PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI: JURNAL PENDIDIKAN GURU MADARASAH IBTIDAIYAH VOLUME: 3 NO: 2 TAHUN 2025 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/pgmi/index PENINGKATAN KECERDASAN INTERPERSONAL TENTANG SENSITIVITAS SOSIAL MELALUI METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM PEMBELAJARAN IPS Wina Mustikaati1. Nurdiansyah2. Ela Hayati3 Universitas Pendidikan Indonesia123. Indonesia Email: winamustika@upi. Email: nurdiansyah1971@upi. Email: elahayati01@upi. Article history Submitted Accepted Published /07/2025 27/07/2025. 30/07/2025 ABSTRACT Along with the development of the era characterized by changes in life in society, the social sensitivity of the community, especially among students at the elementary education level, resulted in a decline in the social sensitivity of the community. In line with the mandate of learning in the form of competency achievement needed in the 21st century, it encourages changes in the learning process. Developing students' soft skills skills combined with CTL methods is expected to be able to answer problems that arise regarding social sensitivity among students, especially for V-grade students of Peditia Elementary School. Purwakarta Regency. The purpose of this study is that it is necessary to conduct research to measure students' level of social sensitivity through CTL learning methods. This study uses a quantitative approach in which data collection uses instruments in the form of Likert scales to measure the level of social sensitivity of students who have previously been given treatment using CTL methods in their learning process as well as observation and documentation data carried out during practice. and post-treatment, and interviews to obtain preliminary data as a description before research is conducted. The obtained instrument data are then analyzed using descriptive statistics. Because research has not been conducted and treatment has not been conducted, the data presented is preliminary data in the form of interviews and observations that have been conducted previously. The results of this study obtained a level of social sensitivity in students before conducting CTL studies of 82% of grade VI students had a high level of social sensitivity and a level of social sensitivity and response after learning with CTL method 87% of grade V students had a level of social sensitivity It is a very high level and able to apply awareness of social sensitivity in everyday life. Key Words: CTL. IPS Learning. Sensitivity Social, intelligence ABSTRAK Seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan perubahan kehidupan dalam bermasyarakat mengakibatkan penurunan sikap sensitivitas sosial masyarakatnya khususnya dikalangan siswa pada tingkatan pendidikan dasar. Sejalan dengan amanat dari pembelajaran berupa pencapaian kompetensi yang dibutuhkan di era Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah abad 21 ini, mendorong terjadinya perubahan dalam proses pembelajaran. Mengembangkan kemampuan soft skills siswa yang dipadukan dengan metode CTL diharapkan akan dapat menjawab permasalahan yang muncul terkait dengan sensitivitas sosial di kalangan siswa khususnya pada siswa kelas V SD Cendekia Kabupaten Purwakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah dipandang perlu untuk dilakukan penelitian guna mengukur tingkat sensitivitas sosial siswa melalui metode pembelajaran CTL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang pengumpulan datanya menggunakan instrument dalam bentuk skala Likert untuk mengukur tingkat sesitivitas sosial siswa yang sebelumnya telah diberikan treatment terlebih dahulu menggunakan metode CTL di proses pembelajarannya serta data observasi dan dokumentasi yang dilakukan pada saat pra dan pasca treatmen, serta wawancara guna diperoleh data awal sebagai deskripsi sebelum dilakukan penelitian. Data instrument yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan statistic deskriptif. Dikarenakan penelitian belum dilakukan serta belum dilakukannya perlakuan, maka data yang disajikan