Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. June 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Pembinaan Kesehatan Mental dan Penguatan Nilai-Nilai Keislaman Peserta Didik Melalui Program Bina Karakter Islam di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu kesimayori6085@gmail. mawardilubis@iainbengkulu. khairiah@mail. Abstract This study aims to elucidate the development of students mental health and the reinforcement of Islamic values through the Islamic character building (BIKALAM) program at SMP Fatma Kenanga Bengkulu. Employing a qualitative descriptive methodology, data were collected via observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the planning phase for mental health development and the strengthening of Islamic values among students encompasses four stages: defining objectivies, formulating activities, leveraging resources, and maintaining consistent The implemention phase comprises two primary components: Mental Health Development: this includes fostering peace of mind and heart . hrough tawakkal and patienc. , self-control and emotional regulation . ia taqwa and ihsa. , discipline and orderliness . hrough worship and praye. , as well as optimism and hope . ia husnuzan and acceptance of divine Reinforcement of Islamic values: this involves habituating religious behavior among students, modeling exemplary conduct by teachers, adopting an empathetic approach t0wards students, and fostering synergy among teachers and school elements. The evaluation of mental health development and the reinforcement of Islamic values is conducted through monitoring progress, measuring outcomes, and identifying obstacles to program success. Keywords: Mental Health Development. Strengthening Islamic Values. Islamic Character Building. How to cite this article: Mayori. Lubis. Khairiah. Pembinaan Kesehatan Mental dan Penguatan Nilai-Nilai Keislaman Peserta Didik Melalui Program Bina Karakter Islam di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 58-70. Received: 1/28/2025 Revised: 4/28/2025 Accepted: 5/18/2025 58 | Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 PENDAHULUAN Pembinaan kesehatan mental peserta didik merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan sebagai upaya mencapai keselarasan sejati antara berbagai fungsi jiwa dan membekali peserta didik dengan kemampuan menghadapi permasalahan umum serta terhindar dari kecemasan dan konflik batin. Membina kesehatan mental peserta didik meliputi komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait, memberikan instruksi, peringatan, hukuman, serta pembinaan mental melalui berbagai kegiatan baik dalam maupun di luar jam belajar. kesehatan mental peserta didik agar dibina dapat terhindar dari kondisi negatif seperti gelisah, cemas, hingga mengalami ketegangan jiwa. Padahal sejatinya setiap manusia menginginkan untuk merasakan hidup tenang, tenteram, bahagia dan bermanfaat untuk orang lain. Oleh karena itu, konsep kesehatan mental perspektif Islam yang paling utama diterapkan adalah konsep mempercayai Tuhan dan mengamalkan semua perintah serta menjauhi segala laranganNya. Kesehatan mental mengarah kepada kesehatan secara keseluruhan baik dalam aspek perkembangan fisik dan psikis. Kesehatan mental juga mencakup upaya mengatasi stres, hubungan dengan orang lain, tidak mampu dalam menyesuaikan diri, bahkan berkaitan dalam mengambil keputusan. Kondisi kesehatan mental masing-masing individu seseorang saling berbeda dan senantiasa mengalami dinamika yang rumit dalam Bahkan, banyak orang yang pada waktu tertentu mengalami gangguan kesehatan mental dalam kehidupannya WHO (The World Health Organizatio. menjelaskan kesehatan mental merupakan kondisi dimana seseorang mampu: menyadari potensi diri dan mampu mengatur diri dengan baik mampu mengatasi tekanan, stres, problematika diri dalam kehidupan seharihari mampu bekerja produktif dan memberikan kerja nyata mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan atau komunitasnya. Kesehatan mental pada peserta didik memiliki beberapa unsur yaitu: Tidak adanya stres diri dalam belajar, merasakan kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar, adanya harmonisasi diri, bukan disharmonisasi diri dalam pembelajaran, tidak malas yang berlarut-larut, daya dukung yang besar dari lingkungan sekitar, tidak bersifat individualis. Kesehatan mental merupakan keharmonisan dalam kehidupan yang terwujud