Original Research HIJP : HEALTH INFORMATION JURNAL PENELITIAN Paparan Kebisingan Okupasional dan Risiko Stres Kerja Psikofisiologis: Studi Observasional pada Teknisi Depo Lokomotif Occupational Noise Exposure and Psychophysiological Work Stress Risk: An Observational Study on Locomotive Depot Technicians Novita Sari1. Nadya Ulfa Tanjung2. Tri Niswati Utami3 Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia *Korespondensi e-mail: sari84572@gmail. 1,2,3 Kata kunci: Intensitas kebisingan. Keselamatan kerja. Kesehatan kerja. Stress kerja Keywords: Noise intensity. Work safety. Work health. Work stress Poltekkes Kemenkes Kendari. Indonesia ISSN : 2085-0840 ISSN-e : 2622-5905 Periodicity : Bianual vol. 17 no. jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi. Received : 23 September 2025 Accepted : 08 Desember 2025 Funding source: DOI : 10. 36990/hijp. URL : https://myjurnal. id/index. php/HIJP Contract number: - Abstrak:. Latar Belakang: Kebisingan okupasional di depo lokomotif yang melebihi nilai ambang batas 85 dBA berpotensi memicu stres kerja psikofisiologis melalui mekanisme neuroendokrin yang kompleks. Tujuan: Menganalisis hubungan intensitas kebisingan dengan risiko stres kerja pada teknisi depo lokomotif. Metode: Penelitian cross-sectional observasional dengan total sampling pada 40 teknisi di Depo Lokomotif. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter tipe II pada 5 titik area kerja dengan metode time-weighted average, dikategorikan O85 dBA dan >85 dBA. Stres kerja diukur dengan kuesioner tervalidasi 30 item (=0,. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Cramer's V. Hasil: Sebanyak 62,5% area kerja memiliki intensitas kebisingan >85 dBA . atarata 88,4A3,1 dBA) dan 72,5% pekerja mengalami stres Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara paparan kebisingan >85 dBA dengan stres kerja . =0,030. OR=3,8. 95%CI: 1,4-9,9. Cramer's V=0,. Usia dan masa kerja tidak berpengaruh signifikan . >0,. Simpulan: Paparan kebisingan okupasional di atas nilai ambang batas meningkatkan risiko stres kerja psikofisiologis secara signifikan pada teknisi depo lokomotif. Saran: Intervensi pengendalian kebisingan berbasis hierarki kontrol dan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar serta desain kohort prospektif diperlukan untuk memvalidasi temuan dan menguji efektivitas intervensi berbasis bukti. Abstract: Background: Occupational noise in locomotive depots exceeding a threshold value of 85 dBA has the potential to trigger psychophysiological work stress through complex neuroendocrine Objective: To analyze the relationship between noise intensity and the risk of work stress in locomotive depot technicians. Methods: Observational cross-sectional research with a total sampling of 40 technicians at the Locomotive Depot. Noise intensity was measured using a type II sound level meter at 5 points of the work area using the time-weighted average method, categorized as O85 dBA and >85 dBA. Work stress was measured by a 30-item validated questionnaire (=0. Data analysis using Chi-square and Cramer's V tests. Results: 62. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 359 of work areas had a noise intensity of >85 dBA . verage 4A3. 1 dBA) and 72. 5% of workers experienced work stress. Chi-square analysis showed a significant relationship between noise exposure >85 dBA and work stress . =0. OR=3. 