merupakan data awal berupa hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan Hasil dari penelitian ini memperoleh tingkat sensitivitas sosial pada siswa sebelum melakukan pembelajaran CTL sebesar 82% siswa kelas VI memiliki tingkat sensitivitas sosial yang cukup tinggi dan tingkat sensitivitas sosial dan respon siswa setelah melakukan pembelajaran dengan metode CTL 87% siswa kelas V memiliki tingkat sensivitas sosial yang sangat tinggi dan mampu menerapkan kesadaran dari sensitivitas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: CTL. Pembelajaran IPS. Sensitivitas Sosial. Kecerdasan PENDAHULUAN Belajar merupakan proses perubahan yang menyangkut sikap dan perilaku. Prosesnya mencakup keberagaman kegiatan guna mencapai tujuan dan kompetensi yang telah Guru merupakan actor utama dalam melakukan proses tersebut yang berhubungan secara langsung kepada para siswnya. Upaya melaksanakan proses pembelajaran tersebut, peran guru itu tidak dapat dilepaskan guna mencapai hal tersebut. Karena itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran. Pada prosesnya perlu adanya pembinaan sehingga dapat menciptakan kegiatan secara berencana dan terarah. Guru diharapkan dapat merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikannya sehingga memiliki perasaan Sensitivitas sosialyang tinggi dan dapat menghargai sesama. Pembelajaran itu sendiri menurut (Spector, 2. bahwa AuLearning is fundamentally about change-change in attitudes, behavior, beliefs, capabilities, mental models, skills, or a combination of theseAy, artinya bahwa pembelajaran merupakan dasar dari perubahan sikap, perilaku dan keyakinan, kemampuan mental, ketrampilan, dan lainnya. Belajar menurut Driscoll seperti yang dikutip oleh (Reisser, 2. bahwa: Au. learning is defined as a persisting change in human performance or performance potential, learning comes about as a consequence of, the learnerAos experience and interaction with the worldAy, yang artinya belajar didefinisikan sebagai perubahan yang bertahan dalam kinerja manusia atau potensi kinerja, pembelajaran muncul sebagai konsekuensi dari pengalaman belajar dan interaksi dengan duniaAy. Menurut Kimble seperti yang dikutip oleh (Hergenhahn, 2. bahwa Aubelajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavior potentiality . otensi behaviora. yang terjadi sebagai Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah akibat dari reinforced practice . raktek yang diperkua. Ay. Berdasarkan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 37 ayat 1 bahwa Aukurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat mata pelajaran IPSAy Melalui pembelajaran IPS siswa akan dibekali pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat, serta membentuk siswa untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Pembelajaran IPS yang dilaksanakan di kelas tidak hanya berfokus pada ranah kognitif saja melainkan juga pada ranah afektif dan psikomotor. Hal ini dimaksudkan agar melalui pembelajaran IPS diharapkan siswa disamping mampu memecahkan barbagai permasalahan tidak hanya pada sudut pandang kognitif saja tetapi juga mampu bersikap serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat yang ada disekitarnya serta kepedulian sosial yang tinggi sebagai bekal di kehidupannya. Terselenggaranya pembelajaran IPS yang efektif dan efisien di sekolah khususnya pada tingkatan pendidikan dasar hendaknya dilaksanakan oleh guru yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai. Hal ini dimaksudkan agar dapat terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa dapat termotivasi dan berpartisipasi Pada prosesnya pembelajaran IPS juga diharapkan dapat menumbuhkembangkan sikap sensivitas sosial siswa dalam dirinya sehingga pada prakteknya mampu beradaptasi dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tumbuh kembangnya sensivitas sosial ini juga diiringi oleh kecerdasan interpersonal yang dimiliki oleh siswa sebagai salah satu kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Gardner. Kecerdasan interpersonal yang dimiliki melahirkan sensivitas sosial yang nantinya