ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Pembelajaran IPAS Kurikulum Berbasis Cinta dalam Meningkatkan Karakter Cinta Lingkungan Siswa MI/SD Nur Fitri Amalia Universitas Islam Zainul Hasan Genggong nurfitriamalia188@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta dalam meningkatkan karakter cinta lingkungan siswa MI/SD. Integrasi aspek kognitif dan afektif dalam pembelajaran IPAS, khususnya dalam membentuk karakter peduli lingkungan sejak jenjang pendidikan dasar membuat penelitian ini penting untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di MI/SD, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta diimplementasikan melalui kegiatan kontekstual, pembiasaan sikap peduli, refleksi nilai, serta proyek lingkungan yang melibatkan partisipasi aktif siswa mampu menumbuhkan kesadaran, empati, dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan sekitar. Temuan ini selaras dengan landasan teori konstruktivisme dan pendidikan karakter yang menekankan bahwa pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa terlibat langsung dalam pengalaman nyata serta menginternalisasi nilai melalui proses Hasil penelitian ini juga mengisi kekosongan kajian yang selama ini lebih banyak berfokus pada aspek kognitif pembelajaran IPAS, sementara integrasi nilai afektif khususnya berbasis cinta dan kepedulian lingkungan masih belum dikaji secara mendalam pada konteks MI/SD. Meskipun demikian, integrasi nilai dalam perangkat pembelajaran dan asesmen masih perlu diperkuat agar lebih sistematis dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta efektif dalam meningkatkan karakter cinta lingkungan siswa MI/SD dan berpotensi menjadi model pembelajaran humanis pada jenjang pendidikan dasar. Kata kunci: IPAS, kurikulum berbasis cinta, karakter, cinta lingkungan Abstract This study aims to analyze the implementation of love-based IPAS curriculum learning in enhancing the environmental care character of MI/SD students. The integration of cognitive and affective aspects in IPAS learning, particularly in shaping environmental awareness and care from the elementary education level, makes this research important to conduct. This study employs a qualitative approach using a case study method in MI/SD, with data collected through observation, interviews, and The findings reveal that the implementation of the love-based IPAS curriculum is carried out through contextual activities, habituation of caring attitudes, value reflection, and environmental projects involving active student participation. These strategies are able to foster studentsAo awareness, empathy, and responsibility toward their surrounding environment. These findings align with the theoretical foundations of constructivism and character education, which emphasize that meaningful learning occurs when students engage directly in real-life experiences and internalize values through a reflective process. The findings also address a gap in research that has focused primarily on the cognitive aspects of science and science learning, while the integration of affective values, particularly those based on love and concern for the environment, has yet to be thoroughly explored in the MI/SD context. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 However, the integration of values into learning tools and assessment still needs to be strengthened to ensure it is more systematic and sustainable. In conclusion, the love-based IPAS curriculum learning is effective in improving the environmental care character of MI/SD students and has the potential to become a humanistic learning model at the elementary education level. Keywords: Integrated Science and Social Studies. Love-Based Curriculum. Character Education. Environmental Care PENDAHULUAN Pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. pada jenjang MI/SD memiliki peran yang sangat strategis untuk membentuk pemahaman konseptual dan karakter siswa. Pada Kerangka Kurikulum Merdeka. IPAS dirancang sebagai mata pelajaran terintegrasi dalam menggabungkan ilmu sains dan ilmu sosial yang bertujuan memperkuat kompetensi berpikir kritis dan peduli pada lingkungan sekitar. Langkah penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS ini menekankan pada pengalaman belajar yang kontekstual