Terakreditasi SINTA Peringkat 2 Surat Keputusan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Ristek Dikti No. 10/E/KPT/2019 masa berlaku mulai Vol. 1 No. 1 tahun 2017 s.d Vol. 5 No. 3 tahun 2021 Terbit online pada laman web jurnal: http://jurnal.iaii.or.id JURNAL RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol. 4 No. 1 (2020) 193 - 200 ISSN Media Elektronik: 2580-0760 Optimasi Protokol LEACH Untuk Meningkatkan Stabilitas Pada Wireless Sensor Network Ahmad Ridwan1, Rian Ferdian2, Rahmadi Kurnia3 1,3Teknik Elektro, Teknik, Universitas Andalas 2Sistem Komputer, Teknologi Informasi, Universitas Andalas rian.ferdian@it.unand.ac.id Abstract Wireless sensor networks (WSNs) are small devices that are run by batteries as minimal energy resources. The cluster method is one of the ways on WSN that is widely applied to the routing protocols to extend the network's lifespan. LowEnergy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) is a cluster-based protocol proven to increase energy efficiency in sensor networks. However, LEACH also has disadvantages such as a selection of cluster heads that don't consider residual energy at every node. It is the cause of failure in the election process and affects the stability of the network cluster. Period network stability is essential as reliable feedback from a network. Therefore, this study tries to investigate and solve stability problems in the LEACH algorithm. In this paper, the authors propose a new protocol that is Optimization-LEACH (OLEACH), which is the development of the LEACH protocol. The O-LEACH protocol cluster-head selection process is developed based on the initial energy of each node, and a new beginning energy levels calculated from each node to every round. The test results show that the proposed O-LEACH protocol has a better stability period and network lifetime than the LEACH protocol. Keywords: Optimization, Stability, Wireless Sensor Networks, Routing Protocols, O-LEACH. Abstrak Jaringan sensor nirkabel merupakan perangkat kecil yang dijalankan oleh baterai sebagai sumber daya energi yang terbatas. Metode klaster adalah salah satu metode di WSN yang banyak diterapkan pada protokol routing untuk memperpanjang umur jaringan. Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) merupakan protokol berbasis klaster yang terbukti meningkatkan efisiensi energi dalam jaringan sensor. Namun, LEACH juga memiliki kekurangan seperti pemilihan kepala klaster yang tidak mempertimbangkan energi sisa di setiap node. Hal ini tentunya menyebabkan kegagalan dalam proses pemilihan kepala klaster dan akan sangat mempengaruhi stabilitas jaringan. Periode stabilitas jaringan sangat penting sebagai umpan balik yang dapat diandalkan dari sebuah jaringan. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk menyelidiki dan memecahkan permasalahan stabilitas pada algoritma LEACH. Dalam tulisan ini, penulis mengusulkan protokol baru yang yaitu Optimization-LEACH (O-LEACH) yang merupakan pengembangan dari protokol LEACH. Proses pemilihan kepala klaster pada protokol O-LEACH dikembangkan berdasarkan energi awal setiap node, dan tingkat energi awal yang baru dihitung dari setiap node untuk setiap putaran. Hasil pengujian menunjukkan bahwa protokol O-LEACH yang diusulkan memiliki periode stabilitas dan masa hidup jaringan yang lebih baik dibandingkan dengan protokol LEACH. Kata kunci: Optimasi, Stabilitas, Jaringan Sensor Nirkabel, Protokol Routing, O-LEACH. © 2020 Jurnal RESTI berkolaborasi dalam melakukan penginderaan pada daerah sekitarnya. Teknologi ini terdiri dari node Kemajuan terbaru dalam teknologi sensor, komunikasi sensor, sebuah cluster head (CH) serta base station nirkabel dan komputasi digital telah menghasilkan (BS). Penyebaran node sensor pada WSN dapat pengembangan yang lebih lanjut, seperti Wireless