95%CI: 1. Cramer's V=0. Age and working period had no significant effect . >0. Conclusions: Occupational noise exposure above threshold values significantly increases the risk of psychophysiological occupational stress in locomotive depot Suggestion: Hierarchy-based noise control interventions and longitudinal research with larger samples and prospective cohort designs are needed to validate findings and test the effectiveness of evidence-based interventions. PENDAHULUAN Kebisingan okupasional merupakan salah satu faktor risiko kesehatan kerja yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Prevalensi gangguan pendengaran akibat kebisingan pada pekerja industri Indonesia mencapai 36-50%, namun kesadaran akan bahaya kebisingan dan implementasi program pengendalian masih belum optimal (Kemenkes, 2. Industri perkeretaapian, khususnya depo lokomotif sebagai pusat perawatan dan perbaikan kereta api, merupakan lingkungan kerja dengan paparan kebisingan tinggi yang bersumber dari operasi mesin diesel, sistem pneumatik, dan aktivitas perbaikan menggunakan alat berat (Pane. Silalahi. Silalahi. Violeta, & Malau, 2. Hasil pengukuran menunjukkan tingkat kebisingan di depo dan stasiun kereta api dapat mencapai 85-105 dBA, melebihi nilai ambang batas (NAB) 85 dBA yang ditetapkan Permenaker No. 5 Tahun 2018 (Maulidina, 2. Paparan kebisingan kronis tidak hanya berdampak pada sistem pendengaran . uditory effect. , tetapi juga memicu stres kerja melalui mekanisme psikofisiologis yang kompleks . on-auditory effect. Berdasarkan teori transaksional stres, kondisi ini terjadi ketika individu menilai tuntutan lingkungan . melebihi kapasitas adaptasinya. Secara fisiologis, studi literatur terbaru mengonfirmasi bahwa kebisingan bertindak sebagai stresor biologis yang mengaktifkan aksis Hypothalamic-PituitaryAdrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis, menyebabkan pelepasan hormon stres kortisol dan katekolamin yang berkepanjangan (Mynzel et al. , 2020. Pagys et al. , 2. Kondisi ini bermanifestasi sebagai gejala fisik . akit kepala, kelelahan kroni. , emosional . ecemasan, iritabilita. , dan perilaku . enurunan produktivitas, kesalahan kerj. yang secara langsung mengancam kesejahteraan pekerja dan keselamatan operasional (Mynzel et al. , 2. Meskipun kerangka regulasi K3 telah ditetapkan secara nasional, implementasi praktisnya di lingkungan kerja berisiko tinggi seperti depo lokomotif masih menghadapi tantangan substansial. Studi terbaru oleh (Naufal. Ramadhani. Maulana, & Hasibuan, 2. mengenai efektivitas sistem manajemen K3 pada operasi perkeretaapian mengungkapkan bahwa kesenjangan antara kepatuhan administratif dan praktik di lapangan masih lebar, terutama terkait kedisiplinan penggunaan APD. Rendahnya kepatuhan ini dipengaruhi oleh faktor multidimensi. (Rahmawati. Romdhona. Andriyani, & Fauziah, 2. mengidentifikasi bahwa lemahnya fungsi pengawasan . petugas K3 memiliki korelasi kuat dengan perilaku tidak patuh pekerja. (Chong. Chen. Peng, & Yu, 2. juga menemukan bahwa ketidaknyamanan fisik dan gangguan komunikasi adalah alasan utama pekerja enggan menggunakan earmuff atau earplug meskipun mereka menyadari bahaya kebisingan Di Indonesia, berbagai studi empiris terbaru secara konsisten menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara intensitas kebisingan dan tingkat stres kerja pada sektor industri dengan paparan tinggi (Ginting et al. , 2023. Putri. Wardhani, & Purwoko, 2. Meskipun hubungan antara kebisingan dan stres telah banyak dikaji pada sektor manufaktur dan penerbangan, studi spesifik pada lingkungan depo pemeliharaan kereta api . di Indonesia masih sangat terbatas. Lingkungan ini memiliki karakteristik kebisingan yang berbeda kombinasi dengung konstan mesin diesel statis dan kebisingan impulsif dari alat pneumatik yang mungkin menghasilkan respons psikologis berbeda dibandingkan Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 360 kebisingan industri konstan. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur tersebut dengan mengintegrasikan pengukuran objektif titik area . dengan evaluasi psikometrik stres pada populasi teknisi yang memiliki tanggung jawab keselamatan tinggi . igh-reliability organizatio. METODE Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif observasional untuk menganalisis hubungan antara intensitas kebisingan . ariabel independe. dan stres kerja . ariabel depende. pada pekerja Depo Lokomotif. Desain ini dipilih karena memungkinkan pengukuran kedua variabel dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu tanpa intervensi peneliti, sehingga efisien untuk menilai asosiasi antara paparan kebisingan dan status stres kerja pada titik waktu tertentu. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Depo Lokomotif pada bulan Maret 2025. Lokasi ini dipilih karena merupakan pusat perawatan dan perbaikan lokomotif dengan tingkat kebisingan tinggi akibat operasional mesin diesel, sistem pneumatik, dan aktivitas perbaikan menggunakan alat berat yang diperkirakan melebihi nilai ambang batas (NAB) 85 dBA sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018. Pengambilan data dilakukan selama jam kerja operasional untuk memastikan pengukuran kebisingan mencerminkan kondisi paparan aktual pekerja di lapangan. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh pekerja tetap di Depo Lokomotif yang berjumlah 40 orang. Teknik total sampling digunakan sehingga seluruh populasi menjadi sampel penelitian. Kriteria inklusi meliputi pekerja dengan status tetap, masa kerja minimal 6 bulan, dan bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi meliputi pekerja yang sedang cuti atau sakit serta memiliki riwayat gangguan pendengaran bawaan yang dapat menjadi faktor confounding. Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui dua instrumen utama. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter IEC 651 TYPE II (SNI 8247:2. pada 5 titik area kerja selama 8 jam dengan metode time-weighted average (TWA), dikategorikan menjadi O85 dBA dan >85 dBA berdasarkan Permenaker No. 5 Tahun 2018. Stres kerja diukur menggunakan kuesioner tervalidasi 30 item . kala Likert 1-4. validitas r > 0,312, reliabilitas Cronbach's = 0,. , mencakup aspek fisik, emosional, dan perilaku dengan skor 30-120 . idak stres: 30-75. stres kerja: 76-. Data karakteristik responden . sia dan masa kerj. dikumpulkan melalui kuesioner demografi, serta data sekunder dari profil perusahaan dan literatur terkait. Pengolahan dan Analisis Data Analisis data menggunakan SPSS versi 25 dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, analisis univariat mendeskripsikan karakteristik responden dengan menyajikan data numerik sebagai mean A SD atau median . in-mak. berdasarkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, sementara data kategorikal ditampilkan dalam frekuensi dan persentase. Kedua, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square ( = 0,. untuk menguji hubungan antara intensitas kebisingan dan stres kerja. jika frekuensi harapan <5 digunakan Fisher's Exact Test. Kekuatan hubungan diukur dengan Cramer's V . emah: 0,10-0,29. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 361 0,30-0,49. kuat: Ou0,. , dan Odds Ratio . % CI) menilai risiko stres kerja pada paparan kebisingan >85 dBA. Ketiga, analisis variabel perancu . sia dan masa kerj. dilakukan menggunakan independent ttest dan uji Chi-square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dengan Nomor: 123/KEP-FKM/UINSU/2025. HASIL Karakteristik Demografi Responden Tabel 1. Karakteristik Demografi Responden Penelitian Variabel Kategori Usia . Masa Kerja . Mean A SD Median (Min-Ma. (N=. <10 tahun Ou10 tahun . Tabel 1 menunjukkan profil demografi responden yang didominasi oleh kelompok usia produktif awal, dengan proporsi terbesar pada rentang usia 29-32 tahun . ,5%) dan rata-rata usia 30,7 A 3,4 tahun. Dari segi pengalaman kerja, mayoritas responden . %) memiliki masa kerja di bawah 10 tahun, dengan rata-rata masa kerja 8,2 A 3,1 tahun. Komposisi ini mencerminkan tenaga kerja yang relatif muda namun telah melewati fase