Vol 2 No. 1 Januari 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 32 - 37 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/0ay5h939 OPTIMALISASI KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA DENGAN PROJECT-BASED LEARNING DI UPT SDN KADINGDING Niky Desta Aminia*. Andini Suci Anggraenib. Desty Endrawati Subrotoc a FKIP, nikydestaamiani@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten b FKIP, ndinsuci@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten c FKIP, desty2. subroto@gmail. Universitas Bina Bangsa. Serang Banten * korespondensi ABSTRACT This research aims to explore how implementing a project-based learning model can improve students' Indonesian language skills. With a more active and collaborative approach, it is hoped that students will not only master technical language skills, but can also apply them in a wider social and cultural context. This research aims to explore how implementing a project-based learning model can improve students' Indonesian language skills. With a more active and collaborative approach, it is hoped that students will not only master technical language skills, but can also apply them in a wider social and cultural This learning approach emphasizes students' active participation in designing, implementing, and presenting projects as a way to develop their knowledge and skills. The method used in this research is classroom action research (PTK) which is carried out in two cycles, each of which includes planning, implementation, and evaluation. The subjects in this research were fifth grade students at UPT SDN KADINGDING school year 2024/2025. The research results showed that the application of the projectbased learning model was successful in improving students' Indonesian language skills, including speaking, writing, listening and reading skills. Students also show significant increases in motivation, creativity, and communication skills through the projects they undertake. Thus, the project-based learning model can be an effective choice for improving students' Indonesian language skills. Keywords: Project Based Learning. Indonesian Language Skills. Activities Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan model pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Dengan pendekatan yang lebih aktif dan kolaboratif, diharapkan siswa tidak hanya menguasai keterampilan berbahasa secara teknis, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Pendekatan pembelajaran ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam merancang, melaksanakan, dan mempresentasikan proyek sebagai cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, yang masingmasing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di UPT SDN KADINGDING tahun pelajaran 2024/2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek berhasil meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa, mencakup keterampilan berbicara, menulis, mendengarkan, dan membaca. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam motivasi, kreativitas, dan kemampuan komunikasi yang signifikan melalui proyek yang mereka lakukan. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi pilihan efektif untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Kata Kunci: Project Based Learning. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Aktivitas Received Desember 1, 2024. Revised Desember 3, 2024. Accepted Januari 13, 2025. Published Januari 15. Niky Desta Amini dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 32 Ae 37 PENDAHULUAN Pendidikan Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat vital dalam mengembangkan kemampuan komunikasi efektif bagi siswa. Keterampilan berbahasa Indonesia yang baik mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis, yang semuanya berperan sebagai dasar dalam perkembangan intelektual dan sosial peserta didik. Namun, dalam kenyataannya, banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam menguasai keterampilan berbahasa Indonesia secara menyeluruh. Masalah ini sering kali disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang kurang menarik, rendahnya partisipasi aktif siswa, serta pendekatan yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning atau PBL). Model ini menekankan pada pemberian tugas atau proyek yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan berkomunikasi secara efektif dalam situasi yang berhubungan dengan dunia nyata. Melalui penerapan PBL, diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia secara lebih komprehensif, karena mereka terlibat langsung dalam proses penciptaan teks yang relevan dengan kehidupan mereka. Keterampilan merupakan kemampuan untuk menggunakan akal, pikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut. sedangkan menulis merupakan suatu kegiatan seseorang dalam mengungkapkan ide, gagasan atau buah pikiran melalui tulisan (Rakima, 2. 