 2. Erau di Kutai Kertanegara (Rohim, 2. , dan Ngaben di Bali (Geertz, 1. Tradisi ini bukan hanya sarana pelestarian budaya, tetapi juga alat untuk mentransmisikan nilai-nilai luhur kepada generasi muda melalui praktik nyata. Karakter ialah sejumlah sikap . , perilaku . , motivasi . , serta keterampilan . sesuai dengan diprakarsai Battistich . ikutip oleh Suwito 2008, dalam Titik Sunarti Widyaningsih dk. Karakter ini merupakan sikap, watak, perilaku yang terinternalisasi dari berbagai kebijakan yang diyakini sebagai sebuah cara pandang berperilaku dalam kehidupan sehari hari. Menurut Hills . 5, dalam Fatur Rochman 2. karakter membentuk kognisi serta tindakan individu. Karakter yang mulia termanifestasi sebagai dorongan intrinsik dalam mengimplementasikan kebenaran, selaras dengan tolok ukur perilaku etis yang paling luhur pada tiap kondisi. Dalam kaitannya pada nilai-nilai karakter, dengan Penguatan Pendidikan Karakter yang digulirkan sejak tahun 2016. Kemdikbud . mengidentifikasikan 5 nilai karakter utama bersumber dari Pancasila, yakni: . Religius, dengan mengedepankan keimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa melalui kepercayaan dengan . Nasionalis, ialah teknik berpikir, bertindak, dan berperilaku menunjukkan kesetiaannya terhadap bangsanya dan kepentingan bangsa menjadi hal utama dibandingkan dengan kepentingan diri sendiri maupun . Integritas, nilai yang menjadi dasar perilaku usaha dalam memposisikan diri menjadi individu dengan kredibel pada berbagai hal. Karakter integritasnya salah satunya meliputi komitmen akuntabilitas menjadi bagian dari komunitas bernegara. Mandiri, ialah pembawaan diri serta tindakan dengan tak bertumbuh di pada pihak yang lain serta memanfaatkan seluruh hal baik dalam segi pikiran, tenaga maupun waktu demi meraih apa yang di citacitakan. Gotong royong, mencerminkan menjadi entitas sosial dengan mutlak membutuhkan individu yang lain dalam kehidupannya dengan perilaku menghargai setiap kerja sama dalam menyelesaikan persoalan Kelima nilai karakter utama tersebut tidak serta merta dapat berdiri sendiri, namun juga masing masing diantaranya harus saling melengkapi serta saling berhubungan dalam evolusi dengan berkelanjutan. Selain itu, sekolah, masyarakat dan keluarga menjadi pusat perintegrasian hal tersebut. Ketiganya juga merupakan ekosistem pendidikan yang harus bersinegri dalam membentuk nilai nilai karakter yang ada. Identitas nilai karakter merupakan suatu sumber yang kuat bagi diri manusia yang disebabkan oleh kontruksi diri yang ada di dalam suatu kebudayaan atau tradisi. berbagai bentuk identitas yang ada juga disebut saling berhubungan dan Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 bersifat dinamis. Namun juga beberapa diantaranya bersifat exclusive atau saling tidak berinteraksi (Lawler, dalam Sri Utami, 2. Identitas yang ada semuanya merupakan suatu bentuk dari konstruksi sosial sehingga menjadi suatu makna dan juga menjadi sebuah pengalaman (Calhoun, dalam Utami, 2. Identitas menjadi sebuah pemikiran yang muncul ketika sesuatu atau seseorang memiliki perbedaan dari yang yang lain. Di Banyuwangi, khususnya pada Desa Kemiren Kecamatan Glagah sendiri nilai nilai adat, dan tradisi masih sangat kental dilakukan. Salah satunya ialah Tumpeng Sewu, selain menjadi tradisi masyarakat suku Osing. Tumpeng Sewu juga dijadikan sebagai salah satu festival rutin tahunan yang diadakan oleh pemerintah kabupaten banyuwangi. Tumpeng Sewu adalah ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat osing di desa Kemiren setiap bulan Dzulhijjah atau bulan haji. Kegiatan selametan kampung atau bentuk rasa syukur dan sebuah harapan akan anugerah kesuburan serta kesehatan masyarakat Osing di desa Kemiren kepada Tuhan dan dilaksanakan pada minggu atau kamis malam pertama pada bulan tersebut dengan menu utama tumpeng pecel pitik sebagai sajian disaat ritual Pada tradisi Tumpeng Sewu ada beberapa prosesi yang menjadi bagian pada tradisi ini. Pertama, rangkaian upacara adat sebelum Tumpeng Sewu ini dilaksanakan seperti Mepe Kasur. Arak-arakan. Barong Kemiren dan Parade Obor. Kedua, adalah hari pelaksanaan Tumpeng Sewu yang mana rangkaian prosesi ini diawali dengan parade seni pertunjukan serta tradisi khas desa Kemiren. Tradisi Tumpeng Sewu menunjukkan bagaimana masyarakat Osing Banyuwangi menanamkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan tanggung jawab. Melalui prosesi ritual yang melibatkan seluruh komunitas, tradisi ini memperkuat rasa identitas kolektif sekaligus memupuk karakter individu yang berbasis pada kearifan lokal (Aziz, 2. Di sisi lain, modernisasi dan globalisasi sering kali menjadi tantangan dalam pelestarian tradisi. Perubahan gaya hidup masyarakat dan komersialisasi budaya dapat menggeser esensi tradisi, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi tereduksi (Kuntowijoyo, 2. Dalam pelaksanaan Tumpeng Sewu bagi generasi muda banyak sekali yang masih menganggap bahwa Festival Tumpeng Sewu hanya merupakan sebuah acara Bahkan generasi muda suku Osing pun masih kurang memaknai nilai nilai karakter yang ada dalam Festival Tumpeng Sewu tersebut. Studi ini esensial agar dilakukan mengingat mengikuti tradisi ini nilai karakter dengan harus ada pada masyarakat suku Osing bisa diinternalisasikan pada aktivitas harian, apabila mereka tidak melakukan itu maka tidak menutup kemungkinan mereka tidak dianggap sebagai bagian dari masyarakat tersebut dan juga memungkinkan pemaknaan dari digelarnya Festival Tumpeng Sewu ini semakin Regenerasi juga menjadi persoalan penting dalam pelestarian tradisi. Dalam era modern, generasi muda sering kali kurang memahami nilai-nilai dengan terdapat pada tradisi lokal. Hal ini disebabkan oleh minimnya transfer pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda. Dengan demikian, diperlukan edukasi berbasi tradisi yang terintegrasi dengan sistem pendidikan formal maupun informal. Kondisi tersebut selaras pada pandangan Tilaar . mengemukakan tradisi perlu menjadi bagian dari pendidikan multikultural, agar generasi muda dapat memahami dan menghargai kearifan lokal mereka sendiri. Dengan mempertimbangkan peran strategis tradisi dalam membangun identitas dan menanamkan nilai-nilai karakter, maka pelestarian tradisi harus dilakukan secara Pelestarian ini memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan generasi muda. Tradisi perlu dipertahankan tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat karakter individu dan kolektif dalam menghadapi tantangan globalisasi. Tradisi yang dipertahankan dengan baik akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, sehingga identitas budaya tetap terjaga dan relevan sepanjang waktu (Hobsbawm, 1. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori struktural fungsional Talcott Parsons. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar anggotanya menyepakati nilai-nilai tertentu. Dalam konteks ini, nilai-nilai tersebut memiliki kemampuan untuk mengatasi perbedaan sehingga masyarakat dipandang sebagai sistem yang seimbang dan terintegrasi secara fungsional. Parsons melihat masyarakat sebagai kumpulan sistem sosial yang saling berhubungan dan saling bergantung. Latar belakang lahirnya teori struktural fungsional adalah gagasan ini berlandaskan pada analogi antara eksistensi serta tatanan sosial organisme hayati. Secara fundamental, teori tersebut memandang komunitas sebagai suatu entitas dengan tersusun pada elemen-elemen yang saling berhubungan, di mana tiap-tipanya beroperasi sesuai perannya. Tiap komponen dalam sistem tersebut menyajikan kontribusi demi tercapainya sebuah stabilitas (Ida Bagus Made Astawa. Talcot Parsons . mengemukakan empat elemen krusial dibutuhkan supaya suatua tatatan ada. Keempat elemen tersebut adalah adaptasi, goal, integrasi, dan latensi. Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan, dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi secara langsung. Observasi dilaksankana dengan mengamati langsung pada tanggal 15 Juni Ae 20 Juni 2022. Observasi ini bertujuan untuk melihat secara langsung perilaku atau karakter generasi muda dalam kehidupan sehari-hari pada lingkungan masyarakat Kemiren. Sehingga peneliti bisa mendapat gambaran secara langsung mengenai penanaman nilai karakter yang Metode wawancara dilaksanakan guna mendapatkan data pada masyarakat setempat. Wawancara yang akan dilaksanakan ialah wawancra mendalam dengan tidak Merujuk pada Mulyana . 4:108-. , wawancara tidak berstruktur dapat dirujuk sebagai wawancara intensif, wawancara terbuka, ataupun wawancara kualitatif. Wawancara pertama dilaksanakan di tanggal 15 Juni 2022 bersama Bapak Suhaimi sebagai Kepala adat Desa Kemiren. Wawancara dilaksanakan secara langsung sambil memberikan pertanyaan kepada informan untuk memperoleh informasi terkait tradisi Tumpeng Sewu dan penanaman nilai-nilai karakter pada tradisi tersebut. Wawancara kedua dilakukan dengan ibu titin dan pak agus selaku warga masyarakat desa Kemiren pada tanggal 16 Juni 2022. Pemilihan informan ini berdasarkan pengamatan peneliti dilokasi yang mana kedua informan tersebut sebagai orang dewasa yang telah lama tinggal dan merupakan warga asli dari desa Kemiren. Wawancara ketiga dilakukan kepada ketua dan anggota POKDARWIS desa Kemiren. Kang Edai dan Kang Michael pada tanggal 20 Juni 2022 secara online. Pemilihan informan ini dikarenakan POKDARWIS sebagai salah satu wadah bagi generasi muda di desa Kemiren yang juga ikut andil dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ada di desa tersebut baik kegiatan berkaitan adat istiadat atau pelestarian budaya. METODE Berdasarkan karakteristik data, pendekatan studi dengan diterapkan adalah melalui teknik studi kasus. Studi kasus tergolong pada studi deskriptif analitis, yakni suatu studi dengan memusatkan perhatian dalam sebuah fenomena spesifik guna diobservasi serta ditelaah dengan saksama hingga komprehensif. Fenomena tersebut yakni singular ataupun plural, misalnya seseorang ataupun komunitas. Pada tahap ini, penelaahan mendalam pada beragam elemen dengan berhubungan pada fenomena agar didapatkan konklusi dengan presisi (Sutedi, 2009:. Teknik ini dipilih karena studi ini berfokus membahas permasalahan sosial yang kemudian data dari penelitian ini digambarkan melalui kata-kata atau gambar yang kemudian dideskripsikan oleh peneliti sehingga mudah dipahami orang lain (Sugiyono, 2019:. Hasil dari penelitian ini akan menunjukan gambaran mengenai Tradisi Tumpeng Sewu sebagai sarana pembangunan identitas bagi generasi muda Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Pemilihan teknik studi dengan diaplikasikan berawal dari generasi muda muda yang mulai melupakan nilai-nilai tradisional dan juga kehilangan identitas dengan dipertahankan dari masa ke masa oleh para leluhur. Dengan demkian, pengenalan juga pelestarian Tradisi Tumpeng Sewu bagi generasi muda sebagai penerus kehidupan bangsa ini perlu dipertahankan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren. Kecamatan Glagah. Kabupaten Banyuwangi. Jawa Timur. karena di Desa inilah yang melaksanakan Festival Tumpeng Sewu. Pada tanggal 15 Juni Ae 20 Juni 2022 pukul 09. 00 wib Ae 19. 00 wib. Pada penelitian mengenai Festival Tumpeng Sewu suku Osing ini dilakukan dengan memilih subjek yang akan dijadikan responden penelitian ini adalah Tokoh atau Kepala Adat suku Osing. Bapak Suhaimi dan beberapa masyarakat setempat khususnya di Desa Kemiren. Kang Edai. Kang Michael sebagai anggota POKDARWIS juga bu titin dan pak agus sebagai warga desa Kemiren karena suku Osing sebagai pelaksana tradisi Tumpeng Sewu ini. Fokus penelitian ini adalah pembangunan identitas melalui nilai nilai karakter yang ada dalam tradisi Tumpeng Sewu. Dengan kurangnya pemahaman mengenai tradisi yang dilakukan tersebut membuat generasi muda suku Osing khususnya menjadi belum mengimplementasikan sepenuhnya nilai nilai karakter yang ada dan menjadikan tradisi tersebut sebagai acara rutin tahunan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: observasi dan wawancara. Metode observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Penanaman Identitas Melalui Cerita Desa Kemiren Asal muasal Desa Kemiren berdasarkan penuturan dari sesepuh desa setempat, bahwa dulu ketika awal mula ditemukan, permukiman itu masih berupa kawasan hutan dengan vegetasi kemiri serta durian dengan melimpah, sehingga di momen tiu wilayah tersebut diberi nama Desa Kemiren. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Adat setempat sebagai berikut. Au. Awalnya dulu para sesepuh kampung menebang hutan untuk dijadikan kebun, dan kebanyakan di sini itu pohon kemiri, makanya disebut kemirian terus dijadikan nama desa Kemiren. Kemudian beberapa tahun terakhir Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 mulailah desa ini ditetapkan menjadi desa wisata tujuannya ya untuk tetap melestarikan Bisa dilihat dari keunikankeunikan suku osing salah satunya penggunaan bahasa, bahasa osing sangat kental dan masih digunakan sampai saat ini. Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Dari pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Adat di atas dapat diketahui bahwa Desa Kemiren pada mulanya adalah wilayah hutan yang kemudian dijadikan kebun, di mana mayoritas pepohonan yang berada di sana adalah pohon kemiri dan pohon duren, sehingga kemudian berangkat dari kondisi geografis itulah desa tersebut dinamakan dengan Desa Kemiren oleh masyarakat Berdasarkan sejarah, masyarakat Desa Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari Kerajaan Majapahit seusai kerajaan ini runtuh sekitar tahun 1478 M. Orang-orang yang mengasingkan diri tersebut selain menuju ke Kemiren juga melakukan imigrasi ke Gunung Bromo (Suku Tengge. dan Pulau Bali. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana kerajaan Majapahit. Diketahui bahwa kerajaan Blambangan dapat berkuasa hingga 200 tahun lamanya sampai pada tahun 1743 yang akhirnya jatuh ke tangan kesultanan Mataram Islam. Desa Kemiren sudah diresmikan sebagai wilayah suku Osing serta sebagai situs warisan kultural demi menjaga keunikan identitasnya. Zona kebudayaan dengan terletak tepat di tengah pemukiman menguatkan desa tersebut berciri khas Osing, serta direncanakan menjadi pusat pelestarian budaya Osing. Desa Kemiren memiliki banyak kekhasan, salah satunya ialah pemanfaatan bahasa spesifik, yakni bahasa Osing. Logat tersebut ditandai dengan adanya infiks huruf AuyAy pada artikulasinya. Misalnya: kata madang . dalam bahasa Osing diucapkan sebagai AumadyangAy, serta abang . menjadi AuabyangAu. Makna nonverbal pada tradisi Tumpeng Sewu dimulai sebagai tradisi penyelamatan desa atau masyarakat Desa Kemiren menyebutnya selametan kampung. Yang oleh Desa Kemiren. Tumpeng Sewu diselenggarakan pada Bulan Dzulhijjah ataupun pekan perdana bulan Dzulhijjah, lebih spesifiknya malam Senin atau malam Jumat. Penyelenggaraan tersebut dilakukan pada waktu ini mempertimbangkan keutamaan malam serta secara khusus malam Senin atau malam Jumat dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai malam yang paling sakral. Setiap adat dengan berlangsung di kalangan komunitas Jawa senantiasa terdapat santapan utama yang harus disajikan, di