antara fungsi-fungsi jiwa, kemampuan menghadapi problematika yang sedang terjadi, serta mampu merasakan kebahagiaan dan kemampuan dirinya secara positif. Kesehatan mental juga merupakan kondisi dimana individu terhindar dari gejala-gejala gangguan jiwa . dan dari gejala penyakit jiwa . Perbedaan antara gangguan jiwa . dan penyakit jiwa . ialah seseorang masih mengetahui dan merasakan kesulitannya sedangkan penyakit jiwa . tidak, dan dalam segi berkehidupan orang pada gangguan jiwa masih dapat membedakan antara kenyataan dan tidak sedangkan orang dalam penyakit jiwa tidak dapat merasakan hidup dalam kenyataan dan dalam segi emosi, respon sangat terganggu. Kesehatan mental yang melekat pada diri peserta didik diusia remaja seperti: Pertama, kecemasan . Kedua, depresi dengan timbulnya perasaan hilangnya semangat dalam diri peserta didik. Ketiga, pola tidur yang tidak teratur. Keempat, perilaku menyakiti diri sendiri, hingga ada dorongan untuk melakukan bunuh diri. Semua Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 58-70 | 59 ini disebabkan oleh tahap perkembangan usia peserta didik pada fase remaja yang mengalami begitu banyak perubahan dan juga munculnya permasalahan-permasalahan yang mulai banyak dialami. Akibatnya, kondisi emosional dalam diri menjadi begitu besar dan tidak terkendali. Lalu pada tahap perkembangan ini seorang belum bisa secara sempurna mampu mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya. Beberapa gejala kesehatan mental peserta didik di sekolah yaitu: pertama, masalah kesulitan belajar, ketika seorang siswa mengalami gelisah, panik, stress, depresi, dan takut dalam menghadapi suatu permasalahan maka itu merupakan gejala psikologis yang dapat mempengaruhi kreatifitas, inisiatif, menurunkan motivasi belajar sehingga menimbulkan kesulitan belajar yang berdampak kepada menurunnya prestasi belajar Kedua, kenakalan remaja, siswa melanggar aturan dan norma yang berlaku. Ketiga, siswa mengalami gangguan mental yaitu sulit mengontrol emosi dan perilakunya. Dengan demikian, pembinaan kesehatan mental peserta didik juga termasuk penguatan nilai-nilai keislaman terhadap pesesrta didik. Penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik di sekolah yaitu dengan pembiasaan, keteladanan dan hukuman. Penyelenggaran kegiatan keagamaan, pembinaan nilai-nilai moral, menanamkan keimanan, mengajarkan ilmu agama Islam, mendidik peserta didik dan mengintegrasikan segala aspek ajaran agama Islam agar peserta didik taat menjalankan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kholisotum maghfiroh menjelaskan bahwa penguatan nilainilai Islam merupakan sebagai jawaban pengaruh globalisasi yang berdampak begitu pesat pada peserta didik dengan melihat betapa beragamnya latar belakang peserta didik disekolah dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan untuk menilai baik-buruk dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Heri Jauhari Muchtar dalam bukunya Fikih Pendidikan mengatakan bahwa, nilai-nilai Islam adalah nilai-nilai agama Allah SWT yang diperuntukkan bagi manusia sebagai petunjuk dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban di dunia ini. Secara singkat Muhaimin menjelaskan bahwa adanya nilai-nilai Islam dijadikan upaya untuk mendidik individu agar menjadi pribadi yang memiliki pandangan dan sikap hidup . ay of lif. Islami. Muhaimin menyebutkan bahwa nilai-nilai Islam yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah nilai aqidah, akhlak, dan syariah. Penguatan nilai-nilai keislaman di tengah pesatnya perkembangan zaman teknologi era globalisasi, maka pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman menjadi kunci untuk membentuk karakter keislaman peserta didik, dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, teknologi, dan informasi. Perencanaan dan pelaksanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman merupakan aspek penting sehingga perlu memperhatikan beberapa hal seperti tujuan, metode, sumber daya manusia, fasilitas, juga kondisi lingkungan sekolah yang mendukung program tersebut contohnya: lingkungan yang nyaman, bersih dan rapi. Tak berhenti disitu saja kompetensi guru terkait bagaimana strategi dalam penyampaian pelaksanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman juga suatu hal yang perlu diperhatikan, sehingga dapat dikembangkan dalam aspek kehidupan dengan contoh yang nyata. Serta yang terakhir adalah dukungan masayarakat