E-ISSN: 2746-6175 VOLUME 06 NOMOR 02. DESEMBER 2025 REVITALISASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT: PERAN PEREMPUAN BALI Oleh Gede Sandiasa Universitas Panji Sakti email. sandiasa@unipas. ABSTRACT Pacung Village in Tejakula District. Buleleng Regency, is one of BaliAos traditional communities rich in living heritage and local wisdom. Amid social change and economic pressures. Balinese women play a pivotal role in sustaining cultural traditions, managing community-based natural resources, and supporting household economies. This community service project aims to identify the strategic role of women in cultural preservation and explore how local traditions can be revitalized to strengthen communitybased creative economies. A participatory approach was applied through counseling sessions, focus group discussions (FGD. , and field observations involving womenAos groups (PKK), customary leaders, and village youth. The findings reveal that women act as cultural guardians, informal educators, household economic agents, and community Local traditions such as crafts, traditional food processing, ritual plants, and cultural tourism hold great potential to be developed into new sources of income. Four key empowerment strategies are recommended: thematic and regular training, cross-sector collaboration, the use of digital media for cultural documentation and promotion, and the establishment of women-led cooperatives based on customary values. The revitalization of local wisdom through womenAos leadership proves to be an effective pathway for achieving culturally rooted and sustainable village development. Keywords: local wisdom. Balinese women, environment. Pacung Village PENDAHULUAN Desa Pacung di Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng. Bali, merupakan salah satu wilayah yang hingga kini masih memegang teguh tradisi leluhur dan nilai-nilai kearifan lokal. Dalam arus globalisasi dan dinamika perubahan sosial-ekologis, desa-desa adat seperti Pacung menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelestarian nilai-nilai budaya, lingkungan, dan struktur sosial yang sudah mengakar selama berabad-abad. Kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sistem pengetahuan dan praktik kolektif yang terbukti adaptif terhadap perubahan zaman. Menurut UNESCO . , intangible cultural heritage, seperti upacara tradisional, pengetahuan pengelolaan lingkungan, dan sistem sosial berbasis adat, memainkan peran penting dalam mendukung keberlanjutan komunitas lokal secara ekologis dan ekonomi. Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita KaranaAiyang menekankan keharmonisan antara manusia dan Tuhan . , manusia dan sesama . , serta manusia dan alam . Ai telah menjadi dasar moral dan spiritual yang membentuk cara hidup masyarakat Bali. Filosofi ini terbukti relevan dan aplikatif dalam pembangunan desa berkelanjutan (Sudiarta et al. , 2. Salah satu elemen vital dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut adalah perempuan Bali. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengurus rumah tangga dan penjaga ritual, tetapi juga agen transformasi sosial dan ekonomi. Studi dari UN Women . menegaskan bahwa pelibatan perempuan dalam sistem sosial-ekologis lokal meningkatkan ketahanan komunitas terhadap krisis ekonomi, perubahan iklim, dan disrupsi sosial lainnya Buku terbaru "Tri Hita Karana dan Perempuan" (Ni Kadek Sinta Dewi dkk. , 2. menekankan bahwa perempuan Bali adalah pilar utama dalam mempertahankan harmoni sosial dan lingkungan melalui praktik-praktik budaya dan spiritual sehari-hari, seperti menjaga taman upacara, membuat banten, dan mengelola kebun keluarga yang selaras dengan siklus adat. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran strategis perempuan Bali di Desa Pacung dapat direvitalisasi sebagai strategi pelestarian budaya dan penguatan ekonomi keluarga berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam pembangunan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam pelestarian budaya, pelindung lingkungan, dan pelaku ekonomi kreatif. KAJIAN PUSTAKA 1 Kearifan Lokal dan Tri Hita Karana Kearifan lokal dalam masyarakat Bali merupakan hasil akumulasi nilai-nilai adat yang diwariskan lintas generasi dan menjadi sistem panduan dalam mengelola hubungan sosial, spiritual, dan ekologis. Salah satu bentuk paling representatif dari sistem ini adalah Tri Hita KaranaAifalsafah yang menekankan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan . , manusia dengan sesama . , dan manusia dengan alam . Studi Qodim . menyatakan bahwa Tri Hita Karana bukan sekadar filosofi abstrak, namun telah diinstitusionalisasikan melalui awig-awig . turan ada. dalam pengelolaan lingkungan, termasuk pelestarian hutan adat oleh masyarakat Bali Aga di Tenganan dan Trunyan. JURNAL JNANA KARYA Selain itu, buku Tri Hita Karana dan Perempuan (Dewi et al. , 2. menegaskan bahwa perempuan Bali memainkan peran strategis dalam mempertahankan harmoni Tri Hita Karana melalui aktivitas seperti ritual keagamaan, pengelolaan kebun keluarga, dan pelestarian sumber air berbasis adat. Bahkan, penelitian dari MDPI (Liestiandre et al. menunjukkan bahwa penerapan Tri Hita Karana dalam pengelolaan ekowisata tidak hanya memperkuat nilai spiritual dan ekologi, tetapi juga meningkatkan kualitas destinasi pariwisata yang berkelanjutan di Bali. 2 Perempuan Bali dalam Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Perempuan Bali telah menunjukkan transformasi peran signifikan dari ranah domestik ke sektor ekonomi kreatif, khususnya pariwisata. Studi Bestari & Widhiasthini . mengungkapkan bahwa perempuan di Ubud aktif dalam cooking class, lokakarya kerajinan, serta tur budaya, yang menjadi sumber pendapatan keluarga dan media pelestarian budaya. Buku Kekuatan Wanita Bali (Herindiyah et al. , 2. memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bagaimana perempuan mampu memadukan estetika lokal, narasi budaya, dan strategi pemasaran dalam membangun usaha berbasis tradisi. Meski kontribusinya signifikan, data dari Kementerian Pariwisata dan KemenpA menyebutkan bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam posisi manajerial sektor pariwisata dan UMKM di Bali (Kemenparekraf, 2. , sehingga dibutuhkan pelatihan dan kebijakan afirmatif untuk meningkatkan keterwakilan mereka. 3 Perempuan dalam Pelestarian Budaya dan Bahasa Dalam pelestarian bahasa dan kesantunan budaya Bali, perempuan memiliki peran Buku Jejak Budaya Bali (Sartini, 2. menyebutkan bahwa perempuan menjadi agen pewarisan bahasa Bali secara informal melalui pendidikan dalam keluarga dan kegiatan adat. Salah satu inovasi modern dalam pelestarian bahasa yang digerakkan oleh perempuan adalah proyek BASABali Wiki, di mana perempuan lokal terlibat aktif dalam membuat konten digital berbahasa Bali serta menciptakan tokoh pahlawan perempuan "Luh Ayu Manik Mas" untuk edukasi nilai budaya dan lingkungan. 4 Pemberdayaan Perempuan dan Kepemimpinan Lokal Literatur terbaru menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan dalam masyarakat Buku Kepemimpinan Perempuan dalam Konteks Budaya Lokal (Fanggidae et al. menyajikan studi kasus perempuan pemimpin desa adat yang berhasil mengadopsi nilai lokal sebagai dasar kepemimpinan transformatif. Program pelatihan TP-PKK di VOLUME 06 NOMOR 02. BULAN DESEMBER TAHUN 2025 Gianyar . menjadi contoh konkret bagaimana perempuan desa dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk memimpin organisasi sosial dan ekonomi lokal. 