antaranya Tradisi Tumpang Sewu tersebut. Makanan wajib di dalam Tradisi Tumpang Sewu jadi unsur penting yang tidak bisa ditinggalkan, karena ubarampe ini jadi simbol dari tujuan dilaksanakanya Tradisi Tumpang Sewu. Pada Tradisi ini ada banyak macam ubarampe. Juga pada selametan makanan yang disiapkan yaitu hanya tumpeng pecel pitik itu saja. Tumpeng pecel pitik ini jadi sajian utama ketika selametan Pada upacara keselamatan di Desa Kemiren, tiap kepala keluarga diharuskan menyajikan tumpeng pecel Hidangan tumpeng pecel pitik ini terdiri dari daging ayam yang telah disuwir serta dibakar ataupun digoreng, kemudian diaduk memakai parutan kelapa. Makna kultural pada tumpeng pecel pitik, berdasarkan pemangku adat Desa Kemiren sebagaimana diutarakan oleh Tokoh Adat Desa Kemiren, yakni: Au. Pada intinya iya itu, iya tumpeng pecel pitik, sajen lain tidak ada, di saat bancaan di balai desa atau di rumah kepala desa, juga ada sajian ubarampe yaitu tumpeng pecel pitik, tumpeng serakat, ada sega golong, terus ada jenang abang Pecel pitik iku mau ngucel-ngucel ketitik barang apik filosofinya, dadi ngucel-ngucel iku nglakukan pekerjaan, ora diam, ketitik apik iku hasile biar optimal sajiane iya pecel pitik iku, kate mbangun omah, kate sekolah ben asile maksimal ke titik apik iya pecel pitik iku. Ay (Wawancara 15 Juni 2. Penyematan nama Tumpeng Sewu dilatarbelakangi oleh kenyataan total Kepala Keluarga (KK) dengan melebihi 1000, serta di momen perayaan tersebut, tiap KK minimal menyuguhkan 1 tumpeng sebagai sajian esensial saat Selametan, sehingga akumulasi keseluruhannya bisa melampaui seribu tumpeng. Dengan demikian, ritual tersebut disebut Tumpeng Sewu . umpeng serib. Nasi tumpeng itu sendiri bisa menyimpan filosofi di benak masyarakat Kemiren, di mana perilaku serta tindakan individu pada sebuah entitas ataupun pribadi yang lain dibentuk oleh interpretasi yang mereka miliki mengenai entitas ataupun pribadinya. Mekanisme Tradisi Tumpeng Sewu Dalam tradisi Tumpeng Sewu mencakup dua rangkaian upacara penting. Fase pertama ialah serangkaian ritual adat yang dilaksanakan sebelum perayaan Tumpeng Sewu, meliputi: Mepe Kasur. Arak-arakan. Barong Kemiren, serta Parade Obor (Onco. Di samping itu, terdapat pula serangkaian prosesi seremonial dengan diselenggarakan pasca-tradisi Tumpeng Sewu. Diawali dengan pawai dengan menampilkan seni pertunjukan serta keunikan budaya khas Desa Kemiren, kemudian dilanjutkan dengan Mocoan Lontar Yusuf umumnya dilaksanakan secara kolektif. Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing Nasi Tumpeng dengan menjulang ataupun menggunung di sini melambangkan eksistensi ataupun aspirasi manusia. Tiap individu memunyai berbagai sasaran yang tinggi serta beragam, layaknya bentuk Tumpeng, dengan asa agar derajat rakyat dapat Disertai dengan lauk pecel pitik yang dimaknai sebagai 'ngucel-ngucel barang kang apik' . erusaha keras pada hal yang bai. , menunjukkan upaya melakukan banyak pekerjaan sembari tetap menjaga Berdasarkan yang di sampaikan di tradisi tersebut beberapa maknanya ialah. Pertama, ialah manifestasi apresiasi dari pihak desa pada Penjaga Desa ataupun para Apresiasi tersebut diberikan atas upaya mereka dalam melindungi desa dari berbagai kemudtratan dan karunia kemakmuran bagi warganya. Selain itu, terdapat harapan di masa depan agar individu dapat berkembang menjadi pribadi dengan mulia, diangkat martabatnya, dan senantiasa bertindak serta berkarya dalam kebaikan Kedua, menjadi representasi ikatan kekeluargaan dan peneguh jalinan relasi antarkomunitas Kemiren hingga penduduk secara luas. Ketiga, sebagai penanda warisan leluhur tetap lestari, walaupun menghadapi dominasi era modernisasi saat ini. Telebihi, generasi muda di Desa Kemiren tetap berupaya mencintai serta merawat adat serta kebudayaan di kampungnya. Keempat, tradisi tersebut mempersatukan seluruh segmen masyarakat, tanpa memandang usia . uda maupun tu. , status ekonomi . erkecukupan ataupun kekuranga. , maupun kedudukan sosial . akyat biasa ataupun pejabat tingg. , menumbuhkan kedekatan serta respek timbal balik. setelah jadi perkampungan dinamakan selametan Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Selain itu Tumpeng Sewu pada mulanya juga dilakukan di pekarangan rumah masing-masing, dan sejak tahun 2007 tradisi Tumpeng Sewu masuk ke dalam agenda ruting Banyuwangi Festival yang penyelenggaraannya akhirnya bergeser di sepanjang jalan. Hal ini seperti yang dituturkan oleh ketua adat Desa Kemiren sebagai berikut. Au. Dulunya selametan dilaksanakan di teras rumah masing masing, dan setelah tahun 2007 selametan ini masuk ke dalam agenda rutin Banyuwangi Festival akhirnya pelaksanaannya bergeser di sepanjang jalan. Dinamakan Tumpeng Sewu karena sekarang penduduk Kemiren sebanyak 1100 KK dan minimal dalam 1 KK membuat 1 tumpeng dan maka dari itu dinamakan Tumpeng Sewu . Saat pelaksanaan Tumpeng Sewu itu tidak ada perbedaan sosial, sama rata duduk bersama walaupun bupati dll. Sebelum selametan juga diadakan penyalahan obor, kalau orang Kemiren menyebutnya AuAja Mati OboreAy artinya jangan putus persaudaraan, makanya persaudaraan tetap abadi. Ay. (Wawancara pada 15 Juni 2. Nilai-nilai dengan terdapat pada tradisi Tumpeng Sewu di antaranya adalah menjadi ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diharapkan dan berhasil, selain itu juga sebagai ajang silaturrahmi serta merekatkan kerukunan antar warga, sebagaimana yang disampaikan oleh ketua adat yakni: ungkapan rasa syukur karena apa yang telah diharapkan telah berhasil, ajang silaturahmi dan Selain itu pada saat penyelenggaraan Tumpeng Sewu juga tidak ada perbedaan sosial, baik rakyat dan pejabat dapat dikatakan berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Diketahui juga bahwa sebelum pelaksaan Tumpeng Sewu digelar terdapat acara penyalaan obor, di mana masyarakat setempat menyebutnya dengan AuAja Mati OboreAy yang memiliki makna jangan sampai putus persaudaraan, oleh karena hal itulah obor dianalogikan sebagai persaudaraan agar tetap menyala abadi. Api yang dipakai dalam memasang obor tersebut adalah api yang berasal dari Blue Fire yang berada di kawah Gunung Ijen, dan penyalaan obor pun tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, terdapat petugas yang memang sudah ditugaskan untuk menyalakan obor tersebut yang dikawal dengan arak-arakan barong. Api yang diambil dari Blue Fire memiliki filosofi yakni bahwa api Blue Fire dengan terletak pada kawah Gunung Ijen adalah api abadi dengan harapan persaudaraan dari masyarakat Desa Kemiren terus abadi, hal ini sebagaiamana yang dituturkan oleh ketua adat sebagai Nilai-nilai Tradisi Tumpeng Sewu Sebagaimana dengan sudah dipaparkan dalam sub bab di atas Tumpeng Sewu pada mulanya adalah niat atau nadzar yang ditujukan untuk membuat kebonan dan apabila sudah berhasil maka akan dilaksanakan acara syukuran dengan tumpeng pecel pitik. Sebagaiman diutarakan oleh ketua adat setempat seperti dibawah ini: Au. Dan orang dulu itu jikalau ingin melakukan sesuatu pasti diawali dengan nadzar atau niat dengan tujuan membuat kebonan dan jika sudah berhasil maka akan diselameti tumpeng pecel Akhirnya menjadi kebun maka tiap tahun diadakan selametan dan lama kelamaan pendudukpun bertambah dan perkebunan tadi Meskipun perkebunan sudah tidak ada namun selametan tersebut tidak berani dihilangkan karena sudah menjadi ucapan pertama/niat, akhirnya namanya diganti yang dulunya adalah selametan kebonan Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 Au. Sebelum selametan juga diadakan penyalahan obor, kalau orang Kemiren menyebutnya Aja Mati Obore artinya jangan putus persaudaraan, makanya dinyalakannya obor diharapkan ikatan persaudaraan tetap abadi. Selama bapak kepala adat menjabat, api dari obornya ini diambil dari Blue Fire Kawah Ijen, karena penyalahan obot tidak boleh sembarangan masyarakat yang menyalakannya, ada petugasnya dan juga dikawal dengan arak arakan barong. Apinya diambil dari blue fire karena api biru kawah ijen itu abadi dan tujuannya ikatan tali persaudaraan ini selalu Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Meskipun tradisi ini sudah berlangsung selama beradab-abad, namun masyarakat Desa Kemiren masih terus melangsungkan tradisi Tumpeng Sewu tersebut hingga hari ini. Hal tersebut terjadi masyarakat Desa Kemiren masih mempercayai apa yang menjadi warisan atau peninggalan serta weluri ataupun tutur kata orang tua dan tidak berani ditinggalkan, seperti yang disampaikan oleh ketua adat sebagai berikut. Au. Mengapa masyarakat Kemiren masih menjaga dan melestarikan? Karena masih percaya itu peninggalan, weluri atau tutur kata orang tua dan tidak berani ditinggalkan. Misalnya selametan Tumpeng Sewu, salah satu keluarga tidak ikut, tiba tiba kemudian hari ada masalah dalam keluarga tersebut maka itu percaya bahwa mungkin karena tidak ikut melaksanakan upacara Di Kemiren jikalau sudah warisan dari orang tua maka tidak berani meninggalkan. Misal tidak mengikuti beberapa upacara adat sanksi hukumnya tidak ada, namun lebih ke sanksi sosial, dan lebih balik ke pribadi masing masing. Namun tidak ada sanksi tertulis. Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Adapun apabila tidak mengikuti acara tersebut sebenarnya tidak terdapat sanksi adat ataupun sanksi tertulis akan tetapi lebih ke sanksi sosial dan kembali lagi ke setiap individu. Pada rutinitas keseharian prinsipprinsip dengan terdapat di dalam tradisi Tumpeng Sewu diaplikasikan oleh masyarakat Desa Kemiren. Hal ini sebagaimana diungkapkan ketua adat seperti di bawah ini: Au. Nilai nilai yang ada tersebut tetap dijaga meskipun tidak dalam pelaksanaan Tumpeng Sewu saja, namun juga dalam pelaksanaan kehidupan sehari hari juga. Termasuk tumpeng pecel pitik tersebut digunakan sebagai ritual dengan filosofi Aupecel pitik hang di ucel ucel saben dinone kedaden barang kang apikAy jadi apapun aktifitas yang dilakukan sehari hari supaya mendapatkan yang terbaik. Jadi semua itu yang ada diKemiren selalu mengandung ajaran budi pekerti perilaku makanya selalu dijaga dan dilestarikan, dan walaupun tidak ada panitia pelaksana maka akan tetap berjalan sendirinya karena murni dari masyarakat. Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Bahwasanya meskipun tidak dalam pelaksanaan Tumpeng Sewu namun warga setempat tetap menjaga prinsip-prinsip dengan terdapat pada tradisi tersebut pada aktivitas harian. Termasuk dalam hal ini adalah tradisi tumpeng pecel pitik yang mempunyai arti filosofis pada harapan aktivitas apapun dengan dilakukan warga Desa Kemiren supaya mendapatkan yang terbaik. Dengan demikian tersebutlah semua apa yang terdapat di Desa Kemiren selalu mengajarkan budi pekerti. Dan andai kata pun tidak terdapat panitia yang melaksanakan Tumpeng Sewu maka akan tetap berjalan dengan sendirinya karena murni dari masyarakat sendiri. Pembangunan Identitas Melalui Tradisi Tumpeng Sewu Bagi Generasi Muda Suatu adat istiadat terus bertumbuh jika terjadi paduan antara unsur modern serta radisional. Sebaliknya, tradisi akan punah jika tidak lagi memperoleh penerimaan dari Jika suatu warisan budaya menghilang, niscaya di kemudian hari akan muncul individu yang teguh memegang adat tersebut serta kembali mengkampanyekan urgensi pada kebiasaan dengan diyakini. Eksistensi tradisi di sebuah komunitas bergantung pada generasi penerusnya, upaya pelestarian dengan seragam, pengembangan dengan adaptif, ataupun kan lenyap ditelan siklus tersebut terus berulang serta saat menghilang akan kembali muncul. Pelestarian tradisi ialah metode dalam melestarikan warisan budaya dengan telah eksis. Konservasi kebiasaan bertujuan supaya tetap terjaga serta bisa diwariskan pada generasi penerus, guna memastikan keberlangsungannya secara turun-temurun. Fenomena tersebut bisa mengindikasikan masyarakat belum memahami cara semestinya menyikapi keragaman, cara memberikan penghormatan, serta cara menyelesaikan perselisihan dengan berpotensi muncul, sebab belum tersedia sarana pembelajaran dalam mengatasi tantangan tersebut pada realitas kehidupan. Pada implementasinya tradisi suku osing adanya nilainilai karakter dengan baik pada kehidupan. Sistem nilai ialah seperangkat norma dengan dibentuk oleh sebuah kelompok dengan berfungsi menentukan kriteria evaluasi Suku Osing di Desa Kemiren. Kabupaten Banyuwangi, mewariskan tatanan nilai melalui berbagai aspek, meliputi: desian bangunan, seni budaya, konfigurasi tempat tinggal serta metode bercocok tanam. Nilai-nilai kepribadian yang melekat pada adat suku Osing mencakup menginternalisasi serta mempraktikkan doktrin keyakinan dengan dianut . akni, menghargai keanekaragaman hayati yang kaya di Nusantara sebagai anugerah Ilahi. berterima kasih atas diversitas serta Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing kekayaan potensi alami Indonesia sebagai rahmat Tuhan Yang Maha Pemurah. serta memahami perannya sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa dengan mengemban amanah Lebih penginternalisasian serta penerapan perilaku integritas, ketertiban, akuntabilitas, kepedulian . elalui kolaborasi, kemitraan, tenggang rasa, serta perdamaia. , keramahan, tanggap, dan inisiatif. Juga menunjukkan sikap kontributif dalam penyelesaian beragam isu saat berinteraksi dengan efisien pada ekosistem sosial serta memosisikan diri sebagai representasi nasional. Suatu bentuk tradisi dengan tetap dilestarikan warga Desa Kemiren adalah tradisi festival Tumpeng Sewu. Dalam festival tersebut mengandung banyak nilai karakter misalnya sebagai ungkapan rasa syukur serta ajang silaturahmi seperti yang diungkapkan oleh ketua adat sebagai berikut. Au. ungkapan rasa syukur karena apa yang telah diharapkan telah berhasil, ajang silaturahmi dan Saat pelaksanaan Tumpeng Sewu itu tidak ada perbedaan sosial, sama rata duduk bersama walaupun bupati dll. Sebelum selametan juga diadakan penyalahan obor, kalau orang Kemiren menyebutnya AuAja Mati OboreAy artinya persaudaraan tetap abadi. Selama bapak kepala adat menjabat, api dari obornya ini diambil dari Blue Fire Kawah Ijen, karena penyalahan obot tidak boleh sembarangan masyarakat yang menyalakannya, ada petugasnya dan juga dikawal dengan arak arakan barong. Apinya diambil dari blue fire karena api biru kawah ijen itu abadi dan tujuannya ikatan tali persaudaraan ini selalu Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Sementara menurut salah satu warga Desa Kemiren tradisi festival Tumpang Sewu memiliki makna sebagai selametan dan gotong royong seperti yang diungkap sebagai berikut. Au. Menurut saya bedanya dengan bersih desa di daerah lain itu, ya di sini karena bersih desa masih masuk ke dalam ider bumi. Nilai nilai yang ada di Tumpeng Sewu menurut saya lebih ke selametan desa aja. Dan untuk taun kemarin selametannya hanya dilakukan di lingkungan RT dan meskipun pandemi tradisi tersebut masih dilaksanakan. Nilai nilai Tumpeng Sewu yang saya lihat salah satunya gotong royong itu di desa Kemiren sendiri ya masih kentel . seperti jika ada mantenan . cara pernikaha. warga ikut serta membantu dan tidak melalui katering. Ay (Wawancara pada 16 Juni 2. Sementara menurut warga lain tradisi festival Tumpang Sewu memiliki makna gotong royong