1Dalam konteks keterampilan berbahasa, terdapat empat keterampilan dasar, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan Keempat keterampilan dasar tersebut memiliki penjelasan masing-masing dalam pembelajaran bahasa Indonesia (Ningrum, 2. 1 Keterampilan Menyimak: Keterampilan menyimak adalah kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menangkap pesan secara cermat dari sumber lisan. Menyimak merupakan keterampilan berbahasa pertama yang dikuasai oleh manusia dan merupakan dasar bagi keterampilan berbahasa yang lain. Menurut (Laydia, 2. , mengemukakan bahwa menyimak merupakan keterampilan menangkap isi pesan. Hakikat menyimak berhubungan dengan mendengar dan mendengarkan. Keterampilan menyimak merupakan komponen dalam kegiatan berkomunikasi 3. Menyimak merupakan kemampuan untuk memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif. Artinya, aktivitas ini tidak hanya sekadar mendengar suara atau bunyi bahasa, tetapi juga melibatkan proses memahami Dalam konteks bahasa pertama atau bahasa ibu, keterampilan ini diperoleh secara alami melalui proses yang tidak kita sadari. Akibatnya, kita sering tidak menyadari betapa rumitnya proses pembentukan kemampuan menyimak tersebut. Menurut (Subakti, 2. , keterampilan menyimak seseorang berbeda-beda, ada yang cepat dalam menyimak dan ada yang lambat dalam menyimak. Kendala yang berhubungan dengan keterampilan menyimak yaitu siswa kurang fokus, pembelajaran kurang maksimal, pembelajaran kurang menarik bagi siswa, dan media kurang memadai. Penyebab tersebut karena cara belajar siswa berbeda-beda. Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang sering dilaksanakan oleh siswa. Setiap guru selalu memberikan penjelasan meteri pembelajaran secara lisan. Untuk memahami materi yang disampaikan guru siswa harus Hartini La Rakima. AuMeningkatkan Keterampilan Menulis Permulaan Melalui Bimbingan Belajar Dari Rumah Dengan Menggunakan Media Gambar Di Kelompok B TK Lolena Kecamatan Oba Tengah Kota Tidore KepulauanAy 4, no. : 38. Dian Puspita Ningrum. AuPeningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Model Pembelajaran Tipe Cooperative Integrated Reading Composition (Cir. Pada Siswa Kelas V Sd N 1 Jabung Gantiwarno Klaten Tahun Ajaran 2011/2012,Ay Perpustakaan UMS, no. , https://eprints. id/17427/1/02. _HALAMAN_DEPAN. Putri Suci Nurjana Laydia. AuPeningkatan Keterampilan Menyimak Melalui Penerapan Metode Membaca Ujaran Pada Siswa Tunarungu Kelas Vi di SLB Arnadya MakassarAy. Universitas Negeri Makasar, 2020, https://eprints. id/22396/2/JURNAL PUTRI SUCI LAYDIA 1545041012. Optimalisasi Keterampilan Berbahasa Indonesia Dengan Project-Based Learning di UPT SDN Kadingding (Niky Desta Amin. Niky Desta Amini dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 32 Ae 37 menyimak dengan baik. Menyimak memiliki tiga aspek yaitu . penyimak, . pembicaraan, dan . bahan Kegiatan menyimak dapat berjalan dengan adanya tiga aspek tersebut 4. 2 Keterampilan Berbicara: Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat . engan perkataan tulisan, dan lain-lai. Berbicara merupakan satu komponen menyampaikan pesan dan amanat secara lisan. Pembicara melakukan enkode dan memiliki kode bahasa untuk menyampaikan pesan dan amanat. Pesan dan amanat ini akan diterima oleh pendengar yang melakukan dekode atas kode-kode yang dikirim dan memberikan interpretasi. Proses ini berlaku secara timbal umpan balik antara pembicara dan pendengar yang akan selalu berganti peran dari peran pembicara menjadi peran pendengar, dan dari peran pendengar menjadi peran pembicara. Menurut (Harianto, 2. , berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa secara lisan. Penggunaan bahasa secara lisan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah halhal sebagai berikut: . pelafalan, . intonasi, . pilihan kata, . struktur kata dan kalimat, . sistematika pembicaraan, . isi pembicaraan, . cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, serta . erak-geri. , penguasaan diri5. Keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan kepada orang lain dengan menggunakan kata-kata dan bunyi-bunyi artikulasi. Keterampilan ini merupakan bagian dari keterampilan berbahasa yang melibatkan aspek-aspek kebahasaan. Berkenaan dengan keterampilan berbicara, secara umum terdapat tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi berbicara interaktif meliputi percakapan tatap muka atau melalui telepon, yang memungkinkan adanya pergantian peran antara berbicara dan mendengarkan. Dalam situasi ini, kita dapat meminta klarifikasi, pengulangan, atau mengatur tempo bicara bersama lawan bicara. Selanjutnya, situasi berbicara semiaktif, seperti berpidato langsung di hadapan umum, tidak memungkinkan audiens untuk menyela pembicara. Namun, pembicara masih dapat mengamati respons pendengar melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Sementara itu, situasi berbicara noninteraktif mencakup kegiatan seperti berpidato melalui media radio atau televisi, di mana interaksi langsung dengan audiens tidak terjadi. 