dilakukan secara acak. Misalnya, sensor dalam jumlah Sensor Network (WSN). Sebuah jaringan sensor dapat besar dapat dilemparkan dari pesawat terbang untuk dijelaskan sebagai jaringan yang terdiri dari ratusan aplikasi pemantauan bencana[1]. hingga ribuan node yang saling terhubung dan Diterima Redaksi : 20-12-2019 | Selesai Revisi : 17-02-2020 | Diterbitkan Online : 20-02-2020 193 1. Pendahuluan Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 Gambar 1. Arsitektur protokol routing berbasis cluster[2] Kemudian, WSN juga dapat dipasang secara manual, Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) seperti misalnya dalam sistem monitoring peringatan adalah protokol hirarkis clustering hemat energi kebakaran[3]. Berbagai macam aplikasi dari penerapan pertama dan paling populer untuk jaringan sensor yang WSN juga mampu melakukan monitoring atau diusulkan untuk mengurangi konsumsi daya dan juga pemantauan kondisi lingkungan sekitar seperti untuk meningkatkan waktu hidup dari jaringan. pemantauan kualitas udara, deteksi gempa, pengawasan Protokol LEACH membagi node-node pada jaringan ke area militer, pemantauan medis, deteksi banjir, dan dalam beberapa cluster. Pada setiap cluster salah satu lain-lain[4][5][6][7][8]. node akan bertindak sebagai CH yang dipilih dan bertanggung jawab terhadap anggota cluster dalam Komponen utama dari WSN adalah mikroprosesor, menangani penjadwalan Time Division Multiple Access memori, baterai, sensor, dan pemancar/penerima untuk (TDMA) dan mengirimkan data yang telah terkumpul saling berkomunikasi dengan seluruh jaringan[9]. Node ke BS[15]. Gambar 2 menunjukkan proses CH akan sensor sendiri bekerja menggunakan baterai sebagai mengumpulkan data dari semua node dan merutekan catu daya yang tidat dapat di isi ulang setiap saat. informasi yang terkompresi ke BS. Terdapat 2 fase Karena keterbatasan pada catu daya tersebut, memilih dalam pembentukan cluster pada protokol LEACH routing yang efisien menjadi masalah yang sangat yaitu fase pengaturan (set-up) dan fase transmisi data penting dalam jaringan sensor nirkabel. Routing adalah (steady-state). Proses operasi time-line operasi pada metode untuk mengetahui jalur antara node sumber dan algoritma protokol routing LEACH dapat dilihat pada node tujuan. Algoritma routing dikembangkan untuk gambar 3. memecahkan masalahan energi. Merancang routing pada jaringan sensor cukup menantang karena beberapa karakteristik yang membedakan dengan routing pada jaringan lainnya. Protokol routing dalam WSN bertanggung jawab untuk menentukan rute yang hemat energi, agar komunikasi menjadi lebih efisien[10][11]. Beberapa protokol routing yang telah diteliti untuk meningkatkan kinerja aplikasi di dalam WSN[12][13]. Perancangan algoritma routing yang cocok pada WSN dalam hal memenuhi tuntutan kinerja node sensor dianggap sebagai masalah penting. Algoritma cluster merupakan salah satu skema routing untuk Gambar 2. Arsitektur protokol LEACH meningkatkan waktu hidup jaringan dalam WSN. Pada algoritma LEACH, ada banyak protokol yang Gambar 1 menunjukkan arsitektur dari protokol routing berbeda di mana banyak algoritma telah disajikan berbasis cluster. Dalam algoritma clustering[14], node secara efisien menggunakan energi dan mengurangi sensor dikelompokkan ke dalam berbagai jumlah jumlah konsumsi energi. Hal ini menunjukkan beberapa cluster dan setiap node sensor dapat mengirim data ke kelemahan algoritma LEACH seperti; sisa energi node masing-masing CH. CH memiliki tanggung jawab tidak dipertimbangkan dalam proses pemilihan CH. untuk menggabungkan dan mengirimkan data tesebut Oleh karena itu, kegagalan CH karena energi sisa yang ke BS. Dengan demikian, CH menggunakan lebih rendah tidak dapat dihindari. Kemudian dalam banyak energi daripada node-node anggota lain di pemilihan CH juga tidak mempertimbangkan jarak dalam sebuah cluster. Oleh karena itu, pemilihan CH antara CH dengan BS. Sehingga, konsumsi daya pada adalah masalah penting dalam merancang protokol berbasis cluster. Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 194 Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 CH yang terletak jauh dari dibandingkan yang di dekat BS. BS lebih tinggi pemilihan CH untuk setiap round dan menyiarkan pesan pemilihan antara node [21]. Karena rumus ini bekerja secara statis tetapi risiko utama dari skema yang diusulkan adalah bahwa node dinamis akan bergerak secara dinamis dan mengarah ke pembentukan klaster baru setelah beberapa periode untuk mengurangi bobot klaster karena menambahkan lebih banyak node ke sebuah klaster. Klaster dengan lebih banyak node akan menguras energi CH ketika tetap tidak berubah. Arumugam dan Ponnuchamy[22], mengusulkan peningkatan protokol LEACH berbasis energi efisiensi (EE-LEACH) untuk pengumpulan data. EE-LEACH bertujuan untuk mengurangi energi yang dikonsumsi Gambar 3. Operasi algoritma LEACH node dengan demikian akan memperpanjang umur Dalam beberapa tahun terakhir, banyak peneliti telah jaringan. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan melakukan penelitian untuk meningkatkan kinerja konsep energi sisa untuk memilih CH. Node dengan protokol LEACH serta untuk mengatasi kelemahannya. energi sisa yang lebih tinggi akan dipilih sebagai CH. Dalam [16] penulis telah mengusulkan strategi CH mengumpulkan data sebelum mengirimnya ke BS pemilihan CH tetap di mana ketika CH sekali dipilih penerusan node yang memiliki energi sisa tertinggi. akan diperbaiki. Hal ini menghasilkan penghematan Tetapi, pada penelitian ini belum membahas mengenai waktu untuk membangun klaster baru karena tidak ada periode stabilitas jaringan dari protokol EE-LEACH. waktu yang dihabiskan dalam fase pengaturan, tetapi Sehingga masih terdapat kekurangan memperkenalkan informasi dapat terbuang sia-sia jika CH mati sebelum model distribusi Gaussian untuk memastikan cakupan mengirimkan data ke BS. area penginderaan yang efektif. Singh et al[17], menyelidiki dan menyimpulkan bahwa Dari penjelasan dan beberapa penelitian diatas dapat bahkan setelah 16 tahun keberadaan protokol Low disimpulkan meskipun algoritma protokol LEACH Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH), dapat meningkatkan masa pakai jaringan pada jaringan sangat sedikit yang mengukur periode stabilitas sensor tetapi masih memiliki kekurangan. Bahkan jaringan selama pemilihan CH dan pembentukan banyak yang telah melakukan riset untuk memperbaiki klaster selama simulasi. kinerja dari protokol LEACH. Hal ini menjadi bukti bahwa meningkatkan masa pakai jaringan saja tidak Azim dan Islam[18], mengusulkan Hybrid-Low Energy cukup untuk beberapa aplikasi yang membutuhkan Adaptive Clustering Hierarchy (H-LEACH). Protokol umpan balik yang dapat diandalkan dari sebuah ini menggunakan energi sisa pada node dan energi jaringan sensor nirkabel. maksimumnya di setiap round dalam menghitung nilai threshold. Jika energi sisa lebih tinggi dari energi Pada penelitian ini salah satu yang menjadi tujuan jaringan rata-rata, node dipilih sebagai CH. Penelitian utama adalah meningkatkan periode stabilitas jaringan ini membandingkan protokol yang diusulkan dengan dari protokol LEACH selain dari meningkatkan masa protokol LEACH. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pakai jaringan. Periode stabilitas jaringan yang dapat H-LEACH lebih efisien dibandingkan dengan LEACH. didefinisikan sebagai momen ketika node pertama mati Namun, pada penelitian ini hanya mempertimbangkan sampai dengan setengah dari total node yang energi sisa pada node tidak cukup untuk menstabilkan disimulasikan mati sudah harus menjadi pertimbangkan konsumsi daya di WSN, karena jarak node memiliki dalam merancang sebuah protokol routing WSN. dampak besar pada disipasi daya. Sehingga kedepannya jaringan sensor nirkabel dapat mencapai keandalan yang lebih baik. Singh et al. [19], menyarankan LEACH yang menurutnya protokol routing hemat energi yang 2. Metode Penelitian dioptimalkan wajib untuk melakukan analisa mengenai periode stabilitas jaringan untuk menyempurnakan Pada Gambar 4 adalah desain sistem penelitian yang akan dilakukan pada protokol O-LEACH yang akan masa hidup dari node sensor dan jaringan sensor. dibandingkan untuk hasil yang akan dianalisis. Dalam Kotobelli et al. [20] mengusulkan algoritma LEACH penelitian ini, posisi node dibuat secara acak yang dimodifikasi di mana preferensi diberikan untuk menggunakan beberapa parameter termasuk ukuran kendala energi dan bagaimana mengurangi konsumsi area simulasi, lokasi BS, energi awal, probabilitas, energi dari sebuah node dan dengan demikian CH energi pengiriman dan penerimaan, model disipasi terbentuk dengan baik. Idenya sederhana dengan energi, waktu maksimum, dan jumlah node sehingga menjadikan CH sebagai statis sampai energi CH benar- kita dapat menghasilkan satu set node dalam jaringan. benar berakhir. Hal ini akan memperpanjang masa Setelah jaringan nirkabel terbentuk, proses selanjutnya hidup dengan mengurangi kehilangan energi dalam adalah clustering pada node di dalam jaringan dan Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 195 Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 kemudian akan menghasilkan output dalam bentuk CH, atau 𝑇(𝑛)𝑣 pada setiap node. Sehingga di dapatkan non-CH, node mati, node hidup. Setelah ada output, persamaan sebagai berikut : kita dapat menampilkan dalam bentuk grafis proses 𝑃𝑣 yang terjadi pada jaringan. Hasil dari penelitian ini juga 𝑇(𝑛)𝑣 = { (1) 1 1−𝑃𝑣 ×𝑚𝑜𝑑(𝑟 𝑚𝑜𝑑 ) dapat digunakan untuk menganalisis, first dead node 𝑃𝑣 (FDN), half dead nodes (HDN), presentase total node Dimana nilai 𝑃𝑣 dapat dihitung dengan persamaan mati, waktu hidup jaringan dan stabilitas jaringan yang berikut, dapat dijadikan sebagai acuan optimasi pada jaringan 𝑃 ×𝑛×(𝑖𝑛𝑜𝑑𝑒 ×𝐸𝑛 ) sensor nirkabel. 𝑃𝑣 = 𝑐 (2) 𝐸𝑖 ×𝐸𝑣 dimana 𝑃𝑐 adalah probabilitas awal yang dipilih, n mewakili jumlah node, 𝑖𝑛𝑜𝑑𝑒 mewakili node individu, 𝐸𝑛 adalah energi pada jaringan, 𝐸𝑖 adalah energi awal node dan 𝐸𝑣 adalah tingkat energi awal yang baru dihitung dari setiap node untuk setiap round dengan bantuan tingkat energi awal node bukan menggunakan tingkat energi yang tersisa dari node sebagai tingkat energi node untuk setiap round. Hal ini dapat dihitung dengan persamaan berikut, 𝐸𝑣 = 𝐸𝑖 × ( 𝑡𝑡 1− 𝑟𝑜𝑢𝑛𝑑 𝑅𝑚 𝑛 ) (3) dimana 𝐸𝑖 merupakan energi awal node, 𝑡𝑡𝑟𝑜𝑢𝑛𝑑 adalah kombinasi fase pengaturan (set-up) dan fase transmisi data (steady-state) sekarang, 𝑅𝑚 adalah jumlah round maksimum yang terdiri dari data sensing yang ditransmisikan ke BS. Persamaan threshold baru ini dibuat untuk menentukan CH setiap round pada fase Gambar 4. Sistem Desain Penelitian pengaturan dan fase transmisi data. Prosedur selanjutnya sama seperti algoritma LEACH yaitu 2.1 Perancangan Algoritma Optimasi-LEACH mengirim informasi dari node sensor ke masing-masing Pada protokol LEACH sebelumnya masih terdapat CH dengan slot TDMA yang telah dialokasikan, beberapa masalah yang menjadi perhatian seperti pada kemudian dengan bantuan algoritma CDMA untuk pemilihan CH secara acak tanpa memperhitungkan menghindari tabrakan paket di dalam jaringan. nilai energi dari node yang akan dipilih menjadi CH. 2.2 Desain Model Disipasi Energi Saluran Radio Sehingga hal ini dapat menyebabkan efek skenario pada jaringan sensor, karena jaringan sensor sendiri Pada penelitian ini, diasumsikan model disipasi energi memiliki perhatian utama mengenai efisiensi energi yang dipakai pada saluran radio protokol routing jaringan. Pada penelitian ini akan mengusulkan LEACH dan O-LEACH adalah yang memiliki