seperti acara adat lain seperti yang diungkap sebagai berikut. Au. Untuk pengimplementasian nilai nilai khususnya gotong royong sendiri biasanya ya pas ada acara acara tertentu seperti saat adanya orang meninggal, atau hajatan perkawinan. Bisanya beberapa orang memilih untuk meminta bantuan keluarga atau tetangganya dibandingkan menggunakan orang suruhan karena semua di sini masih kental dengan kekerabatan dan juga gotong Ay (Wawancara pada 16 Juni 2. Adapun yang membantu terkait pelaksanaan dari Tumpeng Sewu ini adalah Pokdarwis. Pokdarwis adalah kelompok sadar wisata. Dalam pelaksaan dan penyelenggaraan Tumpeng Sewu. Pokdarwis-lah yang keberlangsungan acara tersebut. Pokdarwis diisi oleh para pemuda dan pemudi Desa Kemiren. Untuk saat ini Pokdarwis masih belum memiliki sekretariat sehingga mereka biasanya berkumpul di kopi jarang goyang. Akan tetapi Pokdarwis sudah memiliki struktur organisasi serta pemerintah desa juga memberikan fasilitas terhadap hal Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh ketua adat sebagai berikut. Au. Pokdarwis ialah kelompok sadar wisata, biasanya yang membantu pelaksanaan ritual dan pengembangan desa wisata. Sementara belum ada sekertariat tapi biasanya kumpul di kopi jaran Struktur organisasi juga sudah ada dan Ay (Wawancara pada 20 Juni 2. Menurut anggota 1 pokdarwis festival Tumpang Sewu memiliki makna nilai gotong royong dan berbagi, sementara menurut anggota 2 pokdarwis festival Tumpang Sewu memiliki makna nilai keberkahan. Festival Tumpang Sewu menurut Ketua Pokdarwis memiliki makna nilai-nilai keikhlasan. Selain itu menurut Ketua Pokodarwis festival Tumpang Sewu meniliki nilai sebagai identitas suku osing yang erat dengan gotong royong seperti yang diungkapkan sebagai berikut. Au. sebagai momentum sarana berbagi rejeki kepada sanak saudara berupa Tumpeng pecel Gotong royong dan berbagi keberkahan. Syukuran, keselamatan, kebersamaan. Berbagi dengan ikhlas, berbagi makanan kepada saudara, membungkus makanan untuk saudara. nilai nilai contohnya gotong royong, bisa menjadi sebagai salah satu identitas suku osing sebagai suku yang suka menolong terhadap sesama, baik dalam kegiatan apapun warga berbondong bondong saling membantu dengan orang orang yang sedang membutuhkan pertolongan dan untuk hambatannya hingga saat ini melainkan bukan gadget atau teknologi namun masih dalam internal desa mengenai anggaran kegiatan yang dilakukan dan mungkin situasi saat pelaksaan ritual adatnya karena seperti yang kita tahu kalo beberapa waktu lalu memang sedang pandemi dan beberapa kegiatan yang membutuhkan kerjasama orang Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 banyak sedikit dikurangi atau bahkan Ay (Wawancara pada 20 Juni 2. Mayoritas penduduk Desa Kemiren beraktivitas sebagai pelaku pertanian. meskipun demikian, mereka juga menjalani profesi tambahan selagi menanti panen dari lahan garapannya. Apabila ditinjau pada aspek dominasi profesi bercocok tanam, terlihat adanya korelasi pada penyelenggaraan Upacara Tumpeng Sewu, dengan diselenggarakan demi mengenyahkan semua kemalangan dengan melanda Desa Kemiren. Pada konteks tersebut, kemalangan di sini meliputi upaya pencegahan petani kegagalan panen, serta potensi munculnya epidemi dengan Disamping berfungsi menjadi penolak bahaya. Upacara Tumpeng Sewu juga juga sebagai ekspresi apresiasi warga Desa Kemiren atas limpahan rezeki dari Sang Pencipta. Dengan demikian, warga Desa Kemiren melaksanakannya pada sajian tumpeng yang kemudian disantap dengan bersama penduduk Desa yang lain. Adat Tumpeng Sewu ialah warisan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, di mana ritual pelaksanaannya tetap dipelihara serta dilestarikan warga Osing di Desa Kemiren. Kabupaten Banyuwangi. Dalam praktiknya, tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya dengan terbatas pada agama ataupun kelompok spesifik, melainkan dijalankan oleh seluruh elemen Desa Kemiren. Penduduk lokal teguh menjunjung tinggi Tumpeng Sewu supaya kebiasaan tersebut masih bertahan serta terawat sebaik-baiknya, sehingga tidak hilang oleh laju perkembanganserta modernisasi. Disisi lain, penyelenggaraan adat istiadat memiliki tujuan supaya warisan lokal dapat terus diteruskan dengan estafet pada satu angkatan ke angkatan berikutnya yang lebih muda. Ini dikarenakan tiap aktivitas pada adat menunjukkan adanya paduan budaya pada prinsip Hal tersebut mengimplikasikan kebudayaab daerah tidak butuh dimodifikasi serta tetap wajib dilestarikan, selama tidak menggeser keyakinan kita pada Sang Pencipta. Festival Tumpeng Sewu yang diadakan di Desa Kemiren memiliki rangkaian acara dimulai dari Mepe Kasur hal tersebut ialah menjemur kasur bewarna merah Penggunaan alas tidur berwarna merah serta putih diharapkan dapat memastikan ikatan perkawinan pasangan akan bertahan lama serta terlindungi dari nasib Aspek tersebut berkorelasi pada rona merah di alas tidur dengan menyimbolkan keabadian biduk rumah tangga, sementara pigmen hitam mewakili simbol penangkal musibah. Usai pelaksanaan Mepe Kasur, kaum ibu mulai menyiapkan tumpeng yang disajikan menjadi hidangan utama saat Tumpeng Sewu, dilengkapi dengan lauk pecel pitik. Santapan pecel pitik ialah akronim pada Aungucel-ngucel barang hang sitikAy artinya yakni nasihat untuk bijak memanfaatkan harta benda serta selalau mensyukuri segala anugerah dari Maha Kuasa. Penyajian tumpeng bersama lauk pecel pitik sebagaii sajian utama saat Tumpeng Sewu digelar. Menjelang waktu Magrib, warga Desa Kemiren bersiap dalam menyelenggarakan Upacara Tumpeng Sewu. Panitia disibukan menata lokasi pelaksanaan ritual, yakni di jalan utama Desa Kemiren, sementara sejumlah warga pada kelompok barong berkunjung di makam Buyut Cili, dengan diyakini menjadi pelindung ataupun Audanyang Desa KemirenAy. Di area pemakaman, warga memanjatkan doa dan usainya tumpeng yang sudah disiapkan para ibu. Warga Desa Kemiren meyakini apabila memohon sesuatu serta berjanji melaksanakan selamatan di Buyut Cili apabila permintaannya terkabul, maka janji wajib dipenuhi saat harapannya terwujud. Acara kemudian berlanjut yakni pawai, sebuah prosesi kolektif yang bertujuan dalam mencegah berbagai kesialan dengan berpotensi menimpa Desa Kemiren. Pawai barong tersebut disertai iringan musik dalam menyemarakkan prosesi. Kegiatan tersebut ditutup dengan seremoni Tumpeng Sewu. Ritual Tumpeng Sewu dianggap suci oleh warga Desa Kemiren, karena berfungsi sebagai upaya menangkal keburukan atau 'tolak bala', serta sebagai wujud terima kasih atas panen dengan berlimpah. Pelaksanaan Ritual Tumpeng Sewu melibatkan sejumlah agenda sejak pagi sampai selepas senja. Sebagaimana yang disampaikan Ketua Adat Desa Kemiren: Au. Sebenere prosesnya itu ya habis maghrib, tapi sekarang ada dikemas lagi ada mepe kasur pagi harinya untuk kegiatan sebelum Ritual Tumpeng Sewu di pagi hari ada kegiatan, rame jadinya. Jadi pengunjung kesini itu juga tidak sia-sia, dan ada yang diliat. Semua acara terstruktur dan runtut, beberapa wargapun ikut serta dengan respon yang Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Adat tumpeng dengan digelar di Desa Tradisional Kemiren. Banyuwangi, dikenal sebagai Tumpeng Sewu, yakni ritual bersih desa dengan diadakan tiap tahun di tanggal 1 Dzulhijjah, melibatkan seluruh penghuni Desa. Ritual tersebut bertujuan dalam menjauhkan desa dari malapetaka, penangkis musibah, dengan melayangkan doa demi kejeahteraan dengan hidangan perjamuan. Tumpeng Sewu diadakan menurut hari yang telah disepakati ritual tersebut dilaksanakan tiap bulan Dzulhijjah. Hari yang dianggap tepat oleh penduduk Kemiren untuk mengadakan tradisi ialah hari Kamis ataupun Minggu. Pelaksanaan tradisi Tumpeng Sewu berupa kegiatan menyantap tumpeng bersama warga Kemiren. Sebagaimana yang diungkapkan Ketua Adat, yakni: Au. Dulu itu selametan kampung Cuma dilakukan sendiri-sendiri dan tidak berbarengan setiap lingkungan masing-masing, tapi tetap di masa bulan Haji. Sekitar akhir 2007 masuk ke 2008 Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing semua lembaga ada yang mengajukan untuk pelaksanaannya berbarengan dalam satu hari dan Akhirnya dilaksanakan sehari di awal bulan Haji minggu pertama. Hari Minggu malam Senin atau Hari Kamis malam JumAoat di antara dua hari tersebut diambil mana hari yang paling awal. Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Tradisi Tumpeng Sewu dalam pelaksanaannya telah mengalami akulturasi dengan nilai-nilai keislaman. Hal ini terlihat dari prosesi ritualnya yang mengadopsi ajaran para wali, khususnya Sunan Kalijaga, yang menyisipkan unsur doa-doa Islami tanpa mengubah inti tradisi lokal. Oleh karena itu, para daAoi maupun tokoh agama di wilayah tersebut tetap berperan dalam melestarikan tradisi ini, sekaligus mengikuti metode dakwah Wali Songo yang memanfaatkan budaya masyarakat sebagai media penyebaran Islam. Dari aspek akulturasi, masyarakat Desa Kemiren juga menjunjung tinggi semangat toleransi antarumat beragama, sehingga kehidupan sosial mereka tetap selaras dengan nilai-nilai budaya dan ajaran agama. Tradisi Selametan Tumpeng Sewu mengandung berbagai nilai kearifan lokal, antara lain nilai-nilai religius, semangat gotong royong, ekspresi seni, kerukunan, toleransi, dan persatuan. Meski demikian, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala, seperti persoalan kepanitiaan, cuaca hujan, keterbatasan dana, penyediaan hidangan tumpeng pecel pitik bagi tamu, serta persoalan lahan parkir. Tradisi ini mencerminkan bentuk interaksi masyarakat dengan kekuatan alam serta lingkungan sekitar. Nilai-nilai yang melekat pada upacara adat ini telah dipelajari secara turun-temurun, karena merupakan warisan budaya leluhur yang sekaligus menjadi sarana pendidikan informal dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus. Tradisi ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi manusia akan pentingnya tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan nilai dan martabat kemanusiaan, serta mempererat hubungan sosial Kegiatan Tumpeng Sewu telah mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat dan menjadi bagian dari tradisi yang rutin dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas datangnya bulan haji. Pelaksanaan tradisi ini merupakan bentuk nyata dari upaya pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi Tumpeng Sewu yang kerap kali dilakukan oleh masyarakat desa Kemiren Kabupaten Banyuangi merupakan perwujudan dan upaya masyarakat untuk meyakini adanya kekuatan di luar nalar dan logika manusia yang tentunya membawa dampak yang sangat siginifikan terhadap kelangsungan hidup masyarakat yang memiliki dua keyakinan yang berbeda yaitu agama Hindu dan Islam dengan model dan tradisi yang sama. Adanya toleransi yang begitu kuat sehingga membuat masyarakat nyaman melakukan apa yang menurut keyakinan mereka ajarkan, mereka melakukan tradisi yang telah ada turun temurun ini dengan doa menurut keyakinan mereka masing-masing tapi tetap dengan satu tujuan yaitu untuk mengucap syukur serta mendapatkan keselamatan dalam dalam kehidupan. Dalam pelaksanaan tradisi Tumpeng Sewu di kalangan masyarakat Suku Osing, terdapat sejumlah nilai penting yang patut diwariskan kepada generasi mendatang. Nilai pertama adalah sikap religius, yang tercermin dari kesadaran masyarakat akan kehadiran Sang Pencipta, karena mereka meyakini bahwa alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Allah. Nilai kedua adalah penghormatan terhadap jasa para leluhur yang telah berjasa mendirikan desa. Nilai terakhir adalah semangat hidup rukun dan saling membantu, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Osing di Desa Kemiren, dan tetap terjaga hingga kini. Nasi tumpeng sendiri dapat memiliki makna dalam masyarakat Kemiren, di mana perilaku perilaku seseorang terhadap sebuah objek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami tentang objek atau orang tersebut. Di sini nasi Tumpeng yang mengerucut atau menggunung sebagai lambang manusia atau tujuan manusia. Di mana manusia memiliki banyak tujuan yang menggunung dan bermacam-macam seperti bentuk Tumpeng dan dengan harapan masyarakat dapat di tinggikan derajatnya. Lauk pecel pitik yang di artikan ngucel-ngucel barang kang apik, mengerjakan banyak hal namun tetap dalam Penggunaan daun pisang atau godhong gedhang di sini memiliki makna kebersamaan. Dengan makanan yang dibungkus atau diberi alas daun pisang, selain bermanfaat baik untuk kesehatan juga sebagai lambang Dengan makan beralaskan daun pisang, tidak ada yang namanya lapisan sosial dalam masyarakat. Semuanya sama tidak ada beda meskipun memiliki status sosial dalam masyarakat. Bentuk tumpeng yang mengerucut memiliki makna seperti gunung, dengan harapan derajatnya ditinggikan, bentuk tumpeng yang juga seperti segitiga itu adalah hablumminallah wa hablumminannas habluminal alam yang bermakna segitiga paling tinggi Allah lalu ke sesama manusia dan alam, seperti juga menggambarkan gunung yang disekitarnya terdapat kehidupan manusia dan Itulah mengapa nasi putih dibentuk kerucut disajikan ditengah tampah yang telah dilapisi daun pisang, lalu pecel pitik dan sayur-sayuran yang diletakkan pada takir dan pincuk disajikan mengelilingi nasi tumpeng hal ini bermakna bahwa gunung dikelilingi oleh sumber kehidupan . lora dan faun. ditambahkan timun, bermakna kesuburan dan sambal dan cabai sebagai penerang dan rasa pemberani di kehidupan. Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 Dari proses awal tradisi Tumpeng Sewu, dapat diambil pesan atau makna dari yang di sampaikan pada tradisi Yang pertama, sebagai pengungkapan rasa syukur Desa terhadap Danyang Desa atau leluhur. Karena telah menjaga desa dari segala bentuk keburukan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dan harapan kedepan agar menjadi manusia yang lebih baik, di tinggikan derajatnya dan selalu bersikap dan bergelut dalam kebaikan saja. Yang kedua, sebagai simbol tali persaudaraan dan mempererat tali silahturahmi antara masyarakat ke Kemiren hingga masyarakat pada umumnya. Yang ketiga, sebagai simbol bahwa tradisi dari para nenek moyang tidak pernah tergerus zaman, meskipun zaman modernisasi yang semakin menguasai saat kini. Bahkan pemuda dan pemudi di Desa Kemiren masih mampu mencintai dan melestarikan tradisi dan budaya yang ada di desa mereka. Yang keempat, tradisi menyatukan segala Tua muda, kaya miskin, masyarakat biasa atau Bupati, tidak adanya lapisan sosial yang membentuk keakraban dan saling menghargai satu sama lain. Tradisi Tumpeng Sewu yang selalu dilaksanakan masyarakat desa Kemiren merupakan bukti masih kuatnya kepercayaan sebagian orang Jawa terhadap kekuatankekuatan dunia gaib, sekalipun mereka saat ini sudah memasuki era modern. Tradisi Tumpeng Sewu di desa Kemiren kabupaten banyuangi bermanfaat sebagai sarana untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi yang ada dalam masyarakat. Tradisi Tumpeng Sewu ini dimulai sebelum Desa Kemiren menjadi permukiman, yaitu ketika masih menjadi kebon/sawah. Ketika itu warga yang mempunyai sawahnya malakukan penanaman berbagai macam tanaman seperti padi, jagung, kacang, dan lainlain. Kemudian disalah satu waktu warga yang tandur itu tadi tepatnya