5 Gender dan Pembangunan Berkelanjutan Pemberdayaan perempuan berbasis budaya kini menjadi salah satu pilar penting dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan. Buku Potret Gender dalam Pembangunan Berkelanjutan (Harini, 2. menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam seluruh siklus kebijakan pembangunan: dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. RAN-GPI 2024Ae2030 dari Kementerian pA secara eksplisit menegaskan bahwa perempuan adalah agen utama dalam mitigasi perubahan iklim dan harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan pada sektor lingkungan dan ekonomi hijau. Dari telaah literatur di atas, dapat disimpulkan bahwa: Tri Hita Karana menjadi fondasi ekologi dan budaya yang menuntut partisipasi aktif masyarakat, terutama perempuan. Perempuan Bali kini telah bertransformasi menjadi pelaku utama dalam ekonomi kreatif, pelestari bahasa, dan pemimpin komunitas adat. Pemberdayaan perempuan dalam konteks lokal terbukti memperkuat daya tahan sosial-ekologis desa serta mendorong pembangunan berbasis nilai. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian dilaksanakan Taggal 29 Juni 2025, melalui pendekatan partisipatif di Desa Pacung, dengan melibatkan tokoh adat, kelompok ibu PKK, pemuda desa, dan unsur masyarakat lainnya. Metode pelaksanaan terdiri dari penyuluhan, diskusi kelompok, identifikasi potensi lokal, serta simulasi kegiatan ekonomi berbasis tradisi. Data dikumpulkan melalui wawancara informal, observasi lapangan, dan dokumentasi kegiatan. Fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan kapasitas perempuan dalam mengelola sumber daya berbasis budaya dan lingkungan. JURNAL JNANA KARYA Registrasi Peserta Wawancara dengan Tokoh Adat dan Kepala Desa Pacung Tejakula HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Peran Perempuan Bali dalam Pelestarian Tradisi dan Lingkungan Perempuan Bali memiliki kedudukan yang strategis dalam struktur sosial adat dan Peran mereka tidak hanya terbatas pada lingkup domestik, tetapi meluas ke wilayah budaya, spiritual, ekonomi, dan pelestarian lingkungan. Dalam konteks Desa Pacung, partisipasi perempuan sangat terlihat dalam kegiatan-kegiatan adat, pemeliharaan tanaman upacara, serta pengelolaan kebun keluarga yang mengacu pada nilai-nilai Tri Hita Karana. Hasil observasi lapangan dan wawancara dengan ibu-ibu PKK dan kelompok pengayah menunjukkan bahwa mayoritas perempuan desa terlibat aktif dalam pembuatan banten, penyelenggaraan upacara adat, dan edukasi informal kepada anak-anak tentang nilai-nilai tradisional. Mereka menjadi penghubung antargenerasi dalam proses pewarisan kearifan lokal, khususnya melalui kegiatan seperti ngayah, metanding, dan ritual rumah Sebagaimana dikemukakan oleh Dewi et al. , peran perempuan dalam menjaga parahyangan dan palemahan menjadi landasan spiritual dalam menjaga harmoni dengan alam dan sesama Selain fungsi budaya, perempuan juga menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap Beberapa kegiatan nyata di Desa Pacung meliputi pengelolaan kebun keluarga yang ditanami tanaman obat tradisional dan tanaman upacara, partisipasi dalam bank sampah lokal, serta pelibatan dalam konservasi sumber mata air adat. Studi Qodim . menyatakan bahwa perempuan Bali Aga memainkan peran penting dalam menjaga kawasan hutan adat melalui aturan awig-awig, yang sekaligus menjadi sistem lokal pelestarian lingkungan berbasis budaya. VOLUME 06 NOMOR 02. BULAN DESEMBER TAHUN 2025 Di sisi lain, temuan menunjukkan bahwa perempuan juga berperan sebagai pendidik nilai di dalam rumah tangga. Mereka memperkenalkan konsep kesucian tempat dan makna simbolik dalam budaya Bali kepada anak-anak, memperkuat pemahaman generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan yang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga suci menurut pandangan adat. Temuan ini didukung oleh kajian dari Sartini . yang menjelaskan bahwa perempuan merupakan aktor utama dalam pewarisan bahasa dan simbol-simbol adat yang berfungsi memperkuat identitas budaya masyarakat. Secara struktural, kegiatan adat yang didominasi perempuan juga menjadi mekanisme sosial yang menjaga kohesi komunitas dan memperkuat nilai gotong royong. Partisipasi dalam kelompok PKK, sekaa teruna, dan kegiatan kelompok ekonomi wanita AuMindangAy . ikin asinan ika. juga bisa menjadi ruang perjumpaan sosial dan spiritual yang memperkuat kesadaran kolektif terhadap budaya dan ekologi lokal. Hal ini sejalan dengan studi dari UN Women . yang menyatakan bahwa perempuan memiliki kapasitas tinggi dalam mengelola sistem sosial-ekologis lokal dan dapat memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman lingkungan jika diberikan ruang partisipatif dan kepemimpinan. Simpulan yang bisa diperoleh dari sintesis temuan, bahwa peran perempuan Bali dalam pelestarian tradisi dan lingkungan terbukti nyata dan multi-dimensi: Sebagai penjaga budaya, melalui ritual, banten, dan pewarisan nilai adat. Sebagai pengelola ekologi rumah tangga, seperti kebun keluarga dan tanaman upacara. Sebagai aktor sosial, dalam struktur kelembagaan desa seperti PKK dan koperasi. Sebagai pendidik informal, yang meneruskan bahasa, cerita, dan simbol budaya. Untuk itu, pelestarian lingkungan dan nilai adat tidak dapat dilepaskan dari penguatan kapasitas perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan desa berbasis kearifan lokal. 2 Peluang Revitalisasi Tradisi untuk Ekonomi Revitalisasi tradisi lokal bukan hanya berfungsi untuk pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi keluarga berbasis komunitas. Hasil kegiatan di Desa Pacung menunjukkan bahwa praktik-praktik tradisional seperti kerajinan tangan, pengolahan pangan lokal, dan ritual adat memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya. Beberapa produk yang diidentifikasi selama kegiatan pengabdian antara lain: JURNAL JNANA KARYA Anyaman dan kriya lokal . nke berbahan lidi, gula aren dan hiasan upacara dan penjo. Olahan pangan tradisional seperti AumindangAy . lahan asinan ika. Tanaman upacara dan ramuan herbal, seperti minyak kepala dan kunyit, yang kebetulan ada warga Desa Pacung membuka usaha minyak kecantikan dan jamu, lulur kunyi. namun wilayah kegiatan masuk wilayah Desa Sembiran. Jasa tur budaya berbasis rumah tangga, seperti Ausehari bersama ibu desaAy . embuat canang. Aumelukat di Pura Ponjok Bat. Studi dari Bestari & Widhiasthini . menunjukkan bahwa perempuan di Ubud telah berhasil mengemas kegiatan-kegiatan tradisional tersebut menjadi paket pariwisata yang menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat kebanggaan budaya dan identitas lokal. Buku Kekuatan Wanita Bali oleh Herindiyah et al. menekankan bahwa perempuan desa memiliki modal sosial berupa keterampilan turun-temurun dan jejaring komunitas adat yang dapat dimanfaatkan untuk mendirikan usaha mandiri berbasis Produk-produk yang lahir dari tradisi juga memiliki keunggulan narasi lokal dan daya tarik spiritual, yang menjadi nilai tambah di pasar pariwisata dan ekonomi kreatif. Meskipun peluang tersebut besar, beberapa kendala juga ditemukan di lapangan, antara lain keterbatasan modal, akses ke pasar digital, dan kurangnya pelatihan promosi. Sebagian besar responden perempuan menyatakan antusiasme untuk mengembangkan produk tradisi menjadi usaha, tetapi belum memiliki sarana memadai seperti kemasan, sertifikasi produk, atau platform pemasaran daring. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif . menunjukkan bahwa 64% pelaku UMKM di Bali adalah perempuan, namun hanya 23% di antaranya yang terlibat dalam pasar daring atau pariwisata berbasis pengalaman. Ini menunjukkan perlunya fasilitasi dan pelatihan yang lebih terarah untuk menjembatani potensi tradisi dengan sistem ekonomi modern. Sementara itu. Qodim . dalam studi komunitas Bali Aga menyebutkan bahwa revitalisasi tradisi dapat terjadi secara alami bila dikaitkan dengan manfaat ekonomi langsung yang dirasakan masyarakat, tanpa mengorbankan nilainilai spiritual dan hukum adat . wig-awi. Dalam konteks ini, pemberdayaan ekonomi yang berbasis nilai lokal menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga keberlanjutan VOLUME 06 NOMOR 02. BULAN DESEMBER TAHUN 2025 Dengan demikian penulis dapat simpulkan peluang revitalisasi tradisi untuk ekonomi di Desa Pacung dapat dirumuskan sebagai berikut: Kerajinan tradisional dapat dikembangkan sebagai produk UMKM dengan nilai budaya Pangan lokal dan jamu potensial dijadikan produk komersial berbasis kesehatan dan spiritualitas Bali. Ekowisata berbasis rumah tangga perempuan menjadi bentuk turisme pengalaman yang autentik dan inklusif. Ritual dan simbol adat dapat dikemas menjadi narasi budaya dalam produk ekonomi Untuk itu, diperlukan dukungan dalam bentuk pelatihan, permodalan, akses pasar, serta penguatan organisasi perempuan berbasis adat. Pendekatan ini selaras dengan semangat pembangunan berbasis budaya dan inklusif gender yang berkelanjutan. 3 Strategi Penguatan Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pacung menghasilkan beberapa temuan kunci terkait kebutuhan dan arah strategi penguatan peran perempuan dalam menjaga budaya, mengelola lingkungan, dan mendukung ekonomi lokal. Strategi penguatan tidak hanya menyasar pemberdayaan individu, tetapi juga perlu diarahkan pada aspek struktural, kelembagaan, dan kolaboratif. Berdasarkan hasil FGD . ocus group discussio. dan observasi, empat strategi utama yang dianggap paling relevan oleh perempuan Desa Pacung adalah: Pelatihan Berkala dan Tematik Perempuan desa menyatakan kebutuhan akan pelatihan yang tidak hanya bersifat teknis . eperti kerajinan atau olahan panga. , tetapi juga menyangkut pemasaran, pengemasan produk, dan penggunaan digital marketing. Sebagaimana dicatat oleh Harini . , pendidikan dan pelatihan berbasis gender sangat penting untuk memperluas peran perempuan dalam rantai ekonomi desa, serta meningkatkan daya saing UMKM Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan jejaring kolaborasi antara perempuan desa dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah. LSM, dan sektor swasta. Studi dari Fanggidae et al. JURNAL JNANA KARYA menyebutkan bahwa perempuan dalam komunitas adat akan lebih efektif berdaya apabila program pelatihan dan pendampingan dirancang secara partisipatif dan melibatkan aktor eksternal yang memahami konteks budaya lokal. Pemanfaatan Media Digital dan Dokumentasi Budaya Banyak praktik budaya dan pengetahuan lokal perempuan desa, warisan leluhur berkaitan dengan sejarah desa atau pura, belum terdokumentasi secara tertulis atau Dengan adanya pelatihan dokumentasi budaya dan penggunaan media sosial, tradisi ini dapat diperkenalkan kepada generasi muda dan pasar yang lebih luas. BASABali Wiki, misalnya, telah menjadi platform efektif untuk dokumentasi digital bahasa dan praktik budaya yang banyak digerakkan oleh perempuan Bali. Pembentukan Koperasi Perempuan Berbasis Adat Koperasi berbasis nilai dan produk lokal diyakini dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat posisi tawar perempuan dalam ekonomi desa. Temuan lapangan menunjukkan tingginya minat perempuan untuk terlibat dalam unit usaha kolektif. Program seperti TP-PKK Desa Batubulan di Gianyar juga menunjukkan bahwa ketika perempuan diberdayakan secara kelembagaan, tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat secara signifikan. Selain strategi di atas, pelibatan tokoh adat dan tokoh agama juga dipandang penting agar pemberdayaan perempuan tidak bertabrakan dengan norma budaya yang berlaku. Justru melalui pendekatan kultural dan spiritual ini, program penguatan perempuan akan mendapat legitimasi dan keberlanjutan jangka panjang. Berdasarkan hasil pengamatan dan referensi, strategi penguatan peran perempuan di Desa Pacung sebaiknya mencakup: Pelatihan tematik berbasis budaya dan ekonomi kreatif Sinergi lintas lembaga, termasuk kampus, dinas, dan desa adat Digitalisasi budaya untuk promosi dan pengarsipan tradisi Koperasi adat perempuan untuk penguatan ekonomi kolektif Pendekatan ini akan memperkuat transformasi peran perempuan Bali dari pelaku budaya pasif menjadi aktor utama pembangunan lokal berbasis kearifan tradisional. PENUTUP 1 Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Pacung. Kecamatan Tejakula, menunjukkan bahwa perempuan Bali memiliki peran sentral dalam menjaga VOLUME 06 NOMOR 02. BULAN DESEMBER TAHUN 2025 kearifan lokal, baik dalam bentuk pelestarian tradisi, pengelolaan lingkungan, maupun penguatan ekonomi keluarga. Dalam konteks adat dan budaya, perempuan tampil sebagai penjaga nilai-nilai spiritual, pendidik informal, serta pelaku ritual keagamaan yang Melalui aktivitas seperti membuat banten, mengelola kebun upacara, dan menyampaikan nilai adat kepada anak-anak, mereka menjadi agen pelestari warisan budaya Bali yang hidup dan berdaya. Di sisi lain, tradisi lokal terbukti memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi kreatif. Kerajinan tangan, kuliner tradisional, tanaman herbal, serta jasa wisata berbasis budaya perempuan desa dapat dikemas menjadi produk ekonomi dengan nilai budaya tinggi. Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi sejumlah hambatan seperti keterbatasan pelatihan, akses modal, dan teknologi pemasaran. Sebagai strategi penguatan, pelatihan tematik dan berkala, kolaborasi lintas lembaga, pemanfaatan media digital, serta pembentukan koperasi perempuan berbasis adat menjadi rekomendasi utama. Penguatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu perempuan, tetapi juga mendorong terbentuknya sistem ekonomi lokal yang berakar pada nilai budaya dan spiritual komunitas Bali. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa revitalisasi kearifan lokal melalui peran perempuan bukan hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga merupakan jalan strategis untuk mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis 2 Saran Berdasarkan temuan dan hasil kegiatan, disarankan beberapa langkah tindak lanjut sebagai berikut: Pelatihan Berkelanjutan dan Kontekstual Diperlukan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti digitalisasi produk budaya, strategi pemasaran, dan manajemen usaha perempuan berbasis adat. Penguatan Kelembagaan Perempuan Pembentukan koperasi perempuan adat perlu difasilitasi oleh pemerintah desa melalui regulasi dan alokasi dana desa, agar dapat menjamin keberlanjutan usaha berbasis Kolaborasi Multipihak JURNAL JNANA KARYA Perlu dibangun kemitraan antara akademisi, pemerintah daerah. LSM, dan pelaku wisata untuk mendorong integrasi tradisi lokal dalam ekosistem pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif. Digitalisasi dan Dokumentasi Budaya Praktik-praktik budaya yang dijalankan oleh perempuan desa perlu didokumentasikan dan dipublikasikan melalui platform digital agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas serta diwariskan ke generasi mendatang. Replikasi Model di Desa Adat Lainnya Strategi yang terbukti efektif di Desa Pacung dapat direplikasi di desa-desa adat lainnya dengan penyesuaian konteks, sebagai model pemberdayaan perempuan berbasis kearifan lokal. DAFTAR PUSTAKA