optimasi dari protokol LEACH, dimana node akan karakteristik sederhana. Pemancar menghabiskan mengorganisir ke dalam cluster yang berbeda dan energi untuk menjalankan perangkat radio elektronik masing-masing cluster akan memiliki BS lokal yang dan penguat daya, sedangkan penerima menghabiskan berfungsi sebagai CH di cluster tersebut dan hanya energi untuk menjalankan perangkat radio elektronik akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan saja, seperti yang ditampilkan pada Gambar 5. informasi routing ke BS. Mekanisme yang diusulkan Untuk mentransmisikan suatu pesan sebesar k-bit pada menggunakan proses yang sama seperti protokol jarak sejauh d meter, jumlah energi yang dikonsumsi LEACH yaitu terdiri dari 2 fase yaitu pengaturan oleh radio dapat dihitung menggunakan persamaan klaster (set-up), dan fase transmisi data (steady-state) berikut[23], pada jaringan sensor nikabel. Akan tetapi pada 2 (4) algoritma yang diusulkan ini proses keputusan node 𝐸𝑇𝑥 (𝑘, 𝑑) = (𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 × 𝑘) + (𝐸𝑎𝑚𝑝 × 𝑘 × 𝑑 ) menjadi CH tidak berdasarkan angka acak saja tetapi Konsumsi energi untuk menerima pesan k-bit dapat dengan pertimbangan lain yang dijadikan batas dihitung dengan persamaan berikut, threshold, yaitu energi pada jaringan, energi awal setiap (5) node, dan tingkat energi awal yang baru dihitung dari 𝐸𝑅𝑥 = 𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 ∗ 𝑘 setiap node untuk setiap round. Maka dengan Dimana 𝐸𝑇𝑋 menunjukkan energi yang dihabiskan per menggunakan persamaan (1) dapat dirancang bit selama transmisi, 𝐸𝑅𝑋 menunjukkan energi yang mekanisme baru dalam menetapkan batas threshold Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 196 Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 dihabiskan per bit selama penerimaan, k adalah jumlah penerima dalam keadaan masih memenuhi batas nilai bit pesan, d merepresentasikan jarak antara pengirim minimum sinyal informasi atau biasa disebut dan penerima, 𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 merupakan energi yang sensitivitas penerima radio. Ada beberapa parameter dikeluarkan per-bit untuk menjalankan radio frekuensi yang mempengaruhi nilai 𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 dan 𝐸𝑎𝑚𝑝 seperti: disisi pemancar dan penerima pada perangkat node, penguatan (G), panjang gelombang (λ), tinggi antena sedangkan 𝐸𝑎𝑚𝑝 adalah energi yang digunakan untuk (h), bitrate (𝑅𝑏 ), dan sensitivitas penerima radio. memperkuat sinyal informasi supaya sinyal sampai ke Gambar 5. Diagram model energi radio[24] Sehingga nilai 𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 pada bagian pemancar dan penerima menjadi, 2.3 Menentukan Parameter Energi Pada simulasi ini menggunakan perangkat lunak 3,3×120×10−3 MATLAB 2015a dengan mensimulasikan 200 node 𝐸 = 1,59 𝜇𝐽/𝑏𝑖𝑡 (7) 𝑒𝑙𝑒𝑐 𝑇𝑟𝑎𝑛𝑐𝑒𝑖𝑣𝑒𝑟 = 250×103 sensor yang akan didistribusikan pada area yang berukuran 100x100 m2 dalam keadaan statis. Node 3,3×31×10−3 𝐸 = = 0,41 𝜇𝐽/𝑏𝑖𝑡 (8) 250×103 sensor akan diletakkan secara acak dengan energi awal 𝑒𝑙𝑒𝑐 𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑒𝑟 yang sama dan pengujian berjalan selama 100 round. Sedangkan untuk menghitung nilai propagasi Jumlah total node dalam jaringan sensor sama dengan gelombang radio atau nilai yang terjadi ketika jumlah node sensor ditambah satu BS sehingga total gelombang radio merambat dari pemancar ke penerima node dalam simulasi ini menjadi 201 node. Data sensor dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, secara free space untuk parameter node diambil dari datasheet XBee Pro loss dan multipath fading. Pada propagasi gelombang S2C[25], seperti yang terdapat dalam Tabel 1 dibawah secara free space loss, diasumsikan bahwa sinyal pada ini. pemancar dan penerima dalam keadaan line of sight (LOS) atau tidak ada obstacle. Sehingga