POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Integrasi Model ASSURE dan Metode Think Pair Square dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Desi Tri Utami 1*. Dita Anggi Purbasari 2 Politeknik Pratama Mulia. Indonesia *Corresponding Author: desitriutami0812@gmail. Submitted: 08 January 2026 | Revised: 16 February 2026 | Accepted: 22 February 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas integrasi model ASSURE dengan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Square (TPS. dalam meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa, khususnya pada materi matriks dan determinan. Penelitian menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian terdiri atas 25 mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Politeknik Pratama Mulia Surakarta. Data dikumpulkan melalui observasi, tes hasil belajar, dokumentasi, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hasil belajar dan aktivitas mahasiswa di setiap siklus. Nilai rata-rata mahasiswa meningkat dari 64,72 pada pra-siklus menjadi 83,48 pada siklus i, sedangkan tingkat ketuntasan belajar naik dari 44% menjadi 88%. Ratarata skor aktivitas juga meningkat dari 2,6 . ukup akti. menjadi 3,8 . angat akti. Penerapan integrasi model ASSURE dan metode TPSq mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa, sehingga berdampak positif terhadap aktivitas pembelajaran dan hasil belajar matematika. Kata Kunci: Model ASSURE. Think Pair Square. Hasil Belajar Matematika Abstract This study aims to examine the effectiveness of integrating the ASSURE model with the Think Pair Square (TPS. cooperative learning method in improving studentsAo mathematics learning outcomes, particularly on the topics of matrices and determinants. The research employed a Classroom Action Research approach conducted in three cycles, each consisting of the stages of planning, implementation, observation, and reflection. The research subjects were 25 students of the Mechanical Engineering Study Program at Politeknik Pratama Mulia Surakarta. Data were collected through observation, learning achievement tests, documentation, and interviews, and were analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The results showed a significant improvement in studentsAo learning outcomes and engagement across all cycles. The average student score increased 72 in the pre-cycle to 83. 48 in cycle i, while the learning mastery rate rose from 44% to 88%. The average activity score also improved from 2. airly activ. ighly activ. The integration of the ASSURE model and TPSq method created a more interactive, collaborative, and student-centered learning process, which positively impacted studentsAo learning activities and mathematics achievement. Keywords: ASSURE Model. Think Pair Square. Mathematics Learning Outcomes This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author | 313 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu dasar yang berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir logis, analitis, dan sistematis. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya pada program studi yang berorientasi pada bidang teknik dan vokasi, matematika menjadi fondasi utama bagi mahasiswa dalam memahami serta menerapkan berbagai konsep analisis dan pemecahan masalah secara praktis. Dalam kajian analisis teknik, matriks dan determinan menempati posisi yang penting karena penerapannya yang luas, antara lain dalam penyelesaian sistem persamaan linear, transformasi geometri, dan analisis struktur. Namun demikian, pada praktik pembelajaran, mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak pada materi matriks dan determinan. Kondisi ini berdampak pada rendahnya hasil belajar serta kurangnya motivasi mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa permasalahan tersebut dipengaruhi oleh pembelajaran yang masih berpusat pada dosen . eacher-centered learnin. , terbatasnya kesempatan mahasiswa untuk berdiskusi dan berkolaborasi, serta minimnya pemanfaatan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual (Patricia & Laja, 2022. Zulfa et al. , 2022. Salsabila, 2024. Azaria & Nugraha, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu mendorong keterlibatan aktif mahasiswa serta membantu mereka memahami konsep matematika secara lebih bermakna. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk merancang pembelajaran yang efektif adalah model desain pembelajaran ASSURE. Model ASSURE merupakan kerangka desain pembelajaran yang terdiri atas enam langkah utama, yaitu Analyze Learners . enganalisis karakteristik peserta didi. State Objectives . erumuskan tujuan pembelajara. Select Methods. Media, and Materials . emilih metode, media, dan bahan ajar yang sesua. Utilize Media and Materials . emanfaatkan media dan bahan ajar dalam proses pembelajara. Require Learner Participation . elibatkan mahasiswa secara akti. , serta Evaluate and Revise . elakukan evaluasi dan perbaikan pembelajara. Keunggulan model ini terletak pada penekanannya terhadap analisis awal karakteristik mahasiswa dan pentingnya partisipasi aktif dalam proses belajar. Selain itu, adanya tahap evaluasi dan revisi memungkinkan pembelajaran diperbaiki secara berkelanjutan, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif, kontekstual, dan berorientasi pada mahasiswa. Melalui tahapan tersebut, dosen memiliki panduan yang jelas dalam merancang pembelajaran yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa (Iskandar & F. , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan model ASSURE pada pembelajaran matematika, khususnya materi geometri, mampu meningkatkan hasil belajar mahasiswa melalui perencanaan pembelajaran yang terstruktur dan penggunaan metode yang tepat (Sopamena et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa model ASSURE tidak hanya berfungsi sebagai panduan perencanaan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikombinasikan dengan metode pembelajaran aktif. Selain model ASSURE, metode pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square (TPS. juga terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Metode ini merupakan pengembangan dari Think Pair Share (TPS) dengan penambahan tahap diskusi dalam kelompok yang lebih Melalui tahapan berpikir secara individu . , berdiskusi dengan pasangan . , dan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 314 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari berbagi hasil diskusi dalam kelompok . , mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis, mengemukakan ide, serta mengonfirmasi pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari belajar (Sari et al. , 2. Menurut Aini & Nasution . , penerapan metode Think Pair Square memberikan dampak positif terhadap partisipasi peserta didik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, karena peserta didik terlibat secara aktif dalam proses berpikir kritis dan diskusi kelompok. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji penerapan model ASSURE maupun metode TPSq, sebagian besar penelitian tersebut masih membahas keduanya secara Penelitian yang mengintegrasikan model ASSURE dengan metode TPSq, khususnya dalam pembelajaran matematika pada pendidikan vokasi, masih relatif terbatas. Padahal, integrasi kedua pendekatan tersebut memiliki potensi besar dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna. Model ASSURE menyediakan kerangka perencanaan pembelajaran yang sistematis, sementara metode TPSq mendorong keterlibatan aktif dan kolaborasi mahasiswa. Kombinasi keduanya diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang terarah, partisipatif, serta mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas integrasi model ASSURE dan metode Think Pair Square dalam pembelajaran matematika guna meningkatkan hasil belajar Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran yang adaptif terhadap karakteristik mahasiswa vokasi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa melalui penerapan integrasi antara model ASSURE dan metode TPSq. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, di mana setiap siklus meliputi empat tahapan kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi (Arbain et al. , 2. Subjek dalam penelitian ini adalah 25 mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Politeknik Pratama Mulia, pada mata kuliah Matematika Terapan dengan materi matriks dan determinan sebagai fokus pembelajaran. Penelitian dilaksanakan di Politeknik Pratama Mulia Surakarta pada Semester Ganjil tahun akademik 2024/2025. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat aktivitas dan keterlibatan mahasiswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes hasil belajar diberikan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap materi. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data berupa daftar hadir, nilai, serta foto kegiatan pembelajaran. Instrumen penelitian terdiri atas lembar observasi dan tes hasil belajar. Lembar observasi digunakan untuk menilai tingkat keterlibatan mahasiswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan skala penilaian 1 sampai 4, di mana skor 1 menunjukkan kategori kurang aktif, skor 2 cukup aktif, skor 3 aktif, dan skor 4 sangat aktif. Aspek yang diamati mencakup tiga komponen utama, yaitu keaktifan belajar, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama dalam kelompok. Data hasil observasi diperoleh melalui pengamatan langsung oleh dua pengamat . guna menjaga keabsahan data dan meminimalkan subjektivitas Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 315 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari Hasil pengamatan kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menghitung ratarata skor aktivitas untuk setiap aspek pada setiap siklus pembelajaran. Tes hasil belajar digunakan untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi matriks dan determinan setelah penerapan integrasi model ASSURE dan metode TPSq. Tes berbentuk uraian terbuka yang terdiri atas 5 butir soal dengan tingkat kesulitan bervariasi. Setiap jawaban diberi skor dengan rentang 0Ae100. Kriteria keberhasilan tindakan ditetapkan berdasarkan indikator kinerja penelitian tindakan kelas, yaitu apabila rata-rata nilai kelas mencapai Ou 75, dan minimal 85% mahasiswa memperoleh nilai Ou 70. Selain itu, keberhasilan pembelajaran juga ditunjukkan oleh peningkatan skor aktivitas belajar mahasiswa pada setiap siklus, dengan kategori minimal mencapai AuBaikAy (Ou 3,. Hal ini dilihat dari keaktifan belajar, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama dalam kelompok. Penetapan kriteria ini bertujuan untuk memastikan bahwa peningkatan yang terjadi tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada kualitas keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar dan aktivitas mahasiswa pada setiap siklus. Secara kuantitatif, hasil belajar dianalisis dengan menghitung rata-rata nilai kelas serta persentase ketuntasan belajar. Rata-rata diperoleh dari total nilai mahasiswa yang dibagi dengan jumlah mahasiswa, sedangkan persentase ketuntasan dihitung dari jumlah mahasiswa yang mencapai nilai minimal 70 dibandingkan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa, kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase. Peningkatan hasil belajar antar siklus ditentukan berdasarkan perbandingan rata-rata nilai pada setiap siklus. Aktivitas belajar mahasiswa dianalisis melalui perhitungan rata-rata skor observasi menggunakan skala 1Ae4 yang kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori kurang aktif, cukup aktif, aktif, dan sangat aktif. Sementara itu, analisis kualitatif dilakukan dengan menelaah data hasil observasi dan wawancara melalui tahap penyederhanaan data, penyajian secara sistematis, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh dengan menggunakan triangulasi teknik, yaitu membandingkan hasil observasi, tes, dan wawancara. Pemilihan analisis deskriptif dalam penelitian ini disesuaikan dengan karakteristik penelitian tindakan kelas yang menekankan perbaikan proses pembelajaran secara bertahap dan reflektif. Penelitian dinyatakan berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar dan aktivitas mahasiswa secara konsisten pada setiap siklus sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas integrasi model ASSURE dan metode TPSq dalam meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa, khususnya pada materi matriks dan determinan. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hasil belajar dan aktivitas mahasiswa setelah diterapkannya integrasi model ASSURE dengan metode kooperatif tipe TPSq. Proses pembelajaran yang semula bersifat pasif dan berpusat pada dosen mulai berubah menjadi lebih interaktif, partisipatif, dan berorientasi pada kolaborasi. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 316 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari Perubahan tersebut terlihat dari peningkatan nilai rata-rata, tingkat ketuntasan belajar, serta skor aktivitas mahasiswa pada setiap siklus pembelajaran sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siklus Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus i Rata-rata Nilai 64,72 69,64 75,88 83,48 Presentase Ketuntasan (%) Kategori Aktivitas Belajar Rendah Cukup Baik Sangat Baik Berdasarkan data pada Tabel 1, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan baik pada hasil belajar mahasiswa maupun pada aktivitas belajar di setiap siklus Pada pra-siklus, rata-rata nilai mahasiswa hanya mencapai 64,72, dengan tingkat ketuntasan 44% dan kategori aktivitas belajar tergolong rendah. Berdasarkan hasil observasi, mahasiswa tampak pasif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar hanya mendengarkan penjelasan dosen tanpa berpartisipasi aktif dalam diskusi atau bertanya. Pola pembelajaran yang masih berpusat pada dosen . eacher-centere. membuat mahasiswa kurang berani