adaptasi awal, yang relevan dalam konteks kerentanan terhadap stresor lingkungan kerja jangka panjang. Distribusi Intensitas Kebisingan Tabel 2. Distribusi Intensitas Kebisingan di Area Kerja Variabel Kategori O85 dBA (N=. Intensitas Kebisingan . BA) >85 dBA Mean A SD Median (Min-Ma. 88,4 A 3,1 88,0 . Hasil pengukuran objektif pada Tabel 2 mengungkapkan bahwa lingkungan kerja depo lokomotif memiliki beban akustik yang berat. Rata-rata intensitas kebisingan tercatat sebesar 88,4 A 3,1 dBA, melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA yang ditetapkan dalam Permenaker No. Tahun 2018. Secara proporsional, 62,5% area kerja berada dalam zona paparan kebisingan berisiko tinggi (>85 dBA), mengindikasikan bahwa mayoritas teknisi terpapar bahaya fisik yang signifikan selama jam operasional. Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 362 Distribusi Stres Kerja Tabel 3. Distribusi Tingkat Stres Kerja Responden Variabel Kategori Stres Kerja Tidak Stres. Stres Kerja. (N=. Mean A SD Median (Min-Ma. 82,3 A 12,5 81,0 . Data pada Tabel 3 memperlihatkan prevalensi tekanan psikologis yang tinggi di kalangan pekerja, di mana 72,5% responden teridentifikasi mengalami stres kerja. Dengan rata-rata skor stres sebesar 82,3 A 12,5, tingkat stres pekerja berada di atas ambang batas normal . ut-off point >. Tingginya angka kejadian ini mengisyaratkan adanya beban psikososial substansial yang dialami oleh teknisi dalam lingkungan kerja depo. Hubungan Intensitas Kebisingan dengan Stres Kerja Hasil analisis hubungan antara intensitas kebisingan dengan stres kerja menggunakan uji Chi-square disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Hubungan Intensitas Kebisingan dengan Stres Kerja pada Pekerja Depo Lokomotif Intensitas Kebisingan >85 dBA O85 dBA Total Stres Kerja Total Tidak NA p-value Cramer's OR . % CI) 6,234 0,030 *Chi-square test Tabel 4 menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara paparan kebisingan dan insiden stres kerja . =0,. Terdapat perbedaan proporsi yang mencolok: 92,0% pekerja di area bising (>85 dBA) mengalami stres kerja, dibandingkan dengan hanya 40,0% pada area aman (O85 dBA). Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,8 . % CI: 1,4Ae9,. menegaskan bahwa bekerja di area dengan intensitas kebisingan di atas NAB meningkatkan risiko stres kerja hampir empat kali lipat. Kekuatan hubungan ini dikonfirmasi oleh nilai Cramer's V sebesar 0,34, yang menunjukkan asosiasi moderat antara variabel lingkungan fisik dan respons psikologis pekerja. Analisis Tambahan Variabel Perancu Tabel 5. Analisis Karakteristik Responden Berdasarkan Status Stres Kerja Karakteristik Usia . Mean A SD Masa Kerja . Mean A SD Stres Kerja . Tidak Stres . p-value 30,9 A 3,2 30,1 A 3,9 0,512* 8,4 A 3,0 7,7 A 3,4 0,531* Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 363 Distribusi Usia 25-28 tahun 29-32 tahun 33-37 tahun Distribusi Masa Kerja <10 tahun Ou10 tahun 8 . ,6%) 13 . ,8%) 8 . ,6%) 4 . ,4%) 4 . ,4%) 3 . ,3%) 0,782** 17 . ,6%) 12 . ,4%) 7 . ,6%) ,4%) 0,764** *Independent t-test. **Chi-square test Tabel 5 menunjukkan bahwa karakteristik demografi seperti usia dan masa kerja tidak memiliki perbedaan signifikan antara kelompok yang mengalami stres dan yang tidak . >0,. Hal ini memperkuat validitas temuan utama, mengindikasikan bahwa tingginya prevalensi stres kerja pada subjek penelitian lebih dominan dipengaruhi oleh faktor paparan kebisingan lingkungan kerja dibandingkan variasi faktor individual responden. PEMBAHASAN Eksposur Kebisingan Okupasional di Lingkungan Depo Lokomotif Temuan penelitian ini mengungkap bahwa lingkungan kerja di Depo Lokomotif memiliki beban akustik yang berat, di mana 62,5% area kerja mencatatkan intensitas kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA, dengan rata-rata intensitas mencapai 88,4 dBA. Kondisi ini mengonfirmasi karakteristik spesifik industri perkeretaapian sebagai lingkungan kerja high-noise hazard. Temuan ini sejalan dengan studi observasional terbaru oleh (Yosef Yusran, 2. di stasiun kereta api Gubeng, yang menemukan bahwa area mesin lokomotif menghasilkan kebisingan hingga 89 dBA, melampaui standar keselamatan kerja yang ditetapkan untuk paparan 8 jam. Penelitian serupa pada bengkel mekanik kereta api di Arab Saudi oleh (Felemban. Summan, & Chakroun, 2. juga melaporkan pola serupa, di mana aktivitas perbaikan mekanis dan penggunaan alat pneumatik secara konsisten menghasilkan tekanan suara di atas 85 dBA, menempatkan teknisi pada risiko paparan kronis. Tingginya intensitas kebisingan di Depo Lokomotif tidak hanya bersumber dari operasional mesin diesel statis . an Herwerden. Reidlinger, & Palerm. , tetapi juga diperburuk oleh karakteristik kebisingan impulsif dari benturan logam dan pelepasan udara bertekanan tinggi. (Zou. Hu. Li. Chen, & He, 2. dalam studinya mengenai penilaian kebisingan infrastruktur kereta api menyoroti bahwa kombinasi antara kebisingan steady-state . dan impulsive . menghasilkan energi akustik yang lebih destruktif dibandingkan kebisingan lalu lintas biasa. Dalam konteks regulasi nasional, kondisi ini secara nyata melanggar ketentuan Permenaker No. 5 Tahun 2018, mengindikasikan adanya kesenjangan (Seiler. Libby. Jackson. Lingappa, & Evan. yang serius antara regulasi keselamatan kerja dan implementasi pengendalian teknis di lapangan. Korelasi Signifikan Antara Intensitas Kebisingan dan Stres Kerja Psikofisiologis Analisis statistik penelitian ini menemukan hubungan yang kuat dan signifikan antara intensitas kebisingan dengan kejadian stres kerja . =0,. , dengan Odds Ratio (OR) sebesar 3,8. Artinya, teknisi yang bekerja di area dengan kebisingan >85 dBA memiliki risiko hampir 4 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami stres kerja dibandingkan rekan mereka di area aman. Temuan ini memperkuat bukti empiris Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 364 mengenai dampak non-auditory dari kebisingan . eperti stres, masalah tidur, dan gangguan fisiologi. , yang sering kali terabaikan dibandingkan dampak gangguan pendengaran . earing los. Hasil ini berhubungan dengan temuan (Toemon & Veronicha, 2. yang mengidentifikasi korelasi linear positif antara level kebisingan industri dan tingkat stres pada pekerja manufaktur, di mana lingkungan di atas ambang batas secara signifikan meningkatkan skor stres subjektif. Lebih jauh, (Pretzsch. Seidler, & Hegewald, 2. dalam tinjauan sistematisnya menegaskan adanya hubungan doseresponse yang jelas. paparan di atas 80-85 dBA tidak hanya memicu gangguan psikologis tetapi juga mulai memicu respons kardiovaskular patologis seperti hipertensi, yang merupakan manifestasi fisik dari stres Hal ini membuktikan bahwa kebisingan di Depo Lokomotif bukan sekadar gangguan kenyamanan . , melainkan stresor lingkungan yang secara aktif mendegradasi kesehatan mental pekerja. Mekanisme Biologis: Aktivasi Aksis HPA dan Respons Simpatis Tingginya prevalensi stres kerja . ,5%) pada populasi teknisi dalam studi ini dapat dijelaskan melalui mekanisme psikofisiologis yang kompleks. Kebisingan berintensitas tinggi dipersepsikan oleh otak sebagai ancaman biologis, yang memicu serangkaian respons neuroendokrin. Merujuk pada penelitian (Arregi et al. , 2024. Hahad et al. , 2. , paparan kebisingan mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis (Sympathetic Nervous Syste. Aktivasi ini memicu pelepasan hormon stres utama, yaitu kortisol, adrenalin, dan noradrenalin secara berlebihan ke dalam sirkulasi darah. (Cao. Lu. Zheng, & Qin, 2. dalam penelitian eksperimentalnya menambahkan bahwa paparan kebisingan di atas 85 dBA secara konsisten menyebabkan kelelahan mental . ental fatigu. dan penurunan atensi kognitif yang signifikan. Kebisingan mengganggu keseimbangan otonom, memaksa tubuh berada dalam status "siaga" . ight or fligh. yang persisten. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan akumulasi beban alostatik . llostatic loa. , yang bermanifestasi sebagai kelelahan kronis, iritabilitas, dan gangguan kecemasan gejala-gejala yang terpotret dalam skor stres kerja responden penelitian ini. Studi molekuler oleh (Valar. Zheng. Mynzel. Daiber, & KuntiN, 2. bahkan menunjukkan bahwa stres akibat kebisingan dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi vaskular, yang menjadi jembatan antara stres psikologis dan risiko penyakit jantung di masa depan. Temuan menarik lainnya dalam penelitian ini adalah tidak adanya hubungan signifikan antara usia maupun masa kerja dengan tingkat stres kerja. Hal ini mematahkan asumsi umum bahwa pekerja senior akan lebih "kebal" atau beradaptasi terhadap kebisingan. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh temuan (Cao et al. , 2. , yang mencatat bahwa meskipun pekerja mungkin mengembangkan strategi adaptasi teknis terhadap tugas, respons fisiologis tubuh terhadap stresor kebisingan . eperti peningkatan detak jantung dan stres menta. tetap terjadi tanpa memandang pengalaman kerja. Artinya, toleransi psikologis manusia terhadap kebisingan intensitas tinggi (>85 dBA) memiliki batas biologis yang tidak dapat dilatih. Paparan yang terus-menerus justru berpotensi menyebabkan efek kumulatif yang lebih merusak pada pekerja senior, alih-alih adaptasi. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa intensitas kebisingan di lingkungan Depo Lokomotif merupakan determinan lingkungan utama yang berkorelasi signifikan dengan risiko stres kerja psikofisiologis teknisi, di mana paparan intensitas di atas Nilai Ambang Batas (>85 dBA) terbukti Health Information: Jurnal Penelitian, 2025, vol. 17, no. September Ae Desember. ISSN: 2085-0840/2622-5905 Page | 365 secara statistik meningkatkan probabilitas kejadian stres hingga hampir empat kali lipat . =0,030. OR=3,. tanpa dipengaruhi oleh faktor usia maupun masa kerja. Temuan tingginya prevalensi stres kerja . ,5%) mengonfirmasi bahwa mekanisme adaptasi biologis pekerja tidak mampu mengkompensasi beban akustik kronis dari operasional mesin diesel dan pneumatik, yang mengindikasikan inefektivitas pengendalian risiko saat ini. Perusahaan perlu melakukan monitoring kebisingan rutin, mengintegrasikan manajemen stres kerja dalam program K3, dan menetapkan kebijakan berbasis data hasil penelitian untuk menurunkan risiko paparan. REKOMENDASI Penelitian lanjutan dengan menambah sampel dan menggunakan desain preAepost, analisis multivariat, serta evaluasi intervensi kesehatan kerja direkomendasikan untuk memperkuat bukti hubungan dan efektivitas pengendalian di lingkungan Depo Lokomotif. PERNYATAAN Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Depo Lokomotif yang telah memberikan izin penelitian serta memfasilitasi pengambilan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, atas dukungan akademis dan bimbingan selama penelitian berlangsung. Apresiasi diberikan pula kepada seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini sehingga penelitian dapat terlaksana dengan baik. Pendanaan Pendanaan dalam penelitian ini dilakukan secara mandiri Kontribusi Setiap Penulis Novita Sari: Konseptualisasi penelitian, pengumpulan data, analisis data, penulisan draft awal Nadya Ulfa Tanjung: Desain metodologi penelitian, validasi instrumen, interpretasi hasil, penyusunan bagian pembahasan. Tri Niswati Utami: Supervisi penelitian, tinjauan pustaka, penyuntingan akhir naskah, serta korespondensi dengan pihak terkait Pernyataan Konflik Kepentingan Penulis tidak memiliki konflik kepentingan apapun dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA