p-ISSN: 2808-2443 e-ISSN: 2808-2222 Volume. No. 4, 2025 Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENATAUSAHAAN BARANG MILIK DAERAH PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TELUK BINTUNI Wahyu Setyaningsih1. Adolf Z. Siahay2. Syaikhul Falah3 Magister Keuangan Daerah. Universitas Cenderawasih. Indonesia Email: wahyuzettya@gmail. Article History Received: 19-11-2025 Revision: 09-12-2025 Accepted: 14-12-2025 Published: 11-01-2025 Abstract. This study aims to analyse the influence of apparatus competence, internal control systems, and regulatory compliance on the effectiveness of Regional Property Management (BMD) in the Teluk Bintuni Regency Local Government, both partially and The research was conducted in Teluk Bintuni Regency using a quantitative approach. Primary data was obtained through a Google Form-based questionnaire administered to 65 respondents selected using purposive sampling, while secondary data was obtained from official documents and related literature. The research instrument was a Likert scale questionnaire that had been tested for validity and Data analysis was performed using multiple linear regression with SPSS software, preceded by classical assumption tests . ormality, multicollinearity. The results showed that: . the competence of officials had a significant effect on the effectiveness of BMD management. the internal control system had no significant effect on the effectiveness of BMD management. regulatory compliance has a significant effect on the effectiveness of BMD management. simultaneously, the three independent variables have a significant effect on the effectiveness of BMD management. These findings indicate that improving the competence of officials and compliance with regulations are key factors in realising orderly, accountable, and efficient regional asset management, while the effectiveness of the internal control system needs to be improved through better communication and asset Keywords: competence of officials, internal control system, regulatory compliance. BMD management. Teluk Bintuni Regency Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, serta kepatuhan regulasi terhadap efektivitas penatausahaan Barang Milik Daerah (BMD) pada Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Teluk Bintuni dengan pendekatan kuantitatif. Data primer diperoleh melalui kuesioner berbasis Google Form kepada 65 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen resmi dan literatur terkait. Instrumen penelitian berupa angket berskala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan regresi linear berganda menggunakan perangkat lunak SPSS, serta didahului uji asumsi klasik . ormalitas, multikolinearitas, heteroskedastisita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . kompetensi aparatur berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penatausahaan BMD. sistem pengendalian internal tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penatausahaan BMD. kepatuhan regulasi berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penatausahaan BMD. secara simultan ketiga variabel independen tersebut berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penatausahaan BMD. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi aparatur dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi faktor kunci dalam mewujudkan tata kelola aset daerah yang tertib, akuntabel, dan efisien, sementara efektivitas sistem pengendalian internal perlu ditingkatkan melalui perbaikan komunikasi dan pencatatan aset. Kata Kunci: kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, kepatuhan regulasi, penatausahaan BMD. Kabupaten Teluk Bintuni How to Cite: Setyaningsih. Siahay. Falah. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan Barang Milik Daerah pada Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 5 . , 7777-7791. 54373/ifijeb. Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A PENDAHULUAN Pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) merupakan elemen penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, dan akuntabel. Namun, banyak pemerintah daerah masih menghadapi persoalan penatausahaan aset, seperti pencatatan yang tidak akurat, ketidaksesuaian data antarinstansi, dan lemahnya pengendalian internal, yang berdampak pada kualitas laporan keuangan serta berpotensi menimbulkan kerugian negara. Kondisi ini tampak jelas di Kabupaten Teluk Bintuni, di mana hasil pemeriksaan BPK menunjukkan masih terdapat aset yang belum tercatat lengkap, belum memiliki dokumen kepemilikan, dan terjadi ketidaksesuaian data antara pengguna barang dan pengelola barang. Situasi tersebut menjadikan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas penatausahaan BMD menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Kabupaten Teluk Bintuni dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki karakteristik dan permasalahan aset daerah yang berbeda dari daerah lain. Nilai aset daerah terus meningkat hingga lebih dari Rp6,5 triliun pada tahun 2023, namun masih diwarnai lemahnya pencatatan dan penatausahaan. Tingkat kompetensi aparatur yang menangani BMD juga relatif rendah, tercermin dari hanya enam bendahara barang yang bersertifikat dari total 53 orang, sementara kompleksitas kondisi geografis dan demografis turut menyulitkan proses inventarisasi dan pengawasan aset. Kesenjangan antara kelengkapan regulasi dan lemahnya implementasi di lapangan menjadikan Teluk Bintuni sebagai objek penelitian yang memiliki nilai strategis. Penelitian ini memfokuskan pada tiga variabel utama, yaitu kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, dan kepatuhan regulasi yang secara teoritis dan empiris berkaitan dengan efektivitas penatausahaan BMD. Kompetensi aparatur menentukan kemampuan dalam memahami regulasi, mengoperasikan sistem informasi aset, dan melakukan pencatatan yang Sistem pengendalian internal berfungsi memastikan proses penatausahaan berjalan sesuai standar dan bebas penyimpangan, sementara kepatuhan regulasi menjamin prosedur penatausahaan dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan. Ketiga variabel tersebut saling berinteraksi dalam membentuk kualitas penatausahaan, sehingga perlu dianalisis secara simultan untuk mengetahui pengaruh paling dominan dalam konteks pemerintahan daerah. Kesenjangan penelitian terlihat dari temuan sebelumnya yang menunjukkan hasil berbeda terkait hubungan antarvariabel penelitian. Beberapa studi . isalnya Sayoga & Yudianto, 2023. Bahri, 2. menemukan kompetensi aparatur berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan aset, sementara Listiani & Agustin . melaporkan sebaliknya. Penelitian mengenai sistem pengendalian internal umumnya menunjukkan pengaruh positif terhadap penataan aset (Manalu & Yudianto, 2023. Muhlisoh et al. , 2023. Satria & Perbowo, 2. , dan Safkaur Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A . menekankan pentingnya integritas data, sedangkan Soro et al. dan Sembiring et . menemukan kepatuhan regulasi berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan BMD. Namun, belum terdapat penelitian kuantitatif yang menguji ketiga variabel tersebut secara simultan dalam konteks Kabupaten Teluk Bintuni dengan mempertimbangkan temuan BPK terbaru dan kondisi aktual aparatur. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan berupa analisis empiris pengaruh kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, dan kepatuhan regulasi, baik secara parsial maupun simultan, terhadap efektivitas penatausahaan BMD pada Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya literatur manajemen aset daerah dan memberikan pemahaman baru mengenai faktor dominan yang memengaruhi efektivitas penatausahaan di daerah dengan karakteristik khusus seperti Teluk Bintuni. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan aset, memperkuat kapasitas aparatur, serta memperbaiki mekanisme pengendalian internal dan kepatuhan regulasi. Pada akhirnya, penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi strategis guna mewujudkan tata kelola BMD yang tertib, akurat, dan akuntabel sesuai prinsip good governance. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori untuk menguji hubungan kausal antarvariabel melalui pengujian hipotesis. Lokasi penelitian adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang dipilih secara purposif karena memiliki kompleksitas permasalahan penatausahaan aset serta temuan BPK terkait kelemahan pencatatan BMD. Populasi penelitian berjumlah 160 pegawai pada berbagai OPD yang menangani BMD. Sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dan menghasilkan 65 responden yang memiliki tugas dan pengetahuan terkait pencatatan, inventarisasi, dan pelaporan aset. Responden terdiri dari Pengurus Barang. Kuasa Pengguna Barang, pejabat dan staf BPKAD, tim inventarisasi, auditor internal, subbagian aset, serta operator SIMDA BMD. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner Google Form dengan skala Likert lima poin, sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui dokumentasi berupa laporan keuangan. LHP BPK, laporan inventarisasi BMD, peraturan perundang-undangan, dan literatur ilmiah. Instrumen penelitian disusun berdasarkan definisi operasional variabel: kompetensi aparatur . engetahuan, keterampilan, nilai, kemampuan, sika. , sistem pengendalian internal . ingkungan pengendalian, penilaian Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, pemantaua. , kepatuhan regulasi . nformasi, insentif, keahlian, kekuasaan rujukan, otoritas sa. , serta indikator penatausahaan BMD sesuai Permendagri 47/2021. Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha dengan batas minimum 0,70. Data yang valid dan reliabel kemudian dianalisis melalui regresi linier berganda menggunakan SPSS. Sebelum dilakukan regresi, data diuji melalui uji asumsi klasik yang meliputi normalitas, multikolinearitas, dan Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji t . , uji F . , serta koefisien determinasi (RA) untuk melihat besarnya kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen. HASIL DAN DISKUSI Hasil Karakteristik Responden Karakteristik responden dianalisis berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, dan masa kerja untuk menggambarkan profil pegawai OPD yang terlibat dalam penatausahaan Barang Milik Daerah di Kabupaten Teluk Bintuni. Identifikasi ini memastikan bahwa responden merupakan individu yang relevan dan memiliki pemahaman mengenai proses pengelolaan aset Ringkasan karakteristik responden ditampilkan pada tabel berikut. Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Kategori Jenis kelamin Pria Wanita Usia < 25 tahun 25Ae35 tahun 35Ae45 tahun 45Ae55 tahun > 55 tahun Pendidikan Diploma Masa Kerja 1Ae3 tahun 4Ae6 tahun 7Ae10 tahun > 10 tahun Sumber: Data primer, 2025 Jumlah . Persentase (%) 69,2% 30,8% 7,7% 15,4% 46,2% 23,1% 7,7% 15,4% 61,5% 23,1% 12,3% 46,2% 23,1% 18,4% Secara umum, responden didominasi oleh laki-laki dan berada pada kelompok usia 35Ae45 tahun, menunjukkan keterlibatan pegawai pada usia produktif dalam pengelolaan aset daerah. Mayoritas memiliki pendidikan S1 dan masa kerja 4Ae6 tahun, sehingga dapat diasumsikan Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A memiliki pengalaman dan pemahaman yang memadai terkait penatausahaan BMD. Dengan demikian, karakteristik responden dianggap relevan dan mendukung kualitas data yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil Analisis Instrumen Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk memastikan bahwa setiap item pernyataan pada kuesioner mampu mengukur variabel penelitian secara tepat. Berdasarkan kriteria nilai Corrected ItemTotal Correlation > 0,30, seluruh item dinyatakan valid dan layak digunakan dalam analisis Hasil uji validitas disajikan pada tabel berikut. Tabel 2. Uji validitas instrumen Kompetensi aparatur (X. r-kritis Corrected ItemTotal Correlation Corrected ItemTotal Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,30 0,30 0,30 0,30 0,30 r-kritis Corrected ItemTotal Correlation Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,30 0,30 0,30 0,30 0,30 r-kritis Corrected ItemTotal Correlation Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach's Alpha if Item Deleted Valid Valid Valid Valid Valid 0,30 0,30 0,30 0,30 0,30 r-kritis Sistem pengendalian internal (X. Kepatuhan regulasi (X. Penatausahaan BMD (Y) 0,30 0,30 0,30 0,30 0,30 Sumber: Hasil olah data SPSS, 2025 Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A Secara keseluruhan, seluruh item pada variabel kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, kepatuhan regulasi, dan penatausahaan BMD menunjukkan nilai korelasi di atas 0,30. Dengan demikian, seluruh indikator dinyatakan valid dan dapat digunakan pada tahap analisis Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan untuk menilai konsistensi