3 Keterampilan Membaca: Menurut (Nurcahyanti, 2. , keterampilan membaca pemahaman merupakan kunci keberhasilan siswa dalam menjalani proses pendidikan. Sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan siswa melalui aktivitas membaca, dalam hal ini membaca pemahaman yang rendah akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam suatu mata pelajaran. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi, siswa harus memiliki keterampilan membaca pemahaman yang baik6. Membaca merupakan keterampilan reseptif dalam bahasa tulis. Keterampilan ini dapat dikembangkan secara mandiri, terlepas dari keterampilan mendengar dan berbicara. Namun, di masyarakat dengan tradisi literasi yang maju, keterampilan membaca sering kali dikembangkan secara terpadu dengan keterampilan menyimak dan berbicara. Proses membaca melibatkan sejumlah keterampilan mikro yang perlu dikuasai, seperti memahami sistem tulisan yang digunakan, mengenali kosakata, mengidentifikasi kata kunci untuk menentukan topik dan gagasan utama, memahami makna kata, termasuk kosakata sulit melalui konteks tulisan, serta mengenali kelas kata gramatikal seperti kata benda, kata sifat, dan lainnya. Membaca merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menemukan sebuah informasi yang didapat dalam tulisan. Dengan itu, membaca adalah suatu proses untuk berfikir bagaimana memahami isi tulisan yang dibaca. Keterampilan Membaca merupakan perioritas utama yang mestinya harus dikuasai oleh Hani Subakti. AuAnalisis Keterampilan Menyimak Pada Siswa Kelas Rendah Sekolah Dasar Kota SamarindaAy. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, https://edukatif. org/edukatif/article/view/4845/pdf. Erwin Harianto. AuMetode Bertukar Gagasan dalam Pembelajaran Keterampilan BerbicaraAy. IAI ALAmanah Jeneponto 9, no. : 412, https://jurnaldidaktika. Beta Nurcahyanti. AuPeningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Melalui Metode Kwl Pada Siswa Kelas VAy, 3 . : 195. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 32 - 37 Niky Desta Amini dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 32 Ae 37 peserta didik terkhususnya pada kelas tinggi, karena membaca dengan keteramp ilan yang baik itu akan lebih mudah menyerap isi bacaan (Ritonga, 2. Menurut (Putri, 2. , keterampilan membaca merupakan kemampuan bagi seseorang agar dapat membaca sebuah bacaan dengan baik dan benar, dan dapat memperoleh pesan yang terkandung didalam bacaan Membaca adalah kemampuan menggunakan pikiran dan tindakan untuk melakukan aktivitas visual, melafalkan rangkaian huruf menjadi kata dan kalimat, menguasai teknik membaca dan memahami isi bacaan dengan benar8. 4 Keterampilan Menulis: Menulis adalah sebuah keterampilan produktif yang diwujudkan melalui penggunaan tulisan. Aktivitas ini dianggap sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang paling kompleks dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Menulis tidak hanya sekadar menyalin kata-kata atau kalimat, tetapi juga melibatkan proses mengembangkan dan menuangkan ide-ide ke dalam sebuah tulisan yang tersusun secara Beberapa keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis meliputi kemampuan menggunakan ortografi dengan tepat, termasuk ejaan yang benar, memilih kata yang sesuai, menerapkan bentuk kata dengan tepat, menyusun kata-kata secara urut, serta membuat struktur kalimat yang jelas dan mudah dipahami oleh pembaca. Keterampilan menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan. Tujuan menulis yaitu mendapatkan respon yang diharapkan penulis dari pembaca. Dalam setiap kegiatan menulis pasti memiliki tujuan tertentu yang harus dan ingin dicapai (Gusmayanti, 2. Menurut (Widodo, 2. , pembelajaran berbasis proyek berakar dari gagasan John Dewey tentang konsep Aulearning by doing,Ay yaitu proses pembelajaran yang dilakukan melalui tindakan nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Proses ini menekankan penguasaan siswa dalam melaksanakan pekerjaan yang melibatkan serangkaian perilaku guna meraih tujuan tersebut10. Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. adalah metode pembelajaran yang memulai prosesnya dengan mengidentifikasi Masalah ini menjadi dasar untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru melalui pengalaman langsung. Penyelesaian masalah dilakukan secara berkelompok, di mana siswa mampu menemukan solusi dan menghasilkan produk atau tugas yang diberikan secara mandiri. Pembelajaran berbasis proyek dirancang khusus untuk mendukung siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan keterampilan menjalankan tugas dalam Metode ini memungkinkan siswa belajar peran orang dewasa dengan terlibat langsung dalam pengalaman nyata atau simulasi, sehingga mendorong pembelajaran yang mandiri dan otonom. Beberapa masalah yang dapat ditemukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di UPT SDN KADINGDING antara lain: . model pembelajaran yang efektif dalam Bahasa Indonesia belum banyak diterapkan oleh guru saat ini, . pembelajaran masih terlalu berfokus pada konsep-konsep dalam buku dan cenderung menggunakan metode ceramah, . materi laporan hasil observasi sebenarnya tidak sulit, tetapi menjadi lebih kompleks jika diajarkan secara langsung, dan . pengembangan keterampilan berkomunikasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia selama ini belum menjadi fokus utama. Tujuan penelitian di Kelas V UPT SDN KADINGDING Tahun Pelajaran 2024/2025 adalah: . untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbahasa Indonesia siswa pada materi laporan hasil observasi Annida Azhari Ritonga. AuKeterampilan Membaca Pada Pembelajaran Kelas Tinggi di Tingkat Mi/SdAy. Inspirasi Dunia 2, no. : 102Ae13, https://doi. org/10. 