energi Tabel 1. Parameter Penelitian RF Node Sensor amplifikasi pada free space loss dapat dihitung dengan Parameter Nilai persamaan berikut[25], Energi awal (E ) 0.5 Joule o Frekuensi (F) Sensitifitas (S) Bitrate (Rb) Arus pemancar Arus penerima Tegangan (V) Gain (G) Tinggi antena (h) 𝑆×(4𝜋)2 2.4 Ghz -100 dBm 250 Kbps 120 mA 31 mA 3.3 V 2 dBi 0.5 m 𝜀𝑓𝑠 = 𝑅 ×𝐺 ×𝐺 ×λ2 𝑏 𝑡 (9) 𝑟 Nilai energi amplifikasi pada 𝜀𝑓𝑠 menjadi, 𝜀𝑓𝑠 = 0,1×10−12 ×(4𝜋)2 250×103 ×1,6×1,6×0,1252 = 1,5 × 10−3 𝑝𝐽/𝑏𝑖𝑡/𝑚2 (10) Jika antara penerima dan pemancar terdapat obstacle maka sinyal akan dipantulkan oleh berbagai objek sebelum sampai ke penerima. Fenomena ini biasa Berdasarkan tabel 1 kita dapat menentukan perhitungan disebut multipath fading. Untuk menghitung energi energi yang dikeluarkan per-bit untuk menjalankan amplifikasi pada perambatan gelombang radio radio frekuensi di sisi pemancar dan penerima yang multipath fading dapat digunakan persamaan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut[25], berikut[25]: 𝑉×𝐼 𝐸𝑒𝑙𝑒𝑐 = 𝑅 𝑏 𝑆 (6) 𝜀𝑚𝑝 = 𝑅 ×𝐺 ×𝐺 ×ℎ2 ×ℎ2 𝑏 𝑡 𝑟 𝑡 𝑟 Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 197 (11) Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 Maka nilai energi amplifikasi 𝜀𝑚𝑝 dengan persamaan berikut, dapat dilakukan pada protokol O-LEACH terjadi di round 9 dan half of the dead nodes (HDN) terjadi pada round 71, sedangkan node mati yang pertama pada protokol −12 0,1×10 𝜀𝑚𝑝 = = 2,5 × 10−6 𝑝𝐽/𝑏𝑖𝑡/𝑚4 LEACH terjadi di round 12 dan half of the dead nodes 250×103 ×1,6×1,6×0,52 ×0,52 (12) (HDN) di round 52. Peningkatan periode stabilitas oleh protokol O-LEACH disebabkan modifikasi dari Sedangkan untuk membedakan penggunaan energi algoritma LEACH yang telah dimodifikasi. Sehingga dapat menggunakan parameter jarak (𝑑𝑜 ) yang dapat ketika pemilihan CH pada round berikutnya sudah dihitung dengan persamaan berikut[25], memperhitungkan nilai energi dari node yang akan dipilih menjadi CH tersebut. 𝜀𝑓𝑠 𝑑0 = √ (13) 𝜀𝑚𝑝 Sehingga nilai 𝑑0 dapat dihitung dengan, 𝑑0 = √ 1,5×10−15 2,5×10−18 = 10√6 (14) 3. Hasil dan Pembahasan Pada bagian artikel ini akan menyajikan dan membahas hasil simulasi dari O-LEACH yang akan dibandingkan dengan protokol LEACH. Berdasarkan perhitungan parameter energi diatas kita dapat membuat pemodelan simulasi yang akan dirancang pada MATLAB. Tabel 2 akan menjelaskan parameter simulasi berdasarkan perhitungan parameter energi yang telah dihitung berdasarkan data datasheet XBee Pro S2C. Tabel 2. Parameter Simulasi Penelitian Parameter Luas area simulasi Lokasi base station (BS) Energi awal (Eo) Probabilitas (P) Energi pengiriman (Eelec Tran) Energi penerimaan (Eelec Receiv) Energi amplifikasi (εfs) Energi ampflikasi (εmp) Jumlah node Nilai 100x100 m2 (50, 50) 0.5 Joule 0.1 1,59 μJ/bit 0,41 μJ/bit 1,5x10-3 pJ/bit 2,5x10-6 pJ/bit 200 Gambar 6. Jumlah node mati vs jumlah round 4.2 Masa Hidup Jaringan Masa hidup jaringan dapat didefinisikan sebagai interval waktu mulai komunikasi hingga node terakhir mati[27]. Hasil simulasi artikel ini menunjukkan bahwa protokol yang dirancang mengungguli protokol LEACH dalam hal masa hidup jaringan, seperti yang ditunjukkan pada gambar 7. Pada pengujian ini periode stabilitas jaringan dan masa hidup jaringan sensor akan digunakan sebagai tolak ukur untuk membandingkan dan melihat apakah protokol O-LEACH yang telah diusulkan mencapai hasil terbaik. 