(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. PENGARUH JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TERHADAP KEIKUTSERTAAN IBU MENJADI AKSEPTOR DI PUSKESMAS SEMBAWA THE EFFECT OF NATIONAL HEALTH INSURANCE ON THE PARTICIPATION OF MOTHERS TO BECOME ACCEPTORS AT THE SEMBAWA PUBLIC HEALTH CENTER Info artikel Diterima: 01 November 2021 Direvisi: 10 Desember 2021 Disetujui: 22 Desember 2021 Rohaya1. Sari Wahyuni2. Heni Sumastri3 Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang emai korespondensi penulis: sariwahyuniplg@gmail. 1,2,3 ABSTRAK Latar belakang: Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan progam pemerintah untuk memberikan kemudahan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatansehingga dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Keluarga Berencana (KB) adalah program strategis meningkatkan status kesehatan dan kelangsungan hidup ibu dan bayi. Saat ini pelayanan KB di rumah sakit hanya 7,1% padahal banyak peserta JKN memilih melahirkan di RS Pemerintah. Keikutsertaan KB oleh pasangan usia suburterutama peserta JKN dapat meningkatkan kesejahteraan anak serta keluarga yang terkait dengan permasalahan sosial ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh JKN terhadap keikutsertaan ibu menjadi akseptor di wilayah kerja Puskesmas Sembawa Kabupaten Banyuasin. Metode: penelitian ini bersifat survei analitik dengan variabel Independen . endidikan, pemanfaatan JKN, dukungan suami,pendapatan keluarga, pekerjaan,paritas, paparan informasi KB,ketersediaan kontraseps. dan variabel dependen . eikutsertaan ibu menjadi akseptor KB). Sampel adalah 50 wanita usia subur. Analisa data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: tidak terdapat pengaruh antara pendidikan, pendapatan keluarga, paritas dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB. terdapat pengaruh antara pemanfaatan jaminan kesehatan, dukungan suami, keterpaparan informasi, ketersediaan kontrasepsi dengan keikutsertaan menjadi Akseptor. Kesimpulan: faktor yang paling dominan mempengaruhi seseorang menjadi Akseptor KB yaitu faktor pemanfaatan jaminan kesehatan, keterpaparan informasi dan ketersedian konrasepsi berpeluang sebesar 94,83%. Kata Kunci: Jaminan kesehatan,keluarga berencana, keikutsertaan ABSTRACT Background: The National Health Insurance (JKN) is a government program to provide convenience in getting health services provided by health workers so that it can reduce the Maternal Mortality Rate and the Infant Mortality Rate. Family Planning (KB) is a strategic program to improve the health status and survival of mothers and babies. Currently, family planning services in hospitals are 1%, even though many JKN participants choose to give birth at the Government Hospital. Participating in family planning by couples of childbearing age, especially JKN participants, can improve the welfare of children and families related to socio-economic problems. Objective in this research to determine the effect of JKN on the participation of mothers as acceptors in the work area of AU AU the Sembawa Public Health Center. Banyuasin Regency. Methods: this research is an analytical survey with independent variables . ducation, use of JKN, husband's support, family income, work, parity, exposure to family planning information, availability of contraceptive. and the dependent variable . articipation of mothers as family planning acceptor. The sample was 50 women of childbearing age. Data analysis was performed by univariate, bivariate and multivariate methods. Results: there is no influence between education, family income, parity and participation as family planning acceptors. There is an influence between the use of health insurance, husband's support, exposure to information, the availability of contraceptives with participation as an acceptor. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. Conclusion: the most dominant factors influencing someone to become family planning acceptors are health insurance utilization factors, information exposure and the availability of contraception with a chance of 94. Keywords: Health insurance, family planning, participation PENDAHULUAN Data World Health Organization 000 jiwa lebih kematian dari ibu setiap tahun terjadi di dunia, dan sekitar 000 kematian ibu terjadi di Asia Tenggara. Martenal Mortality Rate (MMR) di Asia Tenggara diperkirakan sebanyak 695 ibu meninggal setiap 1000 kelahiran dan penyebab kematian yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan ,hal ini dapat dicegah bila perempuan menjadi akseptor keluarga berencana/KB1. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 kematian ibu karena kehamilan dan kelahiran, 228 kematian ibu per 100. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia mencapai 32 kematian bayi per 000 kelahiran hidup2. Data yang diperoleh dari Riset kesehatan dasar (Riskesda. pada tahun 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin baru mencapai 69,3% sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4 %. Salah satu kendala penting yang dihadapi oleh masyarakat untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidaktersediaan biaya 3,4. Hal ini menyebabkan banyak persalinan ditolong oleh tenaga non medis dan dilakukan tidak di fasilitas kesehatan, untuk itu diperlukan berbagai upaya terobosanuntuk meningkatkan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yaitu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat, untuk itu pemerintah berupaya memberikan kemudahan pembiayaan melalui program yang dinamakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)5. JKN merupakan salah satu upaya layanan kesehatan dari pemerintah yang kelola oleh Badan Peyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dan sistemnya menggunakan sistem asuransi. Seluruh masyarakat Indonesia mempunyai peluang besar untuk memproteksi kesehatan mereka dengan lebih baik. Dengan hanya menyisihkan sebagian kecil uangnya, maka mereka pun akan mampu menjadi peserta dan memperoleh manfaatnya termasuk untuk pemeriksaan kehamilan . , persalinan . dan pemeriksaan masa postpartum dan PUS yang akan menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB). Progam pemerintah untuk memberikan kemudahan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, sehingga dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi6. Menurut UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 bahwa KB bagian dari penyelenggaraan upaya ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bemutu dan terjangkau masyarakat termasuk KB, pelayanan kesehatan dalam KB dimaksudkan untuk pengaturan kehamilan bagi pasangan usia subur untuk membentuk generasi penerus yang sehat dan cerdas dan pemerintah bertanggung jawab dan menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas pelayanan, alat dan obat dalam memberikan pelayanan KB yang aman, bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Mendorong menyelenggarakan pembangunan KB dalam rangka penyiapan kehidupan bagi remaja pemenuhan hak-hak reproduksi, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga PUS akseptor KB7. KB adalah program strategis meningkatkan status kesehatan dan kelangsungan hidup ibu dan bayi. Pelayanan KB melalui rumah sakit pemerintah hanya 4,9% . turun 1,3% dibanding tahun 2003. Saat ini pelayanan KB di rumah sakit hanya 7,1% padahal banyak peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memilih melahirkan di RS Pemerintah8. Keikutsertaan KB oleh pasangan usia subur (PUS) terutama peserta JKN yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan dan dapat memperhitungkan nilai anak serta keluarga yang terkait dengan permasalahan sosial ekonomi. Untuk dapat meningkatkan penerimaan berbagai macam metode kontrasepsi. Jumlah Penduduk Kecamatan Sembawa sebesar 28. 969 Jiwa. PUS 969 dan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 58,82 %, sedangkan jumlah Penduduk sebesar 6. 531 Jiwa,PUS sebesar 194 dengan luas Wilayah 1. 397 Km2 serta . (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. kepadatan penduduk 1223 Jiwa/ km2 di desa Lalang Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. Tujuan dalam ini untuk mengetahui Pengaruh Jaminan Kesehatan Nasional terhadap Keikutsertaan Ibu Menjadi Akseptor Keluarga Berencana di Wilayah kerja Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. METODE Penelitian adalah suatu upaya untuk memahami dan memecahkan masalah secara ilmiah, sistematis dan logis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang bersifat survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional, dimana variabel independen (Pendidikan. Pemanfaatan JKN, dukungan suami,Pendapatan keluarga, pekerjaan, paritas, paparan informasi KB, ketersediaan . eikutsertaan ibu menjadi akseptor KB). Populasi penelitian ini adalahsemua wanita usia subur di Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin sebanyak 1. Sampel penelitian yaitu sebagian wanita usia subur di Puskesmas Sembawa Kecamatan SembawaKabupaten Banyuasin. Untuk menentukan besar sampel menggunakan rumus Sopiyudin Dahlan . , 9 sebagai berikut: Keterangan: N : Besar Populasi n : Besar Sampel d : Tingkat Kepercayaan/Ketepatan 15% . = 0,. Analisis univariat yakni untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yang dilakukan. Kemudian dilakukan analisis bivariat digunakan untuk menguji hipotesis yaitu pengaruh variabel bebas, variabel terikat dan variabel perancu. Uji dilakukan terhadap variabel terikat yaitu keikutsertaan ibu menjadi akseptor KB. Uji terhadap variabel perancu yaitu dukungan suami, pendapatan keluarga, pendidikan, paritas, paparan informasi KB, ketersediaan kontrasepsi. Kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,0511. Serta melakukan analisa multivariat dilakukan dengan cara menghubungkan beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen pada waktu bersamaan. Dan untuk mengetahui variabel dependen mana yang paling besar pengaruhnya atau dominan dependen,kemudian dilakukan uji interaksi. Pada penenelitian ini Multiple Regresion Logistic dikarenakan variabel independen dan variabel dependennya berbentuk kategorikal yang terdiri dari 2. kategorik atau dikotomi12. HASIL Analisis univariat untuk mengetahui jumlah dan persentasi masing - masing Variabel independen (Pemanfaataan JKN, dukungan suami, pekerjaan, pendidikan, paritas, pendapatan keluarga, paparan informasi KB dan ketersediaan kontraseps. dan variabel dependen (Keikutsertaan Ibu Menjadi Akseptor Keluarga Berencan. di Wilayah kerja Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Tahun 2017. Hasil analisis univariat disajikan pada tabel sebagai Berdasarkan dengan perhitungan besar sampel maka didapatkan jumlah sampel sebanyak 42,85 sampel dibulatkan menjadi 50 sampel penelitian. Pengambilan sampel dengan cara Systimatic Random Sampling, yaitu yang dilakukan dengan mengambil sampel secara acak sistematik10. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. Tabel 1. Distribusi Frekuensi berdasarkan Karakeristik Responden dan variabel independen . Karakteristik Jumlah Pesentase Responden (%) Umur 20 - 30 tahun < 20 - >30 tahun Pendidikan SMP SMA Pekerjaan IRT Buruh Wiraswasta PNS Pendidikan Dasar Lanjutan Pendapatan Keluarga Rendah Tinggi Paritas Tinggi (> 3 oran. Rendah (<= 3 oran. Dukungan Suami Tidak Paparan Informasi Pernah terpapar Tidak pernah Ketersediaan Kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Pemanfaatan Kesehatan Nasional Tidak Keikutsertaan menjadi akseptor Tidak Ketersediaan Kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Total Tabel 1 menunjukkan bahwa usia responden 20 Ae 30 tahun dan < 20 - > 30 tahun masing Ae masing berjumlah 25 orang . %), responden sebagian bersar berpendidikan SD sebanyak 39 orang . %), bekerja sebagai IRT yaitu 44 orang . %), berpendidikan dasarr sebanyak 39 orang . %), responden memiliki pendapatan keluarga rendah yaitu 30 orang . %), dan responden mempunyai sebagian besar rendah (<= 3oran. %), responden yang mendapatkan dukungan suami sebanyak 29 orang . %), yang pernah terpapar informasi sebanyak 39 %), yang menyediaan kontrasepsi %), memanfatakan jaminan kesehatan nasional sebanyak 24 orang . %), serta ikutsertaan responden menjadi akseptor KB sebanyak 33 orang . %). Analisis mengetahui Pengaruh Jaminan Kesehatan Nasional terhadap Keikutsertaan Ibu Menjadi Akseptor Keluarga Berencana di Wilayah kerja Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Tahun 2017. Variabel independen pemanfaataan JKN, dukungan pendapatan keluarga, paparan informasi KB dan ketersediaan kontrasepsi dan variabel dependen yaitu Keikutsertaan menjadi Akseptor KB. Analisis ini menggunakan uji chi square. Hasil analisis bivariatdisajikan sebagai berikut: (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. Tabel 2. Pengaruh Variabel Independen dengan Keikutsertaan menjadi Akseptor KB Variabel Keikutsertaan menjadi Akseptor KB Total Tidak Dasar Lanjutan Pemanfaatan 0,475 Tidak Dukungan Suami 0,005 Tidak Pendapatan 0,008 Rendah Tinggi Paritas Tinggi (> 3 1,000 1,000 Rendah (<= 3 Pendidikan Paparan Informasi Pernah Tidak pernah Ketersediaan Kontrasepsi 0,000 0,013 Tersedia Tidak Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa ada pengaruh antara pendidikan, pemanfaatan jaminan kesehatan nasional, dukungan suami, paparan informasi serta ketersediaan kontrasepsi dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB. Sedangkan pendapatan keluarga dan paritas menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara pendidikan, pendapatan keluarga dan paritas dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB. Pada penelitian ini variabel yang diduga berpengaruh dengan keikutsertaan Ibu menjadi akseptor keluarga berencana di Wilayah kerja Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Tahun 2017 yaitu pemanfaataan JKN, dukungan suami, pekerjaan, pendidikan, paritas, pendapatan keluarga, paparan informasi KB dan ketersediaan Analisis multivariat bertujuan untuk mendapatkan model yang terbaik dalam menentukan keikutsertaan Ibu menjadi akseptor keluarga berencana. Setelah tahap bivariat selesai, tahap berikutnya melakukan analisis multivariat secara bersama-sama. Variabel yang valid dalam model multivariat adalah variabel yang mempunyai p value<0,05. Bila dalam model dijumpai variabel yang p value> 0,05, maka variabel tersebut harus dikeluarkan dalam Tabel 3. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Variabel Independen Koefisien Pemanfaatan JKN -2,112 0,022 0,121 Paparan -2,527 0,015 0,080 Ketersediaan -2,517 0,045 0,081 Constanta 0,020 0,740 0,010 0,612 0,007 0,945 10,067 Pada tabel 3 menunjukkan bahwa variabel pemanfaatan JKN, paparan informasi dan ketersediaan kontrasepsi yang berpengaruh terhadap keikutsertaan ibu menjadi akseptor keluarga berencana. Hasil analisis regresi logistik didapatkan model persamaan regresi sebagai berikut : = konstanta a1x1 a2x2 a3x3 = 10,067 ( -2,112 x pemanfaatan JKN) (-2,527 x paparan informas. (-2,517 x ketersediaan kontraseps. = 10,067 ( -2,112 x . (-2,527 x . (-2,517 x . = 2,911 Dari persamaan yang diperoleh adalah untuk memprediksi probabilitas responden terhadap keikutsertaan menjadi akseptor keluarga berencanadengan menggunakan rumus: (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. p = probabilitas untuk terjadinya suatu e = bilangan natural . y = konstanta a1x1 a2x2 a3x3 Probabilitas keikutsertaan menjadi akseptor keluarga berencana yaitu : p = 0,9483 Dengan demikian, probabilitas responden memanfaatkan jaminan kesehatan nasional, pernah terpapar informasi dan tersedia kontrasepsi berpeluang sebesar 94,83% untuk ikut serta menjadi akseptor keluarga berencana. PEMBAHASAN Berdasarkan pendidikan secara formal tidak dapat menunjukkan perbedaan yang cukup antara seseorang yang berpendidikan dasar dan lanjutan terhadap keikutsertaan KB. Oleh karena itu, intervensi pemerintah terutama BKKBN terhadap pemberdayaan peserta KB tidak perlu PUS Pemberian pendidikan kesehatan tentang KB kepada masyarakat oleh pemerintah, baik melalui media massa secara luas, maupun secara personal kepada kelompok - kelompok pasangan usia subur memberikan kesempatan yang luas kepada mereka untuk memperoleh informasi tentang KB. Kemudahan informasi tentang KB tersebut berdampak pada pengetahuan masyarakat tentang KB yang relative merata pada semua kelompok pendidikan, sehingga perilaku mereka terhadap KB ditinjau dari pendidikan relatif merata. Pemanfaatan jaminan kesehatan nasional keikutsertaan menjadi akseptor KB. Menurut Wagstaff kebijakan kesehatan pada tingkat makro dan mikro harus diimplementasikan melalui sistem kesehatan yang terdiri atas sektor pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan. Pada sektor kesehatan harus memperhatikan ketersediaan, aksesbilitas, harga dan kualitas. Salah satu kebijakan pemerintah yang mempengaruhi ketersediaan pasangan suami istri untuk mengikuti program KB adalah Jampersal, yaitu jaminan pembiayaan yang digunakan untuk pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh antara pemanfaatan jaminan kesehatan nasional dengan keikutsertaan menjadi