berpendapat, tidak terlibat dalam pemecahan masalah, serta kesulitan memahami konsep abstrak seperti matriks dalam konteks teknik. Setelah penerapan integrasi model ASSURE dan metode TPSq pada siklus I, terjadi peningkatan rata-rata nilai menjadi 69,64 dengan ketuntasan 52%. Aktivitas belajar mahasiswa juga mengalami peningkatan dengan rata-rata skor 2,6, yang dikategorikan cukup Terjadi perubahan positif dalam perilaku belajar mahasiswa yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas diskusi pada tahap pair serta kemampuan mengemukakan ide pada tahap think. Namun, pada tahap square atau diskusi kelompok besar, partisipasi masih belum merata karena sebagian mahasiswa cenderung pasif. Peran dosen sebagai fasilitator tampak dominan dalam mengarahkan jalannya diskusi dan memberikan motivasi agar mahasiswa lebih berani mengutarakan pendapat. Pada siklus II, rata-rata nilai mahasiswa meningkat menjadi 75,88 dengan ketuntasan 78%, sedangkan skor aktivitas rata-rata naik menjadi 3,2 dan masuk kategori baik. Mahasiswa mulai menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran. Diskusi kelompok berlangsung lebih dinamis, dan mahasiswa mulai terbiasa mengemukakan gagasan serta menanggapi pendapat teman sekelompoknya. Penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa, sebagaimana diarahkan dalam tahapan model ASSURE, turut membantu meningkatkan pemahaman konsep dan partisipasi aktif mereka. Pada siklus i, rata-rata nilai mahasiswa mencapai 83,48 dengan ketuntasan 88%, sedangkan rata-rata skor aktivitas meningkat menjadi 3,8 yang termasuk dalam kategori sangat aktif. Aktivitas pembelajaran menunjukkan antusiasme tinggi dan partisipasi penuh pada seluruh tahap metode TPSq. Pada tahap think, kemampuan menganalisis masalah dan menyusun strategi penyelesaian secara mandiri terlihat semakin baik. Tahap pair ditandai dengan pertukaran ide yang produktif antar pasangan, sedangkan tahap square berlangsung interaktif dengan kontribusi hampir seluruh anggota kelompok. Selain itu, kemampuan mengaitkan konsep matriks dan determinan dengan penerapan dalam bidang teknik juga Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 317 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari mengalami peningkatan, disertai perkembangan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis yang lebih optimal. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi model ASSURE dan metode TPSq memberikan dampak positif terhadap hasil belajar dan aktivitas belajar Rata-rata skor aktivitas meningkat secara bertahap dari 2,6 . ukup akti. pada siklus I menjadi 3,8 . angat akti. pada siklus i, menunjukkan bahwa mahasiswa semakin terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Model ASSURE membantu dosen merancang kegiatan belajar secara sistematis dan kontekstual, sementara metode TPSq menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan interaktif. Dengan demikian, penerapan integrasi kedua pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep, keaktifan, dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Matematika Terapan khususnya pada materi matriks dan determinan. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara kerangka sistematis model ASSURE dan strategi kolaboratif metode TPSq terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar serta keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi matriks dan determinan. Peningkatan ini terlihat secara konsisten pada setiap siklus pembelajaran, baik dari aspek nilai rata-rata, ketuntasan belajar, maupun keaktifan Hal ini mengindikasikan bahwa perencanaan pembelajaran yang sistematis, jika dipadukan dengan strategi pembelajaran kooperatif, mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna dan berorientasi pada mahasiswa. Peningkatan hasil belajar pada setiap siklus menunjukkan peran penting model ASSURE dalam membantu dosen merancang pembelajaran secara terstruktur, mulai dari analisis karakteristik mahasiswa hingga evaluasi hasil belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian Iskandar & F. yang menyatakan bahwa penerapan model ASSURE dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran karena dosen memiliki panduan yang jelas dalam memilih metode, media, dan aktivitas belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, tahapan dalam metode TPSq memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Tahap think mendorong mahasiswa untuk berpikir mandiri, tahap pair memfasilitasi diskusi dan klarifikasi pemahaman, sedangkan tahap square memperluas interaksi dan pertukaran ide dalam kelompok yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari et al. yang menyatakan bahwa metode TPSq mampu meningkatkan hasil belajar dan partisipasi peserta didik melalui diskusi kolaboratif yang Hubungan antara model ASSURE dan metode TPSq tercermin dari meningkatnya skor aktivitas mahasiswa dari kategori cukup aktif menjadi sangat aktif pada siklus i. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mengalami peningkatan secara kognitif, tetapi juga berkembang dalam aspek afektif dan keterampilan sosial. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sopamena et al. yang menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran yang sistematis dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa secara signifikan dalam proses pembelajaran matematika. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 318 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari Kenaikan skor aktivitas mahasiswa dari 2,6 menjadi 3,8 yang masuk kategori sangat aktif membuktikan bahwa partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran meningkat secara Peningkatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa semakin terlibat secara aktif dalam setiap tahapan pembelajaran, baik pada kegiatan berpikir mandiri, diskusi berpasangan, maupun diskusi kelompok. Kondisi tersebut mencerminkan terjadinya perubahan pola pembelajaran dari yang semula pasif menjadi lebih interaktif dan kolaboratif. Hal yang didukung oleh temuan bahwa metode TPSq dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran (Aini & Nasution, 2. Keberhasilan penerapan metode ini sangat bergantung pada kualitas perencanaan dan pelaksanaannya, termasuk kompetensi pengajar, karakteristik peserta didik, dinamika kelompok, serta pemilihan media dan aktivitas pembelajaran yang sesuai (Letina & Vasilj. Chakyarkandiyil & Prakasha, 2. Selain itu, beberapa penelitian komparatif menunjukkan hasil yang bervariasi ketika metode TPSq dibandingkan dengan model pembelajaran lain, metode ini mampu meningkatkan hasil belajar secara signifikan (Sari et al. Dengan demikian, efektivitas metode pembelajaran sangat ditentukan oleh desain tugas yang tepat, pengelolaan kelompok belajar yang optimal, serta peran aktif dosen sebagai fasilitator dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif dan bermakna (Karmina et al. , 2. Berdasarkan keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa integrasi model ASSURE dan metode TPSq tidak hanya berdampak positif terhadap peningkatan hasil belajar matematika mahasiswa, tetapi juga meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara Model ini dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran, khususnya pada mata kuliah matematika terapan yang menuntut pemahaman konseptual dan keterlibatan aktif Meskipun demikian, penelitian ini masih terbatas pada satu materi dan jumlah siklus tertentu, sehingga penelitian lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas sangat disarankan untuk memperkuat generalisasi temuan. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi model ASSURE dengan metode TPSq terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan aktivitas mahasiswa pada mata kuliah Matematika Terapan, khususnya pada materi matriks dan determinan di Program Studi Teknik Mesin Politeknik Pratama Mulia. Secara empiris, penerapan model ini menghasilkan peningkatan nilai rata-rata mahasiswa dari 64,72 pada pra-siklus menjadi 83,48 pada siklus i, dengan tingkat ketuntasan belajar meningkat dari 44% menjadi 88%. Selain itu, rata-rata skor aktivitas mahasiswa meningkat dari 2,6 . ukup akti. menjadi 3,8 . angat akti. Hasil ini membuktikan bahwa kombinasi model ASSURE dan model TPSq tidak hanya berdampak pada peningkatan kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan sosial melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran. Model ASSURE berperan dalam membangun pembelajaran yang sistematis dan kontekstual sesuai karakteristik peserta didik, sedangkan metode TPSq mendorong interaksi kolaboratif yang memperkuat konstruksi pengetahuan. Integrasi keduanya menciptakan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 319 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 313-320, Desi Tri Utami. Dita Anggi Purbasari lingkungan belajar yang partisipatif dan bermakna, sehingga meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini membuktikan efektivitas kombinasi tersebut dalam meningkatkan hasil belajar matematika. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan media digital berbasis ASSURE yang terintegrasi dengan TPSq, serta mengujinya pada materi atau program studi lain untuk memperluas penerapan hasil penelitian. DAFTAR PUSTAKA