3.1 Periode Stabilitas Jaringan Periode stabilitas jaringan dapat didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk first dead node (FDN) sampai dengan setengah dari total node yang disimulasikan mati[26], Hasil simulasi penelitian ini menunjukkan protokol yang diusulkan memiliki Gambar 7. Jumlah node hidup vs jumlah round stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan protokol LEACH, seperti yang dapat dilihat pada gambar 6. Dari gambar 7 menunjukkan bahwa pada round 100 yang merupakan round terakhir, node hidup yang Dari Gambar 6 kita dapat melihat bahwa algoritma tersisa dari protokol O-LEACH yang diusulkan adalah yang diusulkan memiliki dampak besar pada 88 node, yang berarti hanya 56% dari total node di pengurangan konsumsi energi. Node pertama yang mati dalam jaringan sudah mati, sedangkan node yang masih Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 198 Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 hidup dari protokol LEACH hanya tersisa 4 node yang berarti 98% dari total node pada jaringan sudah mati. [5] Hasil ini menunjukkan efisiensi pada protokol yang diusulkan dalam hal distribusi energi diantara node dalam proses pemilihan CH dan pembentukan cluster. Perbandingan antara protokol O-LEACH dengan [6] protokol LEACH dalam hal masa hidup jaringan dan periode stabilitas ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Perbandingan Antara Protokol O-LEACH dan LEACH Protokol FDN HDN O-LEACH LEACH 9 12 71 52 4. Kesimpulan Node tersisa dalam jaringan pada round 100 88 4 [7] Node hidup pada round 100 44 % 2% [8] [9] Pada artikel ini, diusulkan metode pemilihan CH pada protokol LEACH yang ditingkatkan untuk jaringan [10] sensor nirkabel untuk mengatasi masalah stabilitas jaringan dan masa hidup jaringan. Penelitian ini [11] menggunakan perangkat lunak MATLAB untuk mensimulasikan kinerja algoritma yang telah diusulkan. Dari hasil simulasi, menunjukkan bahwa pemilihan CH [12] secara acak yang dilakukan oleh protokol LEACH hanya mampu mempertahankan 4 node atau hanya 2% dari total jumlah node yang disimulasikan. Sedangkan [13] metode pemilihan CH yang diusulkan dengan menggunakan nilai awal energi pada jaringan dan [14] energi awal setiap node mampu mempertahankan 88 node atau sekitar 44% dari total 200 node yang disimulasikan sampai dengan proses simulasi selesai. [15] Sehingga dapat dikatakan protokol O-LEACH yang diusulkan mampu mempertahankan stabilitas dan masa hidup jaringan lebih baik dibandingkan protokol [16] LEACH. Pada penelitian selanjutnya dapat mencoba untuk mengimplementasikan metode pencarian heuristik pada [17] jaringan nirkabel, karena metode ini sangat baik dalam pencarian jalur paling optimal sehingga pengiriman data dari node menuju lokasi BS terdekat dapat lebih [18] cepat dan hal ini akan menghemat energi pada node sensor. Daftar Rujukan [1] [2] [3] [4] [19] R. K. Jha, A. Singh, A. Tewari, and P. Shrivastava, “Performance analysis of disaster management using WSN [20] technology,” Procedia Comput. Sci., vol. 49, no. 1, pp. 162–169, 2015. O. Rehman, N. Javaid, B. Manzoor, A. Hafeez, A. Iqbal, [21] and M. Ishfaq, “Energy consumption rate based stable election protocol (ECRSEP) for WSNs,” Procedia Comput. Sci., vol. 19, pp. 932–937, 2013. M. Dener, Y. Özkök, and C. Bostancıoğlu, “Fire Detection [22] Systems in Wireless Sensor Networks,” Procedia - Soc. Behav. Sci., vol. 195, pp. 1846–1850, 2015. P. Rawat, K. D. Singh, H. Chaouchi, and J. M. Bonnin, “Wireless sensor networks: A survey on recent [23] developments and potential synergies,” J. Supercomput., vol. 68, no. 1, pp. 1–48, 2014. M. U. Rahman, S. Rahman, S. Mansoor, V. Deep, and M. Aashkaar, “Implementation of ICT and Wireless Sensor Networks for Earthquake Alert and Disaster Management in Earthquake Prone Areas,” Procedia Comput. Sci., vol. 85, no. Cms, pp. 92–99, 2016. K. Ghosh, S. Neogy, P. K. Das, and M. Mehta, “Intrusion Detection at International Borders and Large Military Barracks with Multi-sink Wireless Sensor Networks: An Energy Efficient Solution,” Wirel. Pers. Commun., vol. 98, no. 1, pp. 1083–1101, Jan. 2018. N. Fahmi, M. U. Harun, A. Rasyid, and A. Sudarsono, “Adaptive Sleep Scheduling for Health Monitoring System Based on the IEEE 802 . 15 . 