terkait program pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman di sekolah Evaluasi pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman bagi peserta didik yang bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 60 | Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan generasi penerus bangsa yang sehat mentalnya dan memiliki pandangan sikap hidup yang islami. Namun, realita di lapangan menunjukkan hal yang sangat memprihatinkan di masyarakat, ditunjukkan dengan perkembangan teknologi, dan berbagai arus informasi dari sosial media dapat memperkenalkan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sehingga muncul fenomena kesehatan mental yang terjadi di kalangan Misalnya, stress, depresi, prilaku anti sosial, dan masalah psikologis lainnya yang dialami oleh peserta didik. Fenomena lainnya dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan, perilaku aspek negatif yang ditunjukkan oleh pelajar antara lain perkelahian, bullying, tawuran dan sebagainya. Fenomena kemerosotan moral dan akhlak memang terjadi pada semua lapisan masyarakat, namun lebih sering terjadi pada kalangan remaja. Kondisi demikian disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadikan sikap dan perilaku peserta didik menjadi menyeleweng, salah satunya kondisi kesehatan mental peserta didik yang tidak sehat dan lemahnya nilai Islam dalam diri sebagai pedoman . Hasil penelitian Mubasyiroh menunjukkan bahwa determinan gejala mental emosional pelajar SMP-SMA di Indonesia. Hasil olah statistik menunjukkan sebanyak 50,17% pelajar SMP-SMA yaitu rentang usia 13-15 tahun mengalami gejala masalah mental emosional, yaitu diantaranya mengalami gejala merasa kesepian sebesar 44,45%, merasakan kecemasan 40,75%, kemudian 7,33% berkeinginan untuk mengakhiri Hal ini juga didukung dengan hasil survei kesehatan mental indonesia (INAMHS) tahun 2022 bahwa problematika gangguan mental paling besar dirasakan oleh kalangan remaja adalah berupa gangguan stres pasca-trauma (PTSD) 0,5%, gangguan cemas sebesar 3,7%, gangguan sikap . ,9%), gangguan hiperaktivitas (ADHD) sebesar 0,5%, gangguan pemusatan perhatian 0,5% serta diikuti oleh gangguan depresi mayor . ,0%) dan satu dari dua puluh remaja Indonesia mengalami gangguan mental. Fenomena tersebut di atas juga terdapat di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu. Sebagaimana hasil observasi dan wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam ditemukan bahwa masih terdapat peserta didik yang hiperaktif seperti tidak duduk degan tenang, mengoyangkan kaki, mengganggu teman dan mengobrol sehingga tidak fokus belajar dan kurang konsentrasi. Hilang semangat dan malas belajar, terdapat juga siswa yang sulit mengontrol emosi dan prilaku sehingga gampang marah dan melanggar aturan sekolah, mengalami kecemasan berlebih akibat ekspektasi hasil atau ujian di sekekolah. Temuan lainnya yaitu masih terdapat peserta didik yang terpapar konten digital tanpa filter yang dapat membentuk persepsi tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Seperti terpapar konten-konten kekerasan dari game dan konten seksual yang mengarah pada pornografi dari berbagai arus informasi sosial media yang memperkenalkan nilainilai yang bertentangan dengan Islam. Perilaku aspek negatif yang ditunjukkan oleh peserta didik antara lain perkelahian, saling mengejek, bertutur kata kasar dan sebaginya. Oleh karena itu dalam menangani masalah tersebut, dibutuhkan suatu strategi atau metode karena strategi menjadi penentu dalam pencapaian tujuan. Sebagaimana Kholisotum Maghfiroh menjelaskan bahwa strategi merupakan perencanaan dalam rangkaian kegiatan yang didesain dalam mencapai tujuan tertentu. Strategi juga merupakan rencana tindakan . angkaian kegiata. termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pencapaian tujuan tertentu. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 58-70 | 61 Implementasi strategi juga merupakan rohnya dalam pencapaian tujuan. Dengan demikian strategi menjadi sangat penting dalam penyusunan langkah-langkah, pemanfaatan berbagai macam fasilitas dan sumber belajar yang semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan, khususnya strategi dalam pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik. Hal ini juga dilakukan oleh salah satu sekolah yang berada di Kota Bengkulu yaitu SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu, diantara strategi yang digunakan adalah melalui program bina karakter Islam. Bina Karakter Islam merupakan salah satu program sekolah di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu dalam bentuk pengajian berdasarkan kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari pembimbing dan peserta. Bina Karakter Islam diselenggarakan rutin setiap hari jumAoat. Tujuan dari bina karakter Islam yaitu menjadikan siswa berkepribadian yang Islami, meningkatkan kebersamaan dan persaudaraan antar sesama pelajar untuk menjalin ukhuwah Islamiyah serta memberi dukungan kepada individu sehingga mampu mengatasi dan menghadapi masalah. Peneliti memilih penelitian di SMP Fatma Kenanga ini, secara umum pelaksanaan kegiatan bina karakter islam ini masih belum berjalan dengan lancar karena masih ada peserta didik yang kurang patuh terhadap pembina kegiatan bina karakter Islam (BIKALAM). Dengan mengadakan program-program seperti, forum curhat dan sharing yang rileks, bermuatan religi dan karakter, evaluasi ibadah harian, rihla dan muhasabah. Terkait pada kegiatan bina karakter Islam, yang penulis amati dari bahwa peserta didik masih perlu diarahkaan dan dibimbing agar nilai-nilai Islam lebih tertanam dalam diri peserta didik, adapun yang dilakukan oleh pembina bina karakter Islam selama ini ialah memberi materi atau kajian-kajian, penjelasan, nasihat, pengarahan dan bimbingan. Selama kegiatan berlangsung mengajarkan peserta didik banyak hal, akan tetapi pembelajaran yang di berikan oleh pembina ini masih sering terabaikan oleh beberapa peserta didik karena masih ada peserta didik yang belum memiliki keseriusan untuk mengikuti kegiatan bina karakter Islam ini. METODE Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik yaitu penelitian yang bermaksud untuk memberi deskripsi terkait pembinnaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui bina karakter Islam. Penelitian kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang dapat menghasilkan data bersifat deskriptif berupa kata-kata berbentuk tulisan maupun lisan yang bersumber dari orangorang dan prilaku yang diamati. Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisisi pembinaa kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui bina karakter islam di SMP Fatma Kenanga kota Bengkulu HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Pembinaan Kesehatan Mental dan Penguatan Nilai-nilai Keislaman Peserta Didik Melalui Bina Karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 62 | Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 Sebagaimana telah dijelaskan dalam hasil penelitian, dapat diketahui bahwa perencanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui program bina karakter Islam di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu yaitu menentukan tujuan, menetapkan kegiatan, memanfaatkan sumber daya dan melakukan aktifitas yang konsisten. Tujuan dari program bina karakter Islam di SMP Fatma Kenanga bertujuan untuk membentuk siswa yang berkarakter Islami, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran menjalankan ibadah. Program ini melibatkan seluruh stakeholder, termasuk guru, orang tua, dan siswa. Kegiatan inti seperti mentoring agama, evaluasi ibadah harian, sharing, dan pemberian nasehat dilakukan secara rutin setiap hari Jumat, dengan kegiatan luar kelas seperti rihlah dan muhasabah untuk meningkatkan kebersamaan dan persaudaraan antar siswa untuk menjalin ukuhwah islamiyah. Pemanfaatan sumber daya dilakukan secara menyeluruh, melibatkan guru-guru yang berkompeten, siswa, fasilitas sekolah, dan Konsistensi dalam pelaksanaan program adalah elemen kunci untuk mencapai tujuan tersebut, dengan evaluasi mingguan untuk memastikan perkembangan siswa sesuai tujuan program. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan memiliki fondasi mental serta spiritual yang Sesuai dengan apa yang dikemukakakan oleh Nurdyansyah yaitu adanya perencanaan sangatlah efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran serta evaluasi hasil belajar yang mengarah pada peserta didik. Perencanaan teramat dibutuhkan guna penyusunan kegiatan pembelajaran dan tujuan yang dicapai dari proses tersebut. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Abdul Majid bahwa perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentu kebijakan, penentuan program, penentuaan metode-metode dan prosedur tertentu dan menentukan berdasarkan jadwal sehari-hari. Konsistensi program dan kegiatan sangat berkontribusi terhadap suksesnya perencanaan karena itu, konsistensi menjadi hal penting yang perlu diperhatikan guna mencapai tujuan program. Konsistensi perencanaan khususnya program dan kegiatan merupakan proses yang terintegrasi, karena output dari perencanaan adalah pelaksanaan. Isu aktual yang terkait dengan perencanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman di sekolah seperti SMP Fatma Kenanga melibatkan beberapa aspek yaitu: Kesehatan Mental di Sekolah. Isu kesehatan mental di kalangan pelajar semakin menjadi perhatian penting dalam pendidikan. Stres akademis dan sosial telah memicu peningkatan masalah kesehatan mental di kalangan siswa, seperti kecemasan dan depresi. Sekolah diharapkan untuk lebih fokus pada dukungan kesehatan mental, seperti melalui program konseling, pelatihan kesadaran diri, serta pengintegrasian isu ini dalam kurikulum. Integrasi nilai keagamaan dan pendidikan karakter. Program seperti bina karakter Islam di SMP Fatma Kenanga sejalan dengan upaya penguatan karakter berbasis agama yang juga mendukung kesejahteraan mental Penguatan nilai-nilai Islam melalui bimbingan agama dapat membangun ketahanan mental dan spiritual siswa, yang menjadi penting dalam menghadapi tantangan sosial dan Dengan pendekatan yang komprehensif dalam mendukung kesehatan mental Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 58-70 | 63 dan penguatan spiritual, sekolah dapat mencetak siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kuat. Pelaksanaan Pembinaan Kesehatan Mental dan Penguatan Nilai-nilai Keislaman Peserta Didik Melalui Bina Karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu Sebagaimana telah dijelaskan dalam hasil penelitian, peneliti melihat bahwa bina karakter Islam bukanlah program yang direncanakan secara khusus untuk pembinaan kesehatan mental melainkan bina karakter Islam adalah salah satu upaya untuk mendukung pembinaan kesehatan mental siswa khususnya secara ruhaniyah. Pembinaan ini dapat dilaksanakan dengan berlandaskan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini dapat dilaksanakan dengan melalui empat aspek yaitu ketenangan hati dan pikiran, pengendalian diri dan emosi, keteraturan dan disiplin, optimisme dan harapan yang mana keempat aspek tersebut mengintegrasikan nilai-nilai spiritual seperti tawakkal dan sabar, taqwa dan ihsan, ibadah sholat, husnuzan dan ridha dalam mendukung kesehatan mental siswa secara ruhaniyah. Dalam konteks Islam, kesehatan mental tidak hanya didefinisikan sebagai ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga mencakup kedamaian batin dan hubungan yang harmonis antara individu dengan Allah, diri sendiri, dan orang lain. Sesuai hasil penelitian oleh Riska N. Hamidah menyatakan bahwa nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dapat memperkuat mental siswa dalam menghadapi tantangan hidup. Sesuai yang dikemukakan oleh Al-Ghazali, dalam karyanya Ihya AoUlumuddin, menekankan bahwa kesehatan mental sangat bergantung pada kebersihan hati . dan hubungan individu dengan Allah. Menurutnya, keimanan dan ketakwaan adalah kunci utama untuk mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat, karena mereka mengatur emosi, pikiran, dan perilaku seseorang menuju kebaikan. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya tazkiyatun nafs . embersihan jiw. sebagai bagian dari pembangunan karakter yang baik. Hal ini berhubungan langsung dengan upaya bina karakter Islam, yang tujuannya bukan hanya mengembangkan sifat-sifat moral dan sosial, tetapi juga memperkuat kesehatan mental dengan mengarahkan individu pada keseimbangan spiritual dan emosional. Isu kesehatan mental di kalangan remaja telah menjadi perhatian global, sehingga memperburuk kondisi psikologis banyak remaja akibat isolasi sosial, tekanan akademik, serta ketidakpastian masa depan. Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS) telah dilakukan pada remaja usia 10-17 tahun di Indonesia. Hasilnya, lebih dari 17 juta remaja di Indonesia memiliki masalah dengan kesehatan mental. Survei yang dilakukan pada 2022 ini merupakan penelitian kerja sama antara Universitas Gadjah Mada (UGM). University of Queensland (UQ) di Australia . ead organisasi NAMHS). Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (JHSPH) di Amerika Serikat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenke. Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Hasanuddin (Unha. Dalam konteks ini, program bina karakter Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual seperti tawakkal, sabar, dan ikhlas dapat menjadi solusi untuk mendukung kesehatan mental siswa. Dengan pendekatan yang menekankan keseimbangan spiritual dan emosional, siswa diajarkan untuk menghadapi tekanan hidup dengan ketenangan batin serta optimisme. Integrasi spiritualitas dalam pendidikan juga terbukti memperkuat ketahanan mental siswa, memfasilitasi pemulihan dari trauma psikologis yang mungkin mereka alami. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 64 | Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu adalah salah satu sekolah yang menyuguhkan pendidikan agama Islam, sesuai dengan visi sekolah ini adalah menjadi lembaga syiar islam di bidang pendidikan karakter yang berdasarkan Al-qurAoan dan sunnah. Oleh karena itu salah satu misi sekolah SMP Fatma Kenanga adalah menyelenggarakan programprogram keagamaan untuk membangun karakter peserta didik. Salah satu programnya yaitu bina karakter Islam sebagai upaya menguatkan nilai-nilai Keislaman peserta didik. Program Bina Karakter Islam di SMP Fatma Kenanga berfokus pada pembiasaan sikap religius dan penguatan nilai-nilai keislaman melalui berbagai kegiatan keagamaan dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan akhlak mulia. Keteladanan guru sebagai model perilaku yang positif sangat penting, karena dapat memotivasi siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai seperti kejujuran dan disiplin. Pendekatan emosional yang humanis, yang menekankan kasih sayang dan pemahaman, memperkuat hubungan antara guru dan siswa, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung pengembangan karakter Islami. Selain itu, kerjasama antara semua pihak di sekolah, termasuk orang tua, menjadi kunci dalam memastikan nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasi secara efektif, membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama. Sesuai yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam IhyaAo AoUlumuddin, pembiasaan adalah metode efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai Islami karena dengan mengulang suatu tindakan secara terus-menerus, nilai tersebut akan tertanam kuat dalam karakter Menurut Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam, keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dalam membentuk karakter karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat. Sesuai yang dikemukakan Firda Nurrahma Silvana dkk guru dan staf di sekolah berperan sebagai teladan, sementara kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci keberhasilan pembinaan karakter religius Hal ini menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai agama dapat diinternalisasi secara efektif melalui pembiasaan dan keteladanan Sesuai yang dikemukakan oleh A. Rahman dalam penelitiannya Kepala sekolah harus mendorong semua elemen sekolah, terutama guru, untuk aktif dalam mengimplementasikan nilai-nilai islami, serta memberikan dukungan berupa pelatihan dan pengembangan profesional terkait pendidikan islam. Isu-isu aktual terkait penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik di sekolah meliputi tantangan dalam pengembangan karakter religius dan moral siswa di era digital. Beberapa poin penting yang bisa diperhatikan adalah Pentingnya Konsistensi dalam Pembiasaan pembentukan karakter melalui pembiasaan praktik keagamaan secara konsisten sangat krusial untuk menanamkan nilai-nilai agama pada siswa. Misalnya, kegiatan seperti shalat berjamaah, doa bersama, dan muhasabah yang rutin menjadi bagian dari program-program pembinaan. Konsistensi ini menjadi kunci dalam membangun budaya religius yang berkelanjutan di sekolah. Tantangan Era Digital di era digital saat ini, siswa lebih banyak terpapar oleh berbagai pengaruh eksternal melalui media sosial dan teknologi, yang bisa memengaruhi karakter mereka. Oleh karena itu, program pembinaan karakter Islam perlu didukung oleh pendekatan yang memanfaatkan teknologi secara positif, seperti menggunakan aplikasi untuk memonitor ibadah atau menyebarkan konten keagamaan yang edukatif. Dengan menghadapi tantangantantangan ini, program bina karakter Islam harus terus berkembang dan disesuaikan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 58-70 | 65 dengan kebutuhan zaman, sambil tetap menjaga esensi dan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya. Evaluasi Pembinaan Kesehatan Mental dan Penguatan