PENGARUH STIMULASI CUCI TANGAN TERHADAP PERILAKU MENCUCI TANGAN ANAK AUTIS DI SEKOLAH AUTIS PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (DIY) (Atik BadiAoah1. Ni Ketut Mendri2. Sri Hendarsih3. Wahyu Ratna4. Tri Prabowo. Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta Jurusan Keperawatan Email author : atik. cahyo@yahoo. ABSTRAK Latar Belakang : Anak autis merupakan salah satu kelompok dalam kelompok anak dengan berkebutuhan khusus yaitu anak kurang mampu mengorganisasi sesuatu, kurang merencanakan sesuatu, mengalami kesulitan mencari penyelesaian dan kurang fleksibel melaksanakan tugas. Anak autis tidak dapat menunjukkan hubungan kasih sayang dengan orang tua dan teman sebaya. Stimulus sensor anak autis diproses dengan cara berbeda dengan anak normal sehingga mengakibatkan anak autis mengalami kesulitan dalam mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang biasa dilakukan oleh anak normal. Anak autis mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, kesulitan dalam kemandirian beraktifitas sehari-hari termasuk personal hygiene . encuci Tujuan : Diketahuinya pengar uh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Propinsi DIY. Metode : J enis penelitian Quasi eksper iment dengan r ancangan AuPre test Post test with Control Group DesignAu. Rancangan ini ada kelompok pembanding . , observasi dilakukan dua kali. Observasi pertama untuk mengetahui perilaku mencuci tangan anak autis sebelum diberikan stimulasi cuci tangan dan observasi kedua sesudah diberikan stimulasi cuci tangan. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling sebanyak 30 anak autis dengan kriteria anak autis usia 6-12 tahun di sekolah autis Propinsi DIY. Data hasil pemeriksaan dianalisis secara diskriptif dan secara analitik dengan bantuan program SPSS for windows versi 16. 0 menggunakan uji pair t-test, wilcoxon, mann whitney dan uji beda delta dengan taraf signifikan <0,05. Hasil : Per ilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok eksperimen kategori kurang dan pada kelompok kontrol kategori kurang. Pada kelompok eksperimen nilai pre test dan post test dengan p . 0,000 < 0,05 berarti ada perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol nilai pre test dan post test dengan p . 0,078 > 0,05 berarti tidak ada perbedaan antara kelompok eksperimen pre test dan post test. Hasil uji beda delta pada kelompok eksperimen dan kontrol p . <0,05. Kesimpulan : Ada pengar uh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Propinsi DIY dengan nilai p . < 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Kata Kunci : Stimulasi cuci tangan, perilaku mencuci tangan, anak autis ABSTRACT Background :Autistic children are one group in a group of children with special needs, namely children who are less able to organize something, lack planning something, have difficulty finding solutions and are less flexible in carrying out tasks. Autistic children cannot show a loving relationship with parents and peers. The sensor stimulus for autistic children is processed in a different way from normal children, resulting in autistic children having difficulty expressing affection in the way normal children do. Autistic children have difficulty interacting with peers, difficulties in independence of daily activities including personal hygiene . and washin. Objective: Know the effect of hand washing stimulation on hand washing behavior of autistic children in autistic schools in DIY Province. Method: Type of research is Quasi experiment with the design "Pre test Post test with Control Group Design". This design has a comparison group . , observation is done twice. The first observation was to find out the handwashing behavior of autistic children before hand washing stimulation was given and second observation after hand washing stimulation was Sampling was carried out by total sampling of 30 autistic children with criteria for autistic children aged 6-12 years in autistic schools in DIY Province. The results of the examination data were analyzed descriptively and analytically with the help of the SPSS for Windows 0 program using pair t-test. Wilcoxon. Mann Whitney and Delta test with a significant level of <0. Results:Hand washing behavior of autistic children in the experimental group was in the poor category and in the control group the category was lacking. In the experimental group the value of pre test and post test with p . 0,000 <0,05 means that there is a difference between the pre test and post test in the experimental group. In the control group the value of the pre test and post test with p . 078> 0. 05 means that there is no difference between the experimental group pre test and post test. The results of the delta test in the experimental and control groups p . <0. Conclusion: There is the influence of hand washing stimulation on hand washing behavior of autistic children in autism school in DIY Province with p value . <0. 05 means Ha is accepted and Ho is rejected. Keywords : Handwashing stimulation, hand washing behavior, autistic children LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan sangat penting dalam meningkatan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa seperti yang telah dirumuskan dalam Sustainable Development Goals (SDG. yang juga dikenal sebagai tujuan global pada tujuan yang ke tiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia dan tujuan yang ke empat berkualitas dengan memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua Anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejak ia lahir sampai mencapai usia dewasa (Supartini, 2. Manusia berkembang dari satu tahap tiap periode perkembangan ke periode yang lain, mereka mengalami perubahan tingkah laku yang berbeda-beda di akibatkan karena masalahmasalah atau tugas-tugas yang dituntut dan muncul pada setiap periode perkembangan itu berbeda pula (Whaley and Wong, 2. Salah satu tugas perkembangan adalah membentuk kemandirian, kedisiplinan, dan kepekaan emosi pada anak (Wong, 2. Berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan UndangAeUndang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus salah satunya adalah anak autis untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Hal menunjukkan bahwa anak autis berhak memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya dalam pendidikan. Autis adalah salah satu gangguan perkembangan yang disebabkan kerusakan organis pada otak. Umumnya anak autis mengalami kesulitan koordinasi dalam motorik halus, sensori integritas dan gangguan dalam berkomunikasi baik verbal maupun non verbal, ketika mereka menginginkan sesuatu caranya adalah menarik-narik tangan orang lain untuk mendapatkan perhatian dan selain itu mereka juga sangat kaku dengan kegiatan rutin mereka seakan-akan sedang menjalani ritual Sikap seperti menarik diri, anak tidak dapat menjalin komunikasi, berbicara sendiri, menyanyi sendiri, menangis tanpa sebab, berputar-putar tanpa alasan, bahkan dapat menimbulkan kejengkelan orang Anak kemampuan dan karakteristik yang berbeda satu sama lain, sehingga berbeda caranya berinteraksi terhadap diri dan lingkungan serta menjadikan anak autis sebagai pribadi yang unik (Ginanjar, 2. Di Amerika Serikat saat ini perbandingan antara anak normal dengan anak autis 150:1, di Inggris 100:1, sementara di Indonesia belum ada data tentang anak autis karena belum pernah ada survei resmi. Walaupun berbeda dengan anak yang normal, anak autis tetap mempunyai hak-hak dasar sebagaimana anak normal. Anak autis perlu bermain, belajar dan bersosialisasi dalam komunitas di lingkungannya. Anak autis memerlukan pengawasan dan perhatian yang lebih besar dari orang tuanya dibanding dengan anak normal lainnya (Ginanjar. Anak autis merupakan salah satu kelompok dalam kelompok anak dengan berkebutuhan khusus yaitu anak kurang mampu mengorganisasi sesuatu, kurang merencanakan sesuatu, mengalami kesulitan mencari penyelesaian dan kurang fleksibel melaksanakan tugas. Anak autis tidak dapat menunjukkan hubungan kasih sayang dengan orang tua dan teman sebaya. Stimulus sensor anak autis diproses dengan cara berbeda dengan anak normal sehingga mengakibatkan anak autis mengalami kesulitan dalam mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang biasa dilakukan oleh anak normal. Anak autis mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, kesulitan dalam perkembangan motorik halus khususnya dalam perilaku mencuci tangan. Perilaku mencuci tangan anak autis berbeda dengan perilaku mencuci tangan anak normal pada Anak autis mengalami kesulitan dalam motorik halus dalam perilaku mencuci tangan dan sensori integritas (Sumaja, 2014 ). Anak autis perlu penanganan yang tepat, salah satu bentukya yaitu terapi untuk membangun kondisi yang lebih baik. Terapi bagi anak autis mempunyai tujuan mengurangi masalah perilaku, meningkatkan kemampuan dan perkembangan belajar dalam hal motorik halus perilaku mencuci tangan, sensori integritas dan beradaptasi di lingkungan sosialnya (Sumaja, 2. Keterlambatan anak autis dalam perilaku mencuci tangan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti tingkat ekonomi orang tua, lingkungan, pendidikan orang tua, pola asuh, status gizi, dan pengetahuan orang Pengetahuan orang tua sangat berperan penting dalam perilaku mencuci tangan anak Sebelum anak autis memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga seharusnya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan motorik halus khususnya perilaku mencuci tangan anak autis. Berdasarkan studi pendahuluan pada bulan Nopember 2016 di sekolah autis Propinsi DIY penulis melakukan observasi selama pembelajaran ditemukan 95 prosen dari anak autis yang ada di sekolah autis Propinsi DIY mengalami kesulitan dalam perkembangan motorik halus khususnya perilaku mencuci tangan. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Propinsi DIYAy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Propinsi DIY. METODOLOGI Jenis penelitian ini merupakan penelitian Quasi eksperiment dengan rancangan pre test-post test with control group design. Adapun rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Pre test Perlakuan Post test Keterangan: O1 : Pre test perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok eksperimen X : Intervensi dengan stimulasi cuci tangan O2 : Post test perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok eksperimen O3 : Pre test perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok kontrol O4 : Post test perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok kontrol Penelitian dilaksanakan di sekolah autis Propinsi DIY pada bulan Januari 2017 Ae April 2017 . ama intervensi selama 4 bula. Populasi adalah semua anak autis yang ada di sekolah autis Propinsi DIY. Sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah sebanyak 30 anak autis. Tehnik penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling terbagi menjadi kelompok eksperimen sebanyak 15 anak autis dan kelompok kontrol sebanyak 15 anak autis. Alat Ukur Atau Instrumen Pengumpulan Data dengan menggunakan peralatan cuci tangan. Peralatan untuk penelitian : lembar observasi perilaku cuci tangan anak autis. Mengambil sampel sesuai dengan kriteria yang ditetapkan yaitu anak autis usia sekolah . -12 tahu. di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta, dalam keadaan sehat dan bersedia dijadikan sebagai responden. Menentukan kelompok eksperimen diberikan pre test, kemudian diberikan stimulasi cuci tangan selanjutnya dilakukan post test dengan menggunakan lembar observasi yang sama dengan pre test. Menentukan kelompok kontrol diberikan pre test, selanjutnya dilakukan post test dengan menggunakan lembar observasi yang sama dengan pre test. Kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dibandingkan perilaku mencuci tangan sebelum dan sesudah diberikan stimulasi cuci tangan. Pemberian Intervensi atau perlakuan stimulasi cuci tangan (X) pada kelompok eksperimen. Data hasil pemeriksaan akan dianalisis secara diskriptif dan secara analitik dengan bantuan program SPSS for windows versi 16. 0 menggunakan uji pair t-test. Wilcoxon, mann whitney dan uji beda delta dengan taraf signifikan 0,05. HASIL Karakteristik anak autis berdasarkan umur, jenis kelamin, kelas di Sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Tabel 1 Karakteristik anak autis berdasarkan umur, jenis kelamin dan kelas di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Kelompok Eksperimen Karakteristik Responden Umur . 6-7 tahun 8-10 tahun 11-12 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kelas Kelompok Kontrol Frekuensi . Prosentase (%) Frekuensi . Prosentase (%) Sumber: data primer. Dari Tabel 1 di atas dapat dilihat Sedangkan pada kelompok kontrol sebagian bahwa umur pada kelompok eksperimen besar ber jenis kelamin perempuan sebanyak sebagian besar usia 11-12 tahun sebanyak 11 8 anak autis . ,3 %). Tingkatan kelas pada anak autis . ,3 %), dan kelompok kontrol kelompok eksperimen sebagian besar kelas sebagian besar usia 11-12 tahun sebanyak 9 Sekolah Dasar sebanyak 12 anak autis . ,0 anak autis . ,0 %). Jenis kelamin pada %) dan pada kelompok kontrol sebagian kelompok eksperimen sebagian besar besar kelas sekolah Dasar sebanyak 11 anak perempuan sebanyak 9 anak autis . ,0 %). ,3 %). Perilaku mencucui tangan kelompok eksperimen dan kontrol sebelum dan setelah diberikan stimulasi cuci tangan pada anak autis di Sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Tabel 2 Perilaku mencuci tangan pada kelompok eksperimen dan kontrol sebelum dan setelah diberikan stimulasi cuci tangan pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Perilaku Mencuci Baik Cukup Kurang Total Kelompok Eksperimen Pre Test Kelompok Kontrol Post Test Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa perilaku mencuci tangan anak autis diberikan stimulasi cuci tangan sebagian besar kategori kurang 10 anak autis . ,7 %) dan setelah diberikan stimulasi cuci tangan Pre Test Post Test sebagian besar kategori cukup 9 anak autis . ,0 %). Pada kelompok kontrol sebelum sebagian besar kurang sebanyak 11 anak autis . ,3 %) dan setelah sebagian besar kurang sebanyak 10 anak autis . ,7 %). Uji Normalitas Uji normalitas diuji menggunakan shapiro wilk karena n < 50, dengan p . > 0,05 berarti data berdistribusi normal dan p . < 0,05 berdistribusi tidak normal. Tabel 3 Uji normalitas kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pre test dan post test pada anak autis di Sekolah Autis Citra Mulia Mandiri Yogyakarta Variabel Perilaku Pre Post Kelompok Keteran Eksperimen 0,061 Normal Kontrol 0,074 Normal Eksperimen 0,022 Tidak Normal Kontrol 0,127 Normal Tabel 5. Hasil uji analisa data perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan stimulasi cuci tangan pada anak Autis di sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Perilaku Mencuci tangan Perilaku Kelompok Eksperimen Kontrol Pre test Post test Pre test Post test Pre test Post test Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol p . 0,141 0,003 Pada Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa pre test pada kelompok eksperimen dan kontrol dengan nilai p . 0,141 > 0,05 maka Ha ditolak dan Ho diterima berarti tidak ada perbedaan pre test antara kelompok Sedangkan post test pada kelompok eksperimen dan kontrol dengan nilai p . 0,003 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada perbedaan antara post test pada kelompok eksperimen dan kontrol pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Tabel 6. Hasil uji beda delta antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Pada Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa kelompok kontrol pre test dengan p . 0,074 dan post test nilai p . 0,127 > 0,05, mempunyai data yang berdistribusi normal sehingga digunakan uji parametrik paired t-test. Pada kelompok eksperimen data pre test dengan p . 0,061 mempunyai data berdistribusi normal dan post test dengan p . 0,022 < 0,05 mempunyai data yang digunakan uji non parametrik turunan paired t -test yaitu wilcoxon. Uji Bivariat Tabel 4 Hasil uji analisa data perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada anak autis di Sekolah Autis Smara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Variabel Kelompok Variabel Variabel Kelompok Perkembangan Eksperimen 0,019 Motorik halus Kontrol 0,061 Pada Tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa uji beda delta pada kelompok eksperimen didapatkan nilai p value . sebesar 0,019 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada peningkatan perbedaan pada kelompok eksperimen dan uji beda delta pada kelompok kontrol didapatkan nilai p value . sebesar 0,061 > 0,05 maka H o diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada peningkatan perbedaan pada kelompok kontrol pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda Dian Amanah Yogyakarta. 0,001 0,074 Pada Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa pada kelompok eksperimen pre test dan post test dengan nilai p . 0,001 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok Pada kelompok kontrol pre test dan post test dengan nilai p . 0,074 > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok kontrol. PEMBAHASAN Perilaku Mencuci Tangan sebelum dilakukan stimulasi cuci tangan pada anak autis di Sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok eksperimen sebelum diberikan stimulasi cuci tangan sebagian besar kategori kurang 10 anak autis . ,7 %). Pada kelompok kontrol sebelum sebagian besar kurang sebanyak 11 anak autis . ,3 %). Pada saat pre test anak autis sulit melakukan melakukan cuci tangan. Anak autis memiliki tingkat intelegensi bervariasi dari yang rendah hingga jenius. Anak autis yang memiliki intelegensi normal pada umumnya tingkat prestasinya di sekolah Hal ini disebabkan oleh perolehan informasi dan pemahaman kemampuan dalam hambatan lebih sedikit bila dibanding dengan anak normal yang lain. Anak autis kurang memiliki pemahaman dalam mencuci tangan. Hal ini menyebabkan anak sulit menerima materi yang bersifat abstrak, sehingga dibutuhkan media untuk memudahkan pemahaman suatu konsep pada anak autis. Stimulasi cuci tangan mengajarkan anak autis untuk mengembangkan keterampilan perilaku mencuci tangan. Stimulasi cuci tangan merupakan satu set logis dan kritis terhadap prinsip. Orang tua, terapis, dan anak terlibat dalam pelatihan cuci tangan yang mengajarkan anak untuk belajar mengembangkan perilaku mencuci tangan. Menurut Susilaningrum . didapatkan hasil analisis data dalam penelitian bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan media dalam pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Media pelatihan cuci tangan akan memperlancar proses belajar mencuci tangan karena akan meningkatkan perilaku mencuci tangan sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Bagi anak autis media pembelajaran sangatlah diperlukan terutama yang bersifat audio dan visual. Oleh karena itu penggunaan media yang bersifat visual sangat diperlukan untuk melatih cuci tangan pada anak autis. Pada saat post test anak autis masih mengalami kesulitan dalam mencuci tangan. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi anak autis dalam perilaku mencuci tangan pada anak autis. Intervensi untuk penyandang autis pada anak/ Autisme infantile berupa stimulasi-stimulasi agar anak menunjukkan respon. Sebenarnya sebelum anak diikutsertakan dalam program terapi yang sedang diikuti, sebaiknya orang tua memberinya stimulasi cuci tangan di rumah tanpa henti agar anak tidak tenggelam di dunianya sendiri. Jangan biarkan anak asyik sendiri dan dengan minat dan aktifitasnya yang kaku, misalnya menghidupkan dan menghidupkan lampu, takjub mengamati kipas angin berputar dan aktifitas tidak penting lainnya. Selalu usahakan selalu ada orang yang menemani anak selama tidak Anak yang menjalin hubungan dengan keluarganya secara sehat . enuh perhatian dan kasih sayang dengan orangtuany. dapat memfasilitasi perilaku mencuci tangan pada anak autis. Sebaliknya jika hubungan anak dan orangtuanya tidak sehat, maka perilaku mencuci tangan akan berjalan dengan baik. Lingkungan tempat tinggal juga mempengaruhi perilaku mencuci tangan anak autis, dimana lingkungan kampung dengan kondisi kekeluargaan yang masih erat dan sosialisasi dengan lingkungan masih baik, maka kontak anak dengan anak yang sebaya masih cukup intensif sehingga anak dapat bermain dengan teman sebaya mainan-mainan meningkatkan cara mencuci tangan. Kontak anak dengan anak sebaya inilah yang mendorong perilaku mencuci tangan pada anak autis. Status sosial ekonomi keluarga beberapa studi menyebutkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin akan mengalami keterlambatan perilaku mencuci tangan dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik tingkat ekonominya. Kondisi kurangnya kesempatan belajar pada anak dari keluarga miskin (Yusuf, 2. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orangtua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder contohnya menyediakan peralatan untuk mencuci Kemiskinan berhubungan dengan kerusakan struktur dan fungsi saraf, termasuk smaller white and cortical gray matter dan Perilaku mencuci tangan setelah dilakukan stimulasi cuci tangan pada anak autis di Sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa perilaku mencuci tangan anak autis pada kelompok eksperimen setelah diberikan stimulasi cuci tangan sebagian besar kategori cukup 9 anak autis . ,0 %). Pada kelompok kontrol setelah sebagian besar kurang sebanyak 10 anak autis . ,7 %). hipokampus, amygdala yang berkaitan dengan kemampuan kognitif (Black M. Keluarga dengan status sosial ekonomi rendah memiliki kecenderungan pengetahuan yang terbatas, waktu dan kualitas yang rendah dalam menemani anak aktivitas untuk memberikan stimulasi cuci tangan untuk meningkatkan perilaku mencuci tangan yang seharusnya diperlukan seorang anak dalam tumbuh kembangnya (Black M, 2. Menurut Engle dan Huffman . dalam meningkatkan perkembangan dalam mencuci tangan anak autis dapat dilakukan beberapa cara berikut yaitu pemberian ASI eksklusif, pemberian nutrisi anak yang adekuat, dalam memberikan makanan kepada anak berikan dengan sabar dan penuh cinta, sering diajak aktivitas luar dan bermain, diajak bernyanyi, mengajari sesuatu antara lain mencuci tangan dan aktifitas yang sederhana kepada anak setiap hari dan melatih anak berdoa (Black M, 2. Pengaruh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta Pada Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa pada kelompok eksperimen pre test dan post test dengan nilai p . 0,001 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol pre test dan post test dengan nilai p . 0,074 > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada perbedaan antara pre test dan post test pada kelompok kontrol. Pada Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa pre test pada kelompok eksperimen dan kontrol dengan nilai p . 0,141 > 0,05 maka Ha ditolak dan Ho diterima berarti tidak ada perbedaan pre test antara kelompok Sedangkan post test pada kelompok eksperimen dan kontrol dengan nilai p . 