Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. RESEARCH ARTICLE Effectiveness of Cooperative Learning with Advisor Group Strategy in 7th Grade Mathematics Classroom Asrina . Nurdin Arsyad, & Fajar Arwadi Mathematics Department. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia Abstract: This study aims to determine the Effectiveness of the Cooperative *Corresponding author: Asrina. Mathematics Department. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia E-mail: asrina142@gmail. Learning Model with Group Advisory Strategy in Mathematics Learning of the Grade VII SMP. This research is pre-experiment with techniques sampling is cluster random sampling. Data collection was carried out using observation sheets of implementation of learning, test results of learning . retest and posttes. , observation sheets of student activities, and student questionnaire responses. The data analysis technique used is descriptive and inferential statistical analysis. The results of descriptive statistical analysis showed: . The average score of learning outcomes after learning reaches 04 with standard deviation of 8. 79, . the posttest results show that classical completeness is achieved 91% . The average percentage of student activity is 89% . the average percentage of students who gave positive response 89%. The results of inferential statistical analysis showed : . The average value of students taught using cooperative learning models with the Advisor Group Strategy is greater than completeness, which is 70, and . The proportion of classical completeness of learning outcomes after the application of the cooperative learning model with Group Advisors Strategy achieve classical completeness. From the results of this research it can be concluded that cooperative learning models with the Group Advisory Strategy are effectively used in students of grade VII. Keywords: Effectiveness. Cooperative. Advisor Group. Learning Outcomes. Mathematics Introduction Pembelajaran adalah proses intreksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan . , tentu harus dipilih model pembelajaran yang paling tepat atau sesuai dengan materi yang akan di ajarkan (Trianto, 2. Oleh karena itu dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan maka diperlukan adanya pertimbangan. Model pembelajaran adalah suatu tindakan pembelajaran yang mengikuti pola atau langkahlangkah pembelajaran, yang harus diterapkan guru agar kompetensi atau tujuan belajar diharapkan dapat tercapai dengan cepat, efektif, dan efisien (Suyitno, 2. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya mampu mengelolah model pembelajaran yang akan diterapkan agar pembelajaran tersebut dapat tercapai. Salah satu model yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran aktif yang menekankan aktivitas peserta didik bersama-sama secara berkelompok dan tidak invidual (Haling & Pattaufi, 2. Dalam This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa ikut dalam kegiatan pembelajaran untuk saling membantu antar anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan berfikirnya. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal perlu adanya strategi dalam Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien (Wina, 2. Dengan adanya strategi pembelajaran dapat membuat kadar keefektifan siswa akan lebih tinggi sehingga siswa lebih aktif dalam proses belajar. Strategi pembelajaran tersebut sebaiknya didesain agar pembelajaran berubah dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satu strategi yang berpusat pada siswa adalah strategi Advisor Grup. Strategi Advisor Grup adalah strategi yang diberikan untuk memperoleh umpan balik dari siswa setelah memperoleh pengetahuan materi menurut Silberman . alam Tofa, 2. Sebagian siswa diberi tugas untuk membuat soal-soal terkait materi yang akan diajarkan dan sebagian siswa lagi akan menjawab soal-soal yang telah dibuat oleh temannya setelah guru memberikan arahan. Dengan demikian siswa akan bersemangat untuk memahami materi sendiri agar dapat membuat dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Penelitian ini ditunjang dengan beberapa penelitian terkait yang dilakukan sebelumnya yaitu: (Alfreza, 2009. Winarsih, 2012. Maulana, 2. Hasi penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran Advisory Group efektif digunakan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar, pemahaman konsep siswa. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui efektif tidaknya strategi Advisor Grup digunakan dalam pembelajaran. Penelitian ini berfokus pada model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup dalam pembelajaran matematika di kelas VII. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektif tidaknya model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup terhadap hasil belajar, aktivitas dan respons siswa dalam pembelajaran matematika. Terdapat tiga aspek yang akan dinilai yaitu hasil belajar, aktivitas siswa dan respons siswa. Literature Review Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana dalam sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4 - 6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar (Slavin, 2. Dengan adanya pembelajaran berkelompok maka dapat membuat siswa saling bekerja sama dengan menuangkan ide-ide yang ada. Adanya interaksi antar siswa dapat mempengaruhi keberhasilan siswa. Pembelajaran kooperatif . ooperative Learnin. merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang yang struktur kelompok yang bersifat heterogen (Rusman, 2. Dalam kelompok setiap siswa harus saling bekerja sama, saling membantu untuk memahami materi untuk pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri (Rusman, 2. , yaitu: Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya . Kelompok di bentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah . Bilamana anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda . Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. Model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengonstruksi konsep dan menyelesaikan masalah. Dalam pembelajaran, guru juga harus mampu mengkordinir siswa untuk mencapai fase-fase dalam pembelajaran sehingga aktivitas guru juga tercapai. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif (Widiasworo, 2. , yaitu : This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. Tabel 1. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Fase-Fase Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyajikan informasi Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Membimbing kelompok bekerja dan belajar Evaluasi Memberi Penghargaan Aktivitas Guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pembelajaran tersebut, dan memotivasi siswa untuk belajar. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi lewat bahan bacaan. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. Strategi Advisor Grup adalah strategi yang diberikan untuk memperoleh umpan balik dari siswa setelah memperoleh pengetahuan materi menurut Silberman . alam Tofa, 2. Sebagian siswa diberi tugas untuk membuat soal-soal terkait materi yang telah diajarkan dan sebagian siswa lagi akan menjawab soal-soal yang telah dibuat oleh temannya. Sehingga semua siswa diharapkan akan mengerti konsep materi dari guru maupun dari dirinya sendiri. Strategi Advisor Grup adalah strategi untuk mengetahui pemahaman materi oleh siswa setelah guru memberikan konsep Yaniawati . alam Tofa, 2. Advisor Grup menuntut siswa untuk memahami sendiri materi yang telah diberikan sehingga siswa memahami betul materi yang sedang diajarkan dengan patokan konsep yang di berikan oleh guru dengan cara membuat pertanyaan yang berkaitan. Strategi ini juga, dalam pelaksanaanya sebagian siswa lain juga dituntut untuk mengerti dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Prosedur pelaksanaan Advisor Grup Silberman . alam Tofa, 2. Guru menyediakan waktu untuk pelaksanaannya, waktu yang dipakai adalah setelah guru memberikan materi, ini dilakukan untuk memperoleh umpan balik dari siswa. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok dibagi lagi menjadi dua kelompok kecil yakni kelompok penasehat . isal A) dan kelompok klien . isal B). Kelompok A diperintahkan untuk berdiskusi membuat pertanyaan sendiri yang berhubungan dengan materi sebanyak anggota kelompok B. Guru meminta siswa untuk membuat pertanyaan sendiri ini bertujuan agar kelompok A juga paham terhadap . Kelompok B berusaha untuk berdiskusi dan membahas materi pelajaran dan akan menjawab pertanyaan kelompok A. Ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar reaksi dan pemahamannya terhadap materi. Setelah memberikan waktu maka anggota kelompok A meminta kelompok B untuk menjawab pertanyaan yang telah dibuat dan waktu pengerjaannya ditetapkan oleh guru. Seterusnya hingga semua anggota B menjawab pertanyaan yang telah dibuat oleh kelompok A. Kemudian anggota kelompok A dan B kembali menjadi satu kelompok dan mereka bersama-sama membahas soal dan jawabannya, dan pada saat tersebut guru memberikan kesempatan siswa untuk berdiskusi dan bertanya kepada guru. Beberapa penelitian telah mengkaji terkait model yang dilakukan sebelumnya yaitu: (Alfreza. Winarsih, 2012. Maulana, 2. Alfreza . yang meneliti tentang penerapan pembelajaran Advisory Group untuk meningkatkan hasil belajar siswa di Malang. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas control dan kelas eksperimen sebelum dan sesudah penerayjuujjupan pembelajaran Advisory Group. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test siswa untuk kelompok eksperimen sebesar 63. 23 dan This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. untuk kelompok kontrol sebesar 62. 94 yang berada pada ketegori cukup dan nilai rata-rata post-test untuk kelompok eksperimen sebesar 81,91 yang dapat diklasifikasikan termasuk dalam kategori baik sekali. Sedangkan untuk kelompok kontrol nilai rata-rata post-test sebesar 73 yang berada pada kategori baik. Maulana . yang meneliti tentang perbandingan hasil belajar matematika melalui strategi Advisory Group dengan Curvelballs pada siswa di Kab. Enrekang. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang di ajar menggunakan strategi pembelajaran Advisory Group dengan yang diajar menggunakan strategi pembelajaran Curvelballs. Hal ini dapat di lihat dari hasil belajar siswa sebelum penerapan strategi Advisory Group berada pada kategori rendah dengan jumlah rata-rata , sedangkan setelah penerapan strategi Advisory Group hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan jumlah rata-rata sebesar berada pada kategori tinggi. Hasil belajar siswa sebelum penerapan strategi Curvelballs berada pada kategori rendah dengan dengan jumlah rata-rata sedangkan setelah penerapan strategi Curvelballs mengalami peningkatan dengan jumlah rata-rata berada pada kategori tinggi. Winarsih . yang meneliti tentang penerapan strategi Advisory Group dalam upaya meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep belajar matematika. Hal ini dapat di lihat dari beberapa aspek keaktifan siswa. banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan sebelum tindakan yaitu sebesar 25% dan meningkat pada siklus i sebesar 50%, banyaknya siswa yang mengerjakan soal di depan sebelum tindakan yaitu sebesar 15% dan meningkat pada siklus i sebesar 55%, banyaknya siswa yang mempresentasikan hasil pekerjannya sebelum tindakan yaitu sebesar 30% dan meningkat pada siklus i sebesar 55%. Pemahaman konsep siswa juga dapat dilihat dari banyaknya siswa mengerjakan soal dengan konsep yang benar dan tepat sebelum tindakan yaitu sebesar 40% dan meningkat pada siklus i sebesar 60%, banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar sebelum tindakan yaitu sebesar 20% dan meningkat pada siklus i sebesar 50 %. Research Methods Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian pra-eksperimen dengan Desain penelitian adalah One Group Ae Pretest Posttest Design. Tabel 2. One Group Ae Pretest Posttest Design Pretest Treatment Posttest (Sugiyono, 2. Tabel 2 menunjukkan desain penelitian yang akan digunakan peneliti dalam penelitiannya. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Kota Barru. Sampel penelitian ini terdiri dari 22 siswa dengan Teknik Cluster Random Sampling. Variabel bebas dari penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup, sedangkan variabel terikat yaitu Hasil belajar. Aktivitas siswa dan Respons siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes, pengisian angket, dan pengisian lembar observasi. Instrumen yang dikembangkan yaitu tes hasil belajar . retest dan posttes. , lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, dan angket respons siswa. instrumen telah divalidasi oleh dua validator. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel penelitian. Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis Namun sebelumnya dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu rata-rata hasil belajar siswa . setelah di ajar menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup secara signifikan minimal memenuhi KKM Peningkatan hasil belajar siswa yaitu skor ratarata . lebih tinggi dari pada skor rata-rata pretest . ata-rata gain ternormalisasi This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. melebihi 0,. Dan proporsi siswa mencapai ketuntasan belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup secara klasikal lebih besar atau sama dengan 80%. Results and Discussion Penelitian dilaksanakan dengan 5 pertemuan, 1 pertemuan pemberian pretest, 1 pertemuan pemberian posttest, dan 3 pertemuan pemberian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup. Pretest merupakan tes awal yang diberikan sebelum pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan, posttest merupakan tes akhir setelah pembelajaran dilaksanakan. Selain itu, selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengisian lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan lembar observasi aktivitas siswa. Adapun angket respons siswa diisi oleh siswa setelah pembelajaran Keterlaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Stategi Advisor Grup Tabel 3. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Fase Kegiatan Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup RataAerata Persentase pertemuan 3,16 3,67 3,67 Pertemuan 3,83 3,95 3,92 3,83 3,67 Rata-rata Kategori 3,61 3,53 3,78 3,74 Baik Baik Baik Baik Baik Tabel 3 menunjukkan bahwa untuk skor rata-rata dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga yaitu 3,74 dan berada pada interval . ,5 Ae 4,. , maka dapat disimpulkan secara keseluruhan observasi terhadap keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup dikatakan terlaksana dengan baik. Secara kualitatif menunjukkan bahwa guru melaksanakan semua fase dengan baik. Telihat pada fase pendahuluan yang pertemuan pertama 3,16 hingga pertemuan terakhir 3,83. Hasil Belajar Siswa Analisis Deskriptif Tabel 4. Data Statistik Deskriptif Nilai Pretest dan Posttest Statistik Ukuran Sampel Rata-Rata Median Modus Standar Deviasi Variansi Rentang Skor Skor Terendah Skor Tertinggi Pretest 37,54 Posttest 80,04 79,50 8,79 77,28 Tabel 4 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VII sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup adalah 37,54 dengan skor Dengan kata lain. Skor rata-rata menunjukkan bahwa hasil pretest siswa masih tergolong sangat rendah. Skor yang dicapai siswa tersebar dari skor terendah 12 sampai dengan skor tertinggi 56 dengan rentang 44. Tabel 5. Distribusi dan Persentase Nilai Pretest Siswa Nilai siswa Kategori Sangat tinggi Tinggi Sedang Frekuensi Persentase (%) This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. Nilai siswa Kategori Rendah Sangat rendah Jumlah Frekuensi Persentase (%) 4,6 % 95,4 % Tabel 5 menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal siswa tidak terpenuhi dengan hanya 4,6% siswa dalam kelas yang mencapai ketuntasan individu yang pada kategori rendah dan 95,4% siswa yang mencapai ketuntasan individu yang berada pada kategori sangat rendah. Hal ini berarti bahwa pada hasil pretest tidak ada siswa yang mencapai ketuntasan secara klasikal atau 100% siswa tidak tuntas. Sehingga, skor rata-rata hasil belajar siswa sebelum diajar model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup berada pada kategori Ausangat rendahAy. Tabel 6. Rekapitulasi Nilai Posttest Siswa Kelas VII Statistik Nilai Ukuran Sampel Rata-rata 80,04 Median 79,50 Modus Standar Deviasi 80,79 Variansi 77,28 Rentang skor Minimum Maksimum Tabel 6 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VII setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup adalah 80,04 dengan skor Skor rata-rata tersebut berada pada kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat dari nilai tertinggi 91 dengan modus atau nilai yang sering muncul 78 yang berarti bahwa sebagian besar siswa telah mengerti atau paham dengan materi yang diajarkan. Tabel 7. Distribusi dan Persentase Nilai Posttest Siswa Nilai siswa Kategori Frekuensi Persentase (%) Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Jumlah Tabel 7 menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal terpenuni dengan 90,9% siswa yang mencapai ketuntasan individu. 90,9% diperoleh dari jumlah persentase kategori sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Untuk ketuntasana individu yang tidak terpenuhi terdapat 9,1 % atau terdapat 2 siswa yang tidak memenuhi ketuntasan klasikal. Sehingga, skor rata-rata hasil belajar posttest siswa setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup berada pada kategori Ausangat tinggiAy. Tabel 8. Rekapitulasi Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Statistik UkuranSampel Rata-Rata Median Modus Standar Deviasi Variansi Rentang Skor Skor Terendah Skor Tertinggi Gain Ternormalisasi 0,69 0,68 0,63 0,09 0,009 0,36 0,49 0,85 Tabel 8 menunjukkan bahwa dengan jumlah siswa 22 orang, kelas yang diajar melalui model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup mengalami rata-rata peningkatan sebesar 0,69 dengan rata-rata pretest 37,54 dan rata-rata posttest 80,04. Rata rata peningkatan This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari sangat rendah ke tinggi dengan modus 1 yang berarti bahwa kebanyakan siswa mengalami peningkatan dalam belajar matematika setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup. TABEL 9. Klasifikasi Gain Ternormalisasi pada Kelas yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Strategi Advisor Grup Koefisien Gain Ternormalisasi Jumlah Siswa Persentase Klasifikasi Rendah Sedang Tinggi Jumlah Tinggi Tinggi Rata-rata 0,69 Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat 13 siswa atau 60% berada pada kategori sedang dan 9 siswa atau 40% berada pada kategori tinggi, tidak ada satupun siswa yang berada pada kategori rendah. Berdasarkan rata-rata pretest siswa, maka rata-rata peningkatan hasil belajar siswa dihitung dengan rumus gain ternormalisasi sebesar 0. Hal ini berarti peningkatan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup berada pada kategori tinggi. Analisis Inferensial Pada analisis inferensial, berdasarkan uji normalitas untuk posttest siswa diperoleh p-value > yaitu 0,2 > 0,05. Peningkatan . ilai gai. siswa diperoleh p-value > yaitu 0,2 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data hasil posttest dan data peningkatan . ilai gai. berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis: Posttest Tabel 10. Hasil Uji-t satu sampel posttest Nilai Uji (Test Valu. = 70 Sig. -taile. 5,413 0,000 Tabel 10 menunjukkan bahwa Sig. -taile. untuk data posttest adalah 0,000. Jika digunakan = 0. 05 maka diperoleh p-value < . Ini berarti bahwa untuk rata-rata hasil belajar siswa . setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup lebih besar atau sama dengan 70. Tabel 11. Hasil Uji-t satu sampel gain ternormalisasi Nilai Uji (Test Valu. = 0,29 Sig. -taile. Gain ternormalisasi 19,849 0,000 Pada tabel 11 menunjukkan bahwa Sig. -taile. untuk data gain ternormalisasi adalah 0,000. Jika digunakan = 0. 05 maka diperoleh p-value < . Ini berarti bahwa untuk peningkatan hasil belajar siswa yaitu skor rata-rata posttest lebih tinggi dari pada skor rata-rata Tabel 12. Statistik Uji-Z Ketuntasan Klasikal Zhitung Ketuntasan Klasikal 1,28 Ztabel 1,96 Pada tabel 12 menunjukkan bahwa maka diperoleh Hal ini menunjukkan bahwa siswa mencapai ketuntasan belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup secara klasikal lebih besar atau sama dengan 80%. Aktivitas Siswa This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. Tabel 13. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Aspek yang Jumlah Rata-rata Persentase Pertemuan Skor rata-rata aktivitas siswa setiap pertemuan 3,56 3,56 3,56 RataRata 3,57 Tabel 13 menunjukkan bahwa hasil obsevasi aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa kedua lima aspek yang diamati memenuhi kriteria. Presentase rata-rata untuk semua pertemuan yaitu 89% dan berada pada interval . Ae . dan berada pada kategori sangat aktif. Tabel 14. Hasil Uji-t Satu Sampel Respons Respons Nilai Uji (Test Valu. =2,49 2,13 Sig. -taile. 0,000 Pada tabel 14 menunjukkan bahwa Sig. -taile. untuk data respons siswa adalah 0,000. Jika digunakan = 0. 05 maka diperoleh p-value < . Ini berarti bahwa untuk respons siswa yaitu skor rata-rata posttest lebih tinggi dari pada skor rata-rata pretest. Conclusion Model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup efektif untuk diterapkan di kelas VII. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar matematika siswa setelah diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup yang menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh yaitu 80,04 dari skor minimal 70. Sebanyak 91% siswa mencapai ketuntasan individu, artinya ketuntasan belajar secara klasikal Dan nilai skor rata-rata gain ternormalisasi siswa yaitu sebesar 0,69 yang berada pada kategori sedang. Selain itu, skor rata-rata aktivitas siswa yaitu sebesar 89% atau berada pada kategori sangat aktif. Serta rata-rata persentase siswa yang memberi respons pada model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup yaitu sebesar 3,38 berada pada kategori cenderung positif. Masih ada beberapa hal menarik yang dapat diteliti selanjutnya. Penelitian ini hanya mengukur dua variabel. Variabel terikat yaitu model pembelajaran kooperatif dengan This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC) 4. Asrina, et. ARRUS Journal of Mathematics and Applied Science. Vol. No. https://doi. org/10. 35877/mathscience554 ISSN : 2776-7922 (Prin. / 2807-3037 (Onlin. strategi Advisor Grup dan variabel bebas yaitu hasil belajar, aktivitas dan respons. Selain itu. Model pembelajaran kooperatif dengan strategi Advisor Grup dapat diterapkan sebagai model pembelajaran untuk mengukur variabel lain selain hasil belajar, aktivitas siswa dan res pons siswa. References