menjadikan siswa memiliki simpati dan empati dalam dirinya untuk kemudian dapat dilaksanakan dalam kehidupannya. Menurut (Gardner, 2. Authe interpersonal intelligence entails the capacity of the young child to discriminate among the individuals around him and to detect their various moodsAy, artinya bahwa kecerdasan interpersonal ini diperlukan oleh anak muda untuk mengetahui suasana hati mereka di lingkungan sekitarnya. Menurut (Hoeer, 2. Auinterpersonal intelligence is the ability to understand people and relationshipsAy artinya bahwa kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berhubungan dengan orang lain. Menurut (Amstrong, 2. berpendapat bahwa AuThe ability to perceive and make distinctions in the moods, intentions, motivations, and feelings of other people. This can include sensitivity to facial expressions, voce, and gestures. the capacity for discriminating among many different kindAos interpersonal cues. and the ability to respond effectively to those cues in some pragmatic way . , to influence a group of people to follow a certain line of actio. Ay artinya bahwa kemampuan untuk memahami perbedaan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan seseorang. Hal lainnya yang mencakup kecerdasan interpersonal adalah kepekaan terhadap suara dan ekspresi wajah, gerakan tubuh, membedakan berbagai jenis isyarat serta kemampuan untuk merespon secara efektif isyarat secara pragmatis. Sensitivitas sosial itu sendiri merupakan tanggap atau tidaknya seseorang terhadap harapan dan kondisi sosial yang terdapat pada lingkungannya sehingga dapat bertindak sesuai dengan harapan yang terdapat dalam lingkungan kemasyarakatannya. Sensitivitas sosial pada pribadi berawal dari pribadi yang matang sehingga mampu Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah mengarahkan pribadinya sesuai dengan hati serta nilai-nilai etika dan estetika yang terdapat di dalam masyarakatnya. Tumbuh kembangnya sensitivitas sosial pada diri siswa tidak terlepas dari kecerdasan interpersonal yang dimilikinya. Sensitivitas sosial secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap objek atau situasi sosial tertentu yang ada di sekitarnya. Keberagamaan sensitivitas sosial sangat penting untuk ditanamkan pada anak dalam hal ini para siswa semenjak dini. Sensitivitas sosial tersebut di antaranya adalah berbagi dengan orang lain, bersedia membantu orang yang membutuhkan. Bentuk sensitivitas sosial lainnya adalah keberanian untuk meminta maaf bila melakukan kesalahan, dan sikap menghargai orang lain dengan keadaan yang berbeda. Sensitivitas sosial juga diartikan sebagai kemampuan dalam memahami perilaku dan perasaan serta motif individu yang merupakan bagian dari psikologis dalam memahami berbagai fenomena mendasar seperti efikasi diri dan peranannya berinteraksi dalam maupun antar kelompok. Sensitivitas sosial juga dianggap sebagai sebuah rangsangan yang berpotensi menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran pada sebuah fenomena ataupun gejala yang terjadi baik secara internal maupun eksternal. Sikap sensitivitas dikalangan siswa berpengaruh terhadap sikap dan perilaku kesehariannya karena dalam sensitivitas sosail memiliki perasaan dan naluriah secara Sensitivitas sosial digambarkan sebagai kemampuan individu dalam mengidentifikasi dan memahami isyarat dalam konteks berinteraksi sosial serta menghormati Memiliki Sensitivitas sosial yang tinggi dapat menjadikan seseorang disukai dan dihormati dalam berhubungan social kemasyarakatannya. Sensitivitas sosial itu sendiri merupakan kemampuan dari individu untuk memahami dan merespon secara tepat terhadap perasaan, kebutuhan, dan situasi social terhadap orang lain. Sensitivitas sosialmerupakan aspek sosial yang terdiri dari empati yang merupakan pemahaman tentang orang lain berdasarkan sudut pandang perspektif, kebutuhan, pengalaman orang tersebut. Prososial merupakan tindakan moral yang harus dilakukan secara kultural seperti berbagi, membantu yang membutuhkan, bekerjasama dengan orang lain, dan mengungkapkan simpati. Sensitivitas sosial memiliki peranan yang penting di berbagai aspek kehidupan termasuk di dalamnya hubungan pribadi, lingkungan kerja dan partisipasi dalam lingkup Sensitivitas sosialyang tinggi dapat membantu individu dalam bergaul, menghindari konflik, dan menciptakan lingkungan yang kondusif. Menumbuhkembangkan sikap sensitivitas sosial yang tinggi dapat dilakukan dan dilaksanakan dalam pembelajaran IPS melalui penerapan metode pembelajaran yang sesuai dan tepat sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran serta tujuan yang akan dicapainya. Diantara aneka ragam metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS yang dapat memfasilitasi kecerdasan interpersonal pada siswa sehingga melahirkan sikap sensitivitas sosial yang tinggi adalah dengan menerapkan metode pembelajaran CTL. Hal ini didasarkan atas bahwa metode pembelajaran CTL merupakan metode pembelajaran yang didasarkan atas keadaan aktual yang terjadi saat ini. Menurut (Sanjaya, 2. ada tiga hal dari konsep metode pembelajaran kontekstual/CTL yaitu . metode pembelajaran kontekstual/CTL menekankan kepada proses Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah keterlibatan siswa untuk menemukan materi dan pada proses ini tidak mengharapkan siswa hanya menerima pelajaran tetapi juga proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, . metode pembelajaran kontekstual/CTL mendorong siswa untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, . metode pembelajaran kontekstual/CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya metode pembelajaran kontekstual/CTL tidak hanya mengharapkan siswa memahami materi yang dipelajari tetapi bagaimana materi tersebut dapat mewarnai prilakunya sehari-hari. Sehubungan dengan hal tersebut (Depdiknas, 2. menyampaikan terdapat lima karakteristik penting dalam proses metode pembelajaran kontekstual/CTL yaitu . pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang telah ada, . pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru, . pemahaman pengetahuan, . mempraktekan pengetahuan, . melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan Pembelajaran kontekstual pada awalnya dikembangkan oleh John Dewey dari pengalaman pembelajaran tradisionalnya. Menurut Dewey yang dikutip oleh (Sumiati, 2. bahwa siswa akan belajar dengan baik jika yang dipelajarinya terkait dengan pengetahuan dan kegiatan yang telah diketahuinya dan terjadi di sekelilingnya. Berkaitan dengan hal diatas (Depdiknas, 2. meminta kepada setiap guru jika menerapkan metode pembelajaran kontekstual/CTL harus . siswa dipandang sebagai individu yang berkembang, . setiap anak berkecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru, . belajar bagi siswa adalah proses menghubungkan hal yang baru dengan hal yang diketahui, . belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema. Metode pembelajaran kontekstual/CTL sebagai pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas yang melandasi pelaksanaan pembelajaran yaitu: konstruktivisme, inkuiry, questioning, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian demikian menurut (Depdiknas, 2. Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual/CTL guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti . pendahuluan, . inti yang terdiri dari kegiatan di lapangan dan di kelas, . Disamping itu pula sebagai metode dalam mendukung pembelajaran IPS, metode CTL sebagai pendekatan pembelajaran memiliki tujuh asas yang melandasi pelaksanaan pembelajarannya yaitu: konstruktivisme, inkuiry, questioning, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian. METODEPENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan metode eksperimen yaitu memberikan treatment pembelajaran dengan metode CTL. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan instrumen non-tes dalam bentuk kuesioner skala Likert terkait dengan sensitivitas sosial siswa dengan pilihan jawaban berupa data kontinum 1 sampai dengan 4. Guna mendukung data yang diperoleh maka dilakukan juga observasi partisipasi yang berupa pengamatan obyek penelitian secara langsung selama proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas dan pada saat jam istirahat yang masih berada di lingkungan sekolah. Disamping itu pula dilakukan dokumentasi proses pelaksanaan kegiatan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah pembelajaran di kelas. Sebelum dimulai dan dilakukan penelitian dengan memberikan perlakuan dan pengambilan data telah dilakukan observasi awal dan wawancara kepada Guru Kelas V SD Cendekia Kabupaten Purwakarta mengetahui gambaran dari obyek penelitian yaitu para siswa kelas V. Data yang telah diperoleh setelah treatment nantinya kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang diawali dengan uji validitas dan reliabilitas instrumen sensitivitas sosial. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas instrument serta treatment pembelajaran dengan metode CTL, para siswa kemudian diberikan instrumen terkait sensitivitas sosial yang berfungsi untuk mengetahui tingkat sensitivitas sosial siswa serta dilakukan pula observasi partisipasi dari peneliti. Data yang diperoleh dari instrumen kemudian dianalisis secara statistik deskriptif guna dperoleh informasi terkait dengan tingkat sensitivitas sosial siswa SD tersebut. Adapun yang menjadi sasaran penelitian adalah para siswa kelas V SD Cendekia yang terletak di kabupaten Purwakarta. Penetapan sampel dilakukan secara purposive sampling teknik yaitu pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampel dengan pertimbangan tertentu. Pemilihan sampel tersebut didasarkan atas Tidak sedang dalam masa persiapan untuk mengikuti ujian akhir sekolah. Terdapat materi pembelajaran IPS terkait dengan sensitivitas sosial. Kelas V merupakan kelas dengan tingkatan middle diantara deretan tingkatan kelas tinggi pada pendidikan dasar dalam hal ini sekolah dasar. Siswa kelas V telah memiliki sensitivitas sosial terhadap teman dan lingkungan HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di SD Cendekia Kabupaten Purwakarta. Kegiatan observasi dilakukan di kelas VI terlebih dahulu yaitu dengan memberikan instrumen kuesioner. Kemudian kegiatan dilanjutkan di kelas V yaitu dengan adanya pematerian dan pengisian instrumen kuesioner. Sarana dan prasarana yang digunakan selama kegiatan penelitian berlangsung yaitu laptop, kuota internet, papan tulis, spidol, dan layar projector. Sebelum dilakukannya kegiatan penelitian, tim peneliti melakukan survei terlebih dahulu di SD yang menjadi tempat untuk dilaksanakannya penelitian. Survei dilakukan dengan memberikan surat izin penelitian kepada kepala sekolah dan wali kelas V dan wali kelas VI. Dalam perencanaan ini peneliti berkomunikasi dengan wali kelas yang bersangkutan mengenai jadwal kegiatan dan menyiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama kegiatan berlangsung. Penelitian awal dimulai pada tanggal 8 Mei 2025 di kelas VI dengan memberikan instrumen kuesioner untuk mengetahui pemahaman awal siswa mengenai sensitivitas sosial. Instrumen kuesioner berisi pernyataan mengenai sesnsitivitas sosial, siswa mengisi instrumen tersebut dengan memberikan tanda (O. pada kolom lembar jawaban yang tersedia yaitu dengan memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kolom SS untuk Sangat Setuju. S untuk Setuju. TS untuk Tidak Setuju dan STS untuk Sangat Tidak Setuju. Dengan kategori sikap yang mengacu pada rentang persentase skor yaitu: 76% - 100% = Memiliki Sensitivitas Sosial yang Sangat Tinggi 51% -75% = Memiliki Sensitivitas Sosial yang Tinggi 26% - 50% = Memiliki Sensitivitas Sosial yang Rendah 0% - 25% = Memiliki Senstivitas Sosial yang Sangat Rendah Data awal serta perhitungan sebagai berikut: Butir Jumlah Persentase Tingkat Item Skor Skor Sensitivitas Sosial 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 Sangat Tinggi 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 4 4 Sangat Tinggi 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 Sangat Tinggi 3 4 4 3 3 3 1 4 3 4 4 4 4 4 4 Sangat Tinggi 4 4 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 Sangat Tinggi 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 Tinggi 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 Sangat Tinggi 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 Sangat Tinggi 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 Sangat Tinggi 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 4 4 Sangat Tinggi 3 4 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 3 1 Sangat Tinggi 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 Sangat Tinggi 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 2 3 3 Sangat Tinggi 3 2 4 4 3 3 3 3 4 1 4 4 3 4 4 Sangat Tinggi 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 3 3 4 Sangat Tinggi 3 0 2 4 0 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 Tinggi 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 4 Sangat Tinggi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 4 4 4 3 4 3 4 4 3 Sangat Tinggi 19 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 Sangat Tinggi 20 3 3 3 3 3 3 0 3 3 3 3 3 3 3 2 2 Tinggi 21 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 Sangat Tinggi 22 3 3 4 2 2 4 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 Tinggi 23 3 3 3 4 4 3 3 3 4 2 3 3 4 4 4 4 Sangat Tinggi 24 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 0 4 Sangat Tinggi 25 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 Sangat Tinggi 26 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 Sangat Tinggi 27 4 3 3 2 1 2 3 1 3 4 4 4 4 4 1 1 Tinggi 28 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 2 3 4 3 3 4 Sangat Tinggi Tabel 1. Data Awal Hasil Uji Coba Variabel Sensitivitas Sosial di Kelas VI Kemudian dilakukan penelitian kedua pada tanggal 16 Mei 2025 di kelas V dengan memberikan instrumen kuesioner yang sama. Perbedaan dari penelitian yang dilakukan sebelumnya di kelas VI, dimana penelitian kedua di kelas V siswa diberikan materi mengenai sensitivitas sosial terlebih dahulu sebelum mengisi instrumen tersebut. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat mengetahui perbandingan antara siswa kelas 6 yang belum mempelajari sensitivitas sosial dan kelas V yang sudah diberikan materi sensitivitas sosial menggunakan metode CTL. Kemudian Diperoleh data sebagai berikut: No. Resp Butir Jumlah Persentase Tingkat Item Skor Skor Sensitivitas Sosial 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 2 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 Sangat Tinggi 4 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 Sangat Tinggi 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 Sangat Tinggi 3 3 3 1 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 Sangat Tinggi 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 Sangat Tinggi 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 4 4 4 Sangat Tinggi 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 Sangat Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 2 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 2 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 2 2 2 1 2 4 2 3 2 4 4 4 3 4 3 4 4 Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Sangat Tinggi 3 3 4 3 4 3 3 4 3 4 2 4 3 3 3 3 Sangat Tinggi Tabel 2. Data Akhir Hasil Uji Coba Variabel Sensitivitas Sosial di Kelas V Data diatas menunjukan hasil dari uji coba varibel sensitivitas sosial. Terdapat hasil olah data dalam bentuk pesentase skor dimana persentase skor tersebut menunjukkan tingkat sensititvitas sosial yang dimiliki siswa sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran CTL mengenai sensitivitas sosial. Pembahasan hasil penelitian difokuskan pada dua hal, yaitu . Tingkat sensitivitas sosial pada siswa sebelum melakukan pembelajaran CTL dan . Tingkat sensitivitas sosial serta respon siswa setelah melakukan pembelajaran dengan metode CTL. Pembahasan hasil penelitian difokuskan pada dua hal, diantaranya: Tingkat sensitivitas sosial pada siswa sebelum melakukan pembelajaran CTL Pada kegiatan penelitian awal di kelas VI, siswa diberikan instrumen kuesioner tanpa diberikan pembelajaran CTL. Siswa di kelas VI berjumlah sekitar 28 orang, setiap siswa menjawab pernyataan yang terdapat di lembar instrumen kuesioner secara Dari 28 siswa di kelas 6, sebanyak 23 siswa memiliki tingkat