Akseptor. Menurut penelitian Prabhaswari . Jaminan persalinan berpengaruh terhadap keikutsertaan pengetahuan dengan psebesar 0,01015. Hal ini dapat dikarenakan pada program jaminan persalinan setelah melahirkan mengadakan Advokasi dan KIE pelayanan KB dalam Jampersal secara berkesinambungan sehingga pengetahuan responden bertambah mengenai KB sehingga responden mengerti manfaat berKB. Selain itu secara teoritis tingkat pengetahuan seseorang akan sesuatu sangat penting serta merupakan dasar dari sikap dan tindakan dalam menerima atau menolak sesuatu hal, sehingga tingkat pengetahuan yang baik tentang KB dengan segala aspeknya akan sangat membantu kelancaran usaha untuk memotivasi calon akseptor KB. Keikutsertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat pengambilan keputusan sebagai akseptor KB,sebab disatu sisi Jamkesmas membiayai persalinan gratis yang dapat menimbulkan ketidak pedulian masyaakat terhadap KB sedangkan di sisi lain juga terdapat program KB Akan tetapi dalam pelaksanaanya kedua program tadi belum dapat dilaksanakan dengan Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor penguat . einforcing facto. yang sangat berperilaku merupakan suatu bentuk dari kepedulian keluarga yang memberikan kontribusi secara nyata untuk mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas 16. Faktor pendorong yaitu peran serta suami. Seorang istri dalam memutuskan mengikuti program KB harus mendapatkan persetujuan suami, karena suami dianggap kepala keluarga, . (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. pencari nafkah dan seseorang yang dapat membuat keputusan dalam suatu keluarga. Peran suami juga sangat penting dalam mengarahkan kontrasepsi yang sesuai dan memotivasi seorang istri dalam menjalani program KB. Dukungan keluarga mengacu pada suatu dukungan yang dipandang oleh angota keluarga lain sebagai suatu hal yang dapat bermanfaat baik dalam hal pemecahan peningkatan harga diri. Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang ada bahwa dukungan keluarga yang diterima responden dalam hal ini dukungan yang memberi kontribusi pada keikutsertaan KB berhubungan dengan kualitas dan kuatnya hubungan serta persepsi memiliki orang lain yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk memberikan dukungan jika sewaktu-waktu Ikatan keluarga yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah, karena anggota keluarga sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari anggota keluarga yang lain. Responden dengan penghasilan rendah memiliki perilaku KB yang sama dengan responden dengan penghasilan yang cukup atau lebih tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang menyebabkan persamaan perilaku KB antara kelompok penghasilan rendah dengan penghasilan lebih tinggi adalah rendahnya biaya KB di Indonesia, bahkan pada beberapa kegiatan KB peserta KB tidak dikenakan Seseorang beranggapan bahwadalam pemilihan alat kontrasepsi sebaiknya memang harus dilihat dari kapasitas kemampuan mereka untuk membeli kontrasepsi tersebut. Sehingga memberatkan bagi penggunanya. Menurut Prawirohardjo . paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram atau lebih, yang pernah dilahirkan, hidup atau mati. Bila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umurkehamilannya 24 Berdasarkan pengertian tersebut maka paritas mempengaruhi pemilihan jenis alat Paritas yang diteliti adalah nullipara yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan, primipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan bayi untuk pertama kali, multipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan Ou 2 orang anak, dan Grande multipara yaitu seorang wanita yang pernah melahirkan Ou 5 orang anak. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara paritas dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB sejalan dengan Adiputra, dkk . Menurut Pasal 18 UU No. 10 tahun 1992 yang menyatakan bahwa setiap pasangan suami istri dapat menentukan pilihannya dalam merencanakan dan mengatur jumlah anak dan jarak antara kelahiran anak yang berlandaskan pada kesadaran dan tanggung jawab terhadap generasi sekarang maupun yang akan datang. Dalam merencanakan jumlah anak dalam mempertimbangkan aspek kesehatan dan kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak20. Anak adalah harapan atau cita-cita dari sebuah perkawinan. Berapa jumlah yang diinginkan, tergantung dari keluarga itu sendiri. Apakah satu, dua, tiga dan seterusnya. Dengan demikian keputusan untuk memiliki sejumlah anak adalah sebuah pilihan, yang mana pilihan tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai yang dianggap sebagai satu harapan atas setiap keinginan yang dipilih oleh orang tua. Progr am KB selain upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas melalui promosi, perlindungan, dan bantuan dalam mewujudkan hak-hak reproduksi juga untuk penyelenggaraan pelayanan, pengaturan, dan dukungan yang diperlukan untuk membentuk keluarga dengan usia kawin yang ideal. mengatur jumlah, jarak dan usia ideal melahirkan anak18. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa responden yang mempunyai paritas beresiko tinggi dan rendah mempunyai peluang yang sama terhadap keikutsertan menjadi akseptor KB. Responden yang pernah melahirkan anak lebih 3 dan kurang dari 3 tidak menjadi perbedaan seseorang dalam menggunakan akseptor KB. Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang ada bahwa seseorang yang terpapar dengan menggunakan akseptor KB lebih banyak yang ikutserta dalam menggunakanya sedangkan seseorang yang tidak pernah terpapar dengan informasi manfat menggunakan akseptor KB lebih sedikit peluang dalam keikutsertaan menjadi akseptor KB. Dukungan informasi mencakup pemberian nasehat, petunjuk. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2021, eISSN 2654-3427 DOI: 10. 36086/jpp. petunjuk, saran-saran, informasi atau umpan Dukungan ini membantu individu mengatasi masalah dengan cara memperluas wawasan dan pemahaman individu terhadap masalah yang dihadapi. Informasi tersebut diperlukan untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah secara praktis. Dukungan informatif ini juga membantu individu mengambil keputusan karena mencakup mekanisme penyediaan informasi, pemberian nasihat, dan petunjuk. Misalnya sesorang mendapatkan informasi dari dokter tentang bagaimana manfaat keikutsertaan dalam akseptor KB. Hasil ketersediaan alat kontrasepsi di layanan kesehatan berhubungan dengan keikutsertaan dalam mengikuti akseptor KB, ada atau tidaknya kesediaan alat kontrasepsi di fasilitas kesehatan yang diinginkan oleh seseorang dapat mempengaruhi seseorang dalam memutuskan keikutsertaan menjadi akseptor KB. Hal ini bisa disebabkan juga oleh adanya pelayanan kontrasepsi yang baik, mudah, murah dan terjangkau dalam artian alat kontrasepsi tersedia sesuai dengan keinginan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yaitu pada wanita usia subur di Puskesmas Sembawa Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin sebanyak 50 responden, dapat disimpukan bahwa terdapat antara pemanfaatan jaminan kesehatan nasional, dukungan suami, paparan informasi serta ketersediaan kontrasepsi dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB. Sedangkan untuk variabel pendidikan, pendapatan keluarga dan paritas menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara pendidikan, pendapatan keluarga dan paritas dengan keikutsertaan menjadi Akseptor KB. Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi seseorang dalam keikutsertaan menjadi Akseptor KB yaitu faktor pemanfaatan jaminan kesehatan, keterpaparan berpeluang sebesar 94,83%. Bagi responden diharapakan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang telah diberikan oleh pemerintah salah satunya keikkutsertaan dalam penggunaan kontrasepsi/ partisipasi menjadi akseptor KB bagi responden yang ingin menunda kehamilan. Penelitian ini juga menyarankan agar petugas lapangan KB,demi meningkatkan pengetahuan tentang kontrasepsi maka dengan memberikan informasi-informasi melalui media massa seperti menggunakan brosur atau bulletin kesehatan tentang alat kontrasepsi akan meningkatkan partisipasi atas inisiatif sendiri, bagi pasangan suami istri yang memiliki anak cukup . -2oran. sebaiknya menerapkan metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan mengontrol jarak kelahiran . eperti kondom, pil, susuk, pantang berkala, senggama terputu. sedangkan pasangan yang telah memiliki banyak anak (>2oran. dan tidak menginginkan anak lagi sebaiknya memilih sterilisasi (MOP dan MOW). DAFTAR PUSTAKA