4 Standard,” Emit. Int. J. Eng. Technol., vol. 4, no. 1, pp. 91–114, 2016. I. D. Sumitra, R. Hou, and S. Supatmi, “Design and Deployment of Wireless Sensor Networks for Flood Detection in Indonesia,” in Cloud Computing and Security, 2017, pp. 313–325. R. F. M. R.A. Fattah Adriansyah, “Penjadwalan Berbasis MAC 802.11 dan Routing ACO pada Wireless Sensor Network,” J. Rekayasa Sist. dan Teknol. Inf., vol. 3, no. 3, pp. 479–487, 2019. J. N. Al-Karaki and A. E. Kamal, “Routing techniques in wireless sensor networks: A survey,” IEEE Wirel. Commun., vol. 11, no. 6, pp. 6–27, 2004. H. Singh and D. Singh, “Taxonomy of routing protocols in wireless sensor networks: A survey,” Proc. 2016 2nd Int. Conf. Contemp. Comput. Informatics, IC3I 2016, pp. 822– 830, 2016. S. Chahal and N. Singh Gill, “Comparative Study of Various WSN Routing Protocols,” Indian J. Sci. Technol., vol. 9, no. 48, pp. 1–6, 2016. S. R. Rajeswari and V. Seenivasagam, “Comparative Study on Various Authentication Protocols in Wireless Sensor Networks,” Sci. World J., vol. 2016, no. iii, 2016. S. Dhiviya, A. Sariga, and P. Sujatha, “Survey on WSN Using Clustering,” in 2017 Second International Conference on Recent Trends and Challenges in Computational Models (ICRTCCM), 2017, pp. 121–125. R. K. Kodali and N. K. Aravapalli, “Multi-level LEACH protocol model using NS-3,” in 2014 IEEE International Advance Computing Conference (IACC), 2014, pp. 375– 380. V. Kumar, S. Jain, S. Tiwari, and I. Member, “Energy Efficient Clustering Algorithms in Wireless Sensor Networks : A Survey,” IJCSI Int. J. Comput. Sci., vol. 8, no. 5, pp. 259–268, 2011. S. Mottaghi and M. R. Zahabi, “Optimizing LEACH clustering algorithm with mobile sink and rendezvous nodes,” AEU - Int. J. Electron. Commun., vol. 69, no. 2, pp. 507–514, 2015. A. Azim and M. M. Islam, “Hybrid LEACH: A relay node based low energy adaptive clustering hierarchy for wireless sensor networks,” Proc. - MICC 2009 2009 IEEE 9th Malaysia Int. Conf. Commun. with a Spec. Work. Digit. TV Contents, no. December, pp. 911–916, 2009. S. K. Singh, P. Kumar, and J. P. Singh, “A Survey on Successors of LEACH Protocol,” IEEE Access, vol. 5, no. c, pp. 4298–4328, 2017. E. Kotobelli, E. Zanaj, and M. Alinci, “A Modified Clustering Algorithm in WSN,” Int. J. Adv. Comput. Sci. Appl., vol. 6, no. 7, pp. 63–67, 2015. Z. Manap, B. Mohd, C. Kyun, N. Nor, K. Noordin, and A. Sali, “A Review on Hierarchical Routing Protocols for Wireless Sensor Networks,” Wirel. Pers. Commun., vol. 72, no. 2, pp. 1077–1104, 2013. G. S. Arumugam and T. Ponnuchamy, “EE-LEACH: development of energy-efficient LEACH Protocol for data gathering in WSN,” EURASIP J. Wirel. Commun. Netw., vol. 2015, no. 1, p. 76, 2015. K. Cengiz and T. Dag, “Energy Aware Multi-Hop Routing Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 199 Ahmad Ridwan, Rian Ferdian, Rahmadi Kurnia Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 [24] [25] Protocol for WSNs,” IEEE Access, vol. 6, pp. 2622–2633, [26] 2017. J. Y. Lee and D. Lee, “Improvement of CH election in three-level heterogeneous WSN,” Indones. J. Electr. Eng. Comput. Sci., vol. 13, no. 1, pp. 272–278, 2019. W. Cahyadi, M. A. Wahyudi, and C. S. Sarwono, “Analisis [27] Perbandingan Konsumsi Energi dan Masa Hidup Jaringan pada Protokol LEACH, HEED, dan PEGASIS di Wireless Sensor Network,” J. Rekayasa Elektr., vol. 14, no. 2, pp. 128–135, 2018. A. B. M. A. Al Islam, C. S. Hyder, H. Kabir, and M. Naznin, “Stable Sensor Network (SSN): A Dynamic Clustering Technique for Maximizing Stability in Wireless Sensor Networks,” Wirel. Sens. Netw., vol. 02, no. 07, pp. 538–554, 2010. Rengugadevi. G and Sumithra. M. G, “Hierarchical Routing Protocols For Wireless Sensor Network–A Survey,” Int. J. Smart Sensors Ad Hoc Networks, vol. 2, no. 1, pp. 71–75, 2012. Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol . 4 No. 1 (2020) 193 – 200 200