sebelum kabon/sawah ini menghasilkan buah atau berbuah para warga yang mempunyai sawah tadi mempunyai niatan atau nazar yaiku Auyen besuk kebone/sawahe wis ngasilake buwah utawa berbuwah bakal takslameti pecel pitikAy kalau kebonya/sawahnya sudah menghasilkan buah atau berbuah akan saya selameti pecel pitik. Tradisi Tumpeng Sewu sebagai salah satu identitas dari masyarakat suku Osing di Desa Kemiren maka masyarakat dapat diakui sebagai suku Osing di Desa Kemiren jika telah mengikuti beberapa kegiatan yang berhubungan dengan adat istiadat suku osing seperti tradisi festival Tumpeng Sewu jika ada masyarakat yang tidak mengikuti acara adat akan mendapat sanksi seperti dikecualikan sanksi ini bersifat tidak tertulis namun berkembang dalam masyarakat seperti yang diungkapkan oleh ketua adat Desa Kemiren. Sementara menurut salah satu warga masyarakat apabila tidak mengikuti acara adat akan mendapat sanksi seperti ditegur oleh masyarakat yang lain yang menyebutkan sebagai berikut. Au. Misal tidak mengikuti beberapa upacara adat sanksi hukumnya tidak ada, namun lebih ke sanksi sosial, dan lebih balik ke pribadi masing masing. Namun tidak ada sanksi tertulis. Kalo tidak ikut adat tersebut kadang ada seperti Aukamu loh gak ikut adat itu, padahal kamu asli suku ituAy dan terserah orangnya apakah mau ikut atau tidak karena memang tidak ada paksaan. Ay (Wawancara pada 16 Juni 2. Selain mengikuti beberapa acara adat masyarakat diakui sebagai suku osing jika telah memahami dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai tradisi suku osing dalam kehidupan seharisehari misalnya nilai tentang rasa syukur, gotong royong, kerukunan dalam hidup bermasyarakat serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta dianggap sebagai masyarakat suku osing apabila telah memahami dan menerapkan dengan keyakinan nilai-nilai yang ada dalam tradisi Tumpeng Sewu seperti mensykuri segala nikmat kehidupan serta gotong royong tanpa pamrih dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai bentuk dari keterlibatan masyarakat pada pengembangan pariwisata di Desa Kemiren, maka Pemerintah Desa membentuk sebuah lembaga yang bernama Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Lembaga Pokdarwis sendiri baru diresmikan tahun 2017, hal tersebut dikarenakan saat ini Desa Kemiren telah menjadi sebuah desa wisata, sehingga diperlukan lembaga khusus yang menangani pariwisata di Desa Kemiren. Tugas utama dari lembaga Pokdarwis adalah membuat pengembangan-pengembangan baru dalam bidang pengembanganpengembangan yang ada, selain itu juga menyelesaikan permasalahan seputar pariwisata di Desa Kemiren. Pada Ritual Tumpeng Sewu, anggota Pokdarwis memiliki peran sebagai pengatur dan penerima pesanan tumpeng-tumpeng dari wistawan, selain itu mereka juga bertugas mengatur lokasi dilaksanakannya Tumpeng Sewu dan juga melakukan promosi agar banyak wisatawan yang datang dan ikut serta pada pelaksanaan Tumpeng Sewu. Masyarakat dan pemuda di Desa Kemiren sangat berperan sekali dalam kemeriahan tradisi Tumpeng Sewu Hal itu dapat direalisasikan dari kerukukan warganya. Masyarakat Desa Kemiren memiliki anak muda yang sangat antusias bahkan sangat peduli terhadap tradisi festival Tumpeng Sewu, hal ini dibuktikan dari penuturan ketua adat setempat sebagai berikut. Au. Untuk anak anak muda di desa Kemiren sangat peduli dan sangat antusias, bahkan sekarang untuk pelaksanaan ritual itu yang menghandle adalah anak anak muda, jadi kepala adat hanya sebagai Membuat para sesepuh salut dan Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing tidak segan untuk bertanya apabila ada kendala dan anak anak muda di desa Kemiren rasa ingin tahunya cukup tinggi. Untuk pelaksanaan selama pandemi dilaksanakan seperti biasa di jalan jalan, namun tidak ada ceremony yang mengundang orang luar bahkan sudah tidak diperbolehkan orang luar masuk saat acara berlangsung karena mengikuti protokol kesehatan yang ada tapi semuanya dilaksanakan seperti biasanya. Ay (Wawancara pada 15 Juni 2. Dari apa yang disampaikan oleh ketua adat dapat dipahami bahwa anak-anak muda yang berada di Desa Kemiren memiliki antusias serta rasa kepedulian dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi di mana yang menangani dalam penyelenggaraan festival Tumpeng Sewu adalah anak muda sendiri. Adapun untuk pelaksanaan festival Tumpeng Sewu selama pandemi tetap dilaksanakan seperti biasanya yakni di jalan-jalan, akan tetapi tidak ada acara ceremony yang mengundang orang luar Desa Kemiren serta dengan mengikuti protokol kesehatan yang Selain hambatan yang telah disebutkan oleh narasumber diatas kemajuan teknologi juga memiliki andil yang besar terhadap pembangunan identitas yaitu tidak sedikit generasi muda cenderung lebih menyukai menggunakan gadget dibandingkan mempelajari adat istiadat dan hilangnya minat generasi muda dalam mengikuti acara adat seperti Tradisi Tumpang Sewu mereka lebih menyukai bermain gawai atau handphone. Hal ini tentu mengakibatkan memudarnya pemaknaan nilai-nilai karakter yang ada dalam tradisi Tumpang Sewu. Au. setiap orang memiliki keahlian masingmasing, tidak harus menjadi pelaku adat. yang basicnya di fotografi dapat dirangkul untuk mengenalkan adat tersebut. Pemuda butuh pengakuan dan wadah. Saya rasa 2 hal ini yang paling dibutuhkan. Karena dalam beberapa acara, kurangnya wadah dan pengakuan dalam keahliannya masing-masing. Ay (Wawancara pada 20 Juni 2. Menurut salah satu anggota Pokdarwis menyikapi kurangnya minat generasi muda yaitu perlunya pengakuan dan wadah untuk generasi muda. Sedangkan menurut anggota Pokdarwis yang lain menyikapi kurangnya minat generasi muda yaitu kekompakan seperti yang diungkapkan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan dengan Ketua Adat dan masyarakat Desa Kemiren, nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Tumpeng Sewu ada dalam beberapa macam. Kemudian nilai-nilai tersebutpun masih dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan teori struktural fungsional Talcott Parsons, di mana masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan akan nilai-nilai tertentu oleh para anggotanya. Sama halnya dalam Tradisi Tumpeng Sewu yang sudah ada sejak terbentuknya Desa Kemiren. Masyarakat Desa Kemiren percaya bahwa melaksanakan Tradisi tersebut sebagai selametan dapat membuat seluruh desa memperoleh perlindungan, keselamatan, serta kebahagiaan. Dalam teori struktular fungsional Talcott Parsons juga terdapat empat elemen penting yang diperlukan agar sebuah sistem berjalan. Adaptasi, suatu sistem perlu mampu mengatasi tuntutan dari luar sistem, dalam pelaksanaan Tradisi Tumpeng Sewu khususnya seiring berkembangnya jaman juga mampun mengikuti perkembangan yang ada. Dimulai dari Tradisi tersebut hanya diperuntukkan untuk warga lokal namun sekarang beberapa tamu dari luar pun sudah dapat mengikuti atau hanya sekedar melihat pelaksanaan tradisi tersebut. Kemudian beberapa tahun saat Covid-19 Tradisi Tumpeng Sewu menyesuaikan aturan yang berlaku. Hambatan dalam pembangunan identitas suku osing melalui nilai-nilai karakter pada tradisi Tumpeng Sewu Rasa bangga dan kepedulian melestarikan budaya kurang tertanam di generasi muda Indonesia saat ini. Minat mereka untuk memperlajarinya kurang. Mereka lebih tertarik belajar kebudayaan asing. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya informasi kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. Padahal Indonesia memiliki tujuh warisan budaya, tiga di antaranya warisan budaya Lemahnya peran pemuda dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya daerah masing-masing bisa dilihat dari trend gaya hidup yang banyak budaya modern yang kebarat-baratan. Akibatnya, mereka kurang mengenal budaya daerah negeri sendiri apalagi bisa ikut mempelajari dan melestarikannya. Hambatan membangun identitas berupa nilai nilai karakter dalam tradisi Tumpeng Sewu menurut salah satu anggota dari Pokdarwis adalah terkait dana anggaran. Menurut anggota lain hambatan membangun identitas berupa nilai nilai karakter dalam tradisi Tumpeng Sewu adalah terkait keasadaran masyarakat tentang kebersihan setelah acara. Sedangkan menurut ketua Pokdarwis karakter dalam tradisi Tumpeng Sewu adalah terkait sulit nya anggaran kegiatan seperti yang diungkapkan berikut ini: Au. budaya saat ini menyesuaikan dengan kondisi keadaan industri pariwisata. Nilai gotong royong sedikit berkurang karena ada suplai anggaran. Event atau kegiatan adat masih bergantung kepada anggaran Pemerintah perlu dibentuk atau dicari cara yang organik dalam pembiayaan atau Ay (Wawancara pada 20 Juni 2. Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 432Ae445 Goal merupakan sesuatu yang dimiliki suatu sistem agar dapat melanjutkan keberadaanya. Jika dilihat dari faktor perkembangan jaman juga selain menyesuaikan dengan teknologi pada pelaksanaannya juga dikemas sedemikian rupa agar tetap menarik minat generasi muda. Dalam tradisi Tumpeng Sewu ini, awal mulanya hanya berupa ritual adat yang dilakukan secara turun-temurun namun seiring berkembangnya jaman dan juga setelah masa pandemi, mulai dilakukan pengembangan menjadi sebuah kegiatan komersil demi peningkatan wisata. Kemudian sejak beberapa tahun terakhir pula Tumpeng Sewu termasuk ke dalam agenda rutin tahunan kabupaten Banyuwangi. Integrasi yaitu kemampuan yang dapat mengatur antara satu bagian dengan bagian lain, dalam konteks ini proses pelaksanannya yang memiliki sedimikian rentetan acara dengan bantuan warga masyarakat sekitar saling bergotong royong tidak terpisah akan hal apapun baik usia maupun status sosial demi melancarkan tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Pada kegiatan yang dilakukan, seluruh rangkaian acara dilaksanakan atas bantuan dari berbagai macam pihak, baik pihak penyelenggara maupun sponsor dan pemerintah juga warga masyarakat setempat yang saling tolong menolong juga melaksanakan tugasnya sesuai bagian masing-masing. Latensi ialah sistem yang ada menciptakan pola motivasi dan budaya yang harus tertanam, sejak dahulu kala hingga saat ini Tumpeng Sewu masih tetap eksis dan menjadi salah satu hal yang wajib dilaksanakan. Buktinya beberapa tahun terakhir Tradisi Tumpeng Sewu saat ini telah resmi menjadi salah satu agenda rutin dari Banyuwangi Festival yang diadakan setiap tahunnya. Selain untuk menjaga eksistensi, hal ini juga sebagai sarana promosi pariwisata untuk Banyuwangi sendiri. Pada pelaksanaan Tumpeng Sewu tidak ada perbedaan yang berlaku, baik secara sosial maupun usia, namun masing-masing anggota masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai kesopanannya. Ada juga nilainilai gotong royong, tidak hanya pada pelaksanaan Tradisi Tumpeng Sewu, nilai gotong royong ini sudah menjadi ciri khas atau identitas Suku Osing. Contohnya pada saat ada hajatan oleh salah satu keluarga, maka masyarakat sekitar berbondong-bondong ikut serta membantu mempersiapkan hajatan tersebut hingga Tidak ada yang namanya perbedaan kasta. Yang paling sering ditemui, ialah gotong royong membersihkan lingkungan sekitar atau membangun tempat ibadah. Sebelum pelaksanaan Tumpeng Sewu, terdapat juga acara penyalaan obor. Api yang dipakai berasal dari Blue Fire di Kawah Ijen dan hanya orang-orang yang sudah ditugaskan saja yang boleh menyalakan obor tersebut. Blue Fire dimaknai sebagai api abadi maka dari itu diharapkan bahwa rasa persaudaraan dari masyarakat Desa Kemiren terus abadi. Tidak ada saling bertentangan maupun pertikaian yang membuat warga masyarakatnya terpecah belah. Tradisi ini juga memiliki nilai keagamaan, tradisi dilaksanakan dalam bentuk selametan, yang mana selametan memiliki arti mengucap syukur dan juga menolak bala. Pada tradisi yang ada, tidak ada sanksi tertulis bagi warga masyarakat yang tidak ikut serta melaksanakannya. Namun sanksi sosial tetap berlaku dan mungkin ada pikiran pribadi yang akan terus mengganjal, karena tradisi ini telah dilaksanakan sudah turun-temurun dan mungkin akan menimbulkan pemikiran . yang kurang baik bagi individu atau masyarakat yang tidak melaksanakannya. PENUTUP Simpulan Tradisi adalah tembok penting dalam pembangunan identitas, baik secara individu maupun kolektif. Melalui tradisi, nilai-nilai karakter seperti integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat dapat ditanamkan secara mendalam. Oleh karena itu, menjaga dan mengembangkan tradisi adalah langkah strategis untuk membangun masyarakat yang berkarakter kuat dan memiliki identitas yang jelas. Dengan memahami dan melestarikan tradisi, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun generasi yang tangguh dalam menghadapi perubahan zaman. Berdasarkan penjelasan serta analisis yang sudah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Tumpeng Sewu bukan hanya tradisi saja melainkan di dalamnya juga terkandung makna filosofis yang dapat diambil manfaat bersama seperti tumpeng pecel pitik dan aja mati Tradisi Tumpeng Sewu memiliki arti Tumpeng Seribu. Tradisi ini merupakan selametan desa sebagai bentuk wujud syukur desa Kemiren terhadap Danyang Desa atau Leluhur karena di beri kesehatan, kesejahteraan dan ketentraman. Selametan ini menggunakan Tumpeng dengan lauk khas yaitu pecel Tradisi Tumpeng Sewu dapat bertahan hingga kini karena anak-anak muda yang berada di Desa Kemiren memiliki rasa kepedulian serta rasa antusias yang sangat Meskipun tidak terdapat panitia yang menyelenggarakan Tumpeng Sewu, dapat dipastikan tradisi Tumpeng Sewu tetap akan ada karena tradisi lahir dari masyarakat Kemiren dan menyatu dengan masyarakat Kemiren. Saran Bagi generasi muda Desa Kemiren. Kebudayaan dan tradisi leluhur memang sangat baik apabila tetap di jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga meskipun saat ini sudah memasuki zaman modern dan Festival Tumpeng Sewu Sebagai Pembangunan Identitas Suku Osing Rokhman. Fathur dkk. Character Education for Golden Generation 2045 (National Character Building for Indonesian Golden Years. Procedia Ae Social and Behavioral Sciences Volume 141, 25 August 2014, hal. digitalisasi akan akan lebih indah lagi apabila kita tetap melestarikan tradisi dan kebudayaan tersebut. Bagi pemuda atau masyarakat luas harus terus melestarikan dan mencintai segala budaya dan tradisi yang ada di Desa masing-masing. Agar tradisi dan budaya yang ada tidak pernah mati dan tetap terjaga Hasil dari penelitian ini kurang sempurna maka di harapkan agar peneliti-peneliti lain yang membahas hal serupa dapat menambahkan sesuai dengan apa yang di dapat dan menyempurnakan kembali. Safitri. Mira Ariyani, dan Fajar Surya Hutama. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tari Hadrah Kuntulan Banyuwangi. Universitas Jember. Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif. Dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suyitno. Imam dkk. The Cultural Meaning in Ritual Traditions for Character of Osing People Banyuwangi. Indonesia. The Qualtitative Report 2023 Vol. 28 No. 7, 2058-2074. Ucapan Terima Kasih Terima Kasih saya ucapkan kepada Masyarakat Desa Kemiren yang sudah membantu pelaksanaan penelitian Tilaar. Multikulturalisme: Tantangan Globalisasi dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo. DAFTAR PUSTAKA