58192/insdun. Arwita Putri. AuUpaya Peningkatan Keterampilan Membaca Di Kelas TinggiAy. Politeknik Pratama 3, no. : 51, https://doi. org/10. 55606/jupensi. Gusmayanti. AuUpaya Peningkatan Hasil Belajar Kemampuan Menulis Teks Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Kearifan Lokal Untuk Siswa SMKN 1 TEBOAy. PAEDAGOGY 3, no. : 39. Suryo Widodo. AuMeta Analisis: Pengaruh Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Terhadap Kemampuan Berpikir KreatifAy 1, no. : 567Ae77. Optimalisasi Keterampilan Berbahasa Indonesia Dengan Project-Based Learning di UPT SDN Kadingding (Niky Desta Amin. Niky Desta Amini dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 32 Ae 37 setelah diterapkan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. di Kelas V UPT SDN KADINGDING Tahun Pelajaran 2024/2025. untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar Bahasa Indonesia siswa setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. di Kelas V di UPT SDN KADINGDING Tahun Pelajaran 2024/2025. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang merupakan bentuk kajian reflektif yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki rasionalitas tindakannya dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman mengenai tindakan yang dilakukan, serta meningkatkan kondisi tempat dilakukannya pembelajaran. Sejalan dengan jenis penelitian yang dipilih, penelitian ini mengadopsi model PTK berbentuk spiral yang bergerak dari satu siklus ke siklus berikutnya. Setiap siklus mencakup tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pada siklus berikutnya, langkahlangkahnya adalah perencanaan yang telah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Data penelitian diperoleh dari data tes keterampilan berbahasa indonesia dan observasi atau pengamatan aktivitas siswa pada setiap siklus. Hasil observasi aktivitas siswa seperti pada tabel berikut. Tabel 1: Aktivitas siswa pada siklus 1 Aktivitas Skor Membaca dan menulis Mengerjakan LKS Bertanya pada teman Bertanya pada guru Yang tidak relevan Jumlah Proporsi Penilaian aktivitas diperoleh dari lembar observasi aktivitas. Pengamatan dilakukan oleh dua pengamat selama 30 menit kerja kelompok dalam setiap KBM. Dengan pengamatan setiap 30 menit, maka nilai maksimum yang mungkin teramati untuk satu kategori aktivitas selama 30 menit untuk 5 siswa adalah 50 Pada Siklus I rata-rata aktivitas menulis dan membaca memperoleh proporsi 17%. Aktivitas mengerjakan LKS dalam diskusi mencapai 22%. Aktivitas bertanya pada teman sebesar 21%. Aktivitas bertanya kepada guru 7% dan aktivitas yang tidak relevan dengan KBM sebesar 5%. Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learnin. sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa. Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes keterampilan berbahasa indonesia pada siklus 1 seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 2: Data hasil tes siklus 1 Nilai Frekuensi Ketuntasan Rata-rata 25,63% 31,25% Jumlah 56,88% Meneliti pada tabel 2 tersebut di atas, nilai terendah siklus I adalah 20 dan tertinggi adalah 100 dengan kriteria ketuntasan minimal 75 maka 20 orang dari 30 orang siswa mendapat nilai mencapai KKM atau ketuntasan klasikal adalah sebesar 56,88%. Dengan mengacu pada ketuntasan klasikal minimum sebesar 75% maka nilai ini berada di bawah kriteria keberhasilan sehingga dapat dikatakan KBM Siklus I belum berhasil memberi ketuntasan belajar dalam kelas. Nilai rata-rata kelas adalah 75 juga di bawah KKM, sehingga kriteria keberhasilan penelitian tindakan belum tercapai. Setelah dilakukan beberapa penyempurnaan terhadap pelaksanaan siklus I baik dari aspek perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus II, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 32 - 37 Niky Desta Amini dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 32 Ae 37 KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learnin. secara signifikan meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa kelas V UPT SDN Kadingding. Keterampilan yang meningkat meliputi berbicara, menulis, menyimak, dan membaca. Selain itu, motivasi, kreativitas, dan kemampuan komunikasi siswa juga meningkat melalui pelaksanaan proyek. Dengan pendekatan ini, siswa lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks sosial dan budaya yang relevan. DAFTAR PUSTAKA