dekat dengan siswa dan bermakna sehingga siswa mampu mengaitkan materi dengan realita kehidupan sehari-hari. Namun, fakta praktik di sekolah seringkali implementasi pembelajaran IPAS berorientasi pada aspek kognitif atau pengetahuan saja, belum sepenuhnya menyentuhkese aspek afektif atau sikap siswa. Hal ini sangat disayangkan mengingat pendidikan dasar merupakan fase penting untuk membentuk nilai karakter yang akan dibawa hingga dewasa. Salah satu nilai karakter yang penting dan perlu dikembangkan sejak dini di tengah meningkatnya permasalahan ekologis global adalah karakter cinta lingkungan (Yanti, 2. Oleh karena itu, sangat diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara holistik atau menyeluruh. Konsep kurikulum berbasis cinta atau love based education berkembang sebagai salah satu pendekatan yang menempatkan empati, kasih sayang dan kepedulian dalam fondasi proses Pada pandangan pendidikan karakter ini sejalan dengan gagasan Thomas Lickona yang menegaskan pentingnya memahami kebaikan . nowing the goo. , merasakan dan mencintai kebaikan . eeling the goo. dan melakukan kebaikan . oing the goo. (David Azizi et al. , 2. Berdasarkan pandangan ini tentu pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan namun perlu membentuk hati dan sikap siswa. Pada pembelajaran di MI/SD kurikulum berbasis cinta dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang menghargai pengalaman siswa, menumbuhkan empati pada makhluk hidup dan mendorong tanggung jawab sosial. Pendekatan tersebut sangat cocok diintegrasikan pada materi lingkungan pada mata pelajaran IPAS. Pengintegrasian nilai menghargai, empati dan peduli terhadap lingkungan sangat potensial sehingga siswa tidak hanya mempelajari konsep namun memiliki kesadaran moral dalam menjaga kelestarian. Hal ini juga sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad-21 yang menuntut keseimbangan intelektual dan karakter. Urgensi pembentukan karakter cinta lingkungan semakin nyata seiring meningkatnya krisis ekologis seperti pencemaran, deforestasi dan perubahan iklim. Laporan UNESCO 12 Februari 2026 menekankan pendidikan merupakan peran kunci dalam membangun kesadaran dan aksi berkelanjutan melalui ESD (Education for Sustainable Developmen. Artinya sekolah bukan tempat bertukarnya informasi saja namun ruang internalisasi nilai-nilai yang ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Pada jenjang MI/SD pembelajaran dengan pembiasaan dapat menjadi fondasi yang kokoh. Contoh sederhana pembiasaan pembelajaran membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, menyayangi makhluk hidup dapat menjadi fondasi karakter cinta Implementasinya tentu membutuhkan pendekatan yang menyentuh kesadaran emosional siswa, sehingga sikap yang ditampilkan bukan sekedar instruksi normatif namun membudaya sebagai suatu karakter. Hal inilah, pentingnya kurikulum berbasis cinta hadir dalam memadukan aspek afektif, kognitif dan psikomotorik(Akib et al. , 2. Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan keterikatan emosional siswa pada alam sekitar. Sejumlah penelitian menunjukkan pendidikan karakter efektif jika diintegrasikan langsung dalam proses pembelajaran bukan diajarkan secara terpisah (Amalia, 2. (Ginting et al. , 2025. Zibar Parisu & Eka Saputra, 2. Studi eco-pedagogy menekankan pada pentingnya pengalaman langsung dan keterlibatan emosional siswa dalam membangun kepedulian lingkungan. Namun, kajian yang secara spesifik membahasa pembelajaran IPAS dengan kurikulum berbasis cinta di MI/SD masih relatif terbatas. Sebagian penelitian lebih berfokus pada metode atau media pembelajaran bukan menekankan pada aspek nilai secara Padahal, karakter cinta lingkungan pada konteks kebijakan nasional merupakan prioritas utama pendidikan Indonesia. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi melalui berbagai regulasi menekankan pentingnya pembentukan Profil Pelajar Pancasila sebagai tujuan akhir pendidikan (Syah et al. , 2. Salah satu dimensi Profil Pelajar Pancasila adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, yang mencakup kepedulian terhadap lingkungan. Mengacu pada kebijakan nasional. Pembelajaran IPAS di MI dapat menjadi wahana strategis untuk merealisasikan dimensi profil pelajar pancasila khususnya cinta lingkungan. Akan tetapi, implementasi di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran sering kali masih bersifat teoritis dan kurang memberi ruang refleksi nilai. Hal ini mengakibatkan kesenjangan antara pengetahuan siswa tentang lingkungan dan perilaku nyata mereka. Karakter cinta lingkungan membutuhkan pembiasaan yang berkelanjutan dan pendekatan pedagogis yang humanis(Hayati, 2. Kekosongan inilah yang menjadi celah penelitian untuk meneliti Implementasi Pembelajaran IPAS Kurikulum Berbasis Cinta di MI/SD. Dengan demikian, penelitian ini memiliki relevansi teoretis sekaligus praktis. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPAS dalam kerangka kurikulum berbasis cinta memiliki potensi besar dalam meningkatkan karakter cinta lingkungan siswa MI. Integrasi nilai cinta dalam proses pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan krisis lingkungan dan tuntutan pendidikan karakter. Penelitian ini penting dilakukan untuk merumuskan model pembelajaran yang sistematis, aplikatif, dan kontekstual. Selain memberikan kontribusi pada pengembangan teori pendidikan karakter, penelitian ini juga diharapkan memberi solusi praktis bagi guru MI melalui pendekatan yang humanis dan reflektif. Pembelajaran IPAS dapat menjadi sarana transformasi Pada akhirnya, siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Inilah urgensi penelitian tentang Pembelajaran IPAS Kurikulum Berbasis Cinta dalam Meningkatkan Karakter Cinta Lingkungan Siswa MI. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 METODE Penelitian ini menggunakan metode dekspritif dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis dan mengeksplorasi implementasi IPAS Kurikulum Berbasis Cinta di MI/SD. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memahami fenomena secara mendalam dan melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian (Nisa & Nashrullah, 2. Subjek penelitian meliputi guru kelas IV dan V MI Tarbiyatus Sibyan Banyuwangi dan guru kelas IV dan V SDN 1 Setail Banyuwangi yang dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan keterlibatan pembelajaran IPAS Kurikulumm Berbasis Cinta. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan analisis dokumen perangkat Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik serta member checking untuk memastikan kesesuaian intepretasi peneliti dengan pengalaman subjek Melalui desain penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan gambaran kontekstual berkaitan dengan strategi, tantangan dan dampak pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta dalam membentuk karakter cinta lingkungan. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan model reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Najib, 2. Proses analisis dimulai dari pengumpulan data sehingga memungkinakan untuk dilakukan refleksi dan penyesuaian fokus penelitian yang Data hasil observasi dan wawancara diidentifikasi dan diklasifikasikan yang berkaitan dengan nilai karakter cinta lingkungan. Temuan observasi dan wawancara selanjutnya dibandingkan dengan kajian literatur tentang pendidikan karakter dan kurikulum berbasis cinta diberbagai jurnal nasional dan internasional untuk memperkuat validitas Hasil perbandingan temuan penelitian dilakukan refleksi kritis untuk meminimalisir bias peneliti selama proses intepretasi data. Tahapan ini merupakan upaya menghasilkan temuan yang kredibel, reflektif fan relevan bagi pengembangan pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta di MI/SD. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi pembelajaran IPAS dalam kerangka kurikulum berbasis cinta di MI Tarbiyatus Sibyan Banyuwangi dan SDN 1 Setail Banyuwangi menunjukkan integrasi nilai kasih sayang, empati, dan kepedulian lingkungan dalam proses belajar. Berdasarkan hasil observasi kelas, guru memulai pembelajaran dengan kegiatan refleksi dan doa yang menekankan rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan sebelum memasuki materi IPAS. Wawancara dengan guru kelas IV MI Tarbiyatus Sibyan mengungkapkan bahwa pendekatan cinta diterapkan melalui pembiasaan sikap saling menghargai saat diskusi kelompok. Di SDN 1 Setail, guru mengaitkan materi ekosistem dengan praktik nyata menjaga kebersihan sekolah sebagai bentuk cinta terhadap lingkungan. Praktik