Nilai-nilai Keislaman Peserta Didik Melalui Bina Karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu Evaluasi rutin di SMP Fatma Kenanga dilakukan melalui lembar evaluasi dan pencatatan kehadiran guru serta siswa, kepala sekolah turut memantau pelaksanaan kegiatan tersebut untuk memastikan keberhasilan program. Setiap akhir bulan, siswa diminta untuk menyampaikan ulang materi dalam bentuk ceramah dengan tujuan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Namun, terdapat beberapa hambatan dalam program bina karakter Islam, seperti ketidakhadiran guru, agenda rutin yayasan yang mengganggu, keterlambatan waktu pelaksanaan, serta kurangnya konsentrasi dan fokus siswa selama kegiatan. Evaluasi dalam pendidikan bertujuan untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran dan memastikan tujuan pendidikan tercapai. Evaluasi rutin yang dilakukan melalui lembar evaluasi dan pencatatan kehadiran guru serta siswa merupakan bagian dari Evaluasi Formatif. Sesusai yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto dan Safruddin Abdul Jabar evaluasi formatif adalah kegiatan menilai yang bertujuan untuk mencari umpan balik . , yang dilakukan pada akhir pembahasan suatu topik atau pokok Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran telah berjalan sesuai rencana. Kepala sekolah juga ikut memantau pelaksanaan kegiatan bina karakter Islam untuk memastikan keberhasilan program sesuai yang dikatakan Rasdi Ekosiswoyo mengatakan bahwa salah satu faktor dari manajemen pendidikan yang penting dalam program pendidikan adalah kepemimpinan kepala Sekolah yang memiliki peran sentral dalam memastikan keberhasilan program dengan cara memonitor dan memberikan dukungan terhadap guru dan siswa. Beberapa isu aktual terkait evaluasi program bina karakter Islam di SMP Fatma Kenanga, mencakup tantangan dalam pelaksanaan, seperti ketidakhadiran guru, hambatan logistik, serta kurangnya konsentrasi siswa. Isu ketidak hadiran guru merupakan masalah yang berdampak signifikan pada kualitas pembelajaran dan efektifitas program. Berdasarkan studi tentang ketidakhadiran guru di Indonesia, absensi guru sering terjadi tanpa alasan jelas, yang secara langsung memengaruhi keberlangsungan kelas dan hasil belajar siswa. Hal ini juga meningkatkan angka ketidak hadiran siswa dan menurunkan motivasi serta kinerja akademis mereka. Selain itu, keterlambatan dalam pelaksanaan kegiatan sering kali terkait dengan agenda yayasan yang tidak sinkron dengan jadwal sekolah, mengganggu konsistensi program. Fokus dan konsentrasi siswa yang rendah selama kegiatan juga merupakan tantangan besar. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketidakhadiran guru dan kegiatan yang tidak terstruktur dapat mengurangi efektivitas pembelajaran dan penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah. Mengatasi tantangan ini memerlukan kerjasama yang lebih baik antara pihak sekolah, guru, yayasan, dan orang tua, serta peningkatan evaluasi rutin untuk memantau kehadiran dan keterlibatan siswa secara efektif. KESIMPULAN This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 66 | Kesi Mayori1. Mawardi Lubis2. Khairiah3 Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah diperoleh dari pembahasan yang berjudul pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui bina karakter islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Perencanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui program bina karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu terdapat empat tahapan yaitu: penentuan tujuan, menentapkan kegiatan, menentapkan sumber daya, dan melakukan aktivitas yang konsisten. Pelaksanaan pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui program bina karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu pertama Pembinaan kesehatan mental: ketenangan hati dan pikiran . awakkal dan saba. , pengendalian diri dan emosi . aqwa dan ihsa. , keteraturan dan disiplin . badah dan shala. , optimisme dan harapan . usnuzan dan ridh. Kedua penguatan nilai-nilai keislaman : pembiasaan sikap religius terhadap siswa, suri tauladan guru, pendekatan pada peserta didik dan sinergitas guru dan elemen sekolah. Evaluasi pembinaan kesehatan mental dan penguatan nilai-nilai keislaman peserta didik melalui program bina karakter Islam (BIKALAM) di SMP Fatma Kenanga Kota Bengkulu dilaksanakan dengan monitoring dan evaluasi hambatan dari program. DAFTAR PUSTAKA