jawaban responden terhadap item-item pernyataan dalam kuesioner. Suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha lebih besar dari 0,60 (Ghozali, 2. Hasil pengujian reliabilitas untuk seluruh variabel penelitian ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 3. Hasil uji reliabilitas Variabel Kompetensi aparatur (X. Sistem pengendalian internal (X. Kepatuhan regulasi (X. Penatausahaan BMD (Y) Sumber: Hasil olah data SPSS, 2025 Cronbach Alpha Kesimpulan Reliabel Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai CronbachAos Alpha di atas 0,60. Dengan demikian, seluruh variabel dinyatakan reliabel, yang berarti instrumen penelitian memiliki tingkat konsistensi internal yang baik dan dapat digunakan pada tahap analisis berikutnya. Hasil Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan persepsi responden terhadap variabel Kompetensi Aparatur (X. Sistem Pengendalian Internal (X. Kepatuhan Regulasi (X. , dan Penatausahaan BMD (Y). Penilaian menggunakan skala Stevens . , di mana skor 4,20Ae 5,00 dikategorikan sangat baik. Variabel Kompetensi Aparatur (X. memperoleh rata-rata 4,49, termasuk kategori sangat Indikator Pengetahuan menjadi yang tertinggi . , menunjukkan kemampuan aparatur dalam memahami regulasi dan teknis pengelolaan aset sudah sangat kuat. Indikator Sikap mencatat nilai terendah . , yang meskipun berada pada kategori tinggi, namun mengindikasikan perlunya peningkatan etika kerja dan komitmen dalam penatausahaan aset. Variabel Sistem Pengendalian Internal (X. memiliki nilai rata-rata 4,36. Lingkungan Pengendalian menjadi indikator tertinggi . , menandakan bahwa struktur organisasi dan budaya kerja telah mendukung pelaksanaan pengendalian. Sebaliknya, indikator Informasi dan Komunikasi memperoleh nilai terendah . , menunjukkan masih perlunya penguatan arus informasi antarunit untuk mendukung efektivitas pengendalian aset. Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A Variabel Kepatuhan Regulasi (X. mencatat rata-rata 4,26. Indikator Informasi menjadi yang tertinggi . , menandakan bahwa aturan dan pedoman pengelolaan aset sudah tersosialisasi dengan baik. Namun, indikator Imbalan memiliki nilai terendah . , mengindikasikan belum optimalnya mekanisme penghargaan terhadap kepatuhan prosedural. Variabel Penatausahaan BMD (Y) memiliki rata-rata 4,37, termasuk kategori sangat baik. Indikator Kodefikasi . dan Inventarisasi . menunjukkan bahwa pelabelan dan pendataan aset telah berjalan tertib dan sistematis. Indikator Pencatatan memperoleh nilai terendah . , mencerminkan masih adanya kendala dalam kelengkapan dan ketepatan waktu pencatatan aset. Secara keseluruhan, seluruh variabel berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa proses penatausahaan BMD di Kabupaten Teluk Bintuni telah berjalan baik, namun aspek sikap aparatur, efektivitas komunikasi internal, sistem penghargaan, dan kualitas pencatatan aset perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut untuk memperkuat akuntabilitas dan mutu pengelolaan aset daerah. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk memastikan bahwa data residual dalam model regresi berdistribusi normal. Pengujian menggunakan One Sample KolmogorovAeSmirnov Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila nilai Asymp. Sig. lebih besar dari 0,05. Hasil pengujian disajikan sebagai berikut: Tabel 4. Hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Sumber: Hasil pengolahan data, 2025 Unstandardized Residual Berdasarkan hasil uji normalitas, nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200, yang lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, residual dalam model regresi dinyatakan berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas terpenuhi. Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas dilakukan untuk memastikan bahwa tidak terdapat hubungan linear yang tinggi antar variabel independen dalam model regresi. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Model dinyatakan bebas multikolinearitas apabila nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Hasil pengujian ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 5. Hasil uji multikolinearitas Model (Constan. Kompetensi aparatur (X. Sistem pengendalian internal (X. Kepatuhan regulasi (X. Sumber: Hasil pengolahan data, 2025 Collinearity Statistics Tolerance VIF Berdasarkan hasil tersebut, seluruh variabel independen memiliki nilai Tolerance di atas 0,10 dan VIF di bawah 10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengalami multikolinearitas dan seluruh variabel independen layak digunakan dalam analisis lebih lanjut. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat ketidaksamaan varians residual pada model regresi. Model yang baik seharusnya bersifat homoskedastisitas atau tidak menunjukkan gejala heteroskedastisitas (Ghozali, 2. Pengujian dilakukan dengan melihat pola titik pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Model dinyatakan bebas heteroskedastisitas apabila titik-titik pada grafik menyebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu. Gambar 1. Hasil uji heteroskedastisitas Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A Berdasarkan grafik scatterplot, titik-titik data tampak menyebar acak dan tidak menunjukkan pola tertentu seperti gelombang, melebar, atau menyempit. Penyebaran yang acak di sekitar garis nol menunjukkan bahwa model regresi tidak mengalami Dengan demikian, asumsi heteroskedastisitas dalam model ini telah Hasil Analisis Inferensial Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh kompetensi aparatur (X. , sistem pengendalian internal (X. , dan kepatuhan regulasi (X. terhadap penatausahaan BMD (Y). Hipotesis diuji pada taraf signifikansi 0,05 dengan membandingkan nilai signifikansi dan koefisien pada model regresi. Koefisien Determinasi (RA) Tabel 6. Nilai koefisien determinasi uji regresi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Square Estimate Predictors: (Constan. Kepatuhan regulasi (X. Sistem pengendalian internal (X. Kompetensi aparatur (X. Dependent Variable: Penatausahaan BMD (Y) Sumber: Hasil pengolahan data, 2025 Nilai R Square sebesar 0,660 menunjukkan bahwa 66% variasi penatausahaan BMD dapat dijelaskan oleh kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal, dan kepatuhan regulasi. Sisanya, 34% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Uji ANOVA (Uji F) Tabel 7. Hasil uji ANOVA ANOVAa Model Sum of Mean Square F Sig. Squares Regression Residual Total Dependent Variable: Penatausahaan BMD (Y) Predictors: (Constan. Kepatuhan regulasi (X. Sistem pengendalian internal (X. Kompetensi aparatur (X. Sumber: Hasil pengolahan data, 2025 Nilai F sebesar 39. 492 dengan signifikansi 0. 000 (< 0. menunjukkan bahwa model regresi secara simultan signifikan. Artinya, ketiga variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penatausahaan BMD. Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A Uji Regresi Parsial (Uji . Tabel 8. Hasil uji regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. Kompetensi aparatur (X. Sistem pengendalian internal (X. Kepatuhan regulasi (X. Dependent Variable: Penatausahaan BMD (Y) Sig. Sumber: Hasil pengolahan data, 2025 Berdasarkan hasil uji t, diperoleh persamaan regresi berikut: ycU = 7. 186ycU1 0. 110ycU2 0. 358ycU3 Interpretasi hasil regresi menunjukkan bahwa kompetensi aparatur (X. memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penatausahaan BMD, ditunjukkan oleh koefisien sebesar 0,186 dan nilai signifikansi 0,020. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kompetensi yang dimiliki aparatur, semakin baik kualitas penatausahaan aset yang dapat Sebaliknya, sistem pengendalian internal (X. memiliki koefisien positif sebesar 0,110 namun tidak signifikan (Sig 0,. , sehingga peningkatan pengendalian internal belum memberikan dampak kuat terhadap efektivitas penatausahaan BMD. Variabel kepatuhan regulasi (X. menunjukkan pengaruh paling kuat dengan koefisien 0,358 dan nilai signifikansi 0,000, menggambarkan bahwa kepatuhan yang tinggi terhadap ketentuan dan prosedur pengelolaan aset berkontribusi signifikan terhadap optimalnya penatausahaan BMD. Secara simultan, ketiga variabel independen terbukti berpengaruh signifikan terhadap penatausahaan barang milik daerah, namun secara parsial hanya kompetensi aparatur dan kepatuhan regulasi yang menunjukkan pengaruh signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa faktor individu dan kepatuhan terhadap aturan memegang peran lebih dominan dibandingkan mekanisme pengendalian internal dalam mendorong efektivitas penatausahaan aset daerah. DISKUSI Pengaruh Kompetensi Aparatur terhadap Penatausahaan Barang Milik Daerah Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi aparatur berpengaruh positif dan signifikan terhadap penatausahaan BMD, dengan koefisien 0,186 dan signifikansi 0,020. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap kerja aparatur berkontribusi langsung pada perbaikan kualitas pencatatan, inventarisasi, dan pelaporan aset. Rata-rata indikator pengetahuan yang tinggi . memperlihatkan bahwa Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A aspek kognitif merupakan faktor dominan dalam mendukung efektivitas penatausahaan BMD. Secara teoritis, temuan ini sejalan dengan pandangan Wibowo . serta hasil penelitian Sayoga & Yudianto . Latuharhary et al. , dan Sevtimo . yang menekankan pentingnya kompetensi aparatur dalam pengelolaan aset daerah. Nilai indikator sikap yang lebih rendah . menunjukkan perlunya penguatan etos kerja, integritas, dan kedisiplinan, karena kelemahan pada aspek ini turut memengaruhi ketepatan dan ketertiban pencatatan aset. Dengan demikian, peningkatan kompetensi aparaturAimelalui pelatihan, sertifikasi, dan penguatan etika profesionalAimerupakan langkah strategis dalam memperbaiki efektivitas penatausahaan BMD di Kabupaten Teluk Bintuni. Pengaruh Sistem Pengendalian Internal terhadap Penatausahaan Barang Milik Daerah Penelitian menemukan bahwa sistem pengendalian internal memiliki koefisien positif sebesar 0,110 namun tidak signifikan (Sig 0,. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kerangka pengendalian internal belum memberikan pengaruh kuat terhadap ketertiban administrasi aset. Temuan ini tidak sepenuhnya selaras dengan konsep pengendalian internal menurut Hery . dan PP No. 60 Tahun 2008, yang menekankan pentingnya pengendalian dalam menjamin keandalan informasi dan perlindungan aset. Indikator lingkungan pengendalian memiliki nilai tertinggi . , namun aspek informasi dan komunikasi memperoleh nilai terendah . , mengindikasikan bahwa alur komunikasi internal belum berjalan optimal. Kelemahan komunikasi ini menyebabkan ketidaksinkronan pencatatan, inventarisasi, dan pelaporan aset, sehingga pengendalian internal tidak berdampak signifikan. Temuan ini sejalan dengan Putra . dan Anthoni et al. yang menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian internal sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan koordinasi antarunit. Kondisi ini menegaskan perlunya penguatan mekanisme koordinasi, optimalisasi komunikasi, dan digitalisasi pencatatan aset agar sistem pengendalian internal dapat berfungsi secara efektif. Pengaruh Kepatuhan Regulasi terhadap Penatausahaan Barang Milik Daerah Kepatuhan regulasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penatausahaan BMD, dengan koefisien 0,358 dan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan prosedur sesuai ketentuanAimulai dari pengadaan hingga pelaporanAimemiliki kontribusi besar terhadap ketertiban dan akurasi penatausahaan aset. Temuan ini konsisten dengan teori Halim . serta model kepatuhan Taylor . yang menekankan peran otoritas dan norma dalam mendorong kepatuhan. Indikator informasi menjadi yang tertinggi . , menandakan bahwa pedoman dan aturan sudah tersampaikan dengan baik. Namun, indikator imbalan berada pada posisi terendah . , menunjukkan belum optimalnya sistem penghargaan untuk Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A memotivasi kepatuhan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Handayani & Sari . Kasmardin . , dan Soro et al. yang menekankan pengaruh signifikan regulasi terhadap kualitas pengelolaan aset. Dengan demikian, kepatuhan regulasi merupakan faktor dominan dalam mendorong efektivitas penatausahaan BMD di Kabupaten Teluk Bintuni. Pengaruh Kompetensi Aparatur. Sistem Pengendalian Internal, dan Kepatuhan Regulasi secara Simultan Uji simultan menghasilkan nilai F sebesar 39,492 dengan signifikansi 0,000, sehingga ketiga variabel independen terbukti secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penatausahaan BMD. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas penatausahaan aset merupakan hasil kombinasi kualitas aparatur, keberadaan kerangka pengendalian internal, serta tingkat kepatuhan terhadap regulasi. Temuan ini sejalan dengan agency theory (Jensen & Meckling, 1. yang menekankan pentingnya pengawasan dan kepatuhan dalam memastikan aparatur bekerja sesuai kepentingan publik sebagai prinsipal. Meskipun hanya dua variabel yang signifikan secara parsial, model secara keseluruhan membuktikan adanya hubungan struktural yang kuat antarvariabel dalam mendorong penatausahaan BMD yang tertib, akurat, dan KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penatausahaan Barang Milik Daerah (BMD) di Kabupaten Teluk Bintuni sangat dipengaruhi oleh kualitas aparatur dan tingkat kepatuhan terhadap regulasi, sementara sistem pengendalian internal belum memberikan kontribusi yang Kompetensi aparatur terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap penatausahaan BMD. semakin baik pengetahuan, pemahaman, kemampuan, dan sikap kerja pegawai, semakin tertib pula proses pencatatan, inventarisasi, dan pelaporan aset. Namun demikian, temuan bahwa aspek sikap masih relatif lebih rendah dibandingkan aspek pengetahuan mengindikasikan bahwa profesionalisme dan internalisasi nilai-nilai kerja belum sepenuhnya seimbang dengan kapasitas teknis yang dimiliki. Di sisi lain, sistem pengendalian internal secara struktural telah tersedia melalui kebijakan dan prosedur, tetapi lemahnya komunikasi internal dan belum optimalnya pencatatan aset menyebabkan sistem ini tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas penatausahaan BMD. Sebaliknya, kepatuhan regulasi terbukti menjadi faktor kunci. aparatur yang memahami dan mematuhi aturan pengelolaan aset cenderung mampu melaksanakan pengadaan, pencatatan, pelabelan, inventarisasi, dan pelaporan secara lebih tertib dan akuntabel, meskipun mekanisme penghargaan atas kepatuhan masih belum memadai. Secara simultan, kompetensi aparatur, sistem pengendalian internal. Setyaningsih. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penatausahaan A dan kepatuhan regulasi berpengaruh signifikan terhadap penatausahaan BMD, menguatkan pandangan teori keagenan bahwa kombinasi kualitas agen, mekanisme pengendalian, dan kepatuhan terhadap regulasi diperlukan untuk menjaga agar pengelolaan aset publik berjalan selaras dengan kepentingan masyarakat sebagai prinsipal. Berdasarkan hasil tersebut, penguatan tata kelola BMD di Kabupaten Teluk Bintuni perlu diarahkan tidak hanya pada perbaikan aspek teknis, tetapi juga pada dimensi perilaku, sistem, dan kebijakan secara terpadu. Pemerintah daerah disarankan untuk mengembangkan program pelatihan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis penatausahaan aset, tetapi juga pada pembentukan sikap, etika kerja, dan komitmen terhadap akuntabilitas publik. Penguatan sistem pengendalian internal perlu diarahkan pada perbaikan alur komunikasi dan integrasi sistem informasi aset sehingga proses pencatatan, inventarisasi, dan pelaporan dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan terdokumentasi dengan baik. sisi lain, kepatuhan terhadap regulasi dapat ditingkatkan melalui kombinasi sosialisasi aturan yang berkelanjutan dan penerapan sistem penghargaan maupun konsekuensi yang jelas, sehingga pegawai tidak hanya patuh secara formal, tetapi juga termotivasi untuk menjaga ketertiban administrasi aset. Dalam jangka panjang, kebijakan pengelolaan BMD idealnya mengintegrasikan peningkatan kompetensi, penguatan pengendalian internal, dan penguatan kepatuhan regulatif dalam satu kerangka kebijakan yang konsisten, didukung monitoring berkala dan komitmen pimpinan daerah. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, antara lain ruang lingkup yang hanya mencakup satu pemerintah daerah, penggunaan tiga variabel utama tanpa memasukkan faktor lain seperti budaya organisasi, gaya kepemimpinan, atau dukungan anggaran, serta ketergantungan pada data persepsi melalui kuesioner yang berpotensi subjektif. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas objek pada beberapa daerah berbeda, menambahkan variabel konteks organisasi, serta mengombinasikan kuesioner dengan data observasi lapangan, studi dokumen, atau wawancara mendalam. Dengan demikian, pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penatausahaan BMD dapat menjadi lebih komprehensif dan hasil penelitian memiliki daya jelaskan dan daya generalisasi yang lebih kuat. REFERENSI