tersebut selaras dengan gagasan pendidikan humanistik yang menempatkan afeksi sebagai fondasi pembelajaran bermakna sebagaimana dijelaskan oleh Carl Rogers (Mirdad et al. , 2. Literatur menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan dimensi emosional dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar (Pangestu et al. , 2. Hal ini artinya, kurikulum berbasis cinta pada mata pelajaran ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 IPAS memperkuat keterhubungan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta Hasil observasi menunjukkan bahwa guru IPAS di kedua sekolah merancang modul ajar yang memuat tujuan pembelajaran sekaligus indikator sikap berbasis nilai kepedulian. Pada saat pembelajaran tema energi dan perubahannya, siswa diminta melakukan percobaan sederhana sekaligus merefleksikan manfaat energi bagi kehidupan masyarakat sekitar. Wawancara dengan kepala MI Tarbiyatus Sibyan menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menjadi ciri khas lembaga untuk membangun karakter rahmatan lil Aoalamin. Di SDN 1 Setail, guru menyatakan bahwa integrasi nilai dilakukan melalui pertanyaan pemantik yang menumbuhkan empati sosial siswa. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter yang dicanangkan dalam kebijakan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia terkait penguatan profil pelajar. Penelitian menyebutkan bahwa integrasi nilai dalam sains dasar meningkatkan kesadaran sosial siswa (Hayati et al. , 2. Temuan ini memperlihatkan bahwa implementasi IPAS berbasis cinta mampu mengontekstualisasikan sains dengan realitas kehidupan. Dari sisi strategi pembelajaran, guru menggunakan metode kolaboratif dan eksperimen kontekstual untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Observasi menunjukkan siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan pembagian peran yang adil dan saling membantu saat praktik berlangsung. Salah satu siswa SDN 1 Setail dalam wawancara menyampaikan bahwa ia merasa lebih dihargai karena guru selalu memberikan penguatan positif. Guru MI Tarbiyatus Sibyan menambahkan bahwa penghargaan sederhana seperti pujian mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Pendekatan ini selaras dengan teori motivasi belajar yang dikembangkan oleh Abraham Maslow tentang kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi Studi dalam Jurnal menegaskan bahwa iklim kelas yang suportif berkontribusi pada perkembangan sosial-emosional anak sekolah dasar (Putri et al. , 2. Oleh karena itu, pembelajaran IPAS berbasis cinta terbukti menciptakan suasana belajar yang aman dan Implementasi penilaian dalam pembelajaran IPAS juga mencerminkan pendekatan berbasis cinta melalui asesmen autentik. Guru melakukan penilaian sikap dengan observasi berkelanjutan terhadap kepedulian siswa terhadap teman dan lingkungan. Di MI Tarbiyatus Sibyan, hasil wawancara menunjukkan bahwa guru menggunakan jurnal refleksi harian untuk merekam perkembangan karakter siswa. Sementara itu, di SDN 1 Setail, guru memanfaatkan penilaian proyek berbasis aksi sosial sederhana seperti kampanye hemat air. Praktik ini sesuai dengan pendekatan asesmen autentik yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Literatur dalam Jurnal menyatakan bahwa asesmen autentik efektif dalam mengukur kompetensi holistik siswa (Ester Novi Kurnia Zebua & Nofamataro Zebua, 2. Dengan demikian, evaluasi dalam kurikulum berbasis cinta tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga internalisasi Hasil penelitian juga menunjukkan adanya dukungan budaya sekolah dalam memperkuat implementasi kurikulum berbasis cinta. Observasi lingkungan sekolah memperlihatkan adanya slogan-slogan motivatif dan program peduli lingkungan yang ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 terintegrasi dengan pembelajaran IPAS. Wawancara dengan wali murid MI Tarbiyatus Sibyan mengungkapkan bahwa anak menjadi lebih peduli terhadap kebersihan rumah setelah mengikuti pembelajaran. Di SDN 1 Setail, guru menyebutkan adanya kolaborasi dengan orang tua dalam proyek penghijauan sekolah. Pendekatan kolaboratif ini sesuai dengan teori ekologi pendidikan dari Urie Bronfenbrenner yang menekankan peran lingkungan dalam perkembangan anak (Husaini, 2. Studi penelitian pada jurnal juga menegaskan pentingnya sinergi sekolah dan keluarga dalam membentuk karakter siswa (Thein et al. , 2. Dengan demikian, implementasi IPAS berbasis cinta tidak berdiri sendiri, melainkan didukung ekosistem pendidikan yang kondusif. Meskipun demikian, penelitian menemukan beberapa tantangan dalam implementasi di Guru mengakui keterbatasan waktu pembelajaran seringkali membuat refleksi nilai tidak dapat dilakukan secara mendalam. Observasi di SDN 1 Setail menunjukkan bahwa sebagian siswa masih berfokus pada hasil eksperimen tanpa mengaitkan makna sosialnya. Wawancara dengan guru MI Tarbiyatus Sibyan juga menyoroti perlunya pelatihan lanjutan terkait integrasi nilai dalam pembelajaran sains. Tantangan ini sejalan dengan temuan transformasi kurikulum membutuhkan adaptasi berkelanjutan (Anna Laia et al. , 2. Kebijakan implementasi Kurikulum Merdeka dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia juga menekankan pentingnya pendampingan guru. Oleh sebab itu, dukungan pelatihan dan supervisi menjadi faktor penting keberlanjutan Perbandingan antara kedua sekolah menunjukkan variasi pendekatan namun tujuan yang sama. MI Tarbiyatus Sibyan lebih menekankan integrasi nilai religius dalam pembelajaran IPAS, sedangkan SDN 1 Setail lebih menonjolkan praktik sosial dan lingkungan. Observasi menunjukkan bahwa siswa MI lebih terbiasa melakukan refleksi spiritual, sementara siswa SDN lebih aktif dalam proyek lapangan. Wawancara dengan guru kedua sekolah menegaskan bahwa pendekatan disesuaikan dengan kultur lembaga masing-masing. Secara teoretis, perbedaan ini mencerminkan fleksibilitas kurikulum kontekstual sebagaimana dijelaskan oleh John Dewey tentang pendidikan berbasis pengalaman (Soka Pardini et al. , 2. Dengan demikian, implementasi kurikulum berbasis cinta bersifat adaptif terhadap karakteristik Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta di kedua sekolah berjalan efektif dalam membangun karakter cinta lingkungan sekaligus kompetensi akademik. Observasi memperlihatkan peningkatan partisipasi aktif dan sikap saling menghargai di antara siswa. Wawancara dengan kepala sekolah menyatakan bahwa pendekatan ini memperkuat identitas lembaga sebagai sekolah ramah anak. Temuan ini mendukung konsep pendidikan integral yang menggabungkan dimensi intelektual dan moral sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. Studi empiris dalam Jurnal juga menunjukkan bahwa integrasi nilai dalam pembelajaran sains meningkatkan pembentukan karakter (Rosita & Prabowo, 25 C. Oleh karena itu, kurikulum berbasis cinta dalam IPAS dapat menjadi model praktik baik di tingkat MI dan SD. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pelatihan guru dan pengembangan perangkat ajar untuk memperluas dampak implementasi. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENUTUP Implementasi pembelajaran IPAS kurikulum berbasis cinta di MI/SD mengintegrasikan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara holistik sehingga mampu meningkatkan karakter cinta lingkungan siswa. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep sains dan sosial, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa strategi kontekstual, pembiasaan, serta kegiatan proyek lingkungan menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan karakter cinta lingkungan siswa. Namun demikian, implementasi di lapangan masih memerlukan penguatan pada perencanaan pembelajaran dan asesmen agar nilai cinta terstruktur secara sistematis. Dukungan budaya sekolah dan komitmen guru menjadi faktor penting dalam keberhasilan penerapan kurikulum berbasis cinta. Secara keseluruhan, pembelajaran IPAS berbasis cinta berpotensi menjadi model pembelajaran humanis yang relevan untuk memperkuat karakter siswa di jenjang MI/SD. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar guru menyusun perangkat pembelajaran IPAS yang secara eksplisit memuat indikator nilai cinta lingkungan dalam tujuan, kegiatan, dan asesmen pembelajaran. Sekolah perlu memberikan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan bagi guru agar integrasi nilai afektif tidak hanya bersifat spontan, tetapi terencana dan terukur. Penguatan asesmen autentik berbasis refleksi dan proyek lingkungan juga perlu dikembangkan untuk memastikan internalisasi nilai berjalan optimal. DAFTAR PUSTAKA