sensitivitas sosial yang sangat tinggi dan 5 siswa lainnya masuk kedalam tingkat sensitivitas sosial yang cukup tinggi. Jika di konversi dalam bentuk persen yang terdapat dalam bentuk diagram diatas, maka 82% siswa kelas 6 memiliki tingkat sensitivitas sosial yang sangat tinggi sedangkan 17% siswa lainnya memiliki tingkat sensitivitas sosial yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas VI di SD Cendekia Kabupaten Purwakarta sudah memiliki sensitivitas sosial yang baik dalam bekerjasama, tolong menolong serta Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Data awal ini belum di latar belakangi oleh pembelajaran dengan metode CTL, maka dengan itu peneliti belum dapat melihat seberapa jauh mereka mengimplementasikan kemampuan dari sensitivitas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat sensitivitas sosial serta respon siswa setelah melakukan pembelajaran dengan metode CTL Pada kegiatan penelitian kedua di kelas V, siswa diberikan instrumen kuesioner yang sama dengan menerapkan pembelajaran CTL pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung termasuk ketika pemberian materi. Siswa diberikan pemahaman mengenai sensitivitas sosial yang didalamnya membahas konsep, tujuan, faktor-faktor yang mempengauhi sensitivitas sosial serta pentingnya memiliki kesadaran untuk merasakan dan mengamati reaksi atau perubahan orang lain baik secara verbal maupun non verbal dalam kehidupan sehari-hari. Siswa di kelas V berjumlah sekitar 16 orang. Dari 16 siswa di kelas V, sebanyak 14 siswa memiliki tingkat sensitivitas sosial yang sangat tinggi dan 2 siswa lainnya masuk kedalam tingkat sensitivitas sosial yang cukup tinggi. Jika di konversi dalam bentuk persen yang terdapat dalam bentuk diagram diatas, maka 87% siswa kelas V memiliki tingkat sensitivitas sosial yang sangat tinggi dan mampu menerapkan kesadaran dari sensitivtas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan 12% siswa lainnya memiliki tingkat sensitivitas sosial yang cukup tinggi sehingga mereka cukup mampu dalam menerapkannya. Perolehan data ini menunjukkan bahwa penerapan metode CTL memiliki pengaruh terhadapt hasil pembelajaran yang telah Jika diambil jumlah responden yang sama di setiap kelasnya tanpa mengurangi siswa yang masuk kedalam kategori tingkat semsitivitas sosial AutinggiAy maka terjadi peningkatan yaitu sebanyak 19%. Peningkatan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut dimana kesadaran sensitivitas sosial sangat penting untuk dimiliki setiap orang, dalam konteks ini khususnya siswa sekolah dasar. Hal ini didasari bahwa sensitivitas sosial . ocial sensitivit. merupakan salah satu dimensi dari kecerdasan Dimana kecerdasan interpersonal adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, serta membangun dan mempertahankan hubungan sosial. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan penelitian ini telah membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode CTL telah mampu meningkatkan tingkat kesadaran sensitivitas sosial khususnya pada siswa di SD Cendekia Kabupaten Purwakarta sebesar 87%. Sikap sensitivitas dikalangan siswa sangat penting untuk dimiliki dikarenakan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku kesehariannya karena dalam sensitivitas sosial memiliki perasaan dan naluriah secara Proses pembelajaran dengan menggunakan metode CTL dapat menjadi daya tarik siswa untuk memahami bahwa sensitivitas sosial sangat dibutuhkan dalam kehidupan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi. Jawa Timur PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah sehari-hari. Selain itu, sensitivitas sosial memiliki kaitan erat dengan kecerdasan interpersonal dimana interaksi diantara teman dan lingkungan sekitarnya. Interaksi yang terjadi tidak hanya sebatas pada diskusi dan berbagi perasaan saja tetapi juga berkaitan dengan pemahaman pikiran, perasaan, serta kemampuan dalam memberikan respon. Disarankan agar peneliti selanjutnya dapat memperjelas runag lingkup sensitivitas sosial, dapat mengeksplorasi lebih dalam metode CTL serta peran guru dalam CTL. DAFTAR PUSTAKA