0,003 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada perbedaan antara post test pada kelompok eksperimen dan kontrol pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Pada Tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa uji beda delta pada kelompok eksperimen didapatkan nilai p value . sebesar 0,019 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada peningkatan perbedaan pada kelompok eksperimen dan uji beda delta pada kelompok kontrol didapatkan nilai p value . sebesar 0,061 > 0,05 maka H o diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada peningkatan perbedaan pada kelompok kontrol pada anak autis di sekolah autis Samara Bunda Dian Amanah Yogyakarta. Stimulasi cuci tangan dapat melatih koordinasi otot-otot kecil pada tangan sehingga dapat mempengaruhi perilaku mencuci tangan dengan baik. Menurut Maghfuroh L . , motorik halus khususnya mencuci tangan adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan pergerakan melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan otot. Andriana, . menyatakan bahwa manfaat stimulasi cuci tangan dapat untuk melatih keterampilan perilaku mencuci tangan, berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan otototot kecilnya khususnya tangan dan jari-jari Dengan demikian dapat dikatakan bahwa stimulasi cuci tangan yang diberikan pada anak autis dapat memberikan pengaruh meningkatkan perilaku mencuci tangan pada anak autis. Hal tersebut dikarenakan seringnya dilakukan stimulasi cuci tangan pada anak autis, sehingga koordinasi otot-otot kecil pada tangan dapat terlatih sehingga dapat melakukan perilaku mencuci tangan dengan Sehingga anak tidak lagi ada kesulitan yang akhirnya koordinasi mata dan tangan anak bekerja dengan baik. Peningkatan perilaku mencuci tangan anak sebelum dan sesudah dikarenakan pemberian stimulasi cuci tangan yang diberikan secara teratur akan diterima oleh panca indera dan selanjutnya akan disampaikan ke otak. Otak maupun panca indera anak yang belum mencapai tingkat baru. Hal ini akan memicu otak untuk belajar, menganalisa, memahami dan memberi respon yang tepat terhadap pemberian stimulus tersebut. Andriana . berpendapat sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan anak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat hubungan antara sel-sel otak tersebut. Keterbatasan Penelitian Pada saat penelitian berlangsung waktu bersamaan dengan hari libur sekolah, jadual pelajaran yang padat, keterbatasan yang dimiliki anak autis dan anak kurang konsentrasi sehingga untuk dapat mengikuti arahan dalam mencuci tangan dari peneliti belum bisa optimal. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Perilaku mencuci tangan sebelum dilakukan stimulasi cuci tangan pada anak autis di sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta kategori kurang. Perilaku dilakukan stimulasi cuci tangan pada anak autis di sekolah Autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta kategori cukup. Ada pengaruh stimulasi cuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah dengan nilai p . < 0,05 berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Salemba Medika. Black. Fernandez-Rao. Hurley. Tilton. Balakrishna N. Harding, . Reinhart G. Radhakrishna, , and Nair. Growth and Development Among Infants and Preschoolers Rural India: Economic Inequities and Caregiver Protective/Promotive Factors. International Journal of Behaviour Development. : 26-53. Engle. and Huffman. Growing ChildrenAos Bodies and Minds: Maximizing Child Nutrition and Development. Food and Nutrition Bulletin. : 186-197. Ginanjar, 2007. Memahami Spektrum Autistik Secara Holistik. Disertasi. Fak Psikologi Universitas Indonesia. Hidayat. Pengantar dan Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba Medika. Maghfuroh. Pengaruh Teknik Mozaik terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Prasekolah. Sain Med Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak Penerbit Buku Kedokteran Jakarta. EGC Sumaja, 2014. Pengaruh Terapi Musik terhadap Komunikasi Verbal pada Anak Autisme di SLB Autis Permata Bunda Payakumbuh. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Supartini. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC. Susilaningrum. Asuhan keperawatan bayi dan anak. Jakarta : Salemba Medika. Whaley and Wong. Perawatan Bayi dan Anak Edisi 6. Jakarta: EGC Wong, 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1. Edisi Keenam. Jakarta: EGC. Yusuf, 2008. Perkembangan Psikologi Anak. Jakarta : Erlangga. Saran Bagi Ilmu Keperawatan Anak. Stimulasi cuci tangan dapat digunakan sebagai model menstimulasi perilaku mencuci tangan anak autis di sekolah autis dan bisa dimasukkan dalam kurikulum di sekolah autis serta dimasukkan dalam mata kuliah keperawatan anak. Bagi keluarga dan orangtua anak autis di sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Stimulasi cuci tangan sebagai pedoman keluarga yang memiliki anak autis dalam memberikan stimulasi untuk meningkatkan perilaku mencuci tangan selama di rumah dan ditengah-tengah keluarga. Bagi guru di Sekolah autis Samara Bunda dan Dian Amanah Yogyakarta. Stimulasi cuci tangan sangat baik untuk meningkatkan perilaku mencuci tangan anak autis, sehingga diharapkan stimulasi cuci tangan dimasukkan dalam kurikulum